Imposible

Untitled

 

Title : Impossible

Author : @janisone

Main cast : Tiffany Hwang – Choi Si won

 Lauren Hanna Lunde a.k.a  Lauren Hanna Choi

 Daniel Hyunoo Lachapelle a.k.a Daniel Choi

Support Cast : Jessica Jung- Lee Dong hae – Im Yoona

Genre : Family, Friendship, Kids story, Sad

Length : Oneshoot

Rating : 15

Happy reading!

Bulir-bulir air mata  mengalir deras dipipi mulus milik Tiffany.Pemandangan didepan matanya amat sangat membuatnya sakit dan tidak bisa terima.Putri kecilnya yang baru berusia 5 tahun itu pulang dari sekolah dalam keadaan kacau.Rambut acak-acakan, baju dan tas robek dimana-mana, belum lagi darah yang mengalir dilengan kanan putrinya.

Ceklek

Pintu terbuka.Masuklah Si won, suami dari Tiffany dan tentunya Ayah dari anak itu.

“Oppa…”

Tiffany menangis.Si won mencoba memeluknya untuk menenangkan.Ia mengerti bagaimana perasaan Tiffany saat ini.Tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya dengan kondisi seperti itu.Apalagi Tiffany, kalau anaknya seperti ini dia tidak akan bisa berbuat apapun selain menangis.

“Tenanglah, Lauren baik-baik saja…”

“Dia berdarah, Oppa…”

“Tenanglah…”

Si won meninggalkan Tiffany untuk mengambil kotak P3K.Setelah itu dia kembali dan duduk disebelah putrinya yang hanya menunduk diam sejak tadi.

“Lauren…”Anak itu mendongak ketika Si won memanggilnya.

“I`m so sorry, Dad…”ucapnya merasa bersalah.Si won tersenyum dan mulai membersihkan luka Lauren dengan kapas yang sudah ia olesi dengan cairan alkohol.Sementara Tiffany yang tak tega melihatnya hanya bisa menangis tanpa suara dibalik punggung Si won.

“Kau bertengkar lagi, sayang?…”Lauren menjawab dengan anggukan pelan dan raut wajah penuh penyesalan.

“Bukankah Daddy sudah bilang, jangan lakukan hal yang akan membahayakan dirimu seperti ini.Lihatlah, Lauren ingin Mommy terus menangis seperti itu?….”Lauren menggeleng tanda tidak.Tentu dia tidak ingin orang yang paling dia sayangi itu menangis karena dirinya.

“Mianhe, tapi Bella yang lebih dulu menggangguku.Dia menjatuhkan Ipad-ku…”adu Lauren.

“Dia juga tidak mau minta maaf dan…”Lauren terdiam ketika mata sang Daddy menatapnya lembut.

“Baiklah, tidak ada alasan untuk membela diri bagi yang salah….”ucap Lauren pasrah dan bersandar disofa.Si won tersenyum kecil, kenapa anak itu harus mirip dengan Tiffany?

“Sudah selesai…”Si won merapikan plaster dilengan Lauren akibat terjatuh karena harus adu jambak rambut dan berguling-guling dibebatuan kecil saat bertengkar tadi.

“Aigo, putri Daddy jelek sekali…”goda Si won merapikan rambut panjang Lauren.Dia tidak percaya melihat baju dan tas Lauren yang sobek.Sekuat apa mereka sampai harus menjadi seperti ini.

“Dad…”

“Hm?…”

“Apa Mommy marah padaku?….”tanyanya pelan.Sungguh, dia tidak ingin orang yang paling disayanginya itu memarahinya karena kenakalannya ini.

“Aniyo, Mommy hanya terlalu mengkhawatirkanmu…”Si won menjawab pasti.

“Aku ingin minta maaf pada Mommy…”

“Nanti saja.Sekarang Lauren ke kamar dan mandi…”Lauren menurut.Diseretnya tas robek itu meninggalkan ruang tengah.Si won merapikan kotak P3K-nya lalu berbalik.Menatap wanita cantik yang ada dihadapannya sekarang.

“Gwenchana, Lauren baik-baik saja….”

Tiffany menghapus air matanya sembari tangannya meraih ponsel miliknya yang ada dimeja.Si won yang tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu dengan cepat merebut benda tersebut dari Tiffany.

“Oppa…”

“Tiffany sudahlah, mereka hanya anak-anak.Pertengkaran seperti ini biasa saja terjadi.Besok mereka juga baikan, main dan tertawa bersama…”

“Dia melukai putriku, Oppa.Dia harus ku peringatkan.Apa dia pikir aku mengandung dan melahirkan putriku untuk disakiti olehnya? Aku yang Mommy-nya saja tidak pernah memukulnya walau hanya dengan satu jariku…”Si won menghela nafas berat.Dipeluknya Tiffany untuk menenangkannya.

“Ku mohon Tiffany, jangan bersikap seperti ini…”Mata Si won basah.Entah kenapa dia begitu sakit melihat sikap Tiffany yang berlebihan pada Lauren.Dia takut.

***Sifany***

“Lauren Choi…”

Anak bernama Lauren itu menoleh ketika suara lembut sang Mommy memanggilnya.Seketika senyum manisnya mengembang melihat mata indah itu.Ia meninggalkan buku gambar serta crayonnya untuk duduk diranjang-disisi wanita itu sekarang.

“Mom, ada apa?…”

“Ada hadiah untukmu…”Tiffany menyerahkan bungkusan yang ada ditangannya pada Lauren.

“Wah, dari siapa, Mom?…”tanyanya senang seraya tangan mungilnya menerima kardus berukuran cukup besar berwarna cokelat itu.

“Daddy-mu…”

“Dad?…”tanya Luaren bahagia.Semalam Si won memang berjanji untuk membelikan tas baru karena tas kesayangannya sudah tak bisa diselamatkan.

“Wah, tasnya bagus sekali.Gumawo Dad…”ucap Lauren meski Daddy-nya tak ada disitu.Tiffany yang melihat kebahagiaan anaknya itu ikut tersenyum senang.

“Mom, bagaimana? Aku cantik, bukan?…”tanya Lauren mencoba tas punggungnya.

“Tentu saja, anak Mommy…”Lauren tersenyum bahagia lalu memeluk Tiffany erat.

“Tanganmu masih sakit, sayang?…”Tiffany menyentuh lengan Lauren.Plester yang menempel sejak kemarin memang sudah dilepas oleh Si won mengingat luka kecil itu sudah mengering.

“Aniyo, sudah hampir sembuh.Mianhe Mom, aku bertengkar lagi…”Tiffany tersenyum dan mengusap kepala anaknya sayang.

“Gwenchana, Mommy tidak pernah menyalahkanmu.Tapi berjanjilah untuk tidak terluka lagi.Kau tahu, Mommy sangat takut…”Lauren mengangguk paham.

“Aku akan jadi anak baik dan tidak akan membuat Mommy sedih lagi…”janjinya.Tiffany tersenyum haru dan mengangguk.

“Baiklah baby Choi, sekarang waktumu untuk tidur karena besok kau harus sekolah…”Tiffany menyimpan tas Lauren diatas meja belajar sebelum merapikan selimut sang putri.

“Good night, dear…”

“Good night, Mom…”

Lauren membalas ciuman Tiffany.Bukan hanya dibibir tapi juga pada dua pipi dan kening Tiffany.

“Ciuman dibibir untuk Mommy, yang dikening untuk Oppaku yang menyebalkan dan yang dipipi untuk Daddy.Mommy akan menyampaikannya, bukan?…”Tiffany tertawa pelan.Apa maksud gadis kecil itu dia harus mentransfer ciuman itu pada suaminya?

“Mom…”

“Anything for you, dear…”Lauren tersenyum cerah.Dikecupnya bibir Tiffany sekali lagi sebelum akhirnya berbaring dan memejamkan mata kecilnya.

***Sifany***

Tiffany mematikan lampu utama kamar Lauren usai memastikan anaknya sudah tertidur pulas.Setelahnya dia keluar untuk menuju lantai bawah menunggu suaminya pulang dari kantor.Namun baru beberapa langkah dia dikejutkan oleh sepasang tangan yang tiba-tiba melingkar diperutnya.

“Malam, Mrs. Choi…”Sapa orang itu yang tak lain adalah Si won.Pria itu menyudahi backhug-nya dan memutar tubuh Tiffany agar menghadapnya.

Si won menatap wajah cantik tanpa cela itu dengan kagum.Sungguh, dia tidak pernah berhenti bersyukur pada Tuhan karena memiliki Tiffany disisinya.Apalagi dua buah hati mereka.

“Malam juga, Mr. Choi…”balas Tiffany lembut lalu mencium pipi Si won.Si won yang mendapat ciuman dari istrinya itu tersenyum senang.

“Sepertinya aku mendapat kekuatan baru….”ucap Si won.Tiffany mengangguk dengan mulut sedikit terbuka seolah berkata `ah begitu`.Tangannya mulai melepaskan dasi dan kancing bagian atas kemeja Si won.

Si won tersenyum melihat bagaimana wanita itu membuka mulutnya.Apalagi dengan posisi mereka yang tanpa jarak ini.Si won menundukkan wajahnya.Berniat ingin mengecup bibir tipis itu tapi tertahan oleh jari telunjuk Tiffany yang menempel pada bibirnya.

“Mandilah Mr. Choi, kau bau keringat…”

Tiffany mengedipkan sebelah matanya sebelum masuk ke kamar mereka.Si won mengikutinya dan tampak tertawa pelan.Benar-benar wanita nakal.Meninggalkannya begitu saja setelah menggodanya?

***Sifany***

Setelah menyiapkan semua keperluan sekolah Lauren, Tiffany kembali ke kamarnya untuk menyiapkan keperluan Si won.Seperti kemeja, dasi, jas, sepatu dan lainnya.Ini merupakan kegiatan rutin yang selalu dilakukan Tiffany setiap hari.Terlepas dari hari libur tentunya.

Si won keluar dari kamar mandi.Pria tinggi dengan tubuh atletis itu mendekati Tiffany.Siap untuk dipasangkan segala atribut kantornya.

Tangan Tiffany dengan cekatan mengancingkan kemeja Si won dan memasangkan dasinya.Wanita itu tampak tenang meski dia tahu kalau suaminya itu terus menatapnya intens.

“Berhenti memandangi wajah cantik istrimu ini jika kau ingin berkonsentrasi penuh pada pekerjaanmu hari ini, Tuan Choi…”

Si won tersenyum seraya membuka tangannya agar Tiffany lebih leluasa untuk memakaikan jas hitam itu ditubuhnya.Namun setelah jas itu terpasang, Si won bukannya ikut merapikan jasnya malah memeluk Tiffany dengan erat.Tiffany pun hanya tersenyum dalam dekapan hangat suaminya tersebut.

“Saranghae…”Tiffany kembali tersenyum.Selama 10 tahun pernikahan mereka apa pria itu tidak bosan mengucapkannya setiap hari.

“Mom, sarapanku!”teriakan Lauren dari luar membuat Tiffany dengan segera menyudahi acara pelukan mereka.

“Mianhe, Oppa.Putriku membutuhkanku…”

Tiffany pergi begitu saja.Meninggalkan Si won yang hanya tersenyum menatap kepergiannya.Senyum yang bagi Si won sendiri sulit untuk diartikan mengingat Tiffany yang begitu menyayangi Lauren.

“Maafkan aku…”lirihnya.

***Sifany***

Lauren mempoutkan bibir mungilnya.Tampak sedang kesal dan tidak menyukai sesuatu.

“Ada apa baby, huh?…”tanya Si won mendudukkan Lauren dipangkuannya.

“Menunya roti lagi…”jawab Lauren pelan.Si won melirik meja makan dan tersenyum.

“Mau bagaimana lagi, kalau kita tinggal dengan orang Amerika, kita juga harus ikut dengan caranya…”Si won sengaja membesarkan suaranya.Mencoba menggoda Tiffany yang sedang menyiapkan cokelat panas dan coffee.

“Baby, roti itu mengandung karbohidrat yang baik untuk memberimu energy, rasanya juga enak.Mau Mommy oleskan dengan selai cinta?…”Lauren mengangguk manis.Siap menikmati roti dengan selai cinta buatan sang Mommy.

Tiffany meletakkan cokelat panas untuk Lauren dan coffee untuk Si won.Beberapa detik kemudian Lauren sudah sibuk dengan rotinya.Si won yang juga dengan aktivitas yang sama tiba-tiba menghentikan acara kunyah-mengunyahnya ketika melihat wajah muram Tiffany.

“Waeyo, Fany-ah?…”Wanita itu menoleh dengan wajah memelas.

“Oppa, aku rindu Danny…”

***Sifany***

Wanita cantik bernama Jessica itu tak pernah mengalihkan pandangannya dari sosok anak berusia 9 tahun yang sedang menikmati sarapan paginya.Tentu itu membuat Dong hae, suami Jessica yang baru masuk ke ruang makan menggeleng.Semenjak Jessica membawa anak bernama Daniel itu kerumah dua hari yang lalu, Jessica memang selalu menatap kagum anak itu dan mengurus segala keperluannya.Bahkan dia yang merupakan suaminya saja di acuhkan.

“Kau mau tambah nasinya, sayang?…”tanya Jessica.

“Aniyo Oemma, aku hampir kenyang…”jawab anak tampan itu.Jessica mengangguk dengan senyum yang sangat manis.Dong hae berani bertaruh, jika anak itu seusia dengannya Jessica pasti akan menikahinya.

“Ah, aku sangat iri.Kenapa Tiffany hidup dikelilingi dua pria tampan…”keluh Jessica, merasa dunia ini tak adil baginya.

“Kau juga memilki pria tampan…”ucap Dong hae sedikit tak suka.Apa dia kurang tampan dibanding Si won dan Daniel? Sepertinya iya.

“Tapi aku ingin Danny juga…”rengek Jessica.Dong hae hanya menggeleng pelan dan mulai meraih sumpitnya.

“Tadi Tiffany menelfon….”

“Jjinja?…”Jessica merespon cepat ucapan Dong hae.Pria itu hanya mengangguk karena sedang menikmati sarapan paginya.

“Wae? Akukan sudah bilang, Danny akan menginap satu minggu…”jelas Jessica.

“Memangnya kenapa, Tiffany-kan Mommy-nya…”

“Aku juga Oemmanya…”tegas Jessica.Dong hae kembali mengangguk.Sangat tahu betapa sayangnya Jessica pada anak itu.

***Sifany***

Tiffany memasuki butik seraya menyapa beberapa karyawannya.Wanita cantik dengan blazer biru dan rambut yang dikuncir kuda itu menggeleng.Melihat sahabat baiknya yang sibuk merias diri dimeja kerja miliknya.Jessica yang baru melihat kedatangannya pun bangkit untuk mendekat.

“Stephany, I miss you so much…”Senang Jessica memeluk Tiffany erat.Tiffany yang merasa risih dengan sifat kekanak-kanakan sahabatnya itu pun segera mendorongnya pelan.

“Astaga Jessie, kau pikir kita membangun butik ini untukmu merias diri setiap waktu, huh?…”protes Tiffany.

“Aish, kau ini.Aku harus tetap cantik agar makin banyak pelanggan yang mengunjungi butik kita.Kau tahu, bakat yang hebat harus diikuti oleh penampilan yang baik dan sikap yang sopan…”jelas Jessica.Tiffany tersenyum seraya mencibir mendengar kalimat terakhir dari Jessica.

“Ya, kembalikan putra tampanku…”tagih Tiffany.

“Ne? Aniyo! Shiroyo!”Jessica membuang muka.Tiffany balas menatapnya sebal.

“Ya! Aku akan mengadukanmu ke polisi atas tuduhan penculikan anak…”Tiffany mencoba mengancam.Bukannya takut Jessica malah tertawa puas mendengarnya.

“Kau yakin? Aku tahu kau orang yang paling mengkhawatirkanku, Tiff.Kau akan menangis sepanjang waktu jika sahabatmu yang cantik ini masuk penjara…”

“Aish!”Tiffany tersenyum seraya melempar Jessica dengan bantal sofa.Wanita itu memang selalu membuatnya kesal.

“Kau pikir bagus memisahkan seorang anak dari Mommy-nya, huh?…”

“Aku juga Oemma-nya.Lagi pula aku sudah bilang kalau aku akan pinjam Danny seminggu…”Tiffany melotot mendengar kata `pinjam` yang diucapkan Jessica.

“Ya, kau pikir anakku barang?….”

“Aniyo, aku tidak pernah bilang begitu…”Jessica menggeleng polos.Tiffany memutar bola matanya dan memilih untuk duduk disofa.

“Lebih baik kau urus Lauren saja, dia lebih membutuhkanmu…”

“Tentu, karena dia anakku begitu pun Danny…”

“Tapi Lauren itu lebih membutuhkanmu karena dia…”Jessica menghentikan ucapannya.Wajahnya tampak tegang dan takut.Sadar kalau dia sudah bicara terlalu jauh.

“Wae?…”tanya Tiffany.Jelas dia bingung melihat ekpresi aneh Jessica.Jessica menggaruk tengkuknya.

“Ah…ani, Laurenkan masih kecil, jadi…jadi dia lebih    membutuhkanmu.Yeah, benarkan?…”jawab Jessica akhirnya.Tiffany yang melihat sikap tak biasa Jessica tampak makin bingung.

“Sica-ya…”

“Omo, bukankah kita belum menyelesaikan gaun pernikahan Yuri? Aigo, aku harus segera menyelesaikannya…”ucap Jessica, lebih tepatnya mencari alasan untuk menghindari Tiffany.

Tiffany sebenarnya sadar betul ada yang aneh karena dia bukan orang bodoh.Tapi sepertinya dia tidak mau membahasnya lagi karena tahu Jessica tidak akan bicara tentang hal ini lebih banyak.

“Ya sudah, kalau begitu aku akan keruanganku…”ucap Tiffany seraya melangkah keluar.Jessica yang melihat itu menghela nafas lega.

“Ah, hampir saja…”lega Jessica mengusap dadanya.

“Apanya yang hampir saja?…”

“KYAAA!” Jessica memekik histeris ketika Tiffany kembali muncul.

“YA! Kau mengagetkanku!”

“Tasku ketinggalan, Jessica Jung…”kata Tiffany meraih tasnya yang ada disofa.

“Hei, aku Jessica Lee…”ralat Jessica tak terima.Tiffany pun mengangguk mengerti.

“Ya ya ya, aku lupa kalau kau sudah menikah…”

“Mworagu? Lupa?…” pekik Jessica.Bisa-bisanya sahabat baiknya sendiri lupa dengan statusnya.Sahabat macam apa itu?

“Ne, makanya cepatlah punya anak dan kembalikan putraku…”

“Aish! Pergi kau…”usir Jessica.Tiffany hanya tersenyum dan berlalu.

“Bye….”Tiffany keluar.Jessica menghela nafas setelah yakin kalau Tiffany benar-benar sudah pergi.

“Apa sikapku terlihat aneh? Oh Tuhan, jangan biarkan Tiffany membaca ekpresi wajahku tadi.Kau bodoh Jessica, bodoh…” Jessica merutuki dirinya sendiri dan kembali duduk dimeja kerjanya.

***Sifany***

            Lauren memperhatikan wajahnya pada cermin kecil yang baru diambilnya dari meja rias Tiffany.Sesekali dia tersenyum lalu kemudian cemberut.Dia tersenyum lagi dan cemberut lagi.Hal itu terjadi berulang-ulang.Si won yang ada disofa sebelah Lauren pun tampak bingung.Apa sebenarnya yang dilakukan anak itu?

“Ada apa, sayang?…”Si won mendekat.Matanya ikut melirik cermin kecil ditangan putrinya.Tampak olehnya anak itu mempoutkan bibirnya.Sangat menggemaskan.

“Dad, kenapa aku tidak punya eye-smile seindah Mommy? Padahalkan aku anak Mommy…”

Deg

Si won bagai dihantam ribuan besi beton.Persendiannya terasa lemas dan kaku saat mendengar pertanyaan itu.

“Waeyo, Dad?…”Lauren menatap heran ekpresi aneh Daddy-nya itu.

“Ne? Oh, aniyo…”jawab Si won  berusaha untuk bersikap setenang mungkin.Lauren mengangguk mengerti dan kembali memperhatikan wajahnya dicermin.

“Dad…”

“N…ne…”Si won menjawab gugup.Jujur, dia masih shock dengan pertanyaan Lauren tadi.

“Daddy pasti menyukai Mommy karena eye-smilenya, iyakan?…”

“Eoh, itu salah satunya…”jawab Si won membenarkan.

“Jjinja? Berarti aku tidak secantik Mommy.Argh, Daddy aku ingin eye-smile seindah Mommy juga…”Lauren mulai merengek.Membuat Si won antara pusing dan kasihan.

“Lauren, Lauren dengarkan Daddy…”Siwon menenangkan Lauren dan meletakkan anak itu dipangkuannya.

“Walau Lauren tidak punya eye-smile seindah Mommy tapi Lauren tetap cantik seperti Mommy…”

“Jjinja?….”tanyanya senang dan disambut anggukan Si won.

“Wae?…”Si won tersenyum kecil.

“Karena Lauren anak Daddy dan Mommy…”

“Jjinja?….”Si won mengangguk.

“Mom…”Lauren turun dari pangkuan Si won dan beralih mengejar Tiffany yang baru menuruni tangga.

“Anak Mommy, ada apa?….”Tiffany duduk disebelah Si won dan meletakkan Lauren dipangkuannya.

“Kata Daddy aku secantik Mommy….”ucap Lauren senang.Tiffany tertawa.

“Tentu saja, Laurenkan anak Mommy….”Tiffany memeluk Lauren sayang.Si won yang melihat adegan itu ingin menangis.Entahlah, dia merasa sangat bersalah atas semua ini.

“Waeyo, Oppa?…”tanya Tiffany melihat Si won yang terdiam disampingnya.Pria tampan itu mencoba tersenyum dan menatap sang istri.

“Aniyo.Oh ya, kapan Danny akan pulang?…”Si won mencoba mengalihkan pembicaraan.Tiffany yang menyadari itu pun memilih diam dan  tak berbuat apa-apa.

“Jessica akan mengantarnya besok…”

“Besok? Kenapa seminggu cepat sekali? Dad, suruh Danny Oppa menginap lagi saja…”rengek Lauren menarik-narik lengan Si won, persis seperti Tiffany jika sedang merengek jika menginginkan sesuatu padanya.

Tiffany dan Si won saling pandang.

“Wae?…”tanya keduanya bersamaan.

“Jika Danny Oppa disini dia akan sering-sering dengan Mommy, aku tidak suka….”adunya dengan  wajah cemberut.

“Wah, kau pencemburu seperti Mommy-mu…”ucap Si won yang langsung mendapat pelototan dari Tiffany.

“Kau bilang apa, Oppa?….”

“Tidak ada.Lauren, kajja, waktunya tidur…”Si won menggendong Lauren pergi.Tiffany yang ditinggal pun hanya tersenyum mengikuti keduanya.

***Sifany***

Rumah tampak berbeda hari ini.Selain interior ruangan yang tampak berubah, juga ditambah dengan balon-balon pink dan putih yang menggantung dilangit-langit ruangan lengkap dengan pita yang menjuntai ke bawah.Lauren yang baru pulang dari sekolah langsung cemberut.Menurutnya, Mommy-nya itu terlalu berlebihan melakukan semua ini.

“Kalian sudah pulang?….”Tiffany muncul dari arah dapur.Diambilnya tas Lauren dan mengecup bibir sang anak sekilas.

“Ganti bajumu sayang, sudah Mommy siapkan diranjangmu….”

“Aku mau sama Mommy…”pintanya manja.Tiffany tersenyum seraya mengusap kepala Lauren sayang.

“Arasso, Lauren ke kamar dulu.Mommy akan mengurus Daddy-mu…”

Lauren mengangguk setuju dan berjalan menuju kamarnya dilantai atas.Tiffany langsung mengarahkan pandangannya pada Si won dan tersenyum sangat manis.

“Kajja, Oppa…”ajak Tiffany menggandeng lengan Si won.Pria itu tersenyum dan menurut.

“Sepertinya ada yang sudah tidak sabar bertemu kekasih…”Si won menggoda.Tiffany tersenyum seraya menaiki anak tangga bersama Si won.

“Ah, seminggu tidak melihatnya membuatku hampir gila.Pasti Danny tambah tampan…”ucap Tiffany membayangkan.

“Itu karena Daddy-nya tampan tak terkalahkan…”

“Aish!”Tiffany tersenyum lalu memukul dada Si won pelan.

***Sifany***

Crat! Bras! Ctar!

Ledakan dan letusan kecil menyambut kedatangan Daniel juga Jessica.Keduanya tampak terkejut dengan surprise yang mereka terima.Ruang tamu itu tampak indah dengan balon-balon dan spanduk kecil bertuliskan `Welcome Danny`.

“Aish, jjinja! Kekanak-kanakan sekali…”Jessica mencibir melihat ulah sahabatnya itu.

“Welcome my little Prince…”Terdengar suara Tiffany.Langsung disambutnya anak itu dan memeluknya.Daniel pun hanya tersenyum diperlakukan seperti ini.

“Gumawoyo, Mom…”ucap Daniel setelah Tiffany melepas pelukannya.

“Aigo, lihat.Putraku makin tampan, Oppa…”ucap Tiffany kagum.

“Itu karena aku menjaganya dengan baik….”kata Jessica.Tiffany tersenyum menatapnya kemudian mencibir.

“Annyeong, saeng…”sapa Daniel menghampiri adiknya yang ada digedongan Si won.Lauren mencibir dan memalingkan wajahnya tak suka.Dia sebenarnya sangat merindukan Oppa-nya itu hanya saja dia tidak mau menunjukkannya.Bisa-bisa dia ditertawakan nanti.

“Dia masih cemburu padaku?…”tanya Daniel yang dibalas anggukan dari Si won.

“Aniyo Dad, aku tidak  suka Danny Oppa.Dia selalu menggangguku dan menyebalkan…”Lauren merajuk yang hanya disambut tawa oleh semua orang.

“Danny, kau lapar sayang? Bagaimana kalau kita makan sekarang.Mommy sudah menyiapkan banyak makanan spesial untukmu…”

“Hm, aku juga sudah rindu dengan masakan Mommy….”

“Jjinja? Pasti masakan Oemma-mu tidak enak…”

“YA!”

Tiffany langsung membawa Daniel pergi sebelum Jessica marah besar.Lauren yang melihat Mommy-nya sama sekali tidak mengajaknya itu menunduk kecewa.

“Lauren…”Lauren mendongak ketika Jessica memanggilnya.

“Kau tidak memeluk dan mencium Oemma.Kau tidak rindu Oemma?….”Jessica memasang wajah sedihnya.Lauren tersenyum dan turun dari gendongan Si won.

“I love you, Oemma…”

“Me too, baby….”balas Jessica mengangkat anak itu dalam gendongannya.

“Oh ya, bagaimana kalau kali ini Oemma menculikmu.Kau mau tinggal bersama Oemma seminggu ke depan?…”

“Andwae!”Tiba-tiba Lauren sudah berpindah ke gendongan Tiffany.

“Ya, kau tidak boleh seenaknya membawa anakku.Lauren masih kecil…”

“Oppa, aku boleh pinjam Lauren.Eoh?….”Jessica memohon pada Si won.Tapi tangannya yang menyentuh lengan kekar Si won langsung ditepis oleh Tiffany.

“Jangan coba untuk merayu suamiku, arasso?…”peringat Tiffany sebelum meninggalkan ruangan itu menuju meja makan.Jessica menggerutu sebal karenanya.

“Aish, dasar pelit…”

“Mau ikut makan bersama?…”tawar Si won.

“Aniyo Oppa, aku masih ada urusan.Lagi pula dia tidak akan menganggapku ada setelah dua malaikatnya itu ada…”Si won tersenyum mengiyakan.Dia saja tidak tahu kalau nasibnya akan bagaimana.

“Aku pergi, Oppa…”

“Hati-hatilah.Salam untuk Dong hae…”

“Ne….”

***Sifany****

“Jjinja? Sica Oemma melakukan semuanya?…”tanya Tiffany setelah mendengar cerita Daniel.Dia tersenyum, senang karena Jessica menyayangi dan menjaga anaknya dengan baik.Tapi yang dia herankan kenapa wanita itu tidak mau memiliki anak padahal dia sudah bisa mengurus anak dengan baik.

Tiba-tiba pintu kamar Daniel terbuka.Si won masuk dan segera menyelimuti Daniel setelah mengecup keningnya.

“Selamat tidur, Danny…”ucap Si won.Tiffany terlihat tidak  terima dengan apa yang dilakukan suaminya itu.Dia masih ingin bersama putranya.

“Oppa, aku masih ingin mendengar cerita Danny…”

“Ini sudah jam 10 malam, Fany-ah.Kalian bisa melanjutkan percakapan ini besok…”

Tiffany tak punya pilihan.Akhirnya dia keluar bersama Si won.Walau bagaimana pun ini sudah larut dan anaknya harus lekas tidur agar besok tidak terlambat ke sekolah.

“Lauren sudah tidur?…”

“Hm, baru saja…”Tiffany menoleh kaget.

“Omo, kenapa dia tidur telat seperti ini…”kaget Tiffany.

“Tadi dia menunggumu tapi sepertinya kau terlalu asyik dengan Danny…”

“Ne? Aku tidak bermaksud melupakannya, Oppa…”Si won tersenyum.

“Aku tahu.Baiklah, kalau begitu kau juga harus tidur…”

“Oppa duluan saja.Aku akan melihat Lauren dulu…”ucap Tiffany berlalu.Dia masuk ke kamar Lauren.Sengaja tak dinyalakannya lampu karena tidak mau mengganggu tidur sang putri.

Tiffany memperbaiki letak selimut anaknya dan menatap wajahnya yang damai.

“Maafkan Mommy.Mommy tidak bermaksud mengacuhkanmu.Mommy hanya terlalu merindukan Oppa-mu…”

“Good night, baby Choi.Have a nice dream…”

Tiffany mengecup kening Lauren sebelum keluar.Setelah pintu tertutup, Lauren membuka matanya dan tersenyum.

“Good night, Mom…”

***Sifany***

Dong hae mendapati rumahnya sepi.Tidak ada suara atau aktivitas apapun dirumahnya tersebut.Langkahnya yang akan menuju tangga terhenti.Senyumnya terukir saat matanya mendapati Jessica hanya duduk termenung sambil memegang gelasnya dimeja makan.

“Kau kehilangan energy seperti ini karena tidak ada Danny?….”goda Dong hae setelah mengambil tempat pada kursi disebelah Jessica.

“Tenang  saja, kita bisa membuat Danny yang banyak bahkan lebih tampan…”

“Ne?…”Jessica menelan ludah.Wajahnya tampak terkejut begitu mendengar ucapan Dong hae barusan.

“A-aniyo, Oppa.Kau tahu aku sangat takut dengan kata hamil dan melahirkan.Aku masih ingat bagaimana Tiffany meregang nyawa untuk melahirkan Danny.Aku takut, Oppa…”

Mengingat kejadian itu membuat Jessica merasa ngeri.Dia melihat secara langsung proses kelahiran Daniel.Sebenarnya, dokter hanya mengizinkan Si won untuk masuk.Namun Jessica mamaksa untuk ikut.Dokter pun tidak punya pilihan.Tidak ada gunanya berdebat dengan Jessica yang keras kepala sementara Tiffany sudah kesakitan.

Dan saat proses kelahiran, dimana Tiffany kesakitan karena akan melahirkan, Jessica malah sempat-sempatnya memarahi Si won.Kenapa pria itu sampai membuat Tiffany hamil dan membiarkannya kesakitan.Membuat Si won, dokter dan para suster pusing karenanya.

Namun setelah kelahiran Daniel, Jessica malah yang paling antusias.Dia selalu datang setiap hari untuk melihat perkembangannya.Bahkan sepulang kantor, Dong hae harus ke rumah Si won dan Tiffany dulu untuk menjemput Jessica.Sebab wanita itu tidak akan pulang jika tidak dipaksa.Dan kebiasaannya membawa Daniel bermula saat Tiffany melahirkan anak keduanya dengan alasan Tiffany akan kerepotan jika harus mengurus dua anak.Awalnya Tiffany memang tidak mengizinkan.Tapi ia juga tidak bisa terus menolak jika orang itu adalah Jessica.Dong hae pikir, setelah kejadian itu Jessica akan berubah tapi nyatanya malah makin parah.

“Kita tidak perlu memiliki anak, Oppa.Bukankah kita sudah punya Danny dan Lauren?…”Jessica menatap suaminya.Jujur, dia mengerti perasaan Dong hae tapi dia juga ingin pria itu mengerti dirinya untuk saat ini.Setidaknya sampai ia yakin kalau dia sudah benar-benar siap.

“Aku masih 30 tahun Oppa, setidaknya tunggu dua tahun lagi.Belum terlalu terlambat, bukan?….”Dong hae merangkul pingang ramping istrinya dan tersenyum lembut.

“Aku tidak akan memaksa jika kau tidak mau.Kau ada bersamaku saja aku sudah bahagia.Lagi pula, kita bisa bersama setiap waktu tanpa pengganggu…”bisik Dong hae mesra.Jessica tersenyum dan mencubit kecil lengan pria itu.

“Oppa…”

“Hm?….”Dong hae menyerngit saat melihat wajah Jessica yang kembali sedih.

“Entah kenapa, akhir-akhir ini aku mengkhawatirkan Tiffany…”

“Memangnya ada apa dengan Tiffany?….”

“Dia sangat menyayangi Lauren.Aku takut, Oppa….”Dong hae memeluk Jessica yang hampir menangis.Entah kenapa dia juga merasakan hal yang sama dengan istrinya tersebut.

“Sudahlah, jangan membahas hal ini lagi…”

Jessica mengangguk lemah.Dia berharap semoga ini hanya perasaannya saja.Dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti Tiffany mengetahui yang sebenarnya.

***Sifany***

“Argh!”

Pagi-pagi sekali sudah terdengar jeritan dikediaman keluarga Choi.Teriakan yang sudah pasti milik Tiffany itu bersumber dari kamar Lauren.Dan tentu menarik perhatian Si won dan Daniel yang tengah bersiap.

“Ada apa, Fany-ah?…”tanya Si won khawatir saat mendapati Tiffany sudah menangis.

“Waeyo, Mom?….”Daniel ikut bertanya.

“Lauren, Oppa.Lauren…”

Si won melirik Lauren yang duduk diranjang dengan wajah bingung.Tentu anak berusia 5 tahun itu heran.Kenapa Mommy-nya berteriak histeris saat melihatnya.Seperti melihat makhluk halus saja.

Si won mendekat ketempat Lauren.Setelah mengetahui apa yang terjadi, Si won menghela nafas.Antara kesal dan ingin marah pastinya.

“Ada apa dengan adik Lauren, Dad?…”tanya Daniel mendekat.

“Tidak apa-apa.Hanya digigit nyamuk…”

***Sifany***

Tiffany memeluk tubuh Si won dengan erat.Mata sembabnya sibuk memperhatikan Lauren yang tengah diperiksa oleh dokter.

“Bagaimana kondisinya, Yoong?….”tanya Tiffany pada dokter cantik yang tak lain adalah sahabat dekatnya sekaligus adik sepupu dari Si won.

“Unnie tidak perlu khawatir.Lauren hanya digigit nyamuk biasa…”

“Jjinja?…”tanya Tiffany memastikan.Yoona mengangguk sembari bangkit dari ranjang yang langsung digantikan oleh Tiffany.

“Bagaimana dengan kulitnya, Yoong?…”

“Baik-baik saja, Unnie.Lauren tidak akan gatal-gatal karena satu gigitan itu….”

“Pipinya bengkak, Yoong…”

“Astaga Unnie, kalau digigit tentu saja bengkak…”ucap  Yoona mulai kesal.Padahal biji kacang hijau saja lebih besar dari pada bengkak yang ada dipipi Lauren.

“Dia tidak akan terkena deman berdarahkan?…”tanya Tiffany lagi.Yoona menghela nafas dan menatap Si won seolah berkata-Oppa bisakah istrimu diam- yang hanya dibalas senyum oleh pria itu.

“Apakah sangat sakit, sayang?…”Lauren menggeleng tanda ia baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Otteokke? Ini pasti karena kau tidur terlambat.Akhirnya ada nyamuk yang menggigit dan mengambil darahmukan? Maafkan Mommy, karena semalam Mommy asyik dengan Danny Oppa kau malah seperti ini.Maafkan Mommy…”Lauren tersenyum dan mengangguk.

“Kalau begitu hari ini kau tidak boleh ke sekolah…”kata Tiffany.Lauren menyerngit dan menatap Daddynya.

“Tiffany…”

“Pokoknya tidak…”potong Tiffany.

“Disekolah dia hanya belajar menari, bernyanyi dan menggambar, bukan? Aku bisa mengajarinya.Aku bisa menggambar dengan baik, aku bisa menari, bernyanyi apalagi.Aku bisa mengajarinya dirumah…”

“Mom…”

“Sekarang istirahatlah.Mommy akan menyiapkan bubur…”Lauren mengangguk pasrah.Tidak ada yang bisa diperbuat jika Mommy-nya sudah membuat keputusan.

***Sifany***

“Maaf merepotkanmu pagi-pagi seperti ini, Yoong…”ucap Si won mengantar Yoona ke depan.

“Gwenchana, Oppa.Lebih baik dia memanggilku dari pada dokter lain…”Si won mengangguk setuju.Dokter lain bisa frustasi jika berhadapan dengan Tiffany.

“Melihat Fany Unnie begitu menyayangi Lauren membuatku takut, Oppa…”Si won menghentikan langkahnya dan menatap Yoona.

“Aku…”

“Sudahlah Yoong, kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini lagi…”ucap Si won dingin seraya membukakan pintu mobil untuk Yoona.Yoona merasa tidak enak.Pasti Si won terluka atas ucapannya barusan.

“Maafkan aku, Oppa…”

“Gwenchana.Hati-hatilah saat menyetir…”

“Ne…”

Mobil Yoona mulai bergerak dan meninggalkan kediaman keluarga Choi.Si won yang masih berdiri disana mengusap wajahnya.Mendengar ucapan Yoona membuatnya gusar.Akhir-akhir ini dia juga sering mengingat hal yang sama.Apalagi melihat kebersamaan Tiffany dan Lauren yang makin hari makin dekat.

***Sifany***

Murid elementary school berhamburan keluar kelas begitu bel istirahat berbunyi.Mereka tampak bermain, saling usil atau pun makan siang dengan bekal yang mereka bawa.Selain anak berseragam SD juga terdapat anak-anak berseragam TK yang juga menggunakan nama sekolah yang sama.Hanya saja gedung dan tingkat sekolah mereka yang berbeda.

Lauren berada dikelompok anak TK yang bermain disudut taman dengan teman-teman sekelasnya.Namun aktivitasnya terhenti  saat matanya menemukan sosok Daniel tengah berjalan bersama seorang anak perempuan.

“Da young, Bella, kalian lanjutkan saja mainnya.Aku tidak mau lagi…”

“Wae?….”tanpa menjawab Lauren langsung berlari meninggalkan kedua rekannya menuju bangku yang kini ditempati oleh sepasang anak laki-laki dan perempuan.

“Kau sudah makan?….”Daniel bertanya pada teman perempuannya-Cristina, setelah mereka mendapatkan bangku.

“Aniyo, Oppa.Aku lupa bawa bekal hari ini…”

“Kalau begitu kita makan bersama saja.Oppa punya banyak makanan…”

“Jjinja? Gumawo…”Cristina terlihat senang ditawari oleh Daniel.Matanya sibuk melihat kotak bekal yang sedang dibuka Daniel.Tampaklah disana nasi goreng, telur gulung juga kimbab.

“Wah, sepertinya enak, Oppa…”

“Tentu saja, Mommy-kukan pintar memasak…”bangga Daniel.Cristina tersenyum.Ini bukan kali pertama untuknya.Dulu saat bekalnya tertinggal, Daniel pernah menyerahkan seluruh bekalnya pada dirinya.

“Ku dengar kemarin, Lauren tidak masuk karena sakit…”

“Eoh, hanya digigit nyamuk tapi hari ini dia sudah masuk sekolah.Ayo kita makan….”Cristina mengangguk dan menerima sumpit dari Daniel.Tangannya yang akan meraih telur gulung nan nikmat itu terhenti ketika seseorang memanggil.

“Oppa!”

Lauren berteriak memanggil Oppanya.Dia berlari mendekat dan langsung menggeser Cristina untuk menempati tempat anak itu.

“Oppa, aku lapar…”ucap Lauren dengan ekpresi memelas dan memanyunkan bibirnya.

“Lapar, kenapa bisa? Mana bekalmu?…”tanya Daniel.

“Ketinggalan, sepertinya Mommy melupakannya…”

`I`m sorry, Mom`batinnya.

“Jjinja? Baiklah, makan ini saja…”Daniel menyerahkan kotak makanannya.Lauren pun mulai menikmatinya dengan senang hati.

“Saeng, bagi makananmu dengan Cristina, ne?…”

Lauren mencibir.Diliriknya Cristina dengan pandangan tak suka.Cristina pun sepertinya mengerti arti dari tatapan itu.

“Gwenchana Oppa, aku akan jajan dikantin sekolah saja…”

“Tapi jajanan tidak sehat untukmu…”Lauren menggerutu dalam hati.Kenapa Oppanya sangat peduli pada temannya itu.

“Aku akan memilih makanan yang sehat, Oppa.Lauren, Unnie pergi dulu.Selamat makan…”Cristina pun pergi usai berpamitan.Lauren dengan senang hati mengangguk dan mempersilahkan anak perempuan itu pergi.

“Oppa tidak makan?…”

“Aniyo, kau saja….”ucap Daniel seraya membuka botol minumannya untuk Lauren.Sungguh, dia adalah anak yang baik, lembut dan perhatian seperti Daddynya.

“Oppa juga harus makan.Kalau Oppa sakit siapa yang repot, Mommy juga kan?….”Daniel tersenyum lembut mendengarnya.

“Oh, jealous?…”

“Of course!”tegasnya membuat Daniel tergelak.

“Oppa, minum…”Dengan cepat Daniel menyerahkan botol minuman yang tadi sudah dibukakan tutupnya itu pada sang adik.Tak mau adiknya itu tersedak.

“Sepertinya aku harus pergi, Oppa…”

“Tapi kau baru makan sedikit…”

“Aku sudah kenyang.Sebaiknya Oppa ke kelas saja karena sebentar lagi bel.Annyeong, Danny Oppa-ku yang baik dan tampan…”

Lauren berlari meninggalkan bangku itu dan Daniel.Anak tampan itu hanya tersenyum seorang diri.Tahu pasti apa sebenarnya yang diperbuat adiknya itu.Lagi pula, mana mungkin orang seperti Mommy-nya melupakan keperluan anak-anaknya.

***Sifany***

Dari dapur Tiffany bisa mendengar teriakan kesal Lauren dan tawa milik Daniel.Dia tersenyum lembut membayangkan apa yang tengah terjadi.Dan saat dia mendekat, dia bisa melihat Daniel yang tengah menggoda adiknya.

“Mom, Danny Oppa jahat dan mengambil topiku…”adu Lauren manja ketika Tiffany mendekat.

“Salah sendiri, Mommy tahu apa yang dia lakukan dengan topi dan kacamata itu.Dia menyusup dan masuk ke kamarku, seperti maling saja….”

“Aku tidak mencuri….”bela Lauren tak terima dengan ucapan Oppanya.

“Berarti penyusup atau mata-mata…”

“Aku bukan penyusup atau mata-mata.Aku hanya masuk ke kamar Oppaku saja, tidak boleh?…”balas Lauren sinis.Sebenarnya dia memang ingin mencari sesuatu.Siapa tahu ada benda atau semacamnya yang berhubungan dengan anak yang tadi siang bersama Oppanya itu.

“Kalau kau merindukan Oppa bilang saja.Oppa akan memelukmu…”

“Mom!”Lauren memekik ketika Daniel memeluknya.Tiffany tak mampu untuk tidak tertawa melihat kelakuan dua anaknya itu.

“Mommy…”

“Danny, jangan ganggu adikmu, sayang….”Tiffany mengelus pipi chubby Lauren yang sengaja dikembungkannya.Daniel menurut dan melangkah menuju meja makan.

“Mom, Danny Oppa menyebalkan…”adu Lauren cemberut.

“Dia hanya terlalu menyayangimu…”ucap Tiffany.Mereka langsung mengambil tempat dikursi setelah Si won ikut bergabung bersama mereka untuk makan malam.

“Bagaimana sekolah kalian hari ini….”tanya Si won sembari Tiffany menyiapkan piring mereka.

“Menyenangkan seperti biasa, Dad…”jawab Daniel.Si won mengangguk lalu berlalih pada si kecil Lauren.

“Bagaimana denganmu, baby?…”

“Juga menyenangkan…”

“Tentu, masa kecil adalah masa yang paling menyenangkan.Kita tidak perlu memikirkan apapun selain bermain sepanjang waktu…”ujar Tiffany begitu tugasnya usai dan mempersilahkan semuanya makan.Usai berdoa yang dipimpin oleh Si won, mereka mulai makan.Saat sedang asyik makan Lauren tiba-tiba teringat tentang peristiwa tadi siang.

“Mom, Danny Oppa berkencan…”

“Uhuk…uhuk…”

Tiffany tersedak.Kuah soup yang belum sepenuhnya ia telan masuk ke hidungnya.Tentu rasanya perih bukan main.

Si won yang melihat itu tersenyum lembut.Tangannya meraih gelas berisi air putih lalu menyerahkannya pada Tiffany sementara tangannya yang lain mengelus punggung wanita itu.

“Reaksimu berlebihan Nyonya Choi, seperti kekasih yang sedang cemburu saja…”

Tiffany menyikut pelan perut Si won ketika pria itu mengodanya.Dia bukannya cemburu, hanya saja terlalu terkejut.

“Mom, gwenchana?…”tanya Daniel khawatir.

“Mom, are you Ok?….”Lauren ikut cemas.Tiffany mengangguk meski hidungnya masih perih oleh kuah soup itu.

“Jjeongmalyo?…”tanya Tiffany pada putranya.

“Aniyo, Mom.Aku tidak berkencan…”

“Bohong.Aku melihat Danny Oppa sering dengan si centil Cristina.Danny Oppa bahkan memberikan bekal yang Mommy siapkan untuknya…”adu Lauren antusias.Dia terlihat sangat bersemangat saat menceritakannya.

“Untuk bekal makan siangku  bukan Cristina yang memakannya.Tapi ada anak kecil yang katanya kelaparan datang padaku.Dia bilang Mommy-nya lupa menyiapkan bekalnya…”

“Aniyo Mom, aku tidak melakukannya…”rengek Lauren membuat Si won dan Danny tertawa.

“Oppa belum bilang kalau itu kamu…”

“Aaaa, Daddy….”Lauren merengek meminta pembelaan dari Daddy-nya.

“Sudah Danny, jangan menggoda adikmu lagi…”nasehat Si won pelan.Tiffany kembali menatap putranya meminta penjelasan.

“Namanya Cristina, siapa dia?…”

“Teman sekelasku Mom, putrinya Stella Auntie…”

“Stella-ssi?..”Tiffany melirik Si won yang juga meliriknya seraya mengangkat bahu tanda ia tidak tahu apa-apa.

“Kau tidak boleh berkencan dengannya!”putus Tiffany.

“Kami tidak berkencan, Mom…”

“Pokoknya cukup berteman dan jangan terlalu dekat!”

***Sifany***

Seorang wanita dengan kaca mata hitam memperhatikan nomor rumah dihadapannya dengan kertas ditangannya bergantian.Setelah memastikan kalau alamat itu benar, segera didekatinya bangunan megah itu dan memencet belnya.

Ting Ning

“Siapa yang bertamu?…”Tiffany bertanya pada dirinya sendiri.Dia masih belum berangkat ke butik karena masih harus mencuci baju dan menjemurnya.Maklum, dia tidak memakai jasa pembantu jadi dia memang cukup sibuk dengan urusan rumah tangga.

“Nuguseyo?…”Tiffany bertanya pada tamu wanita yang kini ada dihadapannya.Tampak tamu itu tersenyum dan melepas kaca mata hitamnya.

“Annyeong haseyo…”sapanya sopan.

“Perkenalkan, aku Seo Joo hyun.Tapi kau bisa memanggilku Seo hyun, Tiffany-ssi…”Tiffany menyerngit.Apa wanita itu mengenalnya? Seingatnya mereka tidak pernah bertemu.

“Oh, Seo hyun-ssi, masuklah…”

Setelah mempersilahkan tamunya masuk dan duduk, Tiffany pun menyiapkan minuman.Dalam hati dia terus bertanya.Siapa wanita itu dan apa tujuannya datang ke sini?

Tiffany meletakkan nampan berisi dua gelas teh dan kue kering di meja.Dia kembali menyerngit heran saat melihat wanita itu menatap foto keluarganya yang terpajang diruang tamu itu.

“Seo hyun-ssi?…”

“Oh, mianhe…”Seo hyun duduk dengan rapi.Diperhatikannya Tiffany yang sedang menata minuman untuknya.

“Silahkan…”

“Ne, gamsahamnida…”

“Uhm, mianhe jika aku lancang Seo hyun-ssi, tapi apa tujuanmu datang kesini.Seingatku kita tidak saling mengenal.Mianhe jika aku kurang sopan, seharusnya sebagai tuan rumah aku tidak bertanya…”

“Gwenchana, justru aku yang harusnya minta maaf karena telah lancang datang ke sini…”Tiffany menyerngit tak mengerti.

“Sebenarnya aku datang kesini karena ingin bertemu putriku….”Tiffany menatap wanita itu dengan dahi yang berkerut.

“Ne?…”

“Aku ingin bertemu anakku….”Tiffany menggaruk tengkuknya.Benar-benar tidak mengerti apa maksud dari ucapan wanita itu?

“Kau ingin bertemu dengan putrimu tapi kenapa kau datang kesini? Apa putriku Lauren, berteman dengan putrimu?…”

Seo hyun menggeleng.

“Aniyo.Aku kesini karena dia disini…”

“Ne?….”Tiffany makin bingung.

“Ne, putriku disini.Lauren…”

Untuk beberapa saat Tiffany terdiam.Sesaat, ucapan itu hanya bagai angin lalu baginya.Namun tak lama kemudia dia tertawa.Merasa kalau wanita asing itu sedang melucu untuknya.

“Aigo, Seo hyun-ssi, kau bercanda? Lucu sekali…”Tiffany tertawa.

“Aku serius, Tiffany-ssi.Aku ingin bertemu putriku, Lauren….”Seo hyun menatap tepat pada manik mata Tiffany.Seolah mengatakan kalau dia benar-benar serius dan tidak sedang bergurau.

“Mwo?…”Tiffany tersentak.

“Ne, Lauren putrimu adalah putriku….”

Tiffany berdiri dari duduknya.Tampak sudah tidak tahan dengan sikap kurang ajar wanita dihadapannya itu.

“Ya! Aku tidak bermaksud mengusirmu.Tapi aku tidak terima jika kau datang ke rumahku dan mengatakan hal konyol seperti ini.Sekarang, keluarlah…”usir Tiffany.

“Maaf jika kedatanganku membuatmu tidak nyaman.Aku akan pergi tapi ku pastikan kalau aku akan kembali untuk menjemput putri yang ku lahirkan 5 tahun lalu…”

“Diam!” pekik Tiffany.

“Tutup mulutmu sebelum aku menamparnya!”

“Aku tahu bagaimana perasaanmu, Tiffany-ssi.Mengetahui anak yang 5 tahun ini kau besarkan adalah anak orang lain, pasti kau terluka.Lihatlah, dia lebih mirip denganku dari pada denganmu, bukan?…”

Plak!

Tamparan keras itu mendarat dipipi Seo hyun hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.

“Ku bilang  tutup mulutmu!”

“Aku tidak peduli denganmu Tiffany-ssi, yang jelas aku akan membawa Lauren bersamaku…”

“Arrrrggggghhhh!”

Tiffany memekik histeris menutup kedua kupingnya.Tidak mau mendengar apapun dari wanita gila itu.Ini sama sekali tidak benar.Lauren purtinya.Darah daging yang ia lahirkan dari rahimnya.

***Sifany***

Dong hae dengan serius memeriksa beberapa berkas kasus yang sedang ditanganinya.Konsentrasinya terganggu ketika suara telfonnya berbunyi.Menandakan ada telfon masuk untuknya.

“Yeoboseyo?….”

“Hiks hiks…”Dong hae melepas berkas-berkas ditangannya saat mendengar tangisan diseberang sana.

“Fany-ah? Ada apa?…”

“Oppa hiks, tolong aku, Oppa…”

“Ne, Tiffany.Katakan ada apa, huh?…”

“Lauren Oppa, Lauren…”Dong hae bangkit dari kursinya.

“Ada apa dengan Lauren.Apa dia terjangkit demam berdarah karena gigitan nyamuk kemarin? Yoona bilang dia baik-baik saja, bukan? Ku dengar dia juga sudah masuk sekolah hari ini.Tiffany, kau masih disana?…”

“Wanita gila itu Oppa.Wanita gila itu….”Dong hae memijat pelipisnya dan beranjak untuk mendekati jendela ruang kerjanya.

“Tenang Fany-ah, kau harus tenang dan ceritakan semuanya padaku, hm?…”Lama tak ada jawaban.Mungkin Tiffany sedang berusaha untuk tenang dan menarik nafas sejenak.

“Sudah merasa lebih baik? Sekarang katakan.Ada apa?…”

“Hiks….hiks…”Dong hae menghela nafas.Astaga, dia lupa kalau wanita itu tidak akan bisa tenang mengingat ini tentang anaknya.

“Tiffany…”

“Oppa…”Dong hae bisa mendengar isak tangisnya.

“Ne, aku disini…”

            “Tuntut wanita itu Oppa dan penjarakan dia…”

“Wanita itu? Siapa?….”

“Dia gila Oppa.Dia datang kerumahku dan mengatakan kalau dia Ibu dari Lauren.Kau harus memenjarakannya Oppa, hiks…dia harus dipenjara…”

“Mwo?…”Dong hae tercekat.Langsung ditutupnya telfon itu dan dengan cepat berlari keluar dari ruangannya.

***Sifany***

“Dimana Si won?….”Tanya Dong hae cepat begitu tiba di kantor Si won.

“Presdir Choi sedang meeting deng…”tanpa menunggu sekretaris itu selesai bicara, Dong hae sudah berlari menuju sebuah ruangan yang biasa dipakai sebagai ruang meeting.Begitu sampai dia langsung masuk.Membuat semua orang yang tengah berkonsentrasi itu menoleh kearahnya.

Si won yang saat itu sedang melakukan presentasinya menatap Dong hae dengan kesal.Tidak tahukah orang itu kalau ini adalah meeting penting?

“Maaf jika aku mengganggu tapi ini darurat…”ucap Dong hae langsung menarik Si won keluar.

“Hyung, kau sadar apa yang sudah kau lakukan?….”marah Si won saat mereka sudah berada diluar ruangan.

“Entahlah, aku rasa aku akan gila…”ucap Dong hae.

“Tapi ini darurat dan sangat gawat…”

Si won yang masih kesal dengan peristiwa tadi pun menoleh malas pada sahabat baiknya itu.

“Katakan, aku pasti sudah ditunggu sekarang…”ucap Si won.Dong hae tampak menarik nafas sebentar.

“Kau ingat Seo hyun?…”Si won sontak menatap Dong hae.Jangan bilang…

“Dia menemui Tiffany…”Kalimat itu membuat persendian Si won melemah.

“Mwo?…”

“Ne, Tiffany baru menelfonku.Dia bilang ada seorang wanita yang datang dan mengaku sebagai Ibu dari Lauren…”

Si won terduduk lemas dikursi.`Tidak mungkin` batinnya.Seingatnya dia sudah mengirim wanita itu ke Paris.Dan wanita itu juga sudah berjanji bahwa dia tidak akan pernah muncul lagi.

“Lalu, bagaimana dengan…Tiffany?…”

“Bagaimana lagi menurutmu.Dia menyayangi Lauren dengan sepenuh hati.Dia pasti hancur…”Si won terdiam untuk beberapa saat.Memikirkan bagaimana perasaan Tiffany saat ini.

“Hyung, suruh sekretarisku untuk melanjutkan presentasinya.Aku harus pergi….”

“Ku harap ceritakan dengan tenang.Kau tahu Tiffany pasti tidak akan bisa menerima hal ini…”Si won mengangguk kecil.Dengan cepat dia berlari ke basement untuk mengambil mobilnya.

***Sifany***

Pecahan vas bunga yang bertebaran menyambut kedatangan Si won dirumah.Merasa khawatir dengan istrinya, dengan segera ia masuk untuk mencari keberadaan Tiffany.

“Hiks Hiks…”

Si won menatap nanar Tiffany yang sedang menangis sesenggukan sambil memeluk erat kedua lututnya disofa.Kepalanya mendongak begitu menyadari kehadiran Si won didekatnya.

“Oppa…”

Tiffany memeluk Si won erat.Tangisnya makin kencang membuat Si won hampir ikut menangis dibuatnya.

“Oppa,  wanita gila itu…dia…dia…”Tiffany tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya.

“Dia…hiks…dia bilang…Lauren…Lauren…”

“Tiffany, tenanglah.Eoh?….”Si won mengusap kepala Tiffany pelan.Mencoba untuk memberinya ketenangan.

Tiffany melepas pelukannya.Mata sembabnya menatap tepat kearah dua bola mata Si won.

“Oppa, ini tidak benar, bukan? Dia bohongkan? Dia hanya wanita yang iri dengan kebahagiaan kita.Benar begitukan, Oppa?…”

Si won memalingkan wajahnya.Tidak sanggup melihat Tiffany seperti ini.Mata yang biasanya selalu memancarkan kecantikan dan kebahagiaan itu kini penuh dengan air mata.

“Oppa, kita harus menuntutnya…”

“Tidak Tiffany…”ucap Si won cepat membuat isakan Tiffany mereda.

“Wae, dia mengaku-ngaku kalau anak yang ku lahirkan adalah putrinya…”

“Dia tidak mengaku-ngaku, dia benar…”Si won memejamkan matanya saat mengucapkan dua kata terakhirnya.Demi Tuhan, sangat berat baginya mengucapkan kalimat itu.

“Mwo?…”tanya Tiffany pelan layaknya bisikan.Tak lama kemudian dia tersenyum.

“Kau mengerjaiku, Oppa?…”Tiffany mengangguk.

“Ne, kau hanya bercanda dan ingin memberiku kejutan, bukan? Dimana kameranya, Oppa pasti menyimpannya disekitar sinikan?…”

Tiffany mencoba meyakinkan dirinya sendiri.Langkah dan gerakan lemahnya mencoba menemukan dimana benda kecil bernama handycam atau semacamnya itu berada.

Buk!

“Tiffany!”

***Sifany***

            “Bagaimana keadaannya, Yoong?….”tanya Si won khawatir.Matanya terus memperhatikan wajah cantik itu dengan tangan yang terus menggenggam tangan Tiffany hangat.Yoona menghela nafas dan meminta agar Si won mengikutinya ke luar.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Oppa…”

“Ada apa, apa keadaannya sangat buruk?…”Si won balik bertanya.Jelas sekali kalau dia sangat mengkhawatirkan kondisi Tiffany.

“Fanny Unnie sepertinya mengalami shock yang cukup parah.Kondisinya sangat lemah…”Yoona mendudukkan dirinya disofa.Si won menghela nafas dan bersandar disofanya.

“Memangnya ada apa, Oppa?…”Yoona memperhatikan kakak sepupunya itu yang tampak mengusap wajahnya.Terlihat sangat frustasi.

“Entahlah, aku sendiri masih tidak percaya…”Yoona memicingkan matanya.

“M-maksudnya?…”

“Kau ingat Seo hyun? Dia menemui Tiffany…”Yoona menutup mulutnya tak percaya.

“Bagaimana bisa?…”tanyanya lagi.Si won tidak menjawab, dia masih shock atas semua ini.Belum lagi melihat kondisi Tiffany.

“Yoong, tolong telfon sekolah dan suruh mereka mengantar Danny dan Lauren dengan bus sekolah.Tunggu sampai mereka pulang, aku harus pergi…”

“Ne, hati-hatilah, Oppa…”

“Beritahu aku kalau Tiffany sudah sadar…”ucap Si won sebelum meninggalkan ruangan itu.Yoona menghela nafas dan beranjak menuju dapur.Sepertinya dia harus menyiapkan bubur untuk Tiffany dan makan siang untuk Daniel dan Lauren.

***Sifany***

“Aku kecewa padamu, Seo hyun-ssi.Sungguh…”Kalimat itu yang pertama diucapkan Si won setelah cukup lama mereka terdiam.Wanita cantik itu hanya tersenyum maklum.Dia tahu kalau Si won sangat marah atas semua yang telah ia lakukan.

“Mianhe Si won-ssi, aku tahu kalau aku sudah sangat keterlaluan…”ucapnya pelan.Si won menatap wanita itu tajam.Tentu saja dia sangat marah.

“Apa maksudmu dengan semua ini? Kau tahu betapa terguncangnya Tiffany? Jika kau ingin bertemu Lauren harusnya kau bicara dan izin dulu padaku…”

Seo hyun tersenyum miris.Menyedihkan sekali hidupnya.Ingin  bertemu dengan darah dagingnya sendiri pun harus atas izin orang lain.

“Mian, aku tidak bermaksud apapun.Hanya saja kita sudah memiliki kesepakatan sejak awal.Ingat Seo hyun-ssi, kau yang menyerahkan Lauren padaku, bukan aku yang memintanya…”

“Ne, sekali lagi maafkan atas kelancanganku.Tapi….”

Si won memperhatikan gerak-gerik wanita itu.Seo hyun membuka tasnya dan menyerahkan amplop cokelat padanya.

“Apa ini?…”Seo hyun tak menjawab, Si won yang mengerti pun langsung membukanya.Raut wajah Si won yang awalnya terkesan tak peduli menjadi terkejut.Setelah berulang kali membaca dan  memastikan apa yang ia lihat itu sama, Si won mengangkat wajahnya.

“Ini…”Si won tak sanggup melanjutkannya.

“Ne, dokter sudah memprediksikan kalau umurku hanya tinggal sebulan lagi…”

Seo hyun berusaha tegar dan tersenyum.Seperti kalimat barusan bukanlah hal yang menyakitkan untuknya.Sementara Si won hanya diam, ikut prihatin dengan kondisinya.

“Apakah tidak ada cara lain agar kau tetap bertahan?…”Tanya Si won.Dia akan berusaha semampunya untuk membantu wanita yang telah melahirkan anaknya itu.

“Percuma Si won-ssi, tidak ada gunanya…”

“Tapi  kau tetap harus mencobanya…”

“Aku sudah cukup merasakan sakitnya, Si won-ssi.Aku sudah tidak kuat lagi.Mungkin ini adalah hukuman dari Tuhan karena aku telah menelantarkan putriku…”

“Kau tidak menelantarkannya Seo hyun-ssi, kami menjaganya dengan baik dan penuh kasih sayang…”Seo hyun mengangguk seraya tersenyum.

“Si won-ssi…”

“Ne, Seo hyun-ssi…”

“Aku punya permintaan terakhir padamu…”Si won menatapnya lekat.

“Apa itu?…”tanyanya gugup.

“Aku mohon, izinkan Lauren untuk tinggal bersamaku untuk sebulan ini….”

Si won tampak terkejut dengan permintaan itu.Dia merasa tidak akan bisa menyanggupinya.Sekarang saja keadaan Tiffany mengkhawatirkan.Apalagi kalau Lauren dibawa pergi?

“Ku mohon, Si won-ssi.Aku sudah tidak punya waktu lagi.Aku ingin menebus semua kesalahanku padanya.Aku ingin melihatnya tersenyum didekatku sebelum aku pergi.Aku ingin memeluknya.Setidaknya, aku bisa bersamanya disaat terakhirku…”

Seo hyun menitikkan air mata.Si won bimbang.Jujur, dia sangat ingin membantu Seo hyun mengingat alasannya tapi bagaimana dengan Tiffany?

“Si won-ssi, percayalah.Ini yang terakhir kalinya, setelah itu kau dan Tiffany boleh memilikinya kembali…”

“Si won-ssi…”

“Baiklah….”

Setelah beberapa saat terdiam Si won akhirnya memutuskan.Ya, dia merasa wajib melakukannya karena bagaimana pun juga Seo hyun adalah Ibu kandung Lauren.Untuk Tiffany, dia akan memikirkannya nanti.

“Gumawoyo, Si won-ssi.Aku berhutang banyak padamu…”

***Sifany***

“Dad, kita akan kemana?…”Lauren akhirnya bertanya setelah cukup lama terdiam.Sejak mereka dimobil tadi Si won hanya diam tanpa bicara sama sekali.Dan sekarang Si won menggenggam erat tangan kecilnya masuk ke sebuah café.

“Dad…”

“Kita akan bertemu seseorang, sayang…”jawab Si won akhirnya.Begitu mendapatkan kursi Si won langsung mendudukkan Lauren dikursi tersebut.

“Kita menunggu seseorang?…”

“Ne…”

Lauren hanya mengangguk dan tak mau bicara lagi.Pikirannya masih pada sang Mommy yang sedang sakit.Kemarin sepulang sekolah Mommy-nya tidak menyambutnya.Dia tidak bisa melihat Mommy-nya karena Auntie-nya bilang Mommy-nya butuh istirahat banyak.

Lauren mendongak ketika melihat Si won berdiri.Tampak oleh mata kecilnya kalau sang Daddy sedang menyapa seorang wanita.

“Annyeong haseyo, Si won-ssi…”Wanita cantik yang tampak lebih kurus dari sebelumnya itu membungkuk sekilas.Diliriknya Lauren yang sedang menatapnya bingung.Dia tersenyum haru, akhirnya waktu yang dia impikan tiba.Bertemu dengan sang buah hati.

“Annyeong…”sapa Seo hyun ramah.Lauren tak menjawab dan beralih menatap Daddynya.

“Dad, wanita ini siapa?…”Si won menghela nafas dan tersenyum.Diusapnya kepala Lauren dengan penuh kasih sayang-seperti biasanya.

“Lauren, kau akan mendengarkan semua perkataan Daddy, bukan?…”Lauren menyerngit bingung.Dia memangguk meski tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Daddy-nya tersebut.

“Dia…Oemma-mu….”

“Ne?…”kagetnya.Matanya membulat menatap Si won dan wanita asing itu bergantian.

“Oemma? Seperti Sica Oemma?….”Tanya Lauren.Ya, dia memanggil Jessica dengan sebutan Oemma.Mungkin Daddy-nya ingin dia juga menggunakan panggilan itu untuk wanita ini.Tapi siapa dia, apa wanita itu berteman dekat dengan Mommy-nya?

“Aniyo sayang.Aku Oemmamu, yang melahirkanmu….”ucap Seo hyun mengelus kepala Lauren.Air mata sudah menggenang dipelupuk matanya.Tanda ia sangat bahagia bisa menyentuh  buah hatinya setelah sekian lama.

“Dad, apa yang dia bicarakan?…”Tanya Lauren tak mengerti.

“Dia Oemmamu sayang.Oemma yang melahirkanmu…”Lauren menggeleng.

“Aniyo, bukankah yang mengandung dan melahirkanku Mommy? Dad, aku tidak suka wanita ini, ayo kita pulang…”rengek Lauren.Ditariknya lengan kemeja Si won untuk mengajaknya pergi.

“Tidak sayang.Mulai sekarang, Lauren akan tinggal bersama Seo hyun Oemma….”

“Aniyo, shiroyo…”Lauren menangis kencang.Si won mengangkat wajahnya untuk menahan air matanya agar tidak tumpah.

`Maafkan Daddy sayang,  ini hanya untuk sementara` batinnya.

Si won turun dari kursinya dan berjongkok untuk mensejajarkan wajahnya dan wajah Lauren yang sudah basah oleh air mata.

“Lauren, dengarkan Daddy…”Lauren menggeleng dalam tangisnya.Seperti tidak ingin mendengar apa pun saat ini.

“Mulai sekarang, Lauren akan tinggal dengan Seo hyun Oemma.Bersikap baiklah padanya seperti Lauren menyayangi Mommy…”

“Shiroyo, aku ingin tinggal dengan Daddy, Mommy dan Danny Oppa…”Lauren menangis hebat.

“Lauren…”

“Shiroyo! Shiro!”

Si won ikut menangis melihat anak yang selama ini dibesarkannya menangis meronta-ronta dihadapannya.Sebenarnya dia juga sangat berat melakukan semua ini.Tapi apa boleh buat, Seo hyun lebih membutuhkannya sekarang.

“Lauren, ini semua untuk kebaikan Mommy…”Tangis Lauren terhenti.Menyisakan bekas air mata dan sesenggukannya.

“Mommy?…”Si won mengangguk cepat.Diraihnya pundak anak itu dan menatap matanya lembut.

“Lauren ingin Mommy cepat sembuh, bukan? Mommy tidak boleh banyak bergerak dan harus istrirahat.Karena itu tidak ada yang mengurus dan menyiapkan keperluan Lauren.Lauren mau tinggal dengan Seo hyun Oemma?…”

“Kenapa harus dia, aku tinggal dengan Sica Oemma saja…”Seo hyun menitikkan air mata.Wajar anak itu tidak menyukainya.

“Sica Oemma akan mengurus Danny Oppa…”bohong Si won.

“Kalau begitu aku dirumah Yoona Auntie saja…”

“Lauren lupa kalau ada adik Min ho yang masih bayi?…”Lauren terdiam.Diliriknya Seo hyun yang ada disebelah Si won.

“Aku tidak akan nakal Dad, aku tidak akan merepotkan Mommy.Aku bisa makan sendiri, mandi sendiri dan memakai pakaian.Aku…”

“Lauren!”

Lauren terperanjat kaget ketika Si won membentaknya.Ditatapnya sang Daddy dengan takut.Sungguh, dia tidak pernah melihat Daddynya seperti ini.Apa Daddynya marah padanya karena dia tidak ingin tinggal dengan wanita itu?

Si won bangkit dan segera meninggalkan tempat itu.Dia memilih pergi karena jika lebih lama disini dia takut kalau dia akan membawa anak itu kembali.

“Dad, mianheyo…”

***Sifany***

Jessica memutuskan untuk masuk keruang kerja Dong hae.Sejak tadi sore pria itu hanya mengurung diri disana tanpa keluar.Jam makan malam bahkan sudah lewat beberapa jam yang lalu tapi pria itu tetap saja betah disana.

Jessica menyerngit saat mendapati Dong hae hanya diam termenung menatap layar komputernya.

“Apa yang dia pikirkan?….”bingung Jessica.Dia mendekat dan menggebrak meja.Dong hae yang terkejut pun mengelus dadanya.

“Astaga Sica, kau mengagetkanku…”

“Lee Dong hae, kau memikirkan yeoja, huh?…”Belum hilang rasa terkejut Dong hae akibat gebrakan meja tadi dia sudah kembali shock dengan pertanyaan itu.

“Kau memikirkan yeoja? Jadi kau sudah berniat untuk berselingkuh dariku? Begitu?…”cecar Jessica tak terima.Dong hae menutup kupingnya.Benar-benar tidak tahan dengan suara kencang yang mengintrogasinya itu.

“Lee Dong hae, kau mendengarkanku?!”

“Bagaimana mungkin aku tidak mendengar kalau kau berteriak sekencang ini…”kesal Dong hae.Jessica mengerucutkan bibirnya.

“Kau memikirkan yeoja?….”tanya Jessica lagi, namun kali ini lebih pelan.

“Eoh…”

“Mwo?!”pekik Jessica tak terima.

“Nugu?…”tanya Jessica cepat, berniat akan melabrak wanita yang sudah berani menggoda suaminya itu.

“Tiffany…”Jessica tersentak.

“Tiff…Fany?…”ulang Jessica.Perasaannya mulai tidak enak.

“Oppa, ada apa dengan Tiffany, huh?….”tanya Jessica.Dong hae yang melihat mata istrinya itu mulai berkaca-kaca pun memeluknya agar tenang.

“Tiffany baik-baik saja, kau tidak  perlu khawatir…”

“Bohong.Aku bukan anak kecil lagi, Dong hae…”Jessica melepas diri dari Dong hae, merasa kalau pria itu tidak akan mengatakan apa-apa padanya.

“Aku akan ke rumah Tiffany…”ucap Jessica.Dia berniat pergi tapi Dong hae menahannya.

“Ku mohon jangan sekarang.Tiffany pasti sedang terguncang dan butuh sendiri…”Air mata Jessica mengalir deras.

“Jadi, ini ada hubungannya dengan….Seo hyun?…”Dong hae mengangguk pelan.

Jessica tidak bisa berbuat apa-apa selain membekap mulutnya tak percaya.Seo hyun menemui Tiffany? Bagaimana bisa?

***Sifany***

Jessica merapatkan letak coat-nya.Dengan langkah cepat dia menuruni tangga sambil menempelkan Iphone pada kuping kanannya.

“Yeoboseyo? Yoong, kau dimana? Temani aku…”ucap Jessica dengan nafas yang memburu.

“Kemana, Unnie…”

“Kemana lagi? Tentu saja melabrak wanita gila itu…”marah Jessica.Dia benar-benar tidak tahan untuk menjambak wanita itu sekarang.

Jessica terdiam ketika mendengar isakan pelan dari Yoona.

“Yoona-ya, gwenchana?….”

“Unnie…”

“Ne…”

“Sebaiknya Unnie kesini sekarang.Kerumah Fanny Unnie…”

“Ada apa dirumah Tiffany?…”

“Si won Oppa, hiks… Si won Oppa memberikan Lauren pada Seo hyun…”

“Mwo?!”

***Sifany***

“Andwae! Argh!”

PRANG!

Teriakan dan pecahan barang-barang menyambut kedatangan Jessica.Bisa dia pastikan kalau teriakan dan pecahan barang-barang itu berasal dari kamar Tiffany dan Si won.Dia menoleh kearah Yoona.Dipelukannya ada Daniel yang tengah menangis hebat.Jessica mendekat dan ikut memeluk keduanya dengan erat.

“Oemma, hiks…ada apa dengan Mommy dan Daddy hiks…Daddy bilang kalau adik Lauren bukan anak Mommy dan Daddy…”Jessica menggeleng.

“Aniyo, Lauren anak Mommy dan Daddy,  juga adik Danny, hm?…”Jessica menghapus air mata Daniel dengan tangannya.

“Kau sudah makan?…”Daniel menggeleng.

“Sekarang Danny ke kamar.Oemma dan Yoona Auntie akan membuatkanmu makanan…”Daniel mengangguk.Dia meninggalkan dua wanita cantik itu menuju kamarnya.

“Yoong, aku ingin bicara…”Yoona mengangguk dan mengikuti Jessica ke belakang.

***Sifany***

Si won hanya diam melihat apa yang dilakukan Tiffany.Dia membiarkan wanita itu berbuat semaunya.Menghancurkan semua barang-barang dan memukulnya.Asal keadaan Tiffany akan membaik setelah ini, dia rela.

“Argh!”

PRANG!

Cermin besar meja rias itu hancur.Sudah tidak ada lagi benda utuh dikamar itu.Tiffany terduduk dilantai.Dia benar-benar lelah dan tidak memiliki tenaga sekarang.

“Kau jahat Oppa, sangat…”Tiffany terisak sambil meremas erat bajunya.Tampilannya sangat kacau dengan rambut yang berantakan.Si won berjongkok dan memeluknya.

“Ne, aku akui itu.Aku jahat dan sangat jahat.Tapi bisakah kau tidak seperti ini? Kau menyakiti dirimu sendiri, Fany-ah…”

“Kau yang menyakitiku, Oppa.Kau memberikan anakku pada orang lain…”

“Sudahku bilang dia bukan anakmu, Tiffany.Dia anak orang lain, dia anak Seo hyun.Kau dengar?!”Tiffany menggeleng dalam isakannya.Tidak! Ini sama sekali tidak benar.

“Maldo andwae…”isaknya pelan.

“Kau memberinya padaku setelah aku sadar pasca melahirkan.Kau yang bilang kalau dia anakku Oppa, putri kita…”

Ya, Si won memang melakukannya.Apa yang bisa dia perbuat melihat keadaan Tiffany yang  kritis pasca melahirkan.Nasib buruk menimpa buah cinta mereka karena meninggal setelah dilahirkan mengingat Tiffany terjatuh dikamar mandi sebelumnya.Tiga hari Tiffany tidak sadarkan diri pasca melahirkan.Dan saat dia sadar, sanggupkah Si won mengatakan kalau calon putri mereka sudah tiada sementara wanita itu terbangun dari tidur panjangnya karena Lauren?

“Maafkan aku…”

***Sifany***

Terdengar helaan nafas panjang dari Jessica.Dihadapannya terhidang menu makan malam yang sudah siap untuk Daniel.Tapi sepertinya belum ada yang berniat untuk memanggil anak itu untuk menyantap menu makan malam ini.

“Akhirnya apa yang kita takutkan terjadi….”Yoona hanya mengiyakan dalam hati.Dia juga masih belum percaya dengan semua ini.

“Aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran wanita itu.Dia benar-benar gila….”

“Unnie, berhentilah menyalahkannya….”

“Mwo? Kau membelanya?….”Jessica menatap Yoona tak percaya.

“Aniyo, Unnie.Tapi walau bagaimana pun dia adalah Ibu yang melahirkan Lauren…”

“Salahnya memberikan Lauren.Lagi pula apa dia tidak punya malu untuk datang kesini dan meminta Lauren setelah Si won oppa membiayai sekolahnya di Paris hingga dia bisa sesukses sekarang…”

“Dia wanita terpelajar Unnie.Dia tidak akan melakukan hal ini jika tidak ada alasannya…”Jessica menatapnya tak mengerti.

“Maksudmu?…”

“Mungkin terjadi sesuatu dengannya.Kenapa Unnie tidak bertanya pada Dong hae Oppa?…”Jessica menatap Yoona lekat.Dia tahu kalau wanita itu sudah mengetahui semuanya.

“Yoong…”

“Seo hyun-ssi mengidap kanker otak stadium akhir dan dokter sudah memprediksikan kalau umurnya tidak lama lagi…”Jessica terdiam.Kanker? Stadium akhir? Oh Tuhan…

***Sifany***

“Jadi, Auntie adalah Oemmaku?…”Lauren bertanya pada wanita yang duduk dimeja makan bersamanya.Mereka sudah tiba dirumah yang katanya juga rumahnya ini semalam.

“Hm, ne…”jawab Seo hyun lembut.

“Oemma yang melahirkanku?…”Seo hyun mengangguk.

“Kenapa tidak Mommy?…”

Seo hyun tersenyum diiringi air mata yang mengalir.Tentu dia terluka dengan pertanyaan itu.Ibu mana yang hatinya tidak terluka jika putrinya lebih ingin dilahirkan oleh wanita lain.

“Mollayo, mungkin ini sudah takdir…”

“Takdir?…”ulang Lauren.

“Apa itu takdir?…”Seo hyun menghapus air matanya.Senyum kembali terukir diwajahnya.Bukan senyum sedih seperti tadi melainkan senyum bahagia.Ternyata anaknya tumbuh dengan baik dan cerdas.Sayang sekali karena dia tidak turut andil dalam tumbuh kembangnya.

“Takdir adalah jalan Tuhan yang sudah ditetapkan pada manusia, dan kita tidak bisa mengubahnya….”Lauren tampak terdiam.

“Waeyo, kau menyesal karena wanita yang didepanmu ini adalah Oemmamu?…”Lauren mengangkat wajahnya dan menggeleng.

“Kata Songsaengnimku di sekolah, Oemma yang melahirkan adalah orang yang sudah mempertaruhkan nyawanya untuk anaknya.Mommy dan Daddy juga bilang kalau anak yang baik adalah anak yang patuh dan menyayangi orang tuanya.Jadi aku akan menyayangi Oemma seperti aku menyayangi Mommy tapi…”

“Ne?….”Seo hyun menatap bola mata beningnya.

“Apa aku boleh menyayangi Mommy juga?…”Seo hyun tersenyum dan mendekat untuk memeluk Lauren.

“Tentu sayang, kau bahkan lebih pantas menyayangi Mommy-mu.Maafkan Oemma karena tidak membesarkanmu dan memberikanmu pada orang lain.Tapi percayalah, Oemma menyayangimu melebihi apapun dia dunia ini.Kau memaafkan Oemma?…”

Lauren mengangguk.

“Mommy bilang, orang yang paling mulia adalah orang yang berani meminta maaf dan bersedia memaafkan…”Seo hyun tersenyum haru.Dalam hati dia sangat berterima kasih kepada Tiffany.

Tiba-tiba Seo hyun merasa pandangannya kabur.Tak lama dia meringis seraya memegang kepalanya.Terlihat sangat kesakitan membuat Lauren menatapnya cemas.

“Oemma, gwenchana?…”Seo hyun mengangguk meski rasa sakit itu hampir membuat kepalanya terasa pecah.

“Oemma…”

“Cukup peluk Oemma sayang, Oemma akan baik-baik saja…”Lauren menurut.Dipeluknya Seo hyun dan menepuk-nepuk pundaknya pelan.Seperti yang dilakukan Mommy dan Daddynya jika dia sedang menangis.

“Lauren, Oemma menyayangimu…”

“Aku juga menyayangi Oemma…”

***Sifany***

Jessica masuk ke kamar Tiffany yang terlihat berantakan.Ditangannya terdapat nampan berisi semangkuk bubur, segelas air putih dan obat.Dia harus memastikan kalau wanita itu menelan makanannya walau satu sendok mengingat Tiffany belum makan apapun sejak kemarin.

“Bangunlah, Tiff…”ujar Jessica setelah duduk disisi ranjang.Tiffany tetap pada posisinya dengan mata terpejam.

Jessica menghela nafas.Jujur, dia juga merasakan hal yang dirasakan Tiffany.Dia juga sudah menganggap Lauren seperti anaknya sendiri.Tapi tetap saja, dia tidak suka melihat Tiffany yang lemah seperti ini.

“Makanlah, aku sudah membuatkanmu bubur…”suruh Jessica lagi namun Tiffany masih belum bereaksi.Wanita itu menghela nafas kasar.

“Baik, kalau kau tidak makan aku akan membawa Danny pergi.Kalau perlu aku juga akan menculik suamimu…”ancam Jessica.Tiffany akhirnya duduk meski sebenarnya bukan karena ancaman  itu.Dia hanya tidak mau merepotkan Jessica.Walau kekuatannya sebenarnya sudah tidak ada.Dia terlalu lemah untuk bergerak.

Tiffany membuka mulutnya ketika Jessica menyuapinya.Saat makanan itu masuk ke mulutnya, dia tertunduk dengan bahu yang bergetar.

“Jangan menangis saat ada makanan dimulutmu, babo…”ucap Jessica pelan, tampak sedang menahan tangisnya.Tiffany mengangguk dan mulai menelan makanannya dengan air mata yang berderai.

“Sica-ya…”

“Eoh…”

“Apa menurutmu Lauren sudah makan?…”Jessica menarik nafas dan meletakkan sendoknya.

“Dia bersama Oemma-nya.Apa menurutmu seorang Oemma tidak memberi anaknya makan?…”

Tiffany tersenyum dan mengapus air matanya.Benar sekali.Pasti Lauren sudah makan dan menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama ibu kandungnya.

“Ne, kau benar.Dia bersama Oemmanya…”Tiffany menghapus air matanya yang terus mengalir tanpa henti.Dia terisak begitu Jessica memeluknya.

“Kenapa Sica-ya, kenapa bukan aku yang melahirkannya.Kenapa bukan aku? Kenapa harus orang lain?….”

Tiffany menangis pilu.Demi Tuhan, kenyataan ini adalah suatu mimpi paling buruk baginya.Anak yang selama ini ia besarkan penuh kasih sayang.Mengkhawatirkannya disetiap menit dan detik.Dengan semua kemiripan sifat mereka.Mungkinkah anak itu bukan bagian dari darah dagingnya?

“Sudahlah, Tiff.Hentikan.Kau tidak boleh bersikap berlebihan seperti ini.Kau tahu, didunia ini tidak ada yang abadi.Walau tidak dengan cara seperti ini, jika Tuhan sudah berkehendak, kau juga tidak akan bisa mencegahnya.Percayalah Tiff, Lauren akan kembali bersamamu, cepat atau lambat…”Tiffany hanya bisa mengangguk lemah.Entahlah, tidak ada yang bisa meyakinkannya akan hal itu.

“Sekarang makanlah dan minum obat.Kau harus istirahat agar cepat membaik…”Tiffany melepas pelukan mereka dan menatap Jessica yang kembali bersiap menyuapinya.Dia sangat beruntung memiliki seseorang seperti Jessica yang selalu ada untuknya.

“Gumawoyo, Sica-ya…”Tiffany tidak perlu mengatakan apapun lagi.Dari sorot matanya Jessica sudah mengetahui semuanya.

“Hm, aku tahu aku orang yang sangat baik.Tidak perlu berterima kasih seperti itu…”ucap Jessica sok angkuh.Kembali disuapinya Tiffany yang dibalas senyum terima kasih dari wanita itu.

***Sifany***

Tiffany bangkit dari ranjang dengan tangan memegang kepalanya yang sedikit pusing.Dia melihat refleksinya pada cermin.Matanya sembab, rambutnya berantakan.Apa yang ia lakukan? Menangis sepanjang waktu?  Tiffany menggeleng kuat.Tidak, dia tidak boleh terlihat lemah seperti ini.

Diperhatikannya seluruh isi kamar yang ia tempati.Sudah terlihat rapi seperti tidak terjadi apapun sebelumnya.Padahal ia ingat dengan jelas kalau ia sudah menghancurkan seluruh isi ruangan ini.Apa Jessica dan Yoona yang membersihkannya? Siapa lagi?

Usai merapikan baju dan rambutnya, Tiffany segera ke luar.Berencana untuk melihat putranya, Daniel.Dia tidak keluar kamar dua hari ini.Siapa yang mengurus putranya itu? Seingatnya kemarin Jessica tidak mengatakan kalau ia akan membawa Daniel bersamanya.

Tiffany berjalan tertatih.Sungguh dia masih sangat lemah dan tidak mampu untuk berjalan.Kepalanya terasa pusing dan berat.Ditambah lagi dia tidak memakan apapun meski Si won memaksanya-selain bubur dan obat yang diberikan Jessica.Saat Tiffany memikirkan Si won, pria itu tiba-tiba muncul.Keduanya hanya saling pandang dalam diam.Terlebih lagi Si won, melihat Tiffany seperti ini membuatnya sangat sakit.

“Fany-ah…”

Si won mendekat.Meraih  tubuh yang kini bergetar hebat itu untuk memberinya ketenangan.Dan saat Si won mendekapnya, tangisnya kembali pecah.

“Belum terlambat Oppa, katakan  kalau ini hanya lelucon…”Si won mengeratkan pelukannya.Memberi ketenangan lebih agar Tiffany merasa lebih baik.

“Mianhe…”Hanya itu yang diucapkan Si won.Membuat tubuh Tiffany makin bergetar menandakan kalau tangisnya makin parah.

***Sifany***

“Mom…”

Tiffany menoleh dan melihat Daniel berdiri disebelahnya.Dia tersenyum dan membuka tangannya.Meminta sang putra untuk memberinya sebuah pelukan.Daniel yang mengerti pun melakukannya dengan senang hati.

“Aku senang Mommy sudah lebih baik….”Tiffany tersenyum dan mengusap kepala Daniel sayang.

“Mianhe, Mommy pasti membuatmu takut…”Daniel melepas pelukannya untuk menatap Tiffany.

“Mommy menangis?….”

“A-aniyo….”Tiffany dengan cepat menyeka air matanya.Tapi bukannya berkurang air mata itu malah makin deras ketika tangan kecil Daniel ikut menghapusnya.

“Mommy tidak boleh menangis lagi.Aku yakin  adik Lauren akan bersama kita lagi.Daddy bilang ini hanya untuk sementara.Anggap saja kalau adik Lauren sedang menginap dirumah orang lain seperti aku menginap dirumah Sica Oemma…”

Tiffany mengangguk sambil tersenyum.Kembali dipeluknya Daniel dengan sayang.Si won yang baru muncul pun tersenyum.Senang karena keadaan Tiffany sudah jauh lebih baik.

“Dad?…”Daniel melepaskan pelukan mereka ketika melihat Si won berada tak jauh darinya dan Tiffany.

“Danny, pergilah ke kamarmu…”suruh Tiffany.Daniel mengangguk paham dan berlalu.Setelah Daniel pergi, Tiffany segera berbalik untuk menyambut suaminya yang baru pulang dari kantor.

“Selamat datang, Oppa….”sambut Tiffany.

“Hanya itu?…”

“Ne?…”bingung Tiffany.Dia tersenyum ketika Si won membuka tangannya meminta untuk dipeluk.Tanpa ragu Tiffany  mendekat dan membenamkan kepalanya pada dada bidang nan hangat itu.

“Ah, aku merindukan istriku yang manja ini…”Tiffany tersenyum dan makin mengeratkan pelukannya yang dibalas hangat oleh Si won.

***Sifany***

Tiffany menutup lemari pakaian setelah menemukan jas yang cocok untuk dikenakan Si won hari ini.Setelah itu dia keluar, menghampiri Si won yang sedang bercanda dengan Daniel diruang tengah.Sesaat Tiffany terdiam, mengingat biasanya Lauren juga berada disana.

“Tiffany?…”

“Eoh? Ne, Oppa…”Tiffany dengan cepat mendekat dan memaikan jas itu pada  Si won.

“Oppa….”

“Hm?….”

“Uhm…aku boleh mengantar Danny hari ini?….”Si won menatap Tiffany sejenak.

“Wae?…”tanyanya namun Tiffany hanya diam.

“Lauren tidak ada disekolah.Dia sudah dapat izin untuk sebulan kedepan…”Tiffany terlihat terkejut.Namun tak lama kemudian memperlihatkan senyumnya.

“Gwenchana, aku hanya ingin mengantar Danny saja….” Ucap Tiffany.Si won mengecup keningnya sekilas lalu beralih menatap Daniel.

“Danny, Mommy-mu  orangnya sangat pencemburu.Katakan pada Daddy jika Mommy-mu melakukan sesuatu pada Cristina…”

“Mwoya…”Tiffany merajuk tak terima.Sementara Daniel hanya tersenyum seraya mengangguk menanggapi candaan Daddy-nya tersebut.

***Sifany***

“Wah, sudah lama sekali Mommy tidak datang ke sekolahmu….”ucap Tiffany melangkah masuk  bersama Daniel menuju gerbang sekolah.

“Ne, Mommy hanya datang jika sekolah mengadakan acara bersama orang tua siswa…”

Ya, Tiffany hanya bisa datang kesekolah jika ada acara sekolah dengan orang tua siswa.Sebenarnya, dia juga ingin mengantar putra-putrinya kesekolah setiap hari.Hanya saja Siwon tidak mengizinkannya.

“Danny Oppa…”Langkah pasangan Ibu dan anak itu terhenti ketika seseorang memanggil  Daniel.Seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir satu berlari mendekat dan membungkuk memberi salam pada Tiffany.

“Annyeong haseyo, Auntie…”sapanya sopan.

“Oppa, kau datang sendiri? Dimana Lauren, aku tidak melihatnya dua minggu ini…”

“Oh, Lauren diajak grandpa ke LA untuk liburan…”bohong Daniel.Yah, dia tahu berbohong itu salah tapi ini lebih baik, bukan?

“Jjinja?….”Daniel mengangguk pasti.Dia mendongak memperhatikan Tiffany yang tampak melamun.Sepertinya Mommy-nya itu mulai memikirkan Lauren.

“Mom, ini Cristina, temanku….”Daniel memperkenalkan temannya.

“Uh? Cristina?…”Ulang Tiffany.Diliriknya anak perempuan itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.Dengan cepat ditariknya Daniel agar lebih dekat dengannya.

“Kajja, sebentar lagi bel masuk….”ucap Tiffany membawa Daniel pergi.Cristina yang melihat itu hanya mengangkat bahu  tak mengerti.

“Waeyo, Mom?….”tanya Daniel pelan.

“Aniyo, Mommy hanya tidak suka dengannya…”

“Karena dia anak dari wanita yang pernah menyukai Daddy?…”Tiffany menoleh cepat.

“Kau tahu tentang itu?…”tanya Tiffany.

“Hm, Daddy yang menceritakannya…”

“Aish!”

***Sifany***

Lauren menatap pemandangan pagi diluar jendela yang masih tertutup embum.Udara sedingin ini rasanya ingin sekali dipeluk Mommy-nya.Dia juga sangat merindukan wanita itu.Ingin memakan masakannya bahkan ingin sekali mendengar kecerewetan sang Mommy yang sibuk dipagi hari.

Lauren tersenyum mengingat peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu.Dimana sang Mommy sibuk dan heboh  hanya gara-gara dirinya yang digigit nyamuk.

“Mom, aku merindukanmu.Apa Mommy juga?….”Lauren bertanya pada matahari  yang mulai menampakkan dirinya.Tak mau matanya silau oleh cahaya matahari pagi, dia pun memilih keluar dari kamar untuk mencari Seo hyun.

“Oemma….”

Lauren mengitari setiap sudut rumah yang sudah dua minggu ini ditempatinya.Sejak tadi dia tidak mendapati Oemmnya dimana pun.

“Oemma…”

“Oemma, oedisso ?….”

“Akh…”Langkah Lauren terhenti saat mendengar suara rintihan dari  dapur.Dia mendekat dan tampak olehnya wanita itu sedang kesakitan sambil memegang bagian kepalanya.

Buk!

“Oemma!”

Lauren memekik ketika tubuh itu ambruk dilantai.Dia mendekat dan menangis.Apa yang harus dia lakukan? Dia masih kecil dan tidak tahu apa-apa.

“Oemma, apa yang terjadi? Oemma…”

Lauren menguncang tubuh itu sekuat tenaganya.Tangisnya ikut bertambah kencang melihat wanita itu tidak memberikan respon apapun.

Drrtt Drrtt Drrtt

Suara ponsel Seo hyun yang bergetar membuat Lauren dengan cepat meraih benda itu.Mungkin seseorang yang ada disana bisa membantunya.

“Yeoboseyo?….”suara panik dan ketakutannya tampak mendominasi.

“Lauren?…”

“DAAAD!!!”Anak itu memekik.Tangisnya makin kencang, bahagia mendengar suara Daddy-nya ditambah prihatin dengan keadaan Oemma-nya.

“Ada apa sayang, kau menangis?…”Si won bertanya cemas.

“Dad, Oemma pingsan…”

“Mwo?…”

“Dad, cepat kesini.Oemma tidak  bergerak…”

“Ne, tenang sayang.Jangan menangis,  aratchi?….”Si won tampak mempercepat laju kendaraannya.

“Tetap tenang dan berdoa untuk Oemma.Daddy akan segera datang…”

Lauren mengangguk paham.Setelah telfon ditutup dia segera kembali ke tempat Seo hyun yang tak sadarkan diri dilantai.

”Oemma, bangunlah, jebal.Aku takut….”

***Sifany***

Si won menenangkan Lauren yang menangis digendongannya.Mereka kini berada didepan ruang ICU tempat Seo hyun dirawat.

“Dad, apa yang terjadi dengan Oemma?…”

“Oemma hanya lelah dan butuh istirahat, sayang…”

Si won menoleh saat langkah buru-buru beberapa pasang kaki mendekatinya.Tampak olehnya  Dong hae, Jessica dan Yoona mendekat.

“Oppa, Seo hyun-ssi baik-baik saja?…”tanya Yoona.Si won melirik Lauren.Dia tidak mungkin bicara jika ada anak itu disini.Jessica yang mengerti segera mengambil alih Lauren dari Si won.

“Lauren, Oemma merindukanmu…”Jessica memeluk anak itu erat.Yoona ikut memeluknya dari belakang.

“Lauren juga rindu Oemma dan Auntie tapi….”Lauren melihat ke arah darimana datangnya tiga orang ini.

“Dimana Mommy dan Danny Oppa?….”Tanyanya bingung.Semuanya saling pandang dalam diam.

“Oh, Mommy sedang menjemput Danny Oppa disekolah…”jawab Jessica.

“Kajja, kita main ditaman….”Jessica langsung membawa Lauren pergi meninggalkan Si won, Dong hae dan Yoona.

“Apa keadaannya sangat parah?….”Tanya Dong hae.

“Hm, begitulah.Dokter bilang keadaannya memburuk dan sudah menyuruhnya menjalani rawat inap sebulan yang lalu.Dokter juga sudah menyuruhnya untuk melakukan komoterapi agar dia bisa bertahan lebih lama, tapi dia menolak dan…seperti inilah.Doter bilang kita harus siap dengan kemungkinan terburuk…”

Yoona menutup mulutnya.Kasihan sekali Lauren.Belum lama dia bertemu Ibu kandungnya sekarang orang itu malah akan pergi meninggalkannya.

***Sifany***

“Lauren mau Ice cream?…”Lauren mengangguk antusias.Jessica pun memesan se-cup ice cream dan memberikannya pada anak itu.

“Apa rasanya enak?….”Tanya Jessica memperhatikan anak itu yang asyik menikmati Ice creamnya.Lauren mengangguk.

“Oemma mau?….”

“Aniyo, kau saja…”Jessica merapikan rambut Lauren yang diterbangkan angin.Dia sangat prihatin atas apa yang menimpa gadis kecil ini.

“Oemma…”

“Hm?…”

“Bagaimana keadaan Mommy?…”

“Mommy-mu baik-baik saja dan pastinya merindukanmu…..”

“Jjinja? Aku juga merindukan Mommy, juga Danny Oppa….”Jessica mengangguk.Ya, dia tahu pasti itu.

“Lauren tenang saja, tidak lama lagi Lauren akan kembali tinggal dengan Mommy, Daddy dan Danny Oppa, Lauren senang?….”Jessica mengerutkan keningnya melihat Lauren hanya diam menunduk.Ada apa dengannya?

“Ada apa, sayang?….”

“Apa Mommy akan senang jika aku kembali? Aku bukan anak Mommny, anak Mommy hanya Danny Oppa…”Mata Jessica memanas.Bagaimana mungkin anak sekecil ini berbicara seperti itu.

“Kemari sayang, peluk Oemma…”

***Sifany***

“Mom, dimana Daddy?…”

“Molla…”Tiffany hanya menjawab singkat pertanyaan Daniel.Dia juga tidak tahu kemana dan ada apa sebenarnya yang terjadi.Suaminya selalu pulang larut akhir-akhir ini.

“Danny, kau tidurlah, sudah malam…”Daniel mengangguk dan pergi menuju kamarnya.Tiffany bangkit dari duduknya ketika mendengar suara mobil Si won.

Tiffany bisa melihat wajah lelah Si won ketika suaminya itu masuk ke rumah.Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin ia tujukan.Tapi melihat Si won yang kelelahan membuatnya tidak tega.Takut Si won merasa terganggu dan marah.

“Kau sudah pulang, Oppa?….”

“Hm…”Si won  hanya menjawab singkat.

“Oppa sudah makan malam?…”

“Hm…”

“Jjoengmal?…”Si won tersenyum saat mendengar pertanyaan itu.

“Jadi menurutmu, suamimu ini berbohong?…”tanya Si won lembut.Tiffany hanya menggaruk tengkuknya.

“Mian…”ucap Tiffany merasa bersalah.Si won mendekat dan memegang kedua bahu Tiffany.

“Oh  ya, besok bangunlah lebih pagi, kita harus kesuatu tempat…”

“Memangnya kita mau kemana, Oppa?…”

“Besok kau akan tahu.Ayo tidur, sudah malam…”

Si won melepas jasnya seraya melangkah menuju tangga.Sebelum menaiki anak tangga ditolehkannya kepalanya kebelakang.Dan wanita itu masih diam ditempatnya.

“Kau ingin ku gendong ke kamar, Nyonya Choi?…”

“Ne? A-aniyo Oppa, aku bisa sendiri…”

***Sifany***

Tiffany sudah selesai bersiap.Danny juga.Mereka tidak mengerti kenapa Si won menyuruh mereka mengenakan pakaian serba hitam.Seperti ke acara pemakaman saja.Nafas Tiffany tercekat.Pemakaman? Pemakaman siapa?

“Kalian sudah siap?….”

Si won yang juga telah rapi mengajak keduanya untuk masuk ke mobil.Dimobil pun mereka hanya diam tanpa ada yang bersuara.Sebenarnya Tiffany dan Daniel ingin bertanya tapi sepertinya keadaan tidak memungkinkan.Mereka memilih untuk diam.Nanti mereka juga akan tahu.

Ya, Tiffany benar.Ini pemakaman.Buktinya Si won memarkirkan mobilnya di area pemakaman ini.

“Ayo turun….”Tiffany turun ketika Si won membukakan pintu mobil untuknya, begitu pula Daniel.

“Ini…pemakaman?….”tanya Tiffany yang dibalas anggukan Si won.

“Nu…nugu…?”Si won tampak menghela nafas sebelum menjawab.

“Seo hyun…”Tiffany menelan ludah.Tangannya tampak gemetar.Ditatapnya mata Si won tak percaya.

“Seo…Seo hyun-ssi?….”ulang Tiffany terbata.Suaranya mulai bergetar.Seo hyun? Wanita yang dia sebut gila karena mengakui anaknya adalah putri yang dia lahirkan? Wanita yang dulu pernah ditamparnya? Wanita yang ternyata adalah orang yang melahirkan Lauren? Lauren? Bagaimana dengan anak itu?

“Lalu…Lauren?…”Si won merangkul pinggang Tiffany saat wanita itu tampak lemah.

“Tiffany, kuatkan dirimu.Lauren baik-baik saja, eoh?…”

Hanya itu yang diucapkan Si won.Tak mau menunggu lama, dia segera membawa Tiffany dan Daniel masuk ke area pemakaman.Disana juga sudah ada Dong hae, Jessica dan Yoona.Jessica yang melihat Tiffany langsung mendekat untuk memeluk sahabatnya itu.

“Ada apa ini Sica-ya, eoh?…”Tiffany bertanya dengan nada bergetar.

“Seo hyun-ssi, dia mengidap kanker otak stadium akhir.Dan dia tidak tertolong lagi…”

Tiffany melirik Lauren yang menangis dalam rangkulan Yoona.Dia ingin sekali memeluk dan menenangkan anak itu.Tapi entah kenapa dia tidak bisa.

“Auntie, kenapa Oemma pergi.Oemma tidak sayang padaku lagi? Aku baru bertemu dengannya, kenapa Oemma pergi…”

Tiffany menangis.Entah kenapa dia tidak suka melihat Lauren menangis dan meminta seperti itu.Apakah dia tidak ingin Lauren menyayangi Seo hyun? Ibu kandungnya sendiri? Dia hanya ingin menjadi satu-satunya Oemma bagi Lauren.Berdosakah jika dia memiliki perasaan seperti ini?

“Oemma, kenapa Oemma pergi? Aku masih ingin bermain dengan Oemma…”

Tiffany tidak sanggup lagi melihatnya.Dia berbalik dan berniat meninggalkan tempat ini sampai sebuah suara memanggilnya.

“Mom!”

Tiffany menangis dalam diam.Sangat merindukan suara dan panggilan itu ditujukan untuknya.

“Mommy mau kemana? Mommy mau meninggalkanku? Seo hyun Oemma sudah pergi, Mommy juga ingin pergi?…”

“Mommy tidak sayang padaku lagi, eoh? Tidak ada yang sayang padaku lagi…”

Jessica menangis hebat saat Daniel datang dan memeluknya.Begitu pula Yoona yang ada dipelukan Si won.

“Jadi benar, Mommy tidak sayang padaku lagi?….”tanyanya dengan nada pilu.Tiffany mencengkram dadanya sambil menggeleng.Demi Tuhan, dia menyayangi anak itu seperti sebelumnya dan tidak akan berkurang sedikit pun.

Lauren berlari mendekati Tiffany yang masih diam memunggunginya.Dia berlutut dihadapan wanita itu dengan wajah yang basah oleh air mata.

“Aku tahu aku bukan anak Mommy.Anak Mommy hanya Danny Oppa tapi jebal, jangan membenciku.Aku sangat menyayangi Mommy…”Si won mengangkat wajahnya menatap langit.Tak sanggup melihat pemandangan yang ada dihadapannya sekarang.

“Mom, Oemma sudah pergi.Kalau aku tidak tinggal dengan Mommy aku tinggal dengan siapa.Ijinkan aku tinggal denganmu, Mom.Aku janji tidak akan jadi anak manja lagi.Aku bisa mandi sendiri, makan sendiri dan memakai baju sendiri.Aku juga tidak akan mengganggu Danny Oppa lagi.Mommy…”

Lauren memohon.Wajahnya mendongak menatap wanita dihadapannya.Tatapan mereka bertemu.Dia bisa melihat kalau tatapan itu masih lembut, hangat dan penuh kasih sayang seperti sebelumnya.

“Mom…”

Senyum Lauren terukir indah saat wanita itu membalas hangat senyumnya.Tak lama dia sudah berpindah ke dalam dekapan hangatnya.Tiffany menangis haru.Sangat bahagia bisa memilikinya kembali.Beberapa saat suasana pemakanam itu hanya di isi oleh tangisan.Baik itu dari Tiffany, Lauren, maupun Jessica dan Yoona.

“Sebaiknya kita pulang, sudah mulai gelap….”ucap Dong hae mengingatkan.

***Sifany***

Tiffany menyelimuti Lauren yang sudah terlelap.Tangannya perlahan merapikan anak rambut gadis kecil itu yang menutupi sebagian matanya.Air matanya kembali jatuh.Sungguh, dia tidak pernah membayangkan jika anak yang selama ini dia besarkan dengan penuh kasih sayang ini bukanlah darah dagingnya.Tapi demi Tuhan, rasa sayang yang selama ini dia berikan tidak berkurang sedikit pun.

“Tiffany?…”

Tiffany dengan cepat menghapus air matanya.Setelah itu dia segera bangkit dan melangkah menemui Si won diambang pintu.

“Ne, Oppa….”

Si won menatap wajah cantik dihadapannya lebih dekat.Dia tahu wanita itu habis menangis.

“Kau habis menangis?…”Tiffany menggeleng dengan memamerkan senyumannya.

“Jjeongmal?…”Si won menatapnya lekat.Tiffany menatapnya dengan mata berkaca-kaca.Detik kemudian dia menghambur ke pelukan Si won dan menangis hebat disana.

***Sifany***

Flashback

Si won menggenggam tangan Tiffany erat.Wanita itu tetap memejamkan matanya sejak 3 hari yang lalu.Membuat Si won memarahi dirinya sendiri.Semua ini salahnya.Salahnya tidak mengantar Tiffany ke kamar mandi hingga istri tercintanya terjatuh dalam keadaan hamil besar.

Belum lagi kenyataan pahit yang harus mereka terima.Bayi perempuan yang harusnya dilahirkan seminggu lagi itu meninggal akibat benturan yang cukup kuat saat Tiffany terjatuh.Ditambah lagi kondisi Tiffany yang kritis.Apa yang harus dia katakan saat wanita itu terbangun dan menanyakan bayinya? Si won menitikkan air mata.Semua ini jelas salahnya.

“Bangunlah, Fany-ah.Kau sudah tiga hari seperti ini.Kau tidak merindukanku dan Danny?…”Si won mengusap kepala Tiffany dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tetap menggenggam tangan Tiffany dengan hangat.

“Tiff, bangunlah atau aku akan menculik Danny dan tidak akan mengembalikannya lagi, arra?…”ancam Jessica.Berharap sahabat baiknya itu akan memberikan respon.

“Ya, Babo! Kau mendengarkanku? YA!”Dong hae menenangkan Jessica yang mulai menangis.

“Sudahlah, Tiffany akan baik-baik saja…”

Tok Tok Tok

Dong hae dan Jessica menoleh saat pintu ruang inap Tiffany terbuka diikuti Si won.Tampak oleh mereka seorang wanita muda masuk dengan bayi mungil digendongannya.

“Mianhamnida, jika aku mengganggu kalian…”

Jessica menghapus air matanya lalu menatap suaminya, Dong hae.Seakan bertanya siapa wanita itu.

“Maaf sebelumnya, aku Seo hyun.Aku sudah mendengar  tentang kondisi Tiffany-ssi dan bayinya.Aku juga melahirkan dihari yang sama dengan Tiffany-ssi…”Ketiganya menatap wanita muda itu tak mengerti.

“Karena aku tidak memiliki siapa-siapa dan tidak bisa merawat bayi ini, bisakah kalian merawatnya?….”

“Mworagu?!”pekik Jessica.

“Kau ingin membuang bayimu, oeh? Ibu macam apa kau ini?…”Wanita itu tersenyum menatap bayi yang tertidur pulas digendongannya.

“Aku memang Ibu yang buruk untuknya tapi hanya ini yang bisa ku lakukan…”

“Kau bawa saja, kami tidak butuh…”suruh Jessica.Wanita itu terdiam.Namun tak lama kemudian dia membungkuk bersiap untuk pamit.

“Tunggu…”Tiba-tiba Si won bangkit dan mendekati wanita yang masih menggunakan seragam pasien itu.

“Kami akan merawatnya…”ucap Si won.

“Oppa, kau gila!”Jessica terlihat tidak terima dengan keputusan Si won.

“Ini yang terbaik, Sica.Kau ingin melihat kondisi Tiffany lebih buruk lagi? Menurutmu apa yang akan terjadi saat dia bangun nanti lalu mendengar bayi yang dikandungnya sudah tiada.Aku tidak sanggup, Sica-ya…”

“Tapi…”

“Sudahlah.Si won pasti sudah memikirkannya…”ucap Dong hae menenangkan Jessica.

Si won mengambil bayi itu dari gendongan Seo hyun dan tersenyum menatap wajah mungilnya.

“Siapa namanya?….”

“Lauren, tapi kalian bisa menggantinya jika kalian mau…”

“Kami juga akan memanggilnya Lauren…”

Wanita itu menatap Si won dengan pandangan terima kasih.Dia sangat yakin kalau putrinya akan baik-baik saja jika dibesarkan oleh keluarga ini.

“Gumawoyo Tuan, tapi…apa aku boleh meminta sesuatu padamu?…”ucapnya agak ragu.Jessica melirik wanita itu kesal.

”Aku mohon, kau bersedia menyekolahkanku di Paris.Aku ingin melanjutkan sekolah fashionku disana….”

“Apapun akan ku berikan.Tapi mulai saat ini Lauren sudah menjadi milik kami…”Wanita itu menatap wajah damai bayinya.Hatinya menjerit.Merasa sangat berat tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.Dia tidak akan sanggup membesarkan anak itu seorang diri diusia semuda ini.

“Sekretarisku akan mengatur semuanya…”

“Oppa!”

“Jess, tenanglah…”Jessica menghela nafas kasar dan melepaskan tangan Dong hae darinya.Kenapa dua pria itu setuju untuk membohongi Tiffany.

“Kalau begitu aku permisi…”ucap wanita itu membungkuk sebelum meninggalkan ruangan Tiffany.Saat pintu tertutup, bayi itu menangis.Sangat kencang sampai Seo hyun yang sudah berada diluar mendengarnya.

“Maafkan Oemma, sayang…”lirihnya.

Makin lama tangisnya makin kencang.Membuat siapapun tidak akan tega membiarkan bayi secantik itu menangis terlalu lama.Jessica bersiap untuk mengumpat namun tertahan ketika matanya menangkap sesuatu.

“Oppa, Tiffany!”

Si won dan Dong hae segera mendekati ranjang Tiffany.Tampak tangan wanita itu perlahan bergerak dan matanya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya terbuka sempurna.

“Oppa…bayiku…”

Sesaat Si won, Dong hae dan Jessica saling pandang.Akankah mereka melakukan kebohongan ini demi Tiffany?

Flashback End

Si won meraih tissue dari meja nakas disebelah ranjang.Dihapusnya air mata Tiffany dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya merangkul pinggang ramping wanita itu agar tak jauh-jauh darinya.

“Kau sudah selesai?…”Si won bertanya saat tak melihat air mata lagi membasahi pipi mulus istrinya.Tiffany mengangguk dan tersenyum.

“Mianhe, Oppa.Aku sangat cengeng, kau pasti membenciku…”Si won melebarkan matanya.

“Aku membencimu? Siapa yang bilang, oeh?…”Si won pura-pura marah.Tiffany hanya tersenyum kecil mendengarnya.

“Jadi, saat aku kristis 3 hari pasca melahirkan, Seo hyun-ssi datang ke kamarku?…”

Tiffany bertanya usai mendengarkan cerita panjang dari Si won.Mulai dari dirinya yang terjatuh dikamar mandi -yang mengakibatkan anak yang harusnya dilahirkan seminggu lagi meninggal karena benturan jatuhnya cukup keras- hingga Lauren bisa sampai kedalam pelukannya.

“Hm, seperti yang ku jelaskan tadi.Dia mendengar dari para suster rumah sakit.Putri kita meninggal dan kau tidak kunjung sadar.Karena dia juga melahirkan seorang putri dihari yang sama denganmu dan dia tidak mampu untuk mengurusnya karena dia masih muda dan kekasihnya meninggal dalam sebuah kecelakaan beberapa minggu sebelum kelahirannya jadi…dia memberikan Lauren padaku…”

“Awalnya Jessica menolak keputusanku untuk menerima Lauren.Namun saat Seo hyun keluar dari ruang rawatmu, Lauren menangis.Sangat kencang, hingga Jessica melihat tanganmu bergerak dan matamu terbuka.Saat itulah, Jessica menyayangi Lauren seperti Danny karena dia menganggap Lauren sudah menyelamatkan hidupmu.Begitu pula denganku, aku menyayanginya seperti anakku sendiri…”

Si won kembali menghapus air mata yang kembali mengalir dipipi Tiffany.

“Maafkan aku, aku tidak berhati-hati hingga terpeleset dikamar mandi hingga bayi yang seharusnya kulahirkan meninggal.Tapi aku bahagia karena Tuhan menggantinya dengan Lauren.Aku juga menyayanginya seperti anak yang kulahirkan sendiri, Oppa…”

“Hm, aku tahu.Mian, seharusnya aku mengatakannya dari awal…”sesal Si won.Dirapikannya anak rambut yang menutupi mata Tiffany dan menyampirkannya pada telinga wanita itu.

“Gwenchana, Oppa.Aku tidak pernah menyesalinya.Walau bagaimana pun, Tuhan sudah menitipkan Lauren pada kita dan kita harus menjaganya dengan baik.Andai aku sempat bertemu dengan Seo hyun-ssi, aku ingin mengucapkan maaf dan terima kasihku padanya …”

“Dia juga sangat berterima kasih padamu…”

“Jjeongmal?…”kaget Tiffany.

“Ku pikir dia membenciku.Waktu itu aku sempat menamparnya…”

“Aniyo, dia sempat sadar sebelum akhirnya pergi.Dia berterima kasih padamu karena Lauren tumbuh dengan baik dan cerdas…”

“Itu sudah tugasku, aku Mommy-nya…”ucap Tiffany pasti.

“Dia juga minta maaf karena membuatmu terluka atas semua kejadian ini.Seo hyun-ssi juga berharap kalau kau tidak akan membenci Lauren karena dia bukan putri kandungmu.Sebagai permintaan maaf dan terima kasihnya dia menyerahkan semua harta yang ia peroleh selama ini padamu dan Lauren…”

Si won tersenyum lembut.Kembali diraihnya tissue saat air mata Tiffany kembali jatuh.

“Kau selalu menangis, Fany-ah….”

“Ini karena aku bahagia, Oppa…”

“Ku harap ini yang terakhir kalinya.Aku tidak ingin istriku membuang air matanya lagi, hm?….”Tiffany mengangguk.

“Asal besok tidak ada lagi wanita lain yang datang dan mengakui Danny-ku adalah putranya dan suamiku adalah suaminya.Aku bisa gila, Oppa…”Si won menatap mata indah itu lekat.

“Mworagu?…”Tiffany menggeleng dan tersenyum saat Si won menatapnya tajam.

“Perlu ku pertegas Nyonya Choi, Danny murni darah dagingku dan lahir dari rahimmu…”jelas Si won dengan sedikit emosi.Apa-apaan itu? Apa dia akan membuat kesalahan yang sama dua kali?

“Dan aku? Oh Tuhan, Tiffany.Berapa kali ku bilang hanya kau wanita yang ku cintai dunia ini.Dan tidak pernah berniat untuk menduakanmu, arasso?…”Si won gemas sendiri dibuatnya.

“Aku tahu…”ucap Tiffany seraya berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.Memejamkan matanya bersiap untuk tidur.Mengacuhkan Si won yang hanya menatapnya dengan tawa pelan.

“Tiffany…”

“Sudah malam, Oppa.Sebaiknya kita tidur…”suruh Tiffany.Pria itu tersenyum lembut sebelum ikut berbaring memeluk Tiffany.

***Sifany***

Lauren memandangi dua figura yang ada dimeja belajarnya.Yang satu adalah gambar sang Mommy dengan eye-smile cantiknya dan satunya lagi gambar sang Oemma.Sekarang ia mengerti kenapa dia tidak memiliki eye-smile seindah itu.

“Oemma, Oemma ada disurga, bukan? Aku pasti akan merindukan Oemma tapi aku tidak akan sedih.Kata Daddy, Oemma akan selalu disini untuk menjagaku…”Lauren memegang dadanya dan tersenyum.

“Mom, gumawo karena masih menyayangiku…”

“Oemma, Mommy, I love You…”

Anak itu mencium dua fotonya bergantian.

Tok Tok Tok

“Annyeong….”Lauren tersenyum saat sebelah tangan melambai padanya.Tak lama muncul sosok Daniel.Anak laki-laki itu masuk dan ikut duduk dipinggir ranjang bersama Lauren.

“Kau sedang apa?….”tanya Daniel, Lauren hanya menunduk sambil memeluk boneka pororonya.Daniel yang tak biasanya melihat ekpresi itu dengan jahil merebut boneka itu dari Lauren.Anehnya, anak itu tidak merengek seperti biasa.Hanya diam dan pasrah saat mainannya direbut Daniel.

“Kau tidak ingin merebut boneka ini dari Oppa?…”tanya Daniel penasaran.Lauren hanya diam.

“Aku tidak akan mengganggu Oppa lagi….”ucapnya pelan.

“Wae?….”

“Karena aku bukan anak Mommy dan Daddy, aku juga bukan adik Oppa, kan? Jadi semua yang ada disini milik Oppa, bukan milikku.Aku juga tidak akan mengganggu Oppa lagi, Oppa boleh main sesukanya dengan Mommy…”

“Siapa bilang? Lauren anak Mommy dan Daddy, juga adik Oppa…”Lauren mendongak untuk menatap wajah Oppanya.

“Kenapa kita harus sedih.Harusnya kita senang karena kita punya banyak orang yang sayang dengan kita.Kita punya  Mommy dan Daddy, kita punya Sica Oemma dan Dong hae Appa, ada Yoona Auntie juga Seo hyun Oemma….”Lauren tersenyum senang.

“Oppa juga sayang dengan Seo hyun Oemma?…”

“Tentu, Oemma-mu kan Oemma Oppa juga….”Lauren tersenyum.Dia bangkit dari duduknya dan memeluk kakak laki-lakinya itu dengan sayang.

Tiffany yang berada didepan pintu tersenyum haru melihat keduanya.Air matanya yang baru mengalir jatuh langsung diusap oleh seseorang.Siapa lagi kalau bukan Si won.

“Kau menangis lagi, Nyonya Choi…”

“Mian…”ucap Tiffany.Si won memeluknya dari belakang dan ikut melihat ke arah pandang Tiffany, kamar Lauren.Dia ikut senang melihat Daniel yang tengah menemani Lauren bermain.

“Sepertinya Seo hyun-ssi benar, Lauren lebih mirip dengannya dari pada denganku…”Si won tersenyum dan mencium pipi Tiffany.

“Secara fisik dia memang lebih mirip dengan Seo hyun.Tapi untuk kepribadian dia lebih mirip denganmu.Entah kenapa semua sifatmu ada padanya.Kalian sangat percaya diri, kadang keras kepala, egois, mudah merajuk dan pencemburu.Aigo…”Tiffany tersenyum.Dalam hati dia mengiyakan ucapan suaminya tersebut.

“Sepertinya aku mewariskan semua sifat buruk padanya…”Si won terkekeh dan kembali mencium pipi kenyal istrinya.

“Dia manis dan cerdas sepertimu…”Tiffany menoleh dan ikut tersenyum.

“Kajja, sebaiknya kita turun…”

***Sifany***

Lauren turun ke lantai bawah setelah Daniel memanggilnya untuk turun.Setibanya disana, mata kecilnya memperhatikan 3 orang yang asyik bercengkrama dimeja makan dari jauh.Dia merasa seperti orang asing disini.Dia bukan anak dari pasangan serasi yang tengah tertawa bersama seorang anak laki-laki tampan berusia 9 tahun itu.Dulu, dia tidak akan membiarkan Oppanya terlalu bermanja-manja dengan pasangan itu karena dia hanya ingin dia yang diperhatikan.Tapi sekarang dia tidak akan melarangnya.Lagi pula dia tahu kalau rasa sayang yang diberikan keduanya masih sama, tidak berkurang sedikit pun.

“Lauren?…”Lauren mendongak ketika suara lembut Tiffany memanggilnya.

“Apa yang kau lakukan disana, sayang? Kemarilah, Mommy baru membuatkan pancake kesukaanmu…”Kaki kecil Lauren melangkah dengan pelan.Dia ingin duduk dikursinya sendiri tapi Si won malah menggendongnya hingga dia duduk dipangkuannya.

“Ayo, kita coba pancake buatan Mommy…”Lauren mengangguk saja.Dia disuapi oleh Si won sementara Tiffany menyuapi Daniel.

Lauren menunduk.Meski dia iri melihat kebersamaan itu tapi dia tidak akan mengganggu Oppa-nya lagi.Bukankah keduanya pasangan Ibu dan anak? Tentu sangat akrab.

Si won tersenyum kecil.Sangat mengerti apa yang tengah dipikirkan anak itu sekarang.

“Sepertinya senyum putri Daddy menghilang akhir-akhir ini…”

“Jjeongmal?…”tanya Tiffany dengan senyum lebarnya.Dia mendekat dan menggendong Lauren dalam pangkuannya.

“Buka mulut baby, Mommy akan menyuapi pancake terenak didunia.Hanya untukmu…”Lauren tersenyum menatap wajah cantik yang ada dihadapannya.Diciumnya pipi mulus itu sekilas sebelum akhirnya membuka mulutnya menikmati pancake lezat itu.

“Anak pintar…”ucap Tiffany mengacak pelan rambut Lauren.

Ting Ning

Bunyi bel terdengar.Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan muncullah sosok Jessica dan Dong hae disana.

“Sica Oemma?…”

Daniel bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan pasangan itu.Mereka masuk keruang makan dengan Dong hae merangkul Jessica dan Jessica merangkul Daniel.Terlihat seperti sebuah keluarga kecil bahagia, bukan?

“Duduklah, Hyung.Kita makan bersama…”ucap Si won mempersilahkan.

“Gumawo, Si won-ah.Tapi aku kesini untuk menyampaikan kabar bahagia pada kalian semua…”Tiffany yang asyik menyuapi Lauren mendongak.Sedikit penasaran karena dia melihat Dong hae begitu bahagia.

“Apa itu, Oppa?….”tanya Tiffany.Dong hae melirik Daniel dan Lauren bergantian.

“Danny, Lauren, sebentar lagi kalian akan punya adik selain adik Min ho dari Yoona Auntie…”

“Jjinja?…”tanya Daniel dan Lauren senang yang disambut anggukan Dong hae.Tiffany berdiri dari duduknya dan mendekat ke tempat Jessica.

“Jjeongmal? Kau hamil?….”Jessica mengangguk manis.Tiffany tersenyum bahagia begitu pula dengan Si won.

“Wae?….”tanya Tiffany.Berita bahagia ini cukup mengejutkan mengingat Jessica anti dengan kata hamil dan melahirkan.Dan tentu, pertanyaan itu membuat Jessica mendecak sebal.

“Bisakah kau tidak bertanya kenapa? Harusnya kau mengucapkan selamat dan mendoakan keselamatanku dan calon bayiku.Aish, kau tidak perngertian sekali…”cemberut Jessica.Tiffany kembali tersenyum dan memeluk sahabatnya itu.

“Cukkhae, Sica-ya.Aku ikut senang.Jaga dia baik-baik, ne?…”

Jessica mengangguk dan tersenyum dibahu Tiffany.Tiffany melepas pelukannya saat melihat koper besar yang ada dibelakang Jessica.

“Kenapa kalian membawa koper?…”tanya Tiffany bingung.

“Kalian akan kemana, Oppa?…”tambahnya lagi seraya menatap Dong hae.

“Aku akan tinggal disini sampai waktu yang belum ku tentukan…”jawab Jessica.

“Mwo? Wae?…”Tanya Tiffany.

“Aku harus mendapatkan aura yang baik selama masa kehamilanku.Dari sekian banyak tempat didunia, rumahmu yang ku pilih…”terang Jessica.

“Alasannya?…”

“Tidak ada alasan yang terlalu khusus.Aku hanya ingin disini…”

“Karena pelayan gratis maksudmu?….”sindir Tiffany.Jessica tertawa mengiyakannya.

“Kau ingin calon bayiku tumbuh dengan baikkan, Tiff.Jadi tolong kerja samanya…”Tiffany mendengus karenanya.

“Baiklah, kau boleh tinggal disini….”putus Tiffany.Jessica bersorak riang.

“Aigo, kalau anakku yeoja pasti cantik, elegan dan berkharisma sepertiku dan baik hati sepertimu.Kalau namja dia akan semanis Dong hae Oppa dan setampan Si won Oppa, hm?…”Tiffany tertawa mendengarnya.

“Kenapa anakmu harus mirip denganku dan Si won Oppa?…”

“Memangnya kenapa, tidak boleh?…”Tanya Jessica.Tiffany mendengus pelan.

“Danny, Oemma akan menemanimu mulai sekarang.Kajja…”Jessica menarik Daniel.

“Lauren, kau boleh main sesukanya dengan Mommy-mu karena Oemma akan menculik Oppamu.Danny, kajja, temani Oemma….”

Jessica meraih tangan Daniel dan kopernya menuju kamar Daniel dilantai atas.Tiffany yang ditinggal pun hanya menghela nafas dalam rangkulan Si won.

“Aigo, aku akan menjadi Mommy dari empat orang anak…”gumannya yang langsung disambut senyum Si won dan Dong hae.

“Ada apa dengannya, Oppa?…”tanya Tiffany pada Dong hae.

“Molla.Yang jelas dia berkata ingin menjadi wanita yang sempurna dengan melahirkan seorang anak…”Tiffany tersenyum memperhatikan Jessica dan Daniel yang sudah sampai ke lantai atas.

“Setidaknya dia sudah berubah…”ucap Tiffany senang.

“Maaf, sepertinya dia akan merepotkan kalian dalam beberapa hari kedepan…”ucap Dong hae merasa tak enak.

“Kapan dia tidak pernah merepotkanku…”cibir Tiffany.Si won tersenyum dan merangkulnya sayang.

“Gwenchana Hyung, Jessica akan baik-baik saja selama dia berada disini…”ucap Si won.Dong hae berterima kasih sebelum akhirnya pamit.

***Sifany***

Tiffany menatap Jessica yang duduk diseberangnya dengan kening berkerut.Wanita yang tengah hamil muda itu beberapa menit yang lalu menyuruhnya untuk menyiapkan salad.Namun beberapa detik yang lalu sudah menyeretnya ke ruang tengah ini.

“Ada apa, Sica-ya.Aku harus menyiapkan makanan untukmu agar bayimu sehat…”ucap Tiffany.Sejak tadi Jessica hanya menunduk diam sambil memainkan jarinya.

“Tiff…”

“N…ne…”Tiffany menatap Jessica yang tampak menghela nafas pelan.

“Sebenarnya, ada yang ingin ku katakan padamu…”

“Sepertinya serius sekali…”sela Tiffany melihat bagaimana tegangnya Jessica sekarang.

“Sebenarnya, Danny…”

“Huh? Ada apa dengan Danny-ku?…”Jessica menggigit bibir bawahnya lalu menatap Tiffany.

“Sebenarnya, Danny itu…anakku…”

“Arra.Kau selalu mengatakan itu…”respon Tiffany santai.

“Dia putraku, Tiff.Aku yang melahirkannya…”jelas Jessica.Tiffany menatapnya lekat.

“Kau yakin?…”Jessica mengangguk cepat.

“Ne.Dia putraku dan Si won Oppa….”

“Hahaha…”

Tiffany meledak dalam tawanya.Masih dalam kondisi seperti itu ia kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.Sementara Jessica melongo.Matanya tertuju pada dua bocah yang mengintip dari balik tangga.

“Wae?…”tanyanya tanpa suara.Dua anak itu mengangkat bahu.

“Aish, Jjinja! Padahal aku sudah berlatih semalaman.Apa aktingku seburuk itu?….”

“Kau menyebutkan point yang sangat fatal, Sica-ya…”Jessica berbalik begitu Si won muncul.

“Salah? Dimananya?….”

“Mungkin Tiffany akan tertipu jika kau mengatakan Danny adalah putramu dan Dong hae tapi kau malah menyebut namaku…”

“Bukankah itu seharusnya lebih extrem?….”Si won tersenyum.

“Dia percaya kalau aku hanya mencintainya…”

“Aish!”Jessica menggerutu.Tiffany muncul dengan mangkuk berisi potongan buah dan sayuran segar yang sudah ia siram dengan minyak zaitun.

“Kemari, Sica-ya.Kau harus makan…”

Jessica yang tengah cemberut tiba-tiba tersenyum.Diraihnya lengan Si won dan menggandengnya mesra.

“Oppa, kau mau menyuapikukan?….”Jessica memainkan matanya manja.Tiffany yang melihat itu mencibir pelan.

“Setelah merebut putraku kau juga ingin merebut suamiku, begitu?….”Tiffany menarik Jessica dan mendudukkannya disofa.

“Tapi Tiff, bayiku ingin disuapi Si won Oppa…”

“Berhenti bersikap manja.Kau harus berperilaku baik agar nanti saat lahir bayimu juga sehat…”

“Bayiku baik-baik saja, Tiff…”

“Berhenti protes atau aku akan menyuruh Dong hae Oppa menjemputmu…”Jessica mengerucutkan bibirnya.

“Mom, biar aku saja yang menyuapi Oemma…”Jessica tersenyum lebar.

“Thanks boy, kau yang terbaik…”Jessica dengan cepat merebut mangkuk salad itu dari Tiffany dan membawanya beserta Daniel kelantai atas.

“Oh ya, sebantar lagi makan malam, bukan? Untukku siapkan soup dan lemon dengan madu hangat saja…”suruh Jessica sebelum menaiki anak tangga bersama Daniel.

Tiffany yang ditinggal tampak menghela nafas.Si won mendekat untuk memeluknya dengan sayang.

“Dia benar-benar berniat untuk menyiksaku, Oppa…”Si won hanya tersenyum.Tahu kalau sebenarnya Tiffany sama sekali tidak keberatan atas sikap sahabat baiknya itu.

Lauren yang dari tadi hanya diam mendekat ketempat pasangan itu.Daddy dan Mommy-nya.

“Mom, Kajja.Kita buatkan makanan untuk Oemma…”ajaknya.Tiffany tersenyum lebar disertai eye-smilenya yang indah.

“Aigo, anak Mommy pintar sekali.Kajja…”

Tiffany meraih tangan kecil Lauren dan membawanya kedapur.Beberapa saat kemudian keduanya sudah asyik dengan tugas mereka.Tiffany dengan kompornya sementara Lauren mencuci sayuran diatas kursinya.

Semenjak Jessica tinggal bersama mereka, keduanya memang selalu menghabiskan waktu bersama karena Jessica yang mengurus Daniel.Hal itu membuat Lauren yang beberapa waktu lalu sempat canggung kembali seperti semula.

Si won tersenyum.Melihat Tiffany dan Lauren bercengkrama dan tertawa seperti dahulu membuatnya sangat senang dan berterima kasih pada Tuhan.

`Kau tidak perlu khawatir, Seo hyun-ssi.Kami akan menyayangi dan menjaganya dengan baik.Aku berjanji`

END

Otte? Mian kalau merasa kurang dapat feelnya.Mian juga jika ada yang merasa judulnya kurang greget, aku emang susah kasih judul buat ff-ku.Tapi seperti apapun hasilnya tetap berikan komentar kalian ya, setidaknya hargailah tulisanku ini, hehe…

Thanks for reading, jangan lupa RCL-nya, Ok? Annyeong…

145 thoughts on “Imposible

  1. sukaaaaaaaaaa… bgt sm ff ini. konfliknya pas, bahasanya jg mudah dipahami.
    fanynya keibuan bgt. sayaaaaaaaaaaaaaangggg bgt sm keluarganya. (meskipun over protective jg sich)
    keep writing ff yang daebak ya author-nim..

  2. huaa author jani ff nya #melting seperti biasa dari awal juga ga pernah berubah you’re my fav author! selalu hadir membawa ff sifany dengan nuansa marriage life ada aja konflik yang bikin greget sendiri udah berkali-kali bikin ff dengan nuansa marriage life dan selalu buat aku melting,kedip-kedip,senyam-senyum sambil ketawa tapi untungnya ga pernah sampai kejang-kejang sih hoho walaupun sempet kecewa karena wp lama sifany di hack tapi untungnya ada ff baru yang jadi penggantinya dan untungnya lagi seneng bisa liat author jani tetep aktif update ff oneshoot dengan nuansa marriage life tentunya dan jujur karya yang selalu aku tunggu ya karya-karya dari author hehe wish u get another idea to make more awesome fanfics,hwaiting!^^

  3. keren abis ffnya!!!..
    ff paling best yg pernah dibaca dari pada yg lain
    tapi feel akhirnya kurang sedikit lg😀.. walaupun kurang dikit tapi keren abis^^

  4. Aduuuhhhhh
    nangis bombay bgt ampe sesenggukan
    sedih bgt cerita’a
    kasian tiff n lauren yg hrs nerima kenyataan bahwa mereka bkn ibu n anak
    yg lebih kasian lauren’a d usia yg sangat muda dy harus nerima kenyataan yg ky gt
    apalagi pas yg dy balik k mommy’a trus merasa asing
    kasian bgt,sedihhhhh

  5. Bagus fanficnya. Sempet pengen nangis, pas baca bagian SeoHyun pengen ngerawat Lauren, lebih sedih lagi pas bagian Lauren Nangis gara – gara SeoHyun Oemma meninggalkan dia untuk selamanya. Sedih tau….

  6. Bgus bngt dh ff’a…
    sedih pas tau klo lauren bukan anak tiffany padahal sifat mereka hampir sma…
    apa lagi pas tiffany terguncang bngt tau klo lauren bukan anak’a…
    Coba pas seohyun meninggal tiffany sempet ketemu dulu…
    sedih pas di pemakaman lauren bilang kaya gtu kepany…
    Pokok’a ditunggu dh karya selanjutnya ya keren…

  7. Thor, kren deh critanya… aku suka bgt. Aku bhkan smpe nangis wktu bgian lauren janji sm tiffany pas di pemakamannya seohyun. Pkoknya daebakkk critanya thor~ pkoknya ff yg lainnya aku tunggu ya… sukses bwt author.

  8. kyaaaaa love deh
    gak nyangka lauren anak seomma. kasihan seomma juga ditinggak kekasihnya meninggal.
    tiffany disini overprotective banget am lauren tpi emang tiffany sangat sayang sm lauren. gak lupa siwon dan danny hehehehee

    jessica lucu ngapain pula pake aktig begitu segala. jatuhnya gatot hahahaa

  9. apaan ini? Hah . . Gag mutu . .bkin aq ketawa ngakak,guling2,sebel tp jg bkin aq nangis, , ,huaaaa #hikz3 nangis.nx berkali2 lagi. .
    Chingu terima kasih kau sudah ciptakan lauren yg bgtu imut,lucu,cemburuan,nakal dan ngegemesin jadi lauren yg mandiri,tegar,kuat dan brtanggung jawab. . Huaaaa kasian lauren,anak tk udah dpet cobaan,dan hebat bisa melewatinx. . Hikz3
    Untung daniel,siwon dan tiff serta haesica,yoona dan seohyun bener2 sayang ama lauren. .
    Jgn merendah chingu,bhkan karyamu ini sangatlah baik,,feell.nx dpet banget malah

  10. Ya ampuunnn,,kren bnget crtnya thor..
    Gua smpek nangis bcanya..
    Ska bnget ma peran fany dsni yg sngat menyayangi lauren,,dan jga lauren yg sngat menyayngi mommy’a jga..n gmes jga liat lauren klw lgi cmbru ma oppanya..
    Dtnggu krya2 lainnya thor..

  11. Jadi lauren bukan putri sifany,melainkan putri seohyun.kasian seohyun terkena penyakit kanker otak stadium akhir dan divonis sisa waktunya hanya sebulan,dan lauren sempat bertemu dgn seohyun dan tinggal bersama,namun akhirnya seohyun meninggal.fany tetap mencintai lauren seperti dulu,walau sempat shock,dan sedih setelah mengetahui kalo lauren bukan putri kandungnya.akhirnya lauren hidup bersama lagi dengan sifany dan juga daniel.
    Sica lucu dehhh…..masa hamil harus tinggal dirumah fany,dan malah bilang rumah fany auranya bagus.hahaha……
    Daebak buat author dan ffnya juga.tetap semangat ya thor.author jjang.sifany jjang.

  12. Bagus alur ceritanya….
    Gwe sempet berlinang air mati ..kasian lihat fanyah sampe tdak bertenaga ditinggal laurine….tp akhirnya keluarga choi kembali bersama lagi…
    Dan ini yg lucu…sica bener” dia bisa”nya kocak gthu tuh orng..smoga fanyah bisa ngetasi teman satunya itu.dechggg….hahahaha….

  13. Gara2 kmren liat anak bos yg masih paud mukanya kena cakar temen sekolah ny jdi ke inget lauren yg suka bertengkar ama temen ny jugA alhasil SI ny diubek ubek lagi demi baca ini cerita.
    Hasil ny ttp aj nggk ngbosenin feel ny ttp masuk, walaupun sudah dibaca berulang kali ttp sempet berlinang air mata. Hahaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s