DON’T KNOW HOW TO LOVE Part 4 -Flashback Memories-

DKHTL (5) 

Don’t Know How to Love© Song Haneul
Publish by Sifany Island

oOoOo

 

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation] || Kim Myungsoo [Infinite] || Choi Soona [Oc] || Jessica Jung [Girl’s Generation] || Han Maru [Oc]

Genre

Romance || Hurt || Family

Length

Chaptered

Rating

 PG 17

Category

Fanfic

Summary

Someone who is unable to truly love one person has no right to love

 

WARNING :

  • TYPO !!!
  • Semuanya merupakan author POV
  • Part ini secara keseluruhan merupakan Flashback

 

Dont Know How to Love

Part 4 [Flashback Memories]

 

Tiffany terus-menerus menghembuskan nafas pelannya. Sambil menunggu tirai putih dihadapannya terbuka, kedua mata indah itu tak henti-hentinya melirik kearah ponsel yang tengah digenggamnya.

“Oennie..” Tiffany mengangkat wajahnya saat sebuah suara memanggilnya. Dan tersenyum manis kearah seorang wanita canitik yang berjalan kearahnya.

“Yeoppoda.” Pipi Soona bersemu merah saat Tiffany menggodanya dengan senyum jahilnya.

“Oennie, apa yang kau katakan? Tentu saja Oenni jauhlebih cantik. Oenni yang akan menikah bukan aku. Aku hanyalah pengiring pengantin.”

“Aigoo, uri Soona masih mengelak. Tentu saja kau juga cantik. Hanya dengan gaun yang sederhana ini, kau hampir menyamai Oenni yang merupakan pengantin wanitanya. Kekeke.”

Soona dan Tiffany tertawa bahagia. Kedua tangan Soona menarik Tiffany untuk duduk di sofa tempat Tiffany menunggunya keluar dari fitting room saat mencoba gaun putih yang ia gunakan ini. Sebelumnya Soona-lah yang menunggu Tiffany duduk disofa tersebut untuk melihat calon kakak iparnya itu mencoba gaun pengantin yang akan digunakannya dalam pernikahan Tiffany dengan kakaknya.

“Oeonni ayo kita foto. Terus kita kirim ke uri namja. Kajja!” Tiffany baru saja akan menyahut ucapan Soona, namun tubuhnya sudah ditarik oleh Soona untuk bersiap mengambil selca mereka.

“Hana… dul… set…”

 

Clik

 

“Wuahhh cantiknya…” Soona berteriak riang melihat hasil jepretannya. Tangannya bergerak lincah diatas ponsel touch screennya. Tiffany yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku Soona yang terlihat ceria hari ini.

“Oenni tidak ingin ambil selca untuk dikirim ke Oppa?”

Tiffany hanya menggelengkan kepalanya pelan.

“Wae?” tanya Soona heran.

“Sepertinya Oppa-mu sangat sibuk. Bahkan dia belum mengirim pesan apapun untuk Oennie hari ini.” Tiffany menghembuskan napasnya. Wajahnya merengut kesal. Ia ingin sekali melihat calon suaminya tersebut. Ingin laki-laki itu ada disampingnya, melihatnya mengenakan gaun pernikahan yang digunakan Tiffany saat ini.

“Oenni,” Soona meraih tangan Tiffany dan menggenggam tangan dingin Tiffany.

“Oppa sangat ingin menemani Oenni hari ini. Semalam dia uring-uringan karena tidak bisa menemani Oennie fitting baju pengantin kalian. Percayalah Oenni, Oppa tidak menginginkan hari ini terjadi.”

Tiffany terdiam. Bukan karena meragukan ucapan Soona hanya saja ia perlu menekan semua rindu yang ia pendam selama berhari-hari ini, karena tidak berjumpa dengan belahan jiwanya tersebut.

“Bunga cantik untuk wanita yang cantik.”

Baik Tiffany maupun Soona menolehkan kepala mereka kearah belakang tubuh Tiffany saat sebuket mawar pink ada dihadapan wajah Tiffany yang terulur dari arah belakangnya.

“Myungsoo-yah”

“Oppa.”

Tiffany langsung memeluk Myungsoo dalam posisinya yang masih terduduk disofa, membuatnya harus sedikit memutar tubuhnya memeluk laki-laki yang ada dibelakangnya tersebut. Sedangkan Soona berdiri dengan wajah yang cemberut.

Myungsoo tersenyum sambil mengelus rambut Tiffany yang masih tergerai indah dengan gaun pengantin yang melekat ditubuh mungilnya.

“Yeppo…” ucap Myungsoo lirih.

Tiffany melepaskan pelukannya, menatap Myungsoo dengan wajah yang berbinar. “Gomawo Myungsoo-yah.”

Myungsoo mengangguk. Dan melirik sekilas Soona yang masih terpaku dengan wajah cemberutnya.

“Oppa kenapa tidak membalas message-ku?” Tiffany menutup kupingnya karena mendengar teriakan kencang dari Soona yang memandang kesal kearah Myungsoo. Sedangkan laki-laki itu sendiri hanya memasang wajah tenang tanpa rasa bersalah.

Melihat itu. Tiffany sedikit menggeser tubuhnya dan menghirup aroma mawar pink yang dibawakan Myungsoo kepadanya.

“Nappeun namja.” Kata Soona dengan nada yang pelan. Kedua tangannya terkepal disamping tubuhnya.

“Itu pemberian dari Hyung, Noona.”

“Ye?” Tiffany terbelalak mendengar pernyataan dari Myungsoo.

Myungsoo tersenyum lembut, dan mengangguk. “Tadi ada seorang kurir didepan pintu butik. Katanya ,dia ingin mengantarkan bunga itu untuk calon pengantin yang didalam butik dari calon suaminya. Saat itu, aku fikir hanya Noona calon pengantin yang dimaksud.”

Tiffany tersenyum dengan perasaan terharu. Lalu memandangi bunga tersebut dengan penuh kasih, menghirup aroma tersebut dalam-dalam.

Soona mengernyit, seperti memikirkan sesuatu. Tapi melihat senyum manis dan tulus yang ditunjukkan Tiffany membuatnya ikut tersenyum lega.

“Ooo. Ya! Apa yang kau lakukan?” ucap Tiffany sedikit berteriak saat Myungsoo mengambil alih ponsel yang ada digenggamannya.

“Tentu saja memfotomu, aku tidak membawa kameraku. Jadi lebih baik gunakan handphone ini dan kirim langsung ke Hyung.”

 

Clikkk~

 

“Kenapa langsung memfotonya. Noona belum siap.”

“Gwenchana, seperti ini sudah cukup cantik. Kirimlah langsung.” Myungsoo memberikan ponselnya kepada Tiffany. Diterima wanita itu dengan senyum manis.

“Gomawo Myungsoo-yah. Kau memang berbakat menjadi seorang photographer.” Ucap Tiffany tulus.

“Ne, cheonmayo.”

Soona menatap Myungsoo tajam selama laki-laki itu berinteraksi dengan calon kakak iparnya. Selagi Tiffany sibuk mengetik pesan kepada orang yang dimaksud Myungsoo, Soona berjalan menuju Myungsoo dan berdiri disampingnya.

“Pembohong.” Soona berjinjit untuk menyamai tinggi tubuhnya seperti Myungsoo. Mengarahkan bibirnya tepat ditelinga laki-laki itu.

Soona tersenyum sinis saat melihat Myungsoo kehilangan fokusnya. Walau hanya dalam hitungan detik, lalu laki-laki itu bisa mengembalikan lagi fokusnya. Soona tau, bahwa apa yang ia katakana adalah yang sebenarnya.

“Mana handphone oppa?” tanya Soona tiba-tiba, mengulurkan telapak tangannya kepada Myungsoo.

“Tidak ada.”

“Ishh…”

“Ya, ya! Apa yang kau lakukan?” tangan Soona bergerak mencari ponsel Myungsoo disaku-saku celana Myungsoo.

“Kembalikan handphone ku!” desis Myungsoo.

“Shireo!” Soona membalikan tubuhnya membelakangi Myungsoo, jari-jari tangannya bergerak mengotak-atik ponsel Myungsoo.

Sedangkan Myungsoo sendiri berusaha menjangkau ponselnya tersebut dengan mengulurkan tangannya dari arah belakang tubuh Soona.

Posisi Soona dan Myungsoo seperti sedang melakukan back hug. Setidaknya itulah yang ada dipikiran Tiffany saat selesai mengirim pesan dan melihat keduanya.

Myungsoo menghentikan pergerakannya saat mendengar Tiffany terkikik ditempatnya. Dan tangannya terulur untuk mengelus tengkuknya dengan canggung dan menatap enggan kearah Tiffany yang mungkin sebentar lagi akan mengejeknya.

“Kalian benar-benar berpacaran?” tanya Tiffany dengan senyum geli melihat Myungsoo yang menghindari tatapannya dan Soona yang masih sibuk dengan ponsel Myungsoo.

“Sebentar lagi.”

“Tidak akan.”

Keduanya menjawab diwaktu yang bersamaan. Keduanya pun sama-sama mendelik kesal kemasing-masing wajah mereka.

“Kekeke. Kalian terlihat serasi.”

“Jinnja Oennie?” Tiffany mengangguk.

“Geure. Kami akan menjadi pasangan abadi seperti Oenni dan Oppa ku.” Myungsoo melepas paksa tangan Soona yang melingkar dilengannya. Membuat Soona kembali cemberut.

“Jangan seperti itu Myungsoo,” Soona menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Tiffany, namun terhenti ketika Tiffany melanjutkan ucapannya.

“Soona adikmu.”

Myungsoo tersenyum miring, dan mengusap lembut puncak kepala Soona. “Geure. Dia adikku.”

“Tiri!” Soona melepas usapan tangan Myungsoo dikepalanya. Mendelik kesal kearah Myungsoo yang tersenyum puas kearahnya.

“Oenni sebenarnya bela siapa?” tanya Soona kesal.

Sambil meletakkan bunganya diatas meja, Tiffany tersenyum lembut menjawab petanyaan Soona dengan bijak.

“Eonni hanya bicara tentang kenyataanya. Kalian serasi, kalian juga adik kakak,” Tiffany menganggat sebelah tangannya saat ia tau Soona akan mematahkan ucapannya.

“Tiri? Arraso, Oenni tau. Tapi hati tidak bisa dipaksakan. Biarkan Myungsoo merasakan perasaanmu tanpa mencampurkannya dengan urusan keluarga, Soona.”

“Kami bahkan tidak punya hubungan darah.” Guman Soona.

“Tapi Oemma-mu menikah dengan Appa-ku.”

“Na arra. Tapi aku bukan anak kandung Appa, itu tidak ada masalah bukan? Aku mencintaimu. Bukankah itu lebih penting?”

“Tapi aku tidak mencintaimu.” Tiffany dan Soona terhenyak saat Myungsoo berdesis tajam dan menatap kedua bola mata Soona lurus.

“Aku akan membuatmu mencintaiku. Seperti kau mencintai Fany Oennie.” Myungsoo membelalakan matanya. Sedangkan Tiffany terbatuk-batuk, dengan canggung ia memecahkan ketegangan diantara kedua kakak adik tersebut.

“Ekhm. Myungsoo kau tidak ingin mencoba jas mu?”

“Tidak perlu. Aku pergi duluan Noona.” Myungsoo menjawab tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Soona dan melangkah pergi keluar butik. Meninggalkan Tiffany yang menatap khawatir Myungsoo dan Soona yang hanya terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.

 

***

 

Myungsoo memakai helmnya dengan perasaan kesal. Baru saja ia akan melajukan motornya. Handphone disaku celananya bergetar lama, menandakan panggilan telepon ke nomer pribadinya tersebut. Tanpa melihat nama orang itu, Myungsoo sudah tahu siapa yang menghubungi. Nada ringhtone panggilan itu hanya digunakan untuk satu orang wanita yang menghubunginya. Wanita itu sendiri yang mensettingnya.

“Tolong jangan diganti wallpaper di handphone Oppa. Apa salah jika memasang foto adik sendiri? Bukankah aku terlihat cantik juga mengenakan gaun putih itu?” ucap Soona dengan nada bergetar. Lalu menutup sambungan teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Myungsoo.

Myungsoo menghela napas. Ditatapnya layar ponselnya yang terpasang wajah cantik Soona yang terbalut gaun putih. Disampingnya terdapat wajah Tiffany yang sengaja di crop Soona hingga hanya wajahnya lah yang terlihat dilayar tersebut.

 

***

 

“Aku pulang.” tidak ada jawaban apapun dari sautannya malam ini. Jarum jam sudah menunjuk pada angka 11 malam. Dengan langkah gontai Siwon berjalan menuju dapur rumahnya, wajahnya terlihat lelah. Siwon terkadang memegangi kepalanya yang sejak tadi berdenyut.

‘Apa Soona sudah tidur?’

Siwon menengguk air putih yang baru saja dituangkannya pada gelas kaca. Lalu menaruhnya kembali keatas meja dapur. Kakinya kembali melangkah menuju kamar adik perempuannya.

Dengan gerakan perlahan Siwon membuka pintu kamar Soona. Senyumnya mengembang, melihat Soona tertidur dengan kedua tangan yang seperti memeluk sesuatu. Bahkan gadis itu tidak menyelimuti tubuhnya dari hawa dingin malam ini.

Siwon memasuki kamar Soona, menggelengkan kepalanya melihat posisi tidur Soona yang berantakan. Dengan gerakan yang lembut, Siwon membenarkan posisi tidur Soona dan menyelimuti tubuh mungil Soona dengan selimut tebalnya berwarna ungu.

Tangan Siwon terulur mengambil bingkai foto yang sejak tadi dipeluk Soona selama ia tertidur dikasurnya. Dan laki-laki itu mendesah pelan. Ditatapnya kembali Soona tepat dimatanya yang terlihat sembab. Lalu memandangi kembali bingkai ditangannya. Didalamnya terdapat foto Myungsoo, adiknya dan bisa dikatakan adalah kakak Soona. Orang yang dicintai gadis itu.

Siwon meletakkan bingkai tersebut diatas meja nakas milik Soona. Lalu membelai lembut rambut coklat adiknya tersebut.

“Bagaimana mungkin kau begitu menyukai Myungsoo?”

“Dia kakakmu.” Siwon memandang kelam Soona yang tertidur lelap, karena kelelahan menangisi Myungsoo sepulangnya ia dari butik bersama Tiffany.

“Apa reaksi Oemma dan AppaKim, jika mereka tahu? Oppa tidak ingin kau lebih tersakiti nantinya.” Guman Siwon lirih. Tidak ingin mengusik tidur lelap Soona.

Sebelum meninggalkan ruangan tersebut, Siwon mengecup dahi Soona. Dan setelahnya melangkah keluar ruangan tersebut. Saat ia menutup pintu kamar Soona, matanya teralih tepat pada pintu sebelah kamar Soona. Siwon memandang ragu kamar tersebut. Namun ia tetap melangkah menuju kamar itu. Tepat saat ia akan membuka pintu kamar tersebut, sebuah suara mengintrupsi gerakan tangannya.         

“Apa yang Hyung lakukan?”

Siwon menoleh, mendapati Myungsoo yang terlihat berantakan. Ada luka kecil dipelipisnya, menimbulkan darah merah segar menghiasi dahinya tersebut.

Myungsoo mengacuhkan tatapan Siwon. Dan memasuki kamarnya dengan langkah sempoyongan. Siwon mencium bau alcohol dari tubuh Myungsoo. Dan saat itulah Siwon mendengus kesal.

“Kau minum lagi? Bertengkar lagi?”

Myungsoo hanya menghempaskan tubuhnya diatas kasurnya. Siwon lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Kedua adiknya membuat laki-laki bertubuh tegap tersebut tak habis pikir dengan tingkah mereka masing-masing. Siwon berjalan menghampirinya, duduk diatas ranjang itu memperhatikan wajah tampan adiknya yang penuh lebam.

Siwon meringis membayangkan Myungsoo yang dipukuli sampai babak belur seperti itu.

“Myungie,”

“Jangan panggil aku seperti itu!”

Siwon terkekeh. Ia tahu Myungsoo paling benci saat ia memanggil nama kecil Myungsoo yang satu itu. Namun terkadang, mulutnya tak bisa berkompromi untuk memanggil Myungsoo dengan panggilan kesayangannya itu.

“Arra. Tsk, Ngomong-ngomong, gomowo Myung.”

“Hmmm.”

“Seharusnya kau tidak perlu mengatasnamakan bunga yang kau beli atas nama Hyung.”

Myungsoo terdiam tidak membalas perkataan Siwon, matanya terpejam. Sedangkan Siwon hanya menghela napas pendek.

“Hyung tahu bunga itu-“

“Tidak akan mengubah apapun walau noona mengetahui yang sebenarnya.”

“Geundae-“

“Luangkanlah waktu untuknya. Noona begitu merindukanmu.”

“Bisakah kau tidak memotong ucapan Hyung?” kata Siwon kesal karena Myungsoo selalu memotong ucapannya.

Myungsoo memiringkan kepalanya berlawanan arah dari hadapan Siwon.

“Dengarkan hyung. Sekali saja biarkan hyung untuk bicara.” Siwon mengambil nafas panjang. Lalu bersiap untuk mengatakan sesuatu yang ia simpan baik-baik selama ini.

“Hyung tahu bagaimana perasaanmu. Hyung minta maaf atas semua itu. Tapi Hyung juga tidak bisa menyerahkannya begitu saja. Dia begitu berarti bagi Hyung.”

Siwon terdiam kembali, menimbang-nimbang apa ia harus melanjutkan ucapannya atau tidak? Namun tekadnya sudah bulat, 2 minggu lagi ia akan menikah dengan Tiffany. Siwon tidak ingin ada perasaan-perasaan seperti ini dihari yang sakral nanti.

“Tiffany selalu menceritakanmu setiap kali bersama Hyung. Jujur saja, Hyung cemburu setiap kali dia menceritakanmu. Senyumnya tak akan pernah lepas dari wajah cantiknya. Hyung tahu, tidak sepantas Hyung merasakan iri pada mu. Tapi, Hyung juga tidak bisa menutupi itu. Tiffany selalu marah, setiap kali Hyung mengatakan untuk berhenti menyebut namamu walau hanya sekali saat bersama Hyung. Tsk, bukankah itu kenak-kanakan?”

“Hyung mencintainya, walau Hyung tahu kau lebih dulu memiliki perasaan itu.” Kali ini Myungsoo membuka kedua matanya. Tatapannya kosong, Myungsoo terus mendengarkan dengan baik keluh kesah kakaknya tersebut.

Sampai sebuah perkataan Siwon yang tak bisa diterima Myungsoo membuatnya bangkit dan mencengkram kerah kemeja Siwon dengan tatapan yang marah.

“Seandainya Hyung bisa, Hyung akan menyerahkan Tiffany kepadamu. Karena hanya kau yang bisa Hyung percaya. Hyung akan mengorbankannya jika kau memintanya. “

Dengan kedua mata yang menatap tajam kearah kedua mata milik Siwon, Myungsoo mengerang menahan amarahnya yang memuncak. “Tiffany Noona sangat mencintaimu. Seribu namaku yang disebut olehnya tidak sebanding dengan satu cinta yang dimilikinya untukmu Hyung. Tolong, jangan memberiku harapan yang bahkan diriku sendiri tidak bisa melakukannya.”

Myungsoo melepas cengkraman tangannya dan menghela napas panjang, sedangkan Siwon menatap penuh penyesalan pada Myungsoo. Setelah itu Myungsso mengatakan sesuatu yang membuat Siwon terdiam tak berkutik.    

Untuk pertama kalinya, seorang Myungsoo yang dikenal Siwon tertutup dan tak banya bicara. Mengeluarkan semua kata-katanya dengan emosi yang tenang. Dan untuk pertama kali pula Siwon tahu apa yang selama ini dirasakan oleh adiknya tersebut.

“Fakta aku mencintainya, itu benar. Keinginan terbesarku adalah selalu bersamanya, ingin selalu melindunginya. Tapi tidak untuk memilikinya. Karena aku tahu, bukan aku yang diinginkannya. Aku mengenalnya sejak kami masih kecil, sejak hari pertama Noona menginjakan kakinya kedalam panti asuhan. Membuatku cukup untuk memahaminya hingga detik ini. Dan semenjak itu pula, aku menemukan caraku untuk hidup kembali.”

“Kematian Oemma, terlalu membekas dalam benakku. Tidak sedetikpun aku bisa melupakannya, bahkan hingga detik ini. Tapi semenjak kehadiran Noona, setidaknya aku memiliki cahaya untuk menerangi jalanku. Memberitahu apa yang harus aku lakukan. Aku menjadikannya sosok Oemma yang selalu menjadi tempat aku mendengar nasihatnya. Menjadikannya seorang Noona yang melindungiku dari hujatan orang-orang tentang Appa saat itu. Dan wanita yang kucintai saat dia tersenyum manis padaku.”

Myungsoo menoleh memandang Siwon tajam, saat ia sadari bahwa sejak tadi Siwon menatapnya penuh perhatian mendengarkan dirinya berbicara.

“Hyung memiliki Oemma, memiliki Soona. Ada sosok perempuan dihidup Hyung. Dan saat ini Hyung akan memiliki seorang calon istri yang sempurna seperti Tiffany Noona. Apa aku tidak boleh ikut merasakannya? Aku tidak akan mengambilnya. Tapi biarkan aku ikut melindunginya.”

Saat itu Siwon tahu ia telah salah. Melukai Myungsoo yang jelas tak pernah menyakitinya, bahkan Myungsoo selalu membuat dirinya benar dihadapan Tiffany. Siwon merutuki dirinya yang tidak bisa mengalahkan keegoisannya untuk sekedar membagi perhatian Tiffany. Namun entah mengapa Siwon merasa takut kehilangan Tiffany yang terus-terusan bersandar pada Myungsoo.

Namun Siwon jelas tidak bermaksud memisahkan ikatan Tiffany dan Myungsoo. Ia begitu mempercayai mereka berdua.

“Mianhae, maksud Hyung-”

“Apa Hyung benar-benar menganggapku adik? Benarkah aku ada dibagian keluarga ini?”

“Apa yang kau katakan Myungsoo?”

“Appa jelas lebih memilihmu dibandingkan aku anak kandungnya. Appa bahkan lebih bangga padamu dibandingkan aku.”

“Myungsoo.” Dari nada suara Siwon, jelas laki-laki itu tak terima dengan pemikiran Myungsoo. Tapi sepertinya Myungsoo tidak memperdulikannya, terbukti dengan Myungsoo yang terus melanjutkan omongannya.

“Sejak aku lahir hingga aku menyaksikan sendiri bagaimana Oemma meninggal, aku belum pernah melihat Appa bahagia atau menagis karena kita berdua. Tapi jelas, untuk pertama kalinya, Appa tersenyum lebar saat membawa keluarga Hyung, mengenalkan kalian sebagai bagian dari keluarga Kim. Saat itu aku terluka, untuk pertama kalinya, aku menangis di pusara Oemma. Yang bahkan tidak aku lakukan saat Oemma meninggal.”

“Aku membenci kalian.” Siwon membelalakan mata saat Myungsoo mengatakan bahwa ia membenci Siwon dan keluarganya, menatap Myungsoo tak percaya.

“Myungsoo-“

“Kenapa kalian begitu baik padaku? Kenapa kalian memperlakukan ku dengan baik? Kenapa kalian selalu membujukku untuk pulang saat aku berada di panti saat itu. Tidakkah kalian tahu bahwa perhatian kalian itu, membuat rasa sayangku tumbuh,”

“Tsk. Menggelikan.” Myungsoo kembali menidurkan tubuhnya diatas kasurnya dengan mata terpajam. Berusaha keras untuk terlelap. Siwon memegangi kepalanya yang kembali berdenyut. Memijat pelan dahinya.

Berfikir, apa yang harus ia katakan. Apa yang harus ia lakukan untuk meyakinkan Myungsoo. Bahwa adiknya tersebut begitu berarti baginya, Soona maupun ibunya sendiri. Sampai sebuah kalimat panjang terucap tanpa dibuat-buat oleh Siwon.

“Hyung begitu bahagia saat tahu Oemma akan menikah kembali. Saat itu Hyung berfikir, ahhh~ akhirnya Oemma bisa terlepas dari bajingan itu. Appa-mu, walau tidak bisa dibilang laki-laki yang baik, setidaknya dia jauh lebih baik dibandingkan AppaHyung.”

“Dia kerap kali memukuli Oemma, bahkan Soona. Terkadang dia berani memukul Hyung. Masa-masa itu adalah masa-masa tersulit kami, walau sudah bercerai Appa tidak membiarkan Oemma lepas begitu saja. Dia masih tetap meminta uang Oemma untuk berjudi dan minum-minuman keras. Hyung kerap berkelahi dengan Appa, hingga membuat Oemma histeris ketakutan. Soona bahkan menyembunyikan tubuh kecilnya didalam lemari setiap kali pertengkar dirumah terdengar dikupingnya.”

Siwon menghela nafas, masa-masa itu membuatnya menjadi geram dan ingin memukul apapun disekitarnya, namun ia berusaha mengontrol emosinya untuk saat ini. Karena ia tahu semua itu sudah menjadi kenangan yang akan ia simpan dalam-dalam direlung hatinya. “Kedatangan Appa-mu dalam kehidupan kami. Membuat Hyung merasa terlindungi. Saat itu bukan diri sendiri yang Hyung pikirkan. Tapi senyum bahagia Oemma dan Soona setiap kali Appa Kim berkunjung kerumah, membuat Hyung bisa bernapas lega. Itulah yang menjadi alasan Hyung mengizinkan Oemma menikah dengan beliau.”

“Dan yang membuat Hyung bahagia, saat ternyata Appa Kim memiliki anak laki-laki yang usianya 3 tahun diatas Soona. Hyung berpikir, akan menyenangkan jika memiliki adik laki-laki yang bisa Hyung ajak bermain. Soona pun begitu bahagia karena akan memiliki satu Oppa lagi. Tapi kau menyambutkan kami dengan tatapan dinginmu. Sikap acuhmu, segala hal yang kau tunjukan kepada kami. Membuat Hyung berpikir apakah kau tidak menyukai kami, karena menjadi saudaramu? Menjadi anak dari Appa-mu. Pada akhirnya Hyung memutuskan untuk tetap memakai marga Choi. Karena Hyung masih ingin menghargaimu, sebagai anak dikeluarga ini.”

“Bertemu denganmu dan Appa Kim merupakan kesempurnaan yang tidak pernah Hyung pikirkan. Appa memberikan eomma dan Soona kebahagiaan. Walau Hyung akhirnya menjadi robot yang ditugaskan untuk mengurus perusahaan keluargamu seorang diri. Tapi semua itu terbayar dengan kehadiran Tiffany dalam hidup Hyung. Dan tidak bisa dielakkan, karena kaulah. Hyung bisa mengenal sosoknya.”

“Gomawo.” Siwon menutupnya dengan senyum tulus, berbanding terbalik dengan Myungsoo yang tetap terdiam.

“Myungsoo, hyung begitu menyayangimu, menganggapmu seperti adik kandung sendiri. Jadi Hyung mohon jangan berkata seperti itu lagi. Maaf jika Hyung bersikap seperti tadi. Besok dan selanjutnya tidak akan seperti itu lagi. Kau berhak untuk melindungi Tiffany, dan Hyung juga tidak akan menyuruhmu untuk berhenti mencintai Tiffany. Itu hak mu.”

Setelah diam beberapa saat menunggu balasan Myungsoo, tapi Siwon akhirnya menyerah. Beranjak dari tempat tidur Myungsoo, berniat untuk meninggalkan ruangan itu namun terhenti oleh perkataan Myungsoo yang ternyata masih terjaga.

“Aku akan terus melindungi Noona, bukan untuk ku bukan untuk siapapun. Aku akan melindunginya untukmu, sebagai tanda terima kasihku karena harus menggantikan posisiku diperusahaan. Membiarkan ku memilih kebahagianku yang tidak mengiginkan posisi yang Hyung miliki saat ini.”

“Tapi aku mohon, tolong perlakukan Noona dengan baik. Karena seseorang yang tidak benar-benar mampu mencintai seseorang, tidak memiliki hak untuk mencintai. Dan jika saat itu Hyung melakukannya, aku tidak segan-segan menarik Noona dari kehidupan Hyung.”

Siwon tersenyum, sepasang mata teduhnya memperhatikan bagaimana Myungsoo membalikkan tubuhnya. Kembali membelakanginya.

“Aku tidak akan pernah melakukan itu. Aku akan mencintai dan memperlakukannya dengan baik. Gomawo. Kita akan sama-sama melindunginya. Tapi, bisakah kau juga melindungi uri Soona?”

Untuk pertanyaan ini, Siwon tidak menunggu jawaban Myungsoo. Kakinya langsung melangkah keluar ruangan itu, tanpa benar-benar menoleh untuk melihat reaksi adiknya tersebut.

Tanpa disadari Siwon, lagi-lagi Myungsoo membuka matanya. Merenungi ucapan Siwon.

 

***

 

“Jadi kita tidak bisa bertemu juga hari ini?” tanya Tiffany sambil berjalan menuju tempatnya bekerja disebuat cafe yang menyediakan berbagai macam kopi.

“….”

“Arraseo. Gwenchana.” Walau begitu Tiffany tidak bisa menyembunyikan kesedihannya saat mendengar kabar bahwa lagi-lagi calon suaminya tak bisa menemuinya. Namun ia berusaha menerima dan memahami akan kesibukan laki-laki itu.

“….”

“Nde Oppa, annyeong.”

 

Tuutttttt

 

“Huft,” Tiffany memandang sedih ponselnya yang baru saja menerima panggilan dari Siwon. Wanita itu menatap sendu foto kekasihnya yang terpasang diwallpaper ponselnya.

Jari-jari lentiknya bergerak memencet kombinasi angka yang mengarah pada nomer telepon seseorang yang begitu dekatdengannya. Myungsoo.

 

“Nomer yang anda tuju….”

 

 

“Mwoooo?” Tiffany terkejut. Untuk pertama kalinya, Kim Myungsoo tidak mengangkat panggilannya. Biasanya laki-laki itu akan langsung menerimanya dan mendengar ocehan Tiffany tentang apapun yang dialami wanita itu.

Dicobanya sekali lagi untuk menghubungi laki-laki itu. Dan Myungsoo tidak mengangkat teleponnya lagi. Membuat Tiffany mencemaskan keadaan laki-laki itu.

Selama perjalanannya menuju cafe tempatnya bekerja, Tiffany terus menghubungi Myungsoo. Tanpa menyadari, seseorang laki-laki berdiri tak jauh dibelakanngnya. Tersenyum geli melihat tingkah Tiffany yang mencemaskan laki-laki yang sulit dihubunginya tersebut.

Sambil terus mengikuti langkah kecil wanita didepannya. Laki-laki yang mengenakan setelan jas putih dengan kacamata hitam yang berteger manis menutupi matanya, terus menghirup mawar pink yang dibawanya. Tersenyum manis membayangkan ekspresi wanita itu, ketika mengetahui keberadaannya tepat dihadapan wanita bermata indah tersebut.

 

***

 

“Dimana sih sebenarnya Myungsoo? Kenapa tidak mengangkat teleponnya. Awas saja kalau bertemu nanti.”

Tiffany terus saja menggerutu sambil siap-siap menggantikan pakaiannya dengan pakaian kerja yang dimiliki cafe tersebut. Tiffany benar-benar bad mood karena tidak bisa melampiaskan kekesalannya dengan bercerita pada Myungsoo.

Tiffany terbiasa membaginya dengan laki-laki itu. Ia tidak akan bisa jika harus memendam perasaannya sendiri. Dibandingkan harus mengatakannya kepada Siwon, Tiffany lebih nyaman jika bercerita dengan Myungsoo yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Karena jika ia menceritakan pada Siwon, ia akan sangat malu. Karena semua keluh kesahnya selalu bersangkutan dengan laki-laki itu.

“Benar-benar menyebalkan. Hari apa sih ini, sampai aku benar-benar merasa sendiri seperti ini. Myungsooo, mati kau.”


Brakk~

 

Tiffany menutup pintu lokernya dengan keras. Menimbulkan bunyi yang bisa saja mengagetkan siapapun yang mendengarnya jika berada dilorong khusus tempat loker-loker para pekerja.

“Auchh.” Tiffany meringis saat merasakan sakit dikeningnya, tatkala ia menempelkan kepalanya pada pintu lokernya dengan keras, lalu memijat-mijat keningnya yang nyeri. Tiba-tiba saja ia kehilangan semangatnya untuk melakukan apapun, bahkan Tiffany merasakan bahwa airmatanya akan mengalir sebentar lagi. Namun ia masih berusaha untuk menahannya sekuat mungkin.

Tiffany mengatur pernapasannya. Mencoba untuk menetralisir keadaannya tersebut. Ketika ia merasa lebih rileks, kepalanya lagi-lagi ditempelkan pada pintu lokernya.

“Boghosippo Oppa.” Gumannya lirih.

“Nado.”

 

Cup~

 

Tiffany membelalakan matanya saat ia merasakan seseorang mencium sudut bibirnya. Bukan hanya itu, namun suara yang begitu familiar membuatnya harus meyakinkan dirinya bahwa laki-laki itu adalah.

 

Cup~

 

Choi Siwon. Kekasihnya. Calon suaminya. Laki-laki yang akan menikahinya dalam kurung waktu kurang dari 2 minggu.

Tepat saat Tiffany menolehkan wajahnya. Siwon menciumnya kembali tepat di atas bibirnya. Melumatnya lembut. Mengunci pergerakan tubuh Tiffany yang membelakangi tubuh Siwon. Menatap mata Siwon yang tertutup ketika menciumnya, dengan mengerjap-erjapkan kedua matanya.

Tak lama Tiffany memejamkan kedua matanya ketika Siwon memperdalam ciuman meraka. Menyalurkan rasa rindu yang meluap diantara keduanya. Lalu dengan hati-hati, Siwon memundurkan langkahnya, menabrakan bahunya yang lebar dan tegap pada dinding yang berada tepat dibelakangnya. Tangan kiri siwon memeluk pinggang Tiffany dari belakang. Sedangkan tangan kanannya yang masih memegang sebuket bunga, ia biarkan berada tepat disamping tubuh keduanya.

Lidah siwon bergerak dengan liar didalam mulut Tiffany dan disambut dengan baik oleh wanita itu. Bibir Siwon menyesap lembut bibir bawah Tiffany lalu meraup keseluruhan bibir Tiffany. Sampai akhirnya Tiffany melepas ciumannya, karena merasakan persediaan oksigennya yang mulai menipis. Tiffany tentu tidak mau mati konyol, hanya karena berciuman dengan laki-laki yang akan menikah dengannya tersebut.

Napas keduanya terengah-engah, namun Siwon ternyum geli saat melihat wajah Tiffany yang memerah karena kehabisan napas. Tiffany menyandarkan kepalanya pada dada bidang Siwon, menikmati irama detak jantung Siwon yang berdenyut dengan cepat. Dengan sangat lembut Siwon meletakkan dagunya diatas bahu Tiffany, mengecup kembali pipi Tiffany yang masih merona merah.

“Aku sangat merindukanmu Oppa.” Ucapnya lirih.

“Aku juga begitu merindukanmu, chagi. Maaf karena telah mengecewakanmu, saranghae.” Siwon menyerahan buket mawar pink yang ia bawakan untuk Tiffany. Bunga kesukaan wanita itu.

“Kekeke~ aigoo, uri Siwon begitu romantis hari ini.” Tiffany menerima bunga tersebut dengan senang hati.

“Aku memang romantis.” Ucap Siwon dengan nada tak mau kalah dengan Tiffany.

“Jinjja?”

“Tentu saja.” Siwon membalikkan tubuh Tiffany agar menghadap kearahnya.

 

Cup~

 

“Ya, Oppa! kenapa kau terus menciumku?”

“Aku menyukai manisnya bibirmu.”

“Tsk, gombal.”

“Chagi, kenapa kau tidak pernah mempercayaiku?”

“Karena aku ditelantarkan selama hampir seminggu ini.” Tiffany merajuk dengan wajah yang kesal.

“Apa yang kau katakan, aku juga begitu tersiksa karena tidak bisa melihatmu.”

Tiffany membuang muka, tersenyum kecil karena berhasil menggoda Siwon. Namun Siwon merengkuh wajah cantik Tiffany untuk menatapnya.

“Aku benar-benar merindukanmu. Percayalah padaku.”

“Aku percaya Oppa, aku hanya menggodamu. Sungguh.” Tiffany tersenyum manis dan menghambur kedalam pelukan Siwon.

Sedangkan Siwon sendiri merasakan sesak yang ia rasakan selama berhari-hari hilang begitu saja ketika memeluk tubuh Tiffany. Siwon menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Tiffany, menghirup aroma vanilla yang menjadi aroma favorit nya saat ini. Aroma yang hanya dimiliki Tiffany. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Siwon. Walau ia tahu, diluar sana mungkin ada banyak wanita yang menggunakan aroma ini untuk parfume mereka.

Tangan Tiffany mengelus lembut rambut Siwon yang mulai memanjang. Membuat Tiffany sadar betapa sibuknya Siwon, hingga ia bahkan tak mengurusi dirinya sendiri. Tiffany begitu menyesal karena sempat merasa kesal kepada Siwon yang tak bisa sering-sering untuk menemuinya.

“Op-pa” Tiifany merasakan bulu kuduknya meremang, saat Siwon menciumi lehernya lalu merambat naik keatas dan mengecup telinganya pelan. Menatap Tiffany tepat dikedua matanya.

Apa yang kau lakukan, aku ingin terus menciumimu. Apa kau tau, ini membuatku hampir gila.”

 

Cup~

 

Tifany mengerjapkan matanya, masih terfokus pada ucapan Siwon yang begitu lirih ditelinganya.

“Aku terus membayangimu. Tersenyum manis padaku, memelukku, mengusap wajahku. Hingga aku tak tahan, aku membayangkan menciummu hingga kita berdua mati kehabisan oksigen. Apa aku benar-benar gila? Bagaimana mungkin seorang Choi Siwon bertekuk lutut pada seorang wanita hingga seperti ini. Kau harus bertanggung jawab chagi!”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Tetap bersamaku. Apapun yang terjadi, tolong tetap mencintaiku. Karena aku akan selalu bersamamu, melindungimu. Mencintaimu.”

Tiffany mengangguk denga rasa haru yang membucah jiwanya. Lalu keduanya kembali berpelukan. Tiffany menenggelamkan wajahnya diatas dada Siwon sedangkan Siwon sendiri meneggelamkan wajahnya pada helaian rambut hitam Tiffany.

“Saranghae oppa. Neomu neomu saranghaeyo.”

“Nado sarangheyo.

“Chagi,”

“Nde Oppa?

Mianhae.

Tiffany melepas pelukannya, menatap Siwon penuh tanya. Tak mengerti mengapa Siwon meminta maaf kembali.

“Wae Oppa?”

“Myungsoo. Tidak seharusnya aku cemburu dengannya, mianhae chagi.”

Tiffany tersenyum lalu mengecup lembut pipi Siwon. “Memang tidak seharusnya. Dia itu adikku Oppa.”

Siwon tertawa, mendengar nada suara Tiffany yang mengejeknya.

“Nde, aku janji tidak akan seperti itu lagi. Tapi-“

“Mwo?”

“Kekeke~ bisakah kita berciuman lagi?”

“Shireo!”

Siwon mendesah kecewa, lalu merajuk seperti anak kecil. “Chagiya~”

Tiffany menggeleng, sambil melangkah meninggalkan Siwon yang masih merengek meminta ciuman padanya.

“Aku harus kerja Oppa. Lebih baik Oppa kembali kekantor.” Seru Tiffany masih melangkah meninggalkan Siwon.

“Ini café ku. Jadi tidak masalah jika kau tidak kerja sehari saja chagi.” Siwon mengikutinya dari belakang, masih berusaha membujuk Tiffany.

“Maaf tuan Choi, aku ti-“

Siwon menarik pergelangan tangan Tiffany, dan merengkuhnya dalam pelukan hangat Siwon.

“Setidaknya kau harus memberikan pelukan motivasi untukku. Hari ini aku benar-benar lelah dan ingin bersamamu.”

Tiffany mengelus lembut bahu Siwon, “Mianhae Oppa, hari ini aku harus kerja. Aku tidak ingin, karyawan lain berpikir aku memanfaatkan hubungan kita sebagai alasan untuk aku bermalas-malasan. Bukankah Oppa juga harus menyelesaikan proyek yang Oppa kerjakan sebelum pernikahan kita?”

Siwon mengangguk dipelukan Tiffany. Dan mengeratkan pelukannya.

“Nanti malam, aku akan menjemputmu.”

Tiffany mengangguk.

Mereka masih mempertahankan posisi mereka. Melepaskan rasa rindu yang seakan belum terobati. Tanpa mereka sadari sejak awal sesosok laki-laki muda memperhatikan mereka dengan tatapan tajamnya. Mengepalkan tangannya dengan kuat.

Tangan kanannya terangkat, menempelkan ponselnya ditelinga untuk menghubungi seseorang yang menjadi atasannya. Meski begitu, matanya tak pernah lepas memandangi dua insan yang tengah melepas rindu satu sama lain itu.

“Presdir, Tuan Choi sedang bersama wanita itu. Apa saya harus bergerak sekarang?”

“….”

“Baiklah. Saya akan terus awasi mereka.”

“….”

“Nde.”

Sambungan telepon terputus dari pihak penerima. Tapi itu tidak menjadi masalah besar bagi laki-laki itu. Perhatiannya lebih kepada Siwon dan Tiffany yang kini kembali berciuman, dengan sesekali kata-kata manis yang diucapkan Siwon. Membuat Tiffany tersenyum senang dan malu sekaligus.

Rahang laki-laki tersebut mengeras, bibirnya bergetar menahan amarah. Dengan kedua telapak tangan yang terkepal kuat. Laki-laki itu memutuskan meninggalkan keduanya, sebelum pistol yang berada dibalik jaketnya mengeluarkan pelurunya untuk menembus otak Siwon.

 

***

 

Myungsoo merasakan berat tubuhnya bertambah dibagian perutnya. Laki-laki itu berusaha membuka kedua matanya yang terasa berat untuk terbuka dengan sempurna. Matanya mengerjap perlahan, dengan tangan kanan menutupi sebagian wajahnya yang terkena sinar matahari yang mulai meninggi diatas langit dan memasuki kamarnya yang gelap melalui celah-celah jendela kamarnya.

Aroma lembut yang begitu dikenalinya memasuki indera penciumannya. Membuatnya kembali menutup kedua matanya, merasakan kenyamanan pada oroma tubuh Soona yang begitu dekat dengannya.

‘Soona?’

Mata tajam Myungsoo langsung terbuka saat menyadari aroma tubuh siapa yang tercium oleh hidungnya.

“Na-ya apa yang kau lakukan disini?”

Soona tersenyum dengan mata yang terpejam, tangannya masih memeluk tubuh Myungsoo yang terbaring disampingnya.

“Memeluk Oppa.”

Myungsoo langsung menyingkirkan tangan Soona dan terduduk sambil memegangi kepalanya yang terasa pening karena pengaruh alcohol yang diminumnya semalam.

“Kenapa Oppa melepaskannya, bukankah Oppa merasa nyaman? Buktinya Oppa baru bangun jam segini.” Ucap Soona enteng.

“Mwo? Jam segini? Memang jam berapa sekarang?” Soona tak menjawabnya, hanya menunjuk arah jam yang tergantung pada dinding kamar Myungsoo. Dan seketika Soona terkikik begitu melihata ekspresi terkejut Myungsoo yang kaget karena baru bangun diangka jarum jam yang menunjukkan pukul 10 pagi.

“Kenapa kau tidak membangunkanku? Hari ini aku ada ujian.” Dengan sedikit mengeraskan suaranya, Myungsoo mengambil handuk dan bajunya dilemari. Bergegas untuk mandi dan segera ke kampus karena akan ada ujian tertulis hari ini.

 

Brak~

 

Soona menutup telinganya, masih menahan tawanya melihat ekspresi yang berbeda dari Myungsoo.

“Kalau Oppa tidak lulus ujian ini, Oppa bisa mengulangnya bersamaku disemester selanjutnya.” Teriak Soona dari luar kamar mandi.

Shut up!”

 

***

 

Kekeke~ Jadi Soona tidak membangunkanmu? Padahal Hyung sudah memerintahnya untuk segera membangunkanmu.

“Kenapa Hyung tidak membangunkan ku langsung. Na-ya tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar.”

Ya kau benar. Hyung lupa, kalau dia selalu bertingkah diluar batas wajar saat berhadapan denganmu. Hahaha~

“Tsk, sudahlah aku matikan telefonnya.”

Tanpa menunggu jawaban dari Siwon, Myungsoo menutup telponnya dengan kasar. Bergegas keluar, untuk segera kekampus dan menemui dosennya. Siapa tahu ia di izinkan ikut ujian susulan. Pikir Myungsoo.

Myungsoo mengambil roti yang ada dimeja makan lalu memasukkannya kedalam mulut, memasangkan helmnya dengan gerakan tergesa-gesa. Sambil melangkah menuju motornya yang terparkir didepan teras rumah.

Namun langkahnya yang baru saja diambang pintu terhenti saat melihat Soona duduk dengan manis di atas motor Myungsoo lengkap dengan helm putih yang terpasang rapi dikepalanya.

“Annyeong Oppa.” Soona melambaikan tangannya dengan gerakan yang tak berdosa karena membuat Myungsoo mengeram menahan kekesalannya.

“Apa yang kau lakukan di atas motorku?”

“Igeo.” Soona menunjuk sebuah map coklat yang berada ditangan kanannya sambil tersenyum manis.

“Apa itu?” Myungsoo bertanya sambil mengunyah dan berjalan menuruni tangga-tangga kecil rumahnya menuju motornya.

“Siwon Oppa menyuruh kita mengantarkan dokumen ini ke kantor.”

“Antar saja sendiri. Gunakan mobilmu. Turun sekarang!”

“Shireo!”

“Na-ya!”

Soona tersenyum senang saat Myungsoo memanggil namanya dengan sebutan ‘Na-ya’ membuatnya berbunga-bunga.

“Wae?” tanya Myungsoo heraN melihat Soona yang tersenyum tiba-tiba.

“Hanya Oppa yang memanggil itu.”

“Mwo?”

“Na-ya.” Eja Soona. Membuat Myungsoo terlihat gugup dan mengedarkan pandangannya kesegala arah.

“Turunlah, aku harus buru-buru kekampus.” Ucap Myungsoo tanpa menatap Soona.

“Oppa tidak perlu kekampus.”

Myungsoo mendelik tajam kearah Soona. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum kecil.

“Aku harus mengikuti ujian susulan. Jadi turunlah, aku harus pergi sekarang.”

“Emangnya bisa?” tanya Soona polos.

Myungsoo mengeram kembali. “Kau benar-benar menginginkan aku tidak lulus Na-ya?”

Soona menggeleng cepat, lalu tersenyum kembali.

“Ayolah Oppa, antarkan aku ke kantor sebentar setelah itu kita kekampus bareng, ya?”

Myungsoo menghela napas kasar. Berdebat dengan Soona tidak akan semudah membalikan telapak tangan. Maka dengan terpaksa Myungsoo menaiki motornya. Membawa mereka ketempat dimana Myungsoo tak akan pernah mau memasukinya.

“Setelah itu jangan mengganggu lagi. Arraseo?”

“Tidak janji.” Tangannya sudah melingkari pinggang Myungsoo.

Myungsoo kembali menghela napas sebelum benar-benar meninggalkan rumah menuju perusahaan keluarga mereka.

 

***

 

“Kau terlihat berbeda hari ini Fany?”

“Eoh? Hehehe, Maru-ssi aku pikir siapa?”

Laki-laki yang disebut namanya tersebut tersenyum melihat Tiffany yang terkaget karena mendengar suaranya yang tiba-tiba menanyainya.

“Aku lihat tadi Boss datang? Sepertinya itu yang menjadi alasannya. Kekeke~”

“Jangan menggodaku.”

“Arra, arra.”

Tiffany kembali tersenyum, kehadiran Siwon benar-benar membuatnya berbunga-bunga. Seperti orang yang pertama kali jatuh cinta.

“Jangan bengong, tuh pelanggan.”

Tiffany menoleh melihat ada seorang yang memesan kopi. Wanita itu tertawa canggung merasa tak enak dengan temannya tersebut, karena sejak tadi ia tak berkonsentrasai kerja karena terus memikirkan kejadian tadi pagi saat Siwon menemuinya.

“Mianhae maru-ssi.”

“Gweanchana. Sudahlah layani dulu pelanggannya, setelah itu lanjutkan senyam-senyummu itu.”

“Ya!”

Sebelum menerima pukulan dikepalanya, rekan kerja Tiffany tersebut berlari menyelamatkan diri. Namun tertawa saat melihat Tiffany semakin kesal.

Ditengah canda tawa Tiffany, seseorang berguman dalam hatinya. Memperhatikan semua gerakan Tiffany yang begitu lincah dan ceria hari ini.

‘Aku akan pastikan, kau tidak akan tersenyum lagi karena dia.’

 

***

 

Myungsoo berdiri didepan gedung perusahaan tersebut. Menunggu Soona kembali secepatnya, setelah mengantarkan dokumen Siwon yang tertinggal dirumah. Tangannya memegang ponsel yang dilihatnya sejak tadi, memperlihatkan deretan nomer yang menghubunginya sejak pagi.

Myungsoo akan mencekik Soona saat ia bertemu gadis itu nanti. Bagaimana mungkin gadis itu tidak membangunkannya, saat Tiffany menghubunginya berkali-kali sepert ini?

Namun amarahnya tertelan begitu saja, saat dilihatnya mobil seseorang yang begitu dikenalnya. Segera saja Myungsoo menyembunyikan tubuhnya dibelakang dinding yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi.

“Appa.

Myungsoo terus memperhatikan geraka-gerik ayahnya dari tempatnya berdiri. Wajah Myungsoo mengernyit saat dilihatnya sang ayah, yang memegangi dadanya. Sepertinya asma sang ayah kambuh. Dan Myungsoo tahu bahwa sang ayah mengidap penyakit itu sejak lama.

Baru saja ia akan menghampiri sang ayah, namun langkahnya terhenti saat mendengar perkataan ayahnya yang seakan-akan menghentikan peredaran darahnya.

‘Apapun caranya, buat pernikahan Siwon dan wanita itu gagal. Aku tidak ingin, menyaksikannya. Mengerti?’

Myungsoo menyembunyikan lagi tubuhnya pada dinding tersebut. Napasnya terasa sesak. Dilihatnya sang ayah, yang melangkah menuju pintu masuk perusahaan. Jalannya tampak lemah, karena menahan amarah yang membuat penyakitnya kambuh.

Myungsoo menggelengkan kepalanya.

“Ini pertanda buruk. Appa tidak boleh sampai tidak menyukainya, Noona dalam keadaan bahaya.”

“Anni. Mereka harus tetap menikah, harus.”

“Mereka-“

“Oppa!” Myungsoo menoleh, menatap Soona yang memandangnya khawatir.

Wajah Myungsoo yang tiba-tiba saja berubah menjadi pucat pasi. Dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Membuat Soona mencemaskan keadaan Myungsoo saat ini.

“Waegeure?”

Myungsoo menarik Soona kedalam pelukannya, mencoba mencari ketenangan dalam pelukan gadis yang mengaku mencintainya tersebut. Myungsoo ingin menangis karena tidak bisa berfikir. Kejadian masa lalunya seperti menyulut luka yang telah ditutupnya rapat-rapat.

“Na-ya, tolong aku. Jebal!”

 

[TO BE CONTINUED]

 

 

Oke sedikit ingin menjawab semua komentar reader. Sebelumnya minta maaf banget karena ceritanya membingungkan buat kalian. Ini benar-benar cerita yang suram menurut author, jadi akan sedikit sulit untuk memahaminya. Bahkan author sendiri sedikit susah untuk menjabarkannya dalam sebuah cerita. Dan ada yang bilang, kalau kurang mengerti dengan kata-katanya. Haduuhh maaf banget ya, mungkin karena udah lama ga bikin FF jadi author otaknya jadi rada-rada.

Kebanyakan juga para reader kurang paham ya?

Apa setelah membaca part ini kalian paham? Ini merupakan flashback dari 5 tahun yang lalu sebelum pertemuan mereka kembali yang di part sebelumnya. Dan mungkin di dua part 2 lagi nantinya masih membahas flashback.

Menurut kalian gimana? Apa cerita ini menarik utk dilanjutin atau tidak, karena author tekanin sekali lagi. Cerita ini emang sedikit belibet.

Oh ya, author jelasin disini ya, hubungan Myungso dan Siwon serta Soona.

Jadi ibunya Siwon dan Soona menikah dengan ayahnya Myungsoo. Orang tua mereka menikah saat mereka suda beranjak dewasa yah, saat mereka sekolah menengah.

Lalu hubungan Myungsoo dan Tifffany adalah sahabat dari kecil berhubung Tiff lebih tua dari Myungsoo, maka Myungsoo memanggilnya noona. Tiffany tinggal di panti asuhan milik ibunya Myungsoo. Nah, Myungsoo sejak kematian ibunya memilih untuk tinggal di panti asuhan itu karena disanalah ibunya dimakamkan.

Hmmm, author udah kasih tau hubungan-hubungan mereka ya. Segitu cukup kan?

Dan yang terakhir maaf karena ga tepatin janji jam 10 dipostingnya, karena gangguan jaringan internetnya. Jadi ditunda.

Oke, Thanks udah baca FF ini dan terimakasih untuk RCL kalian sebelumnya.

 

Annyeong….

82 thoughts on “DON’T KNOW HOW TO LOVE Part 4 -Flashback Memories-

  1. uda paham nih sekarang sama jalan ceritanya. tp yg bikin msh bingung knp sifany sama2 lupa ingatan. wahh ini ceritanya cerita cinta segi 4 nih. keren yuukk dilanjut pokok ending harus sifany forever🙂

  2. Baru paham ne jalan ceritany thor,,,lanjut part 5 ya,,dtunggu,,knpa siwon bisa lupa sm tiffany…ap gara2 ayahny gk suka sm tifany???di tunggu ya klanjutanya thor fighting thor….

  3. wah jelas sudah cerita’a…
    d’tunggu part selanjut’a…
    klo bsa part selanjut’a d’selingin sma msa skrang’a…
    knpa siwon n tiffany gga saling knl stlh 5thn berpsh…

  4. Udah mulai paham thor, lanjutin ceritanya keren kok thor😉 memang kata-kata yg author pake sulit dicerna tapi ceritanya bagus. Cepetan ya thor next partnya gasabar nunggun😉

  5. yaaah maaf thor baru coment dipart ini hehe ceritanya bagus… walaupun bingung sih apa tujuan tn. kim itu misahin siwon sm tiffany? apa karna tau myungsoo suka? heuuh trus juga siwon sm tiff amnesia semua ya? yaudah lah ditunggu kelanjutannya🙂

  6. Maaf ya sebelumnya. Fanfic nya bagus tapi, alur cerita nya gak jelas, dan membingungkan yg tadi nya Myungsoo lagi ngapain tiba – tiba langsung ke Tiffany lagi sama Siwon. Jadi cerita nya terkesan buru – buru. Terus di fanfic ini kebanyakan bagian Myungsoo SiFany moment nya kurang bahkan gk ada. Padahal ini kan SiFany fanfic.🙂

  7. konflik yang jarang banget aku temuin di ff keren banget!! kerenn.. ah sayangnya ff ini kenapa ga dilnjutinlagi? padahal keren bangetssss…
    kenapa ya aku auka tiffany ama myungso aja soalnyabmereka terlihat sangat serasiiii

  8. Paham sekarang mah ma crita’a tp knp bapak’a myungsoo jahat bgt mpe g ngebolehin sifany menikah
    hmmm
    Next thorrrrr
    udah d post blm?

  9. Ping-balik: Don’t Know How To Love Part 5a | Sifany's Island

  10. lagi baca baca crta ulang sifany island .. jadi ikut ikutan koment dah .. maklum hp bau ..hehhehe
    hem. ciuman nya bikin mau …hehhehehhehe..lanjut eonn

  11. trnyata masa lalu siwon ma myungsoo sama2 kelam, hubungan sifany ma myungsoo n soona jg kyakny rumit bgt, dtmbah ada pihak yg memata matai gerak gerik mereka. moga aja g trjdi apa2 pd mrka. myungsoo keren deh mau ngelindungi fany utk siwon.

  12. Udah paham nih thor.tapi kenapa appanya gak setuju kalo siwon dan famy menikah….?dan siapa pria misterius itu yg memperhatikan gerak gerik sifany….?
    Bagus thor,lanjut baca lagi ya.tetap semangat thor.author jjang.sifany jjang.

  13. Sip sip sip aku ngerti*sedikit hehe^^ maaf thor…
    Tapi keren kok ceritanya alur nya campuran…. bener bener reader dibuat berpikirrrr jadi gk monoton gitu.
    Maaf baru lanjut baca dan komennn karena ada urusan*sok sibuk
    Butt this is a good storyyy!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s