DON’T KNOW HOW TO LOVE Part 2

as

 

 

Don’t Know How to Love© Song Haneul

Publish by Sifany Island

oOoOo

 

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation] || Kim Myungsoo [Infinite] || Choi Soona [Oc] || Jessica Jung [Girl’s Generation] || Han Maru [Oc]

Genre

Romance || Hurt || Family || Action

Length

Chaptered

Rating

 PG 17

Category

Fanfic

Summary

Someone who is unable to truly love one person has no right to love

 

WARNING : TYPO !!!

 

 

Don’t Know How to Love

Part 2

 

Author POV

 

“Oppa Gweanchana?”

Dengan tetap mengendalikan setirnya, ia terus mencuri pandang kearah Myungsoo, memastikan keadaan laki-laki tersebut baik-baik saja.

“Oppa…”

“Bisakah kau berhenti bertanya, Choi Soona?” suara Myungsoo terdengar dingin namun ada keletihan disetiap penggal katanya. Membuat Choi Soona, harus menggigit ujung bibirnya. Menghela napas kecil saat ia sadar tak ada gunanya terus bertanya, jika laki-laki itu sendiri tidak ingin ia berbicara.

Ia masih tetap melirik kearah kaca mobilnya untuk melihat Myungsoo yang masih memejamkan matanya. Dilihatnya penampilan laki-laki itu yang begitu berbeda dari apa yang ia lihat terakhir kali, tepatnya 2 bulan yang lalu. Pakaiannya lusuh, dengan rambut hitam yang berantakan. Ada luka disudut kiri bibirnya. Membuat Soona meringis, merasakan sakitnya luka tersebut.

Soona berusaha konsentrasi dengan kemudinya. Walau dalam hati ia terus berguman. Melontarkan semua pertanyaan tentang Myungsoo yang ia sendiri tidak akan mendapatkan jawabannya. Dari kejauhan, Soona melihat apotek yang memang buka 24 jam.

Bibirnya terangkat membentuk senyum memuaskan. Ia berencana membeli P3K yang bisa membantu mengobati luka Myungsoo.

Soona menghentikan mobilnya tepat didepan apotek tersebut, lalu beranjak keluar mobilnya untuk memasuki apotek itu. Myungsoo jelas tahu, bahwa Soona menghentikan laju mobilnya. Hanya saja Myungsoo tak tahu apa yang membuat Soona menghentikannya. Dan Myungsoo pun tak berminat untuk mengetahuinya. Tubuhnya begitu lelah. Sekedar membuka mata pun tak sanggup ia lakukan. Ia harus dalam keadaan baik-baik saja, supaya Tiffany tidak mengkhawatirkannya. Lalu menyuruh Myungsoo berhenti melindunginya.

Myungsoo merasakan sesak didadanya. Ia begitu ingin melindungi wanita tersebut. Ingin sekali menyelesaikan masalah wanita itu. Namun Myungsoo begitu menyadari posisinya saat ini. Ia, Kim Myungsoo tidak bisa bertindak apapun kecuali tetap disamping wanita itu. Setidaknya untuk saat ini.

Suara pintu mobil terbuka, meyakinkan Myungsoo bahwa Soona sudah kembali dan akan membawanya kekediaman Siwon secepatnya. Namun salah. Yang Myungsoo rasakan bukannya laju mobil tersebut, melainkan usapan lembut disudut bibirnya sebelah kiri. Tepat dimana salah satu gerombolan penjahat tadi memukulnya.

“Apa yang kau lakukan, Na-ya?” tanya Myungsoo masih enggan membuka matanya. Hanya berupa gumanan. Senyum kecil terlukis diwajah cantik wanita itu, tatkala Myungsoo memanggilnya dengan nama kecilnya.

“Mengobati luka oppa.” Soona menjawabnya dengan tenang dan lembut.

‘Babo,’ pikir Myungsoo.

“Kenapa bisa luka seperti ini? Baru bertemu saja sudah ada luka seperti ini.” Ucap Soona dengan bibir yang mengerucut.

“Seharusnya oppa bisa menjaga diri dengan baik. Bagaimana mungkin oppa bisa membuat luka seperti ini. Jika Eomma tahu, dia-”

“Tidak akan tau, jika tidak ada yang memberitahu.” Sela Myungsoo dengan suaranya yang datar. Membuat Soona menghentikan gerakan tangannya yang baru saja akan menempelkan plaster pada luka tersebut.

“Oppa berencana tidak pulang lagi hari ini?” tanya Soona dengan wajah yang heran kearah Myungsoo.

“Apa aku mengatakannya?” tanya Myungsoo, tanpa menjawab pertanyaan Soona.

“Oppa harus pulang. Bukannya Oppa tadi menyuruhku membawamu ke rumah Siwon Oppa?” lalu dengan gerak cepat Soona menempelkan plester itu dengan sedikit kasar, membuat Myungsoo meringis kesakitan.

Dengan gerakan perlahan Myungsoo membuka matanya, menatap lurus depannya. Yang memperlihatkan gedung apotek, tempat dimana Soona membeli perlengkapan untuk mengobatinya.

“Appa dan Eomma mengharapkan Oppa pulang.” Suara Soona terdengar bergetar ditelinga Myungsoo. Myungsoo memalingkan wajahnya kesamping kanannya. Ia tahu, sebentar lagi akan ada air mata yang keluar dari mata indah Soona.

Alih-alih menghindari percakapan tersebut. Myungsoo mengulurkan tangan kanannya yang terluka kehadapan Soona. Membuat Soona memekik pelan, karena terkejut. Tentu saja. Soona tidak mengetahui luka tersebut, karena Myungsoo menutupinya sejak tahu bahwa Soona lah yang hampir menabraknya.

“Kenapa bisa seperti ini?” Soona berkata dengan histeris. Soona merasakan kepalanya pening, dan rasa mual yang mengelilingi perutnya. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi.

Myungsoo tahu, kenapa Soona terlihat pucat seperti itu. Adiknya tersebut –‘tidak’ pikir Myungsoo, Soona bukanlah adik kandungnya–. Namun keduanya jelas dalam struktur keluarga yang sama. Soona, seperti yang Myungsoo ketahui. Begitu takut dengan darah. Jelas, alasan terkuat Myungsoo menutupi luka tersebut karena tak menginginkan Soona seperti saat ini. Namun ia tak punya banyak pilihan, Myungsoo harus mengalihkan pembicaraan.

“Aku akan kembali ke apotek untuk membeli perban lagi. Oppa tunggu disini!”

Myungsoo membiarkan Soona pergi memasuki apotek itu lagi. Lalu mengambil ponsel disaku celananya. Letaknya yang berada disebelah kanan tubuhnya, membuat Myungsoo kesulitan untuk mengambilnya dengan tangan kiri. Setelah berhasil diambilnya ponsel tersebut. Myungsoo menekan angka 2 sebagai panggilan cepat ke nomer seseorang.

 

***

 

Siwon baru saja membukakan pintu rumahnya, untuk bisa dimasuki Tiffany terlebih dahulu. Getaran disaku celananya menyadarkan Siwon bahwa ada yang menghubunginya. Dan Siwon jelas tahu siapa orang itu.

“Dangsineun eodi?” tanya Siwon langsung tanpa melihat siapa yang menelponnya.

“Berikan ponselnya pada Fany Noona.” Siwon mendengus kesal atas perintah Myungsoo. Ya tentu saja itu Myungsoo. Siapa lagi yang akan bertingkah kurang ajar padanya kecuali adiknya itu.

Siwon berjalan menghampir Tiffany yang membelakanginya. Dilihatnya Tiffany yang sedang melihat bingkai besar yang didalamnya terdapat potret besar keluarganya. Siwon sekilas melihat potret tersebut. Namun langsung berdeham kecil untuk menyadarkan Tiffany, akan kehadirannya.

“Oo..” Tiffany sedikit terkejut dengan adanya Siwon yang berdiri tepat dibelakangnya. Tiffany tersenyum kikuk. Sedangkan Siwon hanya menatapnya datar.

“Myungsoo ingin bicara denganmu.” Tiffany membelalakan matanya saat melihat Siwon mengulurkan ponsel kepadanya. Terlebih saat mengetahui Myungsoo lah yang menghubungi Siwon untuk bicara kepadanya.

Tiffany menerima ponsel tersebut dan menempelkannya pada telinga kanannya. “Myungsoo-yah…”

“Noona.” Tiffany tersenyum lega, ia tahu jelas suara Myungsoo. Terkesan dingin namun menyejukkan untuknya.

“Dangsineun eodi?”

“Aku masih dijalan. Sebentar lagi aku akan menemui Noona.”

“Jinjja?”

“Nde. Noonatunggu saja dirumah Siwon Hyung. Dia pasti akan menjaga Noona dengan baik.” Tiffany langsung mengernyit saat Myungsoo mengatakan hal itu. Dengan sedikit melirik kearah Siwon yang tengah bersedekap memperhatikan Tiffany. Membuat Tiffany salah tingkah, dan gugup karena ketahuan melirik kearah Siwon. Lalu membalikkan badannya, membelakangi Siwon.

“Myungsoo-yah, kau harus segera kesini.” Ucap Tiffany lirih.

“Nde.” Tiffany mengangguk kecil, dan tersenyum lega atas jawaban Myungsoo.

“Kalau begitu, aku matikan sambungannya. Noona tenang saja, Siwon Hyung orang yang baik. Dia tidak akan jahat pada Noona. Jadi, Noona diam saja disana. Arraseo?”

“Arraseo.” Jawab Tiffany pelan. Walau dalam hatinya, ia berharap segera meninggalkan tempat ini. Tiffany tidak terbiasa tinggal ditempat yang ia tak kenal siapa pemiliknya. Walau jelas ia tahu, bahwa Siwon adalah kakaknya Myungsoo. Tapi tetap saja, menurut Tiffany, Siwon adalah orang asing.

Sambungan telepon terputus. Tiffany mendesah pelan, menatap layar telpon Siwon yang terpasang foto Siwon dan Myungsoo. ‘Apa mereka begitu dekat?’

“Apa Myungsoo sudah mematikan teleponnya.” Tiffany tersentak kaget karena tiba-tiba Siwon berdiri tepat dibelakangnya. Dan mencondongkan kepalanya melalui bahu Tiffany. Sehingga suara Siwon benar-benar tepat ditelinganya.

Siwon hanya memandangnya datar, ketika melihat wajah Tiffany yang kaget. Tangannya terulur untuk meminta kembali ponsel yang tengah digenggam oleh Tiffany.

“Gamsahamnida.” ucap Tiffany pelan. Memberikan ponselnya pada Siwon dan langsung diterima Siwon.

Siwon mengangguk kecil lalu berjalan melalui Tiffany dan duduk di sofa miliknya. Tangan kanannya bergerak menyuruh Tiffany untuk duduk disofa tersebut juga, tepatnya disebrang tempatnya duduk, yang terpisah oleh meja kaca.

Siwon menatap Tiffany tajam, matanya menilai sosok wanita didepannya tersebut. Ada perasaan aneh yang membuatnya merasa tak nyaman setiap kali melihat Tiffany. Wajahnya begitu familiar untuk Siwon, namun ia tak bisa memastikannya. Karena sesungguhnya ia sama sekali tak tahu-menahu tentang wanita ini.

Rambut panjangnya yang hitam dan lurus. Rambutnya terlihat sedikit berantakan, dengan topi yang menutupi kepalanya. Siwon jelas tahu topi milik siapa yang digunakan Tiffany, karena ia sendiri yang memberikannya untuk Myungsoo.

Mengingat itu membuat Siwon kesal setengah mati kepada adiknya tersebut. Bagaimana mungkin laki-laki itu selalu membuat ulah hanya untuk melindungi wanita dihadapannya. Setelah hampir 2 bulan lamanya Myungsoo tidak menghubunginya, tiba-tiba saja hari ini ia menyuruh untuk membantunya menolong Tiffany.

Siwon memincingkan matanya. Semakin kesal karena wajah Tiffany yang begitu polos. Tiffany begitu gugup karena ia menyadari Siwon terus memperhatikannya. Maka dari itu Tiffany terus memainkan jarinya menatap lantai dibawahnya. Ia terus berdoa semoga Myungsoo cepat kembali dan membawanya pergi dari Siwon.

“Kapan dan dimana kau bertemu Myungsoo pertama kali?” Tiffany tersentak. Dan Siwon jelas melihat tubuh Tiffany yang tiba-tiba menegang saat ia bertanya dengan suara dinginnya tersebut.

“Emm…” Tiffany membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya. Mengatur napasnya pelan-pelan, ia merasakan hawa dingin yang tak mengenakan. Membuatnya ingin menangis saat itu juga, karena begitu takut.

“Kalian berpacaran?” tanya Siwon lagi, tanpa memperdulikan keringat dingin yang meluncur di wajah cantik Tiffany.

“Hah?” Tiffany terkaget dengan pertanyaan Siwon. Sedangkan Siwon hanya tersenyum sinis melihat mata jernih Tiffany yang membulat seketika.

“Jadi…apa hubungan kalian? Kau menggoda adikku yang jelas lebih muda darimu.” Mata Tiffany memanas, tangannya terkepal erat diatas pangkuannya dan menatap Siwon tajam.

“Aku jelas tidak menggoda Myungsoo!” ucap Tiffany dengan suara yang ia buat setenang mungkin.

Siwon tertawa kecil, lalu memandang Tiffany tak kalah tajam. “ Lalu?” tanya Siwon lagi dengan sorot mata yang begitu dingin.

“Aku rasa ini tidak ada urusannya dengan orang asing seperti mu.” jawab Tiffany tegas membalas tatapan dingin Siwon.

“Dia adikku, jangan lupakan itu.”

“Dan aku sudah menganggapnya sebagai adikku juga.” Desis Tiffany.

“Jinjja?” Siwon tersenyum mengejek kearah Tiffany. Dilihatnya lagi sosok Tiffany yang berada dihadapannya tersebut. Wanita itu mengenakan kaos biasa berwarna putih dengan dilapisi kemeja hitam besar yang lagi-lagi milik Myungsoo. Dan tak lupa Siwon mengingatkan pada dirinya sendiri, bahwa sepatu yang tengah digunakan wanita tersebut. Milik Myungsoo.

‘Sebenarnya apa yang ada diotak Myungsoo, sampai-sampai semua barangnya digunakan wanita ini.’

Tiffany memalingkan wajahnya, tak berniat terus-menerus menatap wajah tampan dihadapannya. Napasnya naik turun. Tiffany begitu sakit hati, dengan perilaku kakaknya Myungsoo tersebut. Jelas berbeda dengan perilaku Myungsoo terhadapnya yang begitu lembut dan melindungi. Walaupun Myungsoo sebenarnya sosok yang pendiam, dingin dan terkesan misterius. Tapi ia akan memperlakukan Tiffany dengan baik.

“Aku yakin sekali Myungsoo tidak tertarik dengan tubuhmu.” Tiffany menatap tak percaya pada Siwon saat tiba-tiba laki-laki tersebut kembali berbicara dengan tubuh yang bersandar pada sofa dan tangan yang bersedekap didepan dadanya.

“Mwo?”

Siwon mengangguk pelan saat Tiffany seakan ingin kembali mengkonfirmasi kembali ucapan Siwon tersebut.

“Aku bukan wanita seperti itu.”

“Lalu, wanita seperti apa?” Siwon memajukan tubuhnya, walaupun tetap tak akan benar-benar berada didepan wajah Tiffany. Tapi gerakan tersebut tentunya menekankan bahwa ia sedang mengintimidasi gerakan Tiffany.

“Dia pelindungku, orang yang selalu menjagaku. Dia adikku.” Ucapannya bergetar. Sial. Tiffany tidak bisa mengendalikan dirinya. Ia jelas tak terima atas tuduhan itu. Ia tak menginginkan kata-kata itu keluar dalam situasi ini. Ia ingin mempunyai pemikiran yang baik terhadap keluarga Myungsoo. Dan Tiffany tahu bahwa Myungsoo begitu menyayangi Siwon dari setiap ceritanya.

“Aku jelas kakak yang sebenarnya, Tiffany-sii.” Masih dengan posisi yang sama. Siwon menekan perkataannya dengan intonasi yang ia tahan.

“Kakak tiri!” Siwon memelototkan matanya mendengar ucapan ketus yang dilontarkan Tiffany.

“Aku sudah menganggapnya adik kandungku sendiri, Tiffany-ssi.” Siwon berteriak tak terima dan bangkit dari duduknya. Menatap marah pada Tiffany karena mengatakan Myungsoo dan dirinya hanyalah saudara tiri. Siwon begitu menyayangi Myungsoo walaupun mereka terlahir dari rahim yang berbeda. Dan juga ayah yang berbeda.

“Itulah posisiku saat ini. Walaupun kami tidak ada ikatan darah, aku sudah menganggapnya adik ku sendiri, Siwon-ssi.” Tiffany menengadahkan kepalanya menatap Siwon yang tengah berdiri dan menatapnya dengan tajam. Tatapan yang membuat Tiffany berpikir, jika ia tak cepat-cepat memalingkan wajahnya. Maka ia akan terbunuh saat itu juga.

“Apa yang kalian berdua lakukan?” suara dingin yang tiba-tiba terdengar diantara deruan napas Tiffany dan Siwon membuat keduanya menoleh.

Choi Soona yang berada tepat disamping Myungsoo saat laki-laki tersebut memandang Tiffany dan Siwon dengan aura dinginnya membelalakan matanya melihat sosok yang begitu dikenalnya. Baru saja ia akan mengatakan sesuatu, tangan dingin Myungsoo yang tidak terlilit perban. Menggenggamnya dengan erat.

Soona menatap Myungsoo tak percaya dengan kedua bola mata yang sudah berair. Dia kembali menatap kedua orang yang bersitegang tersebut dengan tubuhnya yang bergetar.

“Myungsoo-yah.” Suara lembut Tiffany yang terdengar gemetar membuat Myungsoo mengalihkan tatapannya dari Siwon yang kemudian mendengus kesal karena tahu Tiffany akan mengadukannya pada Myungsoo.

Myungsoo melepas genggamannya dari tangan Soona. Yang masih terdiam dengan sorot mata kosong.

Myungsoo berjongkok didepan Tiffany dan menghapus air mata Tiffany yang mengalir di kedua sisi pipinya. Yang bahkan tak disadari Tiffany bahwa ia menangis karena begitu lega Myungsoo datang pada waktu yang tepat.

“Uljima.” Ucap Myungsoo pelan. Tiffany mengangguk patuh.

“Dia memang tidak menyukai siapapun. Jangan khawatir.” Myungsoo tersenyum lembut, berusaha menenangkan Tiffany yang terlihat cemas tersebut.

“Apa maksudmu hah?” Siwon merasa tersindir dengan ucapan Myungsoo.

Tiffany langsung mendelikan matanya mendengar seruan Siwon yang tengah menatap ia dan Myungsoo dengan wajah kesal. Sedangkan Myungsoo kembali berdiri dan memutar tubuhnya untuk melihat wajah Siwon.

Siwon dan Myungsoo saling memandang satu sama lain. Jika Myungsoo memandang Siwon dengan wajah datarnya, Siwon justru menampakkan ekspresi kesalnya karena melihat wajah Myungsoo yang lebam serta telapak tangannya dibalut oleh perban putih.

“Kebaikan apa yang kau lakukan sehingga meninggalkan penghargaan diwajahmu itu Myungsoo?”

Myungsoo tersenyum miring mendengar pertanyaan Siwon yang ia sadari menyudutkan posisi Tiffany. Sedangkan Tiffany menundukan kepala sambil berguman tak jelas, dibelakang Myungsoo. Soona sendiri masih menatap tak percaya kejadian yang dialaminya saat ini.

Siwon berdacak lidah melihat Myungsoo hanya memandangnya dan tak menjawab pertanyaannya tersebut. “Bawalah wanita itu pergi. Setelah itu kembalilah kesini, Hyung ingin berbicara penting padamu.”

“Noona akan tetap disini.”

“MWO?” Siwon menatap Soona yang terlihat terkejut dan berkata hal yang sama seperti Siwon.

Soona terlihat gugup dan mengalihkan kedua matanya kesemua arah kecuali Siwon. Siwon mendengus kembali melihat tingkah pola adik perempuannya tersebut.

“Kau gila?” tanya Siwon, sambil menunjukkan jari telunjuknya kearah Myungsoo.

“Ya, Oppa!”

“Mwo?” tanya Siwon cepat saat Soona mengintrupsi pembicaraannya dan Myungsoo. Soona menggelengkan kepalanya saat Siwon memelototinya, dan mengerucutkan bibirnya.

“Myungsoo…tidak perlu.” Tiffany menarik tangan Myungsoo dari arah belakang. Tiffany benar-benar tidak berniat untuk tinggal bersama Siwon. Membayangkannya saja sudah membuat Tiffany merinding.

“Dengarlah! Wanitamu itu tidak menginginkannya.” Siwon memandang sengit Tiffany yang bersembunyi dibalik tubuh Myungsoo dengan menggenggam tangan Myungsoo yang tidak terluka.

‘Sejak kapan ia berdiri dibelakang Myungsoo?’

“Noona akan tetap disini. Sampai aku bisa mengalihkan perhatian penjahat-penjahat itu.” Tiffany menatap wajah Myungsoo yang terlihat tenang saat mengucapkannya. Ia tahu Myungsoo pasti merasakan sakit ditubuhnya tatkala melawan para penjahat itu. Tiffany ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia tak berani mengatakannya karena sudah berjanji pada Myungsoo akan menuruti semua omongannya.

Soona mengernyitkan alisnya mendengar penuturan Myungsoo. Di otaknya terus berputar semua kepingan masa lalu yang membuatnya pusing. Ia menatap Myungsoo dengan mata yang terluka. Lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut, membuat Siwon berteriak memanggil namanya.

Bukan. Bukan Siwon yang ia harapkan untuk memanggil namanya. Bukan kakak kadungnya yang ia harapkan begitu mencemaskannya saat ini. Karena Soona tahu. Kakak kandungannya tersebut pun tak memahaminya. Seharusnya memang bukan Siwon. Bukan Siwon yang mengejar dan menarik tangannya. Memeluknya penuh kehangatan.

“Waegeure? Kau cemburu karena Myungsoo bersama wanita itu?” Soona terisak pelan saat suara Siwon menanyakan perihal yang membuatnya terluka. Dibenamkannya wajah mungilnya pada dada Siwon yang bidang. Membuat kemeja kakaknya tersebut basah.

Siwon menghela napas panjang. Ia tahu ini salah, seharusnya ia tak mendukung dan mendorong adiknya akan persaannya terhadap Myungsoo yang jelas-jelas adalah saudara tiri mereka. Tapi Siwon begitu menyayangi Soona, membuatnya tak akan sanggup melihat adiknya tersakiti hanya karena sebuah perasaan cintanya pada Myungsoo.

Siwon menggertakan giginya. Hatinya begitu kesal mengingat wanita yang dilindungi Myungsoo tadi. Tiffany memang cantik, dan Siwon mengakui itu. Tapi jelas Siwon sangat tahu bahwa Myungsoo mengetahui perasaan adiknya tersebut pada laki-laki itu. Dan bagaimana mungkin adiknya tersebut menyakiti Soona dengan terus berada dipihak Tiffany.

“Oppa.” Suara lembut Soona mengagetkan Siwon yang membuatnya dengan reflek melepaskan pelukan mereka.

“Ye?” tanya Siwon dengan memandangi wajah lugu adik perempuannya tersebut. Ada sorot yang berbeda pada kedua mata itu. Sorot mata yang tak mampu ditembus oleh Siwon untuk mengartikannya.

“Izinkan Fany Eonnie untuk tinggal bersamamu, selama Myungsoo oppa menyelesaikan masalahnya.” Siwon melongo heran mendengar ucapan

***

“Myungsoo-yah, Noona tidak ingin berada disini lebih lama lagi. Biarkan Noona kembali kerumah. Jebal…!”

Keduanya kini berada diteras rumah Siwon, terduduk di kursi yang saling berdampingan. Tiffany memandang Myungsoo penuh harap, agar bisa mengabulkan keinginannya. Sedangkan Myungsoo hanya menatap lurus depannya, seakan objek itu lebih menarik dibandingkan menatap wajah Tiffany yang semakin memelas.

Ditengguknya lagi bir kaleng yang ia ambil dari kulkas milik Siwon. Wajahnya terlihat tenang, seperti tidak ada satupun yang menjadi bahan pemikirannya. Walau sebenarnya itu adalah kebalikannya.

“Myungsoo-yah….” Kali ini Myungsoo menolehkan kepalanya, mamandang mata Tiffany yang terlihat sedih dan muram. Myungsoo mengeratkan pegangannya pada kaleng bir tersebut, tanpa sadar membuat kaleng tersebut penyok.

Melihat itu Tiffany langsung membelalakan matanya. Lalu menatap Myungsoo dan kaleng itu secara bergantian. Baru saja ia ingin mengatakan sesuatu. Namun suara dingin Myungsoo menghalanginya.

“Karena hanya Hyung yang bisa melindungimu.” Tiffany tidak mengerti, ia ingin sekali bilang seperti itu. Tapi tatapan tajam Myungsoo membuatnya menghentikan niatnya.

“Percayalah padaku. Siwon Hyung akan melindungimu.” Tiffany mengerucutkan bibirnya kesal mendengar Myungsoo menyebut nama Siwon.

“Dia membenciku.”

“Noona juga membencinya.” Myungsoo mengambil kaleng bir yang kedua dan menenggaknya langsung. Oneshot.

“Aku tidak membencinya.” Elak Tiffany. ‘Hanya saja ia menyebalkan,’ pikir Tiffany.

Myungsoo tersenyum miring, dan menatap Tiffany yang sedang berguman tak jelas. Myungsoo melepas topi yang digunakan Tiffany dan mengacak rambut hitam Tiffany. Membuat Tiffany memberenggut kesal, namun tersenyum setelah itu.

“Kau mau kemana?” Tiffany langsung ikut berdiri melihat Myungsoo yang berdiri dan memakai topinya kembali.

Myungsoo tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya yang hanya dimiliki dipipi sebelah kanannya. Tidak seperti Siwon yang memiliki lesung pipi yang manis dikedua sisi pipinya. Yang membuat para wanita jatuh hati pada kakaknya tersebut hanya dengan sekali lihat.

“Aku akan kembali ke rumah dan mengambil beberapa keperluan Noona selama tinggal disini.” Myungsoo melangkah masuk kembali kedalam rumah Siwon, dan meninggalkan Tiffany yang masih terdiam tak percaya.

Tiffany tersadar dan menyusul Myungsoo yang ada didepannya. “Kau benar-benar akan meninggalkan Noona dengan si jutek itu?”

“Siapa yang kamu maksud si jutek?” Tiffany terlonjak kaget hingga melompat dan buru-buru sembunyi dibelakang Myungsoo.

“Jadi…bagaimana Hyung?” Siwon menghela napas, ia tak habis pikir dengan apa yang ia alami hari ini. Myungsoo yang menyuruhnya menolong Tiffany yang berada di sebuah club kecil. Lalu baru saja, Soona memintanya untuk membiarkan Tiffany berada dirumahnya.

Apa membunuh adik sendiri itu termasuk dosa besar? Kalau tidak maka Siwon akan melakukannya saat ini juga. Pikir Siwon sekarang.

Siwon memejamkan matanya. Kepalanya berdenyut nyeri, lalu dengan perasaan yang tak ikhlas sama sekali. Siwon menganggukan kepalanya. Pasrah.

Myungsoo tersenyum puas, sedangkan Tiffany memandang kecewa melihat senyum Myungsoo. Soona sendiri hanya menghela napas panjang.

 

***

 

FLASHBACK

 

Bukkkk

Tiba-tiba saja tubuh laki-laki berotot itu tumbang, jatuh tepat diatas tubuh seorang laki-laki muda dengan wajah yang sudah babak belur. Buru-buru laki-laki muda tersebut menyingkirkan laki-laki berotot tersebut. Dilihatnya dari balik tubuh laki-laki berotot tersebut, seorang laki-laki yang baru saja menolongnya dengan memukulkan sebuah balok tepat ditengkuk laki-laki berotot yang menimpanya, tengah menghadapi gerombolan yang lainnya.

          Laki-laki muda tersebut langsung bangkit, dan membantu laki-laki yang baru saja menolongnya sedang menghajar komplotan penjahat yang menyerang.

Hyung!” Siwon menoleh, saat Myungsoo –laki-laki muda tersebut memanggilnya. Myungsoo lari dengan cepat kearah Siwon, mendorong Siwon kesamping lalu menapakkan kaki kanannya ketembok, membelokan sedikit kakinya dan mengarahkannya ke lengan penjahat barusan. Membuat pisau kecil nan tajam yang hampir saja mengarah ke Siwon terjatuh. Melihat itu, Siwon langsung dengan cekatan mengambil pisau tersebut dan melemparkannya tepat pada pundak kiri salah satu kawanan penjahat lainnya itu.

Ada tiga orang. Dan salah satunya sudah dipastikan tidak akan bergerak lagi, mengingat Siwon telah menghantamnya dengan sebuah balok. Tinggal dua orang lagi dan itu sebanding untuk Siwon dan Myungsoo.

Dua penjahat lainnya. Mendengus, membuang ludah mereka. Menatap Siwon dan Myungsoo sengit. Salah satu dari mereka memegang pundaknya yang terkena tusukan pisau yang dilempar Siwon.

Siwon dan Myungsoo tertawa sinis menatap keduanya menahan sakit ditubuh mereka. Myungsoo sendiri menyeka sudut bibirnya yang terluka.

“Pergilah dan bawa teman kalian ini. Sebentar lagi polisi akan datang ketempat ini.”

“Tsk, kalian pikir kalian siapa hah?”

“Kalian mau tau siapa kami?” tanya Siwon dengan tatapan mematikan. Myungsoo hanya terdiam disamping kakaknya. Matanya terus mengawasi seseorang dibalik drum. Tubuh wanita itu bergetar hebat, tangannya melingkar disekeliling kakinya yang tertekuk. Kepala wanita itu pun terbenam dikedua kakinya yang tertekuk.

Myungsoo tidak mendengarnya dengan jelas semua perkataan orang-orang tersebut dan juga kakaknya. Yang jelas, setelah satu kalimat meluncur dari mulut Siwon yang seakan hanya kata itu yang mampu didengar Myungsoo. Yang selanjutnya adalah, gertakan giginya dan kepalan tangan yang keras menahan emosi yang kembali tersulut.

Dengan mata yang masih terpusat pada wanita itu. Kata-kata Siwon terus bergema dikepalanya.

“Kim Jong Kyu. Kalian tau? Dia ayah kami.”

Seakan kata itu tak mampu membuatnya melebur dari kepeningan yang melanda otaknya. Satu hal lagi yang membuat dunianya kembali terguncang. Cukup membuat tubuhnya membeku dan merasa bahwa dunianya sendiri berhenti berputar. Myungsoo sudah melihat sang kakak mendekap wanita itu. Menenangkannya. Membelai rambut indah wanita tersebut. Menyusuri wajahnya dan memhapus air mata wanita tersebut.

Myungsoo tersenyum miring, saat dilihatnya kedua orang tersebut –kakaknya dan sang wanita tersebut. Berjalan kearahnya, dengan tangan Siwon yang melingkar dipundak sang wanita. Siwon tersenyum manis kearah Myungsoo.

“Gomawo Myungsoo-yah.” Ucap sang wanita lemah. Myungsoo hanya mengangguk.

“Aku ambil mobil dulu. Aku memarkirnya tak jauh dari sini. Kalian berdua tunggu disini dulu. Arraseo?” Siwon menyerahkan tubuh lemah wanita itu pada pelukan Myungsoo.

“Gomawo…” Wanita itu kembali berucap, setelah Siwon melangkah menuju tempat dimana mobilnya berada.

“Sudahlah, aku tidak banyak membantu.” Sang wanita mendongakkan wajahnya menatap Myungsoo yang menatap lurus kearah depannya.

Myungsoo tahu bahwa wanita itu menatapnya. Maka itu, Myungsoo kembali menatap kedua manik mata teduh tersebut. Myungsoo tidak menyukai itu. Terlihat jelas wajah Myungsoo menampakkan ketidaksukaannya setelah melihat mata wanita itu yang sembab dan ketakutan.

“Walaupun aku menolongmu. Pada akhirnya, hanya Hyung-lah yang bisa melindungimu.” Ucap Myungsoo lirih.

“Myungsoo-yah…”

 

FLASHBACK OFF

 

[TO BE CONTINUED]

 

 

82 thoughts on “DON’T KNOW HOW TO LOVE Part 2

  1. Keren thor ^^
    sbnernya fany thu sapa kok myungsoo ngelindung.in dia and hanya siwon yg bisa ngelindungi.in ???
    Semoga pas sifany tinggal serumah ada moment romantis ^^
    next part jgn lama2 thor ditunggu ^^

  2. masih bingung jln ceritanya, apalagi yg flashback hrus baca berulang2… daebak buat author yg bisa bikin readers nya ekstra mikir haha… ♥♥♥

  3. gak mw jadi silent reader .. maka.a aku ikutan coment .. aku hanya ingin mehnghargai karya karya admin SI .. pokok nya semangt trus ya bikin crita.a…
    d.tunggu dan daebak untuk admin song ..karya.a selalu bgus ..hhehehe

  4. Seru kok ceritanya tapi aku sedikit bingung Tiffany eonni disini siapa sih??
    Siwon oppa dingin banget huh😡
    kok banyak scene Myungsoo and Tiffany eonni ya hehe😀
    penasaran Tiffany eonni sebenernya siapa
    next part

  5. Ooo….kirain myungsoo itu adiknya fany.ternyata adiknya siwon dan juga saudara tiri.tapi,kenapa myungsoo bersikeras melindungi fany,apa hubungannya fany dan myungsoo….?
    Hahaha…….fany bilang siwon jutek,apalagi fany tinggal serumah sama siwon,pastinya jadi seru.
    Penasaran akut tingkat tinggi nih admin.jadi saya lanjut baca aja ya admin.tetap semangat admin.
    Admin jjang.sifany jjang.
    Admin saya minta maaf ya,kemarin yang saya comment dipart 1,saya tulis author bukan admin, sekali lagi saya minta maaf ya.mianhae admin.
    Hwaiting admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s