DON’T KNOW HOW TO LOVE Part 3

as

 

Don’t Know How to Love© Song Haneul

Publish by Sifany Island

oOoOo

 

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation] || Kim Myungsoo [Infinite] || Choi Soona [Oc] || Jessica Jung [Girl’s Generation] || Han Maru [Oc]

Genre

Romance || Hurt || Family

Length

Chaptered

Rating

 PG 17

Category

Fanfic

Summary

Someone who is unable to truly love one person has no right to love

 

WARNING :

  • TYPO !!!
  • Semuanya merupakan author POV

 

 

Don’t Know How to Love

Part 3

 

“Jadi kalian tidak berhasil menangkap wanita itu?”

“Ma-maaf Boss. Laki-laki itu-”

 

Srrttt

 

Semua orang diruangan tersebut tersentak saat mendengar suara lemparan pisau yang langsung menancap tepat pada salah satu foto yang terpajang disebuah papan putih didepan bos mereka. Jaraknya cukup jauh, namun Boss mereka mampu menancapkan pisau kecil itu tepat didada foto laki-laki tersebut.

Air muka Boss mereka membuat semua orang yang ada diruangan tersebut bergidik ngeri. Terlebih saat ini, mereka gagal membawa seseorang yang diminta Boss mereka.

“Kira-kira…” Laki-laki yang mengenakan pakaian serba hitam tersebut terdiam sesaat sambil memegang pistol yang baru saja diambilnya dari laci meja, tempat ia berada sekarang. Lalu melanjutkan ucapannya yang membuat kelima orang yang berada ditempat itu ketakutan.

“Hukuman apa yang pantas untuk kalian?” Ucapnya dingin.

“Ma-maafkan ka-“

 

Dorrr

 

Mereka berlima melangkah mundur mendengar deruan pistol yang terlepas mengenai –lagi-lagi, foto laki-laki yang terpajang itu.

Boss mereka menatap tajam sosok foto itu. Laki-laki yang selalu mengagalkan misinya untuk mendapatkan seseorang yang diinginkannya.

‘Brengsek’

 

Dorrr

 

Sekali lagi, bunyi pistol menggema diruangan tersebut.

Bedanya. Jika semula hanya sebuah foto yang menjadi sasaran keganasan pelurunya. Saat ini, seorang laki-laki lain diruang itu, tersungkur tak berdaya setelah mendapatkan tembakan tepat dikepalanya. Membuat empat orang kawannya membelalakan matanya melihat kematian pimpinan mereka.

Sang Boss tengah mengelap pistolnya tersebut dengan sebuah kain putih. Wajahnya begitu tenang, walau baru saja ia menghabisi satu nyawa hanya dengan sekali tarikan pelurunya.

“Bo-boss.”

“Kalian berempat ingin aku bunuh juga.”

“Anio.” Keempatnya serentak menjawab dengan nada ketakutan.

Laki-laki yang dipanggil Boss tersebut tertawa keras. Sarat akan kebencian dan dendam yang mengalir deras ditubuhnya tersebut. Tak cukup lama ia tertawa sinis seperti itu, lalu kembali terdiam dengan wajah dinginnya. Sorot matanya seakan kosong dengan tangan yang terulur mengambil sesuatu.

“Tambah pasukan kalian. Dan cepat selesaikan tugas ini, sebelum aku yang turun tangan dan membunuh kalian semua.” Laki-laki itu berkata sembari menuangkan wine ke sebuah gelas yang telah kosong sejak anak buahnya masuk keruangannya dan memberikan kabar yang tidak disukainya.

“Ba-baik Boss.” Keempatnya mengangguk paham.

“Bikin empat kelompok masing-masing dari kalian. Dan lakukan pengintaian secara terpencar. Ingat, jangan kembali sebelum membawa wanita itu.” Ucap Boss itu dingin, sambil meminum winenya dengan senyum yang dibuat-buat.

“Termasuk laki-laki itu. Bawa dia dalam keadaan hidup. Karena aku sendiri yang akan membunuhnya. Biar wanita itu menjadi urusan Presdir.” Lanjutnya.

Setelah mengatakannya, laki-laki itu menyuruh ke empat anak buahnya meninggalkan ruangannya. Dengan membawa mayat pimpinan mereka dan membuangnya ketempat yang jauh.

Laki-laki itu bangkit dan berjalan pelan kearah white board yang terpasang beberapa foto orang-orang yang menjadi targetnya. Ditelusurinya ke tiga foto yang terpasang manis di papan tersebut.

Foto pertama berada paling ujung kirinya menampakan seorang laki-laki dengan senyum manisnya, yang memamerkan kedua lesung pipinya. Ada tanda silang besar pada foto tersebut. Mengingatkan laki-laki itu bahwa sang target, sudah dilumpuhkannya. Tidak benar-benar mati karena sang Presdir tidak mengizinkannya mengambil nyawa orang itu.

Lalu matanya beralih pada sosok wanita cantik dengan senyum yang menghiasi wajahnya, fotonya terletak paling ujung dari ketiga foto tersebut. Bukan hanya bibirnya yang tersenyum, namun lengkungan matanya yang indah ikut tersenyum membuat senyumannya semakin sempurna untuk wajahnya.

Jari-jari lentiknya menyusuri foto tersebut. Foto yang masih terlihat baik-baik saja dibandingkan kedua foto yang lain. Jika kedua foto yang lain terdapat bolongan-bolongan atau sobekan kecil dan coretan. Foto itu terlihat masih utuh, sama seperti perasaannya yang tetap utuh pada wanita itu. Walau begitu, niatnya tetap tak bisa dihapuskan. Ia tak bisa memiliki wanitanya, maka tak ada satupun yang bisa memiliki wanita itu.

Pikirnya. Jalan wanita itu hanyalah. Kematian.

Senyum sinis terlihat diwajahnya.

 

‘Mati?’

 

“Bukan ide yang buruk.” Gumannya lirih.

Lalu pandangannya beralih pada foto laki-laki yang menampakan aura dingin diwajahnya. Tidak ada senyum atau tatapan lembut pada foto tersebut. Hanya ada aura yang menantang dari foto itu. Dan itu jelas membuat laki-laki itu geram.

Diambilnya pisau yang masih menancap pada foto tersebut. Dengan gerakan perlahan, ditelusurinya foto tersebut dengan pisau tajam itu. Lalu berhenti tepat didada foto laki-laki itu. Dengan perlahan ditusukan kembali pisau itu lebih dalam. Dengan sorot matanya terus menatap sepasang mata foto laki-laki itu.

“Seperti ini….” lirihnya dengan suara yang ia tahan.

“Aku akan membunuhmu, Kim Myungsoo.”

 

***

 

Siwon berdehem beberapa kali, membenarkan posisi duduknya yang tak nyaman sejak ia dan Tiffany hanya berdua diruangan tersebut. Tepat semenjak 25 menit yang lalu Myungsoo pergi dari rumahnya begitu juga dengan Soona yang lagi-lagi mengkhianati kakak kandungnya sendiri hanya untuk orang yang dicintainya.

Siwon mendengus kesal setiap kali mengingat Soona begitu memuja Myungsoo begitu berlebihan. Hingga melupakan kakaknya yang juga membutuhkan pertolongannya. Siwon memdesah lelah. Hari ini begitu melelahkan baginya, setelah menghadiri rapat diperusahaannya. Myungsoo tiba-tiba saja menghubunginya. Awalnya Siwon begitu senang, karena adiknya tersebut kembali menghubunginya setelah sekian lama.

Namun senyum Siwon menghilang, ketika mendengar permintaan Myungsoo.

 

FLASHBACK

 

“Hyung, kau dimana?” terdengar suara Myungsoo yang terengah-engah diponselnya. Membuat Siwon sedikit khawatir.

“Myungie, apa yang terjadi? Kena-“

“Tolong aku Hyung!” masih dengan suara yang terengah-engah dan terdengar tak jelas ditelinga Siwon. Membuat Siwon harus memusatkan pendengaran dan perhatiannya kepada Myungsoo.

“Mwo?”

“Tolong aku. Temui aku di Club biasa aku ngeband.”

“Mwoya? Ya Myungsoo! Bukankah Appa sudah memperingatkanmu untuk tidak datang ketempat itu lagi?” Siwon berteriak kesal karena tahu adiknya masih sering ketempat dimana ayahnya melarang.

Siwon memijit pelipisnya. Siwon mendengar langkah kaki yang seperti orang berlari ditempat Myungsoo. Sesekali terdengar gerutuan orang-orang yang sepertinya tak terima karena tertabrak.

‘Myungsoo kah yang menabrak mereka?’

“Hyungggg!” Siwon tersadar dari lamunannya, dan langsung membals sautan Myungsoo di telepon.   

“Apa yang harus hyung lakukan?” tanya Siwon frustasi saat Myungsoo kembali meminta pertolongannya.

“Bawa Tiffany Noona ketempatmu?”

“Mwooooga?” Siwon membelalakan matanya ketika mendengar sebuah nama perempuan disebutkan oleh Myungsoo.

‘Ternyata dia masih normal.’

Myungsoo kembali berbicara dengan cepat dan tergesa-gesa. Tak membiarkan Siwon untuk menghalau omongannya.

Dan kali ini Siwon hanya menatap kesal ponselnya yang mati, karena Myungsoo memutuskan pembicaraan secara sepihak. Siwon menghela napas panjang, mau tidak mau ia harus melakukannya. Toh, Myungsoo tak menanyakan apa ia bersedia atau tidak. Dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Menandakan adiknya tersebut benar-benar membutuhkan tindakan yang membuatnya senang.

Sambil berjalan menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri saat tadi ia menerima telpon dari Myungsoo. Siwon terus mengingat apa yang diucapkan Myungsoo. Atau lebih tepatnya terus memikirkan ucapan Myungsoo.

‘Aku akan tinggalkan Fany Noona didalam club, Hyung hanya perlu mengenalinya melalui topi yang kukenakan dikepalanya. Topi itu adalah pemberian Hyung waktu itu. Sementara Hyung menyelamatkannya, aku akan mengurus penjahat-penjahat itu.’

Dan kata-kata yang paling membuat Siwon mengernyit heran adalah saat Myungsoo mengatakan, ‘…dia orang yang selalu ingin aku lindungi. Jadi tolong selamatkan dia dengan baik.’

 

FLASHBACK OFF

 

Prank

 

Siwon tersentak kaget begitu mendengar suara benda yang jatuh. Dilihatnya Tiffany yang tengah tersenyum kikuk kearahnya sambil memegang sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja nakas dekat sofa rumahnya. Dan membenarkan letaknya seperti semula, seperti sebelum ia menjatuhkannya.

Tiffany tidak sengaja menjatuhkannya, saat ia tengah melihat-lihat orang-orang yang ada di foto tersebut. Dilihatnya Siwon yang melihatnya dengan tatapan yang datar. Tiffany memberikan senyum, dan berguman lirih meminta maaf.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Siwon pelan namun masih terkesan sewot dengan tingkah Tiffany.

“A-aku hanya melihat-lihat saja.” Jawab Tiffany sambil menunduk. Ia cukup tahu diri kali ini ia yang salah. Dan ia tak ingin berdebat dengan Siwon.

Siwon menghela napas lagi. Ia benar lelah hingga malas untuk mengajak Tiffany berdebat. Pikirannya kembali melayang kepada percakapannya dengan Myungsoo, sebelum adiknya itu pergi.

 

FLASHBACK

“Soona, kau benar-benar akan ikut Myungsoo?” tanya Siwon sewot. Hari ini ia tidak seperti biasanya. Siwon adalah orang yang tenang dan ramah pada siapapun. Namun entah mengapa, kehadiran Tiffany membuatnya uring-uringan. Seperti ingin marah setiap kali melihat wajah polos wanita cantik itu.

“Aku harus bicara empat mata dengan Myungsoo Oppa. Jadi aku harus ikut dia. Ya kan Oppa?” Soona menjawab pertanyaan Siwon dengan nada yang imut dan mengalungkan tangannya pada lengan Myungsoo, tak lupa ia menghadapkan wajahnya mentap Myungsoo saat bertanya pada laki-laki itu. Yang hanya dibalas tatapan datar.

Alih-alih tak menjawab pertanyaan Soona, Myungsoo justru berkata pada Siwon.

“Noona akan bersikap baik padamu jika Hyung memperlakukannya dengan baik. Jadi aku harap Hyung jangan terus berdebat dengannya.”

“Aku tidak seperti itu.”

“Tepatnya memang seperti itu.”

Siwon membelalakan matanya mendengar sautan Soona, yang turut menyudutkan posisinya.

“Soona!”

Soona menjulurkan lidahnya pada Siwon yang kesal karena ia ikut campur pembicaraannya dengan Myungsoo. Ketika hendak mengulurkan tangannya untuk menjitak kepala Soona. Myungsoo menahannya dan menatap Siwon dengan tajam.

“Berlakulah yang baik padanya. Karena hanya Hyung yang bisa melindunginya.”

 

FLASHBAC OFF

 

 

Siwon mengacak rambutnya dengan gusar. Pikirannya terus bertanya-tanya tentang maksud perkataan Myungsoo. Baru saja ia ingin menanyakan perihal tersebut pada Myungsoo, namun laki-laki itu langsung menyeret Soona meninggalkannya sendiri dengan wajah yang terheran-heran.

Siwon mengalihkan kedua matanya pada sosok wanita yang tengah tertidur dengan posisi yang tak nyaman di atas sofanya. Badannya miring kesamping dengan wajah yang tertunduk kebawah. Rambut panjannya yang hitam legam menutupi wajah cantiknya yang putih bersih tersebut.

Siwon mengernyit, menatap Tiffany dari tempatnya dengan kening yang berkerut. Dengan langkah yang ragu, Siwon mendekati Tiffany. Detak jantungnya berdetak tak karuan ketika kakinya terus mendekat kearah Tiffany. Lidahnya terus saja membasahi bibirnya terus-menerus.

Siwon berhenti sejenak, menatap ragu pada dirinya sendiri. Apa ia harus melakukannya. Namun kata-kata Myungsoo terus saja mengusiknya. Mengingatkannya bahwa hanya ia yang bisa melindungi Tiffany. Apa sebenarnya maksud Myungsoo? Jelas Siwon sama sekali tak memahaminya. Yang ia inginkan sekarang, menolong Tiffany. Memindahkannya ketempat yang layak untuk ditiduri wanita itu. Kamarnya.

Siwon jongkok didepan Tiffany, mengulurkan tangannya merapihkan helaian-helaian rambut panjang Tiffany dan menyelipkannya dibelakang telinga wanita itu. Aroma vanili, aroma yang disukai Siwon menyeruak diindera penciumannya tatkala ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Tiffany saat ia akan mengangkat tubuhnya dalam gendongannya.

Siwon kehilangan fokusnya saat Tiffany sudah berada dalam rengkuhannya. Dengan pikiran yang terus melayang kesemua ucapan Myungsoo. Hidungnya terus menghirup aroma favoritnya dari tubuh Tiffany. Siwon tak berani memandang wajah Tiffany yang berada tepat didada bidangnya.

Dengan langkah yang perlahan, Siwon menuju kamarnya yang terletak dilantai dua rumahnya. Siwon memiliki rumah minimalis yang hanya memiliki dua lantai dengan interior yang classic. Semua yang ada di rumahnya berwarna hitam dan putih, karena Siwon begitu menyukai kedua warna itu. Mengingatkannya bahwa didunia ini hanya dapat dinilai dari baik atau tidaknya perilaku manusia. Seperti warna putih dan hitam yang melambangkan kebaikan dan keburukan. Siwon selalu menasehati dirinya sendiri untuk terus berada dilingkup yang putih. Walau tak jarang ia melakukan sedikit kesalahan yang membuatnya terkena noda hitam itu.

Kakinya terangkat untuk sedikit mendorong pintu yang sudah dibuka hendlenya dengan sedikit susah payah menggunakan tangan kanannya yang masih menggendong Tiffany. Kakinya kembali melangkah menuju ranjang yang biasa ditempatinya lalu merebahkan tubuh mungil Tiffany diatasnya. Lalu menyelimutinya dengan selimut putih miliknya. Merapihkan kembali rambut Tiffany, membuatnya lebih leluasa memandangi wajah Tiffany.

Siwon menelusuri wajah teduh Tiffany. Tangan nya kembali terulur untuk menyingkap poni Tiffany, memperlihatkan kening indah wanita itu. Lalu kedua matanya menatap alis panjang wanita itu. Matanya yang tertutup membuat Siwon bertanya-tanya seperti apa mata itu ketika ia tertawa dengan lepas. Entah mengapa Siwon menjadi sangat penasaran dan ingin mengetahuinya secara langsung. Lalu pandangannya beralih pada hidung kecil dan mancung milik Tiffany. Tiba-tiba saja Siwon merasakan kehancuran dalam dirinya. Kilatan bayangan itu menerpa otaknya yang kembali berdenyut.

Siwon meringis. Memegangi kepalanya dan terduduk tak berdaya disamping ranjang yang ditiduri oleh Tiffany. Napasnya terengah seakan ia baru saja melalui perlombaan maraton yang panjang dan melelahkan. Kepalanya menoleh, menatap kembali bibir Tiffany yang semakin membuatnya berdenyut.

 

‘Aku menyukai manisnya bibirmu.’

‘Apa yang kau lakukan, aku ingin terus menciumimu. Apa kau tau, ini membuatku hampir gila.”       

‘…seperti rasa vanili yang kusukai. Seperti itulah saat aku menciummu.’

 

“Ahhh..” Siwon mengerang pelan dan lirih. Dengan tubuh yang sempoyongan, Siwon berusaha membawa tubuhnya keluar dari kamarnya sendiri. Mencari kekuatan pada dirinya sendiri untuk bisa melangkah keluar dari kamar tersebut.

Siwon terus berjalan dengan peluh dingin yang menghiasi wajah tampannya. Namun langkahnya terhenti saat suara lirih seorang wanita menggetarkan hatinya. Membuatnya menatap wanita itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebuah pertanyaan besar tertanam dengan kuat di dalam pikiran dan hatinya. Siwon terus memaksa langkahnya kembali, lalu menutup pintu kamarnya. Menyandarkan tubuhnya pada dahan pintu tersebut, menormalkan kembali pernapasannya. Terlebih hatinya.

Namun gagal.

Suara lirih itu terus terdengar ditelinganya. Seperti sebuah lagu yang tak henti-hentinya bersenandung. Suara Tiffany melekat erat dipendengarannya, hingga ia mendudukan dirinya didepan pintu itu dengan mata terpejam sarat akan kelelahan. Siwon berusa mengistirahatkan tubuhnya. Ini tidak seperti biasanya. Sudah lebih dari lima tahun ia tak lagi mengalami hal ini, dokter sudah bilang kalau ia dinyatakan sembuh total. Lalu apa sekarang? Kenapa tiba-tiba kepalanya kembali berdenyut seperti saat ini.

Lalu dengan kesadaran yang mulai menipis, Siwon masih mendengar suara itu memanggilnya. Penuh kasih sayang dan kesedihan.

‘Wonnie oppa.’

Dengan air mata yang mengalir karena menahan sakit itu. Siwon benar-benar menutup matanya dan kehilangan kesadaran dengan detak jantung yang kembali normal. Memasuki alam bawah sadarnya yang kembali membawanya kesebuah mimpi-mimpi malam yang selama ini menemaninya.

 

***

 

“Jadi selama ini Oppa bersama Fany Oenni?”

“Kenapa Oppa tidak bilang padaku? Seharusnya Oppa mengatakannya padaku, aku kan merasa jadi orang yang tak berguna kalau seperti ini….” Soona terus menggerutu sebal sambil terus memasuki pakaian-pakaian Tiffany kedalam tas pink besar milik Tiffany.

Myungsoo sendiri sedang mengambil sebuah kotak besar yang ia sembunyikan ditempat yang ia yakini tidak akan diketahui Tiffany. Dan seperti dugaannya, kotak itu tidak pernah tersentuh sekalipun sejak pertama kali ia meletakkan kotak itu diatas atap kecil kamar Tiffany.

Myungsoo membersihkan debu-debu yang mengelilingi kotak berwarna pink tersebut dengan kedua tangannya. Perlahan tubuhnya terduduk diatas lantai kamar tersebut. Masih sibuk membersihkan debu-debu tersebut.

Setelah yakin kotak itu cukup bersih untuknya, tangannya mulai membuka penutup kotak itu. Sorot matanya terlihat perih ketika tatapannya tak lepas dari sebuah foto yang terletak paling atas diantara tumpukan-tumpukan barang yang ada didalamnya.

Tangannya terulur mengambil foto tersebut. Masih terlihat baik, sama seperti pertama kali foto itu dicetak. ‘Fany Noona menjaganya dengan baik.’ Pikirnya.

Ia mengingat jelas bagaimana foto itu diambil, sudut-sudut bibirnya terangkat dengan perasaan yang miris tatkala ingatannya memutar kembali pada kenangan itu. Saat dimana Myungsoo memotret kedua orang tersebut. Myungsoo bahkan masih mengingatnya, bagaimana ia begitu berusaha menahan getaran dijari-jari tangannya hanya untuk menekan tombol capture dikameranya agar cepat-cepat memotret dua insan yang tengah tersenyum bahagia tersebut.

Seketika tubuh Myungsoo menegang saat sepasang tangan mengalungi lehernya dari arah belakang. Myungsoo terdiam, ia mengetahui sepasang tangan siapa yang telah berani melakukan hal itu.

“Kenapa takdir begitu jahat pada mereka? Bukankah mereka terlihat bahagia jika bersama?” bisik Soona tepat disamping telinga Myungsoo. Masih dengan tangan kanan yang memegang foto tersebut. Matanya kembali teralih kembali menatap dua orang yang ada didalam potret tersebut.

“Oppa…begitu menyayangi mereka? Apa harus mengorbankan diri sendiri? Tau kah Oppa, betapa banyak Oemma mengkhawatirkan Oppa. Kalau Appa tahu, Oppa pergi dari rumah untuk Fany Oenni. Beliau pasti-“

“Aku pastikan. Laki-laki itu…tidak akan bisa menyentuhnya. Walau hanya seujung rambutnya.” Soona menatap Myungsoo tak percaya. Matanya kembali berkaca-kaca.

“Oppa…”

Myungsoo balik menatap mata bulat Soona yang menahan airmatanya. Bibirnya bergetar dan menatap Myungsoo terluka.

“Aku sudah melepasnya. Membuat luka untuk diriku sendiri. Berharap keduanya bisa bahagia, dan karena seperti ucapanmu mereka bahagia jika bersama. Apa setelah semua yang terjadi, aku akan membiarkan keduanya terpisah? Tidak!”

Myungsoo menghapus air mata Soona perlahan saat Soona tak mampu lagi membendung air matanya. Tersenyum lirih. “Aku menyayangi mereka. Dan aku ingin menghentikan ini. Lima tahun, aku rasa cukup.”

“Lupakanlah Oppa. Mereka hanya akan tersakiti jika bersatu. Aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi.” Soona menggeleng kepalanya mentap Myungsoo khawatir.

“Gweanchana. Semua akan berjalan baik-baik saja.”

Myungsoo kembali menatap foto tersebut, masih terdengar isakan Soona yang terdengar samar ditelinganya. Soona sudah menenggelamkan kepalanya dibahu Myungsoo, membasahi jaket hitam pemberian Soona saat ia berulang tahun 3 tahun lalu.

Soona mencekram erat jaket tersebut, saat Myungsoo kembali mengatakan sesuatu yang mengingatkannya akan masa lalu indah yang pernah mereka lalui. Masa lalu yang membawa semuanya kesaat-saat yang paling menakutkan untuk Soona. Masa-masa dimana hanya ada air mata dan penantian.

“Seperti yang Hyung bilang. Manusia bisa bahagia, salah satunya jika berada disamping orang yang mencintai dan dicintainya. Kali ini, anggap saja aku memberi sebuah kesempatan. Dan aku percaya Hyung akan menggunakan kesempatan ini dengan baik. Jika pun tidak, aku yang akan menghancurkan kesempatan itu sendiri. Dan membawa pergi Noona sejauh mungkin.”

“Na-ya….mianhae, sesungguhnya aku juga ingin memberi kesempatan pada diriku sendiri. Walaupun itu tetap tidak mungkin.”

 

 

[TO BE CONTINUED]

 

83 thoughts on “DON’T KNOW HOW TO LOVE Part 3

  1. Duhhhh ini tuh maksudnya gimana?jadi fany itu bagian dari masa lalu nya siwon?tapi kenapa fany kayak diteror gitu sih?penasaran sumpah-_-

  2. siwon siapa yang ada dipikiran engkau ???
    pensaran nih thorr ._. maaf thor baru bisa comment hp ku lagi error wkwk #curhat
    keep writing thor daebak bgt nih ff🙂

  3. Hmmm
    jd sifany’a sama2 hilang ingatan n yg ngelakuin semua itu appa’a sendiri
    omoooo….
    ayo wonppa ingat lg semua memori yg hilangnya

  4. myungso emang suka sama fanny eonnie . dari awal crta dah kliatan .. hufthh .. pook.a siwon tiffany

  5. Jadi Tiffany eonni ada Something Special sama Siwon oppa dulu…
    Tapi tetp ga ngerti asal Tiffany eonni.. huuh so mystery banget
    Siwon oppa OMG ternyata care juga sama Fany eonni ya..
    okedeh pokoknya Saranghae Tiffany eonni Siwon oppa🙂❤❤❤

  6. Yehhh……jadi fany dan siwon dulu adalah sepasang kekasih yg saling mencintai,tapi sepertinya siwon gak ingat siapa fany dan juga sebaliknya fany tidak ingat siapa siwon.apa yang telah terjadi 5 tahun yg lalu…?makin seru aja nih admin.lanjut baca aja ya admin.tetap semangat.
    Admin jjang.sifany jjang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s