MISSION COMPLETED PART 1

MISSION COMPLETED

Mission Completed

Author : Elsa Mardian

Genre: Romance, Angst, Hurt

Rating: PG-17

 

Cast : Choi Siwon, Tiffany Hwang, Jung Yunho, Jessica, Yoona, Lee Dongwook

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

Part 1

Mission Completed

Tiffany Hwang adalah seorang gadis yang diasuh oleh seorang mafia hebat bernama Jung Yunho. Gadis 24 tahun itu tidak mempunyai keluarga selain Yunho yang mengasuhnya sejak ia berumur 5 tahun. Menurut perkataan Yunho, Joseph Hwang adalah rekan kerjanya. Ayah Tiffany dan ibunya tewas dalam kecelakaan lalu lintas dan menyebabkan anak perempuan satu-satunya itu yatim piatu.

Di saat itulah Yunho dan istrinya mengangkat Tiffany sebagai anaknya. Lagipula Yunho tidak mempunyai keturunan. Istri Yunho, Go Ahra, sangat menyayangi Tiffany. Sudah lama ia mengidamkan seorang anak perempuan. Tiffany sadar kalau dia telah berutang budi pada keluarga Yunho. Dia pun menuruti segala perintah pria itu.

Masa remaja Tiffany tidak begitu menyenangkan. Ia hanya senang jika bersama ibu angkatnya. Memang setelah meninggalnya kedua orangtuanya, Tiffany berubah menjadi anak yang pemurung. Yunho sendiri adalah seorang yang dingin dan tidak mempunyai kasih sayang sama sekali. Tiffany juga tidak begitu mengingat Yunho, mengingat tak ada satupun foto atau momen Yunho dan Joseph Hwang yang diingatnya. Bukan hanya itu, Tiffany sering melihat di masa remajanya, Yunho berlaku kasar terhadap istrinya sendiri. Hal itu membuat Tiffany takut.

Namun Ahra selalu membuat Tiffany nyaman jika berada di rumah. Apalagi Yunho tidak pernah berlaku kasar terhadap Tiffany. Itulah yang membuat Tiffany tetap bertahan disana. Lagipula, Tiffany akan lari kemana?

Sampai akhirnya, Go Ahra meninggal dunia saat Tiffany berumur 19 tahun. Tiffany sangat terpukul. Ia sangat menyayangi Ahra sama seperti ibunya sendiri. Ahra meninggal karena gantung diri di kamarnya. Yunho tetap bersikap dingin. Namun saat di pemakaman, Tiffany sempat melihat pria yang tampak setegar karang itu menitikkan air matanya. Bagaimanapun juga ia pasti sangat mencintai istrinya.

Tiffany sendiri tidak mengerti apa arti cinta. Ia tidak pernah merasakan hal itu dari seorang laki-laki. Setelah ayahnya meninggal, Tiffany tidak mendapatkan kasih sayang dari figure laki-laki.

Yunho tidak menyayanginya, Tiffany yakin itu. Namun Tiffany tidak begitu peduli. Ia tumbuh dewasa tanpa cinta dan tak ingin tahu dengan hal sentimental itu.

Yunho mendidik Tiffany seperti seorang laki-laki. Tiffany masuk kuliah bisnis dan pada saat usianya sudah menginjak 24 tahun, Yunho telah menyiapkan ‘sesuatu’ untuk gadis itu.

“Apa Appa memanggilku?” tanya Tiffany saat masuk ke ruang kerja Yunho.

“Ya, masuklah Tiffany.”

Tiffany masuk dan berdiri di depan meja kerja ayah angkatnya itu. Yunho bermain-main dengan cerutu yang dihisapnya, mendiamkan Tiffany untuk sementara.

Tiffany tidak mengerti untuk apa Yunho mengulur-ulur waktu seperti ini. namun ia tetap sabar menunggu. Kemudian Yunho berdiri perlahan. Ia memandangi Tiffany dari atas kepala sampai ujung kakinya. Gadis itu telah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Dengan rambut hitam pekat, kulit putih, serta matanya yang sangat menawan.

Lalu Yunho membuka laci meja kerjanya. Ia mengambil sesuatu dari dalam laci, kemudian ia meletakkan benda itu di atas meja. Seketika mata Tiffany melebar dan napasnya tercekat. Ia shock!

“Kau terkejut?”

Tiffany tak dapat berkata-kata. Ia menatap Yunho tajam. “Appa…kau mempunyai p-pistol?”

Ya, benda di atas mejanya adalah pistol. Tiffany tidak menyangka kalau ayah angkatnya menyimpan benda illegal seperti itu. Apa hubungannya bisnis mobil dengan pistol?

“Tiffany, karena kau telah dewasa, aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Duduklah.”

Tiffany menurut. Ia duduk di kursi di hadapan Yunho, sedangkan Yunho kembali duduk dan menghisap cerutunya.

“Kau pasti masih ingat kejadian yang menimpa kedua orangtuamu. Mereka tewas karena kecelakaan mobil. Dan sebenarnya, orangtuamu tidak kecelakaan Tiffany Hwang.”

Tiffany terpaku. “A-apa maksudmu?”

Yunho membuat jeda sejenak. Namun pandangan Tiffany tak lepas darinya.

“Ayah dan ibumu dibunuh, anakku. Mereka tidak meninggal karena kecelakaan mobil.”

Bagai petir menyambar di siang hari, Tiffany sangat terkejut. Jantungnya berdetak tak beraturan. Apa yang dikatakan pria ini? Tangan Tiffany mulai mengepal dan berkeringat.

“Tiffany, aku dan ayahmu adalah sahabat baik. Kami menjalankan bisnis mobil ini bersama-sama. Usaha kami sangat sukses dan merebut perhatian pengusaha-pengusaha di Korea dan berbagai Negara lainnya. Semua orang kagum kepada kami. Kami saling membantu satu sama lain dan menghadapi klien dari berbagai kalangan.

Sampai kami bertemu dengan pria bernama Choi In Ha. Dia menyatakan kagum kepada kesuksesan kami dan ingin bergabung di perusahaan kami. Ayahmu menerimanya dengan sangat baik. Namun aku tahu ada maksud terselubung dari pria bernama In Ha ini. Ia licik, seperti ular. Yang ia inginkan hanyalah merebut asset-asset kami dan menghancurkan kami hingga bangkrut.

Aku berusaha meyakinkan ayahmu kalau In Ha bukanlah orang yang baik seperti yang terlihat, tapi ayahmu tidak mempercayaiku, sahabat baiknya. Jadi, aku menyelidiki sendiri semua hal tentang Choi In Ha.”

Tiffany masih menyimak di tempat duduknya. Ia belum mengerti kemana arah pembicaraan Yunho. Namun hatinya perlahan terasa sakit. Ia merasa pernah mendengar nama Choi In Ha. Tapi dimana?

Yunho menghela napas dan berjalan ke arah jendela. Ia menghadap keluar jendela sambil tangannya dilipat ke belakang tubuhnya.

“Dan ternyata, dugaanku memang benar,” Yunho melanjutkan ceritanya. “ Choi In Ha bermaksud merebut saham-saham kami dengan cara kotornya. Ia menggelapkan dana tanpa sepengetahuan ayahmu. Sekali lagi aku meyakinkannya, namun ia tetap bersikeras kalau aku hanyalah berburuk sangka. Entah apa yang merasuki ayahmu itu, Tiffany. Matanya tidak terbuka dengan korupsi yang dilakukan oleh In Ha.

Namun suatu hari, In Ha salah melangkah dan perlahan-lahan ayahmu mulai mempercayaiku. Dokumen-dokumen palsu yang dibuat In Ha terlihat satu-persatu. Aku yang membantu ayahmu mencari dokumen-dokumen itu. Dan akhirnya ayahmu yakin dan kami bersama-sama mengancam In Ha.

Ayahmu dan aku mengancam akan mengadukannya ke pihak yang berwajib. Choi In Ha pun panik. Kau tahu, orang sejahat dia akan melakukan apa saja untuk melindungi dirinya sendiri. Termasuk melukai seseorang atau…membunuh.”

Tiffany menahan napasnya. Kini ia tahu kemana arah pembicaraan Yunho. Tangan Tiffany mencengkram lengan kursi yang didudukinya.

“Tiffany, ayah dan ibumu tidak meninggal karena kecelakaan mobil. Tapi mereka diracun oleh Choi In Ha, pemilik Hyundai Choi Corp.”

Airmata yang sejak tadi ditahan Tiffany kini mengalir tanpa bisa dicegah. Panas dan menyakitkan. Tubuh Tiffany bergetar hebat. Marah, sedih, dan dendam berkecamuk di dadanya. Mendengar kata-kata Yunho barusan membuat hatinya seperti tersayat-sayat. Tiffany membiarkan dirinya menangis. Sudah lama ia tidak menangis. Ia bahkan lupa apa saja hal yang telah membuatnya menangis.

“Setelah kematian orangtuamu, aku mencari keberadaan Choi In Ha. Aku bermaksud membalaskan dendam sahabatku padanya. Tapi dia menghilang dari Korea. Aku hanya membunuh orang-orangnya saja. Kini, perusahaan kami hanya aku yang mengendalikan, tanpa ada ayahmu lagi. Aku berusaha bangkit sendiri dan membuat perusahaan itu kembali sukses seperti sekarang. Aku tidak melaporkan perbuatan In Ha ke pihak yang berwajib karena aku akan membunuh Choi In Ha dengan tanganku sendiri.”

Tiffany mendongak, menatap mata Yunho yang penuh kebencian. Tapi hatinya jauh lebih sakit daripada Yunho. Ia ingin tahu dimana Choi In Ha sekarang ini agar ia dapat membalaskan dendam ayah dan ibunya.

Yunho mengangkat senjata api yang tadi diperlihatkannya kepada Tiffany. “Dan aku, ingin melihat bagaimana peluru di dalam pistol ini bersarang di tubuh Choi In Ha.”

“Dimana dia sekarang, Appa?” tanya Tiffany tajam. Suaranya serak tapi kuat.

Yunho menatap lurus ke mata Tiffany.

“Aku mendapatkan kabar dua hari yang lalu kalau Choi In Ha tinggal di Paris. Kita tak bisa langsung mendapatkannya. Namun, kita bisa menghancurkannya melewati seseorang yang sangat dicintainya.”

Tiffany berdiri. Ia sudah berubah menjadi gadis keras dan bersedia kejam sejak beberapa menit yang lalu.

“Apa maksud Appa?”

“Choi In Ha tidak lagi memegang kendali atas perusahaan Hyundai, tapi anak tunggalnya. Ia sangat menyayangi anak laki-lakinya itu. Kini anaknya yang menjadi pimpinan Hyundai Corp. Namanya Choi Siwon.”

Tiffany membenamkan nama itu di kepalanya. Choi Siwon.

“Choi Siwon tinggal di apartemennya di Gangnam. Ia pengusaha muda dan seorang Casanova. Aku rasa umurnya sudah menginjak 27 tahun. In Ha sangat menyayangi Siwon sampai-sampai menyerahkan semua assetnya atas nama anaknya itu. Apa kau mau berpartisipasi dalam tugas ini?”

Tiffany menelan ludah. Tugas apakah yang dimaksud Yunho?

“Tu-tugas apa itu?”

Yunho menyeringai lebar. Ia mendekati Tiffany dan memegang kedua bahu gadis rapuh itu.

“Kau buat Choi Siwon bertekuk lutut di hadapanmu. Buat dia jatuh cinta dan tergila-gila padamu. Setelah itu, kau hancurkan hatinya serta kehidupannya. Bayangkan apa yang telah dilakukan ayahnya kepada orangtuamu, Tiffany. Jika kau telah menghancurkan Siwon, kita akan mudah mendapatkan ayahnya. Kau mengerti?”

Tiffany pindah ke apartemen barunya di daerah Gangnam. Yunho telah mengatur semuanya untuk Tiffany setelah gadis itu menyatakan ingin membalaskan dendam orangtuanya. Awalnya Tiffany ragu melakukan ini. Ia belum berpengalaman dalam cinta atau hubungan apapun. Seumur hidupnya Tiffany tidak membiarkan lelaki manapun menyentuhnya, kecuali Yunho. Dan membayangkan perbuatan Choi In Ha membuat Tiffany ingin menghancurkan siapapun yang berhubungan dengannya.

Yunho yakin kalau Tiffany akan menarik perhatian Siwon dengan sangat mudah. Karena, Tiffany sangat cantik dan menarik. Choi Siwon adalah seorang playboy yang sering bergonta-ganti pasangan. Ia tampan, kaya raya, dan seorang iblis bagi wanita.

Sepertinya Tiffany akan mendapatkan lawan main yang seimbang. Ia dipenuhi dendam, sedangkan Siwon dipenuhi oleh nafsu.

Tiffany sengaja tinggal di apartemen di dekat apartemen Siwon. Ia juga sudah menyiapkan lamaran pekerjaan untuk dimasukkan ke perusahaan Hyundai Corp.

Permainan pun dimulai….

Tiffany mematut dirinya di depan cermin. Ia menempelkan selembar foto Siwon di pinggir cermin riasnya. Mata hitam yang seperti manik itu menatap foto Siwon seraya menyeringai.

“Aku akan menghancurkanmu, Choi Siwon.”

Pagi ini Tiffany berdandan sangat seksi. Ia memakai blouse yang memperlihatkan belahan dadanya yang menggiurkan dan rok pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Siapa yang tidak bertekuk lutut di hadapan gadis secantik Tiffany. Dulu banyak pemuda di kampusnya putus asa karena tidak dapat mendekati Tiffany Hwang. Kini, Tiffany lah yang harus mendekati lelaki. Sigh!

Bukan berarti Tiffany tidak mempunyai nafsu. Ia mungkin gadis berhati dingin dan tak mengenal cinta, namun ia tahu tubuhnya bisa menghancurkan laki-laki, apalagi dendamnya.

Tiffany keluar dari apartemen setelah melihat arlojinya. Ia sudah mendapatkan data tentang kehidupan Choi Siwon. Dari jam berapa dia berangkat bekerja sampai makanan kesukaannya. Tiffany hanya tinggal bertindak.

Siwon POV

Seperti biasa, aku sudah siap berangkat bekerja pada jam 8. Sebelumnya aku sudah menelpon Appa dan Eomma yang masih tinggal di Paris. Aku menelpon mereka tiap pagi untuk memberitahu betapa aku sangat menyayangi mereka. Mereka mempercayakan Hyundai Corp padaku dan aku harus menjaga serta membuat mereka bangga. Aku bekerja keras untuk orangtuaku, dan mendapatkan wanita-wanita cantik sebagai bonusnya.

Siapa yang tidak akan terpikat denganku? Aku tampan, kaya raya, cerdas, dan mampu membuat setiap wanita tergila-gila padaku. Tentu saja aku pernah jatuh cinta. Stephanie Howard adalah cinta pertamaku dan cintaku selamanya. Setidaknya sebelum gadis itu meninggal dunia karena penyakit kanker otak yang dideritanya.

Stephanie adalah gadis Prancis yang telah aku kencani selama 3 tahun. Kami saling mencintai. Namun sepertinya Tuhan tidak menginginkan kami bersama selamanya. Sejak kematian Stephanie, aku tidak bisa membuka hatiku untuk wanita lain. Sudah 4 tahun berlalu, namun belum ada nampaknya pengganti Stephanie.

Aku keluar apartemen dan berjalan menuju lift, tepat saat seorang gadis keluar dari salah satu koridor apartemen. Aku menghentikan langkahku dan memandangi gadis itu yang tengah merapikan rambut hitamnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tapi tubuhnya mengatakan kalau gadis ini bisa jadi incaranku selanjutnya.

Dan akhirnya gadis itu berjalan, juga menuju lift. Aku segera meneruskan langkahku dan tetap berada di belakangnya. Tubuhnya sangat indah. Kakinya, lekuk pinggangnya dan bokongnya. Aish, aku penasaran seperti apa wajahnya.

Sampai di depan lift, aku mensejajarkan posisiku dengannya. Hmm, tubuhnya memancarkan wangi yang sangat menggoda. Dengan cepat aku memandangi wajah gadis yang berdiri di samping kananku sekarang.

DEG!

Jantungku terasa berhenti berdetak. Gadis itu luar biasa cantik. Matanya indah, bibirnya yang tipis, tulang pipinya yang sedikit menonjol dan kulit pucat yang entah mengapa sangat menarik. Aku sudah terbiasa melihat gadis cantik, namun gadis yang satu ini membuatku lupa bagaimana caranya bernapas. Gadis yang mempunyai tahi lalat di rahang kirinya ini membuatku teringat akan seseorang.

Stephanie-ku.

Tiffany POV

Aku tahu kalau ia sedang mengikutiku ke lift. Aku bersikap seolah tak menyadari kehadirannya dan membiarkan dirinya penasaran. Ia berdiri di samping kiriku dan tak melepaskan pandangannya dari tubuhku. Aku menyembunyikan senyum puas.

Dan ketika Siwon menatap wajahku, aku menolehkan kepala, menantang matanya dengan mataku. Aku menarik ujung-ujung bibirku dan tersenyum tipis. Aku bisa melihatnya terpaku tanpa kedip.

Hah, ternyata mudah sekali membuat playboy seperti Siwon terpesona. Ia terpaku seperti orang bodoh dan tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk menegurku. Jadi, aku harus membuat jalanku sendiri.

“Annyeonghasaeyo,” sapaku sambil menundukkan kepala. Kepalanya menunduk sedikit lalu menatapku lagi.

“Ng…apa kau juga akan turun? Aku berencana akan ke area parkir,” kataku lagi. ia masih diam memandangiku, membuatku sedikit risih.

Terserah sajalah, aku pun menekan tombol down dan ia mengikuti masuk lift. Hanya kami berdua yang ada di dalam lift itu.

“H-hai. Kau…penghuni baru?” akhirnya ia bertanya. Aku memberikan eye smile ku padanya dan aku tahu ia menelan ludah.

“Benar. Baru tadi malam aku pindah ke apartemen ini.”

Choi Siwon tersenyum, memperlihatkan lesung pipi yang dalam di kedua sisi pipinya. Aw, he is cute!

“Kalau begitu selamat datang di apartemen ini. Choi Siwon imnida. Bolehkah aku tahu namamu, Nona cantik?”

Choi Siwon ini mengulurkan tangannya padaku. Tentu saja aku segera menyambutnya. “Hwang Tiffany imnida. Senang berkenalan dengan Anda, Siwon-ssi.”

Dia tidak melepaskan tanganku. “Kau sangat cantik. Membuatku lupa aku berada di dunia atau surga. Sangat senang menerimamu disini. Kelak kita akan berteman, bolehkah?”

Aku tersenyum manis. Ini yang kuinginkan, Choi Siwon.

“Tentu saja, Siwon-ssi. Suatu kehormatan bagiku berteman dengan seorang Choi Siwon yang sangat terkenal sepertimu,” pujiku.

Kau sudah dalam genggamanku, Choi Siwon.

Aku melamar ke Hyundai Corp sebagai sekretaris Choi Siwon. Pria itu belum tahu kalau aku melamar di perusahaannya. Menurut data yang kuterima, Siwon selalu saja berganti sekretaris. Alasannya sekretaris-sekretaris itu tidak mau menuruti kehendaknya. Sigh, benar-benar bajingan! Tunggu sampai aku menjadi sekretarismu.

“Miss Tiffany Hwang!” seorang wanita memanggilku. Aku bangkit dari kursi tunggu dan menghampiri wanita yang duduk di belakang meja receptionist itu.

“Ya, saya.”

“Tuan Choi Siwon meminta Anda ke ruangannya sekarang juga untuk diwawancarai,” ujar wanita yang bernama Kim Taeyeon itu.

“Dia yang melakukannya sendiri?” tanyaku sedikit tidak menyangka.

“Benar. Mari saya tunjukkan ruangan Tuan Choi.”

Aku mengikuti langkah anggun wanita itu menuju ruangan Choi Siwon. Well, sebentar lagi pria itu akan masuk ke dalam perangkapku.

Siwon POV

Lagi-lagi aku harus meng-interview sekretarisku sendiri. Yah, ini adalah salah satu favoriteku. Mereka harus cantik dan bersedia mengikuti semua perintahku, termasuk tidur denganku. Ruanganku tidak seperti ruangan kantor kebanyakan. Di dalam sini ada meja sekretaris, single bed, dan kamar mandi yang luas. Aku ingin segalanya sempurna jika bersama gadis cantik di dalam ruanganku.

Terdengar ketukan di pintu dan aku berseru agar si tamu masuk. Pintu terbuka dan aku tidak repot-repot melihat ke arah sana. Aku tetap bermain dengan PSP ku.

“Mister Choi, aku sudah membawa salah satu calon sekretaris Anda,” kata TaeYeon.

“Suruh dia masuk, TaeYeon!” kataku tanpa melihatnya. Aku merasakan bayangan seseorang masuk ke ruanganku dan otomatis kepalaku mendongak.

“Annyeong, Choi Siwon-ssi.”

Mendadak tubuhku kaku melihat eye smile dari gadis di hadapanku itu. Dia…gadis cantik yang kutemui tadi pagi. Tiffany. Bagaimana bisa aku tidak membaca dengan teliti CV yang diberikan TaeYeon kepadaku. Tiffany Hwang yang membuat mood ku bagus hari ini ada di depan mejaku, menunggu keputusan apakah dia pantas jadi sekretarisku atau tidak.

TaeYeon sudah menutup pintu ruanganku dan kini hanya tinggal kami berdua. Aku berdiri dari dudukku dan berjalan menghampirinya. Argh, semangatku meningkat 10 kali lipat!

“Tiffany-ssi? Kau…adalah calon sekretarisku? Haha, aku tidak menyangka.”

Tiffany hanya tersenyum tipis. Entah kenapa kharisma dan pembawaannya membuatku penasaran. Ia seperti tidak peduli tetapi matanya menyiratkan kehangatan. Belum pernah aku bertemu gadis seperti Tiffany. Aku mengira ia akan sulit ditaklukan karena aku tahu ia cerdas dan berani.

“Bolehkah aku duduk?” tanya Tiffany sopan.

“Ah, tentu saja. Silahkan duduk.”

Bodoh sekali kau Choi Siwon. Dan berhentilah gugup di hadapannya, batinku.

Tiffany duduk dan matanya mulai memandang berkeliling. Aku bisa melihatnya tersenyum. Sepertinya ada yang menarik perhatiannya.

“Wae?” tanyaku penasaran. Ia mendongak menatapku, matanya yang indah itu membentuk bulan sabit.

“Seriously, you have a single bed in your room?”

Aku tertawa kecil. Hmm, sepertinya ia tidak tahu kegunaan ranjang itu. “Ya, aku kadang mengantuk dan malas pulang. Mau minum cola?”

“Yes, please.”

Aku mengambil dua kaleng cola di lemari es kecil yang terletak di sudut ruangan. Jantungku berdebar tak menentu menyadari Tiffany Hwang sedang duduk di ruanganku sekarang ini. Seseorang yang mengingatkanku pada Stephanie. Mereka benar-benar mirip. Hanya saja Stephanie mempunyai rambut merah dan mata biru gelap.

“Ini. Silahkan,” ucapku saat meletakkan cola di atas meja. Aku kembali duduk di tempatku semula.

“Aku kira kau punya perwakilan untuk melakukan interview,” Tiffany membuka pembicaraan. Sejujurnya aku menyukai gadis ini. Ia tidak canggung dan malu-malu seperti calon sekretarisku yang lain.

“Ya, aku melakukannya sendiri. Dengan begitu aku bisa langsung mengenalinya dan merasa cocok dengannya,” jelasku.

Tiffany menelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. “Lalu, kenapa kau selalu bergonta-ganti sekretaris? Apa kesan pertama mereka mengecohmu?”

Aku terdiam. Pertanyaan gadis ini cerdas sekali. Ia menjebakku dengan pertanyaannya. Aku hanya tertawa kecil menanggapi itu.

“Mungkin kau benar, mereka mengecohku. Erm, Tiffany, bolehkah aku mengatakan sesuatu?”

Tiffany mengangguk.

“Apa yang membuatmu ingin menjadi sekretarisku? Kau tahu, aku melihatmu sebagai wanita independen dan cerdas. Posisi ini kurang cocok untukmu. Kau lebih dari ini. Maksudku, kecerdasanmu tidak seharusnya untuk posisi sekretaris,” ujarku.

Gadis itu tertawa pelan. Dan entah bagaimana suara itu sangat seksi di telingaku.

“Kau mau aku jujur?”

Kepalaku mengangguk. “Tentu saja.”

Tiffany memajukan tubuhnya sedikit sehingga cukup dekat denganku. Matanya berkilat indah.

“Aku hanya ingin berdekatan denganmu. Aku penasaran, seromantis apakah seorang Choi Siwon. Kau sangat terkenal di kalangan kami para wanita. Memang aku tak pantas bekerja disini. Karena aku sendiri adalah anak angkat dari pemilik perusahaan mobil yang tak kalah terkenal dari perusahaan ini.”

Aku termagu. Apa? Dia hanya ingin berdekatan denganku? Oh Tuhan, aku rasa aku akan mati kesenangan sekarang!

“So, apakah aku diterima?”

Author POV

Tiffany membaringkan tubuh rampingnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya. Hari ini terasa cukup berat, tapi ia puas sekali. Siwon sudah terpikat olehnya. Ternyata sangat mudah menaklukan si playboy itu. Tiffany termenung sejenak. Pekerjaan seperti ini tidak pernah dilakukannya seumur hidup. Ia harus berusaha menjadi wanita penggoda dan licik. Bagi Tiffany hal itu tidak terlalu sulit karena ia mempunyai dendam di hatinya. Bagaimanapun juga Yunho telah berhasil membuatnya menjadi wanita yang keras.

Gadis cantik itu menggeliat di atas ranjangnya. Sebenarnya Siwon tidak memberinya pekerjaan terlalu banyak, bahkan bisa dikatakan tidak ada! Seharian ini Siwon terus mengajaknya mengobrol, lalu makan siang, dan memperhatikan Tiffany yang sedang melihat-lihat jadwal untuk esok hari.

Pria itu benar-benar genit.

Tiba-tiba ponsel Tiffany berdering. Tiffany melihat layar ponselnya. Unknown number? Keningnya mengernyit lalu ia menjawab panggilan tersebut.

“Yobosaeyo?”

“Hai, Tiffany-ssi? Apa aku mengganggumu?”

Tiffany menyeringai. “Aniyo. Ada apa, Siwon-ssi?”

“Ah..sebenarnya tidak ada apa-apa. Aku hanya merindukan suaramu.”

“Kau benar-benar gombal, Siwon-ssi. Kita baru saja berpisah 15 menit yang lalu. Apa kau mencoba merayuku?”

Siwon tertawa.

“Tidak, aku tidak sedang merayumu. Aku memang benar-benar merindukanmu. Aku tidak sabar menunggu hari esok.”

Tiffany terdiam. Entah kenapa hatinya berdebar mendengar rayuan gombal Siwon. Seumur hidup ia belum pernah jatuh cinta. Baru dengan Siwon lah dia merasakan debaran seperti ini.

Gadis itu buru-buru menepis pikiran konyol tersebut dari kepalanya. Ia tidak boleh tergoda oleh pesona Siwon. Tujuannya adalah untuk menghancurkan Siwon serta keluarganya.

“Benarkah? Hmm, kalau begitu kau boleh ke apartemenku.”

Hening sejenak. Tiffany menyangka sekarang Siwon pasti sedang kegirangan.

“Kau serius?” tanya Siwon penuh harap.

“Untuk apa aku bercanda. 707.”

“Mwo?”

“707. Nomor apartemenku. See you.”

Tiffany mematikan sambungan ponselnya seraya tersenyum puas. Ia sengaja mengundang Siwon ke apartemen ini agar pria itu semakin tergila-gila dengannya. Tiffany berdiri lalu berjalan menghampiri cermin rias. Ia merapikan rambutnya yang sedikit kusut. Sebentar lagi Siwon pasti kesini, batin Tiffany. Jadi dia harus berdandan cantik.

Namun tak lama kemudian, sebuah pesan masuk ke ponsel Tiffany.

“Mianhae, Tiffany-ssi. Sepertinya kau sedang lelah. Aku tak enak jika mengganggumu. Lebih baik kau beristirahat. Sampai jumpa besok.”

Tiffany tertawa kecil membacanya. Ada apa dengan Choi Siwon. Bukankah tadi dia bilang merindukannya? Lalu kenapa sekarang Siwon tidak ingin ke apartemen Tiffany. Jelas-jelas tadi Tiffany sudah mengundanganya.

Tiffany menyipitkan mata. Apa ini salah satu rencana seorang playboy dalam memikat gadis yang disukainya? Membuat kesan baik di awal perkenalan? Hah, kita lihat saja bagaimana proses permainan ini.

Siwon POV

Apa dia serius? Dia mengundangku ke apartemennya saat ini juga! Sebelum aku sempat menjawab, Tiffany segera menutup telfonnya. Aku menyeringai senang. Apa dia tertarik padaku?

Aku menyukainya. Sejak pertama kali aku melihatnya di lift apartemen, aku sudah menyukainya. Terlebih aku tahu saat dia melamar menjadi sekretaris baruku. Tapi aku tidak mengerti perasaan ini. Jauh di lubuk hatiku, sebenarnya aku membayangkan Stephanie ada dalam dirinya.

Apa aku memanfaatkannya? Atau, apakah aku benar-benar menyukainya? Aish, aku sendiri bingung dengan apa yang aku rasakan. Kupaksakan tubuhku untuk bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Sepertinya malam ini sangat cocok untuk berendam air hangat.

Saat aku melangkah ke dalam kamar mandi, ponselku kembali berbunyi. Aku menyempatkan diri melihatnya, siapa tahu balasan pesan dari Tiffany.

‘Baby, kenapa tidak memberi kabar padaku seharian ini? Aku sangat merindukanmu :* ‘

Aku mendengus. Ternyata Eun Jin, wanita yang kukencani satu minggu yang lalu. Kami bertemu saat peluncuran mobil terbaru di perusahaanku. Aku tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya. Dia saja yang kesenangan ketika aku mengajaknya makan malam. Tch.

Lebih baik aku abaikan saja wanita cerewet ini. Lagipula kini sudah ada Tiffany Hwang yang berputar-putar di kepalaku. Aku bisa memperkirakan bagaimana serunya petualanganku dengan gadis itu. Tiffany Hwang, Tiffany, Tiffany. Aish, menyebut namanya saja membuatku senang bukan main.

Author POV

“Bagaimana tidurmu semalam, Tiffany-ssi? Apakah nyenyak?” tanya Siwon saat Tiffany meletakkan secangkir kopi di atas meja kerjanya.

“Sebenarnya tidak terlalu nyenyak. Mungkin karena seharian kemarin aku terlalu bersemangat,” jawab Tiffany lalu menunjukkan eye smile.

Gadis itu berjalan ke meja kerjanya sendiri dan duduk di belakang meja. Ia tidak sadar kalau Siwon memperhatikan setiap gerak-geriknya. Tiffany melirik sekilas ke arah Siwon yang masih menatapnya, lalu kembali tersenyum. Siwon membalas senyum Tiffany kemudian menyibukkan diri kembali dengan file-file di hadapannya.

“Siwon-ssi, apa kau benar-benar belum pernah berlibur? Maksudku, sekarang aku sedang membaca jadwal lamamu. Ternyata kau gila kerja rupanya. Bahkan kau tetap bekerja di malam Natal!” ujar Tiffany dengan mata yang tetap terpaku ke layar computer. Baru saja ia membuka folder jadwal Siwon yang dibuat oleh sekretaris sebelumnya.

Siwon hanya tertawa mendengarnya. Ia berdiri dan berjalan menghampiri meja Tiffany. Tiffany langsung waspada.

“Kau melihatnya dimana?” tanya Siwon lembut. Ia berdiri di samping kursi Tiffany, kemudian membungkukkan badan hingga dagunya hampir menyentuh puncak kepala gadis itu. sebelah tangan Siwon bertumpu pada kepala kursi Tiffany, dan yang lainnya bertumpu ke meja, dimana Tiffany memegang mouse computer.

“Oh, ini adalah jadwal yang dibuat Min Ah, sekretarisku sebelumnya. Kau benar, aku memang seorang yang gila kerja. Apa menurutmu aku butuh liburan?” bisik Siwon di telinga Tiffany.

Tangan Siwon menelungkup dia atas tangan kanan Tiffany, bersama-sama memegang mouse. Siwon sangat kecanduan menyentuh seseorang yang disukainya. Sedangkan Tiffany membiarkan saja ketika tangan Siwon enggan beranjak dari situ. Telapak tangan Siwon dua kali lebih besar darinya, dengan jari-jari yang kuat dan hangat.

Siwon terbius oleh wangi parfum Tiffany. Aroma apel segar yang memabukkan. Tiffany tersenyum tipis, senang dengan sentuhan Siwon. perlahan ia mendongak, kemudian mata mereka pun beradu. Tiffany bisa melihat dengan jelas wajah tampan yang terukir sempurna, hanya beberapa senti berada tepat di depan wajahnya.

“Siwon-ssi?” bisik Tiffany. Ia tersenyum manis.

“Hmm?” gumam Siwon, matanya tidak berkedip memandang Tiffany.

“Aku sedang bekerja dan kau terlalu dekat padaku. Aku…tidak bisa berkonsentrasi,” ujar Tiffany pelan, bahkan hampir seperti desahan.

“Oh, mianhae.”

Siwon segera menjauhkan wajahnya dan menarik tubuh menjauhi meja gadis itu. Belum pernah ia merasakan hal ini. Digoda dan dienyahkan sekaligus. Siwon berdehem, pura-pura merapikan jasnya.

“Tapi kurasa kau memang butuh liburan, Siwon-ssi. Tidak baik memaksakan tubuhmu untuk bekerja terus menerus. Umurmu akan lebih sedikit dibandingkan orang-orang yang suka berlibur,” ungkap Tiffany.

“Begitukah?”

“Hmm.”

Siwon berpikir sebentar. Tiffany memang benar, ia membutuhkan liburan. Ke Pulau Jeju mungkin? Siwon mengerjap ketika pikiran baru masuk ke kepalanya. Jika ia pergi berlibur, otomatis ia bisa membawa Tiffany bersamanya dan tentu saja hanya berdua. Berdua.

Siwon tersenyum lalu berdehem.

“Baiklah. Kau benar, Tiffany-ssi. Aku membutuhkan liburan. Kalau begitu aku akan memikirkan kapan waktu yang tepat.”

Tiffany POV

Hari-hariku semakin menarik. Kudapati Siwon yang sudah mulai terpedaya olehku. Ternyata aku mahir dalam hal merayu, apalagi ini adalah kali pertamaku. Pria seperti Siwon memang cerdas, namun ia menjadi orang paling bodoh setelah melihat gadis cantik dan seksi yang menggodanya. Cih!

Setiap malam aku memberitahu Yunho Appa tentang perkembangan pekerjaanku. Dia menyarankan agar aku tidak terlalu agresif dan mendekatinya secara bertahap. Setelah Siwon benar-benar di dalam genggamanku, maka saat itulah aku menguasainya. Aku akan mencari tahu dimana keberadaan Ayahnya di Paris. Yunho Appa mengatakan kalau pria itu bersembunyi disana.

“Apa dia mulai tertarik padamu?”

“Nde, Appa. Aku rasa begitu.”

“Bagus, Tiffany. Jika kau sudah semakin dekat padanya, mulailah bertanya tentang hal-hal pribadinya. Arraseo?”

“Ye, Appa. Arraseoyo.”

Klik.

Author POV

Tiffany mendengar sambungan telepon mereka terputus. Gadis itu meletakkan ponsel di atas nakasnya dan kembali bergolek di atas ranjang. Sekarang adalah hari Minggu, jadi ia memilih untuk bermalas-malasan pagi ini sebelum pergi berenang.

TING TONG

Tiffany yang tadinya sudah memejamkan mata, kini kembali terjaga. Ada seseorang yang memencet bel apartemennya. Tiffany melihat ke arah jam dinding. Jam 8 pagi. Holy shit! Siapa yang bertamu di Minggu pagi seperti ini?

Bunyi bel terdengar lagi, membuat gadis itu bangun dengan tidak sabar. Ia menyanggul rambutnya sembarangan dan tanpa memakai jubah tidur, ia pun melenggang keluar. Seumur hidup Tiffany tidak mempunyai sahabat atau teman dekat yang mengganggu aktifitas malas-malasan Minggu paginya. Jadi mungkin tamunya ini adalah orang penting.

Tiffany memutar handle pintu lalu membukanya perlahan. Mata Tiffany menajam tatkala melihat siapa tamu di hadapannya. Ia tidak mengira akan mendapatkan seorang tamu spesial pagi ini.

“Good morning, Gorgeous!”

Tiffany tersenyum manis. “Good morning, Siwon-ssi.”

“Untukmu,” ucap Siwon seraya menyerahkan sebuket bunga lili pink kepada Tiffany. Entah darimana Siwon tahu, tetapi Tiffany sangat menyukai warna pink. Maka Tiffany pun menerimanya dengan senyum yang lebih cerah.

“Kamsahamnida. Silahkan masuk!”

Tiffany membuka pintu lebih lebar agar Siwon dapat masuk. Kemudian setelah menutup pintu kembali, Tiffany mengikuti Siwon menuju ruang tamu. Apartemen Tiffany tidak kalah besar dari milik Siwon. Semuanya tertata rapi serta serba pink dan putih. Siwon tersenyum. Berarti warna bunga yang ia pilih tadi tidak salah sama sekali.

“Duduklah, Siwon-ssi.”

“Oh, kamsahamnida.”

“Kopi atau teh?”

“Kopi saja.”

Tiffany meletakkan bunganya di atas sofa lalu berjalan ke dapur. Jarak dapur dan ruang tamu sangat dekat karena memang apartemen Tiffany tidak memiliki dinding sekat pembatas ruangan. Jadi Siwon dan Tiffany masih bisa mengawasi satu sama lain.

“Apakah aku mengganggu pagimu?” tanya Siwon tiba-tiba. Tiffany tersenyum.

“Ani,” bohongnya sambil menyeduh kopi.

Siwon lega. Sebenarnya hari ini ia ingin mengajak Tiffany pergi berlibur. Seperti yang telah direncanakannya beberapa hari lalu ketika Tiffany mengusulkan hal tersebut. Siwon ingin membawa Tiffany mengunjungi pulau pribadinya yang terletak di dekat Jeju. Cukup lama ia tidak mengunjungi pulau yang telah dibelinya dua tahun lalu itu. Disana hanya ada dua orang penjaga yang menghuninya, yaitu pasangan Shim.

“Silahkan diminum,” ucap Tiffany ketika meletakkan kopi di atas meja di hadapan mereka. Tiffany mengambil posisi di hadapan Siwon, menyilakan kakinya di atas sofa lalu meletakkan sebuah bantal kecil di pangkuannya.

Siwon tak tahan untuk tidak memandangi tubuh seksi itu. Tiffany sangat cantik di pagi hari. Tanpa make up, memakai celana yang sangat pendek dan atasan tank top. Penampilan Tiffany menampakkan kulit putih mulusnya yang sudah pasti membuat jantung Siwon berdebar-debar karena hasrat.

“Jadi, kunjungan apa ini? Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Tiffany menyentakkan Siwon dari lamunan. Ia sadar pandangan Siwon sedang mengulitinya.

“Ehm, oh, sebenarnya aku teringat dengan usulmu minggu lalu. Tentang berlibur,” jawab Siwon gugup. Tiffany mengangguk santai.

“Nde, aku juga mengingatnya. Lalu?”

Siwon menatap Tiffany intens. Ia mengutuki diri sendiri karena tiba-tiba menjadi gugup. Biasanya ia yang selalu percaya diri di depan para wanita yang dirayunya dan wanita-wanita itulah yang memohon mendapatkan perhatiannya. Tapi jika bersama Tiffany, semuanya terbalik 180 derajat. Tiffany seakan-akan mengambil semua keahlian dan pesona Siwon, hingga menjadikan Siwon pria yang bertekuk lutut di hadapannya.

“Aku mempunyai sebuah pulau di dekat Jeju yang kubeli dua tahun lalu, tapi aku jarang sekali berkunjung kesana. Rencanya aku akan ke pulau itu hari ini. Dan…kupikir kau…ehm, kau bersedia menemaniku,” ujar Siwon seraya memain-mainkan jarinya.

Tiffany diam sejenak, membuat jeda agar Siwon harap-harap cemas. Pria itu bisa saja pergi sendiri atau bersama teman-temannya. Jadi jika ia sudah mengajak Tiffany, itu artinya Siwon mempunyai maksud terselubung. Setidaknya, Siwon mempunyai perasaan kepada Tiffany.

“Erm…Tiffany-ssi, apa kau bersedia? Atau apakah kau mempunyai rencana lain hari ini? Kalau kau tidak bisa, gwaenchanha. Aku akan—“

“Baiklah. Kedengarannya menarik. Lagipula aku memang ingin sekali berenang hari ini,” sela Tiffany tenang, dengan sedikit senyum di wajah cerahnya.

Siwon menyeringai. “Jeongmal? Wah, berarti aku mengajak di waktu yang tepat.”

“Apa kita akan berangkat sekarang?” tanya Tiffany.

“Lebih cepat lebih baik.”

Siwon dan Tiffany melakukan perjalanan ke pulau yang dimaksud Siwon dengan menggunakan kapal boat. Siwon sendiri yang menyetir dan Tiffany duduk tenang di tepi kapal, menikmati pemandangan laut yang sangat indah. Tiffany telah mempersiapkan keperluan berenangnya di dalam tas. Siwon berkata padanya kalau mereka kemungkinan akan menginap di cottage disana. Jadi Tiffany juga membawa beberapa pakaian.

Tiffany sesekali memandangi Siwon yang menyetir di depannya. Rambut hitam pria itu berdiri diterpa angin kencang. Kacamata hitam bertengger manis di hidung lancipnya. Tanpa sadar Tiffany tersenyum. Jika Siwon bukanlah anak dari pria yang telah membunuh kedua orang tua Tiffany, mungkin Tiffany tidak akan berpikir dua kali untuk menyukainya.

Tak lama kemudian Siwon menurunkan kecepatan kapal boat menandakan mereka hampir sampai di tujuan. Tiffany bisa melihat sebuah pulau berpasir putih di depan mereka. Pulau yang cukup besar menurut Tiffany. Tentu saja harganya tidak seberapa bagi seorang Choi Siwon.

“Kita sudah sampai!” seru Siwon. Kapal berhenti tepat disamping sebuah dermaga kayu yang menjorok sedikit dari tepi pantai. Pria itu mematikan mesin kapalnya dan menghampiri Tiffany.

“Wah, indah sekali!” celetuk Tiffany ketika memandangi pemandangan pulau. Di dalam pulau terdapat bukit serta hutan kecil yang terlihat jelas dari bibir pantai. Tak jauh dari mereka juga terlihat beberapa cottage yang khusus digunakan untuk para tamu dan pengunjung lainnya.

“Memang sangat indah. Karena itulah aku membelinya. Kau tahu, di dalam pulau ini ada sebuah air terjun yang airnya sangat jernih,” ujar Siwon.

“Jinjja? Wah, aku tak sabar melihatnya,” ucap Tiffany.

Siwon menarik tangan Tiffany. Di dermaga kayu sudah ada pasangan Shim menunggu mereka. Siwon turun terlebih dahulu dan memberikan tas-tas mereka agar dibawakan oleh pasangan Shim. Kemudian Siwon membantu Tiffany untuk turun. Tiffany memegang tangan Siwon dengan erat, kemudian melompat turun setelah Siwon menghitung sampai tiga.

Tepi kapal memang lebih tinggi dari dermaga membuat Tiffany sedikit terhuyung. Beruntung Siwon menangkap tubuhnya dengan mudah. Siwon memeluk erat gadis itu, wajah mereka juga berdekatan. Untuk sejenak Siwon dan Tiffany tidak bergerak selain memandangi satu sama lain. Jantung Tiffany tiba-tiba saja berdegup kencang sebab ia tidak pernah dipeluk seintim ini oleh pria.

“Siwon-ssi, apa kau berencana akan memelukku sepanjang hari disini?” akhirnya Tiffany mengeluarkan suara. Ia tidak ingin Siwon menyadari kegugupannya.

Siwon otomatis melepaskan pelukannya dari Tiffany. “Mianhae. Kalau begitu, kajja!”

Siwon POV

Damn! Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak menyentuh gadis ini. Dia benar-benar menggodaku walaupun ia tidak berbuat apa-apa sekalipun! Aku rasa aku mulai tergila-gila dengannya. Namun sepertinya ia adalah wanita yang tangguh dan tidak mudah terjerat pesonaku. Buktinya belum ada tanda-tanda ketertarikannya padaku.

Ia melepas sandalnya dan berjingkat-jingkat di tepi pantai. Sesekali ia tertawa ketika air ombak mengejar kakinya. Sejenak aku memperhatikan Tiffany yang seperti tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia tidak menghiraukan panggilanku untuk menyusul pasangan Shim ke cottage tempat kami menginap.

“Tiffany-ssi, beristirahatlah dulu! Kata pasangan Shim mereka telah menyiapkan makanan untuk kita!” panggilku.

Tiffany membalikkan badannya. Rambutnya yang tergerai indah melambai-lambai, membuat setengah wajahnya tertutup.

“Siwon-ssi, aku ingin mandi di air terjun terlebih dahulu. Kalau kau ingin makan sekarang, aku nanti saja. Antarkan aku ke air terjun itu. Otte?”

Aku tahu ia ingin berenang. Dan sepertinya ia sangat berminat dengan air terjun yang tadi kusebutkan.

“Baiklah. Aku akan mengantarkanmu kesana. Tapi pasang kembali sendalmu. Aku tidak ingin kakimu tertusuk sesuatu yang tajam di dalam hutan. Kajja!” ujarku. Tiffany tersenyum lebar lalu segera memasang sandalnya.

“Pak Shim, kami ingin mandi dulu ke air terjun. Panaskan saja makanannya untuk kami makan nanti,” kataku pada Pak Shim ketika melewati cottage kami. Pria berusia 50 tahunan itu mengangguk.

“Baiklah, Tuan Choi. Aku akan menyampaikannya pada istriku,” jawab Pak Shim sambil membungkuk padaku.

Aku menarik tangan Tiffany berjalan menuju hutan yang terletak tak jauh dari cottage. Pemandangan pulau ini tidak banyak berubah. Pohon-pohon kelapa dan pohon rindang lainnya tumbuh semakin tinggi, membuat aku dan Tiffany berjalan di tempat yang teduh. Ternyata pasangan Shim mengurus pulau ini dengan baik. Mereka membuat jalan setapak menuju hutan dan air terjun dan menebang tanaman-tanaman liarnya.

Kami berjalan semakin jauh ke dalam hingga terdengar suara-suara serangga hutan yang menyambut kedatangan kami. Aku tidak melepaskan tangan Tiffany yang berjalan di belakangku. Begitu pula dengan gadis itu. bahkan kini kedua tangannya memegangi sebelah tanganku dengan erat. Aku tersenyum. Apa dia takut? Menurutku hutan ini tidak seram sama sekali. Cahaya masuk dari berbagai celah dedaunan pohon yang menjulang tinggi di sekitar kami. Jadi suasananya jauh dari kesan seram.

“Sudah dekat. Apa kau mendengar suara air terjunnya?” tanyaku lembut. Ia menatap mataku dengan manik mata indahnya. Ia terpaku sambil menajamkan pendengarannya. Aku sudah mendengar sayup-sayup suara air terjun itu.

“Nde, aku mendengarnya. Siwon-ssi, kajja!” katanya penuh semangat. Aku tertawa. Ternyata dia tidak takut.

Aku kembali melangkah dan tetap membuat Tiffany dekat denganku. Kami menyusuri jalan berpasir putih dan melompati akar-akar pohon kelapa yang muncul di atas permukaan. Semakin lama suara air terjun itu terdengar jelas di telingaku.

Aku melompat ke sebuah batu besar dan membantu Tiffany naik kesana. Kami sama-sama melihat ke depan, menyadari kalau kami sudah berada di tepi sungai kecil yang airnya berasal dari air terjun. Aku tersenyum puas.

Air terjun setinggi 10 meter dan 15 meter terpampang indah di hadapan kami. Airnya pun sangat jernih. Deru air terdengar sangat merdu bagiku. Menenangkan dan menyejukkan. Pemandangan alami ini sangat jarang kukunjungi jika berada di kota. Aku rasa Tiffany juga berpikiran seperti itu.

Aku menoleh ke samping, ingin melihat bagaimana ekspresi wajahnya saat ini. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di dada, matanya memandang takjub pada dua air terjun di hadapan kami. Aku suka melihat matanya. Benda itu seolah-olah berbicara sekaligus penuh kelembutan. Jujur saja, hatiku merasakan hal berbeda jika bersama Tiffany. Tidak begini jika sedang bersama wanita lain. Dan satu lagi. Tiffany adalah satu-satunya gadis yang kubawa kemari.

“Wow!” gumam Tiffany kagum.

“Otte? Indah kan?” ucapku. Ia menoleh ke arahku. Matanya berseri-seri kesenangan.

“Sangat sangat sangat indah, Siwon-ssi! Aku belum pernah melihat hal seindah ini di dalam hidupku,” ungkap Tiffany terharu. Aku tersenyum bangga.

“Kalau begitu, sekarang kau ingin apa lagi?” tanyaku.

Ia tersenyum menggoda. “Berenang, tentu saja.”

Tanpa menunggu persetujuanku, ia maju selangkah dan mulai membuka satu persatu pakaiannya. Aku termagu. Pertama-tama ia membuka baju lalu melepaskan celana pendeknya. Aku merasakan jantungku menghentak-hentak keras dan berpikir mungkin setelah ini aku akan terkena serangan jantung.

Aku menelan ludah. Dalam beberapa detik saja, Tiffany berdiri membelakangiku, hanya mengenakan bikini yang ternyata menjadi pakaian dalamnya. For God sake! Tubuh itu begitu sempurna. Kulit putihnya yang bersinar terkena cahaya matahari, pundaknya, lekuk pinggang dan terutama bokong itu.

Mimpi apa aku tadi malam sehingga mendapatkan berkah yang tidak terduga seperti ini. Aku tertawa dalam hati. Gadis ini benar-benar sesuatu. Tangguh, anggun, menggoda sekaligus sedikit pongah. Terlihat dari sikapnya yang sedikit tak acuh. Oh, aku menyukainya!

Tuhan! Jika aku mati sekarang, tak masalah. Aku sudah melihat Surga di hadapanku.

Tiffany menengok kepadaku. Matanya mengerjap beberapa kali.

“Siwon-ssi, apa kau ingin ikut berenang denganku?” tanyanya.

“Ah, ehm…eh— tentu saja.”

Aku rasa Tiffany sudah tidak sabar karena ia sudah terjun ke dalam sungai bahkan sebelum aku bergerak membuka pakaianku. Aku mendengar ia menjerit senang dan berenang kesana kemari. Aku bergegas membuka pakaian dan hanya menyisakan celana pendek hitamku saja.

Aku yakin gadis ini tidak akan bisa mengabaikan keindahan tubuhku. Memangnya dia saja yang bisa menggodaku dengan tubuhnya.

“Tiffany-ssi, ayo kita melompat dari atas air terjun itu!” panggilku.

Tiffany POV

“Tiffany-ssi, ayo kita melompat dari atas air terjun itu!”

Mendengar panggilan Siwon, aku menoleh ke belakang. Ia berdiri menjulang di atas batu besar, gagah, kuat dengan abs yang sempurna dan hanya mengenakan celana pendeknya. Aku terpaku sejenak. Melihatnya seperti ini bukanlah kehendakku. Ketika melihatnya menyeringai senang, aku segera mengalihkan pandangan dan berusaha memasang wajah datar, seakan-akan tidak peduli dengan pesonanya.

“Kau yakin? Tapi aku tidak terlalu berani memanjat ketinggian!” jawabku seraya menatap air terjun di depanku. Aku memilih untuk menikmati sensasi air sungai yang dingin dan mengabaikan Siwon yang kini berjalan di dalam air, menghampiriku.

“Aku akan memegangimu. Tenang saja. Kajja!”

Siwon menarik tanganku seperti yang dilakukannya tadi, namun aku bertahan. Aku benar-benar takut ketinggian. Apalagi jalan ke atas air terjun pasti licin sekali.

“Siwon-ssi, aku takut jatuh.”

“Gwaenchanha. Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Kajja!”

Ia sepertinya sangat bersemangat. Baiklah, aku akan mencobanya. Aku percaya Siwon tidak akan membuatku celaka. Maka aku pun mengangguk dan mengikuti langkahnya menapaki batu-batu di pinggir sungai. Ternyata sudah ada batu yang disusun yang berguna untuk memanjat ke air terjun tersebut. Siwon mengambil jalan batu menuju air terjun yang tertinggi.

Mwo?

Aku menarik tangannya. “Siwon-ssi! Jangan di yang tertinggi!”

Ia tertawa renyah hingga lesung pipinya muncul. “Tenang saja, Baby. Rasanya sangat menyenangkan. Lagipula tidak terlalu tinggi.”

“Tidak terlalu tinggi? Siwon-ssi, aku tahu tingginya kira-kira 15 meter!”

Tapi pria ini keras kepala. Ia tetap tidak melepaskan tanganku dan memanjat ke puncak air terjun. Aku tidak berani melihat ke bawah. Aish, Siwon pabo! Aku benar-benar gemetar sekarang. Air sungai membasahi kakiku yang hati-hati memijak batu. Untung saja batu-batu ini tidak berlumut. Kalau tidak sudah pasti aku akan tergelincir.

“Yah, kita hampir sampai di puncaknya. Hati-hati, ne!” seru Siwon. Aku menggenggam tangannya erat.

Aku merasa berada di awang-awang katika memijak batu terakhir. Aku memejamkan mata kala mendengar deru air terjun di bawah kakiku. Oh My Goodness! Apa aku sudah sampai di atas air terjun???

“Kau butuh berapa lama untuk mengumpulkan keberanian, Tiffany Hwang?” bisik Siwon di telingaku. “Buka matamu dan lihat keindahan di bawah.”

Aku diam sejenak. Mau tak mau aku harus membuka mataku. Aku membukanya perlahan. Tanganku spontan mencengkram tangan Siwon. Aku melepaskan ketakutanku dengan berteriak sekencang-kencangnya. Aku tidak percaya ini! Aku sedang berdiri di batu tertinggi dan air jernih turun dengan derasnya di bawahku.

Aku di puncak air terjun.

“Aaaaaaaaaaaaa!”

Siwon tertawa melihatku. Aish, apa dia menertawakan ketakutanku?

“Hahaha. Bagaimana rasanya? Tunggu sampai kau terjun ke bawah!” serunya.

“Mwo? Shirreo!”

“Kau harus meloncat karena kau tak mungkin memanjat turun melalui batu-batu itu lagi.”

Aku menelan ludah. Ya Tuhan, tinggi sekali. Di bawah aku melihat deburan air terjun yang membubung tinggi dan menciptakan busa serta gelembung di air sungai. Apa benar-benar aman jika terjun kesana? Aku pernah melihat di televisi atlit-atlit renang yang terjun bebas dengan berbagai gaya tanpa rasa takut. Tapi aku bukan mereka.

“Ayolah, Tiffany-ssi! Lawan rasa takutmu. Aku yakin kau bisa!” Siwon memberiku semangat.

Aku menatap matanya dan tertegun. Ia tersenyum tulus padaku, memberikan kepercayaan lewat matanya. Seandainya dia tahu aku mempunyai maksud jahat dan ingin—

“Kajja, Baby. Aku siap melompat saat kau sudah siap.”

Aku memandang ke bawah sekali lagi. Tak ada cara lain. Aku harus bisa melewati ini. Mungkin rasanya akan mengerikan, namun hanya sebentar. Seperti menaiki wahan roller coaster. Aku mengangguk perlahan dan kulihat Siwon tersenyum. Ia menggenggam tanganku lebih erat.

“Aku hitung sampai tiga, lalu kita akan melompat. Arraseo?” perintahnya.

“N-nde.”

“Kau boleh memejamkan matamu kalau kau takut,” saran Siwon. Tanpa ragu aku langsung memejamkan mata. Begini lebih baik.

“Hana…deul…set! Lompat!”

Sedetik kemudian aku merasa berada di awang-awang, rasanya berbeda ketika berada di atas tadi. Tubuhku melayang dan perutku terasa melilit. Aku menjerit sekencang-kencangnya. Rasanya sama seperti menaiki roller coaster. Namun kali ini berbeda karena sepertinya seluruh organ tubuhku bagian dalam naik dan tersekat di leherku.

Rasanya….menakjubkan!

BYUUURR!

Dan kali ini aku sudah berada di dalam air. Aku terbenam dan tanpa diduga banyak air yang masuk ke mulutku dan tertelan. Aku merasa sesak bukan main. Gelap, dingin dan sendiri. Shit! Dimana Choi Siwon? Kenapa dia melepaskan tanganku?

Aku berenang menukik hingga akhirnya berhasil muncul di permukaan. Air yang tadi masuk ke mulutku keluar karena aku terbatuk. Aish, dadaku masih sesak. Aku terus terbatuk dan merasakan air keluar dari dalam mulut serta hidungku.

Lalu tiba-tiba ada yang menarik pinggangku menjauh dari bawah air terjun. Telapak tangannya yang lebar berada di atas bokongku. Syukurlah akhirnya Siwon kembali berada di dekatku. Aku masih terbatuk dan mencoba membuka mata.

“Ughuk..uhuk!”

“Tiffany-ah, gwaenchanha?”

Aku merasakan tangan Siwon semakin memeluk pinggangku erat. Sebelah tangannya lagi mengusap wajahku dan menyibakkan rambut yang menghalangi wajahku. Aku melihat wajahnya tepat di depanku. Dekat sekali, seperti tadi ia memelukku di dermaga.

Aku memegangi pundaknya yang lebar dengan erat. Ternyata air sungainya dalam sekali.

“Gwa-gwaenchanhayo. Gomawo, Siwon-ssi.”

Siwon tersenyum. Kini kedua tangannya memelukku. Entah kenapa aku lebih gugup dibandingkan saat di atas air terjun tadi. Dan, tunggu. Tadi dia memanggilku apa? Tiffany-ah?

“Bagaimana rasanya?” tanya Siwon lembut. Kaki kami bergerak-gerak cepat agar tidak tenggelam.

“Menegangkan tapi seru. Aku tidak percaya aku telah melakukannya,” ungkapku.

Siwon menatapku intens. Aku tidak yakin apa dia mendengarku atau tidak. Pandangannya tertuju pada bibirku. Ada apa ini? Jangan katakan kalau dia….

“Aku menyukaimu, Tiffany-ah.”

Siwon POV

“Aku menyukaimu, Tiffany-ah.”

Kata-kata itu meluncur sendiri dari mulutku tanpa dikomando. Aku bisa melihat kebingungan di mata Tiffany, mungkin sedang mencari-cari kebohongan di mataku. Aku harap dia mempercayai apa yang baru saja aku katakan, karena aku memang bersungguh-sungguh.

“Fany-ah, aku menyukaimu. Benar-benar menyukaimu,” aku mengulanginya. Ia masih tidak bergeming. Hanya terdengar suara deruan air terjun dan suara detak jantungku sendiri. Aku menelan ludah ketika melihat bibirnya yang merekah, seolah-olah membujukku untuk mencicipinya.

Sudahlah! Aku tidak peduli. Tanpa menunggu jawaban Tiffany atas pernyataanku, aku memajukan wajahku sehingga bibirku menyentuh bibirnya! Semula aku hanya ingin mencobanya, namun aku rasa bibir itu mempunyai daya magnet yang begitu kuat. Aku menciumnya dengan dalam meskipun ia tidak bergerak sedikitpun.

Aku memejamkan mataku dan mempererat pelukanku pada pinggangnya. Aku senang dia tidak menolak sebab ia bisa saja menjauhkan kepalanya. Aku terus melumat bibirnya, terasa panas dan manis. Ini adalah keahlianku, menaklukan wanita dengan ciuman maut yang kumiliki. Mereka mengatakan kalau aku adalah seorang pencium yang hebat.

Ayo, Tiffany. Balas ciumanku. Kau benar-benar terasa seperti madu. Belum pernah senikmat ini kurasakan. Belum pernah setelah Stephanie. Walaupun mereka mirip, aku merasakan perbedaan yang sangat mencolok. Stephanie adalah gadis pemalu, sedangkan Tiffany sangat menggoda. Begitupun caraku mencium mereka. Jika dengan Stephanie, aku menciumnya dengan sangat lembut dan hati-hati.

Berbeda dengan Tiffany. Oh Tuhan, apa yang dimiliki oleh gadis ini sehingga membuatku menciumnya dengan rakus dan agresif? Mulutku mendesak bibirnya agar membuka, dan setelah itu terjadi, lidahku menyusup ke dalam, membujuk lidahnya untuk bergerak bersamaku. Aku mendengar erangan Tiffany ketika aku menjilati deretan gigi rapinya.

Mungkin karena merasakan desakan yang terus menerus, akhirnya Tiffany menyerah. Aku mendorongnya ke tepi tanpa melepaskan ciuman kami. Kakiku mendapat tumpuan sebuah batu datar yang cukup besar lalu mengangkat tubuh kurus Tiffany kesana.

“S-Siwon…engh..”

“Sssshhh,” desisku. Aku tahu kalau ia kelelahan dengan ciumanku saat ini, tapi aku tidak bisa mencegah hasratku sendiri. Aku kembali menutup mulutnya dengan ciumanku. Kali ini lebih dalam dan bergairah. Tiffany membalas ciumanku meskipun sepertinya ia terengah-engah. Aku bertanya-tanya dalam hati siapa saja yang pernah menyentuhnya seperti ini lalu mengutuk dalam hati. Aku harap aku adalah orang pertama baginya.

Tanganku membelai perut Tiffany yang datar kemudian turun ke bokongnya dan tanganku yang lain berada di bawah kepala Tiffany, agar ia tidak kesakitan berbaring di atas batu. Bibirku tak lelah menjelajahi mulutnya. Terkadang aku menyesap bibir atas dan bawahnya, membuat gadis itu semakin terengah-engah. Tangan Tiffany sendiri memegangi leherku, gemetar dan dingin.

Walaupun tubuh Tiffany basah, aku masih bisa mencium aroma apel segar padanya. Apa gadis ini malaikat berjalan? Segala hal yang ada pada dirinya kuanggap sempurna. Andai saja dia memanglah Stephanie-ku.

“Aku menginginkanmu, Steph. Aku merindukanmu,” erangku tanpa sadar.

Tiffany POV

Harus kuakui pria ini membuatku kehilangan pikiran waras. Aku sadar kalau aku membalas ciuman dan sentuhannya. Ia mengambil ciuman pertamaku serta menyentuhku seakan-akan aku adalah kekasihnya! Oh, Choi Siwon jangan membingungkanku!

Tangannya membelai perut kemudian turun ke pahaku. Sensor di otakku tidak bekerja dengan baik saat ini. Ciuman kami menyita lebih dari setengah konsentrasiku sehingga tubuh bagian bawahku tidak begitu merespon sentuhannya.

Ah, terang saja ia dijuluki Casanova. Ia sangat ahli menyentuh wanita secara intim. Tangannya yang besar menekan bokongku agar semakin dekat dengannya. Aku menahan napas ketika menyadari kalau ia sedang sangat bergairah! Aku menahan kepalanya dengan tanganku tapi ternyata tenagaku terkuras habis.

Bagaimana ini? Aku belum siap jika sudah sejauh ini.

Lalu, di tengah-tengah perjuanganku untuk menahannya namun sambil terus berciuman. Aku rasa bibirku membengkak setelah ini— tiba-tiba aku mendengarnya mengerang.

“Aku menginginkanmu, Steph. Aku merindukanmu.”

Mwo? Steph? Siapa itu?

Ini tidak bisa kubiarkan. Dia mencium dan menyentuhku namun memikirkan orang lain?! Aku menarik rambutnya sekuat tenaga, mengabaikan tangannya yang sedang menggerayangi pahaku, hingga ciuman kami terlepas dengan suara nyaring. Aku membuka mataku dan mendapatinya terengah-engah. Aku pun begitu. Dadaku turun naik dengan kasar.

Holly f*ck! Dia sudah berada di atas tubuhku dan sepertinya sudah bersiap akan bercinta denganku! Aku mendorong dada Siwon semampu yang kubisa.

“Fa…Fany-ah, m-mianhae!” ucapnya tercekat. Aku segera menjauh dari Siwon namun tetap menatapnya tajam.

Tubuhku gemetar, entah karena dingin atau karena yang baru saja terjadi. Aku menelan ludah. Jika tidak cepat-cepat mendorongnya, mungkin sekarang kami telah bercinta!

Author POV

Siwon menunggu Tiffany di meja makan yang disediakan pasangan Shim di tepi pantai. Setelah kejadian di air terjun tadi, Tiffany menolak berbicara dengan Siwon. Ia terlalu malu untuk itu. Siwon merasa sangat bersalah namun ia tidak menyesalinya. Siwon tidak menyesal telah mencium Tiffany karena menurut hatinya adalah benar.

Sementara itu Tiffany telah siap berpakaian di dalam kamar cottagenya. Ia memakai kain pantai yang dililitkan di pinggangnya serta kemeja tanpa lengan. Gadis itu mematut diri di depan cermin, memandangi bibirnya berlama-lama.

Ketika ia teringat bagaimana Siwon mencium bibirnya, gadis bermata indah tersebut merinding. Tiffany masih merasakan panasnya bibir Siwon disana. Kepalanya tertunduk dalam. Jika seperti ini masih bisakah ia melanjutkan tugasnya? Sekilas bayangan orangtuanya hadir, tersenyum. Tiffany mengepalkan tangan.

“Aku tidak boleh goyah. Aku akan menghancurkan hidup Choi Siwon seperti ayahnya yang telah menghancurkan hidupku,” gumam Tiffany penuh tekad.

Siwon masih setia menunggu di tepi pantai, matanya menatap lekat ke pintu cottage Tiffany yang belum kunjung terbuka. Ia mengabaikan aroma lezat makanan yang dihidangkan di atas meja. Baginya kemunculan Tiffany lebih penting.

Tak lama berselang, akhirnya senyum manis Siwon hadir di wajahnya. Tiffany keluar dari cottage dan melenggang santai menuju meja makan. Ekspresinya sudah seperti biasa. Tidak ada lagi kemarahan dan kecanggungan, membuat hati Siwon lega. Tadinya ia berpikir Tiffany tidak akan mau lagi berbicara dengannya.

“Mianhae sudah menunggu lama,” ucap Tiffany saat duduk di hadapan Siwon. Siwon tersenyum.

“Gwaenchanhayo. Aku juga baru duduk disini,” bohong Siwon. Tiffany memandangi makanan apa saja yang terhidang di atas meja. Ia mengernyit.

“Wae? Kau tak suka seafood?” tanya Siwon.

“Hmm, aku tak suka ikan. Kalau begitu, ayo kita makan. Aku sudah lapar sekali,” ujar Tiffany.

Sepanjang 10 menit pertama mereka makan dalam diam. Siwon terus saja mencuri-curi pandang pada Tiffany. Ia senang sekaligus heran pada gadis tersebut. Apa kejadian di air terjun tadi tidak berkesan baginya sedikitpun? Bukan hanya itu, Siwon juga heran terhadap dirinya. Selama petualangannya dengan para wanita setelah kematian Stephanie, ia tidak pernah merasakan debaran jantung yang terus menerus seperti sekarang.

“Siwon-ssi?”

Akhirnya Tiffany yang memanggil terlebih dahulu.

“N-nde?”

“Mari kita mengenal lebih dekat.”

Kedua alis Siwon terangkat. Tatapan mata Tiffany lebih lembut dari sebelumnya.

“Apa yang ingin kau tahu?” tantang Siwon.

“Semuanya tentang dirimu. Aku ingin lebih dekat denganmu, mendengar bagaimana masa kecilmu, kedua orangtuamu, dan orang-orang terdekatmu,” ungkap Tiffany.

Pria di hadapannya tersenyum penuh arti. Apa maksudnya Tiffany ingin mengenalnya sedekat itu? Apa ia menyukai Siwon? Setidaknya permintaan Tiffany telah membuat Siwon senang. Padahal tanpa disadari Siwon, gadis itu selangkah demi selangkah telah memasukkannya ke dalam perangkap. Dengan cara menggoda dan menyentuh perasaan Siwon yang paling lembut.

“Baiklah. Ehem. Aku adalah anak satu-satunya dari Choi In Ha dan Yoon Hee, yang sekarang tinggal di Paris. Aku lahir di Seoul tetapi tumbuh di Paris karena Ayahku tiba-tiba pindah kesana. Saat pindah ke Paris, beliau memindahtangankan perusahaan kami kepada Paman Uhm, sebelum aku benar-benar siap menjadi penggantinya. Ayah mendidikku menjadi seorang businessman seperti dirinya. Sepanjang hidup, aku selalu mengidolakannya. Beliau baik kepada semua orang, penyayang dan pekerja keras. Oleh karena itu, saat ini aku bekerja dengan baik untuk membanggakan Ayah serta Ibuku,” tutur Siwon.

Tiffany meringis dalam hati. Baik kepada semua orang? Cih! Ingin sekali Tiffany meludahi wajah Siwon. Perbuatan keji Choi In Ha kepada kedua orangtuanya, apakah bisa dikatakan baik kepada semua orang?

“Lalu, apa kau tidak mengunjungi mereka? Berlibur saja kau jarang, apalagi melihat keadaan mereka disana. Dasar anak yang tidak pengertian,” pancing Tiffany sambil tersenyum menggoda. Siwon tertawa karenanya. Ia suka keterusterangan Tiffany. Hal tersebut menandakan kalau Tiffany mempunyai sifat berani.

“Aku berencana akan mengunjungi mereka bulan depan. Tepatnya saat ulang tahun Ibuku.”

Tiffany mengangguk paham. Semakin banyak informasi yang di dapatnya kini. Jadi Tiffany harus lebih gencar mendekati Siwon.

“Wah, ikan tuna ini enak sekali. Sayang kau tak suka ikan,” ucap Siwon lalu meneguk air minumnya. Tiffany hanya tersenyum kecil. Ia sedang memikirkan pertanyaan selanjutnya.

“Ehmm, Siwon-ssi. Apa yang membuat Ayah dan Ibumu betah tinggal disana? Maksudku, Korea jauh lebih indah dan disini adalah kampung halaman mereka.”

Siwon tersenyum. “Entahlah. Ayahku menolak untuk tinggal di Korea. Dia mengatakan kepadaku untuk mengurus perusahaannya sementara beliau dan Ibuku akan menghabiskan sisa hidup mereka disana. Jika merindukanku, akulah yang akan ke Paris. Beberapa saudara kami juga tinggal di Eropa, tepatnya di Inggris. Karena dari dulu Ayahku dan keluarganya lebih senang tinggal di luar negeri.”

Itu bukan alasan yang sebenarnya, bantah Tiffany dalam hati. Choi In Ha hanya memanfaatkan kebiasaan keluarga demi alasan yang sebenarnya. Setelah membunuh suami istri Hwang, ia lari ke Paris dan menetap disana karena takut dijerat oleh hukum atau dikejar Yunho. Begitulah pendapat Tiffany.

“Oh, jadi begitu. Aku senang mendengar kau sangat mengagumi Ayahmu dan ingin melakukan yang terbaik untuk beliau. Karena memang seperti itulah anak yang berbakti,” ujar Tiffany.

Siwon merasa senang dan bangga mendapat pujian dari gadis yang telah memikat hatinya. Ia memandangi wajah Tiffany ketika menyelesaikan makanan di hadapan mereka, melihat mata gadis itu ketika mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkannya, dan menampilkan senyum manis sebagai tanda kagum. Siwon merasa nyaman dan dihargai.

Gadis ini benar-benar pandai menaklukan hatiku, batin Siwon. Karena sudah berapa banyak wanita yang dikencani Siwon, tidak ada satupun dari mereka yang tertarik pada cerita kedua orang tua pria tersebut.

“Jadi,” ucap Tiffany tiba-tiba. Ia menyeka bibirnya dengan sarbet lalu menatap lurus pada Siwon. “Siapa Steph?”

Tiffany POV

Ia terpaku mendengar pertanyaanku. Ekspresinya berubah dingin membuatku semakin penasaran siapa itu ‘Steph’. Mungkin ia tidak sadar kalau saat kami bermesraan di air terjun tadi, ia telah menyebutkan nama itu. Well, aku mendengarnya dengan jelas. Dia menyebut nama orang lain ketika berciuman denganku. Jadi tentu saja orang itu sangat spesial baginya.

“Apakah orang yang sangat berarti bagimu?” tanyaku lagi.

“Darimana kau tahu?” Siwon balik bertanya, dengan nada yang sangat hati-hati.

Aku menaikkan sebelah alisku, berusaha tidak terlihat tersinggung. “Apa kau serius? Siwon-ssi, kau menyebut nama itu saat…ehm—menciumku di air terjun tadi!”

Rahang Siwon terbuka karena terkejut. Berarti ia sungguh-sungguh tidak sadar dengan apa yang diucapkannya tadi. Aku masih menunggu jawab Siwon. Entah kenapa jawabannya menjadi penting bagiku saat ini. Sebab siapa tahu ‘Steph’ itu bisa menjadi penghalang bagiku untuk menghancurkan Siwon.

“Kau sungguh ingin tahu?” tanya Siwon serius. Aku otomatis mengangguk. Kemudian Siwon berdehem. Air mukanya tidak secerah saat ia menceritakan tentang orangtuanya tadi.

“Dia adalah…kekasihku. Namanya Stephanie Howard.”

Giliranku yang terdiam. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba hatiku mencelos saat mendengar nama wanita lain dari mulut Siwon. Terlebih lagi dengan julukan kekasih. Ternyata ia mempunyai seorang kekasih? Kenapa aku tidak pernah melihat atau mendengar tentangnya?

“Jadi, kau sudah mempunyai kekasih?” Aku mencoba menyamarkan nada suaraku yang sebenarnya. Bergetar karena resah.

“Tidak seperti yang kau bayangkan. Steph…sudah tidak ada di dunia ini lagi. Dia sudah meninggal,” jawab Siwon.

Aku lebih terkejut mendengar yang ini. Ia mempunyai seorang kekasih tetapi sudah meninggal dunia? Aku menelan ludah. Wajah Siwon berubah murung dan aku melihat matanya sedikit berkaca-kaca. Aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Jika mencoba mengingat hal buruk itu lagi, sekuat apapun diri kita, pada akhirnya jiwa kuat itulah yang hancur dengan sendirinya. Terlebih lagi saat kehilangan orang yang paling kita cintai.

“Steph meninggal di usia 20 tahun karena kanker otak yang dideritanya. Dia masih sangat muda ketika mengidap kanker berbahaya itu. Bahkan ia sudah tiada sebelum menyelesaikan masa study. Ia menjadi kekasihku selama 3 tahun. Dan sampai sekarang, aku belum menemukan gadis seperti Steph. Maksudku, gadis yang mencintai siapa sebenarnya diriku, bukan apa yang aku miliki.”

Aku menatap piring kosong di hadapanku. Kata-kata Siwon terdengar sangat jelas dan aku yakin ia sangat mencintai Stephanie. Tak disangka seorang Casanova seperti Siwon juga mempunyai hati tulus mencintai kekasihnya. Sial! Kenapa aku merasa terenyuh seperti ini? Itu kan hanya cerita tentang kekasihnya yang telah tiada!

“Mianhae, Siwon-ssi. Aku telah menanyakan—“

“Gwaenchanhayo,Fany-ah!” sela Siwon seraya mengibaskan tangan di udara. Aku tersenyum kecut. Kemudian Siwon mencondongkan tubuhnya ke meja, mencoba mendekatiku.

“Tapi saat aku mengatakan aku menyukaimu, aku bersungguh-sungguh, Tiffany-ah. Aku tidak pernah mengatakan apa yang tidak dari hati kecilku. Jadi, percayalah.”

Aku menatapnya lembut. Ada sebagian dari diriku yang senang mendengarnya,dan selebihnya aku terenyuh. Aku senang dia menyukaiku, itu artinya tugasku untuk menghancurkan hidupnya semakin mudah. Namun aku tidak tahu perasaan apa yang sepertinya mengganjal.

“Sekarang, aku ingin mendengar ceritamu, Tiffany Hwang.”

Siwon POV

“Aku? Tak ada yang menarik, Siwon-ssi.”

“Tentu saja ada yang menarik. Tadi aku telah menceritakan kisah singkatku. Jadi sekarang adalah giliranmu.”

Aku tersenyum melihat keengganannya bercerita. Yang aku tahu Tiffany adalah anak angkat dari pemilik perusahaan mobil. Tapi siapa? Tiffany seperti seorang anak yang mandiri dan keras. Apa ia seperti ini karena didikan orangtua kandung atau orangtua angkatnya?

Tiffany terdiam sebentar. Kami saling bertatapan beberapa detik lalu akhirnya ia tertawa kecil. Aku rasa ia menyerah.

“Baiklah.”

Aku tertawa. Sebagai tanda aku akan mendengarkan ceritanya dengan seksama, aku menumpukan kedua tanganku di atas meja makan.

“Seperti yang kau tahu, aku hanyalah seorang anak angkat. Tapi mereka adalah sahabat orangtuaku. Ayah angkatku adalah Jung Yunho, pemilik perusahaan mobil KIA Corp. Orangtuaku meninggal saat aku berumur 5 tahun. Sejak kejadian itu, aku diasuh oleh pasangan Jung seperti anak mereka sendiri. Aku pun begitu. Mereka memberikanku kehidupan dan pendidikan yang sangat layak. Aku berhutang budi pada mereka. Oleh karena itu aku bertekad ingin membahagiakan Yunho Appa dan mendiang istrinya,” ungkap Tiffany.

Aku tahu Jung Yunho, tapi tidak terlalu mengenal pria itu. Perusahaannya tidak pernah bekerja sama dengan perusahaanku. Ternyata ia mempunyai seorang putri angkat yang sangat menarik. Tapi aku tidak tahu kalau istrinya sudah tiada.

“Siwon-ssi, aku paham bagaimana rasanya kehilangan. Aku sudah dua kali mengalaminya dalam hidupku. Dan aku tidak ingin terjadi lagi. Kini aku sedang berusaha Yunho Appa bangga. Seperti yang kukatakan tadi, aku berhutang budi padanya. Hanya dia keluargaku saat ini.”

Aku mendapati diriku benar-benar kagum pada gadis ini. Ternyata hidupnya jauh lebih menyedihkan dari sikap yang ditunjukkannya pada dunia. Aku tidak pernah bertemu dengan gadis setegar Tiffany. Sebab selama ini aku hanya mengenal gadis-gadis manja dan cengeng.

Tanganku terulur dan menarik sebelah tangannya kemudian memberi usapan lembut. Dia menatapku sendu. Kali ini aku tidak ingin berkata apa-apa lagi. Aku hanya ingin memandangi mata hitam yang teduh milik gadis ini.

Tiffany. Stephanie.

Ah, damn! Kenapa aku selalu melihat bayangan Steph dalam diri Tiffany? Apa karena mereka sangat mirip? Konyol sekali diriku yang masih saja membayangkan Steph. Aku senang Tiffany tidak menarik tangannya dari genggaman tanganku. Aku termenung. Bagaimana jadinya jika Tiffany tahu kalau wajahnya mirip dengan Stephanie?

Aku sungguh-sungguh menyukai Tiffany dan mungkin saja aku telah jatuh padanya. Tapi bukan karena wajah mereka mirip. Aku baru saja menemukan alasan untuk menyukai Tiffany Hwang, yaitu kepribadiannya. Detailnya aku juga tidak tahu. Karena benar kata pepatah, cinta tidak mempunyai alasan.

“Siwon-ah?”

Aku mendongak melihatnya. Baru saja dia memanggilku apa?

“N-nde?”

“Gomawo. Aku tidak pernah menceritakan masa kecilku pada siapapun. Gomawo telah mendengarkannya,” ungkap Tiffany.

Aku meremas lembut tangan Tiffany kemudian memberinya kecupan ringan.

“Cheonmanayo, Fany-ah.”

Author POV

Mereka kembali ke Seoul keesokan harinya setelah melewati dua hari yang menyenangkan di pulau. Siwon meyakinkan dirinya bahwa ia telah menemukan pengganti Steph. Untuk saat ini Siwon tidak akan lagi melihat ke arah gadis lain, melainkan mencari tahu tentang Tiffany. Ia ingin Tiffany menyukainya juga. Siwon akan menceritakan hal ini kepada Appa dan Eomma-nya. Apalagi kedua orangtuanya sudah mengharapkan sebuah pernikahan dari putra semata wayangnya itu.

Berbeda dengan Tiffany. Ia menunggu Siwon memintanya menjadi kekasih pria itu. Dengan begitu Tiffany hampir mendekati kemenangan. Ia akan segera memberitahu Yunho setelah mereka tiba di apartemen. Tiffany bisa membayangkan betapa senangnya Yunho mendengar kabar ini. Gadis itupun sudah tidak sabar untuk menghancurkan hidup Siwon kemudian menghadapi pembunuh kedua orangtuanya, Choi In Ha.

“Bagus, Fany-ah. Kau lebih cerdas dari yang kukira. Jadi, sekarang dia sudah menyatakan cintanya padamu?”

“Belum, Appa. Tapi aku sudah berhasil mencari tahu sedikit tentang keluarganya. Ternyata Choi In Ha menolak untuk tinggal di Korea. Aku yakin hal itu karena dia takut kejahatannya terbongkar.”

“Aku rasa kau benar. Fany-ah, aku minta kau berhati-hati. Walaupun Choi In Ha terkesan baik, dia juga mempunyai orang-orang seperti anak buahku. Mereka tak segan-segan melukai siapa saja yang melukai Boss-nya, termasuk Choi Siwon.”

Tiffany mengernyit. “Maksud Appa, Siwon juga mempunyai beberapa pengawal?”

“Nde. Sejak anaknya pindah ke Korea, ia menyewa beberapa orang pengawal bersenjata. Namun sepertinya Choi Siwon tidak tahu. Pengawal In Ha ada di sekitar anaknya, hanya memantau dari jauh. Aku baru tahu 2 hari yang lalu, saat Siwon memutuskan untuk ke Pulau bersamamu. Aku melihat mereka mengawasi kalian dari dermaga, tapi tidak mengikuti kalian sampai ke Pulau. Mungkin mereka menyangka kalau kau hanyalah teman kencannya,” jelas Yunho.

“Kalau begitu, lebih baik aku menyuruh Siwon tutup mulut tentang identitas diriku,” ujar Tiffany. Ia mengutuk dirinya sendiri karena dengan bodohnya bercerita kalau ia adalah anak angkat dari Jung Yunho kepada Siwon.

“Begitu lebih baik. Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Tiffany. Buat Siwon tergila-gila padamu, hancurkan hidupnya sedikit demi sedikit sampai In Ha tahu siapa dirimu. Dengan begitu, kita akan mudah membunuh jiwa In Ha yang telah rapuh karena melihat penderitaan anak kesayangannya.”

Tiffany terdiam. Perkataan Yunho memang terdengar kejam. Namun itu tidak seberapa dibandingkan penderitaannya selama 19 tahun ini.

“Aku mengerti, Appa. Aku juga tidak sabar ingin bertemu dengan In Ha.”

Sambungan telepon terputus. Di tempatnya, Yunho menyunggingkan senyum licik. Di atas meja di hadapannya terdapat beberapa berkas usang. Senyum Yunho makin melebar tatkala melihat benda-benda yang hampir pudar akibat debu tersebut. Ia mengambil berkas-berkas itu dan tertawa bangga.

“Kalian semua sudah masuk ke dalam perangkapku. Hahahaha!”

Siwon sedang asyik mempelajari materi rapat yang dipegangnya ketika seseorang mengetuk pintu ruangannya. Tiffany sedang tidak berada di meja karena Siwon menyuruhnya meminta dokumen dari Manager Keuangan di lantai 25. Tiffany baru saja keluar ruangan, tidak mungkin ia kembali secepat ini. Lagipula Tiffany tidak pernah mengetuk pintu sebelum masuk.

Akhirnya Siwon berdiri dan membuka pintu. Ia jarang menerima tamu akhir-akhir ini, kecuali rekan kerjanya. Saat pintu ruangan itu terbuka, Siwon terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya.

“SURPRIIIIIIISSEEEEE!!!”

Tanpa menunggu persetujuan Siwon, kedua gadis itu langsung memeluk Siwon bergantian dan mendorong Siwon masuk. Yang bisa dilakukan Siwon hanyalah tertawa kaget. Ia tidak menyangka dengan kedatangan dua gadis cantik ini. Mereka adalah orang-orang yang paling disayangi Siwon selain orang tuanya.

“Jessica-yah, Yoongie-yah, kalian….”

“Yah, Oppa! Kenapa kau jahat sekali tidak pernah mengunjungi kami lagi di Oxford? Apa tidak merindukan kami? Aish!”

“Nde, Sica Eonnie benar. Hanya kami yang merindukanmu, kau akhir-akhir ini juga jarang menghubungi kami. Apa kau terlalu sibuk dengan gadis-gadismu yang lain?”

“Sekarang siapa lagi yang menjadi teman kencanmu? Kalau seperti ini terus nanti kau mendapat karmanya, Oppa.”

“Kau juga membuat In Ha Ahjussi dan Yoon Hee Ahjumma khawatir. Kunjungilah mereka secepatnya.”

Siwon mengangkat tangannya, kewalahan dengan omelan kedua gadis yang bernama Im YoonAh dan Im Jessica ini. Mereka berdua adalah adik sepupu Siwon yang tinggal di Oxford, Inggris. Ibu mereka adalah adik dari Choi In Ha. Sejak kecil Siwon memang sangat dekat dengan keluarga besarnya, apalagi dengan kedua gadis Im ini.

Jessica yang berkepribadian dingin dan cerdas, sedangkan adiknya YoonA adalah gadis ramah dan humoris. Siwon sangat menyayangi keduanya. Biasanya ia yang selalu berkunjung ke Oxford atau kedua gadis ini yang ke Paris atau Seoul. Namun angin apa yang membuat kedua gadis ini kemari tanpa memberitahu Siwon terlebih dahulu?

“Nde, nde, mianhae. Aku tahu aku bersalah pada kalian. Aku juga bersalah pada Appa dan Eomma. Tapi bulan depan aku berencana ke Paris untuk ulang tahun Eomma. Otte?” tukas Siwon.

Jessica dan Yoona menghempaskan tubuh ke ranjang yang ada di dalam ruangan Siwon.

“Syukurlah kalau kau ingat ulang tahun Ahjumma, Oppa. Maksud kami kesini memang untuk itu,” celetuk Yoona. Siwon berdiri di dekat ranjang, mengernyitkan alis dan meletakkan kedua tangannya di pinggang.

“Mwo? Kalian berdua ke Seoul hanya untuk mengingatkanku tentang ulang tahun Eomma? Tch. Kalian benar-benar gadis yang merepotkan,” gerutu Siwon walau di dalam hati ia senang dengan kedatangan kedua sepupu cantiknya.

“Sebenarnya bukan karena itu, Oppa. Kami kesini memang untuk berlibur. Sekaligus…ehmm—“

Siwon menatap lekat kepada Jessica. Gadis itu tampak ragu-ragu mengutarakan alasannya. Sedangkan Yoona terkikik geli di samping sang kakak.

“Sekaligus apa?” tuntut Siwon.

Yoona berdecak gemas kemudian membuka mulutnya ,”Sica Eonnie sedang jatuh cinta, Oppa. Dengan seorang pria bermarga Lee. Hihihi!”

Jessica spontan menutup mulut Yoona dan melotot. “Aish, kau tidak bisa diam ya?”

Yoona merenggut tangan Jessica lalu mencibir. “Eonnie memang aneh. Lambat laun kau juga akan mengatakannya.”

“Yah yah! Jelaskan padaku apa hubungan pria bermarga Lee itu dengan liburan kalian kesini?” tanya Siwon gemas. Sica dan Yoona tidak akan berhenti bertengkar jika tidak dipisahkan.

“Ck, Siwon Oppa. Nalarmu tidak berjalan sama sekali. Jika aku ke Seoul dan menyukai pria itu, tentu saja artinya ia tinggal di SEOUL!” tegas Jessica.

Siwon mengusap-usap tengkuknya. Benar juga, katanya dalam hati.

“Jadi, pria itu tinggal di Seoul dan kau berniat mencarinya? Memangnya dia siapa?” Siwon kini menarik sebuah kursi tamu dan menyeretnya ke dekat ranjang. Ia duduk menghadap kedua adiknya yang bersila nyaman disana.

“Dia telah menolongku ketika aku tasku dicuri oleh bandit jalanan. Dia mengatakan kalau namanya Lee Dongwook dan seorang Polisi Intel di Seoul. Setelah itu kami tidak bertemu lagi, padahal aku sangat penasaran dengannya,” jawab Jessica.

“Lalu kau memutuskan untuk mencarinya kesini? Wah, cinta memang membuat keajaiban untukmu,” sindir Siwon.

Jessica menampar kaki pria yang lebih tua darinya dengan kesal.

“Memangnya aku sepertimu yang suka memainkan cinta?” gerutu Jessica. Siwon hanya tertawa.

“Yah! Perutku lapar sekali. Bagaimana kalau kita mengobrol sambil makan siang?” sela Yoona sambil memegangi perutnya. Siwon mengacak-acak rambut si maknae sambil tersenyum.

“Dasar shikshin. Waktu makan siang 30 menit lagi tapi perutmu sudah lapar saja?”

Yoona hanya tertawa malu.

Tiffany POV

Aku kembali ke ruangan Siwon dengan beberapa dokumen yang diminta atasanku itu. Setelah menyerahkan dokumen-dokumen ini aku berencana mengajaknya makan siang. Aku harus cepat bertindak sebelum ia berpaling ke wanita lain. Akan kupastikan Siwon tergila-gila bahkan memohon padaku agar bersedia menjadi kekasihnya.

Lagipula, Siwon tidak terlalu buruk. Ia sangat tampan, kaya raya, serta mempunyai tubuh sempurna yang dipuja-puja semua wanita. Aku tidak terlalu rugi kalau begitu. Apalagi setelah merasakan ciumannya. Jujur saja, aku masih bisa merasakan debaran jantungku saat itu. Dia benar-benar seorang pencium yang hebat. Jika nanti aku bisa menjadi kekasih Siwon, pasti—

Langkahku terhenti sembari mengutuk pelan. Apa yang sedang kupikirkan? Berani-beraninya membayangkan gairah itu padahal aku harus fokus untuk menghancurkannya serta sang Ayah. Aku tidak seharusnya berpikir seperti gadis-gadis cengeng pemuja cinta.

Aku menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Kini aku sudah berada di depan pintu ruangan Siwon, menyentuh pegangannya, tapi tanganku terhenti saat telingaku mendengar suara tawa perempuan dari dalam. Aku termenung. Selain suara tawa perempuan yang sepertinya tidak sendiri, aku juga mendengar suara tawa Siwon.

“Apa dia membawa teman kencannya kesini?” bisikku lirih. Debaran jantungku mulai tak beraturan karena kesal dan shit! Perasaan apa ini? Aku tidak suka dengan keberadaan wanita lain disini. Kemudian, setelah memasang wajah dengan ekspresi datar, aku membuka pintu.

Ketika pintu terbuka, mataku langsung terpaku pada dua sosok tak dikenal yang duduk di atas ranjang. Aku pura-pura terkejut, padahal di dalam hatiku ingin sekali rasanya menerjang ke arah mereka bertiga.

“Eoh, jwesonghamnida! Aku tidak tahu Anda sedang ada tamu, Sajangnim!” seruku. Di hadapan orang lain aku memang berbicara formal kepada Siwon. Melihatku yang masih berdiri di ambang pintu membuat Siwon berdiri dari duduknya. Wajahnya sumringah saat menghampiriku.

Dasar pria brengsek. Setelah merayu dan menciumku, berani-beraninya dia membawa perempuan lain. Bahkan mereka duduk di atas ranjang Siwon? Cih.

“Tiffany-ssi,” panggil Siwon resmi. Ia mengedip padaku lantas aku mengernyit. Apa yang diinginkannya?

Aku melihat salah satu dari perempuan yang duduk di atas ranjang kini ikut menghampiriku. Tubuhnya jauh lebih tinggi dariku, sangat cantik, dan mempunyai rambut sepanjang punggung. Ia tersenyum seperti Siwon tersenyum padaku. Sedangkan perempuan yang satunya lagi tetap duduk di tempatnya, memandangku dengan tatapan tak bersahabat.

“Perkenalkan, ini Im Yoona. Dan itu,” Siwon menunjuk perempuan yang masih duduk.  “Im Jessica. Sebenarnya Im Soo Yeon, tapi dia lebih suka dipanggil dengan nama Inggris-nya.”

“Yah!” teriak perempuan bernama Jessica dengan suara melengking.

Aku dan Yoona serentak mengulurkan tangan. Siapapun mereka, aku penasaran mengapa mereka berada disini? Di ruangan Siwon dan seenaknya duduk di atas ranjang yang biasa digunakan pria itu untuk beristirahat! Aku yakin hubungan mereka pasti sangat akrab. Iish, menjijikkan!

“Annyeong hasaeyo! Joneun Im YoonA imnida! Panggil saja Yoongie!” ucap Yoona ramah. Aku tak ragu memberika senyumanku padanya. Setidaknya ia bersikap baik padaku.

“Tiffany Hwang imnida. Aku adalah sekretaris Tuan Choi Siwon,” ujarku. Yoona menoleh kepada Siwon.

“Oppa, kenapa kau tidak cerita kalau mempunyai sekretaris secantik Tiffany-ssi?” tanyanya menuntut. Kemudian ia kembali menoleh kepadaku. “Tiffany-ssi, senyummu benar-benar cantik. Kau sudah lama bekerja disini? Apakah Oppa-ku pernah memarahimu? Tapi tenang saja, sebenarnya Oppa tidak pemarah. Aku hanya ingin memastikan saja karena dari kecil dia sering memara—“

Siwon menutup mulut Yoona yang sepertinya akan mengoceh terus. Pria itu tersenyum manis padaku. Sepertinya perempuan bernama Yoona ini bukan teman kencannya sebab ia menyebutkan masa kecil Siwon. Lalu, siapa sebenarnya mereka?

Sekarang Jessica berdiri lalu berjalan ke arah kami. Aku meliriknya dari kepala sampai kaki. Tipikal angkuh dan suka meremehkan orang lain. Aku bisa melihat dari caranya menatapku.

“Oppa, Yoongie-yah! Katanya kita akan makan siang. kajja! Perutku juga sudah lapar sekali!” tukas Jessica tanpa menoleh sedikitpun kepadaku padahal ia berdiri disamping Yoona.

“Oh, nde!” jawab Yoona bersemangat. “Tiffany-ssi, kami akan keluar makan siang. Apa kau ikut?”

Aku tersenyum canggung mendengar ajakan Yoona. “Erm…ani, kamsahamnida. Kalian saja.”

“Tiffany-ssi, ikutlah dengan kami. Aku ingin kau juga mengenal sepupu-sepupu cantikku ini,” tambah Siwon.

Oh, jadi mereka adalah sepupu Siwon. Aku mengerti sekarang. Siwon menatapku penuh harap, tetapi sepertinya aku tidak mungkin ikut, tepatnya tidak berminat. Karena aku melihat sikap Jessica yang dingin terhadapku. Biarlah saja, siang ini aku akan mengalah.

“Gwaenchanha, Yoona-ssi, Sajangnim. Aku akan makan siang di kantin saja,” tolakku sopan.

Aku bisa melihat kekecewaan di mata Siwon. Aku pun mengalihkan pandanganku kepada Yoona.

“Oppa, Yoongie-yah, kajja!” celetuk Jessica seraya menarik tangan keduanya. Yoona melambai padaku sedangkan Siwon hanya tersenyum kecil. Aku menghindari tatapan Siwon yang terus menjauh diseret Jessica.

Well, ternyata ia mempunyai sepupu yang posesif.

Setelah kepergian mereka, aku pun menutup pintu. Kuletakkan dokumen-dokumen yang kuminta tadi di atas meja Siwon. Im Yoona dan Jessica. Apa yang harus kulakukan jika mereka berada di tengah-tengah kami? Aku harus mencari tahu dimana mereka tinggal dan seberapa dekat mereka dengan Siwon.

Siwon belum pernah bercerita tentang Jessica dan Yoona. Setahuku, Siwon hanya mempunyai kerabat di Eropa. Apa mereka salah satunya?

Pandanganku terpaku pada laptop Siwon yang masih menyala. Pasti ia menyimpan sesuatu yang perlu kuketahui di dalam sana. Aku tersenyum licik. Dia pasti akan memakan waktu yang lama pergi makan siang dengan sepupu-sepupu cantiknya. Tidak masalah jika aku bersenang-senang dulu di ruangan ini.

Aku duduk di kursi Siwon yang nyaman, memandangi pigura foto kecil yang terletak di samping pesawat telepon. Foto Choi In Ha, istrinya serta Siwon tengah tertawa bahagia. Aku menggeram. Tidak akan kubiarkan tawa bahagia kalian bertahan sampai akhir hayat. Sebentar lagi aku akan menghancurkan kehidupan Siwon, memancing agar pria bejat seperti In Ha datang ke hadapanku. Lalu aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.

Aku mendekat pada laptop milik Siwon. Sebagai seorang workaholic pasti Siwon menyimpan pekerjaannya disini. Dalam waktu beberapa detik, aku sudah memeriksa semua file yang disimpan Siwon. Benar saja, ia menyimpan surat-surat kontrak yang baru maupun lama di laptop ini. Aku yakin file-file ini sangat penting dan rahasia sebab aku tidak tahu dengan kontrak-kontrak yang sedang direncanakannya.

Ada beberapa kontrak kerjasama yang tergolong dalam file baru. Tanpa ragu aku menekan klik di file itu kemudian membaca satu persatu datanya. Hmm, sepertinya permainan akan semakin seru. Aku bisa mengirimkan data penting ini kepada Appa. Setidaknya untuk ‘mencuri klien’. Setahuku kontrak ini hanya plan yang dibuat Siwon, namun ia belum mengajukannya. Jika aku memberikan data calon-calon perusahaan yang akan dijadikan Siwon sebagai mitra kerja kepada Appa, itu artinya Siwon bisa kehilangan partner yang menguntungkan. Aku lihat ia mengajukan kepada perusahaan mobil yang terkenal di Prancis serta Jerman.

Ini bisa menguntungkan Appa-ku juga. Mati kau Choi Siwon. Bersiaplah untuk merugi.

Lalu, ketika ingin mengirim data tersebut ke emailku, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Siwon. Lantas aku segera membukanya.

‘Jangan sampai telat makan, Baby. Tunggu aku, ne :^)’

Aku termagu. Siwon…..

Tanpa sadar tanganku menjauhi laptop. Mataku beralih ke layar benda petak tersebut dan menelan ludah. Apakah aku harus melakukan ini?

Siwon POV

Setelah makan siang, aku menemani kedua sepupu cerewetku mencari kamar hotel. Mereka menolak tinggal sementara denganku dengan alasan kegiatan mereka pasti terbatas. Tidak masalah bagi Yoona dan Jessica jika tinggal di hotel selama 3 minggu sebelum berangkat ke Paris bersamaku. Aish, benar-benar merepotkan! Selain itu mereka juga buang-buang uang.

Aku mengerti kenapa Jessica menjadi yang paling keras kepala menolak tinggal di apartemenku. Dia ingin mencari dimana keberadaan pria yang disukainya. Sedangkan Yoona hanya mengikuti kakaknya saja.

Huft, seharian ini aku tidak banyak menghabiskan waktu dengan Tiffany. Dari pagi sampai jam makan siang, kami berdua disibukkan dengan pekerjaan masing-masing. Waktuku akhir-akhir ini tersita untuk membuat proposal yang akan kuajukan ke perusahaan mobil di Jerman. Jika aku berhasil di tender ini, aku akan untung besar.

Beruntung Tiffany termasuk orang yang cekatan. Dia memudahkan tugas-tugasku. Maksudku, memang itulah pekerjaannya. Tapi aku sangat puas karena pekerjaannya melebihi perkiraanku.

“Jam 4 sore,” gumamku ketika melihat arloji di pergelangan tanganku. Aish, gadis-gadis ini menyita waktu kerjaku. Aku cepat-cepat pergi dari hotel yang terletak tak jauh dari gedung apartemenku lalu langsung menuju kantor.

Aku sampai di kantor beberapa menit kemudian. Ketika masuk ke ruanganku, aku mendapati Tiffany sibuk dengan pekerjaannya. Ia tersenyum padaku, hanya sekilas, lalu kembali menatap layar komputernya. Aku bertanya-tanya apakah ia menerima pesanku. Bukan bermaksud sok manis, tapi aku memang mengkhawatirkannya jika ia sampai terlambat makan siang.

“Dokumen yang kau minta sudah kuletakkan di atas meja,” ujar Tiffany saat aku akan duduk di kursiku. Aku melihat ada beberapa dokumen di atas meja.

“Nde, gomawo Fany-ah.”

Sesaat kami kembali diam. Entah apa yang membuat suasana canggung. Aku melirik Tiffany, ia masih serius mengetik. Ia tiba-tiba berubah saat melihat dua sepupuku tadi. Wajahnya kini cemberut dan cenderung dingin. Aku tersenyum. Apa dia cemburu? Ah, percaya diri sekali kau Choi Siwon!

“Fany-ah?” panggilku.

Tiffany menghentikan pekerjaannya lalu menoleh kepadaku. “Nde?”

“Bagaimana kalau nanti malam kita menonton film di apartemenku? Semalam saat aku ke toko kaset, aku membeli beberapa film baru,” ujarku. Semalam aku memang membeli beberapa film karena sepertinya sudah lama sekali aku tidak menyegarkan pikiranku dengan menonton.

Tiffany tampak berpikir sejenak. Ck, ayolaaaah! Sekarang kan hari Jum’at dan jarak apartemen kami sangat dekat. Aku berharap Tiffany tidak menolak.

“Apa tidak ada acara makan malamnya?” tanya Tiffany dengan senyum menggoda seperti biasa. Terang saja hatiku langsung berbunga-bunga.

“Makan malam? Wah, ide bagus. Aku akan memasak untukmu!” jawabku yakin. Tiffany tertawa.

“Oke, baiklah. Aku akan ke apartemenmu jam 8 malam.”

Yess! Aku kira ia cemberut karena sikap dingin Jessica tadi. Ternyata Tiffany tidak memusingkannya.

Keunde, Siwon-ah? Apa Yoona dan Jessica tidak ikut?” tanya Tiffany tiba-tiba.

“Ikut makan malam dan menonton dengan kita? Tentu saja tidak. Saat ini mereka pasti akan bermalas-malasan di kamar hotelnya,” jawabku spontan. Tiffany mengangguk.

“Mereka tinggal di hotel? Aku kira mereka saudarimu yang tinggal di Korea.”

“Ani. Mereka tinggal di Inggris dan kesini hanya untuk liburan. Kami berencana akan ke Paris bersama-sama, mengunjungi orangtuaku.”

“Sepertinya kalian akrab sekali,” komentar Tiffany. Aku menatapnya penuh minat ketika ia berdiri dan berjalan menghampiriku.

“N-nde, aku memang dekat dengan Yoona dan Jessica. Dari kecil kami selalu bermain bersama. Jessica sebaya denganmu, Fany-ah. Dan Yoona tiga tahun lebih muda. Mereka berdua memang berbeda kepribadian, terutama Jessica. Dia memang tidak seramah Yoona, tapi setelah dekat dengannya, kau akan tahu kalau sebenarnya dia sangat baik,” jelasku.

“Tapi sepertinya Jessica tidak menyukaiku,” kata Tiffany.

“Jangan khawatir, Jessica memang seperti itu,” tukasku.

“Baiklah. Mungkin karena ini adalah pertemuan pertama kami,” simpul Tiffany.

Aku tidak ingin Tiffany merasa tak enak terhadap keluargaku. Namun aku mengerti perasaan Tiffany ketika Jessica memberikan tatapan sedingin es padanya. Lain kali aku akan menasehati si ice princess itu untuk lebih ramah kepada Tiffany.

Author POV

Tiffany sudah bersiap-siap di apartemennya, berdandan secantik mungkin agar membuat Siwon terpesona. Ia memakai gaun merah berpotongan sangat seksi dengan bagian yang terbuka dimana-mana. Tiffany melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.45 KST. Ia berpikir untuk ke apartemen Siwon sekarang. 15 menit lebih cepat dari jam yang telah ditentukan, itu tidak masalah. Tiffany mungkin bisa membantu Siwon menyiapkan makanan.

Sebelum keluar dari apartemennya, Tiffany tidak lupa mengambil sebotol anggur dari lemari dan membawanya dengan tas plastik. Kemudian gadis cantik itupun siap berangkat menuju apartemen Siwon. Ia sudah tidak sabar dengan rencananya malam ini. Candle light dinner, menonton film, mengobrol intim, pasti menjadi momen yang tepat untuk menggoda serta mengorek informasi yang lebih banyak tentang Ayahnya.

Sementara itu di dalam apartemennya, Siwon sibuk menata meja makan. Ia sudah mematikan lampu dan menyalakan 4 buah lilin. Penerangan yang cukup untuk makan malam yang romantis. Setelah mencium Tiffany di air terjun beberapa hari lalu, Siwon tidak dapat melirik wanita lain. Pikirannya hanya dipenuhi Tiffany, terlebih lagi gadis itu selalu terlihat di matanya.

Siwon akan membuat malam ini menjadi malam yang spesial dan tidak terlupakan. Sepertinya ia mulai memuja Tiffany, tidak saat ia menyukai wanita lain. Tiffany membuat playboy seperti Siwon menjadi seorang pria yang baru pertama kali mengenal cinta dan gairah. Bahkan Siwon mampu melupakan Stephanie yang selama ini membuatnya tidak pernah setia kepada orang lain.

Siwon jatuh cinta kepada Tiffany, itulah intinya.

TING TONG

Siwon mendongak ketika mendengar bel apartemennya berbunyi. Bunyi itu membuat jantungnya melonjak lebih cepat dari biasanya. Apalagi jika dia sudah melihat siapa tamunya yang datang.

Siwon pun berjalan ke arah pintu kemudian membukanya perlahan. Di dalam keremangan cahaya lampu, Siwon masih saja terpaku dengan kecantikan yang hadir di depan matanya. Tiffany. Matanya menatap Tiffany tanpa kedip. Bahu putih Tiffany yang sangat menggoda tampak mengundang Siwon untuk mengecupnya serta paha mulus yang sempurna itu…

“Siwon-ah, apa kau akan melototiku sepanjang malam tanpa membiarkan aku masuk?” sindir Tiffany. Ia bisa melihat kekaguman di mata Siwon.

“Oh, mian. Silahkan masuk, Fany-ah!” tukas Siwon cepat-cepat.

“Gomawo. Dan ini, kubawakan wine khusus untukmu. Kita akan bersenang-senang malam ini, benar kan?” goda Tiffany. Ia mempersempit jarak diantara mereka.

Siwon menatap mata indah Tiffany sambil menggeram. Hidungnya menangkap aroma apel segar, persis seperti yang dipakai Tiffany saat di pulau. Dalam jarak sedekat ini Siwon bisa saja menciumnya lagi. Namun pria itu menahannya. Jika tergesa-gesa, ia takut Tiffany akan lari darinya.

“Sebenarnya kau tak perlu repot-repot membawakannya. Kalau begitu, kajja! Kita mulai acara makan malamnya,” ujar Siwon seraya mengambil alih tas plastik yang berisi sebotol wine dari tangan Tiffany.

Ia menarik tangan Tiffany, berjalan menuju meja makan. Tiffany tersenyum melihat ruangan bercahaya redup dan sepertinya Siwon sangat excited menyambutnya. Sebelum Siwon menarik kursi untuk Tiffany, gadis itu sudah berinisiatif terlebih dahulu untuk berjinjit dan mencium pipi Siwon. Ketika bibirnya bersentuhan dengan kulit pipi Siwon, Tiffany bisa menghirup aroma maskulin yang menggoda.

Dan seketika, jantungnya berdegup lebih kencang. Tiffany mengumpat dalam hati. Seharusnya ia mencium Siwon untuk menggoda pria itu, bukan sebaliknya!

Siwon menatap Tiffany lembut. Gadis tersebut bisa melihat mata Siwon yang berkilat diterpa cahaya lilin. “Fany-ah, silahkan duduk. Aku akan mengambil hidangan penutup di dapur.”

Tiffany pun duduk di kursi yang telah ditarik Siwon. Matanya mengawasi pria itu saat kembali ke dapur. Siwon sangat cocok dalam balutan kemeja sutra berwarna maroon yang lengannya dilipat sampai siku dan celana bahan berwarna hitam. Siwon membiarkan tiga kancing teratasnya terbuka.

“Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Tiffany.

“Aniya. Aku hanya ingin mengambil pai apel,” jawab Siwon.

Beberapa detik kemudian Siwon kembali ke meja makan, dengan sebuah loyang berisi pai apel. Tiffany memberikan senyum termanisnya pada Siwon ketika pria itu duduk di hadapannya.

“Wangi sekali. Kira-kira bagaimana rasanya?” kelakar Tiffany.

“Kita coba saja nanti. Aku yakin kau pasti suka, karena aku adalah seorang koki hebat,” ujar Siwon bangga. Tiffany mencibir.

Siwon POV

Aku bertanya-tanya apakah ia menyukai makan malam yang kubuatkan tadi. Sejauh ini aku senang melihat senyuman puas di wajah Tiffany. Aku bisa menyimpulkan kalau ia menyukainya. Setelah makan malam, aku menuangkan wine yang dibawakan Tiffany ke dalam dua gelas tinggi.

“Kau pintar memasak. Bahkan masakanmu lebih lezat masakanku,” puji Tiffany.

Aku berdehem untuk memberikan kesan cool, pasti memalukan blushing di depannya. Aku akan terlihat seperti anak laki-laki berumur 15 tahun.

“Aku belum pernah merasakan masakanmu. Sepertinya setelah ini aku yang harus kau undang untuk makan malam.”

Tiffany mengangguk. “Oke.”

Ia menyesap wine di gelasnya dan menatap mataku lekat. Aku pun tak segan-segan melakukan hal yang serupa. Tidak ada gadis selain Steph yang membuatku merasa mabuk serta candu sampai aku bertemu dengan Tiffany. Matanya menyiratkan kecerdasan, gairah sekaligus kelembutan saat menatapku.

“Siwon-ah, apa film yang sudah kau siapkan? Lebih baik kita menonton sekarang,” cetus Tiffany.

Aku meletakkan gelas wineku dan mengulurkan tangan padanya. “Kajja. Aku sudah menyiapkan beberapa film, tapi kau yang akan memilih. Otte?”

“Baiklah,” ucap Tiffany lalu menggenggam tanganku dengan kedua tangannya. Aku menariknya ke ruang tengah, dimana aku biasanya menonton televisi. Tiffany duduk dengan nyaman di sofa, menyilangkan kaki jenjangnya dan meletakkan sebuah bantal di atas pangkuan. Ia tidak terlihat canggung dan gugup sedikitpun, membuatku semakin penasaran.

“Bagaimana kalau film action?” usul Tiffany saat aku membawa satu keranjang film baruku ke atas sofa.

“Mwo? Kau suka film action?” tanyaku memastikan. Aku kira gadis ini sangat menjunjung paham feminism.

“Aku suka film action yang ada unsur romance. Apa itu salah?”

Aku tergelak. “Tentu saja tidak. Kalau begitu, bagaimana kalau The Host. Kau sudah pernah melihatnya?”

Tiffany mengangkat bahu. “Belum.”

Sudah kami putuskan untuk menonton film The Host. Aku duduk di samping Tiffany dan dia tampak lebih rileks dari sebelumnya. Sesekali aku mencuri-curi pandang padanya. Ia tampak fokus dengan film, sementara aku tidak bisa melepaskan pandanganku dari gadis ini. Film ini bergenre romantic science dengan bumbu action di dalamnya. Aku tidak terlalu suka, tapi sepertinya gadis di sampingku ini seorang penggila film action. Hahaha aku rasa seleranya bagus juga.

“Siwon-ah, bagaimana kehidupan di Paris? Kau menghabiskan separuh hidupmu disana, bukan? Ceritakan padaku,” tiba-tiba Tiffany bertanya.

“Hmm, tidak semenarik disini. Tapi yang aku senang berada disana adalah aku bisa setiap hari melihat wajah Ayah dan Ibuku,” jawabku jujur.

“Kau tahu, aku penasaran dengan kedua orangtuamu. Karena aku tidak mempunyai orangtua lagi, jadi bolehkah kapan-kapan aku bertemu dengan mereka?”

Aku menatap mata Tiffany dengan sungguh-sungguh. “Jeongmal?”

“Nde. Jika aku tertarik kepada seseorang, aku akan menyukai apa yang ia cintai.”

Aku tersenyum penuh arti, bersyukur melihat ketulusan Tiffany. Apa benar ia juga menyukaiku? Itulah hal yang penting.

“Baiklah. Bagaimana kalau juga ikut denganku kesana untuk merayakan ulang tahun ibuku? Aku juga ingin memperkenalkan gadis yang baru-baru ini mencuri hatiku,” ungkapku.

Tiffany tidak memberikan jawaban dengan suaranya, melainkan mengangguk. Ia kembali melihat televisi yang ada di hadapan kami. Aku tahu ini terlalu cepat memperkenalkannya kepada Ayah dan Ibuku. Tapi aku yakin Tiffany adalah gadis yang tepat untukku dan mereka pasti juga akan menyukainya.

Aku mengalihkan pandanganku ke depan. Film The Host terasa lebih menyenangkan sekarang.

Satu hal yang aku suka dari film ini, yaitu adegan romantisnya. Aku harap Tiffany juga menyukainya. Tapi melihat bagaimana ekspresi Tiffany saat pemeran Jared mencium Melanie atau beradegan intim, aku cukup heran. Tiffany tidak gelisah sedikitpun ataupun canggung. Dengan sengaja aku melingkarkan tangan di bahu telanjangnya. Aku menelan ludah.

Kulitnya lembut sekali seakan-akan menggodaku untuk mengelusnya berlama-lama. Aku sudah tidak peduli dengan film yang sedang diputar di hadapanku. Aku kini menghadap Tiffany yang sepertinya juga menahan sesuatu. Aku bisa melihat dari ekspresi wajahnya yang menegang.

“Kau cantik sekali malam ini, Tiffany. Kau…membuatku merasakan cinta lagi,” bisikku dekat dengan telinganya. Percuma aku membandingkannya dengan Steph, sebab mereka berdua memang berbeda. Ada kelebihan dalam diri Tiffany yang membuatku lupa dengan Steph.

“Aku tahu kau berbohong,” balas Tiffany. Ia memutar kepalanya perlahan, menghadap padaku. Wajah kami berdekatan dan aku dapat melihat mata hitamnya yang menawan.

“Aku sama sekali tidak bohong,” ucapku jujur.

“Kalau begitu, buktikan.”

Aku mengerjap bingung. Apa dia menantangku? Aku menatap matanya dengan seksama. Apakah ia juga menyukaiku? Jikapun iya, aku ingin rasa sukanya berubah menjadi cinta, karena itulah yang kurasakan saat ini. Aku menangkup wajahnya dan membelai garis rahang yang selembut satin itu.

“Apa yang harus kulakukan padamu?” gumamku lebih kepada diri sendiri. Tiffany tersenyum manis. Tangannya terangkat dan memegang kedua tanganku yang menangkup wajahnya.

TO BE CONTINUED

203 thoughts on “MISSION COMPLETED PART 1

  1. Keren nih ktm karakter fany yg beda. pnh dendam dlm hati fany, tp kok q ragu akn crt dr appny fany. krn lht siwon ternyt ortuny org yg baik n penyayang. ini msh misteri…
    wah bisa2 fany jth cinta bnran am siwon, ntr dia yg kesulitn krn dendam libatkn asmara….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s