[Re-Post] Love Story

Love Story

 Love Story

Author : Elsa Mardian

Cast : Choi Siwon, Tiffany Hwang

Other Cast: Jessica Jung, Im Yoon Ah

Genre: Romance

Rating: PG-17

Disclaimer:

All casts belong to their God, parents, and their self. I just borrow their name and character to support my story. Don’t copy this fan fiction without permission.

Awal pertemuan…

Choi Siwon mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi menuju kantornya. Hari ini ia bangun kesiangan sehingga harus terburu-buru pergi bekerja. Sebenarnya tidak masalah jika Siwon terlambat atau absen masuk kantor, karena perusahaan itu adalah milik ayahnya, yang mana sebentar lagi akan menjadi miliknya. Namun Siwon tidak ingin berleha-leha atau menjadi sok penting. Ia adalah tipe namja yang bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Ia juga seorang pekerja keras. Karena dirinyalah perusahaan ayahnya menjadi berkembang pesat seperti saat ini.

Perusahaan keluarga Choi ini sedang menjadi incaran para pemegang saham terkemuka di Korea. Mereka berebut ingin bekerja sama dengan perusahaan Choi. Bahkan tidak jarang para pemegang saham itu juga menyinggung-nyinggung soal asmara Siwon. Mereka ingin sekali menjadikan Siwon sebagai menantu. Keuntungan lainnya, perusahaan mereka juga mendapatkan keuntungan yang sangat besar.

Akan tetapi, Siwon tidak tertarik sekali dengan hal seperti itu. Ia selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memperhatikan kehidupannya sendiri. Eomma dan Appa nya saja heran! Siwon itu tampan, pintar, kaya raya, dan nyaris sempurna. Tetapi ia sama sekali tidak berminat dengan lawan jenisnya. Memang ada beberapa gadis yang sempat dekat dengannya, namun akhirnya para gadis itu menyerah karena Siwon lebih mementingkan pekerjaannya.

Terkadang Siwon sempat berfikir tentang pernikahaan. Ia ingin menemukan gadis yang tepat dan membentuk keluarga yang bahagia. Gadis yang pengertian, lemah lembut, dan mencintai dirinya. Sigh, Siwon jadi tersenyum-senyum sendiri. Mungkin ia akan menemukan cinta sejatinya. Secepatnya. Ya, mungkin sebulan lagi, setahun lagi, atau….

CIIIIIIIIIIIIIIIITTT!!!!

Siwon terpaku dan napasnya terasa berhenti. Ia baru saja menabrak seseorang! Untuk sesaat Siwon masih terdiam dan baru menyadari keramaian dalam waktu sepersekian detik. Siwon buru-buru turun dari mobilnya dan melihat tubuh kurus seorang perempuan tergeletak tepat di depan mobilnya. Siwon berdiri kaku, sementara orang-orang sudah ramai berkumpul.

Apa gadis itu baik-baik saja? Pelipis gadis itu tampak mengeluarkan darah segar. Oh Tuhan!

“Hei, apa yang kau lihat? Cepat bawa gadis ini ke rumah sakit!” bentakan orang di dalam kerumunan membuat Siwon tersadar.

“N-ne.”

Siwon menyentuh wajah lembut gadis berambut hitam itu dan merasakan hembusan napasnya yang pelan. Siwon menelan ludah. Ia segera menggendong tubuh gadis tersebut dan membawanya masuk ke dalam mobil.

Sepertinya hari ini akan berjalan…kacau!

Siwon telah menghubungi Appa nya kalau ia tidak bisa menghadiri rapat pagi ini. Ia juga telah memberitahu tentang kecelakaan yang disebabkannya. Beruntung Mr. Choi mau mengerti dan menyuruh Siwon untuk menunggui gadis itu. Sudah dua jam Siwon menunggu di depan ruangan ICU, namun dokter yang menangani gadis itu belum kunjung keluar. Sepertinya keadaan gadis itu tidak baik. Karena Siwon melihat gadis itu terluka parah.

Dan akhirnya dokter pun keluar. Siwon bergegas menghampiri dokter yang bernama dr. Kim itu.

“Bagaimana keadaannya, Dokter? Apa dia baik-baik saja?”

Dokter Kim menghela napas berat. “Mari kita berdoa semoga dia baik-baik saja. Kepalanya terkena benturan cukup keras. Namun untung saja tidak parah. Kepalanya diperban untuk menghentikan pendarahannya. Mungkin ia akan sadar beberapa jam lagi. Sekarang ia masih tak sadarkan diri.”

Siwon merasa beban berat di dadanya sedikit menghilang. Ia sangat lega mendengar keadaan gadis itu. Bagaimanapun juga gadis itu menjadi tanggung jawabnya sekarang.

“Kalau saya boleh tahu, siapa nama gadis itu? Apa dia istri Anda?”

“Oh, tidak. Aku..aku yang menabrak gadis itu,” jawab Siwon pelan. Dokter mengangguk mengerti.

“Kalau begitu, saya harap Anda segera menghubungi keluarganya.”

“Baiklah, Dokter Kim. Apakah sekarang saya boleh melihatnya?”

“Silahkan.”

“Terima kasih.”

Siwon pun memasuki kamar rawat si gadis. Tampak tubuh kurus itu terbaring lemah di atas tempat tidur. Kepala dan kedua siku tangannya diperban. Siwon mendekati gadis tersebut. Dadanya naik turun dengan teratur. Siwon mengamati wajah gadis itu dan seketika ia terkagum.

Cantik sekali gadis ini! Ia seperti malaikat. Wajahnya bersih, dengan bulu mata yang lentik, hidung bangir, bibir pink yang mungil dan tulang pipi yang sedikit menonjol. Siapa gerangan gadis cantik ini?

Siwon duduk di samping tempat tidur dan memberanikan diri menyentuh tangan si gadis cantik. Tangan lentik itu begitu hangat dan lembut. Siwon semakin merasa bersalah. Karena dia gadis ini harus terbaring di rumah sakit. Kejadian tadi memang sepenuhnya salah Siwon. Ia tidak melihat lampu lalu lintas berwarna merah dan menabrak gadis ini yang akan menyebrang jalan.

Siwon sangat penasaran ingin mengetahui siapa gadis ini. Ia ingin mengenalnya lebih dekat. Ia ingin gadis ini memaafkan kesalahannya.

Karena terlalu lelah menjaga si gadis cantik, Siwon tertidur di tempat duduknya. Kepalanya diletakkan di sisi ranjang, di dekat tangan kanan gadis itu. Siwon terbangun karena merasakan gerakan halus mengenai rambutnya. Siwon mengusap matanya dan melihat ke arah si gadis. Gadis itu sudah bangun!

Siwon masih menunggu sampai gadis itu bersuara. Ia hanya berdiri siaga di samping tempat tidur dan mengamati wajahnya. Mata hitam gadis itu bulat dan berbinar. Siwon merasa jantungnya berdebar lebih kencang saat melihatnya.

“Ugh, dimana aku?” terdengar suara serak gadis itu.

“Kau sekarang di rumah sakit. Syukurlah, akhirnya kau sadar,” ujar Siwon lembut. Gadis ini sudah 12 jam tak sadarkan diri.

“Ru-rumah sakit? Apa yang terjadi? Kau siapa? Aah, kepalaku sakit sekali,” tukas gadis itu. Siwon segera mengambil air mineral dan membantu gadis tersebut meminumnya.

“Aku Choi Siwon. Sebelumnya, aku minta maaf kepadamu. Tadi pagi, aku tidak sengaja menabrakmu saat di traffic light. Aku mohon, maafkan aku. Aku benar-benar bersalah. Kau boleh menghukumku atau melaporkanku ke kantor polisi agar—“

Tangan gadis itu terangkat dan Siwon langsung berhenti bicara. Ia bisa melihat senyum cantik gadis itu. melihat senyumnya saja Siwon langsung terdiam.

“Tidak apa-apa Siwon-ssi. Jangan meminta maaf kepadaku seperti itu. aku juga bersalah, tidak menengok kanan kiri sebelum menyebrang.”

Siwon tersenyum lega mendengarnya. Gadis ini sungguh baik. Ia tidak marah sedikitpun. Padahal ia sangat pantas marah dan mencecar Siwon.

“Terima kasih, Nona. Hmm, apakah kepalamu masih sakit? Apa harus kupanggilkan dokter?”

“Tidak usah, Siwon-ssi. Aku hanya haus. Boleh aku minta segelas lagi?”

“Tentu saja. Tunggu sebentar.”

Entah kenapa Siwon merasa sangat bahagia bisa mendengar suara gadis itu. Ia seperti mempunyai aura yang sangat tidak biasa. Gadis itu seperti spesial. Siwon memberikan segelas air lagi kepadanya, dan langsung diminum sampai habis. Siwon tersenyum.

“Kalau boleh aku tahu, siapa namamu Nona?”

Gadis tersebut menyerahkan lagi gelasnya ke tangan Siwon dan menyeka mulutnya. “ Ah, ne. Park Tiffany imnida.”

“Tiffany? Wah, nama yang sangat cantik,” puji Siwon tulus. Tiffany tersenyum dan memperlihatkan eye smile yang khas. Hati Siwon bergetar tak karuan.

“Terima kasih. Jarang sekali orang-orang memuji namaku,” ucap Tiffany malu-malu.

“Benarkah? Hmm, berarti mereka tidak mengetahui keindahan yang sesungguhnya,” ujar Siwon. Tiffany menundukan wajah untuk memalingkan semu merah di pipinya.

“Hmm, Tiffany-ssi?”

“Ne?”

“Bolehkan aku tahu nomor telepon Appa atau Eomma mu? Aku harus menelpon mereka. Aku harus meminta maaf,” kata Siwon.

Senyum Tiffany hilang seketika. Ia hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban. Siwon mengernyit, sulit mengartikan apa arti gelengan kepala gadis ini. Entah Tiffany yatim piatu atau bahkan tidak punya siapa-siapa. Pemuda itupun semakin merasa bersalah.

“Apa maksudmu, Tiffany-ssi?” tanya Siwon hati-hati. Ia tidak ingin menyakiti hati gadis ini lagi.

Tiffany menggeleng seraya tersenyum. “Tidak perlu menghubungi orang tuaku, Siwon-ssi. Aku yakin mereka…tidak khawatir.”

Suaranya sangat murung dan raut wajahnya tampak sedih. Siwon ingin tahu ada apa sebenarnya dengan orang tua Tiffany. Tapi karena gadis itu melarang, Siwon mau tak mau harus menghormati privasinya.

“Baiklah, kalau begitu aku yang akan menemanimu disini malam ini,” kata Siwon. Tiffany menatapnya tak percaya. Ia tahu, dari penampilan Siwon kalau pemuda ini bukanlah orang sembarangan. Pemuda ini pasti orang terhormat dan berkedudukan penting. Tiffany bisa melihat dari cara Siwon bergerak dan berbicara.

“Ti-tidak usah, Siwon-ssi. Lebih baik anda pulang dan beristirahat. Aku akan baik-baik saja,” tukas Tiffany lembut. Siwon mengibaskan tangannya di udara.

“Tidak apa-apa. Aku akan tidur di sofa,” ujar Siwon. “Kalau kau membutuhkan sesuatu, jangan segan-segan untuk memanggilku.”

Tiffany terdiam sebentar lalu mengangguk pelan. Jujur ia merasa terkesan dengan kebaikan Siwon. Walaupun Siwon adalah penyebabnya sampai terluka seperti ini, namun Tiffany yakin bahwa Siwon adalah orang baik. Sebelum ini belum ada orang yang memperlakukan Tiffany seperti Siwon.

Apalagi orang tuanya. Mereka selalu menjadikan Tiffany sebagai umpan pemancing kekayaan mereka. Tiffany selalu saja dijodohkan dengan pemuda-pemuda kaya yang kebanyakan brengsek dan playboy. Orang tuanya tidak memikirkan apakah Tiffany setuju atau tidak. Untung saja, Tiffany selalu punya akal untuk kabur dari setiap perjodohan konyol itu.

Dan saat ia akan dijodohkan untuk sekian kalinya, Tiffany kabur dan berujung dengan kecelakaan yang dialaminya tadi pagi. Mungkin sekarang orang tuanya memang mencari dimana keberadaan putri bungsu keluarga Hwang tersebut. Tapi menurut Tiffany lebih baik ia tidak bertemu orang tuanya untuk sementara waktu.

“Kau memikirkan sesuatu? Kalau tidak keberatan, kau bisa cerita padaku,” celetuk Siwon saat melihat Tiffany termenung.

“Tidak juga. Hmm, apa kau bisa dipercaya, Siwon-ssi?” tanya Tiffany ragu. Tapi sekarang ia memang ingin mencurahkan isi hatinya kepada seseorang.

“Kau bisa sangat percaya padaku. Aku berjanji, Tiffany Hwang! Bukankah sekarang kita ini teman?” ucap Siwon dengan gesture tangannya yang khas. Tiffany tersenyum dan menunjukkan eye smile nya.

Tiffany percaya pada Siwon dan memang sudah menganggap pemuda itu sebagai teman barunya. Jadi ia tidak merasa ragu untuk menceritakan keluh kesahnya.

“Aku tidak berani pulang ke rumah, Siwon-ssi,” Tiffany membuka cerita. Siwon yang duduk di samping tempat tidurnya hanya mengangguk kecil, mengisyaratkan untuk melanjutkan cerita.

“Apa penyebabmu tak berani pulang?”

Tiffany menundukkan kepalanya dan Siwon menatapnya cukup lama.

“Mereka pasti akan mengurungku di rumah. Mereka pasti akan menghukumku, Siwon-ssi. Aku selalu membantah perintah yang mereka berikan. Apalagi dengan keadaanku seperti saat ini. Hanya membuat mereka semakin murka,” ujar Tiffany dengan suara lembut.

“Bukannya aku suka membantah. Tapi aku tidak mau dijodohkan hanya demi mendapatkan harta dari laki-laki yang akan menjadi suamiku. Appa dan Eomma sangat terobsesi dengan pemuda-pemuda kaya tapi tidak melihat tabiat mereka terlebih dahulu. Aku sering sekali akan dilecehkan oleh pemuda-pemuda itu. Jika aku mengadukannya, Appa dan Eomma malah memarahiku. Mereka tidak percaya padaku, Siwon-ssi,” lanjut Tiffany.

Siwon tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia sendiri tidak menyangka kenapa hatinya begitu sakit mendengar Tiffany sering akan dilecehkan oleh pemuda-pemuda yang dijodohkan dengannya. Jadi Tiffany hanya menjadi alat penarik harta bagi orang tuanya. Jahat sekali!

Mungkin orang tua Tiffany tidak menyadari betapa spesialnya putri mereka ini. Tiffany sepertinya anak yang sangat lembut, patuh dan baik hati. Siwon tidak habis pikir ada orang tua setamak itu.

“Apa pekerjaan orang tuamu, Tiffany-ssi?” tanya Siwon.

“Appa memiliki sebuah toko elektronik di Seoul. Eomma dulunya seorang guru TK, tapi sekarang hanya mengurus rumah tangga. Sedangkan Heechul Oppa tidak bekerja.”

Siwon mengangguk kecil. “Lalu, apa pekerjaanmu, Tiffany-ssi?”

“Aku mengajar ballet untuk anak usia 6 sampai 12 tahun di Seoul, Siwon-ssi,” jawab Tiffany sedikit bersemu.

Siwon melebarkan matanya. “Kau seorang penari ballet? Wah, itu hebat Tiffany-ssi!”

Tiffany tertawa kecil sambil membungkuk kepada Siwon. “Kamsahamnida.”

“Tiffany-ssi, kalau menurutku kau harus berbicara baik-baik kepada Appa dan Eomma mu. Mudah-mudahan saja mereka bisa mengerti kalau kau tidak suka dijodohkan. Setiap orang tua juga ingin melihat anak mereka bahagia. Bukan hanya bahagia dengan harta, tapi juga bahagia karena kasih sayang suamimu kelak.”

“Wah, Siwon-ssi. Andai saja orang tuaku mendengar kata-katamu barusan,” gumam Tiffany. Siwon terkekeh.

“Atau kau segera mencari seseorang yang pantas kau cintai. Dengan begitu, kau akan menunjukkan kepada mereka kalau kau berhak mencari kebahagianmu sendiri.”

Tiffany tampak berfikir. Siwon jadi bertanya-tanya apakah ada seorang yang dicintai gadis itu saat ini. Aish, kenapa Siwon merasa sewot sendiri?!

“Itulah masalahnya, Siwon-ssi. Aku… belum menemukan seseorang itu,” jawab Tiffany malu-malu.

Siwon menyembunyikan senyumannya. “Benarkah?”

Tiffany mengangguk.

“Kalau begitu, nasib kita hampir sama,” tukas Siwon.

Kening Tiffany mengernyit. Ia tidak percaya kalau Siwon juga sering dipaksa orang tuanya untuk menikah dengan wanita kaya. Karena Siwon sendiri tampak seperti seorang pangeran yang kaya raya.

“Kau juga dijodohkan demi harta? Jeongmal?”

Siwon kembali mengibaskan tangannya. “Ah, bukan. Aku memang selalu dijodohkan oleh Appa. Tapi bukan karena harta. Hanya karena beliau ingin aku tidak terlalu larut dengan pekerjaan. Tapi, sampai saat ini aku selalu menolak dengan gadis-gadis pilihannya, sementara aku juga belum sempat mencari gadis yang tepat untukku.”

Tiffany tertawa. Oh ternyata Siwon tidak dijodohkan demi harta. Mungkin benar Siwon adalah berasal dari keluarga terpandang, tidak seperti dirinya. Tetapi dengan kebaikannya, Siwon menunjukkan kalau status sosialnya tidak berarti apa-apa dalam berhubungan. Buktinya, Siwon rela menemani Tiffany padahal siapa tahu pekerjaannya sedang menumpuk di kantor.

“Mungkin kau benar, Siwon-ssi. Nasib kita sedikit mirip.”

Siwon mengurus kepulangan Tiffany dari rumah sakit dan membantu gadis itu berjalan dengan kursi rodanya. Sebenarnya Tiffany menolak menggunakan kursi roda, tetapi Siwon terus memaksa. Ia tidak ingin Tiffany kesulitan dalam berjalan. Siwon juga bertekad untuk selalu berada di samping Tiffany sampai gadis berambut hitam itu pulih.

“Sungguh, Siwon-ssi. Aku benar-benar tidak memerlukan kursi roda ini. Aku bisa berjalan dengan tongkat,” tolak Tiffany lembut. Siwon mendorong kursi roda Tiffany ke area parkir.

“Sungguh, Tiffany-ssi, aku memaksamu untuk menggunakan kursi ini sampai kau sembuh betul,” balas Siwon cuek.

Akhirnya Tiffany bungkam. Ia menuruti perintah Siwon dan hanya mengangguk saat Siwon berbicara. Selagi mendorong kursi roda Tiffany, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.

Siwon belum pernah merasakan debaran seperti ini ketika bersama seorang gadis. Tiffany adalah satu-satunya gadis yang membuatnya merasa nyaman. Walaupun mereka baru berkenalan sehari yang lalu, namun hati Siwon berkata kalau Tiffany mungkin ditakdirkan untuknya. Tiffany adalah gadis yang baik hati, Siwon dapat merasakannya.

Sementara itu, Tiffany sendiri sudah kagum saat pertama berkenalan dengan Siwon. Meskipun cara pertemuan mereka bisa dikatakan buruk sekali. Namun, melihat ketulusan Siwon, gadis ini menjadi tersanjung. Selama ini ia selalu mengalah akan keegoisan orang lain. Ia selalu bersabar dengan orang yang memanfaatkan dirinya. Atau orang yang selalu meremehkannya. Tapi saat bersama Siwon, Tiffany merasa dihargai dan disayangi.

Tiba di area parkir, Siwon membukakan pintu mobil dan membantu Tiffany masuk ke dalamnya. Kemudian ia melipat kursi roda dan menaruhnya di bagasi. Ia akan mengantar gadis yang baru dikenalnya ini sampai tujuan dan akan meminta maaf secara resmi kepada orang tuanya. Sebelum ini Siwon juga meminta cuti untuk beberapa hari kepada sang ayah, dan untung saja Mr. Choi mau mengerti.

“Kau siap pulang ke rumah?” tanya Siwon saat memasang sabuk pengaman. Tiffany hanya menjawab dengan anggukan.

Siwon pun mengemudikan mobilnya ke alamat rumah yang dikatakan Tiffany. Ternyata gadis ballet ini tinggal tidak terlalu jauh dari apartemen Siwon, di Gangnam. Entah kenapa hal itu membuat Siwon excited.

“Terima kasih, Siwon-ssi.”

Siwon menoleh pada Tiffany sekilas, lalu tersenyum.

“Terima kasih? Untuk apa?”

“Kau sudah berbaik hati menemaniku dari kemarin. Padahal kau pasti orang yang sangat sibuk. Aku, merasa tak enak hati.”

“Gwenchana. Aku sangat senang menemanimu. Lagipula, aku yang harus bertanggung jawab atas semua ini. Aku yang menabrakmu, Fany-ah,” ucap Siwon lembut. Kepala Tiffany mendongak saat mendengar nama panggilan baru untuknya. Fany-ah? Itu bukan panggilan formal lagi. Seketika pipi Tiffany merona merah karena tersanjung.

“Tak apa-apa kan, jika kupanggil Fany?” tanya Siwon yang sepertinya menyadari perubahan ekspresi Tiffany.

“Tidak apa-apa, Siwon-ssi.”

“Kau juga boleh memanggilku Siwon saja. Kita berteman, jangan terlalu kaku.”

Tiffany mengangguk.

Sisa perjalanan mereka habiskan dengan obrolan-obrolan ringan. Siwon sengaja melontarkan beberapa lelucon hanya untuk melihat senyuman Tiffany yang membuat hatinya terasa meleleh. Ia suka melihat cara gadis itu menarik ujung bibirnya saat tersenyum dan mata bulatnya yang berbinar saat berbicara.

Oh Tuhan, sepertinya aku telah jatuh cinta kepada gadis ini, batin Siwon.

“Mm, Fany-ah?”

“Ne?”

“Bolehkah aku minta nomormu? Siapa tahu nanti aku membutuhkan bantuanmu,” alibi Siwon. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya.

“Baiklah. Mana poselmu, biar aku masukkan nomor ponselku.”

Sampai di rumah Tiffany, Siwon membantu gadis itu naik ke kursi rodanya dan mendorongnya masuk ke pekarangan rumah. Rumah Tiffany sangatlah sederhana. Mungkin hanya seukuran ruang aula milik keluarganya. Siwon tidak bisa membayangkan Tiffany tinggal di tempat seperti ini.

“Maaf, rumahku biasa-biasa saja.”

Seolah menangkap raut wajah Siwon yang tak biasa, Tiffany melontarkan kata-kata itu.

“Hei, jangan bicara seperti itu.”

Siwon memencet bel rumah dan menunggu sampai ada orang yang membukanya. Siwon dapat melihat ekspresi cemas Tiffany saat menunggu pintu terbuka. Jelas sekali kalau ia takut jika orang tuanya nanti marah.

Beberapa detik kemudian, pintu di hadapan mereka pun terbuka. Siwon berdiri tegap di samping kursi roda Tiffany. Mereka siap menunggu siapa yang akan berada di ambang pintu.

Seorang wanita paruh baya.

Siwon yakin wanita itu adalah Nyonya Park. Penampilannya sangat menor dan bertubuh sedikit besar. Sangat jauh berbeda dengan putrinya. Rambut coklat wanita itu disanggul ke atas, dengan sebatang rokok di tangannya dan lipstick yang tebal. Mungkin Tiffany mirip dengan ayahnya, pikir Siwon.

“Tiffany?! Apa yang terjadi denganmu?” teriak wanita itu kaget. Matanya yang besar membulat ketika melihat mobil Siwon yang terparkir di depan pekarangan rumah.

“Annyeonghasaeyo, Choi Siwon imnida,” Siwon membungkukkan badan 90 derajat kepada Eomma Tiffany. Mrs. Park balas membungkuk. Ia menatap Siwon penuh minat.

“Eomma. Maafkan aku tidak menghubungimu. Aku takut kalian khawatir,” ujar Tiffany sambil menunduk. Ketika Mrs. Park akan membuka mulutnya, Siwon buru-buru menginterupsi.

“Maaf, Ahjumma. Bolehkah kami masuk? Aku akan menjelaskan semuanya.”

Wajah Mrs. Park berubah cerah. Ia membuka pintu selebar-lebarnya dan memberi jalan untuk Siwon serta Tiffany. Siwon mendorong kursi roda Tiffany hingga ke ruang tamu.

“Si-silahkan duduk, Tuan Tampan,” Mrs. Park mempersilahkan.

“Ani. Panggil saja aku Siwon, Ahjumma,” kata Siwon tak enak hati. Mrs. Park tersenyum malu-malu.

Saat itu, keluarlah seseorang dari kamar. Seorang pemuda dengan rambut paling kuning yang pernah dilihat Siwon. Tubuhnya jangkung dan matanya memakai calak. Mungkin itu adalah Heechul Oppa yang dimaksud Tiffany.

“Hei, bodoh! Kemana saja kau kemarin! Aku sangat kesulitan mencarimu! Apa gunanya ponsel jika kau matikan seharian? Dan kenapa kepalamu itu?” hardik Heechul kepada Tiffany, tanpa menghormati Siwon yang menjadi tamunya!

Siwon sedikit terperangah mendengarnya, sedangkan Tiffany hanya menunduk sambil mengatakan maaf berkali-kali. Dan Mrs. Park terus-terusan memandang Siwon tanpa henti.

Keluarga macam apa ini? Batin Siwon kesal. Ia bahkan belum menjelaskan kenapa Tiffany sampai terluka begini.

“Hei, Heechul. Kau duduklah disini! Jangan mengomel terus. Yang penting Tiffany sudah pulang, diantar oleh Tuan Tampan yang kaya raya ini,” akhirnya Mrs. Park angkat bicara.

Wajah Heechul tiba-tiba melunak dan duduk di samping Eomma-nya. Kesan pertama Siwon sangat tidak baik untuk keluarga Tiffany. Sebenarnya sifat lembut siapa yang ditiru gadis ini? Eomma dan Oppa-nya saja barbar!

“Eeh, sebelumnya aku minta maaf. Kemarin, aku tidak sengaja menabrak Tiffany yang sedang berjalan di trotoar. Aku yang sepenuhnya bersalah atas kejadian ini. Dan tadi malam, Tiffany belum diperbolehkan pulang. Jadi, aku menemaninya di rumah sakit tanpa memberi tahu kalian. Mungkin Tiffany memang tak ingin kalian cemas. Aku harap kalian tidak memarahi Tiffany lagi,” jelas Siwon seraya membungkuk.

Mrs. Park melambai-lambaikan tangannya dengan semangat. Tampak sekali kalau beliau tidak prihatin pada Tiffany.

“Oh, jangan khawatir, Tuan Siwon. Kami akan merawat Tiffany. Kalau boleh tahu, Tuan Siwon bekerja dimana?”

Siwon melirik Tiffany sekilas. Gadis itu masih menunduk. Sedangkan Heechul terus mengawasi adiknya.

“Saya bekerja di perusahaan Choi Corp.”

Mrs. Park menutup mulutnya. Heechul hanya memandang bingung.

“Omo. Apakah kau putra Choi Hyunji? Pemilik Choi Corp yang terkenal itu?!”

Siwon hanya mengangguk lemah. Dilihat dari sudut matanya, Tiffany ikut menoleh. Siwon tersenyum dan balas memandang Tiffany.

“Wah, berarti kau benar-benar kaya!” celetuk Heechul. Siwon tidak bereaksi tentang tanggapan itu.

“Maaf, kalau kalian tidak keberatan, Tiffany sepertinya lelah sekali. Tolong antarkan dia ke kamarnya,” ujar Siwon dengan nada dingin.

“Bagaimana kalau Tuan Tampan saja yang mengantar Tiffany ke kamarnya,” kata Mrs. Park langsung. Tiffany menggeleng kuat.

“Ti-tidak usah, Eomma. Aku bisa ke kamar sendiri. Gwenchana.”

“Aish, Tiffany! Biarkan Tuan Tampan ini yang mengantarkanmu. Sekaligus, mengakrabkan diri,” bisik Mrs. Park licik.

Wajah Tiffany memerah. “Eomma! Dia tidak seperti yang Eomma bayangkan.”

Siwon berdehem dan berdiri. “Baiklah. Dimana kamarmu, Fany-ah?”

Mendengar panggilan itu Mrs. Park dan Heechul tersenyum senang. Akhirnya Tiffany pasrah saja saat Siwon mengantarnya ke kamar. Sedangkan Mrs. Park dan Heechul berbisik-bisik saat Siwon dan Tiffany pergi.

“Kenapa mereka seperti itu, Fany-ah? Mereka bahkan tidak menanyakan keadaanmu,” ujar Siwon lembut saat mereka sampai di kamar Tiffany.

“Mereka mungkin sudah lega karena aku baik-baik saja. Maaf kalau kau merasa terganggu, Siwon-ssi,” ucap Tiffany. Siwon menghela napas berat. Sekarang ia mengerti kenapa Tiffany takut untuk pulang ke rumah ini.

“Apa Appa mu bekerja? Aku tidak melihatnya,” kata Siwon seraya sesekali memperhatikan kamar Tiffany. Semuanya serba pink dan kamar itu sangat nyaman dan bersih.

“Sekarang hari Jumat. Biasanya dia pergi bermain mahyong di rumah Tuan Wook,” jawab Tiffany lalu duduk di tepi ranjangnya.

Mata Siwon melebar. “Kau hilang dari kemarin, Appa-mu malah bermai judi?”

“Itu kan baru perkiraanku saja. Jangan marah begitu,” kata Tiffany murung. Benar juga, kenapa sejak masuk rumah ini Siwon menjadi tempramen begini?

“Mianhae. Nah, sekarang kau beristirahatlah. Apa tak apa-apa jika aku pulang?”

“Ya, pulanglah, Siwon-ssi. Terima kasih untuk semuanya. Maaf merepotkanmu,” ucap Tiffany lalu membungkuk.

“Hei, sudah kubilang ini adalah tanggung jawabku. Dan jangan memanggilku Siwon-ssi lagi. Arraseo?”

Tiffany tersenyum lalu mengangguk.

“Kalau begitu, aku pulang. Minum obatmu secara teratur. Kalau ada masalah, kau boleh menghubungiku kapan saja,” ujar Siwon lagi. Sambil menahan tawa, Tiffany mengangguk. Menurutnya Siwon cerewet sekali.

Siwon memberinya senyuman yang paling manis dan keluar kamar. Sejenak, ia menghela napas berat. Ia merasa berat berpisah dengan gadis itu. apalagi setelah melihat sikap Eomma dan Oppa-nya. Siwon semakin khawatir.

Kemudian, Siwon berjalan pelan ke ruang tamu, tempat ia duduk semula. Namun, ketika mendengar pembicaraan yang sedikit aneh, Siwon berhenti untuk mendengarkan pembicaraan yang terjadi di kamar Heechul. Pintu kamar itu dibiarkan terbuka, jadi Siwon bisa mendengar percakapan antara Heechul dan Eomma-nya.

“Apa Eomma rasa lelaki itu menyukai si bodoh?”

“Eomma rasa begitu. Coba kau bayangkan Tuan Siwon yang tampan dan kaya raya itu menjadi suami Tiffany! Kita juga akan kaya raya. Waah, bagaimana ini! Appa tidak bisa melihat Tuan Siwon sekarang. Chul, apa menurutmu Tuan Siwon akan kembali lagi kesini?”

“Kita akan membuatnya kembali lagi kesini. Kita suruh saja si anak pungut itu menghubunginya. Pasti si kaya itu kembali lagi!”

DEG

Siwon sangat terkejut mendengar kalimat yang dilontarkan Heechul. Tiffany anak pungut??!! Siwon menelan ludah, jantungnya berdebar. Ternyata Tiffany bukan anak kandung keluarga Park. Pantas saja sikap mereka sangat buruk kepada Tiffany. Tiffany digunakan mereka untuk mencari harta kekayaan dari pria-pria kaya tak bermoral. Apakah Tiffany mengetahui hal ini?

Siwon merasa sangat kikuk. Ia tidak tega meninggalkan Tiffany sendirian dengan keluarga kejam seperti ini. Ia harus mencari akal. Ia harus membantu Tiffany untuk KELUAR dari sini. Tapi sekarang ia harus pulang dan berpura-pura di hadapan Eomma dan Heechul.

Siwon berjalan dan sedikit memberatkan langkahnya, agar Mrs. Park dan Heechul tahu kalau ia sudah keluar dari kamar Tiffany. Benar saja, mendengar Siwon berjalan menuju ruang tamu, Mrs. Park dan Heechul buru-buru mengikuti.

“Ah, Ahjumma, Heechul-ssi, saya harus pulang. Saya harap Tiffany meminum obatnya secara teratur. Apa Ahjumma mau membantu saya untuk mengingatkan Tiffany?”

“Tentu saja, Tuan Tampan. Ngomong-ngomong, apa besok kau akan kesini lagi?” tanya Mrs. Park antusias.

Siwon terdiam sebentar. Lalu tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja. Besok saya akan kesini lagi untuk melihat keadaan Tiffany. Apa Ahjumma mengizinkan?”

Mrs. Park dan Heechul langsung tertawa lega. Siwon sudah mengerti maksud mereka.

“Tentu saja kami mengizinkan, Tuan Tampan. Setiap hari juga boleh. Asal kalian berdua semakin dekat,” tukas Mrs. Park.

Siwon tersenyum kecil. “ Kalau begitu, saya permisi!” ucapnya seraya membungkuk.

Siwon memikirkan berbagai cara agar bisa membebaskan Tiffany dari keluarga angkatnya. Jelas sekali mereka hanya memanfaatkan gadis itu. Satu pertanyaan besar bagi Siwon, apakah Tiffany tahu kalau dirinya bukan anak kandung pasangan Park. Mungkin saja Tiffany diadopsi saat ia masih bayi atau dibuang di jalanan dan pasangan Park mengambilnya. Kalau memang begitu, aish! Hidup sangat kejam kepada gadis sebaik dan secantik Tiffany. Siwon benar-benar tidak tega membayangkannya.

Pemuda itu mengambil ponselnya dan mencari nama Tiffany. Ia tersenyum. Gadis itu memasukkan namanya ‘Fany Fany Tiffany^^’. Siwon sangat menyukai keceriaan Tiffany. Gadis yang sangat berbeda dengan gadis-gadis yang telah dikenalnya.

Semenit kemudian Siwon memutuskan untuk mengirim pesan pada Tiffany.

To: Fany Fany Tiffany

From: choi Siwon

Mssg: annyeong J bagaimana keadaanmu? Apakah kepalamu masih terasa sakit?

Siwon menunggu balasan dari Tiffany sambil berharap ia tidak mengganggu waktu istirahat gadis itu. Sekarang baru jam 7 malam. Mungkin gadis tersebut sedang makan malam, atau menonton tivi, atau malah sedang tidur. Aish, apa Tiffany meminum obatnya? Apakah ibu angkatnya yang tamak itu mengingatkannya untuk minum obat dan beristirahat?

Sudah lewat 5 menit tetapi Tiffany belum juga membalas pesannya. Siwon berjalan mondar-mandir di kamar apartemennya seraya menggigit kuku. Pemandangan yang lucu dan jarang terjadi. Seorang Siwon menunggu pesan dari seorang gadis yang baru dikenalnya sampai ia berjalan kesana-kemari seperti anak remaja saja.

“Apakah aku mengganggunya? Aish, kenapa hatiku jadi tak tenang begini?” gerutu Siwon. Ia haus dan berjalan menuju lemari esnya. Namun pandangannya tak lepas dari ponselnya yang terletak di atas ranjang.

Lalu, di saat Siwon akan meneguk air mineralnya, ponselnya berdering. Siwon meletakkan kembali gelasnya dan berlari mengejar ponselnya.

Bukan pesan dari Tiffany, tapi telepon masuk dari sahabatnya Sukkie. Siwon menggerutu sebal dan menjawabnya.

“Yah! Yeoboseyo!”

“Yah! Apa kau perlu menjawab teleponku dengan berteriak-teriak seperti itu?”

Siwon menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Jelas saja ia sewot, karena ia sedang mengharapkan Tiffany yang membalas pesannya, bukan si tengil Sukkie.

“Mian. Ada apa meneleponku?”

“Itu, aku lupa berapa nomor telepon sepupumu. Tolong kirimkan kepadaku, ya!”

Siwon mengernyit. Sepupu yang dimaksud Sukkie pasti Yoona. Tunggu, kapan Sukkie berkenalan dengan Yoona.

“Hei Sukkie, kau mengenal Yoona? Ya, kau tak boleh mendekatinya. Arrata? Dasar playboy!” omel Siwon. Terdengar Sukkie berdecak kesal.

“Aku tidak akan mempermainkan sepupumu, Wonie. Kau tahu, dari dialah aku mengetahui kalau malaikat cantik itu benar-benar nyata,” ujar Sukkie tulus. Siwon berpikir sejenak. Ia sudah bertahun-tahun mengenal Jang Geun Suk alias Sukkie. Memang sih dia terkenal playboy, tetapi pada dasarnya Sukkie adalah pribadi yang sangat baik dan menghormati wanita. Sekarang, Sukkie berbicara tentang Yoona, sepupunya yang baru datang dari Jepang sebulan yang lalu.

“Baiklah, nanti akan kukirimkan padamu. Tapi kau harus berjanji untuk tidak mempermainkannya.”

“Kau pegang janjiku, Won! Kepala tampanku ini taruhannya. Aku tulus ingin menjadi teman dekatnya. Itupun kalau Yoona mau berdekatan denganku. Hahaha!”

Siwon tertawa. Mereka mengakhiri pembicaraan dan Siwon segera mengirim nomor ponsel Yoona kepada Sukkie, sahabatnya. Lalu, sejurus kemudian ponsel Siwon berbunyi lagi. Ada pesan masuk. Ugh, ada apa lagi dengan si Sukkie ini?gerutu Siwon.

Namun, saat membaca nama pengirim pesan tersebut, otomatis mata Siwon melebar. Tiffany!

To: Choi Siwon

From: Fany Fany Tiffany

Mssg: annyeong Siwon-ssi J kabarku baik-baik saja. Kepalaku masih nyeri sedikit, tapi aku sudah minum obat. Gomawo sudah memperhatikanku ^^

Senyum Siwon merekah lebar, membuatnya seperti anak berumur 12 tahun. Sebuah pesan singkat yang mendadak membuat jantungnya berdegup kencang.

Siwon sengaja pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Ia mampir di kedai bunga dan membeli bunga lili pink untuk Tiffany. Ia sangat bersemangat mengemudikan mobilnya menuju rumah gadis yang telah menyabotase pikirannya tersebut. Sudah semalaman ia menyusun rencana ini. Ia tahu ini akan menjadi masalah untuk sementara waktu, tapi Siwon yakin semua pihak akan menyetujui hal ini.

Sampai di rumah Tiffany, Siwon turun dari mobil dengan seikat bunga lili di tangannya. Ia menekan bel di pintu dan menunggu.

“Waah, Eomma! Appa! Lihat siapa yang datang!” seru Heechul tanpa membalas bungkukan Siwon. Benar-benar tidak sopan. Sejurus kemudian keluarlah dua orang lagi dari dalam rumah. Yang satu adalah Mrs. Park dan satunya lagi adalah suaminya.

“Tuan Siwon! Oh, Tuhan memang sayang kepada kita hingga ia mengirimkan malaikat seperti Tuan Siwon ke rumah ini,” seru Mrs. Park.

Ya, tepatnya sumber hartamu.

“Panggil saya Siwon saja, Ahjumma,” Siwon membungkuk hormat kepada Mrs. Park dan suaminya.

“Inikah penolong putri kesayangan kita? Wah, mobilmu bagus. Kau benar-benar orang kaya, Nak!” kata Appa Tiffany seraya menepuk-nepuk bahu Siwon. Siwon hanya tersenyum tipis. Ia melongok ke dalam rumah, mencari-cari keberadaan Tiffany.

“Mm, apakah Tiffany sedang beristirahat? Aku hanya ingin melihat keadaannya,” ujar Siwon kalem. Keluarga ini sedang sibuk mengamati mobil mewah Siwon dan bahkan tidak mempersilakan tamunya masuk!

“Tadi pagi Tiffany berangkat mengajar ballet. Kami sudah melarangnya, tapi ia sangat keras kepala. Apalagi hari ini kami kehabisan stok makanan. Jadi ia pikir ia harus pergi bekerja dan mengambil gajinya,” ujar Mrs. Park dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.

Siwon melongo. Tiffany berangkat bekerja? Apa keluarga ini gila?! Tiffany masih terluka di bagian kepala dan sekarang ia sedang mengajar ballet untuk mengambil gaji?! Ingin sekali Siwon membentak ketiga orang serakah ini.

“Kenapa tak masuk dulu, Tuan Siwon! Ayo, kita makan kimchi di dalam,” ajak Mr. Park.

“Lain kali saja, Ahjusshi. Kalau boleh tahu, dimana Tiffany mengajar ballet?”

 

 

Tiffany memegangi kepalanya yang masih berdenyut. Bahkan sekarang lebih sakit. Oh Tuhan, ia lupa membawa obatnya. Tiffany hanya duduk di ruangan ballet yang cukup luas itu. pelajaran balletnya sudah selesai daritadi dan anak-anak sudah pulang. Kini, Tiffany sendirian di ruangan berkaca itu dengan lampu redup dan denyutan di kepalanya semakin menjadi-jadi. Untung saja ia sudah mengambil gajinya bulan ini dari Ny. Nam.

“Bagaimana ini? Kepalaku sakit sekali. Aku harus cepat-cepat pulang untuk meminum obatku,” gumam Tiffany kesakitan.

Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Heechul Oppa. Ia ingin meminta bantuan Oppa nya itu untuk menjemputnya. Kepalanya semakin berdenyut tatkala mendengar bunyi sambungan telepon. Heechul Oppa tidak menjawabnya.

Tiffany meringis dan mencoba berdiri. Namun tenaganya tidak ada. Tangannya gemetar dan tubuhnya berkeringat dingin. Tiffany mulai meneteskan air mata. Yang ada di pikirannya adalah rumah dan…Siwon!

Entah kenapa, tiba-tiba Siwon memenuhi pikirannya. Ia ingin Siwon ada disini untuk membantunya, menemaninya. Meskipun pria itu baru dikenalnya, ia sudah sangat nyaman dengan keberadaannya.

“Fany-ah! Astaga!”

Tiffany mendengus. Siwon benar-benar menguasai pikirannya sampai-sampai mendengar suaranya saat ini.

“Sepertinya aku sekarat,” desis Tiffany lirih. Namun, orang yang baru saja hadir di ruangan ballet ini memang Choi Siwon!

Siwon segera membantu Tiffany berdiri dan menyandarkan tubuh lemah itu ke dinding cermin. Siwon memegangi pinggang dan pipi gadis itu. Badannya panas dan berkeringat. Siwon menelan ludah. Ia tidak tega melihat Tiffany kesakitan seperti ini.

“Fany-ah. Apa kau sakit?” tanya Siwon lembut. Tiffany mencoba membuka matanya dan tersenyum melihat Siwon.

“Siwon? Benarkah ini kau? Aku kira aku bermimpi,” gumam Tiffany.

Siwon tidak tahan untuk tidak memeluk gadis itu. Bahkan pelukannya sangat erat. Selama perjalanan ke tempat ballet ini Siwon sungguh khawatir dengan keadaannya. Dan benar saja Tiffany memang sedang tergeletak tak berdaya.

“Pabo! Kau masih sakit, kenapa harus pergi bekerja? Kau bahkan tidak boleh banyak bergerak,” omel Siwon seraya mengelus rambut hitam ikalnya.

“Mianhae, Siwon Oppa.”

Siwon terkejut mendengar Tiffany memanggilnya Oppa. Lalu ia melonggarkan pelukannya dan menatap wajah cantik itu. tiffany pingsan! Siwon bergegas menggendongnya dan membawa Tiffany ke mobilnya yang terparkir di luar gedung ini. Ia harus membawa Tiffany ke tempat yang layak, selain rumah keluarga Park!

Tiffany terbangun dengan rasa sakit di kepalanya yang sedikit berkurang. Ia mengerjap berkali-kali dan memandangi seisi ruangan dengan teliti. Dimana ia sekarang? Kamar ini tidak seperti kamarnnya atau kamar rumah sakit. Kamar ini sangat luas, setidaknya 3 kali lipat dari kamarnya di rumah.

Tiffany mencoba menggerakkan tangannya dan disana terpasang selang infuse. Lalu ia mencoba mengingat kejadian terakhir yang dialaminya. Ia pergi mengajar ballet dan menerima gaji bulanannya dari Ny. Nam. Lalu kepalanya terasa sakit dan ia tidak bisa beranjak dari ruangan ballet sampai ada seseorang yang memeluknya.

“Kau sudah bangun? Syukurlah!”

Tiffany sedikit kaget mendengar suara seorang pria. Ia menoleh dan melihat Siwon sedang berjalan menghampirinya. Namun Siwon tidak sendiri. Ia bersama seorang gadis tinggi yang luar biasa cantik dan seorang pemuda sebaya dengan Siwon.

“Siwon-ssi? Aku dimana?” tanya Tiffany.

Siwon dan teman laki-lakinya berdiri, sedangkan gadis cantik itu duduk di tepi ranjang, menatap ramah Tiffany.

“Kau di apartemenku. Tenanglah, tadi kau pingsan. Jadi aku membawamu kesini. Dokter juga sudah memeriksa keadaanmu, dan kau tidak boleh kemana-mana sampai benar-benar pulih,” ujar Siwon tenang.

“Siwon Oppa benar, Tiffany unnie. Kau sebaiknya istirahat saja disini,” tambah si gadis cantik. Tiffany memandanginya bingung.

“Annyeong, Yoona imnida. Aku sepupu Siwon Oppa,” lanjutnya saat melihat keraguan di wajah Tiffany. Tiffany tersenyum tulus pada Yoona.

“Hei, kalian tidak memperkenalkanku? Sudahlah, biar aku sendiri saja. Annyeong, Tiffany-ssi. Jang Geun Suk imnida. Kau boleh memanggilku Sukkie Oppa,” ujar pria yang satu lagi. Tiffany bisa mendengar Yoona mendengus.

“Tiffany Park imnida. Terima kasih telah membantuku,” ucap Tiffany.

“Ah, tidak masalah, Fany unnie. Anggap saja kami ini keluarga barumu. Iya kan, Siwon Oppa?” sahut Yoona bersemangat. Siwon mengangguk.

Tiffany merasa terharu dengan sikap welcome mereka. Keluarganya tidak sebaik dan seperhatian ini.

“Yoona-ah. Ayo aku antar pulang! Bukannya besok kau harus syuting CF terbarumu?” celetuk Sukkie. Syuting? Tiffany melirik Yoona. Berarti gadis cantik ini adalah artis. Pantas saja dia terlihat hampir sempurna.

“Iya, kau pulanglah dengan Sukkie. Kalau dia macam-macam, tinggal kau semprotkan saja cairan lada yang kusarankan kemarin. Arraseo?” tukas Siwon kepada Yoona. Yoona dan Tiffany terkikik.

“Yah, Wonie! Kau pikir aku akan berbuat jahat pada sepupumu? Aish, kau benar-benar menyebalkan!” gerutu Sukkie.

“Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu di depan gadis-gadis,” ancam Siwon sambil melotot pada sahabatnya.

“Hahaaha, kau bisa lihat wajah marah si Wonie ini Tiffany? Hahaha lucu sekali!” seru Sukkie sedangkan Yoona tak berhenti tertawa meledek sepupunya.

“YAH! Kalian berdua sama saja!” omel Siwon.

“Jangan marah-marah begitu, Oppa. Apa kau tidak malu dengan Fany Unnie?” goda Yoona. “Kalau begitu, Unnie. Aku harus pulang sekarang. Jangan lupa beristirahat ya! Besok kalau tidak sibuk aku akan kesini lagi untuk melihat keadaanmu.”

“Kamsahamnida, Yoona-ssi.”

“Ah, jangan resmi begitu kepadaku. Panggil Yoong saja.”

Tiffany mengangguk.

“Sampai bertemu lagi, Tiffany-ssi,” Sukkie membungkuk memberi salam. Tiffany mengangguk dan tersenyum. “Kajja, Yoona-ah.”

Siwon mengantarkan para tamunya keluar. Sementara itu, Tiffany masih ragu untuk menginap di apartemen Siwon. Mereka baru saling mengenal. Tidak mungkin ia menginap disini. Ditambah lagi, Appa dan Eomma nya pasti mengamuk karena Tiffany tidak pulang mengantarkan uang.

Beberapa saat kemudian, Siwon kembali masuk kamar. Ia memandangi Tiffany penuh arti. Tiffany merasa jantungnya berdegup kencang tak karuan. Pesona Siwon sangat menyihirnya. Siwon lagi-lagi hadir menyelamatkan hidupnya.

“Kau butuh sesuatu, Fany-ah?” tanya Siwon lalu duduk di tepi ranjangnya.

“Ti-tidak ada, Siwon-ssi.”

Siwon tersenyum manis, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. “Aku kira kau sudah memanggilku Oppa.”

“M-mwo?”

Siwon hanya tertawa kecil melihat keterkejutan Tiffany. Mungkin saat itu Tiffany setengah sadar memanggilnya Oppa. Bagi Siwon itu bukan masalah besar, ia bisa menunggu sampai Tiffany merasa nyaman dengannya lalu memanggilnya dengan sebutan Oppa.

“Kau lapar? Tadi aku dan Yoona telah membuatkan bubur. Tunggu sebentar.”

“Tidak sekarang, Siwon-ssi. Eh, maksudku Siwon Oppa. A-aku belum lapar,” cegah Tiffany gugup.

Siwon terdiam di tempat duduknya. Tiffany memanggilnya Oppa dan sekarang gadis itu benar-benar sadar. Itu berarti Tiffany memang ingin memanggilnya seperti itu. Senyum manis mengembang di wajah Siwon.

“Baiklah. Nanti tinggal kita hangatkan saja. Ada lagi yang kau butuhkan, Fany?” tanya Siwon dengan suara lembutnya.

Tiffany menggeleng gugup. Jujur saja, berada di kamar Siwon dan berdekatan dengannya membuat Tiffany sulit bergerak bahkan bernafas! Siwon menyita seluruh perhatiannya dan pikirannya. Gadis berambut hitam itu belum yakin tentang definisi perasaannya terhadap Siwon. Karena sebelumnya ia belum benar-benar jatuh cinta.

“Fany-ah, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Kali ini Siwon menatapnya serius. Tiffany mengangguk singkat.

“Ada apa, Oppa?”

“Apakah… kau menyayangi keluargamu?”

Tiffany otomatis tertawa kecil. “Tentu saja, Oppa.”

Sejenak mereka hanya diam. Siwon sudah dapat memastikan kalau Tiffany tidak tahu kalau dia bukanlah anak kandung pasangan Park. Bagaimana caranya ini? Pikir Siwon. Jika ia mengatakannya sekarang, Tiffany pasti sangat terpuruk. Apalagi dengan keadaan fisiknya saat ini.

“Ada apa, Oppa? Sepertinya kau resah sekali.”

“Andwe. Oh ya! Tadi aku sudah mengirimkan stok makanan ke rumahmu. Aku takut kau akan dimarahi lagi oleh Eomma dan Appa-mu.”

Mata Tiffany melebar. “Jinja? Oppa, sebenarnya tidak perlu. Aku semakin merasa berhutang kepadamu. Aku sangat merepotkan ya?”

“Tidak, Fany. Siapa bilang kau merepotkanku? Aku harus melindungimu, mengingat akulah penyebab semua ini. Dan untuk ke depannya, aku tidak ingin mendengar kalau kau kesusahan. Jika kesehatanmu belum pulih benar, kau tidak boleh bekerja. Arraseo?”

Tiffany tidak menjawab. Ia hanya memandangi Siwon lekat-lekat. Kira-kira apa yang membuat Siwon sangat perhatian kepadanya. Tiffany merasa terharu sebab selama ini belum ada pemuda yang sungguh-sungguh tulus kepadanya.

“Gomawo, Siwon Oppa. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Gomawo, telah membuatku nyaman.”

Tangan Siwon terangkat dan mengelus rambut Tiffany sekilas. Ia ingin merasakan lembut rambut hitam itu, ingin membenamkan wajahnya di keharuman leher jenjangnya dan ia ingin memeluk gadis itu erat-erat.

“Bolehkah aku meminta sesuatu, Fany-ah?” bisik Siwon. Tiffany mengerjap waspada. Siwon dan dirinya adalah manusia normal yang tak akan tahan jika berdekatan seperti ini.

“N-ne?”

Siwon menurunkan tangannya dan tersenyum manis. “Just be happy.”

 

 

Paginya Siwon terbangun karena mencium aroma harum yang masuk ke ruang tengah. Aroma itu berasal dari dapur yang jaraknya dekat dengan ruang tengah. Semalam Siwon menunggu Tiffany sampai gadis itu terlelap dan tidur di sofa ruang tengah. Ia membuka pintu kamarnya sedikit agar Tiffany dengan mudah memanggilnya jika membutuhkan sesuatu.

Siwon memakai singlet putih yang memperlihatkan bentuk badannya yang bagus dan berotot. Ia berjalan ke dapur dan mendapati seorang gadis sedang asyik dengan kue di penggorengan.

“Fany?”

Gadis itu membalikkan badan dan tersenyum eye smile kepada Siwon, membuat jantung Siwon berdebar-debar di pagi hari.

“Selamat pagi, Oppa!”

Siwon berkacak pinggang menghadap Tiffany dan memasang ekspresi pura-pura marah di wajahnya.

“Apa yang kau lakukan? Kau melepaskan infusmu? Fany-ah, kau masih—“

“Ya ya ya, aku tahu aku masih sakit. Tapi aku sudah merasa sangat sehat pagi ini, Oppa. Dan aku sudah membuatkan pancake untuk sarapanmu. Tunggu sebentar!”

Siwon membuka mulut untuk memprotes dan akhirnya mengurungkan niatnya. Ia akhirnya tersenyum melihat gerak-gerik gadis cantik itu menyiapkan sarapan untuknya, bersenandung riang sementara Siwon hanya berdiri memperhatikan.

“Kau bisa mandi dulu, Oppa,” saran Tiffany.

“Nanti saja. Sekarang kan hari Sabtu. Aku cuti,” ujar Siwon. Ia duduk di meja makan dan membuat kopi serta mengambil sebuah koran.

Pemandangan di dapur saat ini seperti kehidupan keluarga kecil atau pengantin baru. Jika seseorang melihatnya, pastilah mereka akan menggoda kedua orang ini.

“Pancake is ready!” seru Tiffany seraya meletakkan dua piring pancake strawberry di hadapan Siwon. Siwon tertawa senang dan menghirup aroma wangi kue tersebut.

“Wah, sepertinya enak. Ayo, kita sarapan. Aku sudah membuatkan kopi untukmu.”

Mereka memulai sarapan dengan doa bersama. Siwon memang sangat religus dan ternyata Tiffany juga seperti itu. Siwon merasa ia telah menemukan gadis yang tepat untuk hidupnya. Ia jatuh cinta pada Tiffany dan ingin gadis itu selalu di dekatnya seperti saat ini. Dan itu akan terjadi hanya dengan satu cara….

“Setelah ini aku ingin pulang. Gwenchana, Oppa?” tanya Tiffany pelan.

Siwon terdiam sebentar. Ketika Tiffany mengatakan kalau ia ingin pulang, Siwon merasakan kalau gadis ini tidak akan kembali lagi padanya. Siwon hanya mengangguk kecil untuk menjawab permintaan Tiffany.

“Ne. Biar kuantar. Sekaligus, aku ingin berbicara dengan Appa dan Eomma mu.”

Tiffany mengangkat alisnya. “Tentang apa?”

Siwon menyunggingkan senyuman menggodanya. “Rahasia.”

 

Siwon membukakan pintu mobil dan Tiffany turun. Dari apartemen tadi Siwon bertingkah sedikit aneh menurut Tiffany. Siwon tiba-tiba menjadi serius, lebih lembut dan tatapannya selalu membuat Tiffany gugup. Entah apa yang direncanakan Siwon. Dan sekarang, Siwon ingin berbicara dengan keluarga Tiffany.

“Tiffany, kau dari mana saja? Wah, kau bersama Tuan Siwon! Silahkan masuk!” sambut Eomma.

Siwon membungkuk hormat saat Mr. Park dan istrinya berdiri di hadapan mereka. Saat itu Heechul baru muncul dari kamarnya.

“Annyeonghaseyo!” sapa Siwon.

“Annyeong. Tuan Siwon, terima kasih untuk makanan kemarin. Banyak sekali bisa untuk 2 bulan. Kamsahamnida!” ujar Mrs.Park.

Siwon membungkuk lagi. Ia dan Tiffany duduk di sofa yang berhadapan dengan ketiga anggota keluarganya. Tiffany sendiri masih bingung kenapa Siwon memaksanya duduk disana dan tidak diperbolehkan kemana-mana.

“Saya ingin menyampaikan suatu berita kepada Ahjushi, Ahjumma dan Heechul-ssi,” kata Siwon resmi.

Ketiga orang di hadapannya saling pandang.

“Apa itu, Siwon-ssi?” tanya Mr. Park.

Siwon diam sejenak. Pandangannya lurus ke depan dan duduknya sangat tegap. Tiffany tak lepas memandanginya dari tadi. Dan akhirnya, tangan Siwon terulur lalu menggenggam tangan Tiffany! Tiffany sedikit kaget dan segera melihat keluarganya. Ia tidak ingin keluarganya salah paham. Aish, ada apa dengan Siwon Oppa?

“Aku… ingin melamar Tiffany Park.”

Baik Tiffany, Heechul, Eomma dan Appa-nya terkejut. Sangat sangat terkejut! Apalagi Tiffany. Hanya saja, keterkejutan Mr. Park, istrinya serta Heechul adalah kebahagiaan. Sedangkan Tiffany bingung, takut, dan tidak percaya. Tapi Siwon mengatakannya dengan sangat tegas dan yakin. Siwon pun menoleh kepada Tiffany yang tidak berkedip menatapnya. Kini Siwon tersenyum tulus padanya.

“Aku ingin menjadikan Tiffany sebagai istriku,” tambah Siwon tanpa ragu. Sebenarnya hatinya juga berdebar melihat reaksi Tiffany. Ia takut gadis ini akan menolaknya mentah-mentah. Namun Siwon yakin kalau dengan dukungan orang tua angkat Tiffany, gadis itu mungkin akan menerima lamarannya.

Demi Tuhan, Siwon belum pernah seperti ini! Ia melamar seseorang dengan tekad bulat dan benar-benar berani. Padahal mereka baru mengenal satu sama lain kurang dari waktu satu minggu!

“Ji-jinja?” seru Eomma Tiffany senang. Siwon menyembunyikan senyumannya. Ia tahu keluarga ini pasti akan menerimanya.

Tapi Tiffany….

“Andwe!”

Siwon mengerjap kaget dengan penolakan Tiffany.  Gadis itu merenggut tangannya dengan kasar dan berdiri. Siwon melihat gadis itu hampir menangis. Ia menelan ludah. Tiffany sepertinya sangat marah.

“Aku tidak ingin menikah denganmu, Choi Siwon!”

Siwon termenung di meja kerjanya. Sejak kejadian seminggu yang lalu, Tiffany tidak mau bertemu dengannya. Gadis itu tidak menjawab telfonnya dan tidak membalas pesannya. Siwon merasa bersalah dan bingung. Harusnya ia tidak terburu-buru seperti itu. ia hanya menemukan cara tersebut untuk melepaskan Tiffany dengan keluarga angkatnya yang jahat. Jika tidak, Tiffany akan selalu dijodohkan dengan pemuda-pemuda mesum yang hanya mengandalkan kekayaan keluarga. Ditambah lagi dengan keserakahan keluarga Park.

Apa seharusnya aku memberitahukan yang sebenarnya kepada Tiffany? Bahwa dia bukannya anak kandung mereka dan mereka hanya memanfaatkan dirinya saja, pikir Siwon.

Siwon memakai jasnya dan keluar dari ruangan. Ia harus menemui Tiffany. Walaupun rencana menikah dengan Tiffany ini hanyalah cara untuk membebaskan gadis itu, namun sebenarnya Siwon juga tulus. Ia telah jatuh cinta kepada Tiffany dan memang ingin menikahinya. Siwon belum berbicara dengan keluarganya. Hanya Yoona yang tahu. Dan sepupunya itu juga mendukung jika Tiffany menjadi istri Oppa-nya.

Siwon melirik arloji. Jam 5 sore. Itu berarti Tiffany masih berada di tempat ballet. Siwon segera mengarahkan mobil kesana.

“Selamat akhir pekan, Tiffany unnie!”

“Sama-sama, gadis-gadis cantik. Unnie harap kalian bersenang-senang di hari libur ini. Apakah ada yang berencana jalan-jalan bersama keluarganya?”

Tiffany melepas anak-anak ballet saat jam latihan telah selesai. Tiffany harus menunggu sampai semua anak-anak itu dijemput oleh keluarganya masing-masing. Kebanyakan dari mereka berasal dari orang kaya.

Tiffany sendiri sudah bersiap-siap akan pulang. Ia menjinjing tas tangannya dan ikut keluar bersama Yunjie, anak didiknya yang paling kecil. Yunji sangat lucu dan berumur 6 tahun. Biasanya Yunjie memang pulang bersama Tiffany. Jarak rumah mereka tidak begitu jauh dan Tiffany sudah menganggap Yunjie seperti adiknya sendiri.

“Apakah Yunjie letih?” tanya Tiffany saat mereka berjalan di pinggir jalan.

“Sedikit. Tapi Yunjie senang, Fany Unnie!” jawab gadis cilik itu ceria. Ia tersenyum ke arah Tiffany yang membalasnya dengan cubitan di pipi chabinya.

“Apa kepala Unnie masih sakit?” tanya Yunjie.

“Ani. Sekarang Unnie sudah sembuh, Yunjie,” jawab Tiffany dengan eye smile nya.

“Syukurlah kau sudah sembuh.”

Mendengar selaan itu Tiffany segera menoleh ke samping, ke arah suara. Yunjie ikut mendongak melihat seorang laki-laki tampan yang berdiri menjulang di dekat mereka. Choi Siwon!

Tiffany berdiri membeku sementara Siwon tersenyum penuh arti padanya. Siwon sangat merindukan gadis itu. Merindukan matanya, senyumnya, rambutnya, wangi tubuhnya. Ia menjadi laki-laki lemah karena mencintai gadis bernama Tiffany ini. Sedangkan Tiffany sangat tidak menyangka akan bertemu Siwon sekarang.

Sesaat mereka hanya berpandangan sampai akhirnya tangan kecil Yunjie menarik-narik tangan lentik Tiffany.

“Unnie, nuguya?” tanyanya polos. Siwon tersenyum manis dan berjongkok. Ia mengelus pipi Yunjie.

“Annyeong, gadis manis. Choi Siwon imnida. Siapa namamu?”

“Lee Yunjie imnida. Oppa temannya Fany Unnie ya?”

Siwon mendongak melirik Tiffany yang masih berdiri gugup, lalu kembali memandang Yunjie. “Ne. Apa Yunjie suka es krim?”

Wajah Yunjie yang sebelumnya bingung, seketika berubah carah. Ia mengangguk semangat dan menarik-narik tangan Tiffany.

“Kami harus pulang, permisi!” ucap Tiffany seraya membungkuk. Siwon tidak mempedulikannya dan malah menggaet tangan Tiffany. Kemudian menarik gadis itu untuk kembali berjalan.

“Kali ini kau tidak boleh lari lagi dariku, Fany-ah. Kajja!”

Maka Tiffany hanya mengikuti Siwon dan tetap menggandeng Yunjie.

Siwon mengajak Tiffany dan Yunjie bersenang-senang sampai malam. Mereka makan malam, bermain di taman, membeli hot dog dan eskrim dan akhirnya mereka ke Han river. Yunjie sudah tertidur di dalam mobil dan Siwon mengajak Tiffany duduk di kursi kayu tepi sungai Han. Sesaat mereka hanya diam memandangi keindahan sungai itu pada malam hari.

“Fany-ah?”

Siwon menghalangi jarak pandang Tiffany dengan berdiri di hadapannya. Tiffany membuang muka.

“Sepertinya kau masih sangat marah padaku. Fany, aku akan menjelaskan semuanya kepadamu. Tapi tolong, tataplah aku. Daritadi kau menghindariku terus.”

Tiffany menunduk dan mengangkat wajahnya. Matanya menatap tepat ke mata Siwon. “Aku hanya tidak menyangka kau akan mengatakan hal itu kepada orang tuaku, Oppa.”

“Tapi, Fany-ah. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku…aku ingin melamarmu,” ungkap Siwon. Tiffany tidak berkedip memandangnya.

“Jangan mempermainkan perasaanku, Oppa. Kau tahu, pernikahan itu sangat suci. Pernikahan itu harus dilakukan atas dasar cinta—“

“Ya, karena itu aku melamarmu. Karena…aku jatuh cinta padamu, Fany-ah. Saranghae.”

Tiffany terdiam. Bagaimana mungkin Siwon jatuh cinta padanya! Mereka hanya beberapa kali bertemu. Memang, Tiffany menyukai Siwon. Namun, gadis itu tidak yakin apakah ia mencintai Siwon atau tidak. Berpacaran, mungkin Tiffany bisa mempertimbangkannya. Tapi untuk menikah, Tiffany tidak yakin.

“Kenapa kau tergesa-gesa, Oppa. Kita bahkan belum jauh mengenal satu sama lain. Aku bahkan… tidak mencintaimu,” ujar Tiffany ragu. Siwon tercengang. Sakit sekali rasanya Tiffany berkata seperti itu. cintanya bertepuk sebelah tangan.

“Ugh,” Siwon meringis. “Apa kau tidak bisa menikah denganku? Fany-ah, kau harus pergi dari keluargamu. Jika kau belum menikah, mereka akan terus memanfaatkanmu dan mereka tidak menaruh belas kasihan terhadapmu.”

Kening Tiffany mengernyit. Ia tidak mengerti maksud Siwon.

“Apa maksudmu, Oppa?”

Siwon menelan ludah. Walau bagaimanapun, Tiffany harus tahu kebenaran. Kalau tidak, ia akan terus dipermainkan keluarga angkatnya yang tamak.

“Kau… kau bukanlah anak kandung mereka, Tiffany.”

Tiffany menangis di kamarnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan Siwon kepadanya. Ia bukan anak dari pasangan Park? Yang benar saja! Tiffany sudah ada dalam keluarga ini semenjak ia bayi. Well, setidaknya dari ingatan yang bisa diingat anak kecil. Tidak mungkin ia tahu siapa ibu yang sudah melahirkannya. Tapi Mrs. Park adalah ibunya.

Namun perlakuan yang didapatnya sejak kecil memang tidak selayaknya bagi seorang anak kandung. Tiffany tidak dicintai, dipaksa, dimarahi, bahkan mereka tidak mengkhawatirkan Tiffany saat ia sakit.

Siwon telah jujur menjelaskan semua rencananya. Ia ingin menikahi Tiffany bukan karena alasan itu saja, tapi laki-laki itu memang mencintainya. Sekilas Tiffany tersenyum menyadari bahwa seorang Choi Siwon telah jatuh cinta padanya hanya dalam hitungan hari. Tiffany menyukainya, tapi belum yakin apakah rasa cinta itu telah tumbuh atau belum. Jika Tiffany menerima lamaran Siwon, ia takut tidak bisa menjadi istri yang baik.

“Hei, Tiffany! Buka pintunya! Apa kau mau seharian di dalam kamar?” teriak Heechul dari luar. Tiffany tidak menjawab. Ia menghapus air matanya.

“Tiffany sayang, Eomma ingin berbicara padamu. Bisakah kau buka pintu kamarmu sebentar saja,” bujuk Mrs. Park dengan nada manis yang dibuat-buat.

Tiffany merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan mematut dirinya di depan cermin. Ia tidak mau terlihat tak berdaya di hadapan keluarganya. Entah kenapa, keberaniannya datang semenjak mendapat penjelasan dari Siwon tadi. Jika mereka bukan keluarga kandungku, aku akan mencari tahunya.

“Ne, tunggu sebentar!” seru Tiffany. Setelah merasa penampilannya sudah rapi, Tiffany membuka pintu kamarnya. Di luar sudah ada Appa, Eomma, dan Heechul. Mereka bertiga menyeringai, sama seperti jika mereka akan meminta uang.

“Ne? Ada apa?” tanya Tiffany.

Mereka saling menyikut. Dan akhirnya Eomma yang angkat bicara.

“Ehh, Fany-ah. Apakah kau baru pulang jalan-jalan bersama Tuan Siwon? Kenapa tadi dia tidak disuruh masuk?”

“Dia sibuk, jadi aku tak enak hati jika menyuruhnya bertamu. Lagipula ini sudah malam, Eomma.”

“Oh begitu.”

“Fany-ah?”

“Ne, Appa?”

“Apa kau benar-benar tidak menyukai Siwon? Appa lihat dia sangat menyukaimu. Kenapa tidak kau terima saja lamarannya?” lanjut Appa.

Tiffany diam saja.

“Lagipula dia sangat kaya, Fany!” celetuk Heechul.

“Heechul!!” hardik Eomma, berpura-pura. Tiffany menaikkan sebelah alisnya, menatap cara mereka memaksa Tiffany dengan lembut.

“Apakah… kalian akan senang jika aku menikah dengan Siwon? Apakah kalian akan puas?” tanya Tiffany dingin.

“Tentu saja kami akan ikut senang. Benarkan, Appa?” balas Eomma antusias. Tiffany mengangguk paham.

“Benar sekali. Jadi, bagaimana Fany-ah? Kau mau kan menikah dengan Choi Siwon?” sambung Appa.

Tiffany mendatangi kantor Siwon guna memberitahukan keputusannya. Mungkin ini adalah keputusannya yang akan ia sesali seumur hidup, atau mungkin saja hal ini sudah ditakdirkan untuknya. Namun hati kecilnya berkata bahwa Siwon adalah laki-laki baik yang akan menjaga dan menyayanginya.

“Fany-ah?” Siwon terkejut melihat kedatangan Tiffany. Ia sangat merindukan gadis itu. maklum, sudah 10 hari sejak pertemuannya di sungai Han mereka tidak bertemu.

“Boleh aku masuk?” tanya Tiffany lembut. Siwon berjalan menghampirinya dan mempersilahkan Tiffany untuk duduk. Gadis itu semakin kurus, pikir Siwon. Matanya cekung dan lehernya semakin jenjang.

“Silahkan duduk, Fany. Apa kau ingin minum?” tawar Siwon. Tiffany praktis menggeleng.

“Tidak usah, Oppa. Aku hanya sebentar.”

Siwon mengangguk dan mengambil tempat di hadapan Tiffany. Gadis itu rapuh dan tidak percaya diri. Ingin sekali Siwon memeluknya serta mengobati luka di hatinya. Namun, ia harus menahan hasrat itu, karena Tiffany tidak mencintainya.

“Ada yang ingin kau sampaikan, Fany? Apa kau baik-baik saja?”

Tiffany menatap Siwon sendu. Ia mengangguk dan tersenyum tipis.

“Aku baik-baik saja, Oppa. Gomawo,” jawab Tiffany. “Oppa?”

“Ne Fany-ah. Bicara saja,” kata Siwon.

Tiffany menelan ludah, gugup. Apakah Siwon akan menerima keputusannya?

“Siwon Oppa, a-apakah lamaranmu masih berlaku?” tanya Tiffany dengan suara pelan sehingga Siwon mengernyit demi mendengarnya.

“Mwo?”

Tiffany menatap cemas. Bagaimana jika Siwon tidak lagi berminat melamarnya? Bagaimana jika Siwon sudah mulai melupakannya?

“Ah, ani. Lupakan saja, Oppa!” tukas Tiffany tiba-tiba dan berdiri. Siwon menyembunyikan senyumnya.

“Ka-kalau begitu aku pulang dulu. Annyeong!” ucap Tiffany dan berjalan ke arah pintu. Siwon segera berdiri dan menarik tangan Tiffany dengan lembut. Gadis itu membalikkan badannya dan menunduk. Ia malu sekali telah datang kesini dan menanyakan apakah Siwon masih mau melamarnya. Sigh!

“Kenapa kau pergi begitu saja? Kau memang aneh Fany-ah. Kau kira aku tidak mendengar?” goda Siwon. Tiffany tidak berkutik. Kini Siwon menggenggam kedua tangannya. Baru kali ini jarak mereka sangat dekat.

“Fany-ah, lihat aku.” Siwon memegang dagu Tiffany dan mengangkatnya perlahan. Mata mereka bertatapan lekat. “Tentu saja aku masih melamarmu. Kau tahu, saat kau membiarkanku menunggu, aku tidak bisa beraktifitas dengan tenang. Aku selalu memikirkanmu. Ya, walaupun kau tidak mencintaiku, aku akan tetap menunggumu. Aku berjanji akan menjadi suami yang akan melindungimu. Terutama dari keluarga angkatmu. Bisakah kau menerimanya?”

Tiffany tersentuh dengan kata-kata Siwon. Laki-laki ini sangat tulus. Sangat tidak adil untuknya jika Tiffany tidak membalas perasaannya.

“Tapi, Oppa. Bagaimana jika nanti orang tuaku memerasmu? Aku malu padamu.”

Siwom tersenyum penuh arti. “Nanti akan kita pikirkan caranya.”

Tiffany mengangguk dan mulai tersenyum. Siwon mencubit pipinya dengan gemas. Mulai sekarang mereka akan memulai kehidupan baru sebagai pasangan. Pasangan murni menurut Siwon, sedangkan Tiffany hanya berusaha untuk menerimanya agar lepas dari genggaman keluarga angkatnya.

“Besok aku akan ke rumahmu. Sekarang tunggu aku sebentar lagi, aku harus menyelesaikan satu dokumen lagi. Sehabis itu kita akan makan siang.”

“Baiklah, Oppa.”

Siwon memenuhi janjinya untuk mendatangi keluarga Tiffany. Sepertinya mereka belum tahu kalau Tiffany telah mengetahui semua rahasia mereka. Tentu saja pasangan Park dan Heechul sangat senang mendengar kabar bahwa sebentar lagi Tiffany akan menikah dengan Siwon. Begitu juga dengan keluarga Siwon. Mereka lega akhirnya Siwon memutuskan untuk menikah dan mendapatkan gadis baik-baik seperti Tiffany. Appa dan Eomma Siwon memang tidak memandang status dan derajat. Dan Yoona juga bisa menjadi dongsaeng yang baik untuk Tiffany.

Pernikahan akan dilaksanakan dua minggu lagi. Keluarga Siwon sudah tidak sabar menjadikan Tiffany sebagai menantu di rumah mereka. Sejujurnya, Siwon sendiri juga tidak sabar menunggu hari itu. Ia tahu, Tiffany tidak mencintainya. Namun ia sudah bertekad untuk membuat gadis itu mencintainya dengan caranya sendiri. Untung saja mereka tidak tinggal di rumah orang tua Siwon. Siwon takut nanti pernikahan mereka yang tidak didasari cinta akan diketahui keluarga Choi.

Hari itu Tiffany berniat untuk ke apartemen Siwon. Ia membawa bahan-bahan makanan yang akan dimasaknya untuk makan malam mereka. Semakin dekat hari pernikahan mereka, perasaan Tiffany juga semakin terbuka. Ia merasakan cinta Siwon begitu tulus padanya. Apalagi sekarang keluarga angkatnya sudah bersikap baik, demi uang tentu saja. Tapi suatu saat Tiffany akan membuka kedok mereka dan mencari tahu siapa orang tua kandungnya.

“Siwon Oppa! Aku datang!” seru Tiffany saat memasuki apartemen Siwon. Tadi calon suaminya itu sudah mengirim pesan agar langsung masuk saja karena ia sedang di kamar mandi. Tiffany langsung ke dapur dan meletakkan bahan-bahan makanan yang dibawanya.

Tiffany menengok ke kamar laki-laki itu. Pintunya tertutup. Tiffany mengangkat bahu lalu berbalik menghadap kompor gas. Dan…

“AAAAARRRGGHH!”

Tiffany spontan menutup matanya dan Siwon terlonjak kaget. Mereka sama-sama berteriak. Tiffany kaget melihat Siwon yang datang dari belakangnya dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Baru kali ini Tiffany melihat laki-laki topless di hadapannya.

“Yah! Fany-ah! Kau mengagetkanku saja.”

“Siapa suruh kau telanjang di depanku?” seru Tiffany dari balik telapak tangannya. Siwon memandangi tubuhnya heran.

“Aku tidak telanjang. Yah! Kau tidak lihat aku memakai handuk?” protes Siwon. Tiffany membuka mata dan menurunkan kembali tangannya. Ia gugup sekali melihat perut sixpack Siwon. Ditambah lagi laki-laki itu sangat tampan sehabis mandi. Tiffany buru-buru mengalihkan pandangannya ke meja dapur sementara Siwon hanya tersenyum menggodanya.

“Kenapa wajahmu jadi memerah begitu, Fany-ah? Kau gugup ya?”

“A-ani. Cepatlah berpakaian, Oppa,” gerutu Tiffany. Siwon mencubit pipi Tiffany pelan.

“Jangan seperti itu. Karena pemandangan seperti ini yang akan terus kau lihat setelah kita menikah nanti, Chagi.”

Tiffany menahan debaran jantungnya yang begitu keras dan melirik Siwon yang melenggang ke kamarnya. Tadi Siwon memanggilnya apa? Chagi?

 

 

Siwon dan Tiffany sedang menyantap makan malam mereka. Masakan yang dibuat Tiffany benar-benar lezat, membuat Siwon makin terkesan. Ia menyadari bahwa semakin hari cintanya semakin besar terhadap gadis berambut hitam legam itu. Siwon tidak ingin memikirkan bagaimana perasaan Tiffany terhadapnya. Bisa saja gadis itu masih menganggapnya laki-laki yang kebetulan menyelamatkannya dari perjodohan-perjodohan konyol keluarga Park.

Sampai saat ini Tiffany belum membuka kedok keluarga yang telah mengasuhnya sejak kecil. Jujur ia sangat berhutang budi pada mereka. Namun, pastinya Tiffany sangat penasaran tentang siapa keluarga sebenarnya.

Siwon memberi saran agar bersabar terlebih dahulu. Mereka akan mencari tahu hal itu setelah pernikahan. Tiffany percaya kepada Siwon. Ia percaya Siwon akan membantu dan menjaganya.

“Gomawo, Oppa.”

Siwon mendongakkan kepala dan menatap lurus Tiffany. “Gomawo? Untuk apa?”

“Oppa telah baik sekali kepadaku. Aku tak tahu bagaimana harus membalasnya.”

Siwon hanya tersenyum kecil menanggapi. Ia melanjutkan makan malamnya dan tidak berkata apa-apa. Menurutnya tak ada yang bisa mengungkapkan perasaannya saat ini. Siwon suka momen-momen ketika ia hanya berdua saja dengan Tiffany seperti sekarang. Ia tak ingin pembicaraan lain mengganggu suasana yang romantis. Karena sudah dapat ditebak, Tiffany hanya mengucapkan terima kasih untuk kebaikannya, bukan untuk cintanya.

Dan Siwon tak mau membahas hal mubazir seperti itu.

“Diluar hujan,” ucap Siwon sambil memandang jendela kaca apartemennya yang tidak ditutupi tirai.

“Bukan. Itu badai, Siwon Oppa,” ralat Tiffany. Ia sedikit bergidik. Dari kecil ia takut dengan badai, petir dan banjir. Entah kenapa, ia merasa tak berdaya jika berada di dalam situasi tersebut.

Mereka telah selesai makan malam. Siwon membantu Tiffany membersihkan meja makan dan menyeka piring di dapur. Siwon memperhatikan gerak-gerik Tiffany yang tiba-tiba menjadi pendiam. Tangan gadis itu juga sedikit gemetar. Hujan badai semakin lebat. Siwon berjalan ke ruang tamunya dan melongok ke jendela luar lalu menutup tirai sedikit.

“Wah, badainya lumayan kencang,” gumamnya. Ia berkacak pinggang menatap keluar apartemen. Pemandangan malam yang kelam di luar membuatnya tak bisa melihat apa-apa. Hanya lampu-lampu rumah di sekitarnya tampak menyala redup.

Lalu, Siwon terkejut dengan bunyi yang sangat keras dan kilatan cahaya di langit. Jantungnya berdetak sangat cepat tatkala mendengar teriakan melengking dari dapurnya. Tiffany!

Siwon sedikit berlari ke dapur dan mendapati Tiffany sedang meringkuk sambil memeluk lutut di lantai. Pecahan gelas bertebaran di lantai. Kaki kiri Tiffany berdarah, sepertinya terkena pecahan gelas. Siwon segera berjongkok dan menyentuh pundak Tiffany. Astaga, tubuh gadis itu dingin sekali dan bergetar hebat!

“F-Fany-ah? Kau kenapa?” tanya Siwon lembut. Tiffany menangis keras. Ada apa dengan Tiffany? Apa dia sakit atau terkena sesuatu? Belum habis rasa penasaran Siwon, petir besar kembali terdengar. Tiffany memekik sejadi-jadinya. Siwon terperangah. Tanpa pikir panjang Siwon meraih tubuh mungil itu lalu membopongnya ke kamar. Darah di kakinya masih mengalir. Siwon meletakkan Tiffany di atas ranjangnya dan memeluk gadis itu.

“Sshh, sudah sudah. Aku disini, ne. kau takut ya?” bisik Siwon. Tiffany mengangguk tanpa berhenti menangis. Ia memeluk tubuh Siwon erat-erat. Sangat erat sehingga Siwon sulit bergerak.

Petir masih terdengar, namun tidak sebesar tadi. Siwon berusaha menggapai air mineral yang ada di meja nakasnya dan membersihkan darah di kaki Tiffany. Untung lukanya tidak parah, hanya tergores serpihan gelas. Tapi tetap saja harus diobati.

“Chagiya, aku akan mengobati lukamu. Tenanglah, sudah tak ada petir lagi,” ucap Siwon lembut. Tiffany tidak berkutik. Ia terus menangis sambil memeluk Siwon. Tiffany tampak menderita sekali saat ini. Siwon sangat merasakan getaran tubuhnya dan keringat dingin yang keluar dari pori-pori gadis itu. Apa Tiffany mengalami phobia pada petir?

Akhirnya Siwon menyerah. Ia mengambil sapu tangan di kantong belakang celananya dan mengikatkan di kaki Tiffany, dalam posisi masih berpelukkan. Siwon dapat merasakan kepedihan yang dirasakan Tiffany. Apalagi gadis itu tak berhenti menangis. Siwon mengelus rambut panjang Tiffany dengan sayang. Betapa ia mencintai gadis ini.

“Eomma… eommaaa,” rintih Tiffany. Siwon menelan ludah. Ia pilu mendengarnya. Pasti Tiffany sudah melalui banyak cobaan hidup sejak diasuh oleh pasangan Park. Mungkin seumur hidupnya ia tidak pernah bertemu dengan orang tua kandungnya.

“Sssh, Chagiya. Tenanglah. Aku disini bersamamu. Aku akan selalu melindungimu,” bisik Siwon lembut. Tiffany terus menangis. Siwon merasakan pundaknya basah terkena air mata si cantik itu.

Tanpa tedeng aling, petir kembali menyambar. Kali ini lebih besar dari yang pertama. Kontan Tiffany menjerit sangat kencang, membuat Siwon bergidik kaget. Ia takut Tiffany kejang. Lalu ia membaringkan tubuh Tiffany ke ranjang dan menyelimuti mereka berdua. Selimut Siwon cukup tebal. Jadi bisa mengurangi suara-suara keras yang mungkin didengar.

Di bawah selimut itu cukup gelap. Apalagi kamar Siwon hanya diterangi lampu meja nakas. Ia menyalakan ponselnya dan meletakkan di antara mereka. Siwon dapat melihat mata Tiffany yang tertutup, masih mengeluarkan air mata. Tubuh gadis itu juga tetap gemetar hebat. Jarak mereka dekat sekali. Hingga Siwon dapat mencium aroma wangi gadis ini. Ya Tuhan, Siwon sangat mengagumi semua yang ada pada diri Tiffany. Bahkan dalam keadaan sedang ketakutan, pesona Tiffany yang sedang rapuh masih bisa menyihirnya.

“Chagi, semua akan baik-baik saja. Ne? jangan takut lagi. Kau bisa memegang tanganku jika kau takut,” kata Siwon. Tiffany tak merespon. Sepertinya ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

Beberapa menit kemudian…

Sepertinya Tiffany tertidur. Tak terdengar lagi isakannya. Siwon menyibakkan selimut hanya sampai pinggang. Ia menumpukkan tangan kiri untuk menopang kepalanya. Sedangkan tangan kanannya masih digenggam oleh Tiffany. Gadis itu tidur dengan damai. Badai di luar juga sudah berhenti.

Kini hanya digantikan gerimis yang membuat suasana menjadi sendu. Siwon tak berkedip memandangi objek indah di hadapannya. Gadis itu bernapas teratur, bulu matanya yang panjang menyatu serta menyentuh pipinya. Poninya melekat di kening karena keringat. Semua itu menjadi pemandangan indah bagi Siwon.

“Cantik sekali,” gumam Siwon. Perlahan ia menarik tangan kanannya dan merapikan poni Tiffany. Kemudian jari telunjuknya menyusuri garis rahang, alis dan hidung mancung Tiffany. Wajah gadis itu pucat namun lembut. Siwon tersenyum. Lalu matanya tertuju pada bibir tipis di hadapannya. Siwon menelan ludah. Bibir berwarna pink, tampak lembut dan menggoda. Sebagai lelaki normal, Siwon menderita sekali menyaksikan hal itu tetapi harus menahan untuk tidak menciumnya.

Diarahkannya jari telunjuk ke bibir Tiffany dan mengelusnya. Benar saja, bibir itu sangat lembut dan lembab. Siwon dapat merasakan tangan kanannya itu gemetar. Tidak, pikir Siwon cepat. Ia tidak boleh mencium Tiffany! Jika itu terjadi, Siwon tidak bisa menjamin apa yang akan dilakukannya terhadap gadis yang dicintainya ini. Ia bisa bertindak diluar kendali, mengingat keberadaan Tiffany di atas tempat tidurnya. Tempat yang paling intim bagi dua jenis manusia.

Siwon menarik lagi tangannya. Ia akan menunggu sampai saatnya tiba. Walaupun nanti mereka menikah, Siwon tetap harus menunggu sampai Tiffany membalas cintanya.

Tiffany terbangun karena bunyi alarm yang cukup nyaring. Ia membuka matanya perlahan dan menyadari ada sesuatu yang berat yang melingkari pinggangnya. Tiffany juga merasakan hembusan nafas teratur di hadapan wajahnya.

Mata Tiffany terbuka sempurna dan terkejut mendapati Siwon berbaring bersamanya! Tangan kanan Siwon melingkar di pinggangnya. Tangan kiri Tiffany sendiri berada di leher laki-laki itu. Tiffany menelan ludah. Bagaimana ini? Apa yang telah mereka lakukan?

Dengan panik Tiffany menarik tangannya dan meletakkan tangan Siwon di ranjang. Ia duduk dari tidurnya dan memandangi diri. Pakaian di tubuhnya masih lengkap, tak kurang satupun. Kakinya juga telah diikat dengan sapu tangan. Kening Tiffany mengernyit. Kenapa kakinya dibalut seperti itu?

Tiffany melirik Siwon sekilas. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Hujan badai dan petir telah membuatnya trauma. Tiffany sendiri tidak tahu kenapa ia sampai takut sekali dengan petir. Sebagian orang juga takut dengan petir, tetapi Tiffany bisa sampai pingsan jika mendengar petir jika tak ada yang melindunginya.

Tiffany juga tidak mempunyai ingatan semasa kecil. Ia hanya ingat masa-masa kecilnya yang tidak bahagia. Dimarahi Eomma dan Appa jika berteman dengan teman-temannya yang miskin. Ditambah Heechul Oppa yang sering memarahi dan memanggilnya bodoh. Tiffany menggelengkan kepala. Itu kenangan yang sangat tak menarik jika diingatnya kembali.

Gadis itu kembali memandangi Siwon. Ia tersenyum. Siwon terlihat damai dalam terlelap. Dengan keadaannya yang “utuh”, Tiffany yakin Siwon tidak berbuat macam-macam padanya. Lagipula Siwon ini lelaki yang baik. Perlahan Tiffany bergerak turun. Ia tidak ingin membangunkan Siwon dan jika bisa akan langsung pulang. Sejujurnya Tiffany merasa malu telah satu ranjang dengan calon suaminya. Pasti Siwon yang telah menenangkannya semalam. Dan sudah dapat ditebak, Siwon telah banyak melihatnya menderita.

“Selamat pagi, Fany-ah!”

Seruan Siwon membuat Tiffany terlonjak dan membalikkan badan. Lelaki itu duduk dari tidurnya dan tersenyum manis pada Tiffany, membuat pipi gadis itu merona.

“Se-selamat pagi, Siwon Oppa,” balas Tiffany seraya setengah membungkuk. Siwon tertawa melihat sikap formal Tiffany, mengingat mereka sudah tidur bersama. Siwon pun berdiri dan menghampiri Tiffany.

“Kau lucu sekali. Bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah baik-baik saja?” tanyanya lembut. Tiffany mengangguk tapi tak berani menatap mata Siwon. Siwon mengangkat tangannya dan meletakkan di kening Tiffany.

“Baguslah badanmu tak sedingin tadi malam. Kau membuatku khawatir.”

Tiffany mengangkat wajahnya dan memberikan Siwon eye smilenya. “Gomawo, Oppa. Mianhae, telah membuatmu khawatir.”

“Gwenchana. Sebaiknya kau mandi, aku akan memesankan baju untukmu. Setelah itu akan kuantar pulang,” ujar Siwon. Tiffany mengangguk.

Siwon terus memandanginya sementara gadis itu berjalan ke kamar mandi. Tiffany benar-benar cantik di pagi hari. Matanya yang bersinar dan pipinya yang lembut. Siwon mati-matian menahan hasratnya. Bagaimana bisa ia mengabaikan pesona calon istrinya itu?

Saat Tiffany di kamar mandi, Siwon menelpon butik langganannya untuk mengirimkan beberapa helai pakaian wanita ke apartemennya. Ia juga memesankan perlengkapan make up serta sepatu. Omong-omong soal pesan antar pakaian, Siwon baru teringat kalau jubah mandinya ada di lemari. Kemarin ia baru saja mengambilnya dari laundry dan lupa untuk menaruhnya di kamar mandi. Aish, bagaimana caranya gadis itu keluar?

Di kamar mandi

Tiffany menengadahkan kepalanya di bawah siraman Shower. Hmm, segar sekali. Jarang sekali ia mandi di kamar mandi yang sangat mewah seperti di kamar Siwon ini. Yang benar saja, kamar mandi ini lebih besar dari kamar tidurnya! Tiffany memandang berkeliling setelah mematikan shower. Ia meletakkan pakaiannya di luar pintu dan baru menyadari kalau tidak ada apa-apa di dalam bathroom ini!

Celaka! Ia tidak mengenakan apa-apa saat ini. Bagaimana sampai tidak ada handuk atau jubah di dalam sini? Ottokhae? Pekik batin Tiffany panik.

Tiffany memegang gagang pintu transparan shower room ragu-ragu. Dari pintu itu ia bisa melihat bajunya yang tergeletak di lantai. Pintu itu terbuat dari kaca blur yang cukup tebal. Tiffany menggigit bibir. Jika ia berlari secepat kilat keluar, pasti ia bisa mengambil bajunya. Lagipula, Siwon tak mungkin masuk sembarangan ke dalam kamar mandi ini.

Saat pintu kaca itu sedikit terbuka, tiba-tiba terdengar suara Siwon memanggilnya. Tiffany kaget dan menutup pintu itu dengan hentakan keras.

“AAAAAUUUCCH!”

Siwon yang sedang melongokkan kepala di pintu kamar mandi sambil tangannya memegang handuk serta jubah mandi, terkejut dan buru-buru masuk. Namun ia tidak berani melihat ke shower room. Ia takut ia bisa melihat tubuh gadis itu.

“K-kenapa, Fany-ah? Aku hanya.. hanya membawakan handuk dan jubah untukmu. Dimana harus aku letakkan?” seru Siwon gugup. Ia membelakangi shower room.

“Tanganku terjepit. Aish, sakit sekali. Kenapa Oppa tiba-tiba masuk? Untung saja tadi aku tidak jadi keluar,” gerutu Tiffany.

“Mianhae, Fany-ah. Aku lupa memberimu handuk. Aku kira kau belum selesai mandi, jadi aku masuk saja. Kalau begitu, aku taruh di depan pintu kaca ini. Ne?”

Tak ada jawaban. Siwon meletakkan dua helai pakaian itu di depan pintu kaca sambil memejamkan matanya. Padahal sisi nakalnya sudah menggoda daritadi. Ia bertanya-tanya bagaimana bentuk tubuh gadis itu saat sedang tidak memakai apa-apa. Kulitnya pasti bersinar, putih, lembut dan indah. Siwon menahan napasnya tatkala membayangkan gadis itu memakai sabun dan shampoonya. Siwon juga memakai ruangan shower itu.

Aish, gadis ini membuatku gila, batin Siwon. Melawan akal sehatnya, Siwon perlahan membuka mata dan melihat siluet putih yang daritadi ia bayangkan. Siwon menelan ludah. Walaupun pintu kaca itu blur, ia bisa melihat jelas siluet tubuh gadis itu. Demi dewa langit! Melihat siluet indah itu saja membuat jantung Siwon terasa berhenti berdetak.

“Sudahkah, Oppa?”

Suara Tiffany membuyarkan lamunan Siwon. Ia bangkit dan berdiri. “Su-sudah. Ne, aku keluar sekarang.”

Siwon buru-buru keluar. Langkahnya terasa berat sampai ia keluar kamar mandi dan menutup pintunya. Siwon menyandar di dinding kamar sambil memegangi dadanya. Jantungnya sedang berdebar sangat keras saat ini. Siwon memukul-mukulnya pelan.

“Aish, gadis itu membuatku hampir gila. Atau mungkin aku sudah gila sekarang,” gerutu Siwon. Lalu, Siwon menyibukkan diri dengan membereskan tempat tidurnya yang sedikit berantakan. Ia bahagia membayangkan akan menikah dengan gadis seperti Tiffany. Ia bahagia membayangkan tempat tidur ini akan menanti kehadiran gadis itu lagi. Dan ia bahagia, apartemen ini akan diisi oleh gelak tawa gadis pemilik eye smile tersebut. Beruntungnya diriku, pikir Siwon.

“Oppa?”

Siwon membalikkan tubuhnya dan mendapati Tiffany sedang menatapnya dengan kening mengerenyit. Siwon tersenyum gugup. Gadis itu wangi dan cantik sekali dengan rambut yang tergerai basah. Oh Tuhan, bagaimana cara mengabaikan gadis ini?!

“Oppa, kenapa tersenyum-senyum sendiri? Oppa,… tidak melihat apa-apa kan?” tanya Tiffany curiga. Tangan kirinya menggenggam tangan kanannya.

“A.. anio! Aku tak melihat apa-apa,” sangkal Siwon berbohong. Lalu matanya tertuju pada tangan Tiffany. “Tanganmu terjepit ya? Apa bengkak?”

Tiffany menggeleng. Namun Siwon tetap khawatir mengingat teriakan kencang gadis itu serta bunyi debaman pintu yang cukup keras. Ia menghampiri Tiffany dan menarik lembut tangannya.

“Ini akan membengkak,” ucap Siwon seraya mengelus tangan lembut itu. ia menelan ludah. Tiffany wangi dan kulitnya begitu halus. Tanpa melihat wajah Tiffany, ia yakin gadis cantik itu juga sama gugup dengan dirinya. Siwon perlahan menatap tepat ke mata gadis itu. tiffany juga sedang mengamati dirinya.

Mereka bertatapan cukup lama dengan jarak yang sangat dekat. Perbedaan tinggi mereka cukup jauh, membuat Tiffany mendongakkan kepala dan memperlihatkan lehernya yang jenjang. Siwon merasakan nafasnya sendiri memburu. Matanya beralih ke bibir pink Tiffany. Bibir itu merona dan lembab terkena air.

Tanpa mempedulikan apapun lagi, Siwon menangkup wajah Tiffany dan seketika mencium gadis itu tepat di bibir! Siwon merasakan tangannya gemetar saat mengelus rahang Tiffany. Oh Tuhan, gadis ini benar-benar terasa seperti madu! Siwon terus melumat bibir itu tanpa membiarkan Tiffany menarik napas. Tiffany awalnya menolak ciuman Siwon. Namun, ia merasakan getaran yang berbeda di hatinya. Ini adalah ciuman pertamanya. Ciuman pertama dengan lelaki yang disukainya. Lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.

Lama-lama Tiffany menyerah. Ia membuka mulutnya untuk merespon ciuman Siwon. Tiffany bisa merasakan kalau lelaki tampan itu tersenyum dan memperdalam ciumannya. Tangan Tiffany terangkat melingkari leher Siwon. Sedangkan Siwon menariknya agar menempel di tubuhnya.

Siwon mencium Tiffany dengan menggebu-gebu, rakus dan penuh cinta. Ia menggigit bibir bawah Tiffany dan menyesapnya dengan lembut. Membuat gadis itu mengerang. Lidah Siwon memainkan gigi dan menggelitik sudut bibirnya. Tiffany merasa kakinya gemetar. Ia tak tahu apa ia masih sanggup berdiri.

Siwon memeluk pinggangnya erat, jadi Tiffany hanya perlu bersandar pada lelaki itu. Siwon mengelus punggung Tiffany tanpa menghentikan ciumannya. Ia melepaskan ciuman dengan mendadak, memberi ruang agar Tiffany bisa bernapas. Bibirnya beralih mencium hidung dan mata Tiffany. Melihat gadis itu terhanyut membuat hati Siwon bahagia. Ia menggigit lembut dagu Tiffany dan gadis tersebut spontan menarik rambut belakang Siwon. Siwon tersenyum dan kembali mencium bibir Tiffany.

Ciuman yang semula lembut kini berubah menjadi liar dan tak terkendali. Tiffany sendiri terkejut dengan cara dirinya merespon Siwon. Darimana ia mendapat pelajaran seperti ini? Erangan Siwon bagaikan alarm baginya. Tiffany berusaha mendorong tubuh lelaki tampan itu dan menjauhkan dirinya.

Mereka sama-sama terengah dan terpana. Pipi Tiffany merona merah dan bibirnya terasa baru disengat sesuatu. Ia masih bisa merasakan ciuman Siwon di bibir itu. Siwon menatap Tiffany penuh penyesalan sekaligus lembut. Gadis itu telah membebaskan pikiran liarnya.

“A..aku, se-sebaiknya aku keluar,” gumam Tiffany terbata dan berjalan melewati Siwon. Siwon hanya berdiri kaku di tempatnya dan memejamkan mata saat terdengar bunyi pintu kamarnya ditutup dari luar.

“Oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan padanya? Dasar Siwon brengsek!” umpat Siwon untuk diri sendiri.

Dalam perjalanan ke rumah keluarga Park, Siwon dan Tiffany hanya diam seribu bahasa. Tiffany tidak berani menatap mata lelaki itu. Ia tidak marah, hanya saja ia merasa malu. Tadi mereka telah berciuman bagaikan sepasang suami istri. Tiffany tidak menyalahkan Siwon, karena ia sendiri merespon perlakuan calon suaminya itu.

Di sisi lain, Siwon takut gadis itu marah. Ia sudah bertindak diluar kendali dan mencium Tiffany seolah ia lelaki paling brengsek di dunia. Siwon mencuri-curi pandang ke arah Tiffany. Gadis itu menatap ke jalanan di depannya, tanpa ekspresi.

“Mmm, Fany-ah.”

Tiffany menoleh. “Ya, Oppa?”

“Mianhae. Aku berbuat tanpa memikirkan perasaanmu. Jeongmal mianhae,” ungkap Siwon. Tiffany tersenyum kaku.

“Gwenchana, Oppa. Jangan dipikirkan lagi. Ne?” hibur Tiffany, padahal wajahnya sudah memerah.

Siwon tertawa kecil sambil mengangguk. Ia lega Tiffany tidak marah atas perbuatannya. Siwon sendiri berpikir kalau ‘rutinitas’ itu memang termasuk dalam pernikahan. Namun, sekarang keadaan mereka adalah cinta bertepuk sebelah tangan. Siwon merasa perih di hatinya menyadari gadis itu belum juga menyatakan cintanya.

Tapi, mungkin ini hanya masalah waktu….

 

Setelah kejadian di apartemen Siwon, mereka tidak pernah lagi bertemu selama 10 hari. Dan hari pernikahan mereka tinggal 3 hari. Tiffany merasa kesepian akhir-akhir ini. Ia merindukan Siwon. Mereka memang bisa berhubungan lewat email dan telepon, namun Tiffany merindukannya sosok Siwon.

Tiffany memandangi ponselnya, sedang memikirkan Siwon. Sedang apa lelaki itu? apakah juga sedang memikirkannya? Tiffany belum begitu paham apakah rasa rindu ini ada hubungannya dengan cinta. Yang ia tahu, Siwon telah membuat hari-harinya lebih baik. Jika Tiffany memikirkan Siwon yang akan membantunya mencari keluarga kandung gadis itu, Tiffany semakin merindukan lelaki berlesung pipi tersebut.

Tiffany ingin meraih ponselnya dan terkejut benda itu telah berbunyi terlebih dahulu. Ia ingin melompat senang saat membaca nama penelfonnya. Siwon Oppa!

Tiffany berdehem lalu menjawab panggilan Siwon. “Yobosaeyo?”

“Yobosaeyo, Fany-ah. Apakah aku mengganggu?”

“Ah, ani. Ada apa, Oppa?”

“Begini, Fany.” Suara Siwon terdengar serius, membuat Tiffany kikuk. “Setelah 2 minggu ini aku mencari informasi tentang keterangan rumah sakit di Korea, aku menemukan beberapa data tentang…kelahiranmu.”

Tiffany benar-benar membeku. Ternyata ini tentang pencarian orang tua kandungnya.

“L-lalu?”

Siwon terdiam. Ia tahu Tiffany tidak akan sanggup mendengar berita yang ia dapatkan. Harus bagaimana ini? Kalau ia menyelidiki semua data yang didapatnya, Siwon tidak bisa mengerjakannya sementara hari pernikahan semakin dekat. Namun ia harus memberitahu berita penting yang tidak akan membuat Tiffany bersedih. Sisanya akan ia beritahu saat pernikahan mereka telah dilaksanakan.

“Keluargamu bermarga Hwang. Nama lahirmu adalah Stephanie Hwang, chagy.”

Mendengar perkataan Siwon, Tiffany tersenyum dengan matanya yang berair. Jadi namanya adalah Stephanie Hwang. Oh Tuhan, ia merasa campur aduk. Jauh di lubuk hatinya ia ingin mengetahui semua masa lalu dan membongkar rahasia dari keluarga angkatnya ini.

“Fany-ah, kau baik-baik saja? Bicaralah,” suara Siwon terdengar khawatir.

“Ah, gwenchana Siwon Oppa. Aku baik-baik saja. Aku hanya terlalu senang mendengarnya. Oppa, apa hanya itu saja?”

Kali ini Siwon yang terdiam. Tidak, masih banyak informasi yang aku dapatkan Fany-ah. Hanya saja ini terlalu menyakitkan jika kau menerimanya sendirian.

“Siwon Oppa?”

“Ne, Fany? Maaf, aku sedang melihat-lihat pekerjaan asistenku. Ya, hanya itu informasi yang aku dapatkan,” bohong Siwon. Terdengar Tiffany mendesah kecewa.

“Baiklah kalau begitu.”

“Jangan sedih, Fany. Aku berjanji akan membantumu mencari orang tua kandungmu setelah pernikahan kita. Bagaimana?” bujuk Siwon. Tiffany tersenyum dan mengangguk, walaupun ia tahu Siwon tak bisa melihatnya.

“Ne, Oppa. Gomawo,” ucap Tiffany.

“Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu? Lama sekali rasanya kita tak bertemu. Aku sangat merindukanmu, Chagy-ah.”

Tiffany tersenyum manis. “Aku…juga merindukanmu, Siwon Oppa.”

Siwon merasakan getaran di dadanya yang membuatnya tertawa kikuk. Tiffany juga merindukannya. Ah, awal yang baik, pikir Siwon. Ia bahagia.

Hari pernikahan mereka pun tiba. Tiffany sangat gugup dan menyendiri di belakang altar. Ia sudah berpakaian pengantin. Gaun berwarna putih bersih dengan beberapa manic di rendanya. Make up nya pun juga sempurna. Mulai hari ini hidupnya akan berubah. Ia percaya Siwon akan membuatnya lebih baik.

“Tiffany, apa kau sudah siap? Ayo! Appa dan Eomma sudah tak sabar melihat kau menikah dengan Tuan Choi Siwon. Dengan begitu kau akan mendapatkan separuh dari hartanya,” ujar Appa Tiffany riang. Tiffany mendelik tajam. Ia sudah muak dengan imajinasi-imajinasi orang tua angkatnya.

“Appa, bisakah Appa tidak membicarakan uang barang sebentar? Apa Appa dan Eomma hanya melihatku sebagai umpan harta? Apa Appa dan Eomma tidak melihatku sebagai anak?”

Appa Tiffany agak tercengang mendengar pertanyaan anak angkatnya itu. Lalu, terdengar bunyi lonceng pernikahan pertanda pernikahan akan segera dimulai. Appa menggandeng tangan Tiffany menuju altar. Pintu terbuka dan tampaklah para undangan berdiri dari tempat duduknya. Mata Tiffany tertuju ke altar, tempat dimana Siwon, pastur, dan pendamping pengantin pria, Sukkie, berdiri.

Sementara itu, bukan hanya Siwon yang terkesima melihat kecantikan pengantin wanita, tetapi juga Sukkie dan para undangan. Siwon menelan ludah. Dalam hati ia sangat bersyukur dan bangga, bisa menikahi Tiffany Hwang.

Saat Tiffany sampai di depan altar, Siwon segera menyambut tangan calon istrinya tersebut. Tatapannya tanpa kedip, membuat Tiffany merona malu. Melihat mereka yang masih saling pandang, sang Pastur berdehem.

“Siwon-ssi, apakah Anda siap untuk mengucapkan janji pernikahan? Saya lihat Anda tidak berkedip memandangi calon istri Anda. Tolong kembali ke bumi,” goda Pastur. Spontan para undangan tertawa. Tiffany menunduk malu dan Siwon hanya mengusap-usap rambutnya.

“Ya, aku siap.”

Janji pernikahan pun dimulai. Siwon, Tiffany dan para undangan mengikuti pernikahan dengan khidmat. Siwon telah berjanji di hadapan Tuhan untuk menjaga dan mencintai Tiffany seumur hidupnya dan gadis itu menerimanya. Mereka memakaikan cincin jari masing-masing dan para undangan pun bertepuk tangan.

“Kalian telah menjadi sepasang suami istri di hadapan Tuhan Yesus. Sekarang Siwon-ssi, silahkan mencium mempelai wanita.”

Tiffany menelan ludah dengan susah payah. Siwon menatapnya dengan lembut dan mendekatkan wajahnya. Pasrah dengan keadaan, Tiffany menutup mata. Kondisi seperti ini tak terhindarkan. Tiffany tidak dapat menolak. Jadi ia hanya menunggu saat bibir Siwon menempel pada bibirnya.

Dan, mereka pun berciuman. Tampaknya Siwon tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mencium Tiffany dengan segenap perasaan. Ciuman itu lembut, manis dan tak terlupakan. Siwon menangkup wajah cantik pengantinnya dan mendaratkan kecupan ringan berkali-kali, membuat para undangan bertepuk tangan riuh.

Siwon melepaskan ciuman mereka dan menatap Tiffany dalam. Ia tersenyum bahagia dan berbisik, “Aku akan menjagamu dengan hidupku. Saranghae.”

Untuk memenuhi permintaan orang tua Siwon, mereka pergi berbulan madu ke Phuket, Thailand. Well, sebenarnya mereka hanya menganggap ini sebagai liburan, walaupun Siwon ingin sekali menganggap ini bulan madu mereka. Sedangkan Tiffany tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mengikuti semua rencana Siwon, suaminya. Gadis itu masih tidak percaya bahwa sekarang ia adalah istri dari Choi Siwon yang tampan juga bahagia. Serta yang penting, Siwon mencintainya.

Tiffany melamun di tepi jendela kamar hotel. Ia melihat Siwon yang sedang berenang di kolam yang terletak tepat di bawah jendela. Lelaki itu hampir sempurna. Betapa bodohnya Tiffany jika tidak membalas cintanya. Tiffany mempelajari perasaannya sendiri. Ia merasa getaran yang tidak biasa pada Siwon. Ia juga selalu merasa ada perlindungan dan kehangatan disaat lelaki itu memegang tangannya. Dan ketika Siwon menciumnya, oh Tuhan, Tiffany tidak bisa mendeskripsikan perasaannya.

Ia senang disentuh dan dicium lelaki itu. Buktinya Tiffany tidak pernah menolak setelah dicium dua kali oleh Siwon. Apakah itu sudah cukup membuktikan kalau ini cinta? Tiffany menelan ludah, ia belum begitu yakin. Dasar Pabo, Tiffany mengutuk diri sendiri. Kenapa ia tidak tahu apa itu cinta hingga umur dewasa ini?

Saat itu ia mendengar pintu kamar diketuk. Tiffany melihat lagi ke kolam, Siwon masih berenang. Siapa itu? tiffany berjalan ke pintu dan mengintip dari lubang kecil untuk grendel. Ternyata bellboy. Tiffany membukanya dan tersenyum ramah.

Sawadika,” ucap Tiffany seraya memberi salam khas Thailand. Si bellboy membalasnya dengan ramah pula. Kemudian ia menyerahkan sebuah undangan kepada Tiffany.

“What is it?” tanya Tiffany.

“An invitation for Yearly Ball, Ma’am.”

Tiffany mengangguk paham. “Thanks.”

Si bellboy memberi salam dan pergi. Tiffany menutup pintu dan berjalan ke tempat tidur berukuran king size itu. Ia membuka dan membaca undangan di tangannya.

Welcome to Our Hotel Master and Madam. We Hope Everybody’s Enjoy and Comfortable while here. Anyway, this Invitation just for Newlywed in Our Hotel. We presents the Ball Every Year. Just for Newlywed Honeymoon. The ball Started at 8 am. Make Tonight to be Our Romantic Night Ever. Kokunka.

Tiffany menghela napas. Ini adalah undangan pesta ‘romantis’ yang dibuat setiap tahunnya oleh hotel tempat mereka menginap. Apa maksudnya ini? Tiffany belum ingin bermesra-mesraan dengan Siwon untuk saat ini. Ia terlalu malu.

“Apa itu, Fany?”

Siwon sudah berada di kamar dan lagi-lagi lelaki itu bertelanjang dada. Tiffany melirik sekilas dan kembali menunduk. Tiffany berdehem untuk menghilangkan gugupnya.

“Undangan pesta.”

Siwon berjalan mendekat dan mengambil alih undangan di tangan istrinya. Ia tersenyum membaca undangan tersebut dan meletakkannya di atas nakas. “Great. Kita akan pergi, ne?”

“Mwo? K-kau yakin, Oppa?”

Siwon duduk di sofa yang menghadap ke Tiffany, tanpa memakai kausnya terlebih dahulu. “Kenapa tidak? Kau…malu ya, pergi denganku?” tanya Siwon dengan nada sumbang. Tiffany diam saja. Siwon termenung sebentar lalu mengangguk paham. Ia hanya melayangkan senyum kaku pada istrinya lalu berdiri dan masuk ke walk in cabinet. Tiffany melihat raut kecewa di wajah suaminya dan seketika ia pun menyesal.

Siwon pasti sangat pergi ke pesta itu. Hanya sebuah pesta dan Tiffany menolak pergi dengannya?! Dia benar-benar istri yang tidak pengertian. Tiffany berdiri dan menyusul Siwon. Pintu walk in cabinet itu tertutup dan Tiffany tidak berani langsung masuk. Siwon sudah sangat baik kepadanya dan kepada keluarga Park. Siwon juga berjanji akan menemukan orang tua kandungnya. Dan bagaimana Tiffany berani menolak ke pesta bersamanya?!

“Oppa?” panggil Tiffany lembut.

“Ya, Chagy?” sahut Siwon dari dalam. Suaranya riang seperti biasa, tidak cocok dengan raut wajah kecewanya tadi.

“Oppa kan belum mendengar jawabanku,” ujar Tiffany.

Sejenak hening. Tiffany menunggu dengan senyuman di depan pintu cabinet. Lalu sepuluh detik kemudian, pintu cabinet terbuka dan Siwon berdiri menjulang di hadapannya. Ia memakai celana pendek dan kaus tanpa lengan. Kening Siwon mengernyit saat menatap wajah cantik istrinya.

“Kau tidak ingin pergi, kan? Tidak apa-apa Chagy. Kita bisa menonton film di kamar nanti malam,” kata Siwon. Tiffany menggeleng.

“Tidak, Oppa. Aku ingin ke pesta denganmu. Apa Oppa tidak keberatan?”

Siwon tersenyum manis, menunjukkan lesung pipinya. “Jincha?”

Tiffany otomatis mengangguk. “Tapi dengan satu syarat, Oppa.”

Siwon menyilangkan tangan di depan dada. “Apa itu?”

“Tolong, jangan terlalu baik padaku.”

Siwon menatap lembut pada Tiffany. “Hei, kenapa tidak boleh baik kepadamu? Kau istriku, Fany-ah.”

“Aku tahu, Oppa. Tapi, jika kau terlalu baik padamu, aku merasa aku terlalu jahat. Terkadang aku memang egois dan aku takut menyakiti hatimu.”

Siwon diam saja. Mungkin gadis di hadapannya ini sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Siwon mengangkat tangan kanannya dan mengacak-acak rambut Tiffany.

“Lebih baik kita bersiap-siap ke pesta. Ne?”

Siwon sudah berpakaian lengkap dan rapi. Jas hitam dengan dasi kupu-kupu maroon. Sudah 30 menit berlalu namun Tiffany belum juga keluar dari cabinet. Siwon mengetuk pintu cabinet dengan tidak sabar.

“Fany-ah, pesta akan dimulai 5 menit lagi. Kenapa lama sekali?” tanya Siwon.

“Ne, Oppa. Aku sudah selesai,” jawab Tiffany. Siwon menunggu sampai pintu cabinet terbuka dan terpaku melihat pemandangan di hadapannya. Tiffany memakai gaun sutra berwarna maroon pemberiannya. Gaun itu sangat indah di tubuh langsing Tiffany. Gaun di atas lutut, tanpa tali dan renda simple di bagian dada. Tiffany menyanggul rambutnya, memperlihatkan lehernya yang putih bersih dan mengenakan kalung berlian yang mengkilat.

“Kajja,” ucap Siwon sambil melengah. Ia menahan mati-matian untuk tidak menyurukkan kepalanya di leher indah  Tiffany.

“Bagaiamana penampilanku? Jelek ya?” tanya Tiffany malu-malu. Siwon terpaksa menatap wajah cantik istrinya yang di make up tipis.

“Kau cantik sekali, Fany-ah,” puji Siwon tulus. Tiffany merasakan pipinya memerah.

Mereka pun turun ke aula sambil bergandengan tangan. Siwon sangat bangga menggandeng istri cantiknya. Beberapa pasang mata memandangi mereka. Ada yang berpikir mereka adalah pasangan romantis dan ada juga pandangan iri kepada mereka.

“Wah dekorasinya keren sekali, Oppa.”

Siwon ikut mengagumi pemandangan indah di aula hotel. Semua serba pink dan dipenuhi dengan balon serta tebaran bunga mawar mewah. Semua undangan telah menempati meja mereka. Ternyata satu meja untuk dua undangan. Siwon menarik kursi untuk Tiffany dan ikut duduk setelahnya. Meja itu masih ditempati oleh Siwon-Tiffany.

“Oppa, partner di meja kita belum hadir ya?” tanya Tiffany. Siwon memandang berkeliling.

“Sepertinya begitu. Mungkin mereka sedikit terlambat, Fany-ah.”

Pesta itu diiringi oleh band jazz Thailand dan beberapa manajer hotel menyambut tamu-tamu mereka yang datang. Seorang pramusaji datang ke meja Siwon Tiffany dan mengisi gelas wine mereka. Siwon tak lepas memandangi istrinya yang begitu cantik. Tiffany masih kikuk, karena seumur hidup tidak pernah menghadiri pesta semewah dan seromantis ini.

Tak lama kemudian, sepasang suami istri lain mendatangi meja mereka. Siwon dan Tiffany mendongak. Well, sepertinya mereka bukan orang Asia. Namun ada yang salah dengan raut wajah mereka. Si istri tampak cemberut.

“Excuse me, may we sit here?” tanya si suami. Siwon yang fasih berbahasa Inggris menganguk dan mempersilahkan mereka. Si suami menarik kursi untuk istrinya, tapi wanita itu menolak. Siwon dan Tiffany hanya saling melempar pandangan heran. Tampaknya si istri sedang marah kepada suaminya.

“Hei, I’m Chay Suede, by the way. And this is my girlfriend, Melanie,” lelaki bernama Chay itu mengulurkan tangan kepada Siwon dan Tiffany. Siwon dan Tiffany menyambutnya dengan ramah. Tetapi ada gelagat aneh saat Melanie menyalami Siwon. Tiffany tersenyum genit kepada Siwon dan menggenggam tangannya dengan erat serta lama. Tiffany berdehem.

“Sorry,” ucap Melanie. “Is she your girlf, handsome?” tanyanya genit pada Siwon. Tiffany mengernyit resah. Walaupun tidak fasih berbahasa Inggris, tapi Tiffany mengerti kalau gadis bernama Melanie ini sedang menggoda suaminya.

“No. She’s my lovely wife. Anyway, you are not a couple? I mean, married couple,” Siwon bertanya diplomatis. Mereka semua tahu kalau ini adalah pesta untuk pasangan yang telah menikah, namun Chay dan Melanie hanya sepasang kekasih.

“I know. We’re just carious what will happen in here. Beside, we don’t have anything to do tonight,” jawab Chay. “Right, honey?” Chay meminta persetujuan pacarnya yang masih menatap Siwon.

Melanie memutar bola matanya dengan malas. “Yeah, whatever.”

Tiffany menilai gadis ini di dalam hatinya. Sangat angkuh dan egois. Tapi Melanie ini luar biasa cantik. Rambutnya hitam bergelombang sebahu, bibirnya tipis dan lebar, matanya indah, dan tubuhnya tinggi langsing. Kira-kira 175 sentimeter. Chay juga tak kalah tampan dari Siwon. Bahkan mungkin, pria berjambang tipis itu lebih tampan dari Siwon. Senyuman Chay sangat manis. Setelah mengobrol banyak, ternyata Chay dan Melanie adalah orang Brazil. Mereka ke Thailand untuk merayakan hari jadi mereka yang ke-3. Romantis sekali. Namun, sepertinya Melanie sedang tidak mood dengan pacarnya. Saat Chay dan Siwon mengobrol, Mel bukannya mengajak Tiffany untuk ikut berbincang, malah sibuk menginterupsi dan tak malu-malu memandangi Siwon.

Hey, aku istrinya! teriak Tiffany dalam hati. Ia sangat tidak menyukai perasaan ini. Ia tidak rela Melanie mencari perhatian Siwon, dan suaminya itupun melayaninya! Tiffany hanya diam saja sepanjang pesta berlangsung.

“Fany-ah, ingin kupotongkan steak ini untukmu?” tanya Siwon saat acara makan steak berlangsung. Tiffany buru-buru menggeleng.

“Mr. Choi, aku tak bisa memotong steak ini, bisakah kau memotongkannya untukku?” pinta Melanie dengan gaya manja. Siwon tersenyum dan membantunya. Sedangkan Tiffany tercengang di tempat duduknya. Chay sama sekali tidak bereaksi dan tetap melanjutkan makan malamnya. Mungkin karena mereka menganut hubungan bebas, jadi hal seperti itu dianggap biasa saja. Lagipula, mereka hanya sepasang kekasih.

Tiffany menahan panas hati yang dirasakannya dan terpaksa menelan makanannya seolah-olah tidak ada yang terjadi. Ia cemburu. Sangat cemburu.

“Makanan disini enak-enak sekali, benar kan Siwon?” tanya Chay. Ia tidak menghiraukan kegenitan pacarnya yang cantik.

“Ya. Pantainya juga indah,” timpal Siwon.

“Kau suka pantai Siwon? Wah, aku juga! Bagaimana kalau besok kita main ke pantai bersama-sama?” seloroh Mel bersemangat. Spontan Tiffany dan Chay menoleh padanya. Dengan raut wajah tak enak, Mel menambahkan. “Maksudku, kita berempat. Kau tidak keberatan kan, Tiffany?”

Tiffany mengangguk gugup dan Siwon tersenyum.

“Baiklah. Besok kita ke pantai,” ujar Siwon. Melanie tampak senang sekali.

Tiffany sudah merasa tak nyaman. Ia ingin pergi ke kamar saja. Siwon benar-benar tak mengerti perasaannya. Selesai makan malam, manajer hotel mengumumkan kalau mereka semua boleh berdansa dengan diiringi music waltz. Melanie tampak bersemangat dan berbisik pada pacarnya. Chay terdiam sebentar lalu mengangguk. Melanie tersenyum lalu mencium mesra bibir Chay, membuat Siwon dan Tiffany sedikit terkejut. Tiffany membuang pandangan sementara Siwon hanya memandangi istrinya.

“Siwon, maukah kau berdansa denganku? Chay mengizinkan, kok!” pinta Mel. Tiffany menelan ludah dan menunduk menatapi meja. Siwon menghadap Tiffany.

“Fany-ah, apa aku boleh berdansa dengan Melanie?” tanya Siwon. Tiffany menatap sendu. Ia mengira Siwon akan mengajaknya berdansa dan menolak Melanie, tapi ternyata Siwon meminta izinnya untuk berdansa dengan gadis lain!

“Silahkan,” ucap Tiffany pelan.

Siwon terdiam sebentar dan akhirnya menggandeng Melanie ke lantai dansa. Tiffany tak mau melihat mereka. Ia mengisi penuh gelasnya dengan wine. Chay hanya mengawasi Tiffany tanpa berkomentar.

Tiffany meneguk winenya. Entah sejak kapan ia menyukai minuman keras itu, tapi setelah meminumnya Tiffany merasa lebih baik. Chay berpindah duduk lebih dekat dengan Tiffany.

“Eng, Tiffany?” tanya Chay. Tiffany menoleh.

“Y-ya?”

“Apakah kau marah pada Mel? Aku mohon maaf. Aku tahu dia agresif, tapi aku jamin dia tidak akan menggoda suamimu,” ujar Chay, tersenyum. Tiffany melirik Siwon dan Melanie yang sedang berdansa. Tiffany mendengus melihat mereka. Tidak menggoda apanya? Jelas-jelas Mel sedang bergelayut manja di pelukan Siwon dan suaminya itu hanya diam saja!

Dasar Siwon brengsek! Ternyata ia salah menilai suaminya ini. Siwon dengan mudahnya berselingkuh dengan gadis lain, pikir Tiffany. Hah, berselingkuh? Tapi tadi Siwon meminta izin padanya dan dirinya mengizinkan. Tiffany merasa muak. Kenapa dadanya terasa sangat sakit.

“You’re so beautiful, you know that?” puji Chay. Tiffany mngerjap memandangnya.

“Terima kasih, Mr. Suede,” ucap Tiffany. Ia meneguk wine nya lagi. Ini sudah gelas ketiga. Kepala Tiffany terasa pusing.

“Kau baik-baik saja, Tiff?” tanya Chay. Tiffany tidak menjawab. Ia menyandarkan kepalanya ke tepi meja. Ya Tuhan, minuman ini membuatnya pusing!

“Kau terlalu banyak minum. Tunggu sebentar, akan kupanggilkan Siwon!”

Chay bediri dan bergegas menghampiri Siwon. Tiffany berkeringat. Ia tidak terbiasa minum sebanyak itu. Ugh, bodoh sekali aku, Tiffany mengutuk diri sendiri. Ia mencoba berdiri dan berniat ke kamar, namun tubuhnya sempoyongan. Untung saja sepasang tangan dengan sigap menyambut tubuhnya.

“Fany-ah, kau mabuk?” Siwon merangkul bahunya. Tiffany menatap wajah Siwon.

“Le-lepaskan..hik. a..ku bisa ke kamar..hik..sendiri!” tolak Tiffany sambil mendorong tubuh suaminya. Siwon membungkuk pada Chay dan Mel sebelum menyusul Tiffany yang berjalan sempoyongan ke kamar mereka.

Siwon terus berjalan di belakang istrinya yang sedang mabuk. Ia khawatir Tiffany tiba-tiba jatuh. Mungkin ini pertama kalinya Tiffany mabuk. Aish, apa sih yang dipikirkan gadis ini? Kalau memang tak suka melihat Mel berdansa denganku, seharusnya dia tidak mengizinkan!batin Siwon.

Sampai di koridor kamar, Tiffany berhenti di depan kamar mereka dan duduk. Siwon berjongkok di sampingnya. Wajah Tiffany memerah karena mabuk. Siwon mengangkat tangan hendak mengelus rambut poni istrinya, namun gadis itu segera menepis.

“Kau..jahat, Oppa. Hik!”

Siwon tersenyum. Ia mengerti sekarang.

“Jahat? Kenapa kau bilang begitu?”

Tiffany menatap tajam ke arah Siwon dan mendorong bahu suaminya itu. “Kau! Berani-beraninya memeluk gadis lain di hadapanku!” jerit Tiffany. Siwon menutup telinganya dengan tangan.

“Yah. Fany-ah! Suaramu keras sekali! Ayo masuk ke kamar. Suaramu bisa membangunkan tamu satu koridor ini,” desis Siwon. Ia berdiri lalu membuka pintu. Dilihatnya Tiffany belum juga bergerak. Siwon mengulurkan tangannya.

“Ayo, chagiya. Kau mau semalaman tidur di luar ini?”

“Tidak usah menolongku. Tidak usah…hik..menyentuhku!” hardik Tiffany dan berusaha berdiri sendiri dengan bantuan konsen pintu. Siwon hanya berkacak pinggang memandangi istrinya yang sedang cemburu buta, berjalan terhuyung-huyung ke dalam. Selanjutnya Siwon masuk dan mengunci pintu. Ia melihat Tiffany berbaring di sofa. Sanggulnya sudah berantakan dan banyak rambut yang mencuat kesana-kemari.

“Yah! Kau harus ganti baju dulu dan jangan tidur di sofa,” perintah Siwon lembut. Ia sendiri melepas jas dan dasinya.

Tiffany terus menggerutu. “Kau pikir kau siapa, seenaknya menyuruhku. Urusi saja gadis Brazil barumu itu. ia lebih cantik dan seksi daripada aku. Besok kan kau akan ke pantai dengannya. Hik! Selamat bersenang-senang Tuan Choi Siwoooon!”

Siwon menghela napas dan bersimpuh di samping sofa, sejajar dengan kepala Tiffany. Mata gadis itu terpejam dan mulutnya terus menggerutu. Siwon tertawa kecil menyadari betapa cemburunya gadis ini.

“Kau…cemburu ya?” tanya Siwon. Wajahnya mendekati Tiffany.

“A-aniyo. Percaya diri sekali,” gumam Tiffany.

“Lalu, kenapa kau mengomel-ngomel seperti ini, chagy?”

Tiffany mendorong kepala Siwon yang mendekati wajahnya. “ Yah! Jangan panggil aku chagy lagi!”

“Shiro. Aku akan tetap memanggilmu chagy,” tukas Siwon keras kepala.

“Kau benar-benar tukang rayu. Aku benci padamu, Oppa! Kau mempermainkan perasaanku.”

Kini Tiffany menangis. Siwon menatapnya lembut dan menggenggam tangan gadisnya itu. ia merasa bersalah telah meladeni kegenitan Melanie tadi. Tetapi Siwon punya tujuan. Ia ingin melihat apakah Tiffany mencintainya atau tidak. Dan dengan sikap cemburu Tiffany sekarang, Siwon sudah mendapat jawabannya.

“Aku tidak akan pernah mempermainkanmu lagi, chagy. Mianhae. Jeongmal mianhae. Kau boleh menamparku, mendorongku, dan menendangku. Tapi jangan membenciku. Karena aku sangat mencintaimu, Fany,” ungkap Siwon. Ia mengelus rambut Tiffany dengan lembut. Tiffany hanya diam menatapnya.

Tangan Siwon mengelus wajah Tiffany. “Aku..tidak akan membiarkan mata ini menangis lagi karenaku,” ucap Siwon seraya mengecup airmata Tiffany.

“Aku tidak akan membiarkan tangan ini disentuh pria lain,” bisik Siwon seraya mencium kedua telapak tangan Tiffany.

“Aku tidak akan membiarkan telinga ini mendengarkan rayuan pria lain selain diriku,” bisik Siwon lalu mencium kedua telinga Tiffany.

“Aku akan selalu membuat pipi ini merona oleh cintaku,” ucap Siwon kemudian mencium kedua pipi istrinya dengan lembut. Tiffany mulai menangis lagi. Sekarang ia terharu, bukan marah.

“S-siwon Oppa.”

“Dan aku tidak akan membiarkan bibir ini memaki untukku atau mengucapkan benci lagi. Aku akan membuat bibir ini mengucapkan kata cinta untukku,” bisik Siwon. Matanya menatap intim ke mata Tiffany. Wajahnya maju dan ia mencium Tiffany penuh kelembutan.

Tiffany merasakan kebahagiaan membuncah di dada dan perutnya. Cara Siwon menciumnya membuat gadis itu merinding. Bibirnya menjelajah ke setiap sudut mulut Tiffany, mengecapnya bagai madu. Tiffany memeluk tubuh Siwon saat lelaki itu beranjak ke atas tubuhnya. Mungkin Tiffany setengah sadar karena alcohol, namun yang dirasakannya benar-benar diyakininya.

Ia mencintai Choi Siwon.

Tiffany terbangun di pagi hari karena cahaya terang yang masuk ke kamar lewat jendela. Ia merintih kesakitan seraya memegangi kepalanya. Ya Tuhan, kepalanya seperti ingin pecah. Mungkin akibat ia terlalu banyak minum. Dan apa ini? Tiffany terkejut saat menyadari dirinya tidak lagi mengenakan gaun semalam. Kini ia memakai gaun tidurnya yang tipis.

Tiffany menelan ludah. Ia berusaha mengingat kejadian tadi malam. Sial, ia tidak ingat sama sekali! Yang bisa diingatnya adalah ia makan malam dengan pasangan dari Brazil tersebut, dan marah saat Siwon bermesraan dengan gadis lain. ia meneguk beberapa gelas wine dan tak ingat apa-apa lagi.

Lalu, siapa yang membawanya ke kamar dan mengganti bajunya?! Apakah Siwon? Oh tidak, apa yang dilakukan Siwon terhadapnya selagi dirinya mabuk? Tiffany menelan ludah. Ia melihat ke dalam selimut. Tak ada darah atau apapun yang mencurigakan.

“Kau sudah bangun?” terdengar suara Siwon dan Tiffany segera menurunkan kembali selimutnya. Lelaki itu berjalan ke arahnya dengan segelas air serta sebuah pil di tangannya.

“Ya, Oppa.”

“Apa kepalamu pusing? Ini, minumlah. Ini obat penghilang rasa sakit setelah mabuk,” ujarnya sembari mengulurkan obat dan segelas air mineral.

Tiffany mengangguk. Ia mengambil benda yang diulurkan suaminya dan meminum obat tersebut dalam sekejap. Siwon duduk di kursi kecil dekat ranjang. Setelah meneguk habis air minumnya, Tiffany meletakkan di atas nakas dan memandangi Siwon dengan hati-hati.

“Wae? Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku terlalu tampan pagi ini?” goda Siwon.

“Oppa, siapa yang mengganti pakaianku?” tanya Tiffany langsung. Siwon tersenyum misterius.

“Tentu saja aku. Kau kan sedang mabuk, berdiri saja sempoyongan,” jawab Siwon lugas. Wajah Tiffany memerah dan tangannya sibuk meremas-remas selimut. Jadi benar Siwon yang telah mengganti pakaiannya. Berarti Siwon sudah melihat tubuhnya!

Tiffany menyelimuti seluruh tubuhnya, ia merasa malu sekali. Sedangkan Siwon hanya tertawa melihat tingkah istrinya itu. siwon menyibakkan selimut itu dan menarik tangan Tiffany agar berdiri.

“Yah! Bangunlah!” seraya Siwon. Tiffany menggeleng, menolak untuk ditatap Siwon. Siwon menghela napas dan memegang kedua pundak Tiffany.

“Chagy-ah. Jika kau memikirkan hal itu, jangan khawatir. Tidak terjadi. Percayalah.”

Tiffany mengerjap dan mengangkat kepalanya. Siwon tampak serius saat ini. “Jincha?”

Siwon mengangguk pelan. “Ne. Lagipula, aku tak ingin memaksamu. Aku ingin kita melakukannya tanpa ada paksaan. Aku memahamimu, chagy.”

Tiffany merasa sedikit bersalah. Mungkin Siwon belum tahu saja kalau dirinya sudah jatuh cinta. Ia mencintai Siwon, suaminya. Namun Tiffany belum berani mengatakannya. Kalaupun malam pertama itu terjadi, Tiffany akan melakukannya. Tapi tidak dengan keadaan tidak sadar seperti semalam.

“Sekarang cepatlah mandi. Kita akan ke pulau dengan boat. Kau pasti akan suka pemandangannya,” kata Siwon lagi. Tiffany memberikan eye smile nya dan mengangguk.

 

 

Siwon telah menyewa sebuah boat ski untuk mereka. Sesuai janji, mereka bertemu lagi dengan pasangan Brazil di pantai. Tiffany memberikan eye smile kepada Chay dan Mel saat mereka mendekat. Melanie memeluk Tiffany seperti teman lama. Tiffany membalasnya.

“Bagaimana keadaanmu pagi ini, Tiffany?” tanya Mel.

“I’m fine, thank you Melanie.”

“Kusarankan jangan minum terlalu banyak, Tiff. Kami sangat khawatir semalam,” timpal Chay. Tiffany membungkuk.

“Maafkan aku. Aku tak akan membuat kalian khawatir lagi,” ucap Tiffany.

Melanie dan Chay juga bersalaman dengan Siwon. Tiffany melihat sepasang kekasih itu, sepertinya sudah berbaikan. Tangan Chay tak lepas melingkari pinggang pacarnya.

“Kalian ikut ke Pulau Suruet? Aku sudah menyewa boat ini. Well, cukup besar untuk empat orang,” tawar Siwon kepada Chay dan Melanie.

“ Tidak usah, nanti kami merepotkan,” Chay menolak ramah.

“Ikutlah bersama kami. Pasti akan seru jika beramai-ramai melihat pemandangan di Pulau Suruet,” bujuk Tiffany.

Mel tersenyum lebar. “Benarkah kami boleh ikut?”

“Tentu saja. Ayo!” sambung Siwon.

Kedua pasang manusia itu akhirnya sampai di Pulau Suruet. Pulau itu tak terlalu ramai. Mungkin karena itu Pulau kecil dan tidak berpenghuni. Disana terdapat bukit kecil tempat wisatawan mengambil foto. Tiffany dan Mel berlari ke tepi pantai untuk mencari kerang. Sedangkan Siwon dan Chay berjalan menyusuri pantai tak jauh dari para gadis.

“Kalian pasangan yang sangat serasi, Siwon,” komentar Chay saat mereka memainkan pasir dengan kaki mereka.

“Benarkah? Thanks, bro!” ucap Siwon seraya menepuk pelan pundak Chay.

“Tiffany itu cantik sekali. Dan aku yakin dia pasti seorang gadis yang baik,” tambah Chay lagi. Siwon melempar pandangan ke arah gadis-gadis yang sedang bermain air.

“Ya, Chay. Dia hampir sempurna. Aku sangat beruntung memilikinya,” ungkap Siwon. Chay tersenyum.

“Tampaknya dia sangat mencintaimu, Siwon. Dimana kalian bertemu?”

Siwon memandang Chay dengan ekspresi datar. Kali ini ia tidak sepenuhnya yakin dengan opini Chay. Lalu Siwon tertawa hambar seraya menggeleng lemah. Chay mengernyit.

“Apa maksudnya itu?”

“Tidak, Chay. Aku rasa dia tidak mencintaiku. Maksudku, belum.”

Chay terdiam mendengar pernyataan Siwon.

“Lalu, kenapa kalian bisa menikah?” tanyanya penasaran. Dari dilihatnya semalam, jelas-jelas Tiffany menunjukkan rasa cemburu yang besar.

Siwon menghela napas. “Aku menikahi Tiffany hanya untuk menyelamatkannya dari keluarga angkatnya. Keluarga angkat Tiffany menyembunyikan rahasia tentang keluarga Tiffany yang sebenarnya. Keluarga angkatnya sangat gila dengan harta, oleh karena itu aku bisa dengan mudah membujuk mereka. Hanya saja, Tiffany tidak mencintaiku. Ia mau menerima lamaranku mungkin karena merasa harus balas budi.”

Chay mengangguk mengerti mendengar penuturan Siwon. Sejurus kemudian ia balas menepuk bahu teman barunya itu.

“Tapi kau mencintainya, kan?”

Siwon tertawa kecil. “Ya, aku sangat mencintainya.”

“Kalau begitu, menangkan hatinya, pals! Kau pasti bisa. Aku yakin kau akan mendapatkan hatinya,” Chay memberi semangat.

“Thanks. I will.”

Mereka berjalan pelan menyusul Tiffany dan Mel. Sepertinya kedua gadis itu sudah akrab saja.

“Kau sendiri bagaimana? Gadismu itu benar-benar atraktif ya?” Siwon balas bertanya.

Chay tersenyum. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang dirasakannya kini. “Rencananya malam ini aku akan melamarnya.”

Siwon melebarkan mata pada Chay. “Are you serious? Well, that’s great Chay!”

“Ya, aku sedikit gugup sebenarnya. Aku takut Mel tidak menerimanya. Kau tahu, kami sedang meniti karir dan sekarang sudah akan meluncurkan album pertama kami,” ungkap Chay. Chay dan Mel memang berprofesi sebagai penyanyi.

“Kau tidak akan tahu jika belum mencobanya. I’ll pray for you, pals!”

“Thanks.”

Siwon dan rombongannya kembali ke Phuket lebih cepat karena cuaca menunjukkan gelagat yang kurang bagus. Langit tiba-tiba berubah gelap dan biasanya akan terjadi badai. Siwon bisa melihat ekspresi istrinya yang berubah cemas. Ia tahu hal buruk akan terjadi jika mereka dihadang badai di tengah laut.

“Hei, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan mengemudikan boat ini dengan super cepat agar kita segera sampai ke Phuket. Hanya 30 menit, ne?” Siwon berbisik pada Tiffany. Tiffany tersenyum kaku dan mengangguk. Selagi ada Siwon di dekatnya, ia merasa aman.

Mel dan Chay berpelukkan di bagian belakang boat. Sedangkan Tiffany duduk di dekat Siwon mengemudi. Siwon melajukan boat nya lebih cepat dari biasanya. Ia bisa melihat istrinya itu menggigil tatkala ombak di sekitar mereka sudah mulai meninggi.

“Chagiya, kau kedinginan? Seingatku kau membawa selimut di dalam tas. Benar kan?”

Tiffany tak bereaksi. Sepertinya ia mulai ketakutan. Air laut sudah menghitam, sehitam langit di atas mereka. Hujan pun mulai turun, namun tidak lebat. Pemandangan di depan mereka cukup mengerikan, dimana ombak tiba-tiba bergerak deras dan besar. Siwon menambah laju boatnya dan menahan sakit saat hujan menerpa wajahnya.

Ia harus mengemudi dengan hati-hati agar keseimbangan boat terjaga.

“Hu! Ombaknya besar sekali!” seru Mel.

“Apa kau sudah melihat daratan, Siwon?” teriak Chay. Ia meninggalkan Mel yang tampaknya tidak terlalu takut, dan menghampiri Siwon.

“Sedikit lagi, Chay. Untunglah aku bisa melihat dengan jelas,” jawab Siwon.

“Tiffany, apa kau baik-baik saja?”

Pertanyaan Mel membuat Siwon dan Chay melihat ke belakang. Tiffany duduk dengan kaku serta gemetar. Bibirnya sudah membiru dan wajahnya pucat sekali. Siwon menelan ludah. Pasti istrinya ini ketakutan lagi.

“Chay, bisakah kau mengemudikan boat ini? Aku perlu mengalihkan perhatian istriku. Dia takut dengan badai,” kata Siwon kepada Chay.

“Serahkan padaku, sobat!” tukas Chay lalu mengambil alih kemudi. Siwon buru-buru menghampiri Tiffany yang sedang ditemani oleh Melanie.

“Chagiya, gwenchana,” ucap Siwon seraya menyentuh lengan Tiffany. Siwon terkejut. Badan Tiffany benar-benar dingin. Matanya terpejam tetapi gadis itu menangis. Siwon langsung memeluknya dan Tiffany balas memeluk dengan erat.

“Kau kedinginan Chagiya,” bisik Siwon lembut. Tiffany gemetar hebat di dalam pelukannya. Sekilas Siwon melirik Melanie yang tampaknya khawatir.

“Melanie, bolehkah aku minta tolong? Tolong ambilkan selimut di dalam tas berwarna pink itu,” pinta Siwon kepada Melanie. Melanie mengambilkan selimut itu dengan sigap, sementara pacarnya tetap mengemudi di depan.

“Ini, Siwon. Kenapa Tiffany begitu ketakutan?” bisiknya seraya memberikan selimut berwarna biru itu kepada Siwon.

“Aku juga tidak tahu, Mel.”

Siwon merentangkan selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Ada sedikit cahaya yang masuk dari celah selimut yang dibuat Siwon. Ia memegang wajah Tiffany dengan satu tangan, tangannya yang lain memegang selimut.

“Nah, sudah aman di dalam sini. Buka matamu, honey.”

“Aku…t-takut. Oppa, aku mau Eomma. Huhuhu,” isak Tiffany. “Eommaaaa, Appaaaaa.”

“Sshh, lihat aku, Chagy. Aku disini. Aku yang akan melindungimu mulai sekarang. Jangan takut lagi, arraso?”

Tiffany tetap menangis dan memeluk Siwon lebih erat. Siwon berharap daratan Phuket tidak jauh lagi. Karena Tiffany mulai menjerit-jerit memanggil Eomma dan Appa nya. Bisa-bisa nanti dia kejang. Siwon tak mau melihat istrinya itu menderita ketakutan.

“Jangan tinggalkan aku, Oppa. Aku takut,” rintih Tiffany. Siwon mengecup hangat keningnya.

“Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, chagiya.”

Siwon mengintip dari balik selimutnya. Ia memandang jauh ke depan. Senyum merekah di bibirnya. Ia sudah bisa melihat daratan dan melihat Chay serta Melanie yang bersorak senang.

“Siwon! Daratan sudah dekat! Terima kasih Tuhan!” sorak Chay dan Melanie memberikannya ciuman.

“Kau hebat sayang!” teriaknya. Siwon hanya menggeleng-gelengkan kepala dan kembali ke dalam selimut. Ia meliahat Tiffany tidak begitu gemetar lagi. Mungkin karena ia juga mendengar sorak Chay dan Melanie.

“Kita hampir sampai, Chagiya. Jangan takut lagi, ne?” hibur Siwon. Tiffany mendongakkan kepala dan menatap lembut ke arah suaminya.

“O-oppa.”

“Ne?”

Tiffany memajukan wajahnya sedikit dan mencium tepat di bibir Siwon. Tepatnya itu hanya kecupan singkat. Siwon masih terperangah saat Tiffany kembali menarik wajahnya. Kecupan itu hangat, seolah mengaliri pembuluh darah Siwon, ikut menghangatkan tubuhnya. Ia memandang Tiffany penuh arti dan memegangi wajah cantik tersebut.

“Saranghae, Oppa.”

Siwon dan Tiffany kembali ke Korea. Bulan madu mereka di Thailand benar-benar menyenangkan sekaligus mengesankan. Siwon sangat berterima kasih kepada Negara gajah putih itu karena telah mempersatukan cinta mereka. Tiffany akhirnya menyatakan bahwa ia mencintai Siwon dan tak ingin Siwon meninggalkannya. Tentu saja Siwon sangat bahagia.

Siwon ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan Tiffany, tumbuh tua bersama dan ia ingin mempunyai banyak anak dengan istrinya itu. anyway, bicara tentang anak, mereka belum melakukan hal itu sama sekali. Sepulang dari pulau Suruet, Siwon hanya membiarkan Tiffany beristirahat. Dan paginya mereka sudah dijadwalkan pulang ke Korea.

Namun Siwon bersabar menunggu. Ia ingin waktunya tepat dan tidak ingin Tiffany merasa terpaksa melakukannya. Ia tahu saat ini Tiffany sangat rapuh mengingat ia belum ingat apa-apa tentang orang tua kandungnya. Namun Siwon sudah tahu, hanya saja ia masih belum siap memberitahukan kepada Tiffany.

“Welcome Home, Oppa Eonni!” sambut Yoona saat mereka memasuki apartemen Siwon. Siwon dan Tiffany terkejut saat melihat Yoona dan Sukkie telah menghias ruang tengah apartemen itu dengan bermacam-macam hiasan serta gittler.

“Selamat datang kembali, Our Newlywed!” seru Sukkie seraya menebarkan gittler ke kepala Siwon dan Tiffany. Mereka berpelukkan.

“Thanks, bro!” ucap Siwon pada Sukkie. Tiffany juga memeluk Yoona yang jauh lebih tinggi darinya.

“Gomawo, Yoona-yah!” ucap Tiffany tulus.

“Jadi, bagaimana bulan madu kalian? Bagaimana Thailand? Apakah seru? Aahh, aku juga ingin sekali pergi kesana. Aku dengar pantainya indah sekali. Jeongmal?” cerocos Yoona. Sukkie mengernyit menatapnya.

“Yah, Yoona! Kenapa cerewet sekali? Biarkan mereka duduk dulu,” protes Sukkie. Yoona menggembungkan mulutnya.

“Aniyo! Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Aku sudah memasak untuk kalian. Kajja!” tukas Yoona dan menarik tangan Tiffany berjalan ke dapur.

“Apa? Kau yang memasak?!” tanya Siwon tak percaya. Jujur, ia tak yakin ingin makan atau tidak. Sebab Yoona tidak bisa memasak. Yoona tak punya bakat sama sekali.

Melihat kekhawatiran di wajah sahabatnya, Sukkie terkekeh lalu menambahkan. “Tenang saja, Woonie. Aku sudah mengajarinya dengan baik.”

Siwon memandang serius pada Sukkie. Ia tahu sahabatnya itu pintar memasak. Setelah meletakkan tas dan kopernya, Siwon dan Sukkie menyusul para gadis ke dapur. Tiffany dan Yoona telah duduk disana.

“Wah, sepertinya enak sekali. Kebetulan perutku sedang lapar. Gomawo, Yoona-yah!” kata Tiffany semangat. Siwon mengambil tempat duduk di samping Tiffany dan menghadap Yoona.

“Kau yakin ini enak, Yoong?” tanya Siwon tajam. Yoona melotot kepada sepupunya itu.

“Yah, Oppa! Jangan sembarangan bicara. Aku sudah bisa memasak sekarang. Kalau tidak percaya, coba saja sekarang!” protesnya.

Sukkie menahan tawa. Yoona dengan senang hati mengambilkan satu porsi sup daging untuk kakak iparnya, sedangkan Siwon terabaikan. Padahal lelaki itu sudah menyerahkan mangkuk kepada Yoona. Gadis itu malah mengambil mangkuk Sukkie.

“Aish, anak ini,” gerutu Siwon. Tiffany tertawa di sampingnya kemudian mengambil mangkuk Siwon.

“Sini, Oppa. Biar kuambilkan untukmu,” katanya. Siwon tersenyum senang.

“Gomawo, chagiya.”

Melihat Tiffany mengambilkan sup untuk Siwon, Yoona dan Sukkie saling sikut. Yoona si jahil mulai berdehem.

“Wah, romantis sekali Fany unnie! Siwon Oppa sangat beruntung bisa membujukmu agar menikah dengannya, Unnie.”

Siwon melotot pada Yoona, sepertinya masih dendam. “Yah! Apa maksdumu?”

“Tapi benar kan, Woonie? Kau sangat beruntung mendapatkan Tiffany-ssi. Dia cantik, lemah lembut dan sangat feminine,” tambah Sukkie. Kini Yoona yang melotot kepadanya.

“Ya ya ya, kalian berdua sama saja. Hei, Sukkie! Jangan coba-coba merayu gadis lain selain gadismu itu,” giliran Siwon yang menggoda mereka. Tiffany hanya menggeleng-gelengkan kepala seraya menyantap masakan Yoona. Ternyata lezat.

“Sudahlah kalian. Mari makan! Masakan Yoona enak sekali,” kata Tiffany dan seketika wajah Yoona berubah cerah.

“Benarkah, Unnie? Kau suka?”

“Ne. aku suka sekali.”

Santap malam mereka dihiasi oleh canda tawa. Sukkie dan Yoona selalu menggoda Tiffany dan Siwon. Suasana seperti inilah yang sangat diidamkan Tiffany. Ia ingin sebuah keluarga yang hangat dan penuh perhatian seperti ini. Tiffany sangat beruntung bisa berada diantara mereka. Apalagi Siwon. Ia beruntung akhirnya mencintai lelaki itu.

“Jadi, Unnie. Kapan aku bisa menggendong keponakanku?” tanya Yoona polos.

Seketika Siwon tersedak mendengar pertanyaan Yoona. Sedangkan wajah Tiffany bersemu merah. Ia mengusap-usap tengkuk suaminya dan menyodorkan segelas air. Sukkie dan Yoona cekikikan, tidak merasa bersalah sedikitpun.

Siwon meneguk habis airnya dan menatap horror kepada Yoona. “YAH!”

Tiffany bercermin di kamar mandi. Ia menyisir rambutnya dan memandangi tubuh indah itu dengan sendu. Kamar mandi ini mempunyai kenangan tersendiri baginya bersama Siwon. Dan malam ini, Tiffany merasa sangat gugup. Pasalnya ini adalah malam pertama mereka tinggal di apartemen Siwon, sebagai suami istri yang saling mencintai. Tak dipungkiri kalau sebenarnya Tiffany juga menginginkan Siwon. For God sake! Siapa yang bisa menolak pesona lelaki tampan itu? Mungkin Siwon adalah pria terseksi di Korea, menurut Tiffany.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar mandi. Tiffany menoleh.

“Yeobo, kau sedang apa?” tanya Siwon dari luar.

“Ah, a-aku sedang mencuci muka. Tunggu sebentar, Oppa!” sahut Tiffany. Terang saja Siwon memanggilnya. Ia sudah 20 menit di dalam kamar mandi.

Tiffany bergegas ke luar kamar mandi dan bertemu Siwon di depan pintu. Suaminya itu sedang berjalan mondar-mandir di dalam kamar. Tiffany memberikan eye smile nya kepada Siwon lalu menuju tempat tidur.

“Oppa tidak mengantuk?” tanya Tiffany seraya masuk selimut. Siwon berdiri kikuk di dekat tempat tidur dan menggeleng.

“Ani. Apa kau sudah mengantuk?” balas Siwon gugup. Tiffany mengangguk ragu. Tampak raut kecewa di wajah Siwon dan lelaki itu hanya menutupinya dengan senyum kaku.

“Oh, kalau begitu, tidurlah. Aku ingin membuat minuman di dapur. Kau tahu, kalau aku insomnia aku selalu membuat susu,” ujar Siwon kikuk. Tiffany menahan senyumnya melihat tingkah suaminya yang seperti remaja yang sedang jatuh cinta itu.

Siwon pun keluar dari kamar mereka. Sesaat Tiffany termenung. Ia menghela napas berat. Istri macam apa dirinya! Siwon jelas-jelas suami sahnya dan ia membiarkan lelaki itu terus menahan hasrat. Dan dirinya sendiri tidak munafik. Ia juga ingin bermesraan dengan Siwon. Tiffany tersenyum. Mungkin kini saatnya ia merubah suasana.

 

Sementara itu Siwon sedang membuat susu di dapur. Ia mengaduk-aduk susu panas itu sambil bermenung. Aish, lagi-lagi ia terbayang tubuh istrinya. Lembutnya kulit Tiffany, manis bibirnya, matanya yang indah, dan pelukannya yang hangat. Siwon menggeleng kuat-kuat. Bagaimana bisa ia menahan segala hasrat yang bergejolak dalam tubuhnya saat ini sedangkan Tiffany terbaring nyaman di tempat tidurnya!

“Sebentar lagi aku pasti gila,” gumam Siwon. Ia masih memandangi susu di hadapannya, belum menyentuhnya sedikitpun.

Siwon berdiri dan berjalan ke kulkas, ingin mengambil krim gula. Mudah-mudahan minuman ini akan membuatnya tidur nyenyak tanpa menyadari kehadiran Tiffany. Saat ia membuka pintu lemari es tersebut, tiba-tiba terdengar suara lembut memanggil namanya.

“Siwon Oppa.”

Siwon membalikkan tubuhnya dan menghadapi Tiffany telah berada di belakangnya. Mata Siwon sedikit melebar. Gadis itu memakai gaun tidur tipis berwarna pink. Gaun itu tanpa lengan dan memperlihatkan kulitnya yang begitu putih dan halus. Siwon menelan ludah. Tiffany juga wangi sekali.

“Eh, yeobo? K-kau belum tidur?” tanya Siwon. Tiffany menggeleng.

“Belum. Aneh juga rasanya tidur sendiri. Siwon Oppa, mau kubuatkan krim madu?” kata Tiffany riang.

Siwon tersenyum dan mengangguk. Ia duduk di kursi meja makan dan mengawasi gerak-gerik istrinya. Tiffany benar-benar seperti malaikat, apalagi dengan senyumnya yang khas itu. Gesture tubuh Tiffany juga sangat lembut. Mata Siwon mengawasi setiap gerak istrinya, membuat jantungnya berdegup makin kencang.

Sudahlah, Siwon tak bisa menahan lagi. Ia tak peduli apakah gadis itu akan menamparnya, ia harus memeluk tubuh itu. Apapun yang terjadi! Ia mendekati Tiffany. Tatapannya hanya terfokus pada gadis yang dicintainya itu. Dan ketika Siwon telah berada tepat di belakangnya, gadis itu berbalik. Tiffany sedikit terkejut, namun tersenyum cerah.

“Oppa, kenapa mengagetkanku?” kata Tiffany dengan suara manja.

Siwon mengamati wajah itu dari jarak yang sangat dekat. Wajah Tiffany terpahat sempurna. “Yeobo, bolehkah aku memelukmu?”

Semula Tiffany menatap ragu, namun ia sudah berjanji pada dirinya akan memperlakukan Siwon layaknya seorang suami. Tiffany mengangguk dan memeluk Siwon terlebih dahulu. Siwon pun membalas pelukan Tiffany dengan sangat erat. Tubuh Tiffany yang mungil seakan lenyap dari pandangan jika dipeluk Siwon selekat itu.

Siwon memejamkan mata dan menyurukkan kepala di lekukan leher Tiffany. Ia menyesap dalam-dalam aroma wangi leher istrinya. Tubuh Tiffany hangat, membuat Siwon nyaman dalam pelukannya.

“Oppa, sudah merasa nyamankah?” tanya Tiffany lembut. Siwon hanya bergumam sambil mengangguk. Ia masih ingin memeluk Tiffany. Kini ia tergoda untuk menciumi pundak dan leher istrinya. Tiffany bergidik geli saat Siwon menghujani lehernya dengan kecupan-kecupan ringan. Bibir Siwon terasa menyengat tubuhnya.

Tiffany sedikit mengerang ketika Siwon sudah berada di belakang telinganya, menggigit lembut kulit di bagian itu. Tiffany pun merasakan hasratnya mulai bangkit. Siwon terus menciumi telinga, rahang dan ia menggigit dagu Tiffany dengan bibirnya. Tiffany memejamkan mata dan tubuhnya bergetar. Ciuman Siwon naik ke pelipis, kening, dan membuat lingkaran menuruni batang hidung Tiffany yang mancung. Siwon memberikan kecupan seringan bulu untuk kedua mata istrinya yang tertutup.

Lalu, untuk lima detik Siwon hanya memandangi Tiffany dengan tatapan panas dan menggelora. Gadis itu masih memejamkan mata dan sepertinya tidak menolak dengan perlakuan Siwon. Tanpa ragu, Siwon pun mencium bibir mungil Tiffany. Ia melumatnya sedemikian rupa, tidak memberikan ruang untuk Tiffany bernapas.

Gadis itu mengerang tatkala lidah Siwon menerobos masuk ke mulutnya, merayu lidah Tiffany agar berpartisipasi bersamanya. Lidah Siwon membelai deretan gigi Tiffany yang rapi dan menggelitik sudut bibirnya. Tangan Siwon membelai paha belakang Tiffany, bermain-main dengan kelembutan disana.

Ciuman yang semula manis tiba-tiba berubah menjadi panas dan menggairahkan. Siwon memperdalam ciumannya. Ia melumat bibir Tiffany dan menyesap kemanisannya satu-persatu. Gadis itu merespon ciuman Siwon, membuat lelaki itu semakin liar. Kini ciumannya rakus dan Siwon bergantian menggigit bibir atas serta bibir bawah Tiffany. Gadis itu mengerang seraya menarik rambut belakang suaminya.

Tangan Siwon menyusup ke balik gaun Tiffany dan begerilya di pinggang serta perut datar gadis mungil itu. tiffany merasa limbung oleh hasrat. Karena susah bernapas, Tiffany melepaskan ciuman dengan tiba-tiba sehingga menimbulkan bunyi khas desahan nafas mereka. Tiffany mengambil napas dengan berat dan membuka matanya. Siwom kini juga tengah memandang. Di mata itu Tiffany bisa melihat ada cinta, hasrat dan gairah bersatu padu.

Mata gadis itu sendiri juga berair karena menahan perasaan dan cintanya. Maka tanpa tedeng aling, Tiffany kembali memulai ciuman mereka. Terang saja Siwon menyambutnya dengan suka cita. Ia mengangkat tubuh Tiffany, dan melingkarkan kaki gadis itu di pinggangnya. Sementara Siwon berusaha mencari jalan ke kamar mereka tanpa melepaskan ciuman yang sudah membabi buta itu.

Susu krim madunya terlupakan begitu saja. Siwon memasuki kamar dan menutup pintu dengan kakinya. Tiffany memeluk leher Siwon dengan erat saat lelaki itu membaringkannya di tempat tidur, masih tetap berciuman.

“Oh Tuhan, aku begitu menginginkanmu,” desah Siwon saat membuka bajunya. Matanya berubah kelam karena hasrat yang begitu besar.

Siwon berada di atas tubuh Tiffany, memandang lekat-lekat ke mata indah gadis itu. Tiffany memberanikan diri mengelus garis rahang Siwon dan menggigit bibirnya sendiri. Bibir mungilnya sudah sedikit sembab dan memerah akibat ciuman panas Siwon. Siwon turun perlahan dan menciumi leher istrinya, membuat gadis itu terpekik nikmat. Mereka sama-sama menginginkan hal ini.

“O-oppa,” rintih Tiffany. Siwon bergumam di lehernya. Ia tidak terfokus dengan kata-kata saat ini. Ia ingin memuja setiap sel tubuh Tiffany, menciumnya dan merasakannya. Tangan Siwon bermain-main di perut Tiffany, sedikit nakal dengan meremas bagian dada istrinya itu.

“Aku ingin memilikimu. Sekarang,” bisik Siwon di telinga Tiffany. Tiffany tersenyum gugup dan menganggukkan kepalanya. Melihat persetujuan itu, hati Siwon berbunga-bunga dan langsung mencium bibir Tiffany, membuat gadis tersebut tercekat senang.

Mereka kembali bergumul dalam kemesraan dan keintiman tersebut. Sepertinya malam ini benar-benar menjadi malam tak terlupakan bagi mereka berdua.

 

Siwon telah bersiap-siap ke kantor tepat pukul 7.30. Pagi ini ia sangat bersemangat dan benar-benar bahagia. Hidupnya akan lebih sempurna sejak tadi malam. Sungguh malam yang indah. Siwon tersenyum-senyum sendiri. Ia melihat Tiffany sedang menghidangkan sarapan di meja makan.

“Selamat pagi, Nyonya Choi!” seru Siwon lalu mengecup pipi Tiffany.

“Selamat pagi, Oppa! Ayo kita sarapan,” kata Tiffany.

“Ne. Pasti enak sekali,” komentar Siwon.

Mereka sarapan bersama. Rutinitas yang akan mereka jalani setiap harinya. Ia mempercayai masa depannya kepada Siwon. Mungkin setelah ini ia akan kembali mengajar ballet, namun ia harus meminta izin suaminya dulu. Dan soal orang tua kandungnya, Tiffany berniat menanyakannya nanti malam. Sekarang bukanlah waktu yang tepat.

“Oppa?”

“Hmm?”

“Bolehkah nanti siang aku ke rumah Appa dan Eomma Park? Aku merindukan mereka,” ujar Tiffany. Siwon tersenyum dari balik Koran paginya.

“Tentu saja boleh, yeobo. Apa mau kutemani?”

“Ah, ani. Tidak usah repot-repot, Oppa. Oppa kan harus bekerja,” jawab Tiffany.

“Aku tidak repot. Kau kan istriku, yeobo.”

“Tidak usah Oppa, gwenchana. Lagipula rumah mereka kan dekat dari sini,” alasan Tiffany.

“Baiklah. Kau hati-hati, ne? dan jangan biarkan mereka memperdayamu lagi,” kata Siwon. Tiffany mengangguk patuh. “Oh ya, yeobo. Hari ini aku akan mencari tahu lebih banyak tentang orang tuamu. Nanti aku akan menelponmu.”

Mata Tiffany sedikit melebar, tidak percaya Siwon akan secepat ini membantunya. Padahal Tiffany tahu kalau pekerjaan lelaki itu saja sudah terbengkalai karena bulan madu mereka.

“Ne, Oppa. Gomawo.”

Siwon mengulum senyum dan menghabiskan kopinya. Ia berdiri dan Tiffany memberikan tas kerja kepadanya. Tiffany mengantar Siwon sampai ke depan pintu. Lelaki itu berbalik dan memberikan pelukan hangat untuk istrinya sebelum berangkat.

“Baik-baik saja di rumah. Kalau nanti kau malas naik bus, telpon saja aku. Arraso?”

“Ne, Oppa. Oppa juga hati-hati menyetir,” kata Tiffany. Siwon mengelus rambutnya dan mengecup singkat bibir istrinya.

“Saranghae.”

“Nado saranghae, Oppa.”

 

Tiffany mengunjungi rumah keluarga Park menggunakan bis. Ia tidak mau merepotkan Siwon untuk mengantar jemputnya ke rumah keluarga angkatnya. Siwon sudah terlalu baik. Setahunya, Siwon telah memberi uang yang cukup banyak ke Appa dan Eomma nya sebelum hari pernikahan. Mungkin uang itu belum habis di brankas mereka.

Tiffany tak habis fikir mengapa mereka selalu mengambil keuntungan dari dirinya. Mungkin karena Tiffany terlalu menurut dan tidak pernah membantah. Tapi setelah ia tahu rahasia itu dari Siwon, Tiffany tidak lagi ingin diperdaya Appa, Eomma dan Heechul.

“Eomma! Lihat siapa yang datang!” seru Heechul saat membukakan pintu untuk Tiffany. Tiffany membungkuk hormat kepada Appa dan Eomma yang baru keluar dari dalam rumah.

“Aaah, putri kita datang berkunjung! Kami sangat merindukanmu, Nak!” seru Eomma lalu memeluk Tiffany. Tiffany hanya membalas sambutan sok manis mereka dengan senyuman tipis. Tampak Appa, Eomma dan Heechul celingak-celinguk ke belakang Tiffany.

“Aku datang sendirian,” kata Tiffany kalem, seolah tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Ketiga orang itu langsung tertawa sumbang.

“Taka apa-apa, Fany. Ayo, masuk!”

Mereka masuk ke dalam dan Eomma langsung tergopoh-gopoh ke dapur. Tiffany menahan tangan Eomma dan tersenyum.

“Wae Fany? Eomma akan membuatkan minuman untukmu,” kata Eomma. Tiffany menggelengkan kepala.

“Tidak usah, Eomma. Aku bisa mengambilnya sendiri. Ne?” ucap Tiffany lembut. Walau tidak tinggal lagi disini, Tiffany tidak ingin dianggap sebagai tamu. Jujur ia masih menyayangi keluarga ini, meskipun mereka tidak pernah berbuat baik kepadanya.

“Apa Siwon-ssi sedang bekerja, Fany?” tanya Appa.

“Ne, Appa. Dia tidak bisa cuti lama-lama.”

“Jadi, bagaimana bulan madu kalian? Wah, Thailand pasti indah sekali! Kau beruntung mempunyai suami seperti Siwon-ssi. Dia kaya dan tampan. Hidupmu akan makmur, Fany. Dan tentu saja hidup kami juga,” seloroh Eomma.

Tiffany tidak memberi komentar. Ingin sekali Tiffany mempertanyakan siapa dirinya saat itu juga. Namun, ia tidak akan gegabah. Ia akan selalu mengikuti perintah Siwon.

“Bagaimana bisnis Appa?” tanya Tiffany ke Mr. Park.

“Bisnis Appa lancar-lancar saja, Fany-ah. Hanya saja, hmm…,” kata Appa seraya melirik istri dan anak laki-lakinya.

“Hanya saja?” tanya Tiffany.

Mr. Park mengusap-usap tangannya. “Hanya saja Appa kekurangan sedikit dana, Fany. Rencananya Appa akan meminta bantuanmu.”

Tiffany mengernyit. Ia tahu ini akan terjadi. Mereka tidak akan membiarkan Tiffany hidup bahagia sendirian. Selagi Tiffany masih bersama Siwon, mereka akan terus memeras.

“Bantuan dana maksud Appa?” tanya Tiffany langsung. Appa dan Eomma tertawa senang.

“Tentu saja, putriku!” sahut Appa. Tiffany menghela napas.

“Appa, bukankah Siwon Oppa sudah memberi kalian uang sebelum hari pernikahan kami? Setahuku itu cukup banyak,” ujar Tiffany dengan suara lembut.

“Yah, Fany-ah. Kau kira itu cukup. Separuh uang itu sudah dipakai Heechul untuk membeli mobil Hyundai nya,” kata Eomma santai. Mata Tiffany melebar mendengar perkataan Eomma, sementara Heechul hanya tersenyum seperti orang bodoh di sampingnya.

“Mwo? Oppa membeli mobil? Oppa, itu pemborosan! Oppa bisa mencari kerja untuk mendapatkan mobil itu, bukan dengan memakai uang pemberian Siwon Oppa,” kata Tiffany. Heechul melotot kepada adik angkatnya itu.

“Yah! Yang namanya uang pemberian itu terserah kami yang memakainya. Lagipula Appa dan Eomma mengizinkan. Kenapa kau marah begitu? Kalau kau iri kau bisa memintanya kepada suami kayamu itu. Aish, dasar bodoh!”

Tiffany terkejut mendengar hardikan Heechul.

“Sudahlah Chul,” bisik Eomma. Kemudian kembali berbalik ke Tiffany. “Fany, sebenarnya uang itu belum cukup. Siwon-ssi kan sangat mencintaimu, jadi kau akan lebih mudah meminta uang padanya. Ne?”

“Benar, Fany. Kini saatnya kau berbakti kepada kami,” timpal Appa.

Tiffany menunduk memandang meja. Perkataan Appa telah membuka pikirannya tentang rahasia tersebut. Saatnya berbakti sama dengan membalas budi mereka yang telah membesarkan Tiffany.

“Aku tidak mempunyai uang untuk saat ini, Appa.”

Appa tergelak. “Kenapa masih begitu lugu, Fany? Kau bisa minta dari suamimu.”

“Tapi aku tidak mau menyusahkannya,” jawab Tiffany pelan.

“Yah, kau tetap saja bodoh! Untuk apa punya suami kaya jika kau tidak berani minta kepadanya?!” bentak Heechul.

“Sudahlah, Chul,” tepis Eomma. “Fany-ah. Kau kan belum mencoba. Eomma yakin jika kau bisa membujuk Siwon-ssi, pasti dia akan mau memberikan uang kepada Appa. Arraso?”

Tiffany memilih berjalan kaki pulang ke apartemen Siwon. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh. Ia masih memikirkan kata-kata Appa, Eomma dan Heechul tentang uang tersebut. Tiffany menghela napas berat. Ternyata sifat mereka belum berubah. Masih saja tamak seperti dulu. Mungkin karena mereka tidak menyadari kalau Tiffany sudah tahu yang sebenarnya.

Saat menunggu lampu lalu lintas berubah merah, ponsel Tiffany bordering. Siwon Oppa memanggil. Tiffany sempat melirik jam di ponselnya. Astaga, ternyata sudah pukul 7 malam. Ia memang sedikit lama di rumah keluarga Park.

“Ne, yeobosaeyo?”

“Yeobo, kau dimana? Aku baru sampai di apartemen, tapi kau tidak ada. Apakah masih di rumah Appa Eomma?” suara Siwon terdengar khawatir. Tiffany tersenyum.

“Ani. Mianhae, aku pulang terlambat. Tapi sekarang aku sudah di jalan pulang,” jawab Tiffany.

“Arraso. Kalau begitu pakai taksi saja, yeobo.”

“Aniyo. Aku sudah di traffic light dekat apartemenmu, Oppa.”

“Mwo? Kau berjalan kaki ya?” tanya Siwon heran.

“Hng, i-iya.”

“Aish, kau ini. Kan aku bisa menjemputmu. Kenapa harus berjalan kaki?” tanya Siwon agak kesal.

Tiffany diam saja. “Mian.”

“Ya sudah, kau tunggu disana.”

“Mwo?”

“Kau tunggu disana. Jauh-jauh dari jalan raya. Tunggu aku di halte. Arraso?”

-klik-

Tiffany mengernyit. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ah, Siwon Oppa berlebihan sekali. Kenapa aku harus menunggunya disini? Kan hanya tinggal 300 meter lagi. Namun Tiffany tetap mengikuti perintah suaminya. Ia mundur dan berjalan ke halte. Ada beberapa orang disana sedang menunggu bis. Hanya 2 orang laki-laki berumur 40 tahunan.

Tiffany lelah dan duduk disana. Ternyata kakinya letih sekali. Memang rumah keluarga Park dan apartemen Siwon tidak terlalu jauh, namun kondisi tubuh Tiffany sedikit tidak fit. Tadi sebelum berangkat ke rumah keluarga Park, Tiffany membersihkan seluruh ruangan di apartemen Siwon. Mencuci baju Siwon dan bajunya sendiri. Dan saat di rumah Park, Tiffany menolong Eomma nya mencuci dan membersihkan kamar Heechul. Tiffany memang suka bersih-bersih. Ia paling tidak suka melihat ruangan yang berantakan dan kotor.

Aish, Tiffany merasakan badannya pegal-pegal dan memukul-mukul betisnya pelan. Sedikit kesemutan karena berjalan. Hmm, mana Siwon Oppa? Lama sekali.

 

Sementara itu Siwon berlari ke halte tempat Tiffany sedang menunggunya. Siwon tidak ingin memakai mobil. Terlalu lama menunggu mobilnya keluar dari area parkir apartemen. Ia muncul di sisi kiri halted an berhenti untuk mengambil napas. Ia melihat Tiffany sedang duduk disana. Siwon berkacak pinggang, mengamati istri tercintanya barang sejenak.

Aish, kenapa dengannya? Kenapa ia tampak lelah seperti itu? Ia sedang memukul-mukul betis dan bahunya bergantian. Pasti ia sangat lelah. Tadi saat pulang, Siwon memang melihat apartemennya jauh lebih bersih dan tertata. Sudah jelas istrinya ini yang membereskan.

Dan seharian tadi Tiffany juga tidak mengangkat telponnya. Pasti sibuk menolong Nyonya Park. Siwon berjalan perlahan ke arah halte. Tiffany tidak melihatnya datang dari sisi kiri, karena kini ia sedang melihat ke arah yang berlawanan.

Siwon berhenti dan menggamit tangan kiri Tiffany lembut, membuat wanita itu kaget. Ia mendongak kepada orang yang memegang tangannya.

“Siwon Oppa! Omo, Oppa mengagetkanku!” katanya dengan eye smile. Siwon tersenyum manis.

“Yah! Kenapa tidak pulang dengan taksi? Kau ini keras kepala sekali ya?” Siwon pura-pura mengomel.

Tiffany menggigit bibir bawahnya. “Mianhae, Oppa. Aku hanya ingin berjalan kaki. “

“Tapi kau pasti lelah, yeobo. Seharian kau membersihkan apartemenku. Dan tadi pasti kau juga menolong Eomma di rumahnya. Kau ini perempuan, bukan wonder women,” kata Siwon. Tangannya tak lepas memegang tangan istrinya.

“Jeongmal mianhae, Oppa.”

Tiffany menundukkan kepalanya. Melihat itu Siwon mengusap puncak kepala Tiffany.

“Gwenchana. Aku juga minta maaf padamu,” ucap Siwon lembut. Tiffany kembali mengangkat kepalanya dan memberikan Siwon eye smile.

“Oppa, ngomong-ngomong cepat sekali Oppa sampai kesini? Mobilmu tidak ada. Apa Oppa dengan taksi?”

“Ani, aku berlari kesini. Aku khawatir kau akan menungguku lama. Kau membuatku khawatir, kau tahu?” kata Siwon dengan aigyo. Siwon menggandeng tangan istrinya dan membawanya pergi dari situ.

“Oppa, bukannya kita harus berjalan ke arah sana?” tanya Tiffany seraya menunjuk arah barat. Ia bingun karena Siwon menariknya ke arah berlawanan.

“Aku lapar. Jadi kita akan makan malam. Di dekat sini ada kedai nasi kare yang enak sekali. Kau pasti suka,” kata Siwon tanpa memandang Tiffany.

 

Siwon memesan dua porsi nasi kare dan satu botol soju. Tiffany juga tampak lapar. Bahkan sepertinya lebih lapar dari Siwon. Tiffany ingat kalau ia hanya sarapan pagi hari ini. Ia tidak ikut makan siang dengan keluarga Park.

“Selamat makan!” ucap Siwon. Tiffany tersenyum manis lalu mulai menyantap makanannya selagi hangat. Siwon tidak langsung memakan nasi kare di hadapannya. Ia memandangi Tiffany yang makan dengan sangat lahap. Pasti ia sangat lapar. Lihatlah, tubuh wanita itu sudah kurus sekali. Kira-kira berapa berat badannya? 45kg? 48kg?

Menyadari Siwon yang sedang terpaku menatapnya, Tiffany mengangkat kepala. Ia mengernyit bingung.

“Wae, Oppa? Oppa tidak makan? Katanya lapar,” kata Tiffany.

“Ne, yeobo. Oh ya, bagaimana keadaan keluarga Park?” tanya Siwon yang mulai menyuap nasi kare.

“Mereka baik-baik saja,” jawab Tiffany kalem. Ia tidak ingin membahas masalah keluarga Park untuk saat ini. “Oppa?”

“Ne?”

“Ng…apakah ada perkembangan tentang keluarga kandungku?” tanya Tiffany ragu. Siwon menatapnya intens. Tentu saja ada perkembangan berita yang didapat Siwon. Hanya saja beberapa hari yang lalu Siwon belum memutuskan untuk mengatakan semuanya.

“Ada. Tapi sekarang kau harus makan dulu. Lihatlah, badanmu kurus sekali. Jika nanti aku memelukmu, orang-orang akan berpikir aku sedang memeluk angin,” goda Siwon agar suasana tidak kaku. Tiffany memberengut, memberi kesan imut di wajah cantiknya.

“Oppa, jangan menggodaku begitu. Tapi Oppa, janji ya akan membantu mencari orang tua kandungku?”

Siwon mengangguk tegas. “Pasti, yeobo. Aku akan selalu membantumu.”

Tiffany memberikan eye smile yang selalu berhaasil membuat hati Siwon meleleh. Siwon ingin selamanya melihat Tiffany tersenyum seperti itu. Ia tidak akan membiarkan air mata kesedihan mengalir disana.

Siwon membereskan berkas yang di dapatnya siang ini. Berkas ini membeberkan semua rahasia yang menyangkut Tiffany Hwang. Siwon telah mengutus 15 intel dan detektif untuk menyelidiki data-data dari Seo Jun Hwang dan Stephanie Hwang, orang tua kandung Tiffany. Tiffany lahir di keluarga miskin yang Appa serta Eomma nya adalah nelayan. Mereka meninggal dalam badai yang menerjang perahu mereka saat menjaring ikan.

Dikatakan saat itu Tiffany masih berusia 3 tahun. Ia ikut serta dengan perahu orang tuanya. Namun, dewi fortuna berada di pihak si kecil Tiffany. Ia diselamatkan oleh nelayan lain yang menemukannya pingsan di potongan kayu orang tuanya yang sudah hancur karena badai.

Kini Siwon mengerti, mengapa Tiffany histeris saat ada badai. Siwon merasa sangat prihati dengan pengalaman buruk istrinya tersebut. Aish, bagaimana caranya memberikan kabar ini ke Tiffany. Ia pasti berharap kalau orang tua kandungnya masih hidup dan dapat menemui mereka. Apakah Tiffany bisa menerima semua kenyataan pahit ini?

Wanita itu selalu menderita setelah kematian orang tuanya. Ketika usia Tiffany menginjak umur 4 tahun, ia diadopsi oleh keluarga Park. Tiffany juga tidak bisa mengingat Appa dan Eomma kandungnya. Namun, ia diadopsi bukan untuk disayangi. Tiffany selalu dibentak dan dimarahi jika membuat kesalahan.

Poor Fany.

Tapi, walau bagaimanapun, Siwon harus tetap menyampaikan berita ini kepada Tiffany. Karena Tiffany harus mengetahui semua fakta, agar hidupnya menjadi lega. Lagipula, Siwon tidak akan pernah meninggalkan Tiffany, gadis yang sudah ia cintai.

Siwon meregangkan otot-otot tangan dan pinggangnya. Ia melihat jam dinding. Sudah pukul 1 tengah malam. Tiffany pasti sudah tertidur di kamar. Kemudian Siwon keluar dari ruang kerjanya dan berjalan ke kamar tidur. Lampu masih menyala.

Siwon memasuki kamar mereka dan tersenyum melihat Tiffany yang tertidur di sofa. Wajahnya tertutup buku yang terbuka. Sepertinya ia ketiduran saat membaca buku. Siwon menghampiri dan duduk di lantai dengan perlahan. Ia takut Tiffany terbangun. Siwon mengambil buku yang terletak di wajah Tiffany dan tertawa kecil membaca judulnya.

How to be A good Wife and Loving Mother

“Bagaimana menjadi istri yang baik dan ibu yang penuh kasih sayang? Wah, yeobo. Kau benar-benar mencintaiku ya?” bisik Siwon seraya mengelus rambut halus yang jatuh ke kening Tiffany.

Wajah cantik itu begitu mempesona saat tidur. Ia tidak bisa membayangkan penderitaan yang dialami Tiffany sejak kematian kedua orang tuanya. Siwon merasakan hatinya bergetar karena cintanya yang begitu besar kepada Tiffany. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga Tiffany seperti ia menjaga nyawanya sendiri.

Siwon bangkit dan mengangkat tubuh mungil itu. Ia membaringkan tubuh Tiffany dengan sangat perlahan ke atas tempat tidur. Selanjutnya ia mematikan lampu dan berbaring di sebelah Tiffany. Siwon menopang kepalanya dengan tangan kiri untuk memandangi wajah istrinya dalam redupnya ruangan. Lelaki berlesung pipi itu tersenyum melihat wajah polos Tiffany yang sekali-kali berkedut karena bermimpi.

“Kau tidak hanya cantik yeobo. Tapi hatimu juga seperti itu. Semoga mimpimu indah, my lovely.”

Siwon memberikan kecupan lembut di bibir Tiffany, lalu berbaring sambil meletakkan tangannya di pinggang istrinya tersebut.

 

Tiffany terbangun dari tidurnya karena alarm yang bordering tepat pukul 6. Tiffany menggeliat dan menyadari gerakannya tertahan tangan kekar Siwon. Siwon masih memeluknya dari semalam. Wajah mereka begitu dekat. Tiffany tersenyum cerah dan diam-diam mengagumi ketampanan suaminya dari jarak 5 sentimeter.

Tiffany menyusuri alis, hidung serta bibir Siwon dengan jari telunjuknya. Kulit Siwon tak kalah lembut dari kulit perempuan. Tiffany menahan senyumnya. Ia menyukai semua hal di diri Siwon. Wajah tampannya, lesung pipi yang membuat suaminya itu terlihat manis, dan napas teratur      Siwon yang berhembus lembut di wajahnya.

Siwon terbangun karena sentuhan lembut Tiffany di wajahnya. Ia menggeliat dan mendapati Tiffany sedang memandangi dengan begitu romantis. Siwon tersenyum lalu memeluk pinggang istrinya lebih erat.

“Waeyo? Apa kau sedang mengagumi wajah tampan suamimu?” tanya Siwon dengan suara serak.

“Aniyo! Kenapa Oppa percaya diri sekali,” elak Tiffany. Siwon menyipitkan mata, berpikir.

“Karena aku memang tampan. Kalau bukan pangeran tampan mana bisa mendapatkan putri secantikmu,” katanya kemudian mencium hidung Tiffany.

Tiffany tertawa dan meletakkan tangannya di pipi sang suami. “Jincha?”

“Kenapa tidak percaya? Apa belum ada yang memujimu? Waah, pasti mata semua pria itu buta! Tapi, jangan sampai sekarang mereka memujimu. Aku akan membuat mata mereka buta,” ujar Siwon. Tiffany tertawa, membuat eye smilenya selalu terlihat.

“Oppa, kau berlebihan!” tukasnya. Siwon memegang dagu Tiffany dengan gaya aegyo.

“Yeobo, apa kau tidak memberiku morning kiss?”

“Mwo?”

Morning kiss.”

Tiffany mengecup kening Siwon dengan cepat. “Sudah.”

“Aish, bukan di kening.”

Tiffany membuat wajah polos. “Yang penting kan sudah. Kalau begitu aku mau mandi dulu, lalu menyiapkan sarapanmu.”

Tepat ketika Tiffany ingin bangkit, Siwon dengan sigap menyergapnya dan menindih tubuh mungil itu. Tiffany kaget sekaligus senang. Ia suka menggoda suaminya ini di pagi hari.

“Kau ini benar-benar yaa,” bisik Siwon gemas.

“Nah, Oppa. Kau sebaiknya mandi. Nanti kau terlambat ke kan—“

Siwon membungkam mulut Tiffany dengan ciuman dalamnya, sehingga Tiffany tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Satu tangan Siwon memeluk pinggang Tiffany dan satunya lagi mengelus wajah cantik istrinya tersebut. Tiffany merespon ciuman Siwon dengan senang hati. Tangannya mengelus punggung Siwon.

Siwon berulang kali melumat bibir Tiffany, seolah-olah rasa manis disana tak kunjung habis. Tiffany merinding saat lidah Siwon menelusuri gigi dan menggelitik langit-langit mulutnya. Tiffany mengerang, membuat sekilas senyum di bibir Siwon.

“Op.. Oppa.”

“Hmm?” gumam Siwon. Kini ia menggigit dagu Tiffany dan menempatkan wajahnya di leher Tiffany yang harum, membuat Tiffany menggelinjang nikmat. Ia menarik rambut belakang Siwon saat lelaki itu menggelitik lehernya dengan lidah.

“Oppa!”

Siwon terkekeh dan mengangkat wajahnya, menatap intens Tiffany. “Kau gelian sekali.”

Mereka berciuman kembali. Suasana romantis dan lemah lembut tiba-tiba berubah menjadi panas, liar dan menggairahkan. Tangan nakal Siwon menyusup ke gaun tidur istrinya dan mengelus kulit mulus disana. Tiffany terkesiap ketika Siwon meremas bokongnya lantas menggigit bibir bawah lelaki tersebut. Siwon benar-benar tertawa.

“Haha, yeobo. Kau balas dendam ya?” tanyanya menggoda. Tiffany terkekeh dan kembali merengkuh kepala Siwon.

“Oppa, nanti kau terlambat ke kantor,” ucap Tiffany di bibir Siwon.

“Jangan khawatir. Aku sedang cuti,” bisik Siwon kemudian menghujani wajah Tiffany dengan kecupan-kecupan mesra.

“Oppa. Kenapa selalu mengambil cuti jika tidak ada keperluan?” protes Tiffany. Siwon menatapnya.

“Kau itu keperluan penting bagiku. Sudah, kita nikmati saja waktu seharian ini. Hanya berdua, arraso?”

Mata Tiffany melebar. “Se-seharian?”

Siwon tersenyum nakal lalu kembali mencium bibir Tiffany. “Tentu saja. Pertama disini, lalu kita akan mandi bersama, kemudian kita sarapan sekaligus makan siang, dan—“

“Oppa, jangan bercanda!” tukas Tiffany. Wajahnya sudah merah padam mendengar penuturan Siwon. Namun Siwon tidak bercanda. Ia memang sengaja cuti hari ini, untuk mengajak Tiffany ke tempat kelahirannya.

“Aku tidak bercanda. Sekarang aku benar-benar sedang menginginkanmu.”

Tiffany akhirnya tersenyum melihat wajah polos yang dibuat Siwon. Mereka berpelukkan dengan posisi semula. Siwon merasa Tiffany sedikit terengah-engah karena berat badannya, maka ia berguling dan menempatkan Tiffany di atas tubuhnya.

Sepertinya sarapan mereka akan digabungkan menjadi makan siang J

“Oppa, kau serius sedang cuti?” tanya Tiffany tidak percaya. Ia sedang mengeringkan rambut dengan hairdryer, sedangkan Siwon baru keluar dari kamar mandi.

“Siapa bilang aku bercanda. Honey, ayo kita makan! Perutku lapar sekali. Kita ke restoran saja, ne? setelah itu aku akan membawamu ke suatu tempat,” ujar Siwon seraya mencari baju di cabinet.

Tiffany melirik jam dinding. Pantas saja perut mereka lapar. Sekarang sudah jam 12 siang, dan mereka belum keluar dari kamar. Jelas saja Tiffany belum memasak. Aish, itu karena Siwon Oppa terlalu genit hari ini.

“Ne. Oppa akan membawaku kemana?”

“Lihat saja nanti.”

Tiffany bergegas mempersiapkan dirinya. Ia tahu, ia berdandan lebih lama daripada Siwon. Lelaki itu memang selalu sabar menunggunya. Namun Tiffany merasa tak enak jika berlama-lama karena perutnya sendiri juga lapar sekali. Tapi kan semua itu bukan sepenuhnya kesalahan Tiffany.

Jika Siwon tidak mengajaknya bercinta pada jam 6 pagi dan tidak mengekori Tiffany ke kamar mandi untuk mandi bersama—tentu saja mereka bercinta lagi—pasti mereka tidak akan kelaparan seperti sekarang. Tiffany menahan senyumnya saat bercermin. Kini ia sudah menjadi wanita sesungguhnya. Ia mempunyai suami yang sangat mencintainya dan ia juga tergila-gila pada Siwon. Itu saja sudah cukup.

Tiffany tidak menggunakan make up berlebihan. Ia memakai dress tanpa lengan berwarna orange, dengan motif bunga-bunga. Leher dress itu menutupi leher jenjang Tiffany yang sedikit memerah akibat ciuman-ciuman Siwon. Tiffany menjempit samping rambutnya, menyemprot parfume pada tubuhnya, lalu ia menyambar tas tangannya sebelum keluar kamar.

Siwon sedang menunggu di ruang tamu sambil membaca Koran paginya. Tiffany juga melihat suaminya itu meminum kopi buatannya sendiri.

“Aigoo, Oppa. Kenapa meminum kopi? Kau harus makan dulu, Oppa.”

Siwon meletakkan kembali kopi ke atas meja dan tersenyum untuk Tiffany. “Mian, yeobo. Aku sudah terbiasa membaca Koran sambil minum kopi.”

Tiffany hanya memberengut. Siwon melihat penampilan simple istrinya siang ini. Matanya menyiratkan cinta yang sangat dalam saat kembali menatap mata indah di hadapannya.

“Neomu kyeopta,” puji Siwon dengan suara super lembut.

“Kamsahamnida,” balas Tiffany seraya membungkuk hormat. Siwon mencubit pipinya dengan gemas, lalu menggamit tangan mungil sepucat susu itu.

“Kajja. Perutku tidak bisa diajak kompromi lagi.”

 

Mereka makan siang di kafe steak dekat Gangnam. Siwon dan Tiffany makan dengan lahap. Siwon berencana mengajak Tiffany ke Busan, tempat kelahiran sekaligus meninggalnya orang tua Tiffany. Siwon juga telah menyiapkan semua data tentang masa lalu Tiffany di dalam mobil saat wanita itu tadi berdandan.

Tapi sekarang ia hanya ingin melihat Tiffany menyantap makan siangnya dengan hati gembira. Apalagi tadi mereka telah menghabiskan setengah hari untuk bercinta. Tiffany menuangkan segelas brandy untuk Siwon dan lelaki itu berterima kasih.

“Setelah ini kita kemana Oppa?” tanya Tiffany. Mereka bersantai sambil menghabiskan pudding untuk desert.

“Kita ke Busan. Kau pernah ke Busan?”

“Busan? Aniyo. Tapi setahuku, Appa, Eomma dan Heechul Oppa pernah tinggal disana. Saat itu Heechul Oppa masih bersekolah dasar. Memangnya ada keperluan apa kita kesana?”

Jelas mereka pernah tinggal disana Yeobo. Mereka kan mengambilmu dari panti asuhan di Busan.

“Karena Busan adalah…tempat kelahiranmu, yeobo.”

Mata Tiffany melebar. Busan adalah kota kelahirannya? Bukan. Appa dan Eomma bilang ia lahir di Seoul. Tapi, Tiffany meralat pikirannya sendiri. Kata Siwon Oppa, ia bukanlah anak kandung pasangan Park. Ia bermarga Hwang. Mungkin, ia Siwon Oppa sudah mendapatkan informasi tentang orang tua kandungnya. Tiffany menelan ludah.

“Jji-jincha? Siwon Oppa, apa maksudmu? A-aku lahir di Busan?”

Siwon mengangguk. Tiffany tampak bingung. Ia ingin mengeluarkan suaranya, namun karena banyaknya pertanyaan di kepalanya, jadi Tiffany tidak berhasil mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia hanya terpaku dengan mulut sedikit terbuka.

“Honey, lihat aku,” kata Siwon seraya memegang dagu Tiffany. Tiffany menatap suaminya dengan tatapan sendu.

“Oppa.”

“Yeobo, dengarkan aku. Kemarin aku sudah mendapatkan data yang cukup kuat untuk membuktikan kau bukanlah anak dari pasangan Park. Keluargamu bermarga Hwang dan kau adalah anak tunggal. Kau lahir dan tumbuh disana sampai berumur 4 tahun, sayang.”

Tiffany masih terpaku. Ia tersenyum miris mendengar penjelasan Siwon. “A-apa orang tuaku juga ada di-disana?”

Mendengar pertanyaan istrinya, Siwon menelan ludah. Ia melihat air mata Tiffany sudah berlinang. Entah karena cemas, terharu atau bahagia. Bagaimana kalau Tiffany tidak bisa menerima kalau sebenarnya Tuan dan Nyonya Hwang sudah meninggal saat umurnya 3 tahun?

Tiffany menarik-narik lengan kemeja Siwon, menandakan kalau ia sudah tidak sabar mendengar jawaban. Siwon menggenggam tangan Tiffany lebih erat. “Oppa, pasti kau juga tahu tentang orang tuaku. Beritahu aku, Oppa.”

“Yeobo. O-orang tuamu sudah m-meninggal diterjang badai saat kau berumur 3 tahun. Jasad mereka belum ditemukan hingga sekarang.”

Bagai disambar petir di siang hari, Tiffany merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Sehingga menimbulkan nyeri di dadanya. Tiffany menahan napas dan airmatanya tidak dapat dibendung lagi. Siwon berpindah duduk ke kursi di samping Tiffany, merangkul istrinya itu, memberikan kekuatan. Siwon tahu ini sangatlah menyakitkan untuk Tiffany. Tapi walau bagaimanapun, Tiffany harus mengetahui segalanya. Siwon tidak ingin menyembunyikan rahasia masa lalu Tiffany.

Tiffany bernapas berat dan menangis tanpa suara. Ia menggenggam erat lengan Siwon. ”Oppa, bawa aku kesana sekarang. Jeobal Oppa.”

Tiffany tertidur dalam perjalanan ke Busan. Siwon tidak tega membangunkan istrinya. Mungkin karena Tiffany lelah sekali seharian ini. Siwon melirik arlojinya, sudah pukul 6 sore. Sebentar lagi mereka akan sampai di Busan. Siwon langsung mencari panti asuhan yang dulu menampung Tiffany setelah orang tuanya meninggal.

Nama panti asuhan itu adalah SooMan Orphanage, dengan pimpinan Lee Soo Man. Siwon sudah menelepon wanita paruh baya itu sehari sebelumnya. Soo Man membenarkan kalau 20 tahun yang lalu pernah ada anak yang bernama Hwang Tiffany.

Tempat panti asuhan itu terletak agak ke kaki bukit. Siwon memperhatikan lingkungan sekitar. Ternyata masih di pedesaan yang memang dikelilingi oleh laut. Sebagian mata pencaharian warga disana adalah nelayan dan pedagang.

Siwon membutuhkan waktu setengah jam lagi untuk sampai ke panti asuhan Nyonya Soo Man. Panti itu cukup jauh dari pusat kota Busan, dan hanya ada beberapa rumah warga biasa di dekat sana. Siwon sekilas melirik Tiffany yang ternyata sudah terbangun. Tiffany mengusap-usap matanya dan memandang ke luar jendela mobil. Tatapannya tampak bingung. Ia tidak mengingat sedikitpun hal tentang tempat ini.

“Apa kita sudah sampai, Oppa?” tanya Tiffany lembut.

“Sebentar lagi, yeobo. Kau lihat rumah sederhana bercat hijau itu? Itu adalah Panti asuhan Lee Soo Man,” jawab Siwon seraya menunjuk objeknya yang tak jauh dari mereka.

Tiffany memandangi bangunan sederhana di depannya. Semakin lama mobil Siwon semakin mendekat, dan akhirnya berhenti tepat di halaman The Orphanage Soo Man. Siwon mematikan mesin mobil lalu menatap istrinya. Tiffany masih terpaku memandangi panti asuhan. Lampu-lampu di dalam rumah itu hidup dan penerangan di teras cukup redup. Tiffany merasa konyol karena tidak mengingat tempat ini sedikitpun.

“Yeobo, kau siap? Mari kita masuk,” ucap Siwon, tangannya mengelus rambut Tiffany. Tiffany menghela napas, kepalanya mengangguk lemah.

“Kajja,” kata Siwon lagi. Ia keluar dan siap-siap membukakan pintu mobil untuk istrinya. namun Tiffany tidak dapat menunggu lagi. Ia sudah keluar mobil dan berjalan mendahului Siwon.

Siwon dan Tiffany berhenti tepat di depan pintu. Siwon menekan bel dan mereka bersiap-siap menunggu siapa yang akan menyambut. Sejujurnya Siwon juga ikut berdebar. Ia penasaran dengan masa lalu wanita yang sudah menjadi istrinya ini. Jika memang benar semua data yang didapatnya, Siwon harus memastikan Tiffany tetap baik-baik saja. Ia akan selalu berada di samping Tiffany.

Tak lama kemudian, bunyi derik pintu terbuka memecah kecanggungan mereka berdua. Seorang wanita yang berumur sekitar 50-an berdiri di hadapan Tiffany dan Siwon. Wanita itu kurus dan tampak berwibawa. Sebuah senyum ramah hadir di wajahnya. Tiffany menelan ludah. Senyuman wanita itu membuat hatinya bergetar.

“Annyeonghaseyo, Choi Siwon imnida.” Siwon membungkuk 90 derajat kepada wanita tersebut. Tiffany mengikuti di sebelahnya.

“Annyeonghaseyo, Lee Soo Man imnida. Akhirnya Siwon-ssi sampai juga,” balas Ny. SooMan. Matanya beralih pada Tiffany dan segera tatapan itupun melembut. Beliau tersenyum tipis.

“Fany-ah.”

Tiffany yang hendak memperkenalkan dirinya, menjadi bungkam. Ia melirik Siwon dengan bingung dan kembali memandangi Ny. SooMan. “N-ne.”

Nyonya Sooman bergerak maju dan langsung memeluk tubuh Tiffany. Tiffany dapat merasakan kalau wanita itu menangis di bahunya. Tiffany balas memeluk sambil mengusap-usap punggung Ny. Sooman.

“Fany-ah, jeongmal bogoshippeo. Apa kabarmu baik-baik saja, Nak?” isak Ny. Sooman.

Tiffany mengangguk. “Ne, aku baik-baik saja. Gomawo.”

Nyonya Sooman melepaskan pelukannya dan tertawa sumbang. Ia tahu kalau Tiffany masih bingung. Walaupun Tiffany kehilangan ingatan sebelum ia tinggal disini, namun tentu saja kenangan di bawah usia 5 tahun akan terlupakan begitu saja. Tiffany masih terlalu kecil saat tinggal disini.

“Tuan rumah macam apa aku. Kita malah berdiri di luar. Kajja, kita masuk ke dalam. Anak-anak panti sedang di dapur untuk menyiapkan makan malam. Jadi agak sepi,” ujar Ny. Sooman.

Tiffany melirik Siwon saat tangannya ditarik dengan akrab oleh pemilik panti itu. Siwon mengangguk dan tersenyum, mengisyaratkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Nyonya Sooman membawa mereka ke kantornya. Siwon bisa melihat banyak arsip yang disusun rapi di rak besar. Siwon duduk di single couch, sedangkan Ny. Sooman duduk dengan Tiffany di seberang Siwon. Tangannya tak lepas dari tangan Tiffany. Sepertinya beliau memang sangat merindukan Tiffany.

“Mianheyo, kami datang pada jam seperti ini. Seharusnya Anda dan anak-anak sedang istirahat,” ucap Siwon membuka pembicaraan. Nyonya Sooman mengibaskan tangannya.

“Aniyo. Tak usah sungkan begitu. Kami senang menerima tamu seperti Siwon-ssi dan Fany. Apalagi aku bisa bertemu lagi dengan Tiffany,” kata Nyonya Sooman ramah. Tiffany tersenyum manis.

“Kamsahamnida,” ucap Tiffany.

Nyonya Sooman mengelus rambut Tiffany dengan sayang. “Omo. Aku sangat rindu senyuman itu. Sekarang kau benar-benar cantik anakku.”

Tiffany merasakan kasih sayang yang tulus ketika wanita itu menggenggam tangan mungilnya. Kini ia mulai yakin bahwa dulu ia pernah tinggal disini. Ya Tuhan, rasanya kenangan itu mulai merasuki pikiran Tiffany. Namun sekarang rasa bahagia ikut besertanya.

“Nyonya Soo—“

“Ahjumma. Dulu kau memanggilku Ahjumma,” Nyonya Sooman meralat panggilan Tiffany kepadanya.

“Ne. Ah-ahjumma, mianhaeyo. Aku belum mengingat apa-apa. Bisakah Ahjumma menceritakan padaku semuanya? Aku ingin tahu semua tentang orangtuaku.”

Nyonya Sooman mengerling Siwon yang tampaknya juga ingin tahu. Wanita itu tersenyum tipis lalu bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke meja kerja, sementara Tiffany dan Siwon terus mengawasi gerak-geriknya. Nyonya Sooman membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map. Mungkin ia telah mempersiapkan segalanya sebelum Siwon dan Tiffany kesini.

Nyonya Siwon kembali duduk di samping Tiffany. Ia meletakkan map itu di atas meja di antara mereka. Tiffany menatap Nyonya Sooman dan map bergantian.

“B-boleh aku melihatnya?” tanya Tiffany penuh harap. Nyonya Sooman menganggukkan kepala.

“Tentu saja, anakku. Di dalam map itu ada akte kelahiranmu dan foto-foto keluargamu,” jawab Nyonya Sooman. Tiffany mengambil map tersebut dan meletakkannya di paha. Selanjutnya Tiffany membuka map tersebut dengan jantungnya yang berdebar kencang. Di halaman pertama Tiffany melihat akte kelahirannya. Ia menelan ludah saat membaca tulisan yang tertera disana.

Benar kata Siwon. Ia bernama asli Tiffany Hwang. Appanya Seo Jun Hwang dan Eommanya bernama Stephannie. Tiffany lahir di Busan pada tanggal 1 Aguatus 1989. Tiffany merasakan air matanya sudah berlinang. Kemudian Tiffany mengambil sebuah album foto mini di balik aktenya. Ia buru-buru membuka album itu untuk melihat kejutan apa lagi yang akan didapatnya.

Halaman pertama Tiffany melihat foto seorang bayi perempuan yang begitu lucu. Bayi itu sedang telungkup dengan wajah melihat ke kamera. Bayi perempuan itu tersenyum. Tersenyum bahagia seolah tak akan ada kesedihan yang menantinya di masa depan. Tanpa disadari Tiffany, Siwon telah duduk di sampingnya, ikut melihat apa yang dilihat Tiffany.

“Itu kau, Tiffany anakku. Saat itu kau masih berusia 9 bulan. Neomu yeppeota,” kata Nyonya Sooman lembut. Tiffany tertawa kecil dalam tangisnya. Ternyata bayi itu adalah dirinya. Siwon mengelus tangan istrinya, ikut tersenyum melihat foto bayi wanita yang dicintainya itu.

“Ne. Neomu yeppeota, yeobo,” bisiknya. Tiffany membalik halaman album tersebut dan menemukan foto seorang pria dan seorang wanita. Tiffany merasakan airmatanya semakin mengalir deras. Ia sangat yakin foto itu adalah foto kedua orangtuanya. Kini ia tahu darimana eye smile itu diturunkan. Ternyata Eomma nya juga tersenyum seperti Tiffany.

Siwon merangkul Tiffany selagi ikut melihat-lihat isi album foto bersama. Album itu berisikan foto-foto Tiffany dengan orangtua kandungnya. Ada foto yang menampakkan Tiffany sedang bermain di pantai bersama Appa saat ia berusia sekitar 2,5 tahun. Tiffany tampak sangat bahagia di pelukan Eomma dan di gendongan Appa.

“Appa dan Eomma sangat menyayangi Tiffany. Mereka berdua adalah nelayan yang sangat ramah serta baik hati. Semua orang menyukai mereka. Usia mereka masih terbilang muda saat menikah, yaitu Seo Jun berusia 26 tahun, sedangkan 23 tahun. Hubungan mereka ditentang oleh orangtua Stephanie yang memang berasal dari keluarga berada. Namun Stephanie sangat mencintai Seo Jun. Ia rela diusir dari rumahnya demi menikah dengan Seo Jun.

Tiffany lahir setelah setahun usia pernikahan mereka. Aku sendiri yang membantu kelahiran Tiffany. Karena Seo Jun dan Stephanie sudah kuanggap adik sendiri. Seo Jun dan Stephanie sangat bahagia mendapatkan seorang putri secantik Tiffany. Kemanapun mereka pergi, selalu bersama-sama. Kadang aku mengomeli mereka agar tidak membawa Tiffany yang masih balita ke pantai. Karena di panti ini Tiffany bisa bermain dengan anak-anak yang lain. Rumah Seo Jun tak jauh dari sini, maka dari itu Tiffany sering dititipkan kepadaku,” tutur Nyonya Sooman panjang lebar.

Siwon menggenggam tangan istrinya. Tiffany benar-benar tidak tahan mendengar cerita pemilik panti asuhan tersebut. Ia tak berhenti menangis.

“Lalu, apa yang terjadi saat badai hari itu?” Siwon yang bertanya.

Nyonya Sooman menghela napas berat. Matanya mulai memerah dan berlinangan airmata.

“Hari itu, Seo Jun sebenarnya pergi memancing seorang diri. Stephanie dan Tiffany bermain disini bersamaku. Awalnya hari begitu cerah, tidak ada tanda-tanda kalau akan datang badai besar. Namun, saat Stephanie mengatakan kalau ia dan Tiffany akan mengantarkan makan siang untuk Seo Jun, langit sudah sedikit kelam. Aku pikir saat itu akan hanya ada hujan seperti biasa. Jadi aku mengizinkan Stephanie pergi ke pantai asalkan Tiffany tinggal disini bersamaku. Tapi Tiffany menangis saat melihat Eommanya pergi tanpa mengajaknya. Jadi, Stephanie terpaksa membawa serta Tiffany,” jelas Nyonya Sooman dengan ekspresi sedih.

Siwon dan Tiffany masih menunggu cerita selanjutnya dengan perasaan tak karuan. Mereka bisa melihat kesedihan di mata wanita di hadapannya.

“Lalu, terjadilah badai besar itu. perasaanku sangat sangat tak enak. Saat badai terjadi kami terkurung di panti dan tak bisa menyusul Stephanie. Aku dan anak-anak panti sangat mengkhawatirkan Stephanie yang tak kunjung kembali dari pantai. Kemudian, ketika badai 2 jam itu mulai mereda, aku dan beberapa anak panti langsung pergi ke rumah Seo Jun dan Stephanie. Benar saja, mereka tak ada di rumah. Perasaanku semakin tidak enak. Lalu tanpa berpikir lagi, kami langsung ke pantai untuk mencari mereka. Siapa tahu mereka tidak ke laut setelah makan siang. Namun apa yang kami dapat….”

Nyonya Sooman tak dapat melanjutkan ceritanya. Ia sudah menangis terisak dan kepalanya tertunduk. Tiffany menutup mulutnya, tercengang dengan cerita Nyonya Sooman. Tangannya terjulur untuk menggenggam tangan wanita tersebut.

“Ahjumma…”

Nyonya Sooman mengangkat kepalanya dan menghapus airmata yang mengalir di pipi.

“Mian,” ucap suaranya serak. “Sore itu, kami mendapatkan berita dari nelayan-nelayan lain yang juga memancing di sana. Mereka melihat kalau setelah makan siang, Stephanie dan Tiffany ikut serta dengan Seo Jun ke tengah laut. Mereka tak menyadari kalau langit berubah kelam dan rintik hujan mulai turun.

Jadi kami kembali ke panti tanpa mendapatkan berita apapun tentang Seo Jun, Stephanie dan Tiffany. Aku tidak tidur semalaman sebelum mendapatkan berita dari mereka. Dan akhirnya, pada jam 2 tengah malam, seorang nelayan bernama Wooyoung ke panti menemuiku. Mereka mengabarkan bahwa…bahwa, mereka menemukan Tiffany di tengah laut, di potongan-potongan badan kapal Seo Jun.”

Nyonya Sooman menyelesaikan ceritanya lalu memeluk tubuh mungil Tiffany. Siwon paham sekarang. Ia bisa merasakan pedihnya batin Tiffany saat ini.

“Aku bersyukur pada Tuhan karena telah mengirimkan malaikat untuk menjagamu, anakku.”

Tiffany mengangguk dan memeluk Nyonya Sooman makin erat. Siwon membiarkan kedua wanita itu menangis. Memang sangat sakit rasanya jika berada di posisi Tiffany. Betapa inginnya Tiffany bertemu dengan orangtua kandungnya yang selama ini rahasianya disembunyikan oleh keluarga Hwang. Namun harapan itu tinggal harapan. Sampai kinipun tubuh orangtuanya tidak ditemukan.

Setelah beberapa menit, Tiffany dan Nyonya Sooman mulai tenang. Mata Tiffany sudah membengkak karena menangis. Nyonya Sooman beranjak dari tempat duduk lalu berjalan ke sebuah lemari besar di dekat meja kerjanya. Beliau mengambil sebuah boneka manusia berambut emas dan menyerahkannya pada Tiffany.

“Ini Wendy, boneka kesayanganmu dulu. Boneka ini masih kau peluk saat kau ditemukan oleh pelayan setelah badai menerjang. Sayangnya, keluarga yang mengadopsimu tidak mau membawa serta boneka ini. Kau pasti kesepian tanpa Wendy,” ujar Ny. Sooman.

Tiffany memandangi boneka mungil di tangannya. Boneka itu cantik. Lalu, setelah menyadari sepenuhnya perkataan Nyonya Sooman barusan, Tiffany kembali menatap mata wanita itu.

“Keluarga yang mengadopsiku? Maksud Ahjumma, keluarga Park?”

Nyonya Sooman mengangguk. “Benar. Apa mereka bersikap baik padamu? Pasalnya, aku tidak menyukai cara Heechul memandangmu. Ia sepertinya sangat cemburu saat Appa dan Eommanya mengadopsimu.”

“Ya, Heechul Oppa memang tidak menyukaiku. Selama ini aku kira aku benar-benar bagian dari keluarga Park. Sampai sekarang aku tidak mengingat apa-apa tentang masa laluku. Oleh karena itu mereka mungkin mengambil kesempatan dari hal ini. Aku tidak pernah melihat fotoku saat masih kecil. Dan aku selalu dipaksa untuk menuruti kehendak mereka. Aku selalu disalahkan jika Heechul yang membuat kesalahan. Mereka tidak pernah menyayangiku, ahjumma,” ungkap Tiffany. Nyonya Sooman tercengang dan tampak marah.

“Ya Tuhan, apa yang mereka pikir mereka lakukan! Mereka bersikap sangat manis saat menjemputmu kesini. Mereka berjanji akan menyayangimu seperti darah daging mereka sendiri. Tuan Park mengadopsimu karena istrinya mengalami depresi ketika anak perempuan mereka meninggal saat dilahirkan empat tahun sebelum mengadopsimu. Aku tidak menyangka mereka melanggar janji itu. Semoga Tuhan mengampuni dosa mereka,” tuturnya.

“Aku tidak dendam kepada mereka, Ahjumma. Aku hanya merasa aku terabaikan oleh mereka. Walaupun saat itu aku hidup dengan mereka, aku tetap merasa sendiri di dunia ini. Tapi…,” kata Tiffany lalu menatap mata suaminya. “Semenjak aku bertemu Siwon Oppa, aku berpikir bahwa aku sudah mempunyai keluarga yang lengkap.”

Siwon memandangnya penuh arti.

 

Tiffany duduk di meja makan, sementara Siwon membantu Nyonya Siwon dan anak-anak panti di dapur. Tiffany masih mengulang-ulang melihat album foto keluarga kecilnya. Di dekatnya beberapa anak perempuan sedang bermain-main, lantas menghampiri Tiffany karena sedari tadi hanya berdiam diri. Tiffany menyadari ada tiga orang anak perempuan yang sedang menatapnya penuh tanda tanya. Ia tersenyum ramah, memperlihatkan eye smile nya yang khas.

“Annyeong,” sapa Tiffany riang.

“Annyeong, Yeuppunie!” balas mereka serentak. Tiffany mengernyit.

“Yeuppunnie?” tanyanya bingung.

“Yeuppunnie itu kakak yang cantik,” jelas salah seorang dari mereka. Tiffany tertawa.

“Ah, gomawo. Hwang Tiffany imnida. Panggil aku Fany Unnie, arraso?”

“Neeeeeeee.”

“Hahaha, aigoo. Ani, siapa nama kalian?”

“Kim Ye Ji imnida.”

“Eun So Young imnida.”

“Kim Yun Ji imnida. Aku unnie dari Ye Ji.”

Tiffany mengajak mereka berjabat tangan. Ketiga gadis ini masih berusia sekitar 8-10 tahun. Mereka lucu-lucu sekali dan juga ramah.

“Jadi, Unnie tinggal dimana? Aku tidak pernah melihat gadis secantik Unnie di daerah ini,” kata Yun Ji.

“Unnie tinggal di Seoul. Kalian tidak pernah main ke Seoul?”

Serentak mereka pun menggeleng, membuat rambut kuncir kuda mereka ikut bergoyang.

“Kalau namja itu siapa? Dia tampan sekali seperti pangeran. Apa dia kekasih Fany Unnie?” tanya So Young penasaran. Tiffany melirik ke dapur, dimana Siwon sedang bercanda ria bersama anak-anak yang lain.

“Ne. Dia suami Unnie.”

Ketiga gadis cilik itu saling pandang lalu menatap Tiffany penuh takjub. Sepertinya mereka mengidolakan Siwon. Aish ada-ada saja anak-anak ini, pikir Tiffany.

“Jincha? Waaaah, kalian pasangan yang serasi. Siwon Oppa sangat tampan seperti pangeran, dan Fany Unnie cantik seperti putri,” kata Yun Ji.

Tiffany menahan senyumnya. “Jincha? Ah, kamsahamnida.”

Malam itu, Nyonya Sooman memaksa Siwon dan Tiffany untuk menginap di panti. Tiffany dan Siwon pun setuju. Lagipula, mereka sudah kemalaman jika menyetir sampai Seoul. Tiffany juga berencana akan ke laut besok pagi, untuk membawakan buket bunga untuk orangtuanya.

Anak-anak panti sangat welcome kepada Siwon dan Tiffany. Dari sana Tiffany melihat kalau Siwon sangat menyukai anak-anak. Sebenarnya Tiffany sudah tahu sejak Siwon mengajak salah satu anak didik balletnya, Lee Yunjie, bermain seharian pada saat itu. Siwon bercanda ria dengan anak-anak panti seolah-olah dia juga seusia mereka.

Tiffany tertawa sendiri melihat tingkah suaminya yang kini sedang menggendong dua anak laki-laki dan perempuan. Sementara yang lain berebut minta digendong oleh Siwon.

“Suamimu benar-benar mengagumkan, Fany-ah.”

Tiffany tersenyum pada Nyonya Sooman. “Ne. Aku beruntung menjadi istrinya.”

“Aku dengar kalian baru menikah,” kata Nyonya Sooman lagi.

“Benar. Siwon Oppa menikahiku agar Appa dan Eomma Park tidak lagi menjodohkanku dengan pria-pria kaya pilihan mereka.”

Mata Nyonya Sooman melotot. “Jincha? Aish, tega sekali mereka. Lalu, apakah pernikahan kalian benar-benar berdasarkan cinta?”

Tiffany tersenyum miris. “Awalnya aku tidak mencintai Siwon Oppa. Tapi, saat aku merasakan cintanya yang tulus dan ia bersungguh-sungguh menjagaku, aku rasa aku jatuh cinta padanya, Ahjumma.”

Nyonya Sooman mengusap rambut Tiffany penuh kasih sayang. “Aku yakin dia adalah jodohmu. Semoga kalian selalu bahagia, anakku.”

“Gomawo, Ahjumma.”

Tiffany dan Siwon mengganti baju mereka dengan baju yang lebih santai. Untung saja di mobil Siwon selalu membawa persedian baju untuk Tiffany dan dirinya. Sudah pukul 10 malam dan anak-anak panti sudah tidur di kamar masing-masing. Tiffany senang bisa berada di kampung halamannya, tinggal bersama orang-orang penuh kasih sayang, dan terutama berada di samping Siwon.

“Oppa?”

Tiffany sedang memperhatikan Siwon mengganti pakaiannya.

“Ne, yeobo.”

“Aku rasa anak-anak itu lebih menyukaimu daripada aku,” ungkap Tiffany. Siwon tertawa kecil lalu ikut masuk ke dalam selimut bersama Tiffany. Mereka berbaring berhadapan.

“Jincha? Hmm, bagus sekali. Itu karena aku sudah cocok menjadi seorang Appa,” jawab Siwon ringan. Tiffany menyamarkan senyumnya.

“Aish, Oppa!”

“Waeyo? Bukankah, kau juga ingin menjadi seorang Eomma?” goda Siwon.

“Oppa sok tahu,” elak Tiffany lalu memunggungi suaminya. Namun Siwon lebih bergerak cepat. Ia menahan tubuh Tiffany dan memposisikan tubuhnya di atas istrinya itu.

“Jangan mengelak, yeobo. Aku lihat kemarin malam kau membaca buku itu,” bisik Siwon. Pipi Tiffany memerah. Melihat ekspresi itu Siwon semakin gemas. Ia mencium bibir Tiffany dengan sangat lembut, lalu melepaskan sebelum Tiffany menikmatinya.

“Oppa…”

“Yeobo, kalau begitu kita harus lebih berusaha agar kita mendapatkan an—“

“Yah, Oppa. Kita tidak sedang di rumah. Jangan disini,” desis Tiffany. Siwon tertawa dan mengecup hidung bangir Tiffany. Kemudian Siwon berbaring memeluk Tiffany dari belakang.

“Arraso. Hmm, tapi biarkan aku memelukmu. Ne?”

Tiffany mengangguk tanpa mengeluarkan suaranya. Mereka berpelukkan dalam diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Oppa, gomawo. Jeongmal,” ucap Tiffany lembut.

“Gwenchana. Sudah kewajibanku untuk menjaga dan menemanimu. Kau tidak boleh larut dalam kesedihan, yeobo. Orangtuamu pasti ingin melihatmu terus bahagia.”

“Ne, Oppa.”

Siwon menciumi leher Tiffany, membuat Tiffany kegelian. Mereka berdua tertawa. Pelukan hangat Siwon membuat hati Tiffany benar-benar tenang dan nyaman. Kini, tak ada yang mengganjal pikirannya lagi. Ia sudah mengetahui siapa orangtua kandungnya. Sekarang hanya tinggal mengungkapkan rahasia itu di depan keluarga Park. Tiffany ingin meminta pengakuan mereka.

Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel bordering. Tiffany melihat ponsel Siwon bergetar di atas meja di dekatnya.

“Oppa?”

“Hmm?” Siwon hanya bergumam.

Tiffany menjangkau ponsel Siwon dan membaca nama pemanggilnya. Appa! Tiffany segera membalikkan tubuhnya ke arah sang suami. Siwon masih tidak menghiraukan ponselnya yang bordering.

“Oppa, Appa yang menelpon. Angkatlah!” kata Tiffany. Siwon bergumam malas.

“Aah, aku tidak mau. Aku yakin itu pasti masalah pekerjaan,” sungutnya.

“Aish, Oppa. Ya sudah, biar aku yang menjawab,” ucap Tiffany pasrah, melihat suaminya tidak berminat. “Yobosaeyo, Appa!”

“Yobosaeyo, Fany-ah. Apa kabarmu, Nak?”’ tanya Appa Siwon ramah. Tiffany melepaskan rangkulan Siwon yang erat dan duduk dari tidurnya.

“Ne, Appa. Aku baik-baik saja. Appa dan Eomma bagaimana? Mianhaeyo, aku belum sempat berkunjung ke rumah setelah pulang dari Thailand,” ujar Tiffany. Siwon kembali memeluk pinggang Tiffany. Ia sama sekali tidak mempedulikan Tiffany yang sedang menjawab panggilan Appanya.

“Gwenchana, Fany-ah. Appa dan Eomma sehat-sehat saja, apalagi sudah mendapatkan menantu yang baik dan cantik sepertimu,” kata Appa lalu tertawa kecil. Tiffany tersenyum malu. Appa dan Eomma Siwon memang sangat baik kepadanya. Tiffany bertemu mereka sebelum pernikahannya dengan Siwon. Walaupun keluarga mereka kaya raya, Appa dan Eomma tidak memandang rendah Tiffany dan keluarga Park.

“Kamsahamnida, Appa.”

“Hahaha. Ani, apakah Siwon sedang bersamamu? Apa dia sudah tidur?”

Tiffany melihat Siwon sekilas, yang kini sedang memainkan ujung rambut Tiffany. “Belum, Appa. Appa ingin bicara?”

“Ne.”

Tiffany menyerahkan ponsel kepada Siwon dan memaksa lelaki itu untuk duduk. Siwon berdecak malas lalu akhirnya menjawab panggilan Appa.

“Yobosaeyo, Abuji. Kenapa menelpon malam-malam begini?” sungut Siwon dan langsung mendapat tamparan di lengannya dari Tiffany.

“Yah, Siwon. Kalau tidak penting, Appa tidak akan menelpon! Appa hanya ingin menyampaikan berita penting untukmu. Besok pagi kau akan meeting dengan pimpinan Calvin Klein dari Amerika. Mereka meminta kau yang presentasi, bukan Appa. Arraso?”

“MWO?!”

Tiffany mengernyit melihat suaminya terkejut.

“Appa, aku sedang berada di Busan sekarang. Bagaimana caranya aku harus meeting pagi hari. Apa tidak bisa diwakilkan oleh Donghae-ssi?” Siwon mengusulkan nama pemegang saham kedua terbesar.

“Tidak bisa. Tuan Robert hanya menginginkan presentasimu, bukan yang lain. Tunggu, kenapa kau berada di Busan?”

Siwon melirik istrinya sekilas. “Panjang ceritanya Appa. Kalau bertemu akan kuceritakan.”

“Baiklah. Jadi sekarang kau harus pulang ke Gangnam agar besok pagi bisa presentasi. Arraso?”

Siwon tidak menjawab. Ia hanya berdecak kesal.

“Siwon?”

“Ne, Appa!” jawab Siwon akhirnya. Ia menutup telpon dan tampak bingung untuk sejenak.

“Waeyo? Ada masalah apa?” tanya Tiffany ingin tahu. Siwon menghela napas berat.

“Yeobo, besok pagi aku ada rapat penting dengan perusahaan garmen dari Amerika. Dan sekarang kita harus pulang ke Gangnam. Ottokhae?”

Tiffany mengangguk mengerti. Sejauh ini Siwon telah banyak membantunya sampai-sampai mengabaikan kewajibannya di kantor. Tiffany tidak boleh egois dengan menyuruh Siwon tetap tinggal disini. Tiffany tersenyum dan mencium pipi Siwon.

“Kau harus mematuhi Appa, Oppa. Pergilah.”

Siwon mengerutkan dahi. “Maksudku, kau juga ikut pulang. Tak mungkin aku meninggalkanmu sendirian disini, yeobo.”

“Yah, Oppa. Besok pagi aku harus ke laut. Aku masih ingin di Busan untuk beberapa hari. Kau pulanglah dulu. Kau tidak boleh meninggalkan pekerjaanmu.”

Siwon menatap bimbang pada Tiffany. Kalau boleh memilih, ia ingin terus berada disini menemani istrinya. Namun sebagai pimpinan perusahaan, Siwon juga harus professional. Tapi, kalau meninggalkan Tiffany disini sendiri, Siwon berat untuk melakukannya.

“Yeobo…”

“Gwenchana, Oppa. Sekarang bersiap-siaplah. Aku akan mengantarmu ke depan,” kata Tiffany. Ia bangkit dari tempat tidur dan Siwon kembali menarik tangannya. Pria itu langsung memeluk tubuh Tiffany dan menyurukkan kepalanya di leher sang istri.

“Aku pasti akan merindukanmu, honey.”

Tiffany tersenyum dan mencium pipi Siwon.

“Nado, Oppa. Saranghaeyo,” bisik Tiffany. Siwon memegangi wajah cantik Tiffany, berlama-lama memandanginya.

Siwon merengkuhnya lebih dekat dan menciumnya tepat di bibir. Ciuman penuh cinta dan sangat lembut. Tiffany tak ingin melepaskannya, mengingat Siwon tidak akan berada di sampingnya malam ini. Begitu pula dengan Siwon. Melihat respon lembut Tiffany, Siwon semakin memperdalam ciumannya.

Setelah beberapa menit barulah ciuman terlepas karena mereka sama-sama kekurangan oksigen. Siwon dan Tiffany serentak tertawa dan Siwon mendaratkan ciuman terakhirnya di kening Tiffany.

“Aku akan ganti pakaian dulu.”

“Ne.”

Dengan ditemani Nyonya Sooman, Tiffany pergi ke laut. Tempat dimana Appa dan Eomma nya dulu hilang. Sebelumnya Tiffany sudah membeli seikat bunga daisy yang indah. Saat itu Tiffany benar-benar harus tegar. Pada awalnya ia berharap bisa melihat kedua orangtua kandungnya. Namun inilah yang harus diterima oleh Tiffany. Kini ia hanya bisa berharap agar kedua orangtuanya tenang di sisi Tuhan.

Jarak panti dan tepi pantai tidaklah terlalu jauh. Hanya membutuhkan 15 menit jika berjalan kaki. Tadi malam Siwon sudah berangkat, kembali ke rumah mereka. Jujur, Tiffany tidak ingin berjauhan dengan suaminya itu. Tapi jika ia memaksakan kehendaknya sendiri, berarti Tiffany sangatlah egois.

Tiffany sendiri sudah berencana akan tinggal di panti sekitar satu minggu. Ia ingin melihat-lihat rumah Appa dan Eomma serta berjalan-jalan untuk mengenang masa kecil yang sebenarnya tidak bisa diingatnya.

“Nah, kita disini saja,” Nyonya Sooman memberikan aba-aba agar mereka berhenti. Mereka berdiri di sebuah batu besar di tepi pantai. Batu itu menghadap ke hamparan laut. Dari sana Tiffany dapat melihat ke tengah laut. Indah sekali. Di laut yang indah itulah bersemayam tubuh kedua orangtuanya.

Tiffany bersimpuh dan meletakkan buket bunganya. Airmatanya mulai mengalir lagi. Tiffany menggenggam kalung salib pemberian Siwon dan mulai berdoa.

Sementara itu Nyonya Sooman yang berdiri di samping Tiffany juga ikut berdoa. Mereka khusyuk dalam doa masing-masing sehingga tidak menyadari ada seseorang yang menghampiri mereka dari belakang.

Tiffany menyudahi doanya dan tersenyum memandangi langit pagi yang cerah. Ia menghapus airmata di pipinya dan berdiri. Appa, Eomma, semoga kalian berbahagia bersama Tuhan. Aku mencintai kalian.

“Ah! Yunho-ssi!”

Mendengar suara terkejut Nyonya Sooman, Tiffany ikut menoleh ke belakang. Seorang pria berdiri tepat di belakang mereka, tersenyum kepada Nyonya Sooman. Tiffany mengerling Nyonya Sooman, ternyata pria tampan ini kenalan wanita tersebut.

“Annyeonghasaeyo, Ahjumma! Mian, mengagetkan kalian.”

Pria yang bernama Yunho itu membungkuk 90 derajat kepada dua wanita di hadapannya.

“Nuguya?” tanya Tiffany berbisik kepada Ny. Sooman.

“Annyeong, Yunho-ssi. Gwenchana. oh ya, apakah kau masih mengingat Tiffany Hwang?” kata Ny. Sooman seraya menyentuh bahu kiri Tiffany. Yunho memandang Tiffany dengan matanya yang begitu indah. Tiffany mendadak gugup. Aish, kenapa dengan mata itu? Tiffany merasa mata itu sangat familiar baginya.

“Tiffany Hwang? Omo! A-apakah kau benar-benar Ti-Tiffany?” tanya Yunho mendadak gagap. Tiffany bingung namun tetap menganggukkan kepalanya.

“Tiffany Hwang imnida.”

Yunho tersenyum lebar sehingga bibir tipisnya hampir tak terlihat. Feeling Tiffany mengatakan kalau Yunho adalah warga sekitar sini yang dulu mengenalnya. Atau mengenal orangtuanya.

Dan, tanpa tedeng aling, Yunho langsung menghambur memeluk Tiffany. Tiffany kaget sekali dan melemparkan pandangan penuh tanda tanya ke Ny. Sooman. Nyonya Sooman hanya menganggukkan kepala.

“Hahaha. Mianhae, Fany-ah. Aku hanya terlalu bahagia bisa melihatmu lagi. Aish, aku benar-benar merindukanmu. Apa kabarmu baik-baik saja?” cerocos Yunho setelah melepaskan pelukan tiba-tiba itu.

“Aku baik-baik saja. Kamsahamnida sudah merindukanku,” ucap Tiffany ramah.

“Yunho ini dulu juga penghuni panti, Fany-ah. Dia yang selalu menjagamu jika Appa dan Eomma pergi ke laut. Kau juga sangat dekat dengannya. Bisa dibilang kalian seperti kakak-beradik. Ketika kau pergi, Yunho-ssi sudah berusia 8 tahun. Jadi dia sangat sedih melihat kau diadopsi keluarga Park. Apa kau ingat?” jelas Ny. Sooman kepada Tiffany. Yunho menatap Tiffany penuh tanda tanya.

“Fany-ah, kau tak ingat aku ya?” tanya Yunho tak sabar.

Tiffany menggigit bibir bawahnya, bingung. Ia tak ingat sedikitpun dengan penjelasan Nyonya Sooman. Tapi jika melihat mata Yunho, entah kenapa Tiffany merasa nyaman.

“Mianhae, Yunho-ssi. Tapi aku akan berusaha mengingatmu,” jawab Tiffany polos. Sesaat Yunho tampak kecewa, namun ia mengerti dengan keadaan Tiffany. Ia pun dulu melihat kejadian yang menimpa gadis ini waktu kecil.

“Gwenchana, jangan dipaksakan. Ah, sangat senang bisa melihatmu lagi, Fany-ah. Kapan kau kesini?”

“Tadi malam, Yunho-ssi.”

“Jangan terlalu formal padaku. Panggil aku Oppa. dulu kau memanggilku Oppa,” kata Yunho. Tiffany tidak merespon.

“Ani, Yunho-yah. Kenapa kau disini? Kau tidak memantau pabrik?” tanya Nyonya Sooman.

“Iya, tadi aku akan ke pabrik. Tapi saat diperjalanan aku melihat Ahjumma. Ya aku ikuti,” jawab Yunho.

“Fany-ah. Yunho-ssi ini sudah menjadi juragan muda sekarang. Ia mempunyai pabrik ikan terbesar di Busan. Tapi masih mau memantau pekerjaan karyawannya tanpa diwakilkan. Dia begitu rendah hati,” puji Nyonya Sooman. Yunho menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Ahjumma, jangan berlebihan. Ahjumma ingin membuat wajahku memerah ya di depan Fany,” kata Yunho malu. Tiffany hanya tertawa kecil.

“Memang seperti itu keadaannya, Yunho-yah! Bagaimana kalau kau ke panti? Kita minum teh bersama,” ujar Nyonya Sooman.

 

Yunho, Tiffany dan Nyonya Sooman kembali ke panti. Tiffany tidak banyak bicara, namun sebisa mungkin ia membuat dirinya nyaman bersama ‘Oppa’ masa kecilnya.

“Andai saja ada Siwon-ssi disini, pasti akan senang berkenalan denganmu,” Nyonya Sooman membuka pembicaraan. “Benar kan, Fany-ah?”

“Ne,” jawab Tiffany setuju.

“Siwon-ssi? Nuguya?” tanya Yunho.

“Siwon Oppa, suamiku,” jawab Tiffany. Yunho terdiam. Jadi Tiffany sudah menikah. Entah kenapa, tiba-tiba ada sesuatu yang berputar-putar di perut Yunho. Sebuah perasaan tak senang saat Tiffany berkata ‘suamiku’. Namun Yunho menutupinya dengan senyum palsu.

“Jincha? Wah, aku sama sekali tidak menyangka Tiffany sudah menikah. Hahaha.”

“Kami baru saja menikah, Oppa,” jelas Tiffany.

“Dan Siwon-ssi benar-benar pria yang baik. Serta tampan. Tak kalah tampan darimu, Yunho-yah,” goda Ny. Sooman.

“Aish, Ahjumma. Kalau ketampananku tak ada tandingannya disini. Tapi karena aku belum melihat Siwon-ssi, aku masih merasa aku lebih tampan. Hahaha,” gurau Yunho. Tiffany ikut tertawa, memperlihatkan eye smile nya yang khas.

“Kenapa suamimu tidak menemanimu disini, Fany?”tanya Yunho lalu menyesap tehnya.

“Tadinya dia disini menemaniku. Tapi semalam ia harus pulang ke Seoul karena pagi ini ada rapat penting di kantornya. Jadi Siwon Oppa kembali ke Seoul sendirian karena aku masih ingin tinggal disini,” ujar Tiffany.

“Oh, arraso. Aku senang kalau kau mempunyai suami yang baik dan bertanggung jawab seperti Siwon-ssi. Kapan-kapan aku ingin bertemu dengannya.”

Sementara itu di Seoul, pikiran Siwon sedikit tak tenang. Ia terus saja teringat Tiffany. Tadi pagi rapatnya berjalan lancar dan sukses. Siwon mendapatkan tender yang ditawarkan dan Appa bangga karenanya.

“Bagus sekali, Siwon. Kau telah membuat Appa bangga. Untuk seminggu ke depan kau harus menemani Mr. Robert berkeliling Korea serta pabrik-pabrik yang ada di bawah naungan perusahaan kita.”

“Mwo??” suara Siwon hampir menjerit mendengar perkataan Appa.

“Aigoo. Apa kau harus berteriak seperti itu?” Appa bertanya tajam. Yoona yang juga ada di dalam ruangan itu hanya memandangi Ahjussi dan Oppa nya bergantian.

“B-bukan begitu Appa. Appa, Tiffany sedang berada di Busan dan aku harus menemaninya. Dia membutuhkanku, Appa.”

Appa sebenarnya tidak tega menyuruh Siwon untuk tetap di Seoul. Namun semua ini untuk kemajuan perusahaan mereka. Siwon punya tanggung jawab yang sangat besar karena hanya ia satu-satunya pewaris. Setidaknya sebelum Siwon mempunyai keturunan. Appa berdehem.

“Kalau begitu, coba hubungi Tiffany. Coba bujuk dia agar pulang. Appa mengerti dengan kesedihannya. Tapi memang lebih baik kalau kau bersamanya, Nak. Hubungi dia sekarang. Arraso?”

Hanya itu yang dapat dikatakan Appa. Beliau tetap tidak memperbolehkan Siwon ke Busan untuk satu minggu ini. Jadi yang harus dilakukan Siwon adalah membujuk Tiffany agar mau pulang. Setelah itu Siwon bisa meminta bantuan Sukkie dan Yoona untuk menjemput istrinya tersebut.

Langkah pertama Siwon harus menghubungi Tiffany. Ia mengambil ponsel dan menekan nomor istrinya.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan tinggalkan pesan setelah nada berikut.

Siwon mengernyit. Ponsel Tiffany tidak aktif? Aish, bagaimana ini? Siwon memegangi kepalanya dengan frustasi.

“Waeyo Oppa?” tanya Yoona. Siwon lupa kalau sepupunya itu masih duduk di dalam ruangannya.

“Ah, Yoona. Ponsel Tiffany tidak aktif. Ottokhae?” kata Siwon bingung. Yoona menggembungkan mulutnya.

“Sudah coba menghubungi panti asuhan itu?” tanya Yoona mendadak. Siwon menepuk keningnya pelan.

“Kau benar. Aish, kenapa aku jadi linglung begini? Baiklah, aku akan menghubungi Nyonya Sooman.”

Siwon mulai menekan nomor telepon panti asuhan Nyonya Sooman. Sebelumnya Siwon juga pernah menghubungi wanita itu. namun sama saja, tak ada yang menjawab teleponnya. Siwon berdecak kesal.

“Aish! Kenapa tak ada yang menjawab?!!”

Yoona menutup telinganya. Ia mengerti sepupunya ini sedang kesal dan frustasi karena tekanan Appa dan istrinya tidak dapat dihubungi.

“Yah, Oppa. Coba saja kau kirimkan pesan ke ponsel Fany Unnie. Siapa tahu dia nanti membacanya,” saran Yoona. Siwon menatap sepupunya sebentar, sebenarnya ingin berterima kasih. Sebab daritadi Yoona selalu memberikan ide kepadanya. Namun Siwon sedang malas berkata apa-apa.

Lalu ia pun mengetik pesan untuk Tiffany.

“Sebenarnya aku ingin mendengar suaranya,” gerutu Siwon sambil terus mengeti pesan di ponselnya. Yoona menaikkan bibir atas kirinya, mencemooh.

“Oppa, kau kekanak-kanakan sekali. Fany Unnie pasti sangat malu mendengarnya,” ledek Yoona.

“Aigoo. Dimana aku meletakkan ponselku ya?” Tiffany berbicara pada diri sendiri. Daritadi ia mencari ponselnya dan tidak menemukan dimanapun. Ia baru menyadari kalau ponselnya tidak ada saat akan menelpon Siwon. Tapi Tiffany tidak menemukan ponselnya di kamar tamu panti tersebut. Memang sejak datang kesini Tiffany tidak memegang ponselnya.

“Kau mencari apa, Fany-ah?” tanya Ny. Sooman ketika melihat perempuan itu kebingungan.

“Ige, Ahjumma. Apa Ahjumma melihat ponselku? Aku tidak menemukannya di kamar,” kata Tiffany.

“Ani, aku tidak melihat ponselmu. Apa kau lupa menaruhnya?” tanya Nyonya Sooman. Tiffany mengingat kembali dimana sebenarnya ia meletakkan ponselnya. Saat kemarin ia turun mobil bersama Siwon ia memang tak memegang apa-apa. Padahal ketika berangkat dari rumah dan makan di restoran ia membawanya.

“Ah, ottokhae? Siwon Oppa bisa marah jika aku tak menghubunginya,” gumam Tiffany frustasi. Selain itu ia juga merindukan suaminya itu. Tiffany tak tahu apakah ia tahan lama-lama berjauhan dengan Siwon.

 

Siwon, Sukkie dan Yoona keluar untuk makan malam. Di atas mobil Siwon mencoba menghubungi ponsel Tiffany lagi. Sementara Sukkie duduk dengan tenang di samping Siwon, sambil sekali melirik-lirik Yoona yang duduk di jok belakang.

“Aish, masih tidak aktif,” gerutu Siwon setelah mendengar operator yang menjawab panggilannya.

“Waeyo?” tanya Sukkie.

“Aku tidak bisa menelpon Tiffany,” jawab Siwon sambil terus mengemudi.

“Nanti akan kita coba lagi, Oppa!” sahut Yoona dari belakang. Siwon mengangguk.

Sukkie bergeser sedikit ke samping agar bisa melihat Yoona. “Yoona-ya. Bagaimana kalau kita yang menjemput Tiffany ke Busan?”

Yoona mengangguk. “Ne. Memang seperti itu yang kami rencanakan.”

Sukkie menepuk bahu Siwon. “Tenanglah, Wonnie. Serahkan saja pada kami. Kau hanya perlu memberikan alamat lengkapnya kepada kami.”

Siwon tersenyum penuh arti. “Gomawo, Sukkie!”

Sukkie kembali meluruskan posisi duduknya dan saat itu ia merasa memegangi benda keras di dekat pintu. Ia mengangkat benda tersebut.

“Ige mwola?” tanya Sukkie sambil memamerkan benda yang ternyata ponsel Tiffany kepada Siwon. Mata Siwon melebar dan ia mulai mengutuk.

“Aish, Tiffany…”

“Pantas saja Fany Unnie tidak menjawab telponnya,” sambar Yoona.

Malam itu Tiffany sedang berkemas-kemas di kamar tamu panti. Ia memutuskan untuk pulang saja ke Seoul besok pagi. Yang penting ia sudah tahu dimana kampung halaman dan cerita kedua orangtua kandungnya. Ia juga senang bisa bertemu kembali dengan Nyonya Sooman serta Yunho Oppa. Namun, Tiffany sadar kalau ia tidak bisa berjauhan dengan suaminya.

“Biar Yunho-ssi yang mengantarmu, Fany-ah.”

“Ani, Ahjumma. Aku tak mau merepotkan Yunho Oppa. Aku bisa pulang dengan bis antar kota,” tolak Tiffany sopan.

“Kalau kau pulang dengan bis, nanti Siwon akan marah. Tak apa jika Yunho mengantarmu pulang. Lagipula, dia juga mempunyai rumah di Seoul,” kata Ny. Sooman.

“Jincha?”

“Ne. Orangtua angkatnya juga tinggal di Seoul.”

Tiffany mengangguk setuju. Ia senang jika Yunho yang akan mengantarnya ke Seoul, namun ia tidak yakin apakah Siwon akan senang melihatnya.

“Fany unnie! Fany Unnie!” panggil Ji En di ambang pintu kamar Tiffany.

“Ne, Ji En-ah?”

“Ada telepon untuk Fany Unnie. Dari Siwon Oppa!” seru gadis berusia 11 tahun itu. Tiffany tersenyum cerah. Ia meminta permisi kepada Nyonya Sooman dan keluar kamar, menuju telepon yang terletak di kantor pemilik panti tersebut.

“Yobosaeyo, Oppa!”

Yeobo, kenapa kau meninggalkan ponselmu di atas mobil? Aish, aku bisa gila karena tidak bisa menghubungimu.”

“Jadi ponselku tertinggal di atas mobil ya? Ah, mianhae Oppa. Aku tidak tahu,” kata Tiffany polos.

Gwenchana. Oh ya, yeobo. Satu minggu ini aku ada acara penting. Aku tidak bisa menjemputmu. Mianhae. Tapi Sukkie dan Yoona yang akan menjemputmu.”

“Hah, jincha? Ani, Oppa. Tidak usah menyuruh mereka. Terlalu merepotkan. Besok pagi aku akan pulang. Dan, ada Yunho Oppa yang akan mengantarku.”

Terdengar hening sejenak. “Yunho? Nugu?”

Tiffany menggigit bibir bawahnya. Ia takut Siwon tidak mengizinkan Yunho Oppa mengantarnya ke Seoul.

“Yunho Oppa, dia dulu adalah teman masa kecilku. Dia juga anak asuh Sooman Ahjumma. Oppa, taka pa kan, jika aku ke Seoul dengannya?”

Terdengar Siwon menghela napas. Lalu, “Ne, arrata. Bilang ke Yunho Oppa mu itu hati-hati menyetir”

-klik­-

Tiffany mengernyit saat sambungan telepon terputus. Padahal masih banyak yang akan dikatakannya. Apa Siwon Oppa marah mendengar Yunho Oppa yang akan mengantarnya ke Seoul. Tapi tadi ia mengijinkan, kok! Ah, biarlah. Siwon Oppa kan tidak pemarah, pikir Tiffany santai.

Siwon tidak bisa tidur memikirkan kata-kata istrinya tadi. Yunho Oppa? sigh, siapa dia? Kenapa Tiffany harus memanggilnya Oppa? Siwon tidak yakin kalau Tiffany bisa mengingat teman masa kecilnya. Aish, lebih baik aku tidur. Aku tidak sabar menunggu kedatangan istriku besok, batin Siwon.

Pagi harinya, Siwon terbangun oleh deringan weker yang menunjukkan tepat pukul 6 pagi. Siwon menggeliat dan meletakkan tangan di sisi kirinya yang kosong. Mendadak ranjang mereka terasa dingin sejak Tiffany tidak disini.

Siwon beranjak ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kantor. Hari ini ia akan menemani Mr. Robert berjalan-jalan di area pabrik milik Choi Corp. Huft, semoga saat ia pulang nanti ia bisa melihat Tiffany di rumah. Ia benar-benar rindu sekali.

 

Sementara itu di panti asuhan Nyonya Sooman, Tiffany sudah bersiap-siap untuk berangkat ditemani Yunho. Seluruh anak panti serta Ny. Sooman berdiri di halaman untuk melepas kepergian Tiffany. Anak-anak panti berebut agar bisa memeluk Tiffany Unnie/noona mereka. Walaupun hanya sebentar tinggal disana, Tiffany sudah sangat dekat dengan mereka. Ia pun dengan berat hati meninggalkan tempat ini. Terlebih Sooman Ahjumma.

“Jaga dirimu baik-baik, Fany-ah. Kau janji harus sering-sering kesini,” ujar Nyonya Sooman dengan airmata yang mengalir di pipinya.

Tiffany mengangguk cepat. “Pasti, Ahjumma. Aku akan sering kesini. Ahjumma juga jaga kesehatan.”

“Adik-adik, kalian harus berjanji pada Unnie/noona, kalau kalian akan menjaga Sooman Ahjumma. Arraso?” kata Tiffany kepada anak-anak panti.

“Ne. arraso!!”

Tiffany tersenyum bahagia. Kemudian ia memeluk Ny. Sooman untuk yang terakhir kalinya sebelum masuk ke mobil Yunho. Yunho pun ikut masuk mobil setelah berbicara singkat dengan Ny. Sooman, lalu menyalakan mesin mobil. Tiffany membuka kaca dan melambai.

“Sampai jumpa semua! Aku akan merindukan kalian!”

Mobil pun melaju semakin jauh. Tiffany menutup kaca mobil dan mendesah berat. Yunho yang sedang menyetir memperhatikan wanita di sampingnya dengan senyuman manis di wajahnya.

“Mereka pasti sangat berat melepasmu pergi, Fany-ah,” kata Yunho. Tiffany tersenyum padanya.

“Aku pun begitu. Kelak aku akan sering kesini untuk melihat keadaan mereka. Oppa, gomawoyo.”

“Ah, gwenchana, Fany-ah. Aku senang sekali bisa membantumu.”

Tiffany melihat jam tangannya. Kira-kira perjalanan ini akan sampai malam, kata Tiffany dalam hati. Lebih baik ia tidur karena ia tidak ingin terlalu banyak bicara dengan Yunho Oppa.

Siwon tak henti-hentinya melirik arloji. Ia terpaksa lembur hari ini karena Mr. Robert ingin ditemani makan malam olehnya. Siwon mengutuk dalam hati. Kenapa pak tua ini begitu bawel dan banyak permintaan. Kalau tidak karena kontrak, aku tak akan mau menemaninya kemanapun. Aish, apa Tiffany sudah sampai di rumah? Ponselnya kan sudah kutaruh di tempat tidur, kalau dia sudah sampai, kenapa tak langsung menelponku?

Dan akhirnya tepat pukul 9 malam, Mr. Robert menyatakan kalau dia lelah dan ingin segera ke hotel. Siwon terpaksa mengantarnya kembali ke hotel tempat ia tinggal dan buru-buru menyetir ke apartemennya. Ia tak sabar ingin melihat apakah istrinya sudah pulang atau belum.

Ia sendiri tak menyangka, hidupnya yang monoton karena pekerjaan akan berubah 180 derajat karena kehadiran seorang Tiffany Hwang. Tiffany telah mengubah hidupnya yang tidak pernah merasakan cinta sejati dan kini Siwon dapat membedakan mana pekerjaan dan mana realita kehidupannya.

Sampai di parking lot apartemen, Siwon melihat seorang pria turun dari mobil. Wajahnya begitu gembira saat ia akan membukakan pintu untuk partnernya. Siwon mendengus iri. Pasti pria itu sedang bersenang-senang dengan kekasihnya, pikir Siwon dari dalam mobil. Ia mematikan mesin mobil dan melepaskan sabuk pengaman, lalu ketika ia mendongak keluar, ia melihat kembali pria tersebut. Kali ini ia tidak sendiri, ia bersama seorang wanita cantik.

Dan wanita itu adalah Tiffany.

Siwon bergegas keluar mobil dan berdiri seperti orang bodoh. Tiffany sudah pulang. Sepertinya pria yang sedang bersamanya adalah Yunho Oppa. Sigh!

“Fany-ah!” panggil Siwon sambil berlari mendekat. Tiffany dan Yunho membalikkan badan. Senyum Tiffany merekah tatkala melihat Siwon mendekat padanya. Ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu suaminya di area parkir, bukan di dalam apartemen mereka.

“Siwon Oppa!”

Dengan tak sabar Siwon langsung memeluk tubuh mungil Tiffany. Tiffany balas memeluknya dengan erat sekali. Ah, Siwon merasa kehangatan mengaliri tubuhnya. Inilah wanita yang selalu dipikirkannya. Wanita yang sangat dicintainya.

“Neomu bogoshipeo, yeobo.”

“Nado, Oppa.”

Tanpa rasa segan dengan Yunho yang masih berada di dekat mereka, Siwon mengecup bibir Tiffany dengan mesra, membuat semburat merah di pipi wanita cantik tersebut. Yunho hanya tersenyum tipis dan memalingkan wajah.

“Oppa,” Tiffany protes sambil menatap tak enak hati pada Yunho. Siwon mengerucutkan bibir seperti anak kecil.

“Waeyo? Shirro? Apa aku tak boleh mencium istriku sendiri? Aku kan sangat merindukanmu, yeobo.” Alasan Siwon.

“Oppa, perkenalkan, ini Yunho Oppa. Dia adalah teman masa kecilku. Dia telah sukarela mengantarku kesini,” Tiffany memperkenalkan mereka. “Dan Yunho Oppa, ini Choi Siwon, suamiku.”

Siwon mengulurkan tangan, bersikap seperti seorang gentlemen. Bagaimanapun juga, pria ini telah mengantarkan istriku dengan selamat.

“Choi Siwon imnida. Kamsahamnida telah mengantarkan Tiffany dengan selamat,” ucap Siwon seraya membungkukkan badan. Yunho balas membungkuk dan bersalaman dengan Siwon.

“Jung Yunho imnida. Gwenchana. aku senang melakukannya. Dia sudah seperti adikku sendiri, Siwon-ssi.”

Siwon mengangguk. “Ne. kamsahamnida.”

“Oppa, kalau begitu mampirlah! Kau pasti sangat lelah menyetir seharian. Aku akan membuatkan makanan untuk kalian berdua. Otte?”

Siwon sedikit tidak setuju dengan permintaan Tiffany. Bukan karena ia tidak membalas budi kepada Yunho-ssi. Tapi karena ia ingin bermesraan dengan istrinya ini. Aish, Tiffany. Kau tidak pengertian sekali.

 

Yunho dan Siwon duduk santai di ruang tamu, mengobrol dan berbincang-bincang sambil meminum kopi yang dihidangkan Tiffany. Sementara itu, Nyonya Choi alias Tiffany sedang sibuk memasak untuk makan malam di dapur.

“Jadi kau juga tinggal di Seoul?” tanya Siwon.

“Ani. Tidak seterusnya. Dulu aku diadopsi oleh keluarga Lee. Sekali-kali aku berkunjung ke rumah mereka. Tapi sekarang aku sedikit sibuk dengan pekerjaanku, jadi jarang mengunjunginya,” jawab Yunho. Siwon menyukai pribadi pria ini. Yunho sangat sopan dan bersahabat. Namun tetap saja, Siwon cemburu kalau Tiffany terlalu dekat dengan Yunho.

“Hmm, Yunho-ssi, apakah kau sudah mempunyai kekasih?” tanya Siwon iseng. Yunho tersenyum kaku.

“Mwo? Oppa sudah mempunyai kekasih?” terdengar suara sahutan. Itu Tiffany. Ia berjalan menghampiri para pria.

“Ani, aku belum punya, Fany-ah,” jawab Yunho lembut. Tiffany tampak terkikik.

“Oh begitu. Ya sudah, makan malam sudah siap. Kajja, kita makan!”

Siwon dan Yunho mengikuti Tiffany ke dapur. Mereka duduk dan terkagum melihat souges fried rice telah terhidang di atas meja. Aromanya begitu menggoda. Siwon melirik Tiffany dengan sengit ketika ia memilih mengambilkan makanan untuk Yunho terlebih dahulu. Karena kesal Siwon mengambil sendiri porsi untuknya dan mengabaikan tatapan heran Tiffany.

“Enak sekali, Fany-ah. Kau sangat pintar memasak,” puji Ynho. Tiffany tersipu malu.

“Kamsahamnida, Oppa.”

“Kau sangat beruntung memiliki istri seperti Tiffany, Siwon-ssi.”

Siwon hanya merespon dengan senyuman kecil dan kembali melanjutkan makannya. Bagi Siwon, makanan ini menjadi hambar karena rasa jengkelnya pada Tiffany. Aish!

Setelah mengantar Yunho ke depan pintu, Siwon langsung masuk ke ruang kerjanya. Ia tidak mempedulikan Tiffany yang terus menatapnya. Sudah jelas wanita itu ingin dipeluk, namun Siwon mencoba untuk tidak menyadari. Tiffany berdiri mematung di ambang pintu, memandangi suaminya yang fokus pada laptop di hadapannya.

“Oppa?” panggil Tiffany. Siwon pura-pura bersikap dingin. Padahal hatinya meleleh dengan mendengar suara lembut itu memanggilnya.

“Waeyo? Mianhae, Fany-ah. Aku sedang sibuk sekarang, nanti kita bicara lagi. Ne?”

Tiffany tampak kecewa. Tapi ia tetap tersenyum pada Siwon, walaupun Siwon tidak memandangnya.

“Arraso. Kalau begitu aku mandi dulu, Oppa. Oppa jangan terlalu lama di depan laptop.”

Tiffany pun pergi dan membiarkan pintu ruang kerja Siwon terbuka. Siwon menghela napas berat.

Siwon pabo! Kenapa aku kekanak-kanakan seperti ini? Tidak seharusnya aku cemberut dan kesal kepada Tiffany!Padahal  Aku sangat merindukannya. Aish, Siwon pabo ya!

Siwon menutup laptopnya. Ia berpikir kalau Tiffany memperlakukan Yunho seperti itu karena ia merasa hormat. Tapi tidak juga harus mengabaikan dirinya, apalagi sudah beberapa hari tidak bertemu. Tak dapat dipungkiri ternyata Siwon sedang cemburu. Hal seperti ini saja membuatnya uring-uringan. Ah, Siwon benar-benar childish!

Sementara itu Tiffany sudah selesai mandi. Cukup berendam 15 menit dengan air hangat membuat tubuhnya merasa nyaman. Matanya pun sudah mulai mengantuk. Dan saat memasuki kamar, ia tidak melihat Siwon. Tiffany duduk di tepi ranjang sambil mengoles kaki dan tangannya dengan lotion.

“Siwon Oppa kenapa ya? Dia tiba-tiba cemberut kepadaku. Apa dia tidak merindukanku? Aish, dia lebih memilih pekerjaannya dibandingkan aku,” gerutu Tiffany.

Setelah memakai piyamanya, Tiffany keluar kamar. Ia mencari Siwon di ruang kerjanya. Apa Oppa masih bekerja? tanya Tiffany dalam hati. Tiffany melongokkan kepalanya ke dalam ruangan. Keningnya mengernyit.

“Kemana dia?” tanya Tiffany pada diri sendiri.

“Oppa! Siwon Oppa!” panggil Tiffany.

Tak ada jawaban. Tiffany menutup pintu ruangan itu dan mencari Siwon di ruangan lain. di dapur Siwon juga tidak ada. Tiffany pun memutuskan untuk melihatnya di ruang tengah. Aih, itu dia! Siwon ternyata sedang berbaring sofa ruang tengah. Ia tertidur dengan tangan terlipat di perutnya. Tiffany tersenyum dan duduk di lantai. Ia memandangi wajah polos suaminya yang mungkin sedang bermimpi indah.

“Tampan sekali,” bisik Tiffany. Ia mengelus alis dan bulu mata Siwon, lalu terkikik pelan. “Neomu bogoshipeo, Oppa.”

Dengan gerakan lembut Tiffany mendekatkan wajahnya ke wajah Siwon. Ia mengecup bibir Siwon dengan lembut dan cukup lama. Rasa hangat merasuki tubuhnya. Tiffany tersenyum di bibir Siwon, lalu menjauhkan wajahnya. Ia rasa ciuman itu cukup untuk membuatnya tidur nyenyak malam ini.

Akan tetapi, saat Tiffany ingin berdiri, sebuah tangan menariknya cukup kuat sehingga membuat wanita itu jatuh ke sofa. Kemudian Tiffany terkejut melihat Siwon sudah berada di atas tubuhnya. Pria itu tersenyum evil.

“Aish, Oppa! mengagetkanku saja,” gerutu Tiffany.

“Siapa suruh kau menciumku hanya sebentar seperti itu? dan siapa suruh kau lebih memperhatikan orang lain selain diriku?” omel Siwon. Tiffany ingin menggeser posisi tubuhnya namun bobot Siwon terlalu berat.

“Apa maksudmu dengan lebih mementingkan orang lain? tentu saja tidak!” bantah Tiffany.

“Kau berbohong. Buktinya tadi kau selalu tersenyum-senyum kepada Yunho, dan kau mendahulukannya daripada diriku? Kau kira aku tak marah?” Siwon kini mencengkram pinggang Tiffany. Tiffany meringis dan menampar lengan Siwon.

“Yah, Oppa! Aku bersikap seperti itu karena dia adalah tamu kita. Dia kan telah jauh-jauh mengantarku kesini. Aku hanya bersikap sopan. Dan cemburumu terlalu berlebihan,” kini giliran Tiffany yang mengomel. Siwon gemas sekali melihat istrinya yang keras kepala. Dan menatap wajah itu dari jarak yang sangat dekat, membuat pikiran Siwon kacau.

“Aku tak cemburu,” sangkal Siwon. Tiffany menyipitkan mata dengan curiga. Sedetik kemudian ia tertawa. Siwon hanya cemberut.

“Oppa lucu sekali. Hahaha.”

“Yah! Tak ada yang lucu disini! Kenapa kau tertawa?”

Tiffany masih tertawa. Siwon memegangi wajahnya lalu segera membungkam wanita cantik itu dengan ciumannya. Tiffany meremas bahu Siwon karena kaget mendapatkan serangan mendadak seperti itu. Siwon menggigit bibir bawah Tiffany dengan bibirnya.

Terdengar Tiffany mengerang dan merespon ciuman Siwon. Tangannya bergerilya di punggung lebar sang suami, sementara Siwon sibuk melumat bibirnya. Mereka saling merindukan satu sama lain. Hal itu tidak terpungkiri. Siwon memperdalam ciumannya, membuat Tiffany sedikit susah bernapas.

“O-oppa. Changkamman,” desah Tiffany. Siwon mengangkat wajahnya dengan malas.

“Waeyo?”

“Disini tidak nyaman. Bagaimana kalau kita ke kamar?”

Siwon tersenyum evil dan mengelus rambut Tiffany dengan sayang. “Kau benar-benar merindukanku, kan?”

“Tentu saja, pabo!”

Sudah 3 minggu berlalu sejak kepulangannya dari Busan. Namun Tiffany belum mengunjungi keluarga Park. Mereka kerap kali menelpon dan mengirimkan pesan kepada Tiffany. Topiknya sudah bisa ditebak. Mereka hanya meminta uang, uang, dan uang.

Pagi itu Tiffany berniat berkunjung ke rumah keluarga Park. Bukan tanpa alasan. Ia ingin membongkar rahasia yang selama ini sudah diketahuinya. Tiffany tidak ingin balas dendam. Ia hanya ingin menyatakan mereka tidak mempunyai hak lagi atas dirinya.

Namun, Tiffany merasakan kondisi tubuhnya kurang sehat. Ia mual dan kepalanya pusing. Setelah sarapan tadi, Tiffany mual-mual dan Siwon tidak mengetahuinya. Tiffany hanya meminum obat maag dan teh hangat. Hanya pusing sedikit, tidak perlu memberitahu Siwon Oppa, pikirnya.

Ia kira kondisi seperti itu hanya sebentar. Tetapi Tiffany salah. Ia terus mual dan kepalanya kembali pusing. Ada apa ini? Tiffany mencuci mulutnya dan keluar dari toilet. Ia berdiri disana sekitar lima detik dan tak sengaja melihat tanggalan yang terpajang di dinding.

Tiffany mengamati kalender tersebut. Ternyata ia sudah 3 minggu terlambat datang bulan. Apa ini ada hubungannya dengan mual dan pusing? Karena penasaran, Tiffany memutuskan untuk ke dokter Kim. Siapa tahu dia hanya salah makan?

“Chukkae, Mrs. Choi. Anda hamil 3 minggu.”

Tiffany terpana selama beberapa detik. Pernyataan Dokter Kim membuat Tiffany membeku. Ia… hamil??

“Ha-hamil? Omo!” jerit Tiffany.

Ini luar biasa! Tiffany tiba-tiba merasakan airmata mengalir di pipinya. Ia sangat sangat sangat bahagia! Tangannya mengusap perut. Di dalam ini, ada sebuah kehidupan yang ia ciptakan bersama Siwon. Seorang anak. Bagian dari dirinya dengan Siwon!

“Selamat atas kehamilan anda. Apakah anda datang bersama suami, Nyonya?”

“Ha? Ani, aku datang sendiri. Aku akan memberitahunya nanti. Dia pasti sangat bahagia,” ujar Tiffany. Senyum tak hilang dari wajahnya.

“Tentu saja Tuan Siwon akan senang. Sampaikan salam saya padanya,” kata Dokter Kim ramah.

Tiffany keluar dari ruangan Dokter Kim dengan hati gembira. Ia mengeluarkan ponselnya, berniat memberitahu kabar gembira ini pada suaminya. Tiffany melihat arloji. Masih pukul 10 pagi, mungkin Siwon sedang tidak begitu sibuk. Lalu, Tiffany pun menelepon.

Yobosaeyo?”

“Ne, yeobo?”

“Hmm, Oppa. apakah kau ada waktu sebentar?”

“Wae, yeobo? Apa ada masalah di rumah?”

“Ani. Aku hanya ingin bertemu denganmu sebentar. Di kafe dekat kantormu, bisakah?”

Terdengar Siwon hanya berdehem, menandakan ia tidak fokus dengan pertanyaan Tiffany. Tiffany langsung tanggap, sepertinya Siwon sedang sibuk. Tapi ia perlu tahu berita baik ini!

“Apa tidak bisa di telepon saja? Lagipula belum waktunya makan siang. Pekerjaanku belum selesai, yeobo. Mianhae.”

“Ah.. ne, arraso. Kalau begitu nanti malam saja.”

“Ok, bye. Saranghae.”

-klik-

Siwon memutuskan sambungan sebelum Tiffany berbicara. Tiffany memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Wajahnya terlihat sedikit kecewa. Siwon memang sering begitu jika sedang bekerja.

Tiffany berjalan ke luar rumah sakit dan berdiri di halte. Ia ingin pulang dan beristirahat saja. Dan saat ia akan menyetop sebuah taksi, sebuah mobil Hyundai berhenti tepat di hadapannya. Tiffany mengernyit dan terkejut melihat siapa pengemudinya setelah kaca mobil itu diturunkan.

“Heechul Oppa?”

Ternyata itu Heechul. Ia turun dari mobil yang dibelinya dari uang Siwon dan menghampiri Tiffany.

“Yah! Kau benar-benar sombong sekali sekarang! Kenapa tak pernah menjawab permintaan kami?” bentak Heechul seketika. Tiffany kaget. Ia juga malu karena dibentak di depan umum seperti ini.

“Bisakah Oppa tidak membentakku? Aku bukan lagi seperti yang dulu, Oppa,” desis Tiffany. Heechul mendengus dan berkacak pinggang.

“Wah wah wah. Kau benar-benar angkuh. Tentu saja kau bukanlah Tiffany yang dulu. Kau sekarang telah menjadi Nyonya Choi yang kaya raya. Yah! Eomma dan Appa ada di rumah. Kebetulan aku menemukanmu disini. Ayo, ikut aku ke rumah!”

Tiffany mengelak saat Heechul hendak menarik tangannya. Entah kenapa, emosi Tiffany yang biasanya bisa ia control, sekarang mulai memanas. Mungkin ini pengaruh kehamilannya.

“Shirro? Kau tidak mau ikut? Atau kau mau aku paksa masuk ke dalam mobil?” ancam Heechul. Tiffany melemparkan tatapan tajam pada Oppa angkatnya itu.

“Aku bisa sendiri, terima kasih.”

“Hey, Eomma, Appa! Lihat siapa yang kubawa.”

Appa dan Eomma keluar dari kamar dan tampak senang melihat Tiffany bersama Heechul.

“Fany-ah. Akhirnya kau ingat juga kalau kau masih punya Eomma dan Appa. Kenapa kau sulit sekali dihubungi?” seru Eomma.

Tiffany tidak menjawab.

“Eh, Fany. Apa kau tuli? Eomma sedang bertanya kepadamu?!” bentak Appa. “Dasar kau anak yang tak tahu diuntung! Sudah susah payah kami membesarkanmu, dan apa sekarang balasanmu? Kau hanya bersenang-senang sendiri dengan kekayaan suamimu.”

Tiffany menggeram. Airmatanya sudah berlinang.

“Apa memang kalian mengharapkan balas budi dariku? Apa aku memang benar-benar anak yang tidak tahu terima kasih? Apa kalian menyesal telah membesarkanku selama 19 tahun ini? Coba kalian katakan, aku harus bagaimana?”

Appa, Eomma dan Heechul kaget mendengar perkataan Tiffany. Mereka memandangi Tiffany waspada.

“Terima kasih karena kalian telah mengasuhku selama ini. Terima kasih kalian telah memberikanku tempat tinggal yang layak. Terima kasih karena pendidikan yang telah kalian berikan. Tapi, kenapa kalian tidak memberitahuku, siapa diriku yang sebenarnya? Kenapa kalian mengadopsiku hanya untuk dimanfaatkan, bukannya kalian sayangi seperti anak kalian sendiri? Apa menurut kalian aku pantas mendapat perlakuan ini?

Setiap hari aku disuruh bekerja sambil sekolah. Setiap hari aku harus di rumah dan tidak boleh berteman. Setiap hari kalian menyalahkanku atas kesalahan yang dibuat Heechul Oppa. setelah aku dewasa kalian menjodohkanku dengan pria-pria yang senang melecehkan wanita. Kalian hanya berpikir untuk kesenangan kalian saja. Kenapa kalian tidak pernah mendengarkan pendapatku?”

Tiffany mengungkapkan perasaannya sambil terus menangis. Appa dan Eomma terdiam.

“Aku sangat menyayangi kalian. Aku menyayangi kalian seperti keluarga kandungku sendiri. Tapi aku tak pernah mendapat kasih sayang seorang Appa dan Eomma.”

Eomma terduduk. Ia menatap tajam kepada Tiffany. “Darimana kau tahu?”

Tiffany menghapus airmatanya. “Siwon pernah mendengar Heechul Oppa mengatakan kalau aku bukanlah anak kalian.”

“Aish, dasar Siwon bajingan! Dia tidak berhak mencampuri urusan keluarga kita!” teriak Heechul.

“Jangan salahkan Siwon, Oppa. aku sangat berterima kasih padanya karena telah membuka mataku,” kata Tiffany.

“Tiffany. Sekarang kau telah tahu semuanya. Jadi, tidak ada salahnya kau menyiapkan sesuatu untuk tanda terima kasihmu. Bagaimanapun juga, kami telah mengeluarkan banyak uang untuk menghidupimu,” tambah Appa. Tiffany menatap Appa tak percaya.

“Ini pemerasan,” ucap Tiffany tegas.

“Tanda terima kasih, Tiffany,” ralat Appa dengan tatapan licik.

Tiffany menggeleng. “Shirro!”

PLAK!

Appa dan Eomma terkejut melihat Heechul dengan mudahnya menampar Tiffany hingga wanita itu terjerembab ke sofa. Tiffany meringis merasakan sakit di perutnya. Tamparan Heechul membuat pipinya lebam. Tiffany kembali berdiri dan menantang Heechul. Ia pun tidak tahu dimana ia mendapatkan keberanian ini.

“Kalian tak lebih dari manusia tidak beradab,” desis Tiffany. Heechul mengangkat tangannya, hendak menampar Tiffany lagi. Namun, Appa dengan sigap menahan tangan Heechul.

“Heechul! Kau kira dengan menamparnya semua masalah akan selesai?!” bentak Appa. Tiffany melirik Eomma, yang masih duduk dengan ekspresi shock di wajahnya.

“Sepertinya kalian aka nada pembicaraan penting. Kalau begitu, Eomma, Appa, aku permisi.”

Tiffany tak menghiraukan panggilan Eomma nya dan berjalan ke luar rumah. Ia ingin cepat –cepat pergi dari sini. Sambil terus memegangi pipinya yang sakit, Tiffany berjalan di pinggir jalan. Ia akan ke halte terdekat untuk menunggu bis.

Lega rasanya sudah mengatakan semua itu kepada keluarga Park. Kelak, , mereka tidak akan meminta uang lagi kepadanya ataupun Siwon. Tiffany memegangi perutnya yang tadi sempat sakit dan bersiap-siap menyebrangi jalan untuk mencapai halte. Dan, tanpa diduga darimana datangnya, tiba-tiba sebuah mobil yang melaju kencang menyambar tubuh mungil Tiffany.

Tiffany terpental sejauh 5 meter dan orang-orang yang menyaksikan berteriak histeris. Tubuh Tiffany tidak bergerak sedikitpun. Hanya darah segar yang mengalir dari tubuh serta kepalanya.

Siwon berlari sekencang-kencangnya di lorong rumah sakit, disusul Yoona dan Sukkie di belakangnya. Sepuluh menit yang lalu Siwon mendapat telefon dari pihak rumah sakit bahwa istrinya mengalami kecelakaan serius di depan halte dekat Gangnam. Siwon tidak mempedulikan dirinya sendiri celaka dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sedangkan Yoona menumpang di mobil Sukkie.

“Dimana istri saya?” tanya Siwon di recepsionist. Gadis muda yang berdiri sebagai recepsionist itu hanya memandang bingung. Tentu saja ia tidak tahu siapa istri Siwon.

“Maksud kami adalah Choi Tiffany,” Yoona memperjelas pertanyaan Oppanya.

“Oh, Choi Tiffany. Ne. Pasien yang bernama Choi Tiffany sedang menjalani operasi di ruang ICU. Pasien baru masuk sekitar satu jam yang lalu dan operasi masih berlangsung. Ruangannya di lantai 2, Tuan dan Nyonya,” jelas si recepsionist.

“Kamsahamnida,” ucap Sukkie dan Yoona. Siwon langsung saja berlari ke tempat yang dimaksud dan Yoona serta Sukkie mengikutinya.

Kau benar-benar tidak becus, Siwon! Andai saja ia mengiyakan ajakan Tiffany, andai saja tadi ia tidak ketus kepada Tiffany, andai saja tadi ia tidak mengabaikan Tiffany.

Banyak penyesalan yang dirasakan Siwon saat ini. Ia masih teringat suara lembut Tiffany yang mengajaknya bertemu tadi pagi, tapi Siwon malah menolaknya. Siwon tidak malu lagi untuk menumpahkan air matanya.

Mereka sampai di lantai dua dan mencari ruangan ICU. Benar saja, lampu di atas pintu ruangan itu menyala merah, menandakan bahwa operasi sedang berlangsung. Di bangku di depan ruangan ICU, duduk seorang gadis mungil berambut coklat. Ia memandangi pengunjung yang baru datang tersebut.

“Oppa, tenanglah. Ne?” Yoona menenangkan sepupunya. Begitu pula dengan Sukkie.

“Bagaimana aku bisa tenang, Yoon? Sekarang Tiffany sedang berjuang di dalam sana. Ini semua salahku, Yoon. Aku tidak mengacuhkannya ketika ia mengajakku bertemu tadi pagi!” teriak Siwon. Wajahnya memerah karena panik.

Yoona mengerti dengan perasaan Siwon. Sukkie merangkul Yoona.

“Eh…annyeong.”

Mendengar suara lembut seseorang, Yoona dan Sukkie berbalik. Sedangkan Siwon masih berjalan mondar-mandir di depan ruangan.

“Annyeong,” balas Yoona seraya membungkuk.

“Mianhae, ini tas Nyonya Tiffany. Apakah kalian keluarganya?” kata si gadis berambut coklat. Ia memegang tas tangan milik Tiffany.

Mendengar itu Siwon pun berbalik dan menatap si gadis. Ia mengambil tas yang diulurkan gadis tersebut.

“Ne, kami keluarganya. Apakah kau yang mengantarkan Tiffany kesini, Nona?” tanya Yoona ramah.

“Ne. Kim Taeyeon imnida. Aku yang mengantarkan Tiffany-ssi ke rumah sakit. Karena tadi aku berada di halte dan melihat kejadiannya,” jawab Taeyeon dengan wajah sedih.

“K-kau melihatnya? Siapa yang menabrak istriku?” tanya Siwon frustasi.

“Aku tidak begitu melihat wajahnya. Yang jelas hanya rambutnya yang berwarna kuning terang. Ia langsung kabur setelah menabrak Tiffany-ssi. Tapi tadi aku lihat polisi sudah mengejarnya,” jelas Taeyeon.

Jantung Siwon berdegup liar. Tangannya mengepal erat. Kenapa si penabrak sialan itu lari dan tidak membantu istrinya? tapi, tiba-tiba Siwon menyadari sesuatu. Wajahnya langsung pucat pasi.

“Cha-changkaman. Rambut si penabrak berwarna kuning terang?” suara Siwon terdengar berat dan hati-hati. Kini Yoona dan Sukkie menatapnya.

“Ne,” jawab Taeyeon sambil mengangguk. Siwon meraba-raba kantong jasnya, mencari ponsel. Ia ingat ada sebuah foto di ponselnya yang diambil saat pernikahannya dengan Tiffany. Ia mencari-cari foto tersebut dan membukanya dengan tangan gemetar. Gemetar karena marah. Ia begitu murka membayangkan jika nanti tebakannya benar dengan orang yang dimaksud Taeyeon.

“A-apakah dia?” Siwon memperlihatkan sebuah foto. Foto ia bersama keluarga Park. Telunjuknya mengarah ke foto Heechul. Taeyeon menyipitkan mata dan mengingat-ingat. Lalu sedetik kemudian matanya melebar dan tangannya menutupi mulutnya.

“Omo! Benar, itu dia! Dia yang menabrak Tiffany-ssi. Dia mirip sekali dengan si pirang di foto anda. Mobilnya Hyundai hitam dan ia mengemudi sangat kencang,” kata Taeyeon.

Sukkie dan Yoona tak kalah kaget. Siwon merasakan tubuhnya bergetar hebat karena marah. Jadi Heechul yang menabrak Tiffany? Jelas sekali kalau hal itu adalah hal yang disengaja! Siwon terduduk di bangku. Tangannya mengepal begitu erat sehingga ia tidak merasakan darah yang mengalir disana.

“Siwon, aku akan ke kantor polisi untuk melaporkannya. Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Jika polisi tidak bisa menemukan Heechul, biar aku yang mencarinya. Tenanglah sobat!” ujar Sukkie di sampingnya.

Siwon mengangguk. “Gomawo, Sukkie. Aku mempercayakan hal ini kepadamu.”

Sukkie menepuk bahu Siwon. “Aku pergi dulu.”

“Aku ikut, Oppa!” ucap Yoona kepada Sukkie. Kemudian Yoona menghadap Siwon. “Oppa, aku akan membawa Taeyeon-ssi ke kantor polisi sebagai saksi. Tadi aku juga sudah menghubungi Ahjumma dan Ajusshi. Sebentar lagi mereka pasti datang.”

“Ne, Yoona. Gomawo.”

Taeyeon membungkuk kepada Siwon sebelum mengikuti Siwon. Siwon memanggilnya dan tersenyum penuh arti.

“Taeyeon-ssi, kamsahamnida. Kau benar-benar penolong kami. Kamsahamnida.”

“Ne, Siwon-ssi. Gwenchana.”

Kini hanya tinggal Siwon yang menunggu selesainya operasi. Ia menghapus airmatanya. Yang dipikirkannya sekarang hanyalah keadaan Tiffany. Ia tak habis pikir kenapa Heechul tega menabrak adik angkatnya. Apa ini ada hubungannya dengan rahasia yang telah diketahui Tiffany. Tapi hari ini Tiffany tidak berencana ke rumah keluarga Park. Kalaupun Tiffany berniat kesana, pasti ia akan memberitahu Siwon.

Atau, apakah tujuan Tiffany menghubunginya tadi adalah untuk meminta izinnya? Aish, Siwon semakin kesal dengan dirinya sendiri. Ia menarik-narik rambutnya dan menggeram. Ia benar-benar suami yang bodoh.

Tiffany, mianhae. Aku tak mau kehilanganmu. Jeongmal mianhae, yeobo.

Sekitar dua jam kemudian, dokter pun keluar dari ruang operasi. Siwon berdiri dan bergegas menghampiri sang dokter.

“Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?”

Dokter yang bernama Dokter Nam itu menoleh kepada Siwon. Kemudian tangannya terangkat untuk menepuk bahu pria tampan yang berdiri cemas menunggu jawabannya.

“Oh, Anda suaminya?” tanya Dokter Nam.

Siwon mengangguk gugup. “N-ne. Choi Siwon imnida.”

“Siwon-ssi, kami berhasil menolong istri anda. Untung saja ia cepat dibawa ke rumah sakit, kalau tidak ia akan kehilangan banyak darah. Tapi sekarang Tiffany sedang dalam keadaan sangat tidak stabil. Ia masih koma,” jelas Dokter Nam. Mendengar hal itu ada sedikit kelegaan di hati Siwon. Namun ia tak sepenuhnya mengerti, karena sepertinya masih ada kekhawatiran di wajah Dokter Nam.

“Tapi Siwon-ssi, ada sesuatu yang harus Anda ketahui,” tambah Dokter Nam. Siwon mengangguk ragu. Dari ekspresi wajah pria tua itu sepertinya hal yang akan diberitahunya adalah bukan kabar baik. Ya Tuhan, semoga saja tidak ada gangguan lain pada Tiffany!

“A-apa itu, Dokter?” Siwon akhirnya bisa mengeluarkan suara.

“Ternyata Tiffany sedang hamil. Usia kandungannya masih sangat muda yaitu 3 minggu. Dan Tiffany kehilangan calon bayinya. Maafkan kami,” ujar Dokter Nam menyesal.

Siwon membeku. Tiffany sedang hamil? Ya Tuhan, bagaimana bisa ia tidak mengetahuinya. Apa Tiffany juga tidak tahu? Siwon merasakan airmatanya kembali mengalir. Dokter Nam menepuk pundak Siwon dan pergi. Siwon masih berdiri terpaku, bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada Dokter Nam.

Siwon menelan ludah dengan susah payah. Ia memegang bangku di dekatnya lalu duduk. Siwon tertawa dalam tangisnya. Cobaan apa ini? Ia kehilangan calon anaknya dan hampir kehilangan istrinya! Andai saja Tiffany tidak kecelakaan, ia pasti akan mendapatkan kabar bahagia hari ini. Kabar tentang kehamilan istrinya.

Park Heechul, kau akan mendapatkan balasan yang setimpal atas semua ini. Aku pasti akan menyiksamu!batin Siwon berang.

Siwon masuk ke dalam ruangan Tiffany setelah disuruh menunggu beberapa saat setelah operasi selesai. Mr dan Mrs. Choi juga sudah datang. Siwon tidak sanggup melihat istrinya yang sedang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Siwon mendekati Tiffany, disusul oleh Appa dan Eomma. Eomma Siwon menangis melihat keadaan menantunya. Kepala Tiffany dibalut perban yang cukup tebal. Wajahnya dipenuhi luka gores dan lebam, tangan dan kakinya di gips, serta lehernya juga diberi penopang.

Tangan Siwon gemetar saat menggenggam tangan mungil Tiffany. Tangan itu hangat dan lembut. Siwon menangis. Ia takut dengan memegang Tiffany, ia bisa menghancurkan tubuh mungil itu karena rapuh. Ia takut menyakiti istrinya. Appa mengelus pundak Siwon, memberi kekuatan.

“Yeobo…, mianhae. M-mianhaeyo,” isak Siwon. Airmatanya berjatuhan di tangan Tiffany.

Siwon rela memberikan apa saja termasuk nyawanya untuk kesembuhan Tiffany. Karena melihat keadaan Tiffany saat ini membuat hatinya hampa. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain selalu berada di samping Tiffany sampai istrinya itu sadar dari koma.

 

Sudah 10 hari berlalu semenjak kecelakaan Tiffany, namun kondisi Tiffany masih belum stabil. Dokter Nam bilang peningkatan kondisi Tiffany hanya sedikit. Jadi Siwon terus berdoa siang malam dan membacakan injil kepada istrinya. Siwon tidak membiarkan suster membersihkan tubuh Tiffany. Ia ingin melakukannya sendiri. Sebab dengan begitulah ia bisa selalu menjaga wanita yang paling ia cintai.

Dan kabar baiknya adalah Sukkie sudah menjerat Heechul dan menyerahkannya kepada polisi. Kini pemuda itu sedang mendekam di penjara. Menurut penjelasan psikiater, Heechul memang mengalami gangguan kejiwaan yang sulit sekali mengontrol emosinya. Siwon lega mendengar hal itu. Padahal ia belum sempat bertatapan langsung dengan Heechul setelah kejadian ini. Sebenarnya Siwon ingin sekali menemui Heechul, namun Sukkie melarangnya. Karena bertemu dengan Heechul hanya akan membuat emosi Siwon juga memburuk.

“Oppa, lebih baik Oppa pulang dulu. Biar aku yang menjaga Unnie. Cobalah Oppa bercermin. Bersihkan jambang itu,” komentar Yoona. Siwon hanya bergumam sambil terus membersihkan tubuh Tiffany dengan air hangat.

Siwon memang keras kepala. Ia tidak memperhatikan kesehatan dirinya sendiri demi menjaga Tiffany. Yoona dan Sukkie juga sering menemani mereka di rumah sakit. Kadang mereka menginap di rumah sakit untuk menemani Siwon.

Terdengar ketukan di pintu kamar rawat Tiffany. Siwon dan Yoona saling pandang, dan akhirnya Yoona memutuskan untuk membuka pintu. Mungkin Sukkie. Tapi biasanya pria itu langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Pintupun terbuka dan Yoona terkejut melihat dua orang yang berdiri di hadapannya. Mereka adalah Mr dan Mrs. Park. Yoona mengenali mereka karena pernah bertemu saat pernikahan Siwon dan Tiffany. Yoona terdiam sebentar. Ia memperhatikan wajah kedua orang itu. Mr. park tampak menyesal dan mata istrinya sembab karena menangis.

“Nugu?” tanya Siwon dari dalam. Yoona melebarkan pintu agar Siwon dapat melihat siapa tamu mereka. Siwon terdiam di tempatnya melihat orang tua angkat Tiffany.

“Bo-bolehkah kami masuk?” terdengar suara Eomma Tiffany yang gemetar.

Siwon tak mempunyai banyak alasan untuk membenci mereka berdua. Bagaimanapun juga, mereka sudah membesarkan Tiffany. Siwon mengangguk lemah.

Yoona mempersilakan pasangan Park itu masuk. Tampak Eomma menangis lagi saat melihat keadaan Tiffany. Appa meletakkan sebuket bungan daisy di atas meja dan membungkuk pada Siwon.

“Fany-ah..” isak Eomma sambil memegang tangan Tiffany. Ia juga mengelus lembut wajah cantik anak angkatnya. “Fany-ah, maafkan Eomma. Eomma sangat berdosa kepadamu. Maafkan Eomma, nak! Huhuhu.”

Appa pun menangis. Ia sepertinya malu melihat langsung ke mata Siwon. Daritadi ia hanya menunduk sambil memegangi pundak istrinya.

“Siwon-ssi, kami benar-benar minta maaf. K-kami adalah orangtua yang sangat buruk bagi Tiffany. Maafkan kami atas kejadian ini. Maafkan kami,” ungkap Appa, masih menunduk. Bahunya turun naik karena menangis.

Siwon menghampiri Appa dan memegangi pundak yang bergetar itu. “Gwenchana, Appa. Gwenchana.”

Tangis Appa makin meledak dan ia bersujud di kaki Siwon. Kontan Siwon kaget. Begitu juga dengan Yoona yang melihatnya. Siwon buru-buru mengangkat tubuh Appa. Pria itu tidak hentinya mengucapkan kata maaf.

“A-appa. Sudahlah, Appa. Jangan seperti ini, ne?” bujuk Siwon. Appa memeluk Siwon erat. Siwon menepuk-nepuk punggung pria itu.

“Kamsahamnida, Siwon-ssi. Kami benar-benar malu dan merasa sangat bersalah. Seharusnya kami bisa mencegah Heechul saat itu.”

Siwon mengangguk paham. Ia sendiri tahu bagaimana sikap Heechul kalau sedang marah. Heechul akan bertindak sembarangan dan membahayakan keselamatan Tiffany. Heechul juga dengan mudahnya mencaci maki Tiffany dimana saja.

Eomma berdiri dan menyalami Siwon. Siwon memeluk wanita tersebut. Eomma tidak sanggup lagi berkata-kata. Sepertinya mereka benar-benar menyesal. Bagi Siwon yang lalu biarlah berlalu. Hanya saja batinnya belum tenang sebelum melihat Tiffany sadar.

Kemudian Appa dan Eomma bergantian meminta maaf kepada Tiffany dan menciumi tangan serta kening anak angkatnya itu. Siwon dan Yoona hanya dapat menyaksikan hal yang mengharukan itu. Yoona pun tak dapat menahan airmata harunya. Siwon mengelus rambut Tiffany sementara Appa dan Eomma nya masih menangis memegangi tangannya.

Dan pada saat itu Siwon bersumpah kalau ia melihat airmata mengalir dari mata indah Tiffany.

 

Sudah pukul 8 malam, tapi Siwon masih belum mengantuk. Ia sedang membacakan buku How to be A Good Wife and Loving Mother untuk Tiffany. Sesekali Siwon tersenyum membayangkan kenangan manisnya dengan istrinya itu. Siwon membacakan buku tersebut sambil satu tangannya menggenggam tangan Tiffany.

“Aku benar-benar senang saat melihat kau membaca buku ini, sayang. Itu menandakan kau mencintaiku,” ujar Siwon lalu tertawa lemah. “Apa aku terlalu merayu?”

Tiba-tiba Siwon merasakan tangan di genggamannya bergerak sedikit. Sampai-sampai Siwon menyangka kalau itu hanya perasaannya saja. Lalu untuk memastikan, Siwon mengamati tangan Tiffany tanpa berkedip. Jantungnya berdebar tak karuan.

“Hnng..”

Siwon melotot memandangi wajah istrinya. Mata Tiffany membuat gerakan-gerakan halus dan Siwon mendengar wanita itu bergumam.

“Ye-yeobo? Fany-ah?”

“O… opp.. oppa.”

Siwon merasakan matanya panas karena airmata. Ia memegangi wajah Tiffany dengan super hati-hati sebab luka gores Tiffany belum sembuh benar. Mata Tiffany setengah terbuka dan bergerak liar mencari sosok Siwon.

“Yeobo… aku disini. Omo, kau benar-benar sudah sadar, sayang? A-aku akan panggilkan dokter.”

 

 

Tiffany sudah sadar dari komanya. Kini Dokter menyatakan kalau keadaannya sudah mulai membaik. Siwon, Yoona dan yang lainnya sangat bahagia mendengar kabar ini. Mereka semua bersyukur atas kesembuhan Tiffany. Terlebih Siwon. Ia benar-benar seperti hidup kembali, setelah berhari-hari menjadi pria yang rapuh. Sekarang ia harus kuat demi Tiffany.

“Oppa, kenapa sekarang kau jelek sekali? Lihatlah jambangmu,” ledek Tiffany sambil mengelus dagu suaminya. Siwon tekekeh.

“Kau tidak suka ya? Baiklah, nanti akan kucukur. Atau kau mau mencukurkannya?” Siwon balas menggoda. Tiffany tetawa pelan. Tubuhnya masih kaku karena luka-luka.

“Oppa, mianhae.”

Siwon mengernyit. Ia mengelus lembut pipi Tiffany.

“Untuk apa, yeobo?”

Tiffany terdiam sebentar. “Karena aku tidak bisa menjaga anak kita.”

Siwon berdesis dan meletakkan jari telunjuknya di bibir Tiffany. “Ssst, jangan katakana itu. Kau tidak bersalah dan tidak perlu minta maaf. Aku yang bersalah padamu karena tidak bisa menjagamu. Mianhae, yeobo. Tapi yang penting sekarang, kau harus cepat pulih. Aku rela mengobati luka-lukamu. Aku rela menjadi tongkatmu untuk berjalan. Dan aku rela memberikan nyawaku untukmu.”

Tiffany merasakan airmatanya mengalir. Siwon mencium matanya untuk menghentikan tangisan Tiffany.

“Coba katakan mana yang sakit?” tanya Siwon seraya tersenyum.

“Pelipisku,” jawab Tiffany hanya untuk menggoda Siwon. Siwon mencium pelipis Tiffany.

“Hidungku, Oppa,” Tiffany merengek. Siwon pun mencium hidung bangir istrinya.

“Daguku.”

Siwon menyipitkan mata dan lantas menuruti permintaan istrinya. Tiffany mulai menggodanya karena ia tahu kalau dagu Tiffany tidak apa-apa. Siwon sengaja menggesek-gesekkan jambangnya ke dagu Tiffany, membuat wanita itu terkikik geli.

“Oppa, kau membuatku geli. Oppa!”

Siwon tertawa. “Kau yang menggodaku terlebih dahulu. Yah, yeobo?”

“Hmm?”

Siwon mendekati wajah Tiffany. “Bagaimana kalau kita merencanakan sesuatu setelah kau sembuh?”

Alis mata Tiffany bertaut. “Merencanakan apa?”

Siwon menciumnya singkat tapi lembut. “Keturunan Choi.”

Siwon tertawa melihat pipi Tiffany yang tiba-tiba memerah. Jelas sekali topic ini membuatnya tersipu malu. “Mmm, biar kupikirkan dulu.”

Siwon cemberut. “Kenapa harus dipikir-pikir dulu, yeobo?”

Tiffany hanya bisa tertawa melihatnya dan Siwon menciumnya. Ciuman lembut yang penuh cinta dan hasrat. Tiffany tidak akan berpikir tentang masalah yang satu itu. karena ia juga sangat menginginkannya.

“Saranghae, Fany-ah.”

“Saranghae, Oppa.”

 

 

10 tahun kemudian…

“Mommy!! Mommy!!”

Tiffany menoleh ke asal suara dan menghentikan aktifitasnya di dapur. Senyumnya mengembang saat melihat seorang anak laki-laki tampan berlari menghampiri.

“Wae, Minho-ah? Bukannya kau sedang bermain dengan Daddy dan Kibum Oppa?”

Anak laki-laki yang bernama Choi Minho itu mengangguk. Ia sangat lucu karena umurnya masih 5 tahun. Tangan mungilnya menarik-narik tangan Tiffany.

“Ne, Mommy. Tapi mereka bermain curang. Aku selalu kalah. Mommy, bantu aku,” rengek Minho.

“Arasso,” ucap Tiffany lalu membuka celemek di tubuhnya. Minho menarik tangan Tiffany sampai mereka masuk ke kamar anak laki-laki. Disana ada Siwon dan seorang anak laki-laki lainnya. Hanya saja anak itu lebih tua dari Minho.

“Daddy, lihat! Minho mengadu pada Mommy!” seru anak itu. tiffany menatap sadis pada suaminya. Ia berkacak pinggang.

“Yah, Daddy! Kenapa mencurangi Minho? Kibum-ah, kau juga nakal pada adikmu? Apa kalian bersekongkol?”

Minho memandangi Mommy nya dengan bangga lalu terkikik. Ia senang dibela Tiffany.

“No, I’m not cheating, Mommy! Daddy yang melakukannya. Ia menyembunyikan kartu Minho!” seru Kibum lalu menghampiri Tiffany. Kini hanya tinggal Siwon yang duduk di lantai kamar anak mereka. Ia dihakimi oleh seorang wanita dan dua orang anak kecil.

“Kibum-ah. Kenapa kau hanya menuduh Daddy?” Siwon cemberut seperti anak seusia Minho.

“Jangan pura-pura polos, Daddy!” gertak Tiffany, menggoda Siwon. Siwon memberikan senyuman termanisnya, bermaksud untuk membujuk Tiffany. Tiffany tak dapat berbuat apa-apa selain menahan senyum.

Melihat kedua orangtuanya seperti itu, Kibum menarik Minho keluar lalu menutup pintu kamar. Mereka tidak ingin mengganggu Daddy dan Mommy nya. Siwon bangkit lalu menghampiri Tiffany.

“Kau cantik sekali jika sedang memarahiku seperti itu, honey.”

“Jangan membujukku!”

“Kau benar-benar tidak bisa dibujuk ya? Bagaimana kalau dengan ini?”

Langsung saja Siwon melumat bibir Tiffany. Tiffany tersenyum lalu membalas ciuman suaminya. Ia mengalungkan tangan di leher Siwon.

“Honey?”

“Hmm?”

“Bagaimana dengan anak perempuan?”

Mendengar pertanyaan Siwon, Tiffany terkekeh. “Sayang, kita kan sedang menunggu hasil USG untuk bayi yang ada di dalam perutku ini.”

Siwon pura-pura berpikir kemudian tersenyum evil.

“Kalau begitu bagaimana kalau kita berusaha membuat anak kembar?” godanya dengan suara serak. Tiffany melotot dan berencana menginterupsi, namun Siwon kembali menciumnya. Ia pasrah saja saat Siwon menggendongnya.

Mereka hidup begitu bahagia di masa depan. Dengan cinta, keluarga besar, dan anak-anak yang sangat mereka cintai.

 

The end

105 thoughts on “[Re-Post] Love Story

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s