[Re-Post] YOU’RE MY DESTINY Part 1

YMD 1

 

 

 

 

YOU’RE MY DESTINY [FF REAWARD_DHYDIMARVELCELLO]

 

Disclaimer :  All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

 

You’re My Destiny© Song Haneul
Publish by Sifany’s Heaven

 

‡‡‡‡

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation]

Additional Cast

Jessica Jung [Girl’s Generation] || Lee Jihoon [Oc’s] || Jang Goong Woo [Oc’s] || Han Hyo Joo [Oc’s] || Kwag Sungjin [Oc’s] || Mrs. Kim [Oc’s] || Victoria Song [F(x)] || Nickhun Horvejkul [2PM] || Lauren [Oc’s] || Lucia [Oc’s]

Genre

Angst || Drama || Family || Friendship || Fantasy || Hurt || Romance || Sad

Length

Chaptered

Rating

 PG 17

Category

Fanfic

Summary

Don’t leave, don’t turn around, I can’t let you go like this
Even if you leave me like this, you can’t escape me
Don’t turn around and leave me, don’t brush me off, don’t avoid me
Cause
You are my destiny

 

WARNING : TYPO !!!

 

 

 

Ω You’re My Destiny Ω

 

36 Seconds
Like eyes the traffic light kept blinking
An old couple filled with love walking
By Little girl with an umbrella smiling

His heartbeat was very hurried
He blinking once with his left hand

He hand his umbrella to me
Why do I remember everything?
Every little detail

I never world have noticed before
In those 36 second
I Forgot the breath

-Tiffany Hwang-

 

Roma, Italia.

 

“Hatchimmm…”

Seorang gadis berambut blonde menolehkan kepalanya menatap gadis cantik disampingnya. Gadis cantik dengan rambut yang terkuncir rapih kebelakang seperti ekor kuda tersebut, terus menggosokan hidungnya yang memerah.

“Kamu baik-baik saja?”

Gadis yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya, sembari menatap temannya dengan tatapan sendu. Ia terserang influenza mendadak dan ini menyebalkan.

“Kamu yakin?”

“Aku tak pernah seyakin ini Jessica,” desis gadis itu. “Dan aku harap kamu tidak menanyakannya lagi!” tambahnya.

Membuat gadis disampingnya tersebut merengut kesal. Terdengar suara tawa yang tertahan dari arah belakang mereka.

“Diam kau, Lee Jihoon!” sentak Jessica, membuat laki-laki berkacamata itu terdiam sambil menutup mulutnya. Namun tetap saja tak bisa menahan tawa yang akan meledak kapan saja jika bersangkutan dengan gadis berambut blonde tersebut.

Gadis yang terserang influenza tiba-tiba tersebut masih mengosok-gosokan hidungnya yang semakin memerah. Dirapatkan jaket pink kesayangannya, berharap bisa meredakan hawa dingin yang terus menerobos memasuki sel-sel kulit putih susunya. Gadis itu meringsut dibangkunya, menatap jalanan yang berada diluar kaca bus yang sedang dinaikinya dengan mata yang berair-bukan menangis. Tapi influenza yang menyerangnya tiba-tiba, benar-benar menyiksa gadis bermata indah itu.

“Apa aku perlu mengatakan pada sopirnya untuk mengecilkan AC-nya?” tanya Jessica dengan nada cemas. Temannya tersebut jarang sakit, dan kondisi yang jarang terlihat tersebut justru membuat Jessica tak tega meninggalkan gadis itu sendirian. Terlebih ia akan segera turun di halte berikutnya.

“Tidak per-” gadis itu merasakan perubahan suhu di dalam bus yang ditumpanginya tersebut, menatap penuh tanya kesekelilingnya.

“Sepertinya ada seseorang yang meminta dikecilkan.” Ujar Jihoon mencondongkan tubuhnya kearah depannya-tempat kedua gadis tersebut duduk.

“Sepertinya iya.” Guman Jessica.

Terdengar suara pemberitahuan pemberhentian halte selanjutnya-tempat dimana Jessica dan Jihoon berhenti. “Tiff, aku harus segera turun. Apa tidak apa-apa?” Tiffany-gadis yang terserang influenza tersebut menggeleng dengan senyum yang menenangkan. Meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.

“Tenang saja. Sesampainya dirumah aku akan menyuruh matusa untuk membuatkan teh hangat untukku. Aku yakin akan langsung sembuh.” Kata Tiffany sambil memegang erat tangan mungil Jessica. Jessica menghembuskan napas pasrah.

“Aku sangat menyesal karena tidak bisa mengantarmu sampai rumah. Maaf….”

Tiffany menggeleng tak setuju, baru saja ia ingin menjawab penuturan Jessica. Bus berhenti dan sopir menayakan apa ada yang turun dihalte tersebut. Dengan gerak cepat Jessica ditarik oleh Jihoon dan melambaikan tangan kearah Tiffany yang tersenyum geli melihat sepasang kekasih tersebut.

Pintu bus mulai tertutup lagi. Tiffany membalas lambaian tangan Jessica dan Jihoon yang masih berdiri di halte untuk melihat sosok Tiffany yang harus melanjutkan perjalanannya, melewati beberapa halte lagi untuk sampai ditujuannya.

Tiffany menatap keluar jendela, awan putih yang semula terlihat menyejukkan mulai terlihat berubah menjadi abu-abu yang membuat gumpalan awan tersebut menggelapkan bumi yang semula terang benderang. Tiffany menghela napas sedih, ia berharap hujan tidak akan turun sebelum ia benar-benar masuk rumah dan meringkuk didalam selimut kesayangannya.

“Oh, Tiffany. Betapa bodohnya dirimu.” Bisik Tiffany yang hanya dapat didengar oleh telinganya sendiri.

Sebelumnya seorang laki-laki menoleh kebelakang mendengarkan suara bising yang ditimbulkan oleh seorang gadis cantik dengan rambut yang terkuncir rapih seperti ekor kuda. Ia baru saja bersin, dan saat itu menggosokan hidungnya yang mulai memerah. Mata laki-laki tersebut menatap dalam gadis cantik yang sedang berbicara dengan teman sebangkunya. Dibelakang mereka terlihat laki-laki berkacamata yang tertawa dengan pelan dan akhirnya menutup mulut dengan kedua tangannya. Menahan tawa melihat kekesalan gadis berambut blonde yang sebelumnya menyentak laki-laki tersebut.

Dilepasnya headphone yang dipakainya dan mencondongkan sedikit tubuhnya kearah sang sopir bus. “Bisa kecilkan AC-nya pak?” kata laki-laki itu dengan nada bertanya dalam bahasa Inggris.

Sang sopir mengernyitkan dahinya. Laki-laki itu mendesah sebal. Inilah yang membuatnya sebal tinggal di Roma. Warga disini, sama sekali tak mengerti bahasa Inggris, mungkin bukan berarti semua orang tidak bisa. Namun sudah menjadi suatu tradisi dikota abadi ini bahwa mereka sangat menghormati bahasa mereka sendiri. Laki-laki itu dengan terpaksa mengulang kembali pertanyaannya dengan menggunakan kosa kata Romanian seadanya, setelah sebelumnya ia membuka kamus kecil ditas selempangnya. Sang sopir mengangguk, menyetujui. Laki-laki itu mengucapkan terima kasih, lalu kembali memasang headphonenya dan memandang keluar jendela dengan senyum samar.

oOo

Beberapa penumpang turun dari dalam bus menutupi kepala mereka dari jatuhan air hujan yang sudah membasahi jalan sejak beberapa menit yang lalu. Tiffany pun turut menutupi kepalanya dari rintikan air yang jatuh dari langit tersebut dengan tas ransel yang dibawanya. Mereka menyebrangi jalan menuju halte yang ada disebrang mereka, setelah bus yang mereka tumpangi pergi meninggalkan halte tersebut. Tiffany mengusap-usap baju dan wajahnya serta lengannya yang terkena percikan air hujan walaupun ia sudah menutupinya dengan tasnya tadi. Seorang laki-laki disebelahnya pun melakukan hal yang sama.

Laki-laki tersebut membuka payung hitamnya, saat ia akan melindungi tubuhnya dari hujan yang sepertinya akan semakin deras. Kepalanya menatap hujan yang jatuh dari langit semakin turun dengan deras, dan memandangi kelilingnya. Matanya menatap kearah gadis yang tengah sibuk mengeringkan tubuhnya yang basah. Tentu saja karena gadis itu hanya melindungi tubuhnya dengan tas ransel pinknya yang berukuran sedang itu. Laki-laki itu menurunkan kembali payungnya yang semula sudah berteger manis diatas kepalanya. Menutupnya kembali dan menjulurkannya kearah gadis cantik tersebut.

Waktu seakan berhenti bagi sang gadis. Ia hanya menatap diam wajah laki-laki yang juga menatap dalam kearah matanya. Ia melihat kesekelilingnya, semua seakan melambat. Ia melihat sepasang orang tua yang sudah menua berada di bawah payung yang sama menoleh kearahnya dengan senyum yang bahagia, dan juga seoarang gadis kecil yang juga memegang payung kecilnya sedang tersenyum kearahnya. Ada sepasang kaki yang menginjak sebuah kotoran saat ia menatap kebawah jalan. Hujan yang turun begitu lambat, daun-daun basah ikut merontokkan diri mereka bersamaan dengan hujan yang menjatuhkan diri keatas bumi. Ia melihat kearah payung hitam yang masih setia terulur kearahnya. Tangan kiri dengan jam hitam yang bertegar manis dipergelangan tangannya memegang payung tersebut untuk diterima oleh gadis itu.

Secara perlahan Tiffany mengambil payung itu, tepat disaat payung tersebut ada digenggamannya dan tangan laki-laki itupun masih memegang payung itu. Dilihatnya mata laki-laki itu berkedip, lalu melepas pegangannya dan memasang kupluk yang ada di jaketnya lalu berlari meninggalkan Tiffany yang masih mematung ditempatnya.

Ia belum pernah merasakan ini sebelumnya. Perasaan yang begitu asing namun terasa dekat baginya. Tiffany mengerjap-erjapkan matanya mencari focus pada dirinya sendiri. Tiffany menggerakan kepalnya menuju arah dimana laki-laki tersebut berlari tadi. Dan menghembuskan napasnya dengan kasar.

Guk Guk Guk

Tiffany menoleh, dilihatnya seekor anjing yang mendongakan kepalanya dari sebuah kardus besar yang mengurungnya. Tiffany berlari kecil menghampiri anjing kecil tersebut. Lalu mengambilnya, dan memangku anjing kecil berwarna coklat tersebut diatas pangkuannya. Mengelus bulu anjing tersebut yang sedikit basah dan tersenyum kecil. Anjing itu menggerakan kepalanya mengendus tubuh mungil Tiffany. Tiffany mempererat pelukannya pada anjing kecil itu. Melindunginya dari air hujan yang semakin deras menuruni bumi. Ia kini terduduk diam dengan tatapan yang menerawang. Disamping sebuah payung hitam yang baru saja diberikan oleh seorang laki-laki yang tak dikenalnya.

 

Ω You’re My Destiny Ω

 

Our precious memory

Will never be forgotten

Just like no one

Can ever replace

You in my heart

-Choi Siwon-

 

 

Laki-laki itu terdiam dibelakang pintu rumahnya, memandang kosong titik apapun yang ada didepannya. Tangannya bergetar, kedua mata elangnya mulai berair. Napasnya memburu seakan semua yang tersimpan didadanya melesak keluar.

Senyum kecil tergores disudut bibir kanannya. “Fany-ah.” Lirihnya.

 

FLASHBACK

 

Gadis mungil berwajah cantik dan berkulit putih tersebut tersenyum lebar tatkala tempat yang di dudukinya bergerak kedepan dan belakang. Tangannya menggenggam erat rantai panjang yang berada dikedua sisi tanganya.

Cup.

Gadis itu lagi-lagi tersenyum dan menolehkan kepalanya kebelakang saat dirasakan bibir seseorang mendarat dengan sempurna dipipi kanannya.

“Oppa…” Ucap sang gadis dengan wajah yang merona.

“Heum?” goda laki-laki tersebut pura-pura tak tahu maksud dari kekasihnya tersebut.

Gadis manis tersebut merajuk. Kekasihnya itu memang seperti anak kecil, selalu bertindak sesuka hatinya. Namun itulah salah satu point yang dimiliki kekasihnya, sehingga sang gadis mencintai laki-laki itu.

“Jangan seperti itu lagi!” seru sang gadis.

“Kenapa? Kamu tak suka?” tanya laki-laki yang masih dengan setia mendorong ayunan yang diduduki gadis itu.

“Ini tempat umum.” Bisik gadis itu, namun masih terdengar oleh sang lelaki.

“Biarkan saja. Memangnya kenapa kalau ini tempat umum?” wajahnya seakan mengejek sang gadis karena malu atas tindakan laki-laki tadi

“Ishh oppa.” Terdengar tawa kecil yang keluar mulut laki-laki itu.

Tangannya berhenti menggerakan ayunan tersebut, dan mulai melingkari pinggang gadisnya itu.

“Aku mencintaimu.”

“Aku tahu.” Kata gadis itu dengan senyum yang tertahan karena begitu malu.

“Sangat besar.”

“Aku tahu.” Sahut kalem gadis itu. Mengusap lengan laki-laki itu yang tengah mendekapnya.

“Sangat-sangat besar.” Ucap lirih laki-laki itu tepat ditelinga gadis itu.

“A-ku tahu.” Gadis itu sedikit gugup karena kekasihnya berbisik tepat ditelinganya. Napas hangat laki-laki itu menyentuh kulit telinga sang gadis.

“Kamu tak tahu Fany.”

Tiffany-gadis yang sedang dipeluk oleh laki-laki tersebut. Menelengkan kepalannya kekiri, menautkan kedua alisnya karena bingung dengan ucapan kekasihnya.

“Maksud op-“

“Kamu tak tahu,” potong laki-laki itu. “Kamu tak tahu karena aku belum memberikan sepenuhnya secara sempurna.”

Tiffany tersenyum heran dengan ucapan laki-laki tersebut. Dan mengangkat tangannya yang sebelah kanan, mengusap lembut wajah sempurna kekasihnya. Memberikan sensasi nyaman pada laki-laki itu.

“Oppa selalu memberikan cinta yang cukup untuk aku.”

“Tidak.” Jawab laki-laki itu lirih.

“Oppa…”

Laki-laki itu mengeratkan pelukannya. “Tidak seperti yang kamu pikirkan Tiffany. Aku… bahkan merasa tak memberikan apa-apa.” Keluhnya.

Tiffany lagi-lagi tersenyum menaggapinya. “Jadi oppa merasa belum memberikan cinta itu dengan sempurna?” laki-laki itu mengangguk.

“Siwon oppa…”

“Ne..” Siwon menghadapkan wajahnya didepan Tiffany yang sedang menoleh kebelakang-kearahnya.

“Kita tidak pernah bisa mengukurnya.” Ucap Tiffany kalem.

Siwon mengerjap-erjapkan matanya, menunggu Tiffany melanjutkan ucapannya. “Tidak ada yang bisa mengukur kadar cinta seseorang. Tidak ada satupun. Tidak ada yang bisa mengatakan itu sempurna. Karena cinta yang sempurna hanya dimiliki oleh Tuhan,” Siwon mendengus saat Tiffany mengatakan Tuhan diperkataannya. Kekasihnya tersebut sangat religious jadi apapun yang dikatakannya pasti akan bersangkutan dengan Tuhannya itu. “Oppa… jangan seperti itu!” kata Tiffany saat mengetahui perubahan raut wajah dari kekasihnya tersebut.

“Oke, oke. Lanjutkan!” titah Siwon tak ingin Tiffany kesal seharian dengannya hanya karena debat masalah Tuhan.

“Aku tidak akan melanjutkannya.” Rajuk Tiffany.

“Hey…! Aku bahkan tidak mengatakan apapun, Fany-ah.” Protes Siwon.

“Tapi muka oppa begitu jelas.”

“Jelas apa?”

“Jelas masih tidak menyukai Tuhanku.” Siwon mengehela napas kasar. Lalu melepaskan pelukannya dan berjalan mengelilingi Tiffany, berhenti tepat didepan gadis itu.

“Tidak seperti itu.” Kata Siwon sembari berjongkok didepan Tiffany dan menggenggam tangan mulus Tiffany.

“Tolong mengertilah aku.” Mohon Siwon sembari menatap tajam kearah Tiffany.

“Aku akan selalu mengerti mu oppa.” Ucap Tiffany pelan.

Siwon tersenyum puas. “Terima kasih.”

Tiffany tersenyum lirih. “Tapi…”

Siwon mengangkat sebelah alisnya, mempertanyakan dalam hatinya apa lagi yang akan dipermasalahkan.

“Sampai kapan?” tanya Tiffany pelan. Sangat pelan, takut menyinggung hati Siwon.

“Sayang…”

“Oppa!” sela Tiffany sambil mempererat genggaman tangan mereka.

Siwon membuang napas dengan keras dan menunduk. Melihat itu Tiffany mengelus lembut rambut kecokelatan yang dimiliki Siwon. “Tidak akan pernah kita seperti ini, kecuali karena Dia. Dan kita tak patut bertindak seperti ini padaNya.”

Siwon memalingkan wajahnya, menghembuskan napas dengan lambat. Menahan emosi yang hampir saja meledak. “Aku sangat menghargainya. Aku jelas akan menghormati kepercayaanmu. Tapi… aku juga punya pilihan untuk hidupku. Ini bukan masalah prinsip, pemikiran atau apapun yang bersangkutan dengan itu. Tapi ini masalah hati nuraniku.”

Siwon menghela napas panjang dan menatap Tiffany yang menatapnya sendu. “Aku belum menemukanNya disini.” Siwon menunjuk dadanya bersamaan dengan tangan Tiffany yang ikut terangkat karena tangan keduanya masih berpegangan.

“Aku tidak akan memaksamu oppa. Dan tidak bermaksud seperti itu.”

“Aku tahu. Aku tahu ketulusanmu, dan aku bisa merasakannya.”

Tiffany tersenyum kecil. Siwon menangkup wajah Tiffany dikedua tangannya. “Aku tidak tahu apa aku bisa menumukanNya atau tidak. Tapi aku percaya Dia memang ada untukmu tapi tidak untuk orang-orang seperti ku. Namun aku sangat berterima kasih padaNya. Karena Dia sangat berbaik hati, mempertemukan malaikatNya pada orang yang bahkan tak pernah menyapaNya. Jadi tolong sampaikan salamku pada Tuhanmu.”

Tiffany mengangguk patuh dan tersenyum pada Siwon.

CUP.

Siwon mencium bibir ranum milik Tiffany dan Tiffany tersenyum kearah Siwon. “Picik!”

“Tapi kamu suka kan?” tanya Siwon menggoda.

Tiffany mengangguk cepat, lalu memeluk Siwon dengan lembut. Keduanya terdiam membisu, namun tak lama Tiffany memecahkan keheningan itu.

“Aku hanya akan mengatakannya untuk terakhir kali. Demi Tuhan, demi kamu oppa. Aku sangat mencintamu, aku percaya tidak siapapun yang bisa menghadirkan cinta ini padamu kecuali memang Tuhan yang melakukannya. Ini takdirku. Takdirmu. Takdir kita. Aku… sangat yakin Tuhan selalu bersama kita karena kamu juga menerima cinta yang kamu tanamkan dihatiku. Dan aku sangat percaya kamu merasakannya oppa.”

Siwon terdiam, merenungi setiap kata yang meluncur dari mulut kekasihnya tersebut.

 

FLASHBACK END

 

Siwon sudah terduduk dilantai rumahnya. Masih menyandarkan tubuhnya pada pintu rumah yang terkesan sederhana. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar menahan nyeri yang menghujam jantungnya. Kepalanya mengadah keatas, napasnya tersengal dengan mulut yang terbuka. Wajahnya mengerut dibeberapa bagian seperti menahan sakit yang teramat menyakitkan baginya. Tangannya tak luput dari rasa sakit yang tiba-tiba menjeratnya.

Dengan tangan yang gemetar hebat, Siwon berusaha menggapai tas yang berada tepat disampingnya. Tangannya menjelajah seluruh isi yang ada didalamnya. Suara erangan dan jambakan ditangan kirinya pada rambut dikepalanya. Membuat suasana tegang menyelimuti ruangan tersebut.

Wajahnya seperti menemukan titik kelegaan yang sesaat setelah ditemukannya benda yang dicarinya. Tabung kecil panjang berwarna kuning. Napasnya masih memburu dibukanya tutup tabung tersebut. Tangan kanannya menuangkan beberapa butir benda bulat berwarna-warni keatas tangan kirinya. Lalu memasukan kedalam mulutnya dan memakannya dengan tergesa-gesa.

Hening. Hanya suara napasnya yang masih memburu dengan dada yang turun naik semakin melambat. Matanya ikut terpejam merasakan kelelahan yang baru saja dilaluinya.

‘Ini sungguh melelahkan Fany-ah. Tidak peduli apa yang menjadi obatnya, ini semakin menyakitkan. Tapi aku memutuskan untuk tetap memakan ini. Karena aku tahu kamu menyukainya.’

“Siwon-ah!” langkah cepat seseorang menuruni tangga terdengar begitu jelas ditelinga Siwon. Namun Siwon enggan untuk melihatnya karena ia tahu dengan jelas siapa yang memanggilnya barusan.

“Siwon-ah. Kamu baik-baik saja, euh?” tanya laki-laki disampingnya dengan tangan yang mengguncang tubuh lemah Siwon.

“Ya.”

“Benarkah?”

Siwon mengangguk. Laki-laki yang memiliki nama Kim Gong Woo menghembuskan napas lega. Namun tak mengurungkan perhatiannya dari sosok laki-laki yang tergeletak lemas disampingnya.

“Masih terus mengikutinya?” Siwon mengangguk untuk jawaban dari pertanyaan sahabat karibnya tersebut.

Gong Woo ikut menyandarkan diri pada pintu rumah mereka menatap Siwon penuh prihatin. “Masih dengan jarak yang sama?” Siwon mengangguk lagi.

Gong Woo mendecak kesal kepada Siwon. “Sudahlah Siwon, ini sudah terlalu lama.”

Siwon terdiam tak menjawab. Ia masih membiarkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak setelah seharian ini ia paksa untuk terus bergerak.

“Siwon dengarkan aku! Aku tidak pernah melarangmu untuk kembali kepada wanita itu. Tapi sadarlah Siwon! Ini terlalu lama. Jelas, tidak akan mungkin bagi kalian untuk… ahh aku tidak sanggup untuk mengatakannya. Siwon dia terlalu berbeda denganmu. Kembalilah. Ayo kita kembali. Biarkan dia disini untuk hidupnya yang baru. Kehadiranmu akan membuatnya jauh lebih sakit, tidakkah kamu sadar itu?”

Siwon masih terdiam, hanya deruan napasnya saja terdengar. Gong Woo merasa putus asa. “Aku bantu kamu kekamar.” Gong Woo memapah tubuh Siwon yang jauh lebih tinggi darinya menuju kamar laki-laki tersebut yang berada dilantai bawah.

Cleck.

Gong Woo membuka pintu tersebut dengan susah payah. Lalu ditendangnya dengan kaki kanannya pintu yang masih belum terbuka lebar. Agar keduanya bisa memasuki kamar Siwon. Dengan langkah yang berat Gong Woo mencoba menahan berat badan Siwon yang terasa begitu membebaninya. Lalu dengan tenaga terakhir yang dia miliki. Dijatuhkannya badan Siwon diatas kasurnya.

Gong Woo mengambil napas sebanyak-banyaknya seakan-akan dia tidak akan mungkin mendapatkan pasokan olsigen keesokan harinya.

Ditatapnya Siwon yang masih memejamkan matanya dengan tubuh yang miring kesamping. “Aku seperti istrinya saja.” Gong Woo bergidik ngeri dengan ucapannya sendiri.

Kini Gong Woo mengangkat kaki Siwon menaiki kasurnya. Memindahkan posisi Siwon menjadi telentang secara keseluruhan. Dan kembali manatap sahabatnya dengan tatapan prihatin. Dilihatnya botol kuning yang digengam Siwon. Lalu diambil untuk dilihat isinya.

‘Cokelatnya abis?’

“Siwon-ah cokelatmu abis lagi?” tanya Gong Woo namun tetap tak ditanggapi oleh Siwon. Dengan hati yang kesal Gong Woo mengelus-elus dadanya.

“Ya! Berapa kali sakitmu sering kambuh. Kenapa tidak langsung meminum obatnya? Aishh…”

Gong Woo berdecak dan menatap Siwon tajam. “Oke, kalau masih mau tertidur. Aku pergi! Aku akan supermarket terdekat untuk mengisi tabung-tabungmu ini. Ckckck.” Gong Woo langsung melesat pergi meninggalkan Siwon yang sedang memejamkan matanya tersebut.

Ya! Siwon tidak benar-benar tidur. Dia hanya begitu lelah hingga tak berminat untuk menanggapi ocehan sahabat dekatnya tersebut. Perlahan kedua matanya terbuka secara perlahan.

“Argghh…” Siwon masih merasakan nyeri dikepalanya, tak terelakan erangan kecil keluar dari bibirnya.

Siwon mengambil napas dengan pelan. Berusaha mengontrol dirinya. ‘Semuanya akan baik-baik saja’ pikrinya.

Siwon membagunkan tubuhnya dan menyadarkan kepalanya kepada headbed menatap lurus kedepan. Bayangan Tiffany lagi-lagi mengusik pikirannya.

“Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja. Ya ‘kan Fany-ah?” gumannya lirih.

“Ini takdir kita. Aku mempercayainya. Aku dan kamu. Kita memiliki takdir yang sama. Tidak akan terpisah.” Ucapnya dengan nada gemetar.

“Fany-ah…” suaranya tercekat begitu matanya menemui benda yang tergantung pada sebuah bingkai. Menampilkan sosok Tiffany yang tersenyum manis didepan kamera. Siwon bukanlah laik-laki yang mudah menangis, bukan seseorang yang akan meraung-raung kesakitan jika ia merasakan sakit. Namun kali ini. Hari ini, entah mengapa ia kehilangan fokusnya. Dadanya bergemuruh, merasakan himpitan keras yang mendesak paru-parunya. Membuatnya kesulitan mengatur siklus pernapasannya.

Tiffany. Nama itu selalu bergema direlung hatinya. Matanya menatap tajam foto Tiffany. Ada salib yang menggelantung dibingkainya.

“Aku tidak mengerti. Tidak sama sekali. Kenapa Tuhanmu membuat takdir kita seperti ini.”

Matanya makin tergenangi krystal bening yang semakin menumpuk dipelupuknya. “Fany-ah apa yang harus aku lakukan? Aku tak mungkin membenci Tuhanmu. Karena aku tahu kamu sangat mencintainya.”

 

Ω You’re My Destiny Ω

 

I remember it.
For the first time I remember everything.
God, I hope after this I opened my eyes.
You no longer remove them from my memory as before

-Tiffany Hwang-

 

 

Tiffany menaruh kepalanya diatas kasur miliknya sedangkan ia sedang terduduk dibawah lantai mengamati anjing lucu yang ia temui tadi sore di deket halte. Tangannya bergerak mengelus dengan lembut bulu anjing tersebut. Kadang tawa renyahnya terdengar melihat tingkah pola anjing kecil itu yang terus bergerak tanpa merasa lelah.

Tiba-tiba anjing tersebut turun kebawah dan berlari menuju meja kecil yang ada didekat jendela. Anjing tersebut mengelilingi payung hitam yang Tiffany letak disitu sejak ia pulang dari halte. Pikiran Tiffany tiba-tiba kembali kejadian sore tadi. Seorang laki-laki yang memberinya payung hitam tersebut. Tak ada senyum namun keteduhan diwajah laki-laki tersebut membawa ketenangan dalam diri Tiffany.

Ia bahkan belum sempat mengucapkan terimakasih atapun menanyakan nama dan alamat rumah laki-laki tersebut. Bagaimanapun juga ia harus segera mengembalikan payung tersebut.

Guk Guk Guk.

Tiffany tersenyum manis saat anjingnya sudah berada tepat didepannya. Menatap dirinya sambil menggonggong, seakan memintanya untuk menggendong anjing tersebut. Tiffany mengulurkan tangannya dan dengan gerak cepat anjing itu sudah melompat kearahnya lalu menjilati Tiffany dengan lidahnya.

“Hey! Hentikan!” Tiffany tertawa ringan saat anjing tersebut tak mendengar perintahnya.

Tiffany memegang anjing tersebut dengan lembut lalu menelentangkan anjing itu dikakinya yang tertekuk. “Aku harus memanggilmu apa?” tanya Tiffany pada anjingnya yang hanya dibalas gonggongan.

“Huft. Mungkin aku akan memikirkannya nanti. Yang jelas aku akan memberikan nama padamu.” Tiffany tersenyum dan meletakkan anjing tersebut.

Lalu melangkah pergi memasuki sebuah ruangan kecil disudut kamarnya. Menyalakan lampu kecil untuk menerangi ruangan tersebut. Tersenyum menatap depannya. Sebuah patung salib yang membuatnya selalu merasa tenang. Dengan perlahan tangannya saling mengait satu sama lain. Matanya terpejam dan dengan suara yang lembut dihatinya. Ia mengisahkan semua cerita yang ia alami hari ini.

“…Aku berharap aku bertemu dengannya kembali. Mengatakan terima kasih karena telah menolongku. Aku… ingin memandang wajahnya lagi. Aku ingin tahu kenapa jatung ini berdetak tak seperti biasanya ketika melihat matanya itu. Tuhan, aku tak ingin mengatakan untuk Engkau menjauhkan dirinya dariku apabila dia bukanlah seseorang yang Engkau tunjuk untuk mendapingiku. Tapi aku mohon izinkan aku untuk mengenalnya. Izinkan aku- untuk terus mengingatnya. Amin.”

Tiffany membuka matanya menatap dalam pada patung salib didepannya. Senyumnya terlihat tulus setelah mengucapkan itu. Ia tahu Tuhannya akan selalu membantunya. Dan ia percaya itu.

Dan tanpa ia sadari tepat dibelakangnya seorang laki-laki dengan tubuh yang  tinggi, wajah pucat namun tetap terlihat tampan menatapnya dengan tajam. Tersenyum kecil melihat Tiffany yang baru saja berdo’a pada Tuhannya. Tangannya tengah menggendong seeokor anjing yang familiar. Anjing tersebut terdiam patuh digendongan laki-laki itu, menatap sang pemilik dengan tenang.

“Aku akan berusaha membantu kalian. Aku akan menebus semuanya.”

Setelah mengatakan itu, laki-laki tersebut tiba-tiba menghilang. Dan membuat anjing cokelat yang dipegangnya barusan terjatuh dan menggonggong keras mencari pemiliknya tersebut.

Tiffany menolehkan kepalanya menatap anjing yang ia temukan tadi sore sedang mengonggong aneh seperti mencari-cari seseorang. Tiffany berjalan menuju anjing itu dan menggendongnya.

“Ada apa?” Tiffany menatap sekelilingnya, dilihatnya jendela yang sebelumnya tertutup tiba-tiba terbuka dan menerbangkan gordeng putih yang terpasang untuk menutupi jendela kamarnya. Tiffany beranjak masih dengan menggendong anjing tersebut. Lalu menutup jendela tersebut dengan pelan.

“Kenapa jendelanya tiba-tiba terbuka?” bahunya terangkat tak peduli masih memandang arah luar jendela kamarnya yang gelap karena saat ini sudah larut malam. Tanpa ia sadari anjing yang ada digendongannya menatap kebawah jendela yang menampakkan seseorang laki-laki yang menatap mereka dari bawah.

“Tenanglah Bi Gae. Kamu harus menjaganya dengan baik. Dan aku akan melanjutkan tugasku dahulu.” Bisiknya dalam hati sambil mengacungkan jempolnya kearah anjing cokelat yang berada digendongan Tiffany. Dan anjing tersebut mengangguk patuh.

oOo

Tok Tok Tok

“Tiff…,” suara pintu yang diketuk dengan lembut terus terdengar membangun gadis cantik yang tengah menggeliatkan tubuhnya ketika anjingnya terus mengusik tidur nyenyaknya.

“Ya unchi aku sudah bangun.” Teriak Tiffany dengan nada serak yang keluar dari bibir manisnya.

“Cepatlah bangun dan segera mandi. Mătușă sudah menyiapkan sarapan pagi kita.” Kata paman Tiffany dari luar kamarnya.

“Iya unchi…,” sahut Tiffany lemah. Tiffany mengerjap-erjapkan kedua matanya dengan perlahan. Menyesuaikan diri setelah terbangun dari tidur nyenyaknya semalam.

Mimpi itu lagi.” Batinnya.

Dilihatnya anjingnya tengah menidurkan diri dikasur miliknya dengan tenang. Tidak mengonggong seperti sebelumnya. Tiffany mengelus kepala anjing itu dengan gemas.

“Pagi…” ucap Tiffany lembut, lalu mengecup kepala anjing itu dan langsung beranjak meninggalkan kasur menuju kamar mandinya. Tiffany tidak ingin mendengar suara merdu bibinya yang akan mengoceh sepanjang pagi ini. Karena ia telat sarapan.

Tepat disaat Tiffany menutup pintu kamar mandinya. Seorang laki-laki yang sama persis dengan laki-laki yang semalam mengunjungi kamar Tiffany, terduduk diatas kasur milik Tiffany. Menatap anjing miliknya berjalan menuju laki-laki itu. Lalu memangkunya.

“Bukankah dia mirip sekali dengan Hyo Joo? Dia… begitu menyayangimu kan?” laki-laki itu terus mengelus bulu lembut anjing tersebut lalu mengangkatnya. Menghadapkan wajah anjing tersebut kewajahnya.

Tatapan matanya berubah sedih. “Kita harus bisa menyatukan mereka. Bukan ini takdir wanita itu, dan laki-laki yang kujaga. Aku begitu menyesal karena telah membuat semuanya menjadi rumit. Hyo Joo pasti akan kecewa denganku.”

Guk Guk

“Ya. Aku sangat merindukannya. Hah… aku pikir setelah mengakhiri hidupku. Akan lebih mudah jika ingin bertemu dengan Hyo Joo. Tapi, aku malah terjebak pada kisah mereka.” Gerutu laki-laki tampan itu dihadapan anjing itu.

“Seharusnya kita bukan disini kan? Aishh, nenek tua itu bahkan tak mengatakan alasannya kenapa kita masih ada didunia ini!” bibirnya mengerucut dan terdengar lagi suara gonggongan anjingnya.

“Apa yang kamu katakan Kwang Sungjin?” wajah laki-laki itu tiba-tiba menegang tatkala suara lirih yang begitu menakutkan ditelinganya menyebut namanya dengan penuh penekanan.

Kepala laki-laki yang memiliki nama Kwang Sungjin menoleh dengan perlahan dan sedikit takut. Ia tahu persis suara siapa yang bersumber dari belakang tubuhnya.

Sing.

Mata Sungjin terpejam dengan rapat saat cahaya yang menyilaukan menghampiri matanya.

“Mrs. Kim bisakah anda kalau datang tidak menggunakan sinar ultraviolet? Itu sangat menyilaukan. Ya ‘kan Bi Gae?” anjing yang ditanyanya hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan lucu. Sedangkan Sungjin belum menyadari tatapan mengerikan yang diberikan wanita yang berusia sekitar 58 tahun-usia yang diakuinya. Dan tentu saja kenyataannya umur nenek itu lebih dari 58 tahun.

“Apa kamu bilang? Sinar ultraviolet?” desis sang nenek dengan menarik dasi yang digunakan oleh Sungjin. Sungjin mengangguk polos masih dengan tangan yang memeluk anjingnya-Bi Gae.

“Auhh… Ya! Sa-” Sungjin menciut saat ingin protes dan Mrs. Kim memberikan tatapan mematikan kepadanya.

“Jaga ucapanmu itu Sungjin, atau aku tidak akan pernah mengizinkanmu naik kelangit!” bentak Mrs. Kim. Sungjin melotot kaget mendengar ancaman Mrs. Kim.

“Jangan…” teriak Sungjin dengan mata sendunya. “Mrs. Kim maafkan aku jika aku salah. Tapi tolong jangan hukum aku dengan tidak diperbolehkan naik ke langit. Kalau aku tidak naik kelangit, lalu bagaimana nasibku dan Hyo Joo?” tanya Sungjin dengan wajah memelas.

“Itu urusanmu bukan urusanku. Lagi pula Hyo Joo bisa saja kucarikan laki-laki yang lebih baik. Dilangit sana banyak laki-laki yang lebih baik dan tampan dibandingkan laki-laki bodoh seperti mu.”

“Aku tidak bodoh!” ucap Sungjin membela diri.

“Dan jangan lakukan itu. Hyo Joo hanya mencintaiku, jadi dia tidak akan mau dipasangkan dengan laki-laki lain. Haha…” Sungin tertawa girang karena ia sangat percaya Hyo Joo sangat mencintainya.

“Auww…” Sungjin ingin sekali mencekik Mrs. Kim saat itu juga. Karena tindak kekerasan terhadap anak buahnya sendiri. Alih-alih tidak bisa melakukannya Sungjin menggigit bibirnya hingga ia berteriak kesakitan karena merasakan sakit. Melihat itu Mrs. Kim tertawa terbahak-bahak dan Bi Gae-anjingnya. Menggonggong dengan keras.

“Seperinya kalian senang sekali.” Sindirnya. Membuat Mrs. Kim dan Bi Gae terdiam seketika.

“Ya! Jangan menampakan wajah jelekmu itu. Wajahmu sudah sangat jelek. Dan semakin jelek karena kamu menekuknya.” Ucap Mrs. Kim.

Sungjin mendengus tak menjawab ucapan Mrs. Kim. Ia tahu, kalau menjawabnya yang sial adalah ia bukan Mrs. Kim.

“Lagi pula ngapain kamu dirumah ini? Aku menugaskanmu dirumah laki-laki tampan itu! Kenapa kamu malah disini?” tanya Mrs. Kim.

Belum sempat Sungjin menjawab, Mrs. Kim menatapnya curiga dengan suara yang dibuat-dibuat. “Jangan-jangan… kamu mau mengintip gadis cantik itu ya? Tiffany. Kamu mau menggoda Tiffany bukan?”

Sungjin benar-benar melotot sekarang. Dan menatap Mrs. Kim dengan tatapan tak percaya. Dengan segera ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Tidak. Aku tidak serendah itu. Aish Mrs. Kim aku sangat mencintai Hyo Joo jadi tidak mungkin aku melirik wanita lain selain dirinya. Buat apa aku mati kalau bukan untuk Hyo Joo.”

Mrs. Kim kembali memukul kepala Sungjin dengan keras. “Karena kebodohanmu itu lah, dua orang yang saling mencintai menderita sekarang. Dan apa yang kamu dapat dengan tindakan tololmu itu? Tidak bertemu dengan Hyo Joo malah merepotkanku karena harus mengurus bocah tengik sepertimu.”

“Mrs. Kim tega sekali kau berkata seperti itu.” Ujar Sungjin sedih.

Melihat itu membuat Mrs. Kim menatap geli kearah Sungjin. “Sudah-sudah. Gadis itu akan segera keluar. Dan kamu Sungjin. Cepat kembali ketempatmu!” Sungjin langsung berdiri tegap dan memberikan hormat dengan tangannya. Dan lagi-lagi itu membuat Bi Gae terjatuh dilantai.

“Baik Mrs. Kim!”

Sungjin menatap Bi Gae sedih. “Oh Bi Gae maafkan aku lagi-lagi membuatmu terjatuh. Aku harus segera kembali. Jaga gadis itu baik-baik, mengerti?”

Guk Guk.

Bi Gae mengonggong melihat kepergian Sunjin. Mrs. Kim hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku kedua makhluk mati didepannya. Dan tentu saja mereka disebut makhluk mati. Toh, keduanya sama-sama sudah tak bernyawa.

“Bi Gae. Ingat pesan tuanmu itu. Jaga gadis itu baik-baik.” Setelah mengatakan hal tersebut Mrs. Kim pergi meninggalkan ruangan. Dan secara bersamaan Tiffany keluar dari kamar mandi sambil menggosok-gosokkan handuk dirambutnya yang masih basah.

Guk Guk.

Tiffany menoleh dan menghampiri Bi Gae yang menggonggong diatas lantai dekat kasurnya. “Kenapa kamu menggonggong terus, heuh? Apa kamu lapar?” tanya sambil mengusap-usap kepala Bi Gae.

“Setelah sarapan kita akan belanja kebutuhanmu oke?”

oOo

Tiffany menuruni anak tangga rumahnya menuju ruang makan yang terletak disudut tangga bawahnya. Disana sudah terlihat paman dan bibinya yang mulai menyantap sarapan pagi mereka. Tiffany berharap dalam hati, agar bibinya tak marah karena ia telat bangun.

“Pagi.” Sapanya, menghentak keheningan diruang makan yang hanya terisi paman dan bibinya.

“Dimana Lauren?” tanyanya setelah berada tepat disamping bibinya dan mengecup pipi wanita yang masih kelihatan cantik diusinya yang mulai menginjak 37 tahun itu .

“Dia baru saja pergi bersama teman-temannya. Katanya mau ke gereja bersama. Heh… anak itu. Aku tidak yakin dia benar-benar ke gereja sepagi ini.” Tiffany terkikik diikuti oleh pamannya yang menahan tawa dengan roti dimulutnya.

“Kenapa tertawa? Dan kau Tiffany. Jam berapa ini? Kenapa baru turun? Apa kamu mau maag mu kambuh karena telat makan?”

Tiffany menghela napas panjang lalu menduduki tubuhnya dibangku persis disebrang bibinya. “Maaf mătușă, aku terlalu lelah sehingga keenakan tidur.” Sesal Tiffany.

“Ta-”

“Sudahlah Vic. Tiffany kelelahan karena kemarin dia pulang larut menunggu hujan berhenti. Jadi maklum saja jika sekarang dia kesiangan.” Tiffany tersenyum mengisyaratkan rasa terima kasih pada pamannya yang tampan itu karena telah memahami posisinya.

“Kamu selalu membelanya Nickhun!”

Nickhun-paman Tiffany. Hanya tertawa ringan mendengar keluhan istrinya tersebut. “Maaf mătușă.” Ucap Tiffany lagi dengan nada yang menyesal.

“Ya, tapi lain kali aku tidak akan memaafkan keterlambatan mu dalam urusan makan.” Tiffany mengangguk setuju. Ia begitu bahagia karena berada ditengah-tengah keluarga Horvejkul ini. Bibinya-Victoria Song merupakan adik kandung dari ibunya yang sudah meninggal sejak ia kecil. Tiffany tahu bahwa Victoria sangat menyayanginya, maka dari itu bibinya tersebut sangat memperhatikan kesehatannya. Dan ini sedikit membuat Lauren. Gadis mungil berusia 15 tahun cemburu melihat Victoria yang lebih memperhatikan Tiffany. Namun itu tak membuat keduanya bertengkar atau marah-marahan. Justru Tiffany suka meledek Lauren dengan bermanja-manjaan dengan Victoria.

“Kamu benar-benar ingin merawat anjing itu Tiff?” tanya Victoria melirik anjing kecil berbulu cokelat sedang mengitari ruang tamu yang tak jauh dari ruang makan mereka. Rumah keluarga Horvejkul bukanlah rumah mewah. Hanya rumah sederhana. Tapi memang seperti ini bangunan rumah mereka. Sama seperti bangunan rumah lainnya. Di Roma tidak ada satupun bangunan yang menjulang tinggi seperti di kota-kota Eropa lainnya. Rumah-rumah penduduk diroma cenderung memiliki bentuk yang sama. Hanya ada dua lantai setiap rumahnya. Dibangun dengan bata berwarna merah. Jika dilihat rumah mereka terlihat kembar semua. Yang membedakan mungkin hanya cat rumah mereka yang warnai berbeda sesuai dengan keinginan masing-masing pemiliki rumah. Tapi ada juga rumah yang dibiarkan dalam kondisi tak bercat membiarkan susunan bata merah menjadi hiasan rumah mereka. Salah satunya rumah keluarga Horvejkul.

Walau ada pengecualian dengan kamar Tiffany dan Lauren yang dicat berwarna pink didalamnya. Inilah salah satu kesamaan mereka. Mereka sama-sama penggila pink. Dan terkadang membuat Victoria pusing, karena ia tak begitu menyukai warna cerah itu. Wanita cantik itu lebih cenderung menyukai warna gelap. Seperti hitam, abu-abu, biru tua atau merah-seperti warna kesukaan suaminya, Nickhun Horvejkul yang menyukai warna merah.

“Kamu akan geraja kan?”

“Ya. Aku ingin mengunjungi Trinita de Monti. Mungkin agak sorean karena aku ingin mengelilingi Piazza di Spagna terlebih dahulu. Dan juga aku akan pulang sedikit larut ingin membeli peralatan anjing ini dan kebutuhan bulananku.” Jelas Tiffany. Nickhun dan Victoria mengangguk paham.

“Perlu kami antar?” tawar Nickhun.

“Tidak perlu unchi. Aku bisa sendiri, sungguh.” Tatapan Tiffany berusaha untuk meyakinkan sepasang suami istri dihadapannya tersebut.

“Jessica dan Jihoon ikut bersamamu?” Tiffany mendesah malas mendengar pertanyaan Victoria.

“Ini adalah jadwal kencan mereka. Dan aku… tidak mau menjadi obat nyamuk mereka lagi.” Kata Tiffany sewot mengingat kejadian yang menimpanya setiap kali pergi bersama sepasang kekasih tersebut.

Mendengar keluhan Tiffany. Sontak Nickhun dan Victoria tertawa geli karena keponakan mereka cemberut tiba-tiba mengingat acaranya selalu gagal jika mengajak Jessica dan Jihoon secara bersamaan.

“Makanya Tiffany kamu harus mencari kekasih. Biar tidak selalu mengekori mereka.” Ucap Victoria membuat Tiffany berhenti menyendokan makanan kemulutnya. Tiba-tiba ia teringat laki-laki yang memberinya payung tersebut.

“Sepertinya aku harus segera pergi.” Ujar Tiffany cepat dan langsung naik kekamarnya lagi tanpa memperdulikan teriakan Victoria yang memanggilnya. Didalam kamar Tiffany mencari-cari barang yang ingin diambilnya. Matanya menangkap benda hitam yang terletak dimeja kecil dekat jendela kamarnya.

Setelah mendapatkannya. Tiffany lekas turun dan berpamitan pada Victoria dan Nickhun lalu menggendong Bi Gae melesat keluar rumah. Mengacuhkan panggilan Victoria yang ingin menanyakan sesuatu kepada Tiffany.

 

Ω You’re My Destiny Ω

 

I am here where I never left

Right next to your right, you say as your guardian angel

Right next to your left, you said that like the devil who always tease

Right behind you, which you call as your shield in the fall

And right in front of you, like a prince who is always faithful to his love

-Choi Siwon-

 

Siwon menyudahi sarapan paginya setelah ia memasukan suapan ketiga kemulutnya. Gong Woo dan satu wanita yang ada diruangan itu ikut menghentikan gerakan tangan mereka dan memperhatikan Siwon.

“Kamu akan pergi lagi?” tanya gadis yang ada disebelah Gong Woo.

Siwon mengangguk.

“Siwon hari ini kamu harus-”

“Aku tahu Lucia. Aku akan menemuimu nanti.”

“Kapan?”

“Aku tidak tahu,” Siwon mengangkat bahunya keatas lalu melanjutkan ucapannya sembari membalas tatapan khawatir Lucia. “Tapi aku pasti akan ke gedung putih itu.”

“Namanya bukan gedung putih Siwon…” desis Gong Woo sebal kearah Siwon.

“Ya… apapun namanya. Aku menyebutnya gedung putih.” Sahut Siwon tampak tak peduli.

“Aku pergi. Dan… jangan cemaskan aku! Kalian seperti orang tuaku saja.” Ucap Siwon menambahkan lalu beranjak pergi meninggalkan ruang makan tersebut.

Gong Woo memandang takjub kearah Siwon yang sudah menghilang dibalik pintu yang baru saja tertutup tersebut.

“Ingatkan aku untuk tidak membunuhnya saat ini juga.” Desis Gong Woo lirih.

Lucia memandang Gong Woo datar. “Kamu berlebihan Gong Woo.” Lucia ikut beranjak dari kursinya dan meninggalkan Gong Woo yang menganga tak percaya atas sikap wanita yang baru saja bicara dengannya.

“Sayang… kamu itu pacar aku atau apa sih?”

“Yang pasti aku bukan istrimu.” Teriak Lucia dari kamar atas. Gong Woo mendengus berkali-kali. Ini benar-benar menakjubkan pikirnya. Kekasih dan sahabatnya benar-benar membuatnya gila secara perlahan.

“Oh Tuhan, sungguh kasihan hambamu ini.” Ucap Gong Woo lemah.

oOo

Tiffany menyeruput Strawberry milkshake yang baru saja ia pesan. Ia begitu lelah karena baru saja bermain dengan Bi Gae ditaman. Anjing itu benar-benar aktif, gumannya dalam hati sepanjang mereka bermain ditaman.

Bi Gae terlelap disampingnya. Dan kini Tiffany tengah membaca sebuah novel yang belum sempat ia baca sejak lusa ia membelinya. Tiffany begitu menikmati kesendiriannya dalam membaca novel tersebut. Sebuah novel yang berjudul ‘Dragostea nu este Niciodata la fel’ (Cinta tak pernah sama). Sebuah novel karangan Rhea Silnia. Sebuah cerita yang mengisahkan cinta dengan segala perbedaan, akan indah pada waktunya. Dan yang membuat Tiffany tertarik adalah sebuah kutipan yang ada didalam novel tersebut.

“Manusia memang ditakdirkan untuk saling jatuh cinta, tapi tidak untuk selalu saling memiliki…”

“Benarkah?” pikirnya

“Kenapa ada kisah seperti ini?” tanyanya dengan wajah yang cemberut.

Ia meletakkan novel tersebut, ia baru saja membacanya setengah. Namun ia sudah tak sanggup membaca kelanjutannya. Menurut Tiffany ini tidak masuk akal. Bagaimana mungkin ada seseorang yang saling mencintai tapi tak bisa bersama. Ia menolak itu. Tentu saja. Tiffany lebih suka kisah yang berakhir bahagia bukan kisah yang tragis seperti ini.

Tiffany mengambil gelas Milkshakenya. Lalu mengalihkan pandangan matanya kesegala penjuru kafe ini. Wajah Tiffany tiba-tiba terkejut ketika ia melihat sosok yang ia kenal tidak lama ini. Ya! Sosok yang baru saja ditemuinya kemarin. Laki-laki yang memberinya payung hitam.

Laki-laki itu memakai kaos putih dengan cardigan abu-abu sebagai pelapisnya. Dikepalanya berteger headphone putih yang terpasang dengan sempurna mendengarkan lagu-lagu yang diputar laki-laki tersebut. Dilihatnya oleh Tiffany, laki-laki itu begitu serius membaca buku-buku tebal yang ada dimejanya. ‘Pasti pinjam diperpustakaan kafe’ pikirnya.

Di kafe ini, tersedia library kecil untuk para konsumen yang datang mengisi waktu luang untuk membaca.

Tiffany mengangkat tubuhnya, berjalan menghampiri laki-laki tersebut. Setelah beberapa menit bergejolak dalam hatinya, apa ia harus menemuinya sekarang atau tidak. Namun karena Tiffany yakin pertemuan seperti ini jarang terjadi dua kali. Maka Tiffany tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

Ehei!

Laki-laki yang dimaksud mendongakkan wajahnya. Namun memandangnya dengan wajah datar. Tanpa berkedip. Membuat Tiffany begitu canggung.

Iti amintesti de mine? (Apa kamu mengingatku?)” tanya Tiffany ragu.

Laki-laki itu berdeham sekali lalu mengangguk. Tiffany tersenyum melihat anggukan itu.

Andja! (Duduklah!)” perintah laki-laki itu.

Ne? Dangsineun hangugeoleul ihae? (Apa? Kamu mengerti bahasa Korea?)” tanya Tiffany terkejut, karena ia menemukan seseorang berkebangsaan Korean di Roma kecuali Jihoon dan Jessica.

Ye!

“Ta-pi kenapa kamu tahu aku juga mengerti bahasa Korea?”

Laki-laki terlihat kikuk ketika Tiffany menanyakan hal tersebut. “Itu- itu karena wajahmu mirip orang Korea.”

Tiffany terdiam dan memandang datar kearah laki-laki yang duduk disebrangnya tersebut. Biasanya orang justru akan bilang Tiffany bukan seperti orang Korea. Tapi laki-laki ini bilang ia seperti orang Korea. Benarkah? Tanya Tiffany dalam hati.

Laki-lak itu melanjutkan bacanya seperti tak memperdulikan keberadaan Tiffany yang tengah menatapnya. Ini mungkin lebih tepat disebut pelarian. Ia begitu canggung seperti orang yang baru tertangkap basah tengah mencuri pakaian.

“Ekhm… wae?” tanya laki-laki itu memberanikan menatap Tiffany.

A-ni.” Jawab Tiffany kikuk.

Tiffany melirik kearah laki-laki yang kembali menenggelamkan diri dengan membaca buku didepannya.

“Tiffany Hwang.” Tiffany akhirnya memutuskan untuk memulai kembali perbincangan dengan laki-laki didepannya. Tangannya sudah terulur kedepan, menunggu laki-laki itu membalasnya.

Melihat tangan gadis didepannya terulur untuknya. Ia terdiam sesaat lalu mengangkat wajahnya untuk memandang gadis itu.

“Siwon. Choi Siwon.” Ucap laki-laki itu yang ternyata adalah Siwon. Membalas jabatan tangan Tiffany.

Tiffany terdiam. Lagi. Seperti waktu pertama kali ia bertemu Siwon. Seakan semua melambat. Ia bahkan bisa mendengar dentingan jam yang terus berputar. Deruan napasnya dan dan deruan napas Siwon. Bahkan kini ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

N-ne.” Tiffany buru-buru menarik tangannya dari genggaman Siwon. Tak mampu membalas tatapan Siwon yang terus mengarah padanya.

Guk Guk         

Tiffany dan Siwon sama-sama menoleh ke sumber suara yang masuk ke indera pendengaran mereka.

“Hei! Ya Tuhan, aku melupakanmu. Maaf…” Tiffany mengangkat anjing kecilnya. Tiffany lupa kalau ia membawa anjing itu bersamanya. Untung saja tidak hilang, pikirnya.

“Ehh..” Tiffany terkejut karena anjing itu membawa payung hitam milik Siwon yang ia taruh ditas tadi.

“Itu…”

“Ah- iya. Ini payungmu kan? Aku berniat mengembalikannya.” Ucap Tiffany. Tangannya terulur mengambil payung yang ada digigitan anjing tersebut.

“Ini- maaf anjingku menggigitnya.” Kata Tiffany menyesal sembari menyerahkan payung tersebut.

“Tidak perlu. Simpan saja, siapa tahu kamu membutuhkannya lagi.” Tolak Siwon halus, mendorong tangan Tiffany lembut.

A-ni…

“Tidak apa-apa. Simpan saja.”

Jeongmal?

Siwon mengangguk sambil tersenyum, lalu memperhatikan anjing yang ada dipangkuan Tiffany.

“Anjing yang lucu. Siapa namanya?” tanya Siwon masih menatap anjing tersebut. Seakan merasa diperhatikan mata anjing itupun ikut menatap Siwon.

“Emm, sebenarnya. Aku belum memberinya nama?” Tiffany tersenyum malu, lalu mengelus lembut kepala anjing tersebut.

Siwon menatap heran kearah Tiffany. “Kamu baru membelinya?” tanya Siwon lagi/

Tiffany menggeleng. Kini kening Siwon berkerut, dan itu sangat terlihat. “Itu- sebenarnya aku… menemukannya kemarin.”

“Kemarin?”

Tiffany mengangguk. “Kemarin waktu hujan turun, setelah kamu memberikan payungmu padaku.”

Siwon membuka mulutnya dan menganggukan kepalanya. “Pasti sekarang kamu bingung mencarikannya nama yang bagus. Ya kan?”

“Iya.” Jawab Tiffany lemas.

“Bisa ku bantu pikirkan?”

Tiffang mendongakkan kepalanya. “Kamu- mau membantu mencarikan namanya.”

Siwon mengangguk sekali dan tersenyum lembut kearah Tiffany. Tiffany ikut tersenyum lega, jujur saja ia sedikit kesulitan memberikan nama pada anjing barunya itu.

Siwon mulai berpikir, nama apa yang pantas untuk anjing berbulu cokelat yang kini ada dipelukan Tiffany. Saat ia sedang memikirkannya, tiba-tiba Siwon merasa melihat sesosok laki-laki yang berdiri tak jauh dari meja mereka. Seperti berbicara padanya. Seperti mengucapkan sesuatu.

“Bi-Gae?”

Eoh?” Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya. Menatap Tiffany yang penuh tanya kepadanya.

“Apa?”

“Tadi kamu bilang apa? Bi Gae? Apa maksudnya… kamu memberi nama anjing ini Bi Gae?”

“Hah?”

Tiffany mengernyit heran, melihat Siwon yang kebingungan. “Ahh, itu. Iya- Bi Gae. Aku rasa nama itu cocok untuknya.” Ucap Siwon cepat karena merasa tak enak dengan tatapan Tiffany.

“Alasannya?”

Siwon tampak berpikir. “Anjing itu ditemukan saat hujan kan? Dan aku rasa Bi dalam bahasa Korea mengartikan hujan, dan Gae dalam artian hewan anjing.” Jawan Siwon sedikit ragu.

Tiffany tampak memikirkannya. Tak lama setelah itu ia tersenyum manis membuat matanya melengkung sempurna.

“Bi Gae.” Tiffany mengangkat Bi Gae mengahadapnya, dan berguman lirih menyebut nama yang diberikan Siwon.

“Bi Gae… itu namamu sekarang.” Siwon tersenyum melihat tingkah laku Tiffany. Lalu ia tersadar akan sesuatu, laki-laki itu.

Hilang. Tidak ada lagi laki-laki misterius itu. Laki-laki tampan yang memilik rambut hitam lebat dengan poni samping menutupi sebagian matanya. Memakai kemeja putih dengan balutan jas dan dasi yang menyempurnakan sosoknya.

‘Siapa laki-laki itu?’

 

[TO BE COUNTINUED]

 

75 thoughts on “[Re-Post] YOU’RE MY DESTINY Part 1

  1. Akhirnya ada waktu untuk baca ff lagi^^
    Ini Re-post tapi sepertinya aku baru baca, Ada apa sama SiFany , sepertinya Tiff hilang ingatan yah , aku suka latar cerita nya di Roma, jarang”kan SiFany’s FF jalan” ke Roma ,hehee😀
    Haneul eonni memang selalu sukses membuat readers penasaran nih, Update soon Author🙂

  2. suka nama bigae cute banget ^^
    hmmm penasaran ama kelanjutan cerita nya blm pernah baca walo repost🙂
    judul nya indah “you’re my destiny”❤

  3. Bagus ffnya thor.tapi saya bingung storynya thor.
    Dan juga penasaran thor.jadi saya tggu next partnya ya thor.tetap semangat thor.author jjang.
    Sifany jjang.keep writing.

  4. Kisah yg unik krn dr awl hrs trm klo sifany berpsh.bhkn sprtiny fany g knl am siwon. unikny lg hrs bergub dgn dunia lain yg sprtiny ingin bntu stukn sifany.
    penasaran n ditggu lnjutnny.^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s