[Re-Post] FALLING IN LOVE WITH PARTNER

FALLING IN LOVE WITH PARTNER

FALLING IN LOVE WITH PARTNER

 

Disclaimer :  This Fanfiction is original story of mine. The cast belongs to themselves. So, Don’t bash me.

Falling In Love With Partner© Song Haneul
Publish by Sifany Island

 

oOoOo

 

Main Cast

Choi Siwon [Super Junior] || Tiffany Hwang [Girl’s Generation]

Additional Cast

Nickhun Horvejkul [2PM] || Choi Sooyoung [Girl’s Generation] || Cho Kyuhyun [Super Junior] || Victoria Song [F(x)] Etc.

Genre

Romance || Friendship || Hurt

Length

Long Chaptered

 Rating

 PG 18

Category

Fanfic

Summary

Berawal dari sebuah pengkhianatan, kisah cinta itu dimulai.

oOoOo

Falling In Love With Partner

 

=

.

.

=

 

“Halmonie jebal …”

Terdengar suara memohon keluar dari bibir manis yeoja cantik yang terus mengekori neneknya sejak pagi. Seperti tak bosan dengan kegiatannya tersebut, sang gadis terus saja mengikuti kemana neneknya pergi, dan terus merengek selayaknya anak kecil yang minta dibelikan mainan kesukaannya.

“Halmoniee …”

“Halmonie …”

“Ya ! Halmonie.. jebal dengarkan aku dulu” kali ini Tiffany –yeoja yang terus mengikuti neneknya tersebut- terlihat sudah kehilangan kesabarannya.

“Halmonie, tolong izinkan aku pergi ke Seoul.. Aku mohom, ehm?” kedua tangannya ditangkupkan didepan dadanya, memohon dengan sangat kepada neneknya tersebut.

“Shireo”

Seketika kedua tangannya terjatuh begitu saja, begitu mendengar jawaban dari neneknya.

“Halmonie …”

“Miyoungie, buat apa kamu kesana.. toh, kamu tidak tau dia tinggal dimanannya kan?” tanya neneknay, sedangkan Tiffany semakin cemberut begitu menyadari kebenaran peerkataan sang nenek.

“Sudahlah, kalau dia memang mencintaimu dan serius denganmu.. dia pasti akan kembali kesini dan menikahimu” setelah mengatakan itu, sang nenek berlalu meninggalkan Tiffany yang terlihat sedih kali ini.

“Oppa, oddiga? Neomu boghosippo” ucapnya dalam hati. Kini, airmata yang sejak awal Tiffany tahan, agar tidak keluar dari tempatnya, akhirnya tak mampu lagi ditampungnya. Seketika airmata itu jatuh dengan sendirinya, membawa semua rasa rindu Tiffany kepada tunangannya.

Dia masih ditempatnya, terdiam mengenang semua cerita indahnya bersama kekasihnya, terkadang senyum simpulnya keluar, membuatnya terlihat lebih cantik dibandingkan berberapa menit sebelumnya, saat neneknya tidak mengizinkan Tiffany pergi ke Seoul menemui tunangannya, yang kini menetap disana.

Sudah hampir satu tahun ini, Nickhun –tunangannya- tidak memberi kabar lagi kepada Tiffany. Ia tidak tau alasan apa yang membuat Nickhun berlaku seperti itu, namun itu membuat Tiffany khawatir akan keadaan Nickhun. Segala pemikiran buruk terlintas dalam pikirannya mengenai Nickhun, namun Tiffany selalu berusaha menepisnya.

Kini Tiffany mulai bangkit dan melangkahkan kakinya menuju suatu tempat, berlari-lari kecil dengan wajah penuh harap.

Tibalah kini ia didepan sebuah gereja tua yang asri, dilangkahkannya kaki mungilnya yang indah secara perlahan kedalam Gereja tersebut. Dan kini ia tepat berada didepan altar gereja tersebut, Tiffany mulai bersimpuh dan memejamkan mata, tidak lupa tangannya dilipat dengan sempurna tepat didepan dadanya. Kepalanya menunduk, membisikkan beberapa harapan dan do’anya berharap Tuhan membantunya lagi kali ini.

“Mianhae Halmonie…” ucapnya setelah membuka matanya, dan menatap lurus tanda salip yang terletak didepannya.

oOoOo

“Gwenchana oppa, aku bisa pergi sendiri”

Jinjayo?”

“Ne~, oppa tidak perlu khawatir, lagi pula aku hanya menjemput Eomma, setelah itu aku akan langsung pulang kerumah”

Namja tersebut menghela nafasnya, tatkala kekasihnya terus saja menolak tawarannya, untuk mengantarkan kekasihnya tersebut menjemput Ibunya.

Arraso, hati-hatilah dijalan.. dan jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai ditujuan, arrachi?

“Ne~, Gomowoyo Siwon Oppa… Saranghaeyo.. annyeong..”

titt titt titt

Siwon hanya menggelengkan kepalanya, mendengar nada selanjutnya dari Handphone yang digenggamnya. Cho Sooyoung, selalu saja mengakhiri teleponnya sebelum mendengar balasan terakhir dari Siwon.

Namun bagi Siwon itu tidak masalah sama sekali, selama itu adalah kekasihnya –Cho Sooyoung- maka Sieon akan memaklumi hal tersebut.

Nado Saranghaeyo

Senyumnya mengembang, setelah mengucapkan kata-kata tersebut.

“Ah~ Aku benar-benar bahagia karena memilikinya”

oOoOo

 

“Huft…”

Aigooo, melelahkan sekali..” Tiffany merenggangkan kedua tangannya kekanan dan kekiri, ia merasakan seluruh tubuhnya kaku karena perjalanan jauh yang baru saja ditempuhnya.

“O.. aku harus kemana sekarang?” Tiffany celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya, dilihatnya puluhan orang sibuk mondar-mandir untuk masuk atau keluar dari stasiun. Tiffany berjalan kearah pintu besar yang ada didepannya.

Kini Tiffany mulai menuruni tangga satu persatu dengan tatapan penuh kagum, melihat sekitarnya yang kini ada dilihatnya.

“Omo, Seoul Jjang! Waahhh…. Daebak, pantas saja oppa bercita-cita pindah ke Seoul..”

Di sinilah Tiffany, di Ibukota Korea Selatan yyang terkenal dengan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, tempat-tempat keramaian yang menakjubkan dan jangan lupa banyak sekali hal-hal hebat lainnya yang berada di Seoul dan tidak akan ditemuinya dikota asalnya, Busan.

“Halmonie, aku janji akan segera kembali secepat mungkin dan membawa Nickhun oppa kembali.. mianhae Halmonie…” Tiffany tersenyum meyakinkan hatinya, kini ia harus berusaha menemukan keberadaan Nickhun.

Tiffany melanjutkan kembali langkahnya yang sempat tertunda, digenggamnya dengan erat tas yang kini dibawanya. Sambil terus memperhatikan sekitarnya, Tiffany berusaha mengingat-ingat, apakah Nickhun pernah mengatakan sesuatu tentang Seoul yang menyangkut dengan tempat tinggalnya. Tapi Tiffany begitu yakin, Nickhun bahkan belum memberi tahu alamatnya yang di Seoul kepada Tiffany. Setiap kali Tiffany memintanya, Nickhun akan mengalihkan pembicaraannya.

Sekarang ini, Tiffany sedikit frustasi, karena semakin bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Karena berjalan dengan keadaan melamun, Tiffany tidak menyadari bahwa didepannya ada seseorang yang sedang berbicang menggunakan telepon selularnya. Dan tanpa bisa dikendalikan Tiffany menabrak orang tersebut, sehingga membuat laki-laki yang didepannya sedikit limbung dan kehilangan kendalinya membuat Handphone yang dipegangnya terjatuh dan tergeletak tak berdaya.

Tiffany terkejut, dan reflek menutup mulutnya melihat Handphone namja tersebut terbelah menjdi dua. Sedangkan laki-laki itu sendiri, terlihat syok dengan apa yang baru saja dialaminya. Ditatapnya wanita yang berada tepat dibelakangnya, merasa diperhatikan Tiffany menundukkan kepalanya.

“Apa anda tidak memilik mata, aghassi?” ucap laki-laki tersebut dengan penekanan disetiap katanya, membuat Tiffany semakin menundukkan kepalanya.

“Jeongmal Mianhamnida, tuan.. aku tidak sengaja menabrakmu” ucapnya pelan, Tiffany benar-benar tidak berani menatap langsung wajah namja tersebut.

Tiffanhy benar-benar menyesal karena menabrak laki-laki tersebut, ia takut laki-laki tersebut meminta ganti rugi atas rusaknya Handphoneanya itu. Bukannya tidak mau bertanggungjawab, hanya saja saat ini, persedian uang Tiffany hanya mampu digunakan untuk pencarian Nickhun selama ia berada di Seoul.

Siwon –laki-laki yang baru saja ditabrak Tiffany- berdecak kesal, mengingat ia sedang berbicara dengan rekan bisnisnya barusan.

“Sudahlah.. aku malas meladeni orang sepertimu” setelah mengatakan itu, Siwon mulai beranjak meninggalkan Tiffany, namun baru beberapa langkah, sebuah tangan menghentikan langkahnya dengan memegang lengan kekar milik Siwon.

Siwon kembali menatap Tiffany dengan wajah penuh tanya. Sedangkan Tiffany terlihat gugup dan langsung melepaskan tangannya, begitu menyadari kelakuannya yang dengan berani memegang lengan laki-laki tersebut.

“Jengmal Mianhae, sekali lagi aku benar-benar minta maaf tuan.. aku akan menggantinya, tapi tidak untuk sekarang, sekali lagi maafkan atas kesalahanku ini”

“Cih.… Kamu fikir harga handphone itu bisa kamu bayar dengan dengan barang-barang yang kamu punya..” ucap Siwon tajam, membuat Tiffany melongo heran atas ucapan laki-laki yang berada tepat didepannya.

“Sudahlah, handphone itu sudah tidak penting bagiku. Aku masih bisa membelinya dengan uangku sendiri. Jadi berterima kasihlah, karena aku sedang berbaik hati kali ini”

Perkatan Siwon barusan benar-benar membuat Tiffany takjub, bagaimana mungkin ada laki-laki semacam dia, batinnya. Selama ini, ia hanya tau Nickhun, laki-laki yang begitu ramah dan memiliki sopan santun yang baik dihadapannya. Namun, laki-laki didepannya tersebut benar-benar membuatnya terheran-heran.

“Maaf tuan, aku rasa perkataan tuan sedikit menyinggung” ungkap Tiffany.

“Mwo?”

“Perkataan tuan barusan, yang mengartikan.. bahkan jka saya menjual semua barang yang saya miliki maka tetap tidak akan mampu untuk menggantinya.”

Siwon tersenyum sinis melihat perubah wajah wanita yang ada dihadapannya. Tadi wanita itu terlihat seperti Angle dimatanya tapi kini wajah wanita tersebut tidak jauh berbeda dengan Evil.

“Waeyo? Bukankah perkataanku benar adanya?”

“Ne~ aku memang tidak akan mampu membayarnya sekarang, tapi aku sudah janji akan menggantinya dilain hari.”

“Mwoooo? Hahahahahaha … dengan apa kamu akan menggantinya agasshi? Bahkan penampilanmu sama sekali tak menunjang omonganmu.

“Ya! Apa maksudmu.” Tiffany berdecak pinggang, membuat tasnya terjatuh begitu saja dari genggamannya.

“Ne~, penampilanmu yang begitu lusuh seperti ini, bagaimana mungkin bisa mengganti Handphone Limited Editionku itu?”

“Mwoga? Sombong sekali orang ini?” Tiffany menggeleng-gelengkan kepalanya melijhat tingkah laku laki-laki yang berdiri dengan menjulang dihadapannya tersebut.

“Sudahlah, berbicara denganmu hanya akan menghabiskan waktuku.. Agashhi, apa kamu ini penggemarku? Ahh~ iya, mungkin kamu adalah salah satu penggemar beratku, yang pura-pura tak sengaja menabrakku, dengan itu kamu bisa secara leluasa melihat wajah tampanku, ya kan?”

“Mwoo?”

“Sudah, sudah jangan perlihatkan wajah sok polosmu itu.”

“Ya! apa maksudmu?”

“Hhhh~ maaf nona, aku tidak bisa lagi melanjutkan sandiwara ini, aku harus segera pergi. Annyeong” Siwon melambaikan tangannya kepada Tiffany. Yah, Siwon fikir Tiffany adalah salah satu dari fansnya yang berpura-pura melakukan apapun yang bisa membuat mereka dekat dengan Siwon. Walaupun Siwon bukanlah seorang artis atau model, namun kharisma Siwon bahkan melebihi para artis dan model tersebut. Nama Siwon sering muncul dalam majalah-majalah terkenal di Korea sebagai seorang pembisnis muda yang hebat. Bagaimana tidak diusianya yang masih muda, Siwon sudah dipercaya memegang perusaan sebesar Hyundai Crop. Siapa yang tidak bangga dengan prestassi yang diaraihnya. Walaupun perusahaan tersebut adalah perusahaan milik keluarganya, namun tetap saja Siwon harus bekerja keras untuk bisa menduduki posisinya saat ini. Menjadi salah satu Komisaris perusahaannya. Tidak menutup kemungkinan, banyak wanita diluar sana, yang ingin memilikinya sebagai seorang suami. Namun sayang, hati Siwon kini hanya tertuju pada satu wanita. Cho Sooyoung.

“Chakaman, apa maksud anda? Apa anda fikir aku ini adalah seorang penguntit?” Tanya Tiffany dengan tatapan tajamnya.

Siwon menganggukan kepalanya dengan kedua tangan yang terlipat didepan dadanya.

“Jadi maksud anda juga, aku adalah salah satu orang yang menyukai anda, lalu mengikuti anda kemanapun, selayaknya seorang fans terhadap idolanya, begitu?”

Lagi-lagi Siwon hanya membalas semua pertanyaan Tiffany dengan anggukan kepala saja.

“YA! APA ANDA GILA HAH?????????”

Siwon langsung menjauhkan wajahnya tatkala Tiffany langsung mengeluarkan suaranya dengan kekuatan ekstrim. Membuat siapapun yang mendengarnya, akan tuli seketika, tak terkecuali Siwon. Semua orang yang dari tadi melihat percecokan diantara dua insan tersebut, langsung lari begitu saja, setelah mendengar scream Loud dari Tiffany.

“Neo baboya? Bagaimana mungkin seorang wanita punya suara sekencang itu? Apa kamu ini wanita jadi-jadian?” Siwon menatap heran kearah Tiffany, sembari menggosok-gosokkan kupingnya yang pengang karena ulah Tiffany.

“Apa katamu barusan? Wanita jadi-jadian? Apa maksudmu hah?” Siwon terkejut dan melangkah mundur, saat Tiffany memajukan langkahnya mendekati Siwon. Jujur saja Siwon takut dengan wanita didepannya, bukan apa-apa, hanya saja suara wanita itu benar-benar mempengaruhi pendengarnnya.

“YA! Wanita gila menjauhlah dariku, kamu sengat membahayakan posisiku”

“Wanita gila? Setelah mengatai wanita jadi-jadian sekarang anda mengatakan aku wanita gila?”

“Ne~ Neo, benar-benar gila” Siwon masih terus melangkah mundur, karena Tiffany terus berjalan kearahnya.

“Coba katakana sekali lagi.. aku tidak mendengarnya TU-AN”

“Kau.. Kau wanita gila, wanita jadi-jadian, dan bodoh” Siwon dengan tegas mengatakan hal tersebut. Membuat Tiffanya melongo tajam kearahnya.

Baru pertama kalinya dalam hidup Tiffany, ada seorang lelaki yang bicara sekasar ini kepadanya.

“Ahhhhhhhhhhhhhhh~”

Siwon berteriak kesakitan setelah Tiffany dengan kejamnya, menginjak kakinya dengan kekuatan super yang dimilikinya. Sedangkan Tiffany hanya tersenyum sinis menatapi Siwon yang meringis keasakitan akibat ulahnya.

“Rasakan itu”

“Ya! Kau gila eo? Aish, jinjja … ao au.. Ya! Neo michyeosso?” Siwon  berteiak kesakitan dihadapan Tiffany, sedangkan Tiffany melambaikan tangan meniggalkan Siwon yang terlihat kesal karena merasa dikerjai oleh wanita bodoh seperti Tiffany.

“Awas kau, liat saja pembalasanku”

OOoOo

Siwon berjalan dengan kaki yang terpincang-pincang, raut wajahnya terlihat menyeramkan, membuat semua orang yang melihatnya ketakutan. Dia terus berjalan menuju sebuah ruangan, tepat dibelokan terakhir lorong ini, ia akan menghampiri sahabat dekat sekaligus orang yang sudah dianggapnya dongsaeng. Ia akan menceritakan kejadian ini, kepada dongasaengnya tersebut. Dia harus menceritakannya, atau kalau tidak ini akan menjadi bumerang baginya. Setidaknya, dia bisa meluapkan segala emosinya tanpa harus marah-marah sendiri seperti orang gila.

Saat hendak membuka lebih lebar pintu yang kini sudah dibuka sedikit olehnya. Langkahnya terhenti, karena mendengar suara-suara aneh dari dalam ruangan, dipertajamnya pendengarannya kali ini, mengingat efek teriakan wanita bodoh itu, masih mempengaruhi system pendengarannya.

Diberanikan diri, memasuki tubuhnya keruangan tersebut, entahlah Siwon biasanya tidak begini, mencampuri urusan orang lain. Namun karena penasaran, dengan apa yang didengarnya, maka dengan perlahan ia beranikan diri melihat situsi yang terjadi.

Kini matanya membualat dengan sempurna, setelah melihat apa yang ada didepannya. Seketika ia merasa, udara disekitarnya menipis. Membuat sesak didadanya, kepalanya sedikit pusing dengan semua semua efek yang diterimanya hari ini, terlebih dengan apa yang diterimanya saat ini.

“Kyu.. Soo..” ucapnya lirih, namun masih bisa terdengar dikedua telinga orang-orang yang disebut tersebut.

O-Oppa…”

Hyung…”

 

oOoOo

Sudah hampir 2 jam lebih, Siwon hanya terdiam didalam mobil mewahnya tersebut. Memikirkan kejadian yang baru saja dilihatnya. Ia seperti menahan semua rasa yang dimilikinya saat ini, berusaha untuk tidak lepas kontrol dan menambah masalah yang ada untuk hidupnya. Disandarkan kepalanya pada bagian belakang jok mobilnya, sembari mengurut lembut keningnya yang sedikit mengeluarkan keringat dingin.

“Bagaimana mungkin mereka tega melakukannya? Apa ini mimpi?Jjika iya, aku mohon Tuhan.. segera bangunkan aku.”

-Flashback-

“Apa yang kalian lakukan” suara dingin itu menggema disetiap sudut ruangan ber-AC tersebut, walau ruangan tersebut telah dilengkapi dengan pendingin ruangan, mereka merasa ruangan tersebut kini terasa membakar seluruh bagian-bagian tubuh mereka. Kilatan tajam yang diberikan Siwon kepada kedua orang yang ada didepannya tersebut, membuat suasana diruangan tersebut semkain panas.

Cho Kyuhyun dan Choi Sooyoung. Dua orang yang notabennya adalah orang-orang terdekat Siwon, kini justru balik menyerang Siwon dengan cara yang menyakitkan. Lihatlah kondisi mereka berdua, mungkin jika Siwon tidak menghentikan aksi mereka. Maka dijamin, semua pakaian yang melekat ditubuh mereka akan terlepas semua tanpa tersisa.

Yah, sahabat Siwon yang sudah dianggap dongsaeng untuknya dan Choi Sooyoung kekasih sekaligus calon tunangannya berciuman dengan panasnya, membuat keduanya kehilangan kontrol dan kendali, sehingga hampir saja mereka melakukan seusuatu yang lebih dari itu.

“O..oppa” Sooyong berusaha menjangkau Siwon sembari membenarkan letak bajunya yang semerawut karena ulah Kyuhyun. Namun belum sempat Sooyoung mendekat, Siwon sudah menginterupsi Sooyoung dengan kata-katanya.

“Jangan mendekat, aku tidak sudi lagi berdekatan dengan wanita sepertimu.”

“Oppa” cairan bening keluar begitu saja membasahi pipi chubby milik Sooyoung. Biasanya Siwon tidak akan membiarkan air mata itu turun begitu saja, namun karena rasa amarah dan muaknya yang terpendam, membuat Siwon berusaha mati-matian untuk menahan tangannya untuk menghapus air mata tersebut.

Siwon berbalik meninggalkan mereka, namun kini Kyuhyun lah yang menghentikan langkah Siwon.

“Hyung..”

“Ku katakan sekali lagi, jangan mendekatiku mulai saat ini, bukan hanya dia, tapi kau juga Cho Kyuhyun.”

Bagai tamparan yang keras bagi seorang Kyuhyun, saat mendengar pernyataan dari hyungnya tersebut. Hatinya pilu, saat semua kemungkinan buruk yang selama ini selalu menghantuinya, akhirnya menjadi kenyataan hari ini.

Salahnya, karena telah mengkhianati hyungnya sendiri. Salahnya, karena mencintai wanita yang sama dengan wanita yang dicintai oleh Siwon. Namun sungguh, Kyuhyun tidak bermaksud untuk melukai orang yang begitu dihormatinya tersebut.

Siwon melanjutkan langkahnya, meninggalkan kedua orang yang tertunduk lemas, karena rasa bersalah yang menyelimut seluruh relung hati mereka.

“Ottokhae oppa?”

Kyuhyun mengalihkan perhatiannya pada Sooyoung, saat mendengat suara lirih yang gemetar. Mencoba untuk menenangkan hati wanita yang dicintainya.

“Gwenchana, kita akan menjelaskannya nanti. Biarkan saja dulu, hyung.. pasti sangat terluka saat ini.”

END FLASHBACK

 

 

 

Siwon memukul stir mobilnya dengan keras, saat kejadian itu terus saja berputar-putar dalam pikirannya. Membuatnya benar-benar tak habis pikir, bagaimana mungkin kedua orang yang disayanginya, tega mengkhianati ketulusannya selama ini.

Deruan nafasnya memburu, seakan menggambarkan emosinya yang semakin menguap. Diputuskannya untuk keluar dari mobil, sekedar merefresh otaknya yang terasa ingin pecah. Dilangkahkan kakinya, menyusuri jalanan setapak yang berada ditaman tersebut, Siwon sangat menyukai taman ini. Setiap kali  semua  rasa lelah dan jenuh menghantui pikiran dan hidupnya, cara untuk melepaskan semua itu hanya dengan berjala-jalan mengelilingi taman indah itu.

Bukan tanpa alasan Siwon menyukai taman tersebut, ditempat ini semua kenangannya bersama orang tua dan adiknya –Choi Jiwon- tercipta. Tiba-tiba Siwon merasa sangat merindukan keluarganya, hidup jauh dari keluarga membuatnya semakin merasakan kehampaan, setiap kali keadaan seperti ini memasuki hidupnya.

Keluarganya kini, tinggal di China untuk mengurus perusahaan mereka yang ada disana. Sedangkan dia disini tinggal bersama Halmonie dan Harabeoji-nya dari pihak ayahnya.

Siwon terus melangkahkan kakinya, hingga seketika ketenangannya sedikit terusik dengan suara lirih yang didengarnya.

“Seperti suara tangisan?”

oOoOo

 

“Hiks.. hiks.. huaaaaaaa.. Halmonieeeee, hhuuuaaaa, hiks, hiks..”

“Hiks.. hiks..”

Terlihat seorang wanita yang terduduk disebuah bangku panjang yang tersedia di taman itu. Wanita itu, menangis selayak anak kecil yang ditinggalkan orangtuanya ditaman seorang diri. Namun, bukan itu yang membuatnya menangis seperti saat ini.

Wanita itu, Tiffany Hwang. Baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga baginya, sudah hampir 3 jam-an dia mencari keberadaan tas pink miliknya tersebut, namun sampai saat ini tak kunjung menemukannya.

Seingatnya, saat bertengkar dengan siwon ditaman ini, beberapa saat yang lalu, Tiffany masih memegangnya. Tapi ia tak tau, setelah itu ia letakkan dimana tas tersebut. Dia baru menyadarinya, ketika beberapa saat, setelah meninggalkan Siwon yang kesakitan dan tasnya sudah tidak ada lagi digenggamannya.

Dia masih saja sesungukan seperti anak kecil, semua orang yang melaluinya melihat dengan tatapan yang mengherankan. Namun itu tidak membuat Tiffany menghentikan tangisannya, walaupun ia sangat menyadari kelakuannya saat ini sangat memalukan.

“Ottokhae, semua uang yang kupunya ada didalam tas itu.. hiks.. hiks.. bagaimana aku akan bertahan hidup disini? Hiks.. hiks.. hiks.. Halmonie… mianhaeyo.”

Bukannya menghentikan tangisannya, Tiffany justru semakin meningkatkan level suranya, membuat semua orang yang mendengarnya harus menutup kuping mereka atau setidaknya menghindar dari sekitar Tiffany.

“Ya, Wanita BODOH.. hentikan suara jelekmu itu..” Tiffany tersentak takala sebuah suara yang seperti pernah didengarnya menginterupsi tangisannya.

“Neo…” tunjuknya.

“Wae?,” Siwon menunjukkan muka santainya saat Tiffany justru terkejut dengan kehadiran Siwon didepannya saat ini.

“Ahhh.. ck.. ketenangan taman ini terusik karena moster satu ini.” desis Siwon sembari sesekali melirik kearah Tiffany yang masih saja sesengukan, menatapan Siwon penuh takjub. Entahlah, Siwon tidak bisa membaca raut muka itu, takjub karena apapun, Siwon tidak dapat menebaknya.

“Waeyo? Kenapa kamu mentapku seperti itu? Apa kamu sudah menyadari ketampananku ini?” Siwon sedikit memajukan wajahnya mendekati Tiffany, membuat Tiffany mengerjap-ngerjapkan matanya.

“Huaaaaaa…. Huuuuaaaaa.. hiks hiks, nappeuuuun namjjjaaaaaaa, hiks.. hiks..”

“Mwoooo? Na?” Siwon terkejut saat Tiffany menangis lagi dan mengatainya.

“Ya! Wanita bodoh, hentikan tangismu, sstttt.”

“Huuuuaaaaaaaa…………….”

“Ya! Berhentilah..! Ah, anniya, anni bukan aku, bukan,”

“Aish… Ya! Hentikan tangismu, semua orang melihat kita..”

“Hiks.. hiks, huuuaaa, huuaaaaa..” Tiffany semakin mengencang suaranya, dengan sesekali membuka sebelah matanya melihat didepannya, Laki-laki tersebut –Siwon- terlihat cemas, dan menunduk-nundukan tubuhnya saat semua orang menyangka dialah yang membuat Tiffany menangis.

“Hihihihi, rasakan itu” batinnya.

“Huaaaaa, hiks, hiks..”

“Ya, Ya! Hentikanlah tangisanmu itu, aku mohon gadis bodoh..”

“Huuaaa, dia mengataiku gadis bodohhh, jahat sekali..”

“A-a..”

“Hei, kau!”

Siwon tersentak saat seseorang menyentuh pundaknya, dan secara otamatis Siwon menolehkan wajah menghadap orang tersebut.

“Tidak seharusnya kau membuat kekasihmu menangis,” sentak wanita cantik yang ada dihadapannya.

“Mwooo? Kekasih? An-“

“Seharusnya kamu mengalah saja, apa susahnya mengalah pada wanita” wanita tersebut menyela pembicaraan Siwon dan langsung membentak Siwon, baik Siwon dan Tiffany bahkan orang-otang yang berada disana sedikit heran dengan wanita tersebut.

“Sudahlah Jess..”

“Anniya, diamlah oppa.. Laki-laki ini harus dikasih pelajaran, bagaimana caranya memperlakukan kekasihnya.”

“Tunggu, apa maksud anda?”

“Seharusnya kamu menenangkannya, bukan malah diam saja seperti ini”

“Ne?”

“Sica-ya, sudahlah..”

“Donghae oppa, kita harus memberi nasehat pada laki-laki ini, lihatlah kasihan sekali wanita itu.” Jessica-wanita yang baru saja memarahi Siwon memadang Tiffany dengan mimik muka sedih, seakan prihatin dengan nasib Tiffany.

Sedangkan Donghae, hanya bisa mengehela nafas, manangani tingkah Jessica yang mulai kumat kembali.

“Mianhaeyo tuan, istri saya sedang mengandung, jadi dia sedikit sensitive dengan apa yang ada disekitarnya.”

Siwon dan Tiffany membulatkan mulat mereka seaakan paham dengan kondisinya sekarang.

“Oppaa~”

“Ne” Donghae memandang lembut wajah Jessica yang sedang merengek didepannya.

“Aish, jangan mulai Jessica…” batinnya.

“Aku ingin melihat mereka bermesraan, sepertinya akan terlihat sangat romantis” ujar Jessica sembari mengarahkan jarinya kepada Siwon dan Tiffany.

“Shireo..” tolak Siwon.

Tiffany masih terdiam ditempat, memandang ngeri kearah sepasang suami-istri didepannya. Tiffany juga terlihat memikirkan sesuatu, yang tidak diketahui siapapun.

“Opppaaa….” Donghae menundukkan kepalanya, sepertinya dia terlihat lelah menghadapi semua permintaan istrinya yang sedang hamil muda tersebut. Donghae memaandang Siwon dan Tiffany secara bergantian, sungguh ia merasa tak enak hati. Terlebih ia sama sekali tak mengenal kedua orang tersebut.

Jessica masih merangkul erat lengan Donghae, sembari mengguncangkannya secara perlahan. Memaksa Donghae untuk mewujudkan permintaannya.

“”Huft..” Donghae menyerah, ia meniupkan poninya dan menghapiri Siwon yang masih berdiri ditempatnya.

“Mainhae..” Donghae membungkukkan badannya dihadapan Siwon. Melihat itu, Siwon justru melangkah mundur.

“Tuan bisakan anda membantu saya” bisik Donghae.

“Mwo?”

“Tolonglah, berbaikan dulu dengan kekasih anda, setelah itu jika anda ingin melanjutkan pertengkaran kalian, silahkan lakukan,”

“Keundae, aku mohon bermesraan lah dengan kekasih anda.”

“Apa yang anda katakan? Dia bukan kekasihku” sanggah Siwon, tak terima laki-laki tersebut mengatakan Tiffany adalah kekasihnya.

“Bagaimana mungkin aku berpacaran dengan monster” batin Siwon. Membayangkannya membuatnya bergidik ngeri.

“Aku mohon sekali saja, istriku tidak akan berhenti memintanya, jika anda tidak melakukannya.”

“Kenapa aku harus melakukannya? Itu urusanmu bukan urusanku.” Siwon hendak meninggalkan tempat tersebut. Rencananya menenangkan diri gagal karena kejadian ini.

“Gadis bodoh itu, menghancurkan ketenanganku” dengusnya dalam hati.

“Chamkaman..”

“Mwo” ucapnya dingin, saat disadarinya Tiffany menghentikan langkahnya.

“Yeobo…”

Siwon membulatkan matanya seketika, setelah mendengar panggilan yang dilontarkan Tiffany kepadanya, terlebih saat ini Tiffany menggelendot manja disampingnya.

“Ya! Apa yang kau lakukan” sentak Siwon berusaha melepas tangan Tiffany dari lengannya.

“Diamlah! Ikuti saja permainanku” bisik Tiffany sambil tersenyum manis dihadapan Donghae dan Jessica. Membuat Jessica gemas dengan sikap kikuk pasangan tersebut.

“Tapia apa maksudmu, aku tidak suka berdekatan denganmu”

“Diamlah… atau aku akan membunuhmu”

“Ya- Auuu……” Siwon meringis kesakitan saat Tiffany mencubit kecil bagian perutnya.

“Oh, yeobo gwenchana?” Tiffany menatap Siwon dengan polos, membuat Siwon muak dengan itu semua

“Singkirkan wajah menjijikanmu itu, wajah malaikat seperti  tidak pantas untukmu” desis Siwon tajam.

“ Mwo?” ucap Tiffany lirih, setelah itu ia menginjak kaki Siwon dengan sekali hentakan, mwmbuat Siwon hampir berteriak tapi langsung disumpal dengan tangan Tiffany.

“Yeobo, sepertinya kamu terlihat kesakitan, apa kamu baik-baik saja? Lebih kita pulang sekarang, mianhae membuatmu repot mencariku”

“Aishh~” Siwon mendesis kesal kearah Tiffany sembari menahan sakit yang dideritanya.

“Nona, kami baik-baik saja, jadi anda jangan khawatir, maaf karena telah mengganggu kalian” Tiffany membungkukkan tubuhnya, seraya menyuruh Siwon juga ikut membungkukkan diri . Sedangkan Siwon hanya pasrah saja menerima perlakuan yang dibuat oleh Tiffany.

“Anniyo, gwenchana… ah~ kyeopta, aku sudah menduga kalian akan semanis ini” ucap Jessica senang, Donghae yang melihat senyum bahagia dari wajah Jessica ikut tersenyum.

“Jinjjayo? Gamsahamnida…” Tiffany ikut tersenyum  senang karena melihat senyum bahagia terpancar dari wajah Jessica. Berbanding terbalik dengan Siwon, yang terlihat awan gelap menguasai wajahnya tampan itu.

Tiffany punya alasan kuat kenapa bersikap seperti itu, kalau bukan karena Jessica yang sedang hamil dan ingin melihat kemesraan antara Tiffany dan Siwon. Maka sampai kapanpun, tidak akan mau ia melakukan ini semua. Sedari tadi ia berfikir, bagaimana jika dia berada diposisi Jessica, saat ia menginginkan sesuatu karena keinginan anak yang diadalam kandungannya, namun tidak dikabulkan. Pastinya kan membuat seorang ibu itu tersiksa. Tiffany merasa kasihan, makanya ia berani melakukan itu.

“Kalau begitu kami pergi dulu-“

“Jessica, Jessica jung, dan ini suamiku Lee Donghae” sela Jessica, memberi tahu namanya dan nama suaminya.

“Ah, ye, terimakasih karena telah perhatian pada kami berdua. Aku Tiffany dan dia…” Tiffany mendelik kearah Siwon. Siwon yang melihatnya hanya menatap bingung kearah Tiffany, sejujurnya dia tidak memperrdulikan percakapan kedua wanita aneh tersebut sejak tadi.

“Sebutkan namamu!” perintah Tiffany lirih.

“Hhhhh… Choi Siwon imnida” ucap Siwon datar dan tanpa minat.

“Berbaik-baiklah kalian, kalian itu pasangan yang manis, ne?” ungkap Jessica, Donghae tertawa ringan mendengar permintaan Jessica.

“Ne, Gomapta, maaf kami harus pergi sekarang.. Annyeong” Tiffany menyeret Siwon dan melambaikan tangannya kepada Jessica dan Donghae.

Siwon lagi-lagi hanya mengikuti kemana Tiffany menyeretnya. Dia sendiri heran, kenapa dia mau saja diperlakukan seperti ini. Tapi, jujur saja kali ini Siwon malas untuk melakukan apapun. Bayangan Sooyoung dan Kyuhyun masih terus berputar diotaknya.

“Haahhh … Akhirnya bebas juga dari mereka” Tiffany melepas rangkulannya dari lengan Siwon dan melihat Siwon yang tidak melakukan reaksi apapun.

“Aneh, tidak seperti biasanya.”  Batin Tiffany, ia meletakkan tangannya didagu, menatap tajam kearah Siwown yang terlihat lebih banyak diam, setelah insiden injak kaki tersebut.

“Gwenchana?” Tiffany meletakkan tangannya kedahi Siwon, merasakan hawa tubuhnyanya.

“Biasa saja” gumannya.

“Ya! Kamu seperti orang idiot jika seperti itu?”

“Mwo?” ucap Siwon dengan nada lirih. Dia benar-benar bad mood hari ini.

“Kamu marah karena kejadian tadi?”

Siwon menghela nafas, mendengar pertanyaan Tiffany.

“Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya-“

“Temani aku”

“Ne?”

Siwon menatap Tiffany dengan tajam, dan mulai mendekat kewajah Tiffany. Membuat seburat rona merah muncul  dari kedua pipi manisnya.

“A-apa yang kamu lakukan?” Tiffany mengalihkan mukanya kearah lain, dia benar-benar tidak bisa mengontrol detak jantung, karena wajah Siwon yang begitu dekat dengannya.

“Sebagai gantinya, temani  aku” Siwon langsung menarik Tiffany pergi dari taman tersebut, membawanya masuk kedalam mobil dan pergi menuju suatu tempat untuk melampiaskan semua perasaannya hari ini.

oOoOo

 

Suara bising menyeruak keseluruh bagian ruangan tersebut, lampu-lampu terang, terus berputar mengelilingi ruangan itu juga, dengan warna-warna yang berbeda membuat suasana ruangan tersebut semakin ramai. Belum lagi dengan kumpulan para wanita-wanita seksi yang sedang meliuk-liukkan tubuhnya dilantai dansa bersama para laki-laki hidung belang.

Tiffany mulai pening dengan suasana yang mengelilinginya saat ini, bukan hanya itu. Asap rokok dan bau alcohol, menusuk-nusuk indera penciumannya. Membuatnya, kerap kali ingin muntah dan keluar dari tempat terkutuk ini, namun dia tidak berani jika harus berjalan sendiri keluar dari tempat seperti ini.

Tiffany menatap sebal kearah laki-laki yang ada disebelahnya, kondisinya kini sangat mengenaskan. Terlihat sekali, jika saat ini ia sudah mabuk berat, karena cairan alcohol tersebut terus saja dia masukkan ketenggorokannya.

Sudah berulang kali Tiffany melarang Siwon menghentikan aksinya, namun tak satupun ucapannya yang didengarkan. Siwon masih saja meminumnya. Ini sudah sangat larut, dan Tiffany tidak tahu apa yang akan ia lakukan saat ini.

“Ya! Ayo kita keluar dari sini, ini sudah jam 11 malam. Sampai kapan kita disini” Tanya Tiffany risau.

“Diamlah” balas Siwon dingin.

“Aish..” Tiffany berdecak kesal. Dia sudah sangat lelah sekarang, dia ingin tidur dan melanjutkan pencariannya besok.

“Siwon-ssi, ayo kita pulang. aku takut disini.”

Tiffany semakin takut, karena Siwon sudah mulai tak sadarkan diri karena kebayakan minum.

“Sudah hentikan! Jangan minum lagi, aishhh~ orang ini benar-benar menyebalkan.”

“Berikanlah padaku” Guman Siwon, ingin merebut botol minumannya yang ada ditangan Tiffany.

“Shireo, kamu tidak boleh meminumnya lagi” tolak Tiffany.

“Ya! Gadis bodoh berikan padaku.”

“SHIREO”

“Berikan!”

Terjadi tarik-menarik antara Tiffany dan Siwon. Namun karena kesadaran Siwon yang mulai melemah. Akhirnya, botol tersebut tetap aman ditangan Tiffany.

“Berikanlah… aku membutuhkannya, palli~”

“Shireo, kamu sudah meminum empat botol sekaligus, dan aku tidak akan memberikan yang ini padamu.”kata Tiffany tegas.

“Ckk~”

Tiffany mencibir Siwon yang memandang remeh Tiffany. Tiffany dan Siwon akhirnya terdiam kembali, memikirkan permasalahan mereka masing-masing.

Siwon masih saja memikirkan Sooyoung. Dia benar-benar sakit hati atas perbuatan yang dilakukan oleh calon tunangannya tersebut. Tapi entah mengapa, sekarang dia merasakan rindu yang amat mendalam kepada Sooyoung. Dia masih sangat mencintai Sooyoung, bahkan tadi saat diperjalanan menujur bar. Ia sempat berfikir akan menerima Sooyoung kembali, jika wanita tersebut ingin mengakui kesalahannya,dan berjanji tidak akan melakukannya kembali. Bodoh memang, siapapun orang tersebut, pastinya akn mengatai Siwon bodoh karena masih saja mengaharap Sooyoung yang jelas-jelas mengkhianati cintanya. Tapi sungguh, Siwon sangat sangat mencintai Sooyoung, dan dia benar-benar belum bisa melepaskannya begitu saja.

Disisi lain, Tiffany memikirkan nasibnya selanjutnya. Uang yang ia miliki raib begitu saja bersama tas yang didalamnya juga terdapat baju-baju yang dia bawa dari rumah. Tiffany, sedikit menyesali kelakuannya yang kabur secara diam-diam dari rumah. Pasti sekarang neneknya sedih karena Tiffany menghilang, dan melanggar perintah nenknya. Tiffany pikir, semua yang terjadi padanya hari ini, pasti karena kualat pada neneknya. Tuhan pasti marah, karena sudah durhaka pada neneknya yang sudah membesarkannya selama ini.

Tanpa Tiffany sadari, sejak tadi dia meminum bir, yang dipegangnya tersebut. Sesekali ia mereasa lidahnya aneh karena rasa yang ditimbulkan minuman alcohol tersebut. Tapi Tiffany tidak menyadari itu, ia hanya terus meminumnya sembari memikirkan nasibnya itu.

“Hik.. Siwon ssi, kenapa rasa minuman ini aneh sekali.. hik”

“Hmmm” Siwon menolehkan wajah menghadap Tiffany, dilihatnya Tiffany yang sudah mulai sempoyongan, karena pengaruh alcohol yang diminumnya. Siwon masih sadar, dia paling jago dalam hal minum, alcohol tersebut tidak akan membuatnya kehilangan kesadarannya 100%, namun efeknya lebih ketubuhnya yang menjadi sangat lemas.

“Kamu meminumnya?”  Siwon berguman, dan mengambil alih botol tersebut dari tangan Tiffany dan menaruhnya dimeja.

“Anniyo..”

“Bodoh, jelas-jelas kamu meminumnya” Siwon mendorong kening Tiffany, membuat Tiffany hampit terjatuh kebelakang, kalau saja tanagan Siwon tidak meraih pinggang Tiffany dan menyelematkan Tiffany agar tidak terjatuh dari sofa yang didudukinya.

“Babo..” lirihnya.

Tiffany melihat Siwon dengan pandangan yang samar, jarak mereka begitu dekat saat ini. membuat mereka bisa merasakan deruan nafas yang menerpa wajah mereka satu sama lainnya.

“Ayo kita pulang”

Tiffant hanya menganggukan kepalanya, Tiffany merasa kepalanya saat ini sangat berat sekali, membuatnya tak sanggup mengungkapkan sepatah katapun.

Siwon mulai memapah tubuh mungil Tiffany, melalui lorong-lorong bar itu. Setelah yakin, mereka telah keluar dari bar tersebut, Siwon mulai mencegat taxi yang lewat. Dia tidak berani menggung resiko mengendarai mobilnya sendiri, karena nyawanya sendirilah taruhannya. Setelah berhasil mendapatkan taxi, Siwon membantu Tiffany memasuki taxi tersebut, lalu dia ikut masuk kedalamnya juga. Siwon memberi tahu alamat apartementnya kepada supir taxi tersebut, dan mulai memejamkan matanya secara perlahan.

“Sooyong” gumannya

Baru saja ia mulai terlelap, ia tersadar saat kedua tangan lembut memeluknya dan menyandarkan kepalanya dibahu Siwon. Dilihatnya Tiffany, yang merapatkan jarak diantara mereka. Merasakan kehangatan yang dirasakannya melalui tubuh Siwon.

“Nickhun oppa.. boghosippo”

Siwon tersenyum kecil, saat mendengar seruan Tiffany dalam igauannya.

“Ternyata kita sama” batinnya.

Siwon, ikut merangkul Tiffany, membiarkan Tiffany merasakan kenyaman yang lebih. Secara tidak sadar, Siwonpun merasakan kenyamanan itu, namun Siwon fikir ini hanya untuk membuat wanita ini tenang. Walaupun dia tidak tahu apa permasalahan gadis tersebut, ia yakin gadis tersebut pastinya juga punya masalah dengan kekasihnya.

Setelah hampir 20 menit lamanya mereka berada diperjalanan, taxi tersebut sampai didepan apartementnya. Setelah memberikannya bayarannya kepada supir taxi tersebut, Siwon mulai keluar dengan memapah Tiffany dengan sebelah tangannya.

Siwon melangkah masuk ke Lobby apartement dan menuju ke lift yang akan mengantarkan mereka kekamarnya Siwon. Setelah tepat berada didepan lift, dipencetnya tombol naik, dengan menunggu beberapa saat dan pintu lift terbuka, ia memasukkan dirinya dan Tiffany kedalam lift tersebut. Tidak lupa Siwon memencet tombol angka 15, lantai dimana kamarnya berada.

Ting.

Siwon mengangkat kepalanya dan melangkah keluar lift, masih dengan Tiffany yang sudah tidak sadarkan diri disampingnya.

Clek.

Pintu itu terbuka otamatis, saat siwon berhasil memasukkan beberapa digit angka yang merupakan password kamar apartementnya tersebut.

Langkah kaki Siwon semakin berat, membuat keseimbangan antara Siwon dan Tiffany semakin melemah. Dan tanpa diduga-duga, mereka terjatuh bahkan sebelum Siwon menaruh tubuh Tiffany keatas ranjangnya. Ditahannya bagian belakang Tiffany dengan sebelah tangganya, berharap itu tidak akan melukai Tiffany.

“Ahhh..” ringis mereka berdua.

Siwon terjatuh tepat diatas tubuh Tiffany, membuatnya semakin dapat mencium aroma buah dari tubuh Tiffany yang sejak dalam taxi, terciium dengan samar dari indera penciumannya. Siwon mengangkat kepalanya dan melihat Tiffany yang terpejam.

“Yeppo..” ucapnya lirih.

Mendengar itu, secara perlahan Tiffany membuka kedua matanya, dan terbuka. Saat itulah, kedua manik mata Siwon dan Tiffany bertemu, mereka menatap tanpa berkedip. Memasuki alam bawah sadar mereka secara lebih dalam.

“Appo?”

Tiffany menggeleng.

“Mianhae” Siwon merapihkan helaian-helaian rambut yang menutupi wajah Tiffany, membuat tidak bisa leluasa memandangi wajah cantik Tiffany.

“Anni” suara Tiffany terdengar parau ditelinga Siwon, dan itu membuat Siwon mengalihakan perhatiannya kebibir Tiffany yang berwarna pink baby tersebut.

“Kamu tidak sakit?”

“Anniyo”

Siwon tersenyum lirih, masih dengan akitifitasnya membelai rambut Tiffany dengan lembut, bedanya saat ini ia meluruskan padangannya kepada bibir Tiffany.

“Syukurlah, setidaknya jangan pernah merakan seperti aku”

“Waeyo?” kini Tiffany yang dengan beraninya memengang rahang keras Siwon, membuat Siwon memejamkan matanya. Merasakan sensasi kenyamanan yang menyeruak keseluruh tubuhnya.

“Mereka mengkhianatiku,haha, menyedihkan.” Siwon tertawa sumbang, membuat Tiffany prihatin sehingga dielusnya pipi Siwon berharap bisa menenangkan Siwon.

Keduanya kini larut dalam kesadaran yang tidak pasti. Antara sadar dan tidaknya, hanya merekalah yang tahu itu. Tapi malam ini, dua orang yang tidak saling mengenal itu, seperti saling membagi beban mereka satu sama lain. Dan mereka saling menenangkan satu sama lain.

Siwon mendekap Tiffany erat masih diposisi yang sama, seakan itulah posisi yang paling menghangatkan untuknya. Dicumnya lebih dalam lagi aroma yang keluar dari tubuh Tiffany, sejak hari ini, aroma tubuh Tiffany menjadi aroma favoritnya.

“Neomu appo?” tanya Tiffany lirih.

Siwon mengangguk, dalam pelukan tersebut. Ditenggelamkan wajahnya pada bagian leher jenjang Tiffany yang tertutupi beberapa helaian rambut hitam Tiffany. Disingkirkannya secara perlahan helaian-helaian itu, kini diciumnya dengan lembut leher putih bersih itu. Dan Siwon semakin mencium aroma itu, aroma buah leci yang menyegarkannya.

Tiffany hanya memejamkan matanya, merakan kecupan-kecupan kecil yang diberikan Siwon pada tubuhnya. Dia bisa merasakan tangan Siwon yang mulai bergereliya menyentuh bagian-bagian tubuh lainnya. Entahlah, Tiffany tidak menolaknya, ia merasa tenang dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan Siwon.

Kini Siwon sudah pindah kebagian kiri leher Tiffany. Semakian naik, dan sekarang tepat dibelakang telinga Tiffany, diciumi juga bagian itu, beralih kepipi lembut Tiffany. Dihirupnya wajah Tiffany bergantian. Lalu diciuminya secara perlahan, dengan awal kening Tiffany yang dikecup secara lembut, lalu turun kebagian kedua mata indah Tiffany. Lalu kini menuju pipinya kembali, jika tadi dia hanya bisa menghirupnya, sekakarang Siwon memberikan ciuman mesra dikedua pipi Tiffany, berlanjut ke hidung kecil Tiffany, samapai akhirnya ditempelkannya bibir Siwon diatas bibir pink milik Tiffany.

Hanya menempelkan, setelah itu terdiam, nafas mereka sudah bergemuruh sejak awal Siwon mencium leher Tiffany. Keduanya membuka kedua mata mereka masing-masing, ditatapnya lagi kedua mata mereka masing, seperti ingin menanyakan kemasing-masing mata tersebut.

Keduanya tersenyum simpul, membuat Siwon dengan berani mencium bibir itu. Melumatnya secar perlahan, merakan rasa strawberry yang dimiliki bibir manis Tiffany. Tiffany membalasnya, tangannya mulai bergerak kearah rambut Siwon, membuat rambut Siwon berantakan. Dan Siwonpun semakin memperdalam ciuaman tersebut, denagn menarik tengkuk Tiffany.

Ciuman itu yang semula lembut, menjadi ciuman yang liar dan panas untuk keduanya. Secara perlahan Siwon menaikkan sweater rajutan berwarja pink yang digunakan Tiffany, membuat Tiffany hampir setengah naked. Namun sebelum itu, Siwon kembali menatap Tiffany. Dan Tiffany menatap Siwon dengan tatapan lembutnya, memberikan kecupan singkat pada bibir Siwon. Membuat Siwon tersenyum, dan melanjutkan aktivitas keduanya.

Malam ini, menjadi sebuah saksi bisu, akan perbuatan  mereka yang sama sekali tak disadari oleh mereka. Tidak ada yang tahu, kenapa ini bisa terjadi. Namun mereka , tetap melakukannya, seperti ingin mengganti semua rasa sakit dan keresahan dibenak mereka, atas semua perilaku pasangan masing-masing. Menggantinya dengan sentuhan-sentuhan yang mereka ciptakan berdua. Tanpa mereka sadari pula, sejak malam inilah semua mengubah kehiduppan mereka, keesokan paginya.

oOoOo

Sinar gelap yang menguasai malam telah terganti dengan datangnya sang penguasa terang bumi, sinarnya memancar diseluruh permukaan bumi, memasuki celah-celah kecil ruang-ruang yang berdiri kokoh menguasai permukaan tanah. Sinarnya mampu mengingatkan setiap insan untuk kembali beraktivitas seperti semula, seperti hari-hari sebelumnya. Tidak jarang banyak orang yang menggerutu sebal, karena sinar tersebut, lalu dengan malasnya mereka akan menuju kekamar mandi masing-masing untuk bersiap-siap membersihkan diri, dan melanjutkan aktivitas mereka.

Berbeda dari banyak orang yang sudah bersiap-siap untuk beraktivitas dipagi yang cerah ini. Sepasang insan ynag sedang berada dalam pelukan masing-masing jenis yang berbeda tersebut, sama sekali tak menggubris sinar matahari yang masuk melalui celah-celah kecil jendela apartement tersebut. Keduanya masih tenggelam dalam kehangatan masing-masing.

“Eung…”

Lenguhan kecil keluar dari bibir manis sang gadis yang masih berada dipelukan lelaki yang disampingnya. Garis kelelahan terpancar dari wajah cantiknya. Kilatan-kilatan sinar kecil mengusik tidur nyenyaknya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya secara pelahan, berusaha melawan rasa kantuk yang masih terus menyerangnya. Tangannya terangkat, menutup sebagian wajahnya yang terkena sinar matahari.

Tiffany –gadis yang berusaha terjaga dari tidurnya.  Memandang samar, sesosok lelaki yang didepannya.

“Akh..” rintihnya. Tiffany memegangi kepalanya yang terasa berat untuk dibangunkan.

“Nugu?” lirihnya, belum sepenuhnya sadar.

 

oOoOo

 

TIFFANY POV

Kenapa kepala pusing sekali? Badanku juga pegal-pegal seperti ini? Aigooo.. melelahkan sekali. Aku berusaha untuk membuka kedua kelopak mataku ini. Aku memegangi kepalaku, merasakan pening yang menusuk-nusuk seluruh rongga kepalaku.

Kulihat didepanku, sesosok lelaki yang terlihat tampan, matanya terpejam dengan tenang. Sepertinya, dia masih nyenyak dalam mimpi indahnya, itu terlihat dari nafasnya yang berhembus teratur. Rahangnya yang benar-benar indah, menambah point plus ketampanan yang dimilikinya.

Aku seperti mengenalinya, “Nugu?”  tanyaku lirih, sambil berpikir keras.

Laki-laki ini, taman…

“NEOOOO?” teriakku kencang tapat didepan wajahnya, membuatnya langsung terduduk dari tidurnya dengan matanya yang melotot. Dan.. dan, dia toples?

“Toplessss” teriakku dalam hati.

Secara otomatis aku membuka selimut putih yang menutupi tubuhku sejak tadi. Ya Tuhan, apa-apaan ini, kenapa…?

“YA! APA YANG KAMU LAKUKAN PADAKU?”

POV END

 

oOoOo

 

 

SIWON POV

Astaga, suara apa barusan? Aku menggeleng-gelengkann kepalaku, menepak pelan kupingku. Kenapa jadi bindeng seperti ini.

“YA! APA YANG KAMU LAKUKAN PADAKU?”

Aku membalikkan tubuhku, saat suara yang sama meneriakiku dari arah belakang. Mwo? Wanita bodoh itu kenapa ada didepanku. Dan, kenapa?

Aku melihat tubuhku dan tubuhnya secara bergantian, kenapa tubuh kami berdua toples? Aku melihat sekelilingku, ini bukankah apartementku? Lalu, mengapa gadis bodoh ini ada di tempatku. Aku masih saja berfikir, apa yang terjadi..

“Yak! Akhh…”  rintihku kesakitan, saat gadis bodoh itu memukulku dengan keras. Aish, sebesar apa tulang-tulangnya itu?

“Apa yang kamu lakukan bodoh? Dasar laki-laki brengsek! Berani-beraninya melakukan ini padaku!” dia terus saja berteriak dengan kencang, tepat didepan wajahku. Bukan hanya itu, dia bahkan memukuliku dengan sangat keras.

“Hei, hentikan..! Yak!” aku berusaha menghentikan pukulannya.

Grep.

Berhasil, aku tahan tangannya sekuat mungkin, dia menatapku dengan tajam.

POV END

 

oOoOo

 

Tiffany dan Siwon saling bertatapan tajam, terlihat jelas dimata Siwon, Tiffany berusaha menahan air matanya yang sudah memenuhi kedua mata indah milik Tiffany. Siwon tertegun melihat pemandangan didepannya.

Siwon melepaskan tangann Tiffany secara perlahan. Siwon mengingatnya, ia ingat dengan jelas apa saja yang terjadi semalam. Sesungguhnya Siwon masih sedikit sadar malam itu. Namun karena pengaruh alcoholnya sangat kuat dan rasa sakit yang menelusup relung hatinya. Siwon memutuskan untuk melampiaskannya kepada Tiffany.

Siwon menghela nafasnya, Tiffany mulai terisak pelan. Membuat Siwon berdecak kesal, dan semakin menyesali perbuatannya semalam.

“Mian..”

Tiffany mengangkat kepalanya dan menatap tajam kearah Siwon.

“Mian? Apa kamu fikir kata maafmu akan menghapus kesalahanmu? Dasar brengsek kau!”

“Akkkhhhhh…………………….” Siwon berteriak histeris, tatkala Tiffany menarik rambutnya dengan kekuatan ekstra. Bukan hanya itu, Tiffany bahkan menggit tangan Siwon, membuat Siwon semakin berteriak kesakitan.

“Ao, ao… akhhh, Yak! Lepaskan tanganmu itu! Y-aaaaa..” Siwon berusaha melepas cengkraman tangan Tiffany dari rambutnya. Siwon merasa kepalanya sakit sekali, Siwon merasa kepalanya hampir saja terlepas dari tempatnya.

“Monster sialan, le-lepaska-nnn”

Mendengar ucapan Siwon, membuat Tiffany semakin menarik kuat rambut Siwon, mengakibatkan sebagian helai rambut Siwon rontok ditangannya.

“Aaaaaoooooooooooo”

Ting Tong

Ting Tong

Ting Tong

Baik Siwon maupun Tiffany, saling melempar pandang menuju pintu kamar Siwon, karena suara bel rumah yang terdengar dipencet berkali-kali. Siwon merasakan sedikit kelegaan, karena Tiffany mengalihkan perhatiannya. Siwon mengaduh tanpa suara, seuluruh badannya seperti akan hancur jika saja Tiffany tidak melepaskannya.

Ting Tong

Ting Tong

Ting Tong

“Aaghh, siapa pagi-pagi seperti ini bertamu?” Siwon berusaha mengangkat tubuhnya, beranjak menuju pintu apartementnya untuk melihat siapa yang datang mengunjungi apartementnya dipagi hari seperti ini.

“Ya! Apa yang kamu lakukan pervet?”

Siwon tersentak, lalu memandangi Tiffany yang menutup mukanya dengan selimut. Lalu memandang kearah tubuhnya. Seketika dia sadar, bahwa dia belum memakai pakaiannya. Dengan sedikit tergesa-gesa, diambilnya baju-bajunya yang berserakan dibawah lantai kamarnya, dan langsung memakainya.

Dia beranjak menuju pintu apartementnya. Siwon melangkah dengan gontai, sambil sesekali menghentak-hentakkan kepalanya menghilangkan rasa sakit yang menyergap. Dan mengusap lengan kanannya yang baru saja digigit oleh Tiffany.

“Dia benar-benar seorang monster.” gumannya lirih.

Dengan rasa malas, Siwon melihat Intercom yang ada didalam apartementnya, melihat siapa yang datang berkunjung. Mata dan mulutnya terbuka lebar, saat dia meyakini siapa orang yang menunggu tak sabar didepan pintu apartementnya.

“Ha-halmoni…” Siwon menafas nafasnya, dan tergagap didepan Intercom, tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Siwon berjalan mondar-mandi dengan raut wajah yang khawatir.

“Kenapa tidak dibukakan?”

Siwon menatap terkejut kearah Tiffany yang keluar dengan menggunakan kemeja Siwon yang kebesaran ditubuh mungilnya.

“Babo.. kenapa dia malah keluar” batinnya.

Siwon langsung menghampiri dan menyeret Tiffany untuk masuk kembali kekamarnya.

“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan…!” Tiffany berontak, berusaha melepaskan pegangan Siwon.

“Diam!”

Tiffany langsung terdiam saat Siwon membentaknya dengan keras tepat didepan mukanya.

“Diam disini dan jangan bergerak,” perintah Siwon.

Siwon menepuk dahinya, “Ah, ya aku lupa. Tutup mulutmu rapat-rapat, jangan keluarkan satu suarapun dari mulutmu itu. Atau…” Siwon mengarahkan jari jempolnya, menggaretkannya keleher. Membuat Tiffany bergidik ngeri.

Tiffany, hanya mengangguk patuh.

Siwon mulai bergerak menuju pintu apartement kembali, Bel apartementnya tidak berhenti berbunyi sejak tadi. Menandakan neneknya masih setia menunggnya untuk membuka pintunya.

Siwon sudah berada didepan pintu tersebut, memandang ragu kearah engkel pintu didepannya. Sebelum benar-benar membukanya, Siwon merapihkan penampilan yang kusut karena ulah Tiffany tadi. Menghembuskan nafasnya dengan kasar.

Clek

Siwon memasang senyum termanis yang dimilikinya, menyambut kehadiran nenek tercinta.

“Oh.. Halmoni, annyeong” ucap Siwon kikuk.

“Wonnie-ya, kenapa begitu lama? Kamu membuat halmonie cemas” neneknya langsung masuk begitu Siwon membukakan pintu tersebut untuknya.

Siwon mengikuti langkah kaki neneknya dengan cemas, sambil sesekali melempar pandang kearah pintu kamarnya.

“Wonnie, kenapa kamu tidak beritahu halmoni sebelumnya, kalau bermalam di apartementmu?” Siwon kaget, karena tiba-tiba neneknya bicara padanya.

“Ah, i-itu…” Siwon mengusap tengkuknya denagn kikuk. Tidak tahu apa yang harus dijawabnya. Dia tidak terbiasa berbohong, jadi dia bingung harus jujur atau tidak.

“Aku terlalu lelah… jadi.. aku.. lupa untuk mengabari halmoni,” Siwon tersenyum kikuk, takut neneknya tidak akan mempercayainya.

“Mian halmoni..” Siwon menundukkan tubuhnya dalam, Siwon merasa sangat bersalah karena berani membohongi neneknya.

“Gwenchana” neneknya mengusap lembut rambut Siwon.

“Apa kamu sudah makan wonnie?”

“Ne? Oh, belum halmonie” jawab Siwon lembut.

“Kalau begitu halmoni akan menyiapkan sarapan untukmu”

“Geureu, gomowo halmonie” Siwon tersenyum senang dan mengikuti halmonienya kearah dapur.

Disana Siwon ikut membantu neneknya. Sambil sesekali menggoda sang nenek, begitulah Siwon, sosoknya yang karismatik menghilang begitu saja saat dia bersama keluarganya.

“Wonnie, kapan kita akan membahas lagi acara pertunanganmu dengan Sooyoung?” Siwon langsung menghentikan kegiatannya mengaduk sup yang telah direbus neneknya, tatkala sang nenek mengingatkan Siwon kembali pada sosok Sooyoung.

“Molla” jawabnya dingin.

Neneknya mengernyitkan mendengar jawaban Siwon yang tak seperti biasanya. Biasanya Siwon selalu terlihat antusias, dengan apapun yang menyangkut kekasihnya tersebut.

“Ada apa? Apa kalian bertengkar?”

Siwon menghela nafas dengan kuat, menahan sakit yang semula sudah menghilang dan sekarang justru kembali lagi. Membuatnya merasa sesak.

Siwon berusaha tersenyum, “Anni, kami baik-baik saja. Hanya saja, aku sedang malas untuk membahasnya”

“Jinjjayo?”

“Ne” Siwon menganggu mantap, berusaha meyakinkan neneknya yang masih belum percaya. Sudah dikatakan bukan? Siwon tidak bisa berbohong paada neneknya ini.

“Baiklah, kalau kamu tidak bisa berbaginya sekarang. Nenek akan pura-pura tidak tahu saja” kata neneknya enteng.

Siwon hanya membalas dengan anggukann kecil.

“Nenek, akan rapihkan kamarmu dulu” Siwon hanya terdiam dan melanjutkan pekerjaanya. Neneknya memang terbiasa masuk kekamar Siwon untuk sekedar membersihkan kamar Siwon. Karena neneknya tahu, Siwon sudah sangat sibuk dengan pekerjaanya. Sehingga tak jarang dia melalaikan kesehatannya sendiri. Maka dari itu Siwon tidak punya waktu untuk sekedar membereskan kamarnya sebelum berangkat kerja.

“Woooniiee… kenapa kamarmu berantakan sekali” seketika tubuh Siwon menegang seketika. Siwon menepuk dahinya. Siwon lupa, kalau Tiffany masih bersembunyi dikamar Siwon.

Siwon langsung berlari kekamar, dan membukanya. Neneknya sedang berusaha mengangkat Selimut yang tergeletak tak beraturan di ranjang milik Siwon.

“Halmonie, biar aku saja” Siwon menghentikan gerakan neneknya untuk mengangkat lebih tinggi selimut tersebut.

“Wae?”

“A-anni.. hanya saja. Aku tidak ingin halmonie kelelahan karena terlalu bekerja keras” ujar Siwon sambil tersenyum.

Tiffany yang sejak tadi bersembunyi dengan rasa takut, memandang geli dengan tikah lembut Siwon kepada neneknya.

“Menggelikan, berbeda jauh”  lirihnya.

“Aigoo.. Gwenchana, hanya seperti ini tidak akan membuat halmonie lelah”

“Shireo.. halmonie kembali saja ke dapur, biar nanti aku yang membereskannya. Lagipula hari ini, aku izin cuti, jadi punya waktu untuk bersih-bersih” kata Siwon meyakinkan.

“Benarkah?”

“Ne” ucap Siwon lembut.

“Baiklah kalau begitu, halmonie kembali kedapur saja” neneknya berjalan  menjauh dari Siwon. Setelah meyakinkan diri, bahwa sang nenek sudah benar-benar pergi kedapur, Siwon melangkah kea rah Tiffany bersembunyi.

“Otte?” Siwon bertanya dengan mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis kepada Tiffany.

Tiffany bertingkah seakan muntah, begitu melihat sikap yang ditunjukkan Siwon barusan.

“Bermuka dua” ujar Tiffany ketus.

Siwon tertawa geli dengan respon yang diberikan Tiffany. Tiffany mendengus kesal memandang Siwon, Tiffany bersumpah dalam hatinya. Setelah halmoni-nya Siwon pulang, dia akan meninju abis-abisan wajah tampan Siwon.

Bagaimana tidak, Siwon menyuruhnya bersembunyi dibalik sofa yang berada dikamar Siwon yang mewah tersebut. Tiffany merasa seperti pencuri saja.

“Ingat jangan banyak gerak, tunggu aku sampai halmoniku pulang, arraso? Dan… tolong bereskan kamarku ini, ok”

Tiffany membuang muka, tak ingin memandang wajah Siwon yang sok jadi malaikat itu. Menjijikan sekali, pikirnya.

Siwon melenggang keluar kamar, untuk menemui neneknya. Dengan berat hati, Tiffany beranjak keluar darii tempat persembunyiannya. Memandang malas, kearah tempat tidur milik Siwon. Tiffany mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Berusaha menahan air matanya supaya tidak keluar begitu saja.

“Hah..”

Tiffany memulai dengan melipat selimut putih yang semalaman menutupi tubuhnya dan tubuh Siwon. Tiffany menggigit kuat bibir bagian bawahnya. Berkali-kali mencoba menghembuskan nafasnya, sampai seketika pertahanannya runtuh, saat dilihatnya bercak darah yang masih terlihat jelas, melekat pada seprai yang sudah sangat berantak diatas temapa tidur milik Siwon.

Tiffany, membekap mulutnya rapat-rapat. Mencoba meredam suara tangisnya agar tak terdengar sampai ketelinga dua orang asing yang tak dikenalnya. Tiffany mulai terisak dengan hebat, saat dia mengingat kembali semua kejadian yang dilaluinya beberapa hari ini.

“Seharusnya, aku mendengarkan halmoni.. Seharusnya aku tidak perlu disini, hiks hiks, halmoni, hiks hiks,”

“Nickhun oppa, mianhaeyo.. aku telah mengkhianatimu, mianhae..” ucapnya tertunduk, dengan wajah yang sudah dibasahi air mata yang terus saja mengalir melalui pipinya.

oOoOo

 

“Wonnie?”

“N-ne”

“Kenapa kamu tidak makan sarapannya? Apa kamu tidak menyukainya?” tanya nenek Siwon.

“Anni, aku sangat menyukainya” ujar Siwon lemah.

“Lalu kenapa tidak dimakan?”

Siwon tersenyum lemah, “Ne, aku akan menghabiskannya sekarang”

Sang nenek hanya bisa memandang cucunya penuh tanya. Dia tak tahu apa yang terjadi pada cucu kesayangannya tersebut. Namun yang jelas, Siwon tengah menutupi masalahnya dari sang nenek.

“Undanglah Sooyoung, makan malam dirumah. Sudahlah lama halmoni tak bertemu dengannya”

Siwon memejamkan matanya, tatkala sang nenek yang menyebut nama gadis yang sudah melukainya itu. Sesungguh Siwon juga sangat merindukan Sooyoung, namun apa daya kejadian kemarin membuatnya harus meninggalkan Sooyoung.

“Dia gadis yang baik, dan halmoni sangat menyukainya” ucap sanga nenek sambil tersenyum lembut pada cucunya, Siwon.

“Ne~ dia gadis yang baik..” ucapnya lirih, bahkan sangat lirih.

“Sangat baik dalam menyimpan keburukannya” batinnya.

 

oOoOo

“Soo-ah, makanlah dulu” tawar Kyuhyun.

Sooyong menolak suapan dari Kyuhyun, dia masih saja memandang lesu pada layar handphonenya. Mengharapkan panggilan seseorangg yang selama ini mengisi hari-harinya. Sooyoung begitu mengkhawatirkan keadaan Siwon. Sejak kemarin, Siwon bahkan tak menghubunginya barang sekali saja. Jangankan untuk menghubungi, Siwon bahkan tidak mengangkat telepon dari Sooyong, dan sekarang Siwon telah mematikan handphonenya. Membuat Sooyoung tidak dapat melakukan apapun kecuali menunggu Siwon untuk menghubunginya.

“Apa kamu menyesal?” Sooyoung memandang Kyuhyun bingung.

Kyuhyun memandang Sooyoung tajam, “Ne~, aku menyesal,” jawab Sooyoung.

“Aku menyesal karena telah menyakiti orang sebaik oppa. Tapi.. tidak untuk mencintaimu”

Kyuhyun tersenyum sinis mendengar jawaban dari Sooyoung. Jujur saja, saat ini Kyuhyun tidak tahu harus bertindak apa? Disatu sisi, ia sangat menyesal karena telah mengkhianati hyungnya sendiri. Tapi sisi egois ikut muncul, Kyuhyun tidak ingin lagi melepas Sooyoung seperti dulu.

“Hiks.. hiks.. apa yang harus aku lakukan? Aku sangat mencintaimu, tapi aku tak ingin melepasnya. Walau bagaimanapun, Siwon oppa telah bersamaku selama dua tahun ini, sulit untukku melupakan semua kenangan kami. Bahkan walau kamu cinta pertamaku sekalipun, orang yang sangat kucintai sampai saat ini. aku tak mampu untuk kehilangannya”

Kyuhyun merasakan sakit yang mendalam, saat Sooyoung mencurahkan rasa yang dia rasakan saat ini. Sooyoung menangis kencang setelah mengatakannya, semua rasa yang membuncah dalam hatinya dia salurkan melalui air matanya. Kyuhyun melihatnya dengan iba, memeluk Sooyoung dengan sayang, mencoba menyalurkan kekuatannya pada Sooyoung.

Walaupun saat ini, dia tersakiti dengan ucapan Sooyoung barusan. Tapi Kyuhyun sudah bertekad kuat untuk mempertahankan Sooyoung. Ini sudah terlanjur jauh, dia dan Sooyoun tak mungkin berjalan mundur lagi. Itu justru akan semakin menyakiti banyak orang.

“Tenanglah.. aku selalu disampingmu”

oOoOo

 

SIWON POV

Aku melangkah malas kearah kamar, kubuka pintu kamar dengan perlahan. Aku pandangi sekeliling kamarku yang sudah lebih baik dari sebelumnya. Aku melihatnya, gadis monster nan bodoh itu tengah tertidur pulas disofa yang ada dikamarku ini.

Aku mendekat kearahnya, berusaha untuk membangunkannya. Namun gadis itu masih saja terjaga dari tidurnya. Aku berdecak kesal melihat gadis ini masih saja nyaman dengan tidurnya. Aku berjongkok, mendekati wajahnya.

“Yeppo..”

Tsk, gadis ini sebenarnya sangat cantik, tapi kenapa kelakuannya berbanding jauh dari wajahnya yang polos ini.

“Apa dia habis menangis?” aku mengulurkan tanganku, mencoba menyingkirkan beberapa helai rambutnya yang menutupi sebagian wajahnya.

Aku menghapus secara perlahan, tanda air mata yang baru saja mengalir melalui pipi putih dan lembutnya ini. Aku sangat yakin, gadis ini pasti mengingat kejadian semalam.

“Mianhae..” ucapku lirih.

Aku berdiri dan beranjak dari tempatku menuju kamar mandi yang tersedia dikamarku ini. aku mulai menyalakan shower, membiarkan air dingin ini mengguyuri tubuhku. Membiarkan seluruh rasaku, ikut mengalir meninggalkan tubuhku.

Aku pejamkan kedua mataku, mengingat kembali kenangan indah dan tercipta antara aku dan Sooyoung. Sampai saat ini, aku masih belum percaya, kalau Sooyoung mengkhianatiku. Terlebih orang yang menjadi selingkuhannya adalah Kyuhyun, sahabat yang telah kuanggap adik sendiri.

“Aku yakin Sooyoung mencintaiku, dia pasti hanya tergoda oleh Kyuhyun”

Aku sudah memutuskannya, aku akan buktikan bahwa Sooyoung masih mencintaiku. Aku membuka kedua mataku, matap kosong tanpa arah. Meyakinkan tekadku, untuk mendapatkan Sooyoung kembali.

oOoOo

 

Aku keluar dari kamar mandi, setelah kurasa cukup untuk membersihkan diri. Kulihat gadis itu masih ternyenyak disofa putih itu.

“Yak! Monster, bangunlah!”

“Yak..”

Aku menggoyang-goyangkan tubuhnya. Namun gadis itu masih saja terlelap dari tidurnya. Kenapa dia?

“Monster, bangunlah!”

“Yak!!”

Aku memegang dahinya. Panas. Aigoo, dia demam. Aku berdecak, saat baru menyadarinya.

“Babo, kenapa aku baru sadar”

Aku mengangkat tubuhnya, meletakkannya keatas tempat tidurku. Menyelimuti tubuhnya, berharap itu dapat membuatnya lebih baik.

END POV

 

oOoOo

 

Siwon mengambil air es didapurnya beserta handuk kecil, untuk mengompres tubuh panas Tiffany. Terlihat raut cemas dari wajah Siwon.

“Bangunlah.. jangan membuatku khawatir, jebal!” lirihnya.

Siwon masih sibuk memeras dan menempelkan handuk kecil itu di atas kening Tiffany, terkadang Siwon mengusap lembut wajah pucat Tiffany.

“Mian.. tsk, seharusnya aku bisa menahannya” ucapnya.

Siwon memejamkan matanya, merasa sangat lelah disekujur tubuhnya. Sepertinya, keadaan Siwon sama halnya seperti Tiffany. Namun, ia mencoba bertahan supaya tak menyulitkan untuk keduanya.

“Hahh” ini sudah kesekian kalinya Siwon menghembuskan nafasnya.

Ting Tong

Ting Tong

“Akh, siapa lagi sih?” decaknya

Siwon beranjak dengan malas, masih dengan mata yang terus tertuju pada Tiffany. Siwon melangkah malas, menuju pintu apartement untuk kesekian kalinya.

“Kenapa hari ini jadi banyak tamu” batinya. Siwon melalui Intercom, langsung membuka engsel pintu tersebut.

Siwon terkejut. Tentu saja. Bagaimana tidak, sekarang didepannya berdiri sosok gadis yang memenuhi pikirannya sejak kemarin.

“Oppa..” ucap gadis itu lirih, mamandang sayu kearah Siwon.

Siwon hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, memandang takjup kearah Sooyoung. Gadis itu kini berdiri dihadapannya, dengan kondisi yang mengenaskan. Rambut yang berantakan, baju yang kusut. Bahkan Sooyoung hanya mengenakan sandal biasa. Menandakan, Sooyoung pergi dengan terburu-buru tanpa memikirkan kondisinya.

“Soo..”

Sooyoung memeluk erat tubuh Siwon, mengungkap semua penyesalannya melalui pelukannya itu. Siwon hanya berdiri mematung, tanpa membalas kembali pelukan hangat Sooyoung. Entahlah, Siwon tidak bisa menggerak organ tubuhnya. Sepertinya seluruh organya membeku seketika.

“O-op-pa.. hiks, hiks.. mianhae”

Siwon memejamkan matanya, ketika merasakan kaosnya basah terkena cairan bening yang keluar dari mata orang yang dicintainya tersebut.

Ditempat lain, berdiri sesosok lelaki yang tak lain adalah Kyuhyun. Memandang mereka dengan tatapan yang sulit dibaca. Tidak tahu apa yang kini dipikirkannya, namun Kyuhyun masih setia berdiri ditempat itu. Melindungi Sooyoung, jika nanti terjadi sesuatu pada gadis tersebut.

Clek

Suara pintu terdengar, beriringan dengan keluarnya gadis cantik yang terlihat pucat berjalan keluar dari kamar yang ditempati sebelumnya. Tiffany berjalan lemah menuju keluar kamar, ia merasa tenggorokannya kering, maka dari itu ia mencoba untuk mengambil minum sendiri.

Tiffany berjalan sangat perlahan, mencoba menyeimbangi tubuhnya agar tak terjatuh. Nmaun langkahnya terhenti saat dilihatnya dua orang yang tengah berpelukan didepan pintu apartement Siwon. Tiffany hanya terdiam tanpa melakukan sesuatu.

Sooyoung yang merasa Siwon tak kunjung membalas pelukannya, mencoba membuka matanya secara perlahan. Namun saat melihat kearah depannya, tapat dibelakang Siwon berdiri, Sooyoun melihat Tiffany yang masih memandangi Sooyong dan Siwon dengan tatapan datar.

“Op-pa, dia siapa?” Sooyoung melepas pelukannya, dan menuntut jawaban dari mulut Siwon.

Siwon mengreyit bingung, dibalikkan tubuhnya.

“Neo?” tunjukknya.

Tiffany tersentak kaget, seperti maling yang tertangkap basah. Tiffany tersenyum kikuk, dan melambaikan tangannya kaku.

“Hai..”

Siwon menghampiri Tiffany, dan langsung mengecek suhu tubuh Tiffany, “Yak! Kenapa keluar dari kamar, bodoh..” Siwon mendorong dahi Tiffany dengan telunjuknya.

Membuat Tiffany menatap horror kearah Siwon, “Kenapa kamu mendorong dahiku, kepalaku semakin pusing” teriak Tiffany.

Siwon langsung menutup kupingnya, saat lagi-lagi Tiffany mengeluarkan Scream Load-nya. Siwon menggelengkan kepalanya, menatap heran kearah Tiffany.

“MWO?” ucap Tiffany galak.

“Yak! Bahkan saat sakitpun kamu masih bisa berteriak sekencang itu” ucap Siwon heran bercampur takjub.

“Waeyo?”

“Anni” Siwon menggeleng, takut jika dia berbicara lebih dari itu, gadis didepannya tersebut akan semakin mengganas.

“Oppa..”

Siwon mengahadapkan tubuhnya menghadap kearah suara lembut dibelakangnya.

“Oh, Soo.. mian, aku mengacuhkanmu” ucap Siwon datar.

“Gwenchana” Sooyong tersenyum lirih.

“Ahhh, Soo.. aku ingin memelukmu” batinnya Siwon berteriak.

“Nugu?” tanya Sooyong kepada Tiffany. Namun Tiffany hanya terdiam, karena tak merasa ditanya.

“Dia?” tanya Siwon sambil menunjukkan jarinya kearah wajah Tiffany, membuat Tiffany menunduk kesal kepada Siwon. Siwon hanya membalasnya dengan mencibir.

Sooyoung mengangguk, menunjukkan wajah tak senangnya dengan kedekatan yang terjalin diantara Siwon dan Tiffany.

“Dia, hanya orang asing yang aku pungut dijalan” jawab Siwon enteng. Membuat Tiffany memelototkan matanya, namun Siwon sama sekali tak menggubrisnya.

“Ap yang kamu katakana barusan” Tiffany menarik kerah baju Siwon.

“Yak, Yak.. lepaskan monster”

“Diam kau pervet” bentak Tiffany sambil menginjak kaki Siwon.

“Auuuu” Tiffany tertawa keras mendengar lenguhan kesakitan dari mulut Siwon.

Sooyoung semakin merasa terasingi ditempat ini, ia memutuskan meninggalkan Siwon tanpa berpamitan terlebih dahulu.

Sedangkan Tiffany dan Siwon masih melanjutkan pertengkaran mereka, tanpa menyadari kepergian Sooyoung.

“Sudahlah, aku lelah bertengkar denganmu” kata Siwon sambil berkacak pinggang. Tapi Saat tersadar Sooyoung tidak ada lagi ditempatnya, membuat Siwon khawatir dan berlari keluar mencari Sooyoung.

“Sooyongie..” Siwon terus meneriaki nama tersebut, namun nihil. Sooyoung sudah pergi.

oOoOo

“Ini semua karenamu” cecar Siwon langsung.

“Mwoeyo? Karena aku?” tunjuk Tiffany pada diri sendiri.

Siwon melipatkan kedua tangannya didepan dada, mengangguk mantap kearah Tiffany.

“Memangnya apa salahku” tanya Tiffany tak terima.

“Apa salahmu? Tentu saja kamu salah, karenamu kekasihku pergi begitu saja”

“Ohhhh, jadi itu kekasihmu? Seharusnya aku memberitahu saja padanya kelakuan buruk namjacingu-nya ini” tunjuk Tiffany kearah Siwon.

“Mwoga? Berani-beraninya kamu menunjukku seperti itu? Kamu fikir kamu siapa hah?” bentak Siwon emosi.

“Seharusnya aku yang mengatakan hl itu? Siapa kamu? Berani-beraninya melakukan hal keji padaku” Tiffany ikut tersulut emosi yang sedari tadi dipendamnya.

“Hal keji apa maksudmu” Siwon memperkecil jarak mereka, kilatan tajam Siwon semakin menjadi. Sebenarnya bukan karena Tiffany dia menjadi emosi seperti ini, Siwon juga tak mengaerti kenapa selalu Tiffany yang menjadi pelampiasan saat Siwon merasa tersakiti.

“IYA! NEO..”

“Memperkosaku” lanjut Tiffany lirih, disitulah air matanya keluar lagi.

Siwon terdiam seketika, saat Tiffany mengatakan hal tersebut. Siwon tertunduk, mencoba mengatur nafasnya yang semakin sesak. Pikirannya kini kacau, terlebih mendengar isakan yang  keluar dari bibir Tiffany.

Tiffany terduduk dilantai, menangis meraung-raung. Membuat Siwon semakin bersalah.

“Nappeun.. Nappeun saram” isak Tiffany.

“Bagaimana aku harus menjelaskannya pada Nickhun oppa?” lirihnya, namun masih bisa terdengar oleh telinga Siwon.

“Nickhun?”

“NE! Nickhun, tunanganku.. BAGAIMANA AKU HARUS MENJELASKAN PADANYA?” teriak Tiffany, dengan tangisannya yang semakin mengencang.

Siwon terlihat sedang berfikir keras. Dia seperti pernah mendengar nama itu, tapi dimana? Siwon tidak memperdulikan isakan yang keluar dari mulut Tiffany. Sampai akhirnya…

“Jadi kamu tunangannya?” Tiffany mendongakkan kepalanya memandang Siwon penuh tanya.

“N-ne”

Siwon memegang lengan Tiffany, dan membangunkan Tiffany secara paksa. Sedangkan Tiffany hanya menatap bingung dengan tindakan Siwon.

“Benar kamu tunangannya?” tanya Siwon dingin.

Tiffany mengangguk takut kerah Siwon.

“Apa kamu sudah bertemu dengannya?”

“Be-belum, ak-ku sedang mencarinya sekarang.. Sudah begitu lama oppa tidak mengabariku” ucap Tiffany sedih.

“Tsk, jangan tunjukkan wajah jelekmu itu”

“Mwo?” Tiffany dengan kesal melepas cengkraman Siwon dilengannya.

“Terus kenapa kamu masih disini?”

Tiffany memandang heran laki-laki dihadapannya ini. Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan ini, pikirnya.

“Tentu saja itu karenamu”

“Karenaku “ tanya Siwon polos.

“Cihh, masih sok polos lagi.. Apa kamu tidak sadar, dengan perbuatanmu?”

Siwon menggeleng.

“Bertemu denganmu, lalu bertengkar denganmu.. membuatku kehilangan tas berhargaku, didalamnya terdapat dompet, handphone dan pakaian-pakaianku. Dan sekarang kamu malah memperkosaku” ungka Tiffany kesal.

“Aku melakukan itu semua, bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu?”

“Oke, oke, untuk masalah semalam memang benar.. Tapi itu bukan pemerkosaan, kita dalam keadaan mabuk, jadi tidak ada yang menyadarinya satu sama lain. Dan untuk masalhh tasmu, itu bukan kesalahanku, itu karena kebodohanmu”

“Apa katamu? Kebodohanku?”

Siwon mengangguk. Tiffany langsung meninju bahu Siwon dengan kencang, membuat Siwon mengaduh kesakitan.

“Aish, sepertinya aku harus segera memerikasakan tubuhku” keluh Siwon. Tiffany hanya memandang sewot kearah Siwon.

“Sudahlah aku tidak ingin bertengkar denganmu. Aku akan membantumu, yah… anggap saja sebagai tanda permintaan maafku” ujar Siwon enteng.

“Bantuan?”

“Ne, bantuan”

“Apa?”

“Aku akan membantu mencari tunanganmu itu, sembari mencari tunanganmu itu.. kamu boleh tinggal disini, itung-itung.. bantu-bantu beresin apartementku”

“Mwoga? Shireo, aku tidak ingin tinggal dengan lelaki sepertimu”

Siwon mengangkat bahunya tak peduli, “terserah, aku hanya menawarkannya saja.. lagipula kamu mau tinggal dimana? Apa kamu punya uang?”

Tiffany berfikir kembali. Benar katanya aku akan tinggal dimana setelah ini, pikir Tiffanyy.

“Otte?”

Tiffany memandang ragu kearah Siwon, jujur saja Tiffany takut Siwon akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya, seperti semalam.

“Baiklah” jawab Tiffany.

Siwon menunjukkan Senyum miringnya.

“Ok, deal..” Siwon mengulurkan tangannya supaya Tiffany mau berjabat tangan dengannya. Tiffany memandang lama tangan Siwon,, membuat Siwon jenuh. Dengan sedikit pemaksaan Siwon meraih tangan Tiffany dan menggenggamnya dengan erat.

“Oke-“

“Tiffany. Tiifany Hwang”

“Oke, Tiifany-ssi, nama yang indah untuk gadis galak sepertimu” Tiffany menatap Siwon tajam. Membuat Siwon tersenyum geli.

“Baiklah, mulai hari ini, kita bekerjasama. Kamu membantuku, aku membantumu” Tiffany mengreyitkan keningnya bingung.

“Maksudnya?”

Siwon tersenyum sinis.

oOo

Sooyoung terus berlari meninggalkan apartement Siwon tanpa menyadari Kyuhuyun ikut mengejarnya. Sooyoung merasa kesal karena diacuhkan oleh Siwon untuk pertama kalinya. Sebelumnya, Siwon tidak pernah mengacuhkan keberadaan Sooyoung.

Grep

Sooyoung menoleh kebelakang saat dirasakan sepasang tangan menahan pergelangan tangannya. Saat dilihatnya Kyuhyun, yang terlihat kelelehan dengan raut wajah khawatirnya, dan itu tergambar jelas diwajah tampannya.

“Hosh… hosh.. Soo-“

“Kenapa kamu disini Kyu?”

“A-ku mengikuti”

Sooyoung melepas dengan paksa genggaman Kyuhyun, melihat itu Kyuhyun menghembuskan nafasnya dengan kasar.

“Soo..” tahan Kyuhyun, dan lagi-lagi Sooyoung melepaskan genggaman Kyuhyun.

Kyuhun berdecak, masih berusaha menghentikan langkah Sooyoung. Namun Sooyoung masih terus melepaskannya.

“Soo-yah, dengarkan aku dulu,”

“Soo..”

“Lepaskan aku oppa..” bentak Sooyoung.

Shireo

“Le-pass..” berontak Sooyoung.

Shireo.. sebelum kamu berhenti untuk berlari”

“Lepaskan aku oppa” isaknya.

“SOOYOUNG” bentak Kyuhyun, membuat Sooyoung terdiam dalam tangisnya.

Kyuhyun memeluk Sooyoung, berusaha menenangkan gadis cantik dihadapannya. Kyuhyun tidak tahu apa yang membuat Sooyoung berlari keluar dari apartement Siwon. Melihat Sooyoung keluar dengan air mata yang sudah beruraian, secara otomatis Kyuhyun berlari juga untuk mengejarnya.

Sooyoung masih terisak dalam pelukan Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun hanya bisa menenangkannya dengan membelai lembut rambut panjang Sooyoung, tanpa mengatakan apapun.

“Hiks, hiks..” Sooyoung melepaskan pelukan Kyuhyun, menatapnya denagan tatapan sendu.

“O-op-pa. hiks.. hiks..”

“Hmmm?”

“Siwon op-pa, dia..”

Ne~.. kenapa dengan hyeong?” tanya Kyuhyun dengan lembut.

“Tadi.. didalam apartementnya, ada seorang wanita yang tidak ku kenal. Hiks, hiks.. a-ku belum pernah melihat wanita itu sebelumnya, hiks, hiks..”

“Kyu oppa, apa oppa tahu Siwon oppa dekat dengan wanita lain, selain aku?” tanya Sooyoung lirih.

Kyuhyun tersenyum pahit, “Ani..”

Jeongmal?” tanya Sooyoung sangsi.

Ne” angguk Kyuhyun.

“Hiks, hiks, lalu.. siapa wanita itu?”

Kyuhyun hanya terdiam mendengar suara tangis Sooyoung yang sarat akan rasa sakit. Semua pemikiran buruk terus menghantui fikiran Kyuhyun, membuatnya sedikit cemas.

“Soa-yah, uljima” pinta Kyuhyun.

Sooyoung menatap Kyuhyun penuh tanya,”Wae?”

“Untuk apa kamu menangis seperti ini?”

“Apa karena Siwon hyeong sudah mendapatkan penggantimu? Atau karena Siwon hyeong membawa wanita lain ke apartementnya?” tanya Kyuhyun dengan tatapan tajamnya.

“Kenapa oppa berkata seperti itu?”

Kyuhyun tersenyum sinis mendengar pertanyaan Sooyoung, “Bukankah aku benar? Untuk apa kamu menangis sekarang? Bukankah seharusnya kamu senang”

Mwo?” tanya Sooyoung heran.

Kyuhyun mencekram bahu Sooyoung dengan erat, membuat Sooyoung meringis kesakitan.

“Tatap aku Sooyoung,”

“Bukankah sikapmu seperti orang bodoh saat ini. Kamu menangis seperti ini, seakan-akan Siwon hyeong-lah yang menyakitimu. Jangan pura-pura tak mengerti Sooyoung, kitalah yang menyakitinya” ucap Kyuhyun keras.

Sooyoung melepaskan pegangan Kyuhyun dengan kasar, manatapnya penuh amarah.

“Aku tahu Kyuhyun-ssi

Kyuhhyun tersentak mendengar Sooyoung memanggilnya dengan embel-embel ssi.

“Soo-yah…

Sooyoung terduduk dihadapan Kyuhyun, menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Menangis histeris, menyesali semua yang ia perbuat selama ini. Berselingkuh dengan sahabat Siwon sendiri.

Sebenarnya bukan sepenuhnya salah Kyuhyun ataupun Sooyoung, sebelum Siwon bertemu dan menyukai Sooyoung. Kyuhyun dan Sooyoung merupakan teman satu kampus saat mereka kuliah, dimana Sooyoung merupakan adik kelasnya Kyuhyun. Baik Kyuhyun maupun Sooyoung sudah saling menyukai sejak lama, namun saat itu Kyuhyun justru berpacaran dengan wanita lain, bernama Victoria, yang tak lain adalah saudara sepupu dari Siwon. Maka dari itu, baik Kyuhyun ataupun Sooyoung, tidak ada yang berusaha untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.

Kyuhyun-lah yang mengenalkan Sooyoung dengan Siwon, yang merupakan sahabat lamanya yang sudah lama melanjutkan study di luar negeri. Sepulangnya Siwon dari Jepang, Kyuhyun langsung mengenalkannya dengan Sooyoung. Sejak saat itulah Siwon menyukai Sooyoung dan berusaha mendapatkannya.

Namun karena Sooyoung menyukai Kyuhyun, beberapa kali Sooyoung menolak pernyataan cinta Siwon sebelum akhirnya Sooyoung menerima Siwon menjadi kekasihnya. Karena saat itu Sooyoung merasa Kyuhyun sangat menyayangi Victoria. Kyuhyun sendiri yang mengetahui kenyataan bahwa Sooyoung menerima cinta hyeong-nya, turut berbahagia walaupun disatu sisi ia merasa tersakiti.

Sejak saat itu baik, Kyuhyun ataupun Sooyoung menjalani kehidupan mereka dengan pasangan mereka sendiri. Sampai akhirnya Kyuhyun harus mengakhiri hubungannya dengan Victoria, karena Victoria harus menikah dengan laki-laki pilihan orangtuanya. Kejadian itu membuat Kyuhyun semakin terpuruk.Karena walau Kyuhyun mencinta Sooyoung, Kyuhyun tulus menyayangi Victoria. Walau Kyuhyun belum memberikan cintanya sepenuh hati, namun Kyuhyun sudah bertekad untuk melupakan dan juga merelakan Sooyoun. Dan lebih dari itu, Kyuhyun berusaha membahagiakan Victoria.

Berbulan-bulan Kyuhyun terpuruk setelah perginya Victoria dari kehidupannya. Sejak saat itulah Sooyoung berusaha untuk menghibur Kyuhyun, bukan tanpa alasan, Siwon sendirilah yang menyuruh Sooyoung untuk menghibur Kyuhyun. Siwon tahu bahwa Kyuhyun dan Sooyoung dulunya adalah teman dekat, maka dari itu Siwon yakin Sooyoung bisa mengembalikan Kyuhyun menjadi sosok yang ceria lagi.

Dengan masuknya Sooyoung dalam kehidupan Kyuhyun lagi. Membuat keduanya kembali merajut benang-benang merah yang dulunya sempat terputus. Baik Kyuhyun maupun Sooyoung sama sekali tak bermaksud untuk bermain dibelakang Siwon, semua berjalan seperti sudah menjadi takdir mereka.

Kyuhyun mengusap mukanya dengan frrustasi saat dia mengingat kembali serpihan kenangan masa lalunya. Didekatinya Sooyoung yang masih menangis dalam posisi yang sama.

Mianhaeyo.”

Sooyoung mengangkat kepalanya, masih dengan suara sesungukan yang keluar dari mulutnya. Sooyoung menatap wajah Kyuhyun yang terlihat frustasi.

Ani, ini bukan salah oppa. Seharusnya aku yang bilang maaf., maafkan aku oppa, hiks”

Kyuhyun tersenyum simpul dan menghapus air mata yang masih turun melalui pipi indah wanita yang dicintainya tersebut. Dipandangnya Sooyoung dengan tatapan lembutnya.

“Kita hadapi ini sama-sama, kita minta maaf dan akui kesalahan kita kepada Siwon hyeong. Apapun yang terjadi nantinya, aku.. akan menerimanya” ucap Kyuhyun lirih, Sooyoung menganggukkan kepalanya lalu tersenyum kepada Kyuhyun.

Setelah itu, Kyuhyun membantu Sooyoung untuk dapat berdiri, lalu memapah Sooyoung menuju mobilnya.

“Masuklah.. aku akan mengantarmu pulang” Sooyoung mengangguk patuh.

Selama perjalanan Sooyoung tertidur karena rasa letih yang menyerangnya, “Aku pasti akan bertanggung jawab atas semua yang terjadi saat ini, Soo-yah

=

.

.

=

 At Siwon Apartement’s

 

Yaa!

Siwon menoleh, mendengar Tiffany berteriak kencang, membuatnya mengeryit bingung. Seakan tak peduli, Siwon melanjutkan acara nonton TV-nya. Tak lupa dengan kaki panjangnya yang diletakkan dimeja, yang terletak persis  didepannya. Namun bukan itu yang membuat Tiffany berteriak kesal.

Clik.

Waeyo?” tanya Siwon, Tiffany menatap Siwon jengkel dan berkacak pinggang.

“Masih tanya kenapa? Apa kamu tak menyadari kesalahanmu?”

“Memangnya apa kesalahanku?” guman Siwon.

“Lihat itu!”

Tiffany menunjukkan sampah kecil bekas kulit kacang yang baru saja dimakan Siwon berserakan diatas lantai.

“Lalu?” tanya Siwon polos.

“Lalu?”

Plak

“Auu.. Yaakk, monster. Kenapa kamu suka sekali memukuliku sih?” tanya Siwon sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja dipukul Tiffany menggunakan sapu yang dipegangnya.

“Karena kamu pantas untuk dipukul” jawab Tiffany galak.

“Aishh.. Tsk” decak Siwon.

“Lihatlah, karena ulahmu aku harus mondar-mandir membersihkan lantai ini”

“Itukan memang tugasmu” jawab Siwon cuek, melanjutkan aktivitasnya.

Tiffany melongo heran, “Tapi bukan berarti, kamu bisa seenaknya membuang sampah kulit kacangmu kelantai yang ku sapu” teriak Tiffany kesal.

“Ahh, itu… Sorry” ucap Siwon tanpa rasa bersalah.

Tiffany mengeram kesal mendengar penuturan Siwon yang ogah-ogahan seperti itu.

Neo~..”

Tiffany langsung pergi meninggalkan Siwon dan tak melanjutkan kegiatan bersih-bersihnya.

Yaak! Mau kemana kau? Ini belum bersih, hei…”

Siwon menghampiri Tiffany, dilihatnya Tiffany yang menguncikan dirinya didalam kamr mandi apartementnya.

“Menyebalkan!” Tiffany terduduk di atas closet dengan meremas-remas tangannya sendiri, menahan amarah yang sejak tadi dipendamnya.

“Benar-benar tidak tahu terima kasih, hiks hiks,”

“Seenaknya saja bersikap seperti itu. Dia pikir dia siapa? Aku bahkan tak mengenalnya. Benar-benar sial, hiks hiks..” Tiffany terus menggerutu dengan terus mengeluarkan air matanya.

Nappeun namja, sudah berani-beraninya memperkosaku, sekarang dia menyuruh-nyuruhku seperti budak. Hiks, hiks, jahat sekali dia, huaaaaa, halmeoni, hiks.. hiks.. huaaa…”

Siwon yang mendengar Tiffany menangis dari luar kamar mandi hanya terdiam saja tanpa melakukan apapun. Siwon menghela nafas, dan membalikkan tubuhnya, menyenderkan tubuh kekarnya pada pintu kamar mandinya.

Siwon mengehela nafasnya dengan kencang, saat terdengar suara tangisan yang semakin keras dari dalam kamar mandi. Sebenarnya Siwon tak bermaksud untuk melakukan itu, Dia sengaja menyuruh Tiffany untuk tinggal di apartementnya sebagai rasa tanggungjawab Siwon atas kejadian tadi malam. Dan lagipula Siwon juga mau membantu Tiffany mencari tunangannya. Nickhun.

Mengingat nama nickhun membuat Siwon mengepalkan tangannya dengan keras, “Aku akan membuka semua keburukanmu, secepatnya..” batinnya.

Bugh

“Auuu”

“Ngapain kamu didepan toilet?”

“A-a…”

Ya! Kamu mengintip yah?”

Maldo andwe!” jawab Siwon langsung, dan berdiri tegap dihadapan Tiffany.

“Lalu kenapa kamu disini?”

“A-anu, ak-u…”

Mwo?” tanya Tiffany sambil memincingkan matanya.

Siwon melihat wajah Tiffany dengan inten, “Kamu habis menagis?” Siwon bertanya karena dilihatnya mata Tiffany yang membengkak.

A-ani” Tiffany memalingkan wajahnya, tak berani menatap wajah Siwon yang terus memandangnya.

Gojitmal..” Siwon mendengus mendengar jawaban Tiffany.

“Benarkan kamu mengintipku?” tanya Tiffany kembali.

Ani, aku tidak berbohong.. lagipula ngapain aku melihat tubuh jelekmu itu”

“Apa yang kamu katakan tadi?” Tiffany menatap horor kearah Siwon, membuat Siwon bergidik ngeri.

“Ehhmm, itu..”

Siwon memegang tengkuk belakangnya dengan gugup, “Aku tidak akan mengintipmu tenang saja, percayalah”

Tiifany menatap Siwon dengan tidak percaya, membuat Siwon tidak enak hati.

Ya! Jangan memandangku seperti itu,” kata Siwon.

“Seperti maling saja” guman Siwon

Tiffany menatap Siwon dengan malas, “Sudahlah.. aku malas berdebat denganmu” Tiffany melongos pergi meninggalkan Siwon yang memandang tankjub Tiffany.

“Cihh, mood wanita ini benar-benar tak terduga” Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya,

Yaakk! Jangan lupa siapkan makan malam untukku”

ARASSEO

Siwon langsung menuju kamarnya untuk siap-siap mandi. Dia merasa sangat gerah setiap kali berhadapan dengan Tiffany, semua energy-nya terkuras karena terus saja meributkan hal-hal sepele.

Sedangkan Tiffany, ia menuju dapur untuk memasakkan makan malam Siwon hari ini. Tiffany terlihat serius memasak masakan tersebut, entahlah Tiffany merasa lelah jika harus bertengkar dengan Siwon. Saat ini dia hanya ingin cepat-cepat menyelesaiikan tugasnya dan tidur.

Siwon Side’s

Siwon keluar dari kamar mandi, masih dengan handuk yang melekat dibagian pinggangnya. Memperlihatkan tubuh atletis-nya yang terbentuk indah. Siwon menuju lemari pakaiannya, memilih baju casual yang akan dipakainya malam ini. Dipilihnya kaos putih dengan leher V yang terbentuk dibaju tersebut, dipadukan celana training panjang berwarna hitam.

Dilangkahkan kakinya menuju cermin untuk merapihkan rambutnya yang belum tersisir dengan rapih. Saat Siwon sedang menyisirkan rambutnya dengan jari-jari tangannya, terlihat sesuatu terpantul melului cermin dihadapannya. Sebuah pigura berwarna hitam classic, didalamnya terpotret dua orang yang tersenyum bahagia dihadapan kamera. Sepasang tangan kokoh melingkar dengan erat dipinggul kecil milik wanita yang berada didekapannya.

Siwon tersenyum miris melihat pemandangan didepannya, “Aku baru sadar.. ternyata itu sudah lama”

Tiffany Side’s

Tiffany mengaduk sup yang telah dibuatnya dengan tatapan kosong. Dia terus memikirkan nasib kedepannya, apa yang harus dilakukannya nanti? Apa yang harus dikataknnya saat bertemu Nickhun? Bagaimana jika dia hamil? Tanpa disadarinya, air matanya keluar lagi dari mata indah milik Tiffany.

“Hiks, hiks,” Tiffany menundukkan wajahnya.

“Apa yang harus kulakukan Tuhan? Aku begitu takut menghadapi ini sendiri. Bagaimana aku harus mengatakannya pada halmeoni.. dan pada Niickhun oppa? Kenapa ini semua harus terjadi padaku?”

“Hiks, hiks”  

 

End Side’s

 

Tiffany terhenyak, saat disadarinya ada sebuah tangan yang berteger manis dipundaknya kirinya. Sedangkan tangan sebelah kanannya digunakan untuk membantu Tiffany mengaduk sup buatan Tiffany.

“Aku pasti akan bertanggung jawab, aku janji..” ucap lirih sang pemilik tangan yang tak lain adalah Siwon.

Mereka terdiam, memikirkan masing-masing permasalahan mereka. Baik Siwon dan Tiffany tak ada satupun yang mengeluarkan suara mereka seperti biasanya. Mereka sudah cukup lelah dengan semua permasalahan yang mereka hadapi dua hari belakangan ini.

“Bentuk Sup ini terlihat meyakinkan, tapi aku sedikit ragu dengan rasanya” guman Siwon, membuat Tiffany mendelik tajam kearah Siwon. Sedangkan yang ditatap tak menunjukkan rasa bersalahnya sama sekali.

Tiffany melepaskan tangan Siwon, “Sudahlah, duduk saja disana. Jangan banyak bicara”

“Aishh, kau mengagetkan ku saja” ucap Siwon, sambil mengusap dada bidangnya.

Siwon menggerutu seraya meninggalkan Tiffany menuju meja makan lalu duduk dengan manis dibangku yang telah tersedia. Tak lama Siwon mengeluarkan handphonenya, menekan menu kontak, dan mencari nama yang ingin dihubunginya.

Titttt tittt

 

Titttt tittt

 

“…”

Yoboseyo

“…”

“Ne~, ini aku. Siwon”

“…”

“Tidak apa-apa, aku hanya- ingin tahu keadaanmu saja. Bagaimana keadaan kamu dan suamimu disana, baik-baik saja bukan?”

“…”

“Aku juga baik.”

“…”

Siwon tersenyum, “Baiklah aku akan segera ke Aomori untuk mengunjungimu dan keluargamu disana”

“…”

Ne” Tiffany meletakkan hidangan yang sudah dimasaknya diatas meja, sembari menatap Siwon penuh tanya, Siwon pun melirik kearah Tffany, namun tak dihiraukannya tatapan Tiffany.

“…”

“Aku akan menghubungimu lagi, jika aku sudah menuju Aomori. Persiapkan saja semuanya untuk kedatanganku, kekeke~”

“…”

“Terserah, asal kamu tak lagi menghidangkan makanan aneh buatanmu”

“…”

“Hahahahaha. Sorry, Just Kidding!”

“…”

Ne, aku akan segera kesana secepatnya,” Tiffany sudah terduduk didepan Siwon masih terdiam menunggu Siwon menyelesaikan percakapannya ditelepon.

“…”

“Oke, aku sudahi dulu ya. Salam buat keluargamu terlebih suamimu itu”

“…”

Anhiyo, aku biasa saja.”

“…”

“Sudahlah. Aku akan hubungimu lagi jika aku menuju Aomori. Bye”

“…”

Siwon mematikan sambungan interlocal-nya, dan menatap Tiffany heran karena Tiffany menatapnya penuh selidik dengan menopangkan dagunya pada tangan sebelah kirinya tersebut.

Mwo?

Tiffany sadar dan langsung menggeleng, “Anhiyo, sudahlah makan tuh makanannya, semoga kamu suka”

Geurae, aku harap ini tidak akan membunuhku” sindir Siwon.

Ya! Kamu pikir aku memberikan racun pada makanan ini?”

“Siapa tahu?”

“Ihhh, menyebalkan”

Siwon menyantap makanannya dengan santai tanpa memperdulikan Tiffany yang merenggut kesal atas tuduhan Siwon.

“Tadi saja aku benar-benar menaruh racun dimakanan itu” batin Tiffany.

Tiffany beranjak dri duduknya, berjalan meninggalkan Siwon, “Yaakk! Eodiga?”

“Mandi”

Siwon membulatkan mulutnya dan melanjutkan makannya yang tertunda, “Enak juga” pikirnya .

>>Bebereapa menit kemudian

 

“Siwon-ssi” Siwon terkaget saat mendengar teriakan dari arah kamarnya, langsung dilangkahkan kakinya memasuki kamar tersebut.

“Tiffany-ssi, wae geurae?” Siwon mengedor-gedor pintu kamar mandi yang ada didalam kamarnya tersebut.

“Siwon-ssi” ucap Tiffany ragu.

Ne~.. malhaebwa?” tanya Siwon khawatir.

“Eemm, Siwon-ssi bisakah kamu membantuku?”

Mwooo?” desak Siwon.

“Bisakah.. kau membelikanku beberapa pakaian yang bisa kupakai?” mohon Tiffany, Siwon hanya melongo mendengar ucapan Tiffany.

=

.

.

=

At Departement Store

“Ck, Lama sekali dia” ucap Siwon tak sabar. Kini Siwon sedang menunggu seseorang didepan mall besar di Seoul. Dengan menggunakan masker, topi dan kacamata hitam. Membuatnya terlihat seperti kepala gangster.

“Siwon-ah” tepuk seseorang mengagetkan Siwon.

Hyeong?” kagetnya.

“Hehehe” seseorang itu hanya tersenyum lebar melihat ekspresi kaget Siwon, tak lupa dengan tanda peace yang menunjukkan penyesalannya.

“Aishh..Ya sudah kita masuk sekarang”

“Eh chakkaman,”

Siwon memandang malas kearah Eunhyuk, “Ada apa lagi hyeong?”

“Memangnya kita mau ngapain?”

“Sudahlah, jangan banyak tanya. Kita masuk secepatnya, biar semua tuntas”

Eunhyuk hanya mengangguk paham, “Baiklah kalau begitu”

Siwon memasuki mall tersebut dengan langkah yang cepat  sedangkan Eunhyuk masih dengan setia mengikutinya dengan bingung, terlebih saat Siwon memasuki stand khusus pakaian wanita.

“Eh, eh chakkaman” tahann Eunhyuk.

“Ada apalagi hyeong?” tanya Siwon kesal.

“Kau tak salah memasuki stand ini?” tanya Eunhyuk dengan menunjukkan nama stand tersebut kepada Siwon.

Anhiya” jawab Siwon datar.

Hajiman, Si-“

“Sudahlah hyeong, ikuti saja perintahku. Atau aku akan membatalkan tiket liburanmu.”

“Wettzzz, santai dong, aku kan hanya bertanya. Baiklah, baiklah, ayo.. kita masuk” seru Eunhyuk.

Meraka akhirnya memasuki stand khusus pakaian wanita tersebut, dengan tatapan curiga dari pengunjung-pengunjung stand tersebut, yang seluruhnya adalah seorang wanita. Siwon bersikap tak peduli, walaupun sebenarnya dia sangat malu karena melakukan hal bodoh seperti ini. Sedangkan Eunhyuk terus saja melambaikan tangannya kepada wanita-wanita yang menatap kearah mereka.

Siwon menuju tempat pakaian dalam, memandang geli jajaran pakaian-pakaian dalam wanita tersebut.

Ya! Siwon, kamu ingin membelikannya untuk Sooyoung ya?”

Ani

“La-.. Ya! Apa-apaan kau?“ Eunhyuk berteriak geli, saat Siwon mencocokan sepasang underware dan juga bra kearah tubuhnya. Dan lagi-lagi Siwon tak memperdulikannya.

“Pegang!” perintah Siwon, Eunhyuk menerima lemparan underware dan bra tersebut dari Siwon. Lalu berjalan lagi mengikuti Siwon.

“Ini.. ini.. ehhhmm, ini dan yang itu.. dan juga yang disebelah sana” Siwon terus memerintahkan Eunhyuk untuk mengambil barang-barang kebutuhan wanita tersebut, tanpa memeperdulikan Eunhyuk yang kerepotan.

Siwon masih sibuk, memilih-milih pakaian mana yang pantas dan cocok untuk digunakan oleh Tiffany, “Ya! Siwon kenapa begitu banyak?”

Joyongi, hyeong.. aku sedang berkonsentrasi” ucap Siwon yang membuat Eunhyuk mendengus kesal.

“Benar-benar aneh” batin Eunhyuk.

Siwon berbalik mengahadap Eunhyuk, memandang semua keperluan Tiffany.

“Kurasa cukup”

Kajja” Siwon mendorong Eunhyuk menuju kasir, untuk membayar semua pakaian-pakaian tersebut.

Eunhyuk meletakkan barang-barang tersebut diatas meja kasir dengan senyum kikuknya. Sedangkan Siwon berdiri sedikit menjauh dari Eunhyuk, membiarkan Eunhyuk menyelesaikannya sendiri.

“Semuanya, 10000 won tuan” ucap sang kasir ramah.

“Siwon..” panggil Eunhyuk, Siwon yang paham langusng melempar dompet miliknya.

“Hep, haha.. aku keren bukan” Siwon menggelengkan kepalanya melihat tingkah hyeong-nya tersebut.

Igo,” Eunhyuk menyerahkan uangnya pada sang kasir, dan langsung melesat menuju Siwon yang masih berdiri mematung ditempatnya.

“Nihh..” Eunhyuk memberikan barang tersebut kepada Siwon, Siwon menerimanya.

“Dan ini,”

Gomawo..” Siwon mengambil dompetnya dan meninggalkan Eunhyuk sendirian.

Ya! Chakkaman” seru Eunhyuk sambil berlari mengejar Siwon.

=

.

.

=

At Siwon Apartement’s

Huft

 

Huft

Tiffany terus saja menghembuskan nafsnya berulang kali. Melihat kesekitar kamar Siwon, dia memutuskan untuk keluar kamar mandi dan duduk diranjang milik Siwon. Diedarkan padangannya keseluruh isi yang ada dikamar Siwon.

Ige Mwoya?” diambilnya sebuah bingkai foto yang diletakkan secara tertutup, sehingga tak terlihat potret yang ada didalam bingkai tersebut.

“Tsk, wanita kemarin? Jadi dia benar-benar kekasih Siwon-ssi? Dia benar-benar terlihat seperti laki-laki baik” guman Tiffany, masih terus memandangi foto yang memperlihatkan kemesraan Siwon dan Sooyoung.

Clek

Tiffany mendongakkan wajahnya kearah pintu, “Apa yang kau lakukan?”

Siwon berjalan menghampiri Tiffany yang sedang terduduk di ranjangnya dan memegang bingkai foto miliknya.

“Pakailah” ucapnya dingin, menyerahkan pakaian-pakaian yang sudah dibelinya, dan mengambil alih bingkai yang dipegang Tiffany lalu menaruhnya dilaci.

“Kenapa ditaruh di laci?” tanya Tiffany.

Wae?” ucap Siwon masih dingin.

Anhiya, Geundae…

Dwasseo! Pakai pakaianmu segera, dan lekaslah tidur. Aku akan tidur diluar”

Siwon langsung beranjak keluar kamar, membuat Tiffany bingung dengan sikap dingin Siwon.

“Ada apa dengannya?” guman Tiffany.

Clek

 

“Ah, ya.. Tiffany-ssi,” Tiffany mendongak kembali kearah pintu yang dibuka Siwon.

“Aku harap pakaian itu, cocok untuk… tubuh jelekmu” Tiffany membelalakan matanya tak kala Siwon lagi-lagi mengejeknya.

Ya!” Tiffany berteriak dengan menutup bagian atas tubuhnya, saat sadar sejak tadi dia bahkan hanya mengenakan handuk dihadapan Siwon.

Nappeun” teriaknya.

Mendengar teriakan Tiffany, membuat Siwon segera menutup pintunya dengan cepat.

 

=

.

.

=

 

At Aomori, Japan

Oppa..

Ne?

“Siwon-ah, dia akan berkunjung kesini” ucap wanita itu ceria, membuat suaminya menghentikan kegiatan sarapannya tersebut.

Laki-laki itu menatap istrinya penuh tanya, “Jeongmalyo?

Ne” jawab sang istri semangat.

Wae” tanya wanita itu.

Ani” geleng laki-laki itu.

“Akhirnya.. aku bisa bertemu Siwon kembali, setelah hampir satu tahun lebih ini aku tak menemuinya” ucapa wanita itu tersenyum.

Opaa.. menurut oppa  aku harus menyiapkan apa untuk kedatangan Siwon?”

Molla” jawab enggan sang suami.

Op-pa.. jangan seperti itu”

Wae” tanya sang suami dengan memandang malas kearah istrinya.

“Jangan begitu.. sampai kapan oppa dan Siwon saling bersikap dingin seperti ini? Aku tak ingin dua orang yang kusayangi saling bermusuhan” ungkap wanita itu sedih.

Laki-lai itu menggenggam tangan istrinya lembut, “Mianhae, aku hanya tak tahu harus bersikap seperti apa kepada saudara sepupumu itu”

Wanita itu mengerucutkan bibirnya, “Oppa harus mengalah, bersikap baiklah pada Siwon, aku yakin dia akan luluh nantinya”

Laki-laki menghembuskan nafasnya dengan berat, lalu mengangguk.

Geuraeyo, aku akan berusaha,”

“Walau aku tak yakin” tambahnya lirih.

Anhiya, aku akan mendukungmu. Aku juga akan membicarakn ini dengan Siwon secara baik-baik.”

Laki-laki tersebut tersenyum manis kepada sang istri, “Geurae, aku percaya padamu. Baiklah, aku harus berangkat sekarang”

“Secepat itu?”

“Eh,eh, eh.. Jangan mulai yeobo

Oppa…

Ani, aku harus berangkat sekarang. Atau kalau tidak aku akan kena hukuman appa-mu”

“Aku akan mengatakannya pada appa” bujuk sang istri.

Shireo” Laki-laki tersebut melenggang keluar rumah, dengan diikuti istrinya yang merangkul tanganya tersebut.

“Hati-hatilah oppa” ucap sang istri begitu mereka sudah sampai didepan rumah mereka.

Ne~

Laki-laki tersebut mencium kening sang istri dengan lembut, lalu beranjak menuju mobilnya.

Annyeong, yeobo

Wanita itu melambaikan tangannya, saat sang suami mulai menjalankan mobilnya.

Saranghaeyo, Nickhun oppa” teriaknya.

Laki-laki itu hanya tersenyum, memandang ulah sang istri dari kaca spion mobilnya.

Saranghaeyo Victoria-ssi

=

.

.

=

Sifany Side’s

“Ya! Siwon-ssi apa yang kamu lakukan, kenapa kita harus seperti ini?”

“Husshhh.. Joyongihae~” ucap Siwon pelan.

“Tap-“

“Tutup mulutmu, atau aku akan menciummu” Tiffany langsung menutup mulut dengan kedua tangganya, saat Siwon mengancam.

Tiffany cemberut, karena dia merasa seperti orang bodoh. Terlebih dia begitu lelah karena harus berjongkok dan bersembunyi dibalik semak-semak. Tiffany tidak tahu apa tujuan Siwon mengajaknya seperti ini.

“Kalau bukan karena dia tahu keberadaan Nickhun oppa. Sudah kutendang jauh ke antartika sejak kemarin” umpat Tiffany dalam hati.

“Eh, eh..” Tiffany terkejut saat Siwon mendekapnya dan menundukkan tubuh mereka berdua lebih dalam.

“Apaan sih?”

“Ssstttt” Siwon meletakkan jarii telunjuk didepan bibir Tiffany, bermaksud menyuruh Tiffany untuk diam.

Tiffany melihat kearah Siwon lihat barusan, dan terlihat sosok wanita yang dikenal sedang memasuki mobil dengan laki-laki disampingnyang membukakan pintu mobil tersebut.

“Bukankah, dia yeojacingu-mu?” tanya Tiffany, namun bukannya menjawab Siwon malah menarik Tiffany menjauh dari tempat persembunyian mereka.

“Masuklah” perintah Siwon, saat mereka sudah sampai didepan pintu penumpang mobil Siwon.

Tiffany meringis karena rasa sakit yang diberikan Siwon saat mencekeram tangan Tiffany begitu erat.

Geurae… ta-pi bisakah kamu melepaskannya, appo..” rengek Tiffany sambil menunjuk tangan Siwon yang masih memegang lengan Tiffany.

“Ah, Mianhae..” ucap Siwon langsung melepas cengkaramannya. Dan berjalan menuju bangku kemudi, tepat disamping Tiffany.

“Kita mau kemana?” tanya Tiffany saat Siwon mulai menyalakan mobil.

“Diam saja, dan ikuti aku”

Tiffany terdiam patuh, ia melihat Siwon dalam keadaan mood yang tak baik. Daripada harus menanggung resiko, lebih baik Tiffany diam.

Sepanjang perjalanan Siwon dan Tiffany hanya terdiam, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Siwon yang focus mengendari mobilnya dengan hati-hati, mengikuti mobuil Hyundai berwarna silver yang berada didepannya. Tiffany tidak tahu pasti mobil siapa itu, yang jelas didalam mobil itu ada seorang wanita yang meerupakan kekasih dari Siwon.

Tiffany memandang Siwon, memperhatikan raut wajah dingin Siwon. Terlihat jelas, bahwa Siwon tidak baik-baik saja. Rahangnya mengeras, wajahnya pun memerah menahan amarah yang sejak tadi dipendamnya. Tiffany menunduk bingung, ia tak tahu harus berbuat apa. Jujur saja, Tiffany tidak ingin berada diposisinya saat ini. Dia bahkan tidak tahu apa-apa, tapi harus masuk dalam permasalahan Siwon.

Setelah beberapa lama terdiam, Tiffany baru menyadari mobil Siwon telah berhenti tepat dibelakang mobil silver tersebut.

Clek

“Keluarlah!” ucap Siwon dingin, Tiffany mengangguk diam.

“Eh?” Siwon menggenggam tangan Tiffany, menyeretnya masuk ke sebuah café minimalis yang terlihat cukup ramai.

“Siwon-ssi..” panggil Tiffany lirih.

“Duduklah”

Tiffany duduk, “Sebenarnya ada apa”

“Diamlah, kamu hanya perlu menemaniku disini”

Tiffany merengut kesal karena lagi-lagi Siwon mengeluarkan nada ancamannya. Saat ini mereka sedang duduk tak jauh dari tempat duduk yang ditempati Sooyoung dan Kyuhyun. Seseorang yang diikuti Siwon sejak tadi.

Tiffany ikut memperhatikan Sooyoung dan Kyuhyun yang terlihat sedang menikmati obrolan mereka. Tak jarang Kyuhyun memberikan sentuhan-sentuhan manis yang membuat Sooyoung tersenyum malu. Melihat situasi ini, membuat Tiffany dapat menarik kesimpulan. Ditolehkan kepalanya menghadapan Siwon yang memandang Sooyoung dan Kyuhyun secara bergantian.

Maldoe andwae” lirihnya.

Tiffany terus saja, secara bergantian melihat kearah Sooyoung, Kyuhyun dan juga Siwon.

“Apa kekasihnya berselingkuh dengan laki-laki itu? Tapi kenapa Siwon-ssi..”

Kajja, kita pulang” Siwon bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan meja yang mereka tempati.

“E-eh? Siwon-ssi” panggilnya menghampiri Siwon.

Bukannya menghentikan langkahnya, Siwon justru semakin menjauh dan pergi meninggalkan Tiffany yang terlihat kesusahan untuk menyamai langkah Siwon.

Chakkaman.. hosh, hosh,” Tiffany mencoba mencoba mengatur nafasnya. Siwon hanya menatap datar Tiffany yang terlihat kelelahan karena mengejarnya.

Tiffany menatap Siwon tajam, “Jadi.. cuma ini?”

Mwo?

Tiffany menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu menyikap kedua tangannya didepan dada.

“Pengecut”

Mwooo? Ya! Monster apa maksudmui hah?”

Ne~ Neo.. pe-nge-cut”

Siwon tersenyum sinis dan mencekram erat lengan Tiffany sebelah kiri, “Kamu mau mati sekarang?” raut wajahnya sudah memerah.

Waeyo? Bukankah aku benar?” ucap Tiffany tak kalah sengit.

“Benar apanya, hah?”

“Benar, kalau kamu ini seorang pengecut” ucap Tiffany penuh penekanan.

“Cahh, aku bukan pengecut” desis Siwon tajam.

“Kalau begitu buktikan” tantang Tiffany.

Kajja~” Tiffany langsung membalikkan keadaan, dia menyeret Siwon dengan memegang sebelah lengan Siwon yang tadi digunakan Siwon untuk mencekram lengannya.

Siwon yang tersentak hanya mengikuti arah tujuan Tiffany, namun dia mulai menyadari bahwa Tiffany mengarahkannya kemeja yang ditempati oleh Sooyoung dan Kyuhyun.

Ya!-“

Silyehamnida…” ucap Tiffany lembut, membuat Sooyoung dan Kyuhyun menoleh kearahnya. Sedangkan Siwon langsung memelototkan matanya melihat tindakan Tiffany.

Op-pa” Siwon langsung menegang mendengar suara yang begitu dirindukannya., namun dengan segera Siwon menetralisir dirinya sendiri. Ditatapnya Sooyoung dengan tajam.

Sooyoung berdiri dari tempatnya, “Oppa?

“Ehm, ehm.. mianhaeyo kami mengganggu. Apa kami boleh bergabung?” Siwon terkejut mendengar penuturan Tiffany yang masih merangkul dengan erat lengannya.

Ne?” ucap Sooyoung dan kyuhyun berbarengan.

Tiffany menganngukan kepalanya dengan cepat sedangkan Siwon hanya memejamkan matanya dengan pasrah.

=

.

.

=

 

At Apartement

“Ahhhh..” Tiffany menghempaskan tubuhnya dengan nafas lega, saat mereka –Tiffany dan Siwon- sudah sampai di apartement.

Siwon menyenderkan tubuhnya pada bagian tembok yang berada diruangan tersebut. Menatap Tiffany dengan horror.

Mwo?” Tiffany bertanya dengan polos.

“Tsk, dasar wanita gila” Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Tiffany yang diluar nalarnya.

Ya! Kenapa kamu suka sekali mengataiku?” gerutu Tiffany sambil mengerucutkan bibirnya.

“Memang kamu pantas mendapatkannya” jawab Siwon ketus.

“Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku”

“Kenapa aku harus berterima kasih kepadamu, hah?”

“Tentu saja kamu harus berterima kasih, kalau bukan karena aku kamu tidak akan pernah tahu keadaan yang sebenarnya bukan”

“Tsk..”

“Bukannya aku benar”

“Aihh, sungguh menggelikan sikapmu ini” ucap Siwon.

“Apa katamu?” Tiffany bangkit dan langsung berjalan mendekati Siwon. Mereka saling menatap tajam satu sama lain.

Keduanya sama-sama terdiam dengan tatapan yang tak teralihkan satu sama lain. Nafas mereka bahkan memburu satu sama lain.

“Hhhh…” Siwon membuang mukanya saat dilihatnya mata Tiffany yang mulai berair lagi.

“Dasar tak tahu diri, pantas saja kekasihmu meninggalkanmu” guman Tiffany tepat didepan muka Siwon. Lagi-lagi itu membuat Siwon menatap tajam wanita didepannya.

“Jangan mengatakan sesuatu yang tidak kamu ketahui, Tiffany-ssi” desis Siwon tajam.

“Aku memang tidak tahu apa-apa. Tapi kamu sangat egois Siwon-ssi

“Terserah..” Siwon pergi meninggalkan Tiffany yang masih mentapnya.

“Setidaknya berikan mereka kesempatan untuk menjelaskannya.” Ucap Tiffany pelan.

Siwon menghentikan langkahnya dan menghembuskan nafasnya. Lalu melanjutkan langkahnya memasuki kamar apartementnya.

Brak

Tiffany memjamkan matanya, mendengar suara keras yang keluar dari arah pintu kamar Siwon. Siwon terdiam dibelakang pintu, dan langsung terduduk menyender dipintu tersebut.

FLASHBACK

 

Gomawoyo ..” ucap Tiffany kepada seorang pelayan yang mengantar pesanannya dan Siwon.

“Ini..” Tiffany menyerahkan segelas Coffee Latte ke hadapan Siwon. Siwon hanya terdiam menatap kosong kearah cangkirnya tersebut, bukan hanya dia yang terdiam, Sooyoung dan Kyuhyun pun terdiam.

Sooyoung terkadang melirik kearah Siwon yang duduk disamping Tiffany tepat diseberangnya. Kyuhyun pun terkadang melirik kearah Siwon dan Sooyoung secara bergantian. Sedangkan Tiffany hanya asik dengan makanan yang dipesannya tadi.

“Kenapa kalian tidak memakannya?” tanya Tiffany dengan tatapan polos. Mereka bertiga langsung tersentak, dan mengalihkan perhatiannya pada makanan yang mereka diamkan sejak tadi tersebut. Namun hayan Sooyoung dan Kyuhyun yang melanjutkan makan mereka sedangkan Siwon masih terdiam dengan posisi yang sama.

“Aaaaa..” Siwon terhenyak saat Tiffany memyodorkan sesendok  makanannya kearah Siwon, dilihatnya Tiffany yang tersenyum manis deidepannya.

Deg

Entah ada apa dengan Siwon, melihat senyum Tiffany yang seperti itu membuat hatinya berdetak tak karuan.

“Aaaaa..” ulang Tiffany, dengan canggung Siwon membuka mulutnya dan memakan makanan yang disuapkan Tiffany kepadanya.

Melihat pemandangan didepannya tersebut, membuat Sooyoung meremas dengan kuat jari-jari tangannya. Kyuhyun yang menyadarinya menggenggam tangan Sooyoung yang terletak dibawah meja.

“Aku kemarin melihatmu? Tapi tiba-tiba kamu menghilang” tanya Tiffany kepada Sooyoung.

“Ah, a-ku..”

“Aku menelponnya untuk segera kembali” sela Kyuhyun cepat.

“Ooo..” Tiffany mengannguk paham.

“Kalian terlihat serasi” ceplos Tiffany.

Deg

Ketiganya kembali tersentak dengan pernyataan Tiffany yang terlalu polos tersebut.

“Ah, anhiya” jawab Kyuhyun gugup.

“Beneran, kalian terlihat seperti pasangan yang sebenarnya, dibandingkan Siwon-ssi dengan wanita ini” Siwon menoleh dan menatap tajam kearah Tiffany.

Sedangkan Sooyoung sudah mulai mengeluarkan keringat dinginnya, menggigit dengan kuat bibir bagian bawahnya. Dan Kyuhyun langsung blank tatkala Tiffany berucap dengan tepat kearah permasalahan.

“Bukankah kamu yeojacingu-nya Siwon-ssi? Aku pernah melihat photomu dengannya dikamar Siwon-ssi” Siwon masih belum mengalihkan perhatiannya kepada Tiffany, dia ingin tahu kata-kata apa lagi yang akan keluar dari bibir wanita itu.

N-ne” jawab Sooyoung gugup.

Tiffany mengangguk, “Siwon-ssi aku boleh minta minumanmu?” Siwon tercengang saat dengan mudahnya Tiffany meminum minumannya tanpa rasa bersalah.

“Gadis ini benar-benar gila” batinnya.

“Eemmm, mashitaa.. cobalah!” Tiffany lagi-lagi memberikan kejutan bagi mereka bertiga. Disodorkannya segelas Coffee Latte tersebut kemulut Siwon, dan menyuruhnya untuk meminumnya.

Otte?

Siwon tersedak karena Tiffany terlalu cepat menyodorkan minuman tersebut, “Ohh, Siwon-sii gwenchana?” Tiffany menepuk-nepuk punggung Siwon pelan dan mengelap bagian bibir Siwon dengan tangannya.

“Singkirkan tanganmu itu!” bentak Sooyoung keras, membuat semua pengunjung menoleh kearah mereka. Tak terkecuali Siwon, Tiffany dan Kyuhyun.

Wae?” tanya Tiffany polos, masih dengan tangan yang bertengger manis dibibir Siwon. Sooyoung langsung melangkah kearah Siwon dan menariknya dari Tiffany.

“Jangan sentuh Siwon oppa” ucap Sooyoung tajam. Tiffany hanya memandang polos kerah Sooyoung,  sedangkan Kyuhyun menunduk dengan dalam melihat reaksi Sooyoung yang tak terima Siwon didekati Tiffany.

Siwon sendiri hanya memandang Kyuhyun yang tak melakukan apa-apa, dan itu membuat Siwon muak melihatnya.

“Lepaslah” kata Siwon dingin. Sembari melepaskan tangan Sooyoung yang merangkul pergelangan tangan Siwon.

Sooyoung memandang tak percaya mendengar ucapan Siwon barusan, “Oppa..

“Tiffany-ssi, ayo kita pulang?” Siwon menarik pergelangan tangan Tiffany.

“Sekarang? Tapi ini belum ha-“

Siwon tak membiarkan Tiffany mengatakannya lebih lanjut dan langsung menarik Tiffany dengan cepat. Sooyoung yang melihatnya berusaha untuk mengejar Siwon, namun ditahan oleh tangan Kyuhyun.

“Sudahlah, Soo..”

Ani..”Sooyoung melepas dengan paksa tangan Kyuhyun dan berlari meninggalkannya untuk menyusul Siwon dan Tiffany.

Kyuhyun berdecak kesal, lalu ikut mengejar perginya Sooyoung.

Oppa, chakkaman..hiks..” Sooyoung menahan langkah Siwon yang masih menggenggam erat pergelangan tangan Tiffany.

Melihat itu Sooyung merasa sangat kesal sekaligus benci dengan Tiffany, “Oppa.. kenapa kamu jadi seperti ini?”

“Kenapa oppa mengacuhkanku” lanjut Sooyoung berteriak dihadapan Siwon.

“Tsk, kenapa? Apa itu tidak salah Soo-yah” tanya Siwon geram.

Mwo?

“Tsk..” Siwon berdecak heran dengan pertanyaan Sooyoung, dilihatnya Kyuhyun yang menghampiri mereka.

“Lihatlah.. pangeran hatimu sudah datang.. jadi minggirlah! Jangan halangi jalan kami” ucap Siwon dingin, dan menyingkirkan tubuh Sooyoung. Membuat Sooyoung kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Sooyoung..’ teriak Kyuhyun.

Kyuhyun mengahampiri Sooyoung yang terjatuh dan menagis tersebut, Kyuhyun memandang Siwon penuh amarah saat Siwon masih saja melanjutkan langkahnya, tanpa menoleh sekalipun.

“Siwon-ssi.. yeojacingu-mu jattuh” Siwon tak memperdulikan ucapan Tiffany dan masih menarik Tiffany untuk terus berjalan dengannya. Sedangkan Tiffany memandang penuh prihatin kearah Sooyoung yang terjatuh.

Kyuhyun membantu Sooyoung untuk bangkit, “Gwenchana?” tanya Kyuhyun khawatiir. Sooyoung mengangguk dengan tangisan yang belum berhenti.

“Tunggu sini,” perintah Kyuhyun.

Oppa,oeddiga?”Sooyoung berlari mengikuti Kyuhyun.

Hyeong, chakkaman” Kyuhyun menahan Siwon memasuki mobilnya. Siwon menutup kembali pintu mobilnya dan menatap Kyuhyun sengit.

Mwo?

“Dengarkan kami dulu, setelah itu. Hyeong boleh pergi”

“Tsk, Dwaesso” ucap Siwon lalu menyingkirkan tangan Kyuhyun yang memegang pundaknya dengan kasar.

Hyeong,”

Oppa” ucap Sooyoung dan Kyuhyun bersamaan.

“Tsk, daebak.. benar kata Tiffany, kalian benar-benar serasi sekali” sindir Siwon dengan sinis. Tiffany terlihat khawatir didalam mobil melihat ketegangan diantara mereka bertiga.

Oppa, jangan bilang seperti itu” ucap Sooyoung sedih.

Wae, bukankah benar?” ucap Siwon sisnis.Kyuhyun terus saja memandang Siwon dengan intens mencari tahu kebenaran hati Siwon melalui matanya.

Chukkhaeyo, semoga kalian langgeng sampai kalian tua”

Hyeong..

Siwon membuka kembali pintu mobilnya, “Hyeong, tolong dengarkan kami dulu” tahan Kyuhyun.

“Jangan halangi aku Kyu, atau aku akan menghabisimu”

“Pukullah aku juga kau membenciku, hyeong. Tapi tolong jangan perlakukan kami seperti ini, terlebih pada yeojacingu-mu sendiri”

“DIA BUKAN YEOJACINGU-KU” bentak Siwon membuat Sooyoung semakin menagis dalam diamnya, sedangkan Kyuhyun langsung terdiam.

“Jangan sebut dia kekasihku lagi, aku tak ingin memiliki kekasih yang tidak mencintaiku”

“Dia mencintaimu, hyeong.. aku yang salah, bukan Soo” bela Kyuhyun.

“Tsk, diamlah Kyu. Geojitmal hajimara~”

“Aku tidak berbohong hyeong, Sooyoung sangat mencintaimu. Buktinya dia mengejarmu samapai si-“

“Diam! Atau.. aku akan benar-benar menghajarmu,” Siwon mencekeram dengan erat kerah baju yang dipakai Kyuhyun.

Oppa,”

“Siwon-ssi

Tiffany langsung keluar darri mobil dan berusaha memisahkan Siwon dan Kyuhyun yang sudah mulai menegang. Sooyoung juga berusaha menarik tangan Siwon yang mencekeram kerah kemeja Kyuhyun.

Oppa, tolong lepaskan oppa.. jebal” mohon Sooyoung.

Tiifany, berlari menuju Siwon dan menariknya dari belakang. “Sudahlah, Siwon-sii.. tolong hentikan” ucap Tiffany gemetar.

Namun Siwon tidak juga melepaskannya, amarahnya benar-benar memuncak. Dia sudah berusaha untuk menahannya sejak tadi, namun sepertinya baik Sooyoung ataupun Kyuhyun tidak bisa bekerjasama.

“Siwon-ssi, hiks..” Tiffany begitu takut, ini pertama kalinya ia melihat seseorang yang dikenalnya bertengkar seperti ini. Tiffany mulai menagis karena Siwon tidak juga melepaskan tangannya dari kerah Kyuhyun.

“Hiks, hiks,” mendengar Tiffany menangis dibelakang tubuhnya. Siwon langsung mengendorkan pegangannya, dan itu dimanfaatkan oleh Sooyoung yang langsung menjauhkan Kyuhyun dari Siwon.

Siwon langsung mengahadap kearah Tiffany yang meemegang dengan erat baju Siwon dengan tangan gemetarnya. “Tiffany-ssi..”

“Siwon-ssi.. ja-ngan bertengkar lagi, aku mohon, jebal!” mohon Tiffany dengan isakannya.

Arraseo, uljima.. ayo kita pulang” ajak Siwon menenangkan Tiffany. Dan memapah tubuh gemetar Tiffany kedalam mobil Siwon.

Siwon melewati Sooyoung dan Kyuhyun tanpa memandang mereka sedikitpun, dan memasuki mobilnya. Menjalankan mobilnya menuju apartement.

Sooyoung dan Kyuhyun hanya memandang kepergianan Siwon dengan tatapan yang menyedihkan. Terlebih Sooyoung, yang semakin menyesal dengan semua kejadian yang terjadi beberapa hari ini.

FLASHBACK END

Siwon mengerjap-ngerjapkan matanya, saat dirasa tubuhnya yang begitu lelah. “Ahh…” dipegangnya punggung bagian belakangnya, yang terasa begitu sakit. Bagaimana tidak, Siwon tertidur dengan posisi terduduk dan menyenderkan tubuhnya pada bagian pintu kamar apartementnya.

“01.45” batinnya, saat melihat jarum jam digitalnya yang menunjukkan pukul tersebut.

Siwon mulai beranjak untuk berdiri, dan melihat ke sekelilingnya. Digenggamnya ganggang pintu dan dibukannya secara perlahan. Siwon belum sepenuhnya sadar, namun ia merasa tenggorokannya kering. Makanya dia ingin menuju dapur dan meminum sesuatu yang bisa menghilangkan dehidrasinya.

Dilangkahkannya kaki panjangnya menuju dapur, sembari memegangi kepalanya yang teramat pening. Tiba-tiba langkahnya terhenti saat dilihatnya, sesosok wanita yang tertidur dengan kepala yang ditelungkupkan diatas meja.

“Tiffany?”

Siwon menuju Tiffany dengan langkah cepat, dilihatnya Tiffany yang terlihat terlelap dengan posisi tidur yang tak nyaman tersebut. Siwon juga melihat kearah meja makan yang telah penuh dengan berbagai jenis makanan yang sama sekali belum tersentuh.

Siwon menghela nafasnya, diulurkan tangannya mendekap Tiffany. Menggendongnya ala bridal style, membawa Tiffany kedalam kamarnya. Dibukanya pintu kamarnya dengan perlahan, agar tak menimbulkan bunyi berisik.

Siwon menuju tempat tidurnya, diletakkan Tiffany secara perlahan diatas tempat tidurnya tersebut. Tak lupa Siwon menyelimuti Tiffany, agar tak kedinginan nantinya. Siwon terjongkok disamping tempat tidurnya, memandangi Tiffany yang tertidur dengan wajah polosnya.

Jaljayo,” ucapnya lirih lalu mengecup pipi Tiffany lembut. Dan beranjak meninggalkan kamar.

Siwon menuju dapur, seperti niat sebelumnya. Dia begitu haus sehingga ia harus segera menetralkannya dengan meminum-minuman segar. Setidaknya air putih dingin yang ada dikulkasnya.

Setelah meminumnya, ia beranjak menuju meja makan. Melihat hidangan yang tersaji dimeja makan yang telah disediakan oleh Tiffany.

Babo yeoja” gumannya, lalu duduk dan memakan masakan yang telah menjadi dingin tersebut. Menandakan Tiffany sudah menyiapkannya sejak lama.

Sembari memakannya, banyak hal yang dipikirkan Siwon. Sampai akhirnya ia teringat sesuatu, lalu segera mengambil handphonenya yang berada disaku celananya.

Yoboseyo

“…”

“Han Ajussi, bisakah menolongku?”

“…”

“Tolong siapkan tiket menuju Aomori untuk dua orang, besok pagi”

“…”

Ne~ besok pagi”

“…”

Anhyia, aku hanya ingin mengunjungi Victoria-ssi

“…”

Ne~ Gamsahamnida ajussi,”

“Ah, ya. Tolong bilang kepada halmeoni, dan harabeoji sekalian. Kalau aku pergi mengunjungi keluarga Song di Jepang”

“…”

“Tidak, itu saja. Sekali lagi terimakasih, annyeonghaseyo

“…”

Dimatikannya sambungan telpon tersebut, Siwon menghela nafasnya. “Aku akan memenuhi janjiku”

=

.

.

=

Dug

 

“Ahhh…” riGnisnya, saat kepalanya terbentur oleh kaca mobil yang tepat berada disampingnya.

Siwon hanya tersenyum sinis melihat Tiffany meringis kesakitan karena baru saja terbentur kaca mobil tersebut.

Tiffany membuka matanya secara perlahan membiasakan matanya untuk terkena sinar dari luar, dilihat sekelilingnya dengan linglung.

“Dimana ini?” guman Tiffany lirih.

“Taxi”

Tiffany terbelalak kaget saat mendegar jawaban Siwon yang berada disampingnya. Dilihatnya Siwon yang menggunakan kaca mata hitam, dengan panduan kaos putihnya yang ditutupi blazer hitam yang terlihat pas sekali untuk tubuh atletis Siwon. Tiffany mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat lagi sekelilingnya, “Ya! Kita mau kemana?”

=

.

.

=

 

“Seharusnya kamu bilang dulu padaku, kenapa langsung membawaku pergi begitu saja? Seperti penculik saja” Tiffany mengoceh tanpa henti sejak 10 menit yang lalu. Tepatmya setelah pesawat meninggalkan landasanya.

Siwon tidak memperdulikan ocehan Tiffany dan hanya mendengarkan music melalui airphone-nya, sambil memejamkan matanya. Tiffany merengut kesal. Ia menyikap kedua tangannya lalu memandang kearah luar jendela, yang menampakan keadaan atas langit. Memperlihatkan awan-awan putih, membuatnya berdecak kagum.

“Siwon-ssi..”

“Siwon-ssi” Tiffany menggoncangkan tangan Siwon, mencoba membangunkan Siwon dari tidurnya.

“Hmmm?” jawab Siwon tanpa berniat membuka matanya sama sekali.

“Memangnya kita mau kemana sampai harus naik pesawat” tanya Tiffany polos.

Siwon menghembuskan nafasnya kesal, “Apa kamu tidak mendengar perkataan operator tadi?”

Tiffany menggeleng, “Aku tidak mendengarnya, aku terlalu asik melihat pesawat ini” jawab Tiffany.

“Hahaha, norak” ucap Siwon ketus.

Mwo?

Ne~ kamu norak Tiffany-ssi

“Auuu, appo~” Siwoon mengelus bagian lengannya yang baru saja dipukul Tiffany.

“Makanya jangan asal bicara. Aku bukannya norak, tapi ini pertama kalinya aku naik pesawat” bela Tiffany, dengan pandangan yang menyusuri setiap inci bagian pesawat tersebut.

“Sama aja”

“Tentu saja beda” protes Tiffany.

“Sttt, jangan berisik. Kamu mengganggu banyak orang” Siwon membekap muluy Tiffany dengan tangannya. Lalu membungkukkan badannya berulang kali, kepada orang-orang yang memandang mereka heran, karena mendengar teriakan Tiffany.

“Aahhh” teriak Siwon tertahan.

Ya! Appoyo” Siwon meringis kesakitan saat Tiffany menggigit tangan Siwon yang digunakannya untuk membekap Tiffany tadi.

“Rasakan itu” Tiffany menjulurkan lidahnya, membuat Siwon mencubit pipi Tiffany gemas.

“Jangan cubit pipiku” Tiffany cemberut karena ulah Siwon, yang mencubit pipinya dengan keras.

Giliran Siwon yang menjulurkan lidahnya meledek Tiffany yang sedang memegangi pipinya yang memerah.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku”

Mwo?” Siwon menolehkan kembali kepalanya, menatap Tiffany penuh tanya.

“Kita sebenarnya mau kemana?”

Aomori

Aomori?

Siwon mengangguk, “Aomori, Jepang

Tiffany memelototkan matnya dan membungkam mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut mendengar pernyataan Siwon.

J-Je-p-pang?

=

.

.

=

 

Song Crop

 

Yaaaa, Siwon-ssi.. jangan cepat-cepat”

“Lama sekali sih”

“Kamu yang yang terlalu cepat” Tiffany marah-marah sambil terus menyeret koper yang ada ditangannya.

Siwon tak memperdulikan itu, ia langsung menuju meja receptionist, dan menanyakan sesuatu kepada receptionist tersebut.

“Selamat siang, ada yang bisa kami bantu tuan” ucap sang receptionist dengan ramah. Siwon tersenyum membalas keramahan dari receptionist tersebut.

Ya, bisakah saya bertemu pimpinan perusaan ini?”

“Maaf.. apa sebelumnya anda sudah membuat janji?”

Siwon tersenyum kembali, membuat Tiffany yang sudah berada disampingnya memandang geli sikap Siwon yang terlihat begitu baik jika bersama orang lain.

“Bilang saja Choi Siwon yang berkunjung”

“Baiklah tuan, tunggu sebentar, saya akan menghubungi Direktur terlebih dahulu” Siwon mengangguk, dan menoleh kearah Tiffany.

Mwo?” tanya Tiffany jutek.

Bukannya menjawab, Siwon justru mengerlingkan matanya kearah Tiffany, membuat Tiffany bergaya seolah-olah ingin muntah. Dan tentu saja Siwon langsung mendengus kesal melihatnya.

“Direktur bilang, ia menuggu anda diruangannya”

“Baiklah, terima kasih nona”

“Sama-sama tuan”

“Ah, ya.. boleh saya meminta tolong lagi”

“Ya” receptionist itu tersenyum.

“Tolong titip koper kami sebentar saja disini. Kami akan mengambilnya setelah pertemuan selesai”

“Baiklah” receptionist itu mengambil kedua koper milik Siwon dan Tiffany, dan menyeretnya menuju meja receptionist.

“Terima kasih” setelah mengatakannya, Siwon langsung melenggang pergi sambil menyeret Tiffany yang masih terdiam bingung.

Kini Siwon dan Tiffany sudah berada didalam Lift menuju lantai 12, tempat dimana orang yang ingin ditemui Siwon berada.

Gwenchana?” Siwon bertanya dengan nada khawati kepada Tiffany, karena dilihatnya Tiffany yang lebih banya diam dan mukannya pun terlihat pucat.

Tiffany mengangguk lemas, “Sepertinya aku mabuk setelah kita turun dari pesawat” ucapnya lirih.

“Tenanglah, sebentar lagi kita akan sampai” ucap Siwon sambil merangkul bahu Tiffany.

Ting

Kajja

Siwon menggenggam tangan Tiffany dan membawanya menuju kesebuah ruangan yang didalamnya terdapat seseorang yang menunggunya.

“Siwon-ssi” ucap Tiffany lirih, membuat Siwon mengurungkan niatnya untuk membuaka pintu yang berada didepannya.

Wae?” tanya Siwon.

“A-ku, ing-in ke-toilet dulu” kata Tiffany tersendat-sendat seperti menahan sesuatu.

“Ke toilet?”

Tiffany mengangguk, “Baiklah aku akan mengantarmu”

Tiffany menahan pergerakan Siwon yang ingin mengantarnya ke Toilet, membuat Siwon menatap Tiffany dengan bingung.

“Biar aku sendiri saja Siwon-ssi

“Kamu yakin? Kamu terlihat tidak baik-baik saja Tiffany”

“Aku baik-baik saja, Siwon-ssi.. Kkogjeongma”  ucap Tiffany dengan senyum simpulnya.

Geuraeyo,  Josimhae

Tiffany mengangguk dan pergi menuju toilet. Siwon masih memandangi Tiffany yang terus menjauh didepan pintu yang bertuliskan “DIREKTUR” tersebut.

Clek

“Siwon”

Siwon menoleh kebelakang dan menatap datar orang yang ada dihadapannya tersebut.

Siwon tersenyum simpul, “Sudah lama tak berjumpa.. Nickhun-ssi

 

oOo

At Aomori, Song Corp. Nickhun Official Room.

Hening. Hanya satu kata itu yang dapat mendeskripsikan keadaan kedua laki-laki yang kini saling berhadapan satu sama lain. Salah satu laki-laki yang mengenakan jas berwarna biru pekat, sedang memandang lurus laki-laki didepannya yang sedang asik memainkan handphone-nya tanpa memperdulikan tatapan intens yang diberikan oleh laki-laki yang saat ini tengah duduk di kursi direkturnya tersebut.

“Ehem…” akhirnya Nickhun melepaskan semua keegoisannya untuk tidak membuka pembicaraan terlebih dahulu sebelum Siwon sendirilah yang bicara. Namun karena ia merasa ini akan semakin menjenuhkan, akhirnya ia memutuskan untuk memulainya terlebih dahulu.

Senyum kemenangan tercetak jelas melalui bibir Siwon, “1-0.” Batinnya.

“Baru kemarin Vic, mengatakan kamu akan datang. Dan sekarang, tanpa diduga-duga kau ada diperusahaanku. Seorang Choi Siwon tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan. Jadi.. gerangan apa yang membuatmu datang menemuiku terlebih dahulu, Siwon-ssi?” tanya Nickhun tenang.

“Perusahaanmu?” tanya Siwon kembali dengan senyum sinis yang mengiringi ucapannya, tanpa menoleh kearah Nickhun dan masih asik memainkan ponselnya.

Nickhun berdecak malas menanggapi kesinisan Siwon yang selalu ditunjukkannya dari awal pertemuan mereka. “Aku sedang tak ingin berdebat denganmu” ucap Nickhun dingin.

Geurae!” Siwon menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk bulat, menandakan persetujuannya atas apa yang dikatakan Nickhun padanya barusan.

“Jadi… apa alasanmu menemuiku?” tanya Nickhun, menatap lurus kearah Siwon.

Siwon menghembuskan napasnya pelan, bukannya menjawab. Siwon justru beranjak dari duduknya dan berjalan perlahan mengamati ruangan yang menjadi tempat Nickhun menjalani tugasnya menjadi Direktur Utama perusahaan Song Corp.

Nickhun masih dengan sabar menunggu Siwon dengan tenang, walau sebenarnya sudah sejak awal ia merasa ada keganjalan atas sikap Siwon. Tidak seperti biasanya Siwon berkunjung menemui Nickhun. Walau ini bukan yang pertama Siwon ke Aomori. Namun ini ada hal pertama yang dilakukan Siwon. Yaitu, menemui Nickhun terlebih dahulu.

Biasanya Siwon akan lebih memilih langsung menemui Victoria, sekedar untuk berbincang-bincang. Melepas rindu diantara mereka berdua, dan tentu saja Siwon akan langsung pergi tanpa berniat bertatap muka dengan Nickhun.

“Sepertinya kamu menjalani tugasmu dengan baik Nickhun-ssi.”

Nickhun hanya tersenyum lirih mendengar penuturan dari Siwon. Ia tahu kemana arah pembincaraan yang akan dibawa oleh sepupu istrinya tersebut.

Siwon berjalan menuju jendela besar yang terletak tepat dibelakang Nickhun. Melihat keindahan kota Aomori yang terpotret dengan jelas melalui kaca besar tersebut. Siwon menatap lurus kearah luar jendela tersebut. Tersenyum simpul, matanya menerawang sesuatu.

Siwon membalikkan tubuhnya, dan kini dia tepat mengarah pada tempat dimana Nickhun masih setia duduk dengan tenang. Menunggu Siwon untuk bicara. “Kalian terlihat serasi,” Nickhun menaikan sebelah alisnya. Bingung dengan apa yang dimaksud Siwon.

Nugu?” Nickhun memutar bangkunya, membuat tubuhnya kini berhadapan langsung dengan Siwon. Yang sebelumnya tepat berada dibelakngnya.

“Menurutmu?” Siwon kembali berjalan lurus, melewati Nickhun yang semakin tak mengerti.

Siwon mengulurkan tangannya, mengambil sesuatu yang terletak tepat diatas meja kantor yang digunakan Nickhun. Dipandangnya, sebuah bingkai foto yang didalamnya terdapat dua insan  yang menggunakan balutan pakaian putih-putih. Sepasang anak manusia yang tersenyum didepan kamera. Mengabadikan kebahagiaan dua insan yang baru saja dipersatukan dalam suatu ikatan yang suci.

Terlihat bahagia jika kita hanya menatap sekilas pada foto tersebut. Namun akan berbeda, saat kita tahu kenyataan yang ada didalamnya. Jika sang mempelai wanita yang mengenakan gaun putih selutut dengan aksen pita panjang dibelakangnya, terlihat sangat cantik, terlebih rambut hitam panjangnya tergerai indah melewati bahu wanita tersebut. Tersenyum sangat manis dan anggun. Menunjukkan kebahagiaan yang terlampau tinggi dalam dirinya.

Berbanding terbalik dengan mempelai prianya, yang tengah berdiri dengan tegap disamping wanita yang baru saja menjadi istrinya. Laki-laki itu hanya tersenyum simpul, dengan sorot mata yang sulit diartikan. Terlihat terpaksa.

Nickhun memandang Siwon yang kini tengah menatap foto pernikahannya dengan Victoria. “Menurutmu siapa?” tanya Siwon.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu Siwon-ssi?”

Siwon meletakkan kembali foto tersebut pada tempat semula, lalu membalikkan badannya dan menatap manik hitam Nickhun yang sejak kedatangannya, terus memusatkan perhatiannya kepada Siwon.

“Kamu bertanya siapa bukan? Menurutmu siapa yang serasi?” tanya Siwon kembali, membuat Nickhun semakin bingung dengan arah pembicaraan Siwon.

“Aku dan Vic? Mungkin” jawab Nickhun dengan tatapan kosong.

“Mungkin?,”

Nickhun mengangkat wajahnya menghadap Siwon yan menatapnya dengan tajam. “Jadi hanya mungkin?”

“Sebenarnya apa mau mu?” tanya Nickhun setelah sebelumnya menghembuskan napasnya dengan kasar.

Waeyo? Apa ada yang salah? Aku hanya ingin berbincang dengan ipar ku. Apa salah?” Siwon menekankan kata ‘ipar’ membuat Nickhun menggelengkan kepalanya.

‘Masih sama’ pikirnya.

Anniya” jawab Nickhun tegas.

“Lalu, bagaimana jawabannya yang tadi”

“Kamu ingin aku menjawab apa?”

Siwon ternyum kecil mendengar pertanyaan dari Nickhun. “Babo” batinnya. “Entahlah, hanya kamu yang mengetahuinya Nickhun-ssi”

Nickhun memijat keningnya, karena letih dengan sikap yang diberikan Siwon. “Vic… Dia terlihat, semakin mencintaimu sekarang. Dia sepertinya, belajar untuk menerima takdir yang telah digariskannya. Lalu, apa kau juga sama Nickhun-ssi?”

“Tentu saja”

Siwon menghentikan langkahnya saat Nickhun menjawab pertanyaannya dengan cepat. “Geuraeyo?

Nickhun kembali memandang Siwon yang masih bergerak menyelusuri ruang kerjanya ini. “Apa kamu bahagia Nickhun-ssi”

“Aku bahagia, tentu saja. Seperti yang kamu lihat.” Siwon tertawa ringan, lalu mengubah raut mukanya menjadi dingin saat kembali menghadapkan tubuhnya kearah Nickhun.

“Lalu, apa yang salah dengan wajahmu itu?”

Nickhun mengreyitkan dahinya, tak paham dengan ucapan Siwon. “Maksudnya?”

“Mengacalah pada fotomu itu Nickhun-ssi! Lihatlah dirimu sendiri,” ucap Siwon dengan emosi yang tertahan. “Victoria, Song Ajusshi maupun  Ajumma. Mungkin mereka terlalu bodoh, karena percaya dengan senyum manismu itu. Tapi tidak denganku”

“Apa yang sebenarnya kamu inginkan Siwon-ssi?”

Na?” Siwon bertanya dengan nada mengejek, melihat Nickhun yang mulai tersulut emosi. “Tentu saja seperti apa yang aku katakan padamu, 10 bulan yang lau. Apa  kamu masih mengingatnya Nickhun-ssi?”

FLASHBACK

               

                Semua orang berdiri dengan diiringi tepuk tangan yang riuh, terlihat raut wajah bahagia dari wajah semua insan yang ada dalam ruangan tersebut. Berbanding terbalik dengan laki-laki yang masih terduduk didepan, memandang lurus kearah altar.

                Menampakkan senyum bahagia dari wanita yang baru saja melalui prosesi sacral dalam hidupnya, yang hanya terjadi satu kali dalam hidupnya. Mungkin itulah yang diharapkan wanita tersebut, dan sepertinya bukan hanyha wanita itu. Tapi semua orang menginginkan hal yang sama.

                Menikah dengan orang yang kita cintai, dan menjalani hidup bersama sampai ajal menjemput mereka.

                Laki-laki tersebut, yang tak lain adalah Choi Siwon. Bergerak menuju seseorang yang baru saja melambaikan tangannya, menyuruh Siwon menghampiri wanirta tersebut. Victoria.

                “Congratulations on your wedding, Song Qian” ucap Siwon saat Victoria memeluknya degan hangat. Menyalurkan kebahagian yang sama sekali tak digubris oleh Siwon.

                Victoria memukul ringan bahu bidang Siwon. Menandakan rasa sebalnya atas ucapan Siwon beberapa detik yang lalu. “Jangan memanggilku song Qian” Victoria mengerucutkan bibirnya.

                “Waeyo? Memang itu namamu kan?” tanya Siwon bingung. Lebih tepatnya pura-pura bingung.

                “You know that Wonnie. I don’t like being called Song Qian!” ungkap Victoria kesal.

Siwon tertawa senang, tatkala Victoria melipat wajahnya karena menahan rasa kesalnya terhadap Siwon. Namun itu sudah menjadi hal biasa bagi keduanya untuk saling mengejek satu sama lain. Bukan Siwon namanya, kalau tidak membuat Victoria menrengut seharian, karena terus memanggilnya ‘Song Qian’.

Bukan karena tak suka sebenarnya. Tapi wanita high class seperti Victoria akan lebih menyukai nama inggrisnya dibandingkan nama asli pemberian orang tuanya. Dan itu membuat Siwon selalu mencari perkara, dengan selalu memanggilnya ‘Song Qian’.

“Ohhh, ayolah. Aku akan jarang memanggilmu Song Qian lagi, apalagi sekarang kamu sudah memiliki tameng” sindir Siwon.

“Hei! apa maksudmu?”

Siwon berdecak malas, lalu mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dimaksudnya. ‘Gotcha’ Siwon mengangkat dagunya, menunjuk kearah laki-laki yang tengah menyalami tamu-tamu yang memberikannya ucapan selamat.

‘Ahhh’ Victoria mengangguk paham.

“Wonnie…” Victoria merangkul lengan kekar Siwon. ‘Aish, dia mulai merajuk’ Siwon mengurut keningnya perlahan.

“Ayo.. Temui suamiku” Victoria menari paksa Siwon yang tengah lengah saat itu. “Yak!”

“Oppaa…” teriakan Victoria itu membuat semua orang yang disekitarnya menoleh dengan senyum geli yang tampak dari wajah mereka. Melihat kelakuan Victoria yang kini sedang menyeret Siwon –sepupunya yang tampan itu- kearah laki-laki yang baru saja menjadi suaminya.

Nickhun –laki-laki yang kini menjadi suami Victoria- menatap keduanya, dan melangkah kearah Victoria yang sedang kesulitan memaksa Siwon mengikutinya.

“Hentikan Vic” ujar Nickhun lembut. Membuat Victoria menoleh kearah suaminya yang kini ada didepannya dan Siwon. “Oppa” Victoria memeluk Nickhun dengan senyum yang berkembang dari bibir manisnya tersebut.

Siwon memandang geli penampakan yang terjadi didepannya. ‘Memuakan’ cibirnya dalam hati.

“Ya! Choi Siwon…” Siwon melotot kearah Victoria yang meneriakkan namanya barusan. Membuat semua orang memandang kerah mereka dengan tatapan penuh tanya.

“Apa yang kamu lakukan babo?” tanya Siwon berbisik. Victoria tertawa kecil, sedangkan Nickhun hanya tersenyum tipis.

“Neo!” Victoria menunjukkan tangannya kearah Siwon, dan dengan otomatis Siwon memundurkan tubuhnya. “Berikan selamat pada kami. Sekarang” ungkap Victoria, sambil menjulurkan lidahnya kearah Siwon. Membuat Siwon dengan yakin akan menjitak kepala Victoria sampai ia menangis memohon ampun setelah acara ini selesai.

Palliawa” ucapnya lagi. Siwon terdiam kaku.

“Kenapa kamu usil sekali sih?” ntanya Nickhun lembut dengan senyum yang diberikkannya pada Victoria yang kini menggenggam erat tangannya tersebut.

“Biarkan saja” ucap Victoria usil kearah Siwon, Sedangkan Siwon mengedarkan pandangannya menuju semua orang yang masih menantikan moment-moment selanjutnya dari aksi heboh sang pengantin wanita.

“Chukkae!” ucap Siwon cepat dan lirih.

Mwoya?” tanya Victoria sambil mendekatkan kupingnya ketubuh Siwon masih dengann menggenggam tangan Nickhun.

“Chukkae!” ucap Siwon kesal.

“Aku tidak mendengarnya. Ya ‘kan, oppa?” tanya Victoria pada Nickhun, menunjukkan pupuy eye’s-nya kepada Nickhun. Membuat Nickhun menganggukk canggung.

“Aish..” Siwon menggigit bibirnya gemas, karena keusilan Victoria yang membuatnya malu dihadapan para undangan yang hadir digereja ini.

“Geurae,” ujarnya pasrah. “Selamat atas penikahan kalian” Siwon menghela napas tak rela sesaat setelah mengucapkannya. Dan itu sukses membuat Victoria tersenyum bangga, karena berhasil mengerjai Siwon.

“Waahhhh… Thank You My Brother” Victoria langsung memeluk Siwon dengan erat, menyalurkan kebahagiaanya karena Siwon baru saja mengucapkan selamat kepadanya.

Victoria melepas dan memandang Siwon penuh arti. Melihat itu, Siwon langsung menunjukkan ekspresi penuh waspada. Takut-takut, jika Victoria akan melakukan hal aneh lagi nantinya.

Victoria menggenggam tangan Siwon dengan erat, lalu mengalihkan matanya memandang tangan Nickhun. Setelah itu meraih lengan Nickhun dan meyatukannya dengan tangan Siwon yang baru saja digenggamnya.

Baik Siwon dan Nickhun tersentak kaget saat keduanya sadar bahawa kini keduanya saling berjabat tangan dengan tangan Victoria-lah yang menjadi pengaitnya.

“Siwon-ah, Nickhun oppa. Mulai sekarang kalian harus akur, aku tidak mau lagi kaling saling memusuhi satu sama lain. Arrachi?” tanya Victoria, menatap Siwon dan Nickhun secara bergantian. Sedangkan keduanya hanya saling menatap tanpa menyaut ucapan Victoria yang baru saja dilontarkan.

“Victoria..” Victoria menoleh kearah ibunya yang baru saja memanggilnya dan menyuruhnya ketempat dimana orabg tuanya kini seang berbincang-bincang bersama teman-teman mereka.

“Ye?” sahutnya. Dan langsung belari menghapiri kedua orang tuanya tersebut.

Siwon dan Nickhun masih dalam posisi yang sama, berjabat tangan tanpa mengucapkan sepatah katapun yang mereka keluarkan dari bibir mereka. Siwon tersenyum sinis, dan memandang tajam kearah Nickhun. Dan Nickhun hanya memandang kalem kearah Siwon yang memandang benci kearahnya.

 “Chukkae,”

“Selamat atas keberhasilannya, Nickhun Horvejkul” ucap Siwon dingin. Menayap Nickhun semakin tajam, dan mencekram dengan erat tangan Nickhun. Membuat Nickhun sedikit meringis.

“Kamu masih berpikir yang sama, Choi Siwon?” ucap Nickhun tenag.

“Tentu saja” jawab Siwon, lalu menghempaskan tangan Nickhun dari genggamannya.

“Sampai aku membuktikannya, semuanya akan sama.” Lalu beranjak dari tempatnya. Tapi tidak benar-benar pergi, karena ia berhenti tepat disamping tubuh Nickhun yang berdiri dengan tegap ditempatnya.

“Tunggu sampai aku menghancurkan semua kejahatanmu” ujar Siwon lalu menabrak dengan keras bahu sebelah kiri Nickhun dan pergi meninggalkan Nickhun yang berdiri dengan tatapan kosongnya.

 

END FLASHBACK

 

“Jadi sekarang sudah waktunya?” tanya Nickhun setelah mengingat kembali kejadian 10 bulan yang lalu dihari pernikannya.

Siwon hanya meengangguk, tanpa menjawabnya. Nickhun berdiri dan meghampiri Siwon yang kini telah duduk di Sofa yang bisanya dijadikan Nickhun sebagai tempat pembicaraanyanya bersama para mitra bisnisnya.

“Jadi.. kamu sudah mendapatkan bukti kejahatanku? Begitu maksudmu?” tanya Nickhun lagi, yang kini berdiri dihadapan Siwon.

“Bisa jadi seperti itu” jawab Siwon enteng.

Mwo?

Mwo? Jadi kamu ingin tahu buktinya sekarang? Apa kamu tidak takut Nickhun-ssi” tanya Siwon beruntun.

“Anni” jawab Nickhun tegas.

“Geurae!” Siwon kini ikut bediri, memasukkan kedua tangannya kedalam kantung celana yang dikenakannya.

“Aku tidak takut, karena aku tidak bersalah disini. Lagipula bukan aku yang akan tersakiti dan menderita disini. Tapi sepupumu lah yang akan merasakan dampak dari tindakanmu ini.” kata Nickhun dingin. Kini Nickhun benar-benar merasa lelah dengan semua rasa benci yang ia terima dari Siwon selama ini.

Ia tak mengerti mengapa Siwon teramat membencinya. Tapi satu yang mungkin menjadi alasan Siwon. Mungkin saja Siwon bepikir, Nickhun menikahi Victoria karena ingin menguasai kekayaan yang dimiliki Victoria. Jadi secara tidak langsung, bukankah sama saja Nickhun menikahi Victoria tanpa cinta?

Jika memang benar itu yang menjadi alasannya. Jawabanya adalah ‘iya’ –mungkin.

“Bukankah kamu memang sudah menyakitinya lebih awal?” tanya Siwon tak kalah dingin.

“Dia akan lebih tersakiti, saat tahu orang yang disayanginya berniat menghancurkan rumah tangganya” ujar Nickhun tajam.

“Berani sekali kamu bicara seperti itu Nickhun-ssi! Tidakkah kamu tahu posisimu kini ada diujung tanduk?” kata Siwon sengit.

“Aku tidak takut dengan bukti yang kamu miliki Siwon-ssi”

“Benarkah?” tanya Siwon.

“Geurae!” jawab Nickhun lantang.

“Baiklah, sepertinya kamu memang orang yang tak tahu diri Nickhun-ssi” Siwon berjalan perlahan menghampiri Nickhun. Memandanganya dengan sengit.

“Bagaiman kalau ini menyangkut masa lalu mu?” tanya Siwon yang kini berada tepat dihadapan Nickhun.

‘Masa lalu?’

“Kenapa? Kamu mengingat sesuatu?” tanya Siwon mengejek. Nickhun terdiam, memikirkan dengan keras maksud ucapan ‘masa lalu’ yang baru saja dilontarkan oleh Siwon.

“Jadi kamu tak mengingatnya?” tanya Siwon kembali, saat Nickhun masih saja terdiam memikirkan ucapannya.

“Katakan sa-“

“Tiffany. Tiffany Hwang” Siwon memotong ucapan Nickhun dengan menyebutkan nama Tiffany. Membuat kedua mata Nickhun membulat dengan sempurna, bahkan detak jantung kini berpacu dengan cepat saat nama Tiffany masuk ke indera pendengarnnya.

“K-kamu menge-nalnya?” tanya Nickhun tergagap.

“Ne~.” Jawab Siwon sinis.

“Aku mengenalnya.” Lanjut Siwon.

Nickhun megepalkan tangannya dengan keras, kini yang dirasaknnya adalah sesak dibagian paru-parunya. Membuat Nickhun susah bernapas secara semestinya.

Nickhun menarik kerah baju yang dikenakan Siwon, membuat Siwon terhenyak kaget dengan tindakan Nickhun. “Kenapa kamu membawanya dalam masalah ini, hah?” bentak Nickhun.

Cleck

Belum sempat Siwon membalasnya perilaku Nickhun, suara gagang pintu terbuka membuat keduanya menoleh serempak kearah pintu tersebut. Dilihatnya sesosok wanita yang menyembulkan sebagian kepalanya melihat kesekitar ruangan tersebut. Membuat Siwon dan Nickhun secara otomatis melepaskan cengkraman keduanya..

“Victoria” uacap mereka bersamaan.

“Ohh, kalian” ucap Victoria kaget saat menemukan suaminya dan sepupunya berhadapan satu sama lain.

“Wonnie. Sejak kapan kamu disini?” tanya Victoria sambil berjalan menghampiri keduanya yang terdiam kikuk, karena kejadian yang hampir saja diketahui oleh Victoria.

“A-aku baru saja datang”

Victoria memandangi keduanya dengan tatapan yang heran. Nickhun yang hanya tertunduk saat Victoria melihat kearahnya. Dan Siwon yang tak berani menatap mata Victoria. Keduanya pikir, Victoria mengetahui semua kejadian yang baru saja terjadi diantara mereka berdua. Kenyataanya, Victoria tak sempat melihat kejadian saling bantu hantam yang baru saja akan dimulai, jika saja Victori tidak datang dan masuk tanpa pemberitahuaan terlebih dahulu.

“Kalian kenapa?”

“A-aniya!. Gwenchana.” Jawab Siwon cepat.

“Oppa?” Victoria beralih menatap Nickhun, menuntut jawaban kepadanya.

Nickhun tersenyum dan membelai rambut Victoria penuh sayang. “Gwenchana, kami hanya sedang berbicara sebentar.”

Geurae?” tanya Victoria sangsi.

Ne~” Jawab keduanya serempak.

“Hahahaha…” Victoria tertawa renyah, menatap geli kerah dua laki-laki yang paling dekkkattt dengannya selain ayahnya.

Wae?” tanya Nickhun, diiringi oleh anggukan kecil dari Siwon.

“Kalian lucu!”

“Lucu? Kamu fikir kami badut, hah?!” ujar Siwon kesal.

“Lebih dari badut” setelah mengatakannya Victoria semakin tertawa lebar, membuat Siwon dan Nickhun mau tidak mau ikut tersenyum melihat senyum Victoria.

“Aaahhh, perutku sakit sekali” ucap Victoria, sembari menghapus jejak air mata yang keluar dari matanya karena banyak tawa yang dikeluarkannya saat itu.

“Oh ya. Aku ingin mengenalkan kalian kepada seseorang.” Tambahnya.

Nugu” tanya Siwon.

Nugu?” Nickhun cukup penasaran dengan orang yang dimaksud Victoria. Entahlah, Nickhun benar-benar memiliki firasat yang tak enak. Terlebih saat Siwon baru saja menyebut nama seseorang yang begitu dikenalnya di masa lalu.

Chakkaman! Akan aku panggilkan.”

Victoria berlari kecil menuju pintu kembali, membukanya dan keluar seperti ingin memnemui seseorang. Tak butuh waktu lama, kini Victoria tengah mengamit lengat seorang wanita cantik yang mengenakam dress putih selututnya. Dengan rambut panjang berponi, menambah kesan cute didirinya.

“Tiffany!” seru Siwon, saat melihat Tiffany sudah bersama Victoria.

Tiffany tersenyum kikuk kearah Siwon, namun senyum itu lenyap begitu saja. Saat disadarinya, sesosok laki-laki yang menatap lurus kearahnya. Laki-laki-laki yang begitu dirindukannya, laki-laki yang selalu memenuhi pikirannya selama satu tahun terakhir ini. dan laki-lak yangi sangat dicintainya. Nickhun.

=

.

.

=

 

FLASHBACK

 

“Huek..huek…hueeekk…”

Vicoria menghentikan langkahnya, saat didengarnya suara samar-samar dari pintu sebelah yang tertutup rapat. Menandakan seseorang ada didalam ruangan tersebut. Diberanikannya untuk melangkah menuju pintu tersebut, semakin terdengar suara itu dengan jelas.

Suara seorang wanita yang sepertinya tengah kesulitan mengeluarkan isi perutnya yang terasa mengaduk-aduk seluruh rongga perutnya tersebut.

Tok tok tok

Mian! Apa ada orang didalam?” tanya Victoria.

Tidak ada sahutan dari dalam ruangan kecil tersebut, sekali lagi Victoria berusaha mengetuk pintu ruangan tersebut. Berharap orang yang didalamnya menyadari kehadirannya. Walau tidak menyahutnya, suara muntahan didalamnya masih terdengar jelas ditelinga Victoria.

Tok tok-

Ketukannya terhenti seketika, saat dilihatnya pintu tersebut mulai terbuka secara perlahan. Dilihatnya sesosok perempuan yang terlihat lemas mulai memmbuka pintu tersebut dengan pelan. Pucat. Itu yang bisa dipastikan oleh Victoria.

“Apa saya mengganggu anda?” tanyanya lirih. Victoria terdiam memandang wanita yang berusaha tersenyum dihadapannya. Ia sangat  yakin, wanita itu merasa tak enak disekujur tubuhnya. Itu terlihat dari wajahnya yang pucat, dan keringat dingin yang mengaalir menyusuri wajah cantik wanita tersebut. Terlebih kini, tubuh wanita itu gemetar memegang rerat dahan pintu yang baru saja dibukanya.

A-aniya! Gwenchan? Anda terlihat kurang sehat?”

Victoria memandang wanita itu dengan prihatin, sedangkan wanita itu terlihat tersenyum simpul mendengar nada khawatir dari orang yang tak dikenalnya.

Gwenchana! Terima kasih atas perhatiannya” wanita itu membungkuk santun, menandakan rasa terima kasihnya atas perilaku baik yang ditunjukkan Victoria.

“Tidak perlu sungkan! Tapi.. apa benar kamu baik-baik saja. Wajahmu pucat sekali”

Dan untuk kedua kalinya Victoria menunjukkan rasa kekhawatirannya terhadap wanita itu. Membuat wanita itu menunjukkan senyum manisnya, berharap itu bisa meyakinkan Victoria. Bahwa ia baik-biak saja,

“Apa anda sudah makan? Apa sudah minum obat?”

“Ahh itu. Aku belum memakan apapun pagi ini. mungkin karena itu”

“Aish! Seharusnya anda sarapan terlebih dahulu.” keluh Victoria.

 Ne! Gomawo sudah mengingatkanku. Aku kan segera makan setelah ini”

Geurae?” wanita itu mengangguk.

Victoria tampak berpikir sejenak, memandang wanita dihadapannya yang sedang memegangi kepalanya yang terasa pening.

“Kalau begitu kita makan bareng saja, otte?

Wanita itu mengangkat wajahnya terkejut mendengar penuturan Victoria yang baru saja terucap dari bibir manisnya. “Ye?

Victoria tersenyum lebar melihat keterkejutan dari wanita tersebut. “Ne! Kita makan bersama. Tapi sebelumnya, aku ingin menemui suamiku dulu. Aku akan mengenalkannya juga denganmu.”

Tiffany membulatkan matanya dengan sempurnya. Bagaimana mungkin ada wanita yang baru dikenalnya tak sampai satu jam, langsung mengajaknya makan bersama terlebih bersama suaminya? Buakankan ini terlihat aneh?

Ottokhae, nona-“

“Tiffany. Tiffany Hwang” seru Tiffany cepat saat melihat Victoria kebingungan menyebut dirinya.

“Ahh. Tiffany-ssi? Baiklah, perkenalkan aku Victoria Song. Senang berkenalan denganmu.”

Tiffany menyambut jabatan tanga Victoria dengan senang hati. ‘Wanita yang baik’ ucapnya dalam hati.

 

END FLASHBACK

=

.

.

=

At Restaurant.

Disinilah mereka. Terdiam mematung, memikirkan semua kejadian yang baru saja terjadi hari ini. sungguh tidak masuk akal bukan? Bagaimana mungkin takdir mempertemukan mereka secara kebetulan seperti ini.

Bahkan Siwon yang notabe-nya adalah sosok yang merencanakan pertemuan Tiffany dan Nickhun dibuat sok sendiri karena Victoria justru mengenal Tiffany lebih dahulu. Sebelum Siwon yang mengenalkannya. Siwon memang berniat mempertemukan Tiffany dan Nickhun. Tentu ada alasannya dibalik itu semua. Dan tentu saja alasan utamanya adalah untuk membongkar semua kelicikan yang disembunyikan Nickhun. Siwon memang sudah tidak menyukai Nickhun sejak awal pertemuan mereka. Entahlah, ia merasa Nickhun orang yang harus diwaspadai.

Dan lihatlah sekarang, ternyata semua prasangka buruk Siwon benar. Nickhun membohongi keluarga Song, dan yang lebih utama adalah membohongi sepupu tersayangnya. Victoria. Jelas-jelas sudah mempunyai tunangan yang sudah lama menunggunya dengan sabar. Justru mendapatkan pengkhianatan keji dari Nickhun, yang berani-beraninya menikahi Victoria. Yang jelas, kini yang ada dalam pikiran Siwon adalah Nickhun melakukan itu semua karena ingin menguasai kekayaan keluarga Song. Dan bukan tanpa alasan yang mendasar Siwon mengatakan itu. Jelas-jelas Siwon tahu, kini Nickhun tengah melakukan penggelapan dana yang tersimpan direkening pribadinya. Entah itu untuk apa? Yang jelas Nickhun sudah melakukan kejahatan yang bodoh dimata Siwon.

Bagaimana mungkin Nickhun, melimpahkan semua bukti-bukti pencairan uang tersebut dan itu atas nama Victoria. Istrinya sendiri. Dan yang seperti yang dikatakan sebelumnya, uang tersebut justru masuk ke rekening pribadinya. Tanpa ada satupun yang tahu. Kecuali, Siwon. Lalu kenapa Siwon tahu itu semua? Jelas saja itu karena kepintarannya yang bisa dibilang super dahsyat. Siwon bukannya diam tak melakukan apapun, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar menghancurkan suami dari sepupunya tersebut.

Dan seperti alam yang sekan ikut berpatisipasi mendukung Siwon. Muncullah Tiffany yang mengaku sebagai tunangannya. Yang membuat bukti itu semakin kuat. Tunangan. Dan selama satu tahun pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Tiffany kelimpungan mencari sosok bejat Nickhun. Itu yang dipikirannya. Jika Nickhun sudah memiliki Tiffany, bukankah sama saja Nickhun mengkhianati keduanya. Tiffany dan Victoria. Dan Siwon benci pengkhianatan. Itu mengingatkannya kepada dua orang sosok yang membuatnya mati kesal karena ulah mereka. Siapa lagi kalau bukan Choi Sooyoung dan kekasih gelapnya Cho Kyuhyun.

Siwon mendecak dalam hati. Cho Kyuhyun. Mengingat nama itu membuatnya tak habis pikir. Bagaimana jadinya Victoria, bila dulunya Kyuhyun dan Victoria benar-benar menikah. Bukankah itu sama saja. Sama-sama akan mengkhianati Victoria.

Padahal sebelumnya perpisahan Kyuhyun dan Victoria menjadi alasannya untuk menghancurkan Nickhun. Saat itu ia merasa Nickhun sudah menyakiti Kyuhyun karena membuat Victoria dan Kyuhyun berpisah. Dan sekarang, semua itu sudah dicoret dari daftar alasannya membenci Nickhun. Karena keduanya sama saja.

Siwon menatap tajam kearah Nickhun yang kini sedang memandang lurus kearah Tiffany, yang kini duduk manis disampingnya. Membuat Siwon sedikit geram dengan tindakan yang Nickhun lakukan. Bagaimana mungkin bocah tengik ini memandang wanita lain, disaat istrinya juga berada disampingnya?.

Sedangkan Tiffany, apa yang kini dirasakannya. Sama halnya seperti Siwon yang sejak tadi terus-menerus berbicara dengan pemikirannya sendiri. Namun bedanya, bukan amarah dan kebencian. Entahlah, Tiffany bahkan tak tahu apa yang dirasakannya. Semuanya bercampur menjadi satu kesatuan. Dan itu membuatnya terus menunduk dalam, karena sadar sejak tadi Nickhun memandangnya penuh sesal.

Rasanya sungguh tak mampu lagi menahan cairan bening yang sepertinya akan keluar dari pelupuk mata indahnya. Mengetahui bahwa laki-laki yang menjadi alasannya berada dalam posisi seperti saat ini, sudah bukan menjadi miliknya lagi. Laki-laki yang selama setahun ini memenuhui seluruh kinerja otaknya, telah tega mengkhianatinya. Laki-laki yang sangat dipercayainya, meninggalakan Tiffany demi wanita yang ada didepannya. Wanita yang baru saja menarik empati Tiffany karena kebaikkanya.

Dan satu hal yang kini terus berada dalam pikirannya. Apa Nickhun sudah benar-benar melupakannya? Sudah tak lagi mencintainya? Jika memang benar. Lalu kenapa Nickhun hanya diam tak melakukan apapun selama satu tahun penantiannya. Jika memang benar, kenapa Nickhun tidak menemuinya secara baik-baik. Mengatakan yang sebenarnya kepada Tiffany. Meminta maaf kepadanya maupun neneknya.

Tiffany menghembuskan napasnya pelan. Mengingat neneknya, membuatnya semakin bersalah. Seharusnya ia mendengarkan ucapan neneknya. Seharusnya ia tak perlu repot-repot mencari Nickhun di Seoul. Namun kenyataan yang ada justru orang yang dicarinya,, sudah berada jauh dari jangkauannya. Bukan lagi berbeda kota, melainkan berbeda pulau.

Takdir begitu kejam, pikirnya. Bagaimana tidak! Bahkan sebelum menerima kenyataan pahit akan kehidupan Nickhun yang sekarang. Tiffany harus berhadapan dengan takdir yang mempertemukannya dengan Siwon. Dari namanya Tiffany harus kehilangan benda-benda berharganya bersamaan dengan tas kesayangannya berwarna pink, hadiah pemberian Nickhun sebagai kado hari jadi mereka yang saat itu memasuki tahun pertama. Dan bukan hanya kehilangan barang-barang berharga saja, melainkan kehilangan kesuciannya, harga dirinya sebagai seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan ulah bejat Choi Siwon.

Tiffany mendengus kesal dalam hati, menyebut nama Siwon diperjalanan hidupnya. Bertemu dengan Siwon membuat Tiffany harus selalu kehilangan semua hal yang dimiliknya. Dan itu membuat Tiffany sangat membenci laki-laki itu. Tapi walau begitu, Tiffany merasa bersyukur sekaligus. Jika bukan karena Siwon, mana mungkin Tiffany tahu kenyataan pahit yang baru saja diterimanya. Kalau bukan karena Siwon, mungkin sampai kapanpun ia akan terus menunggu Nickhun kembali padanya seperti orang bodoh. Padahal jelas-jelas orang yang ditunggunya, bahagia dengan kehidupan yang tengah dirajutnya bersama istri tercinta. Menyedihkan.

=

.

.

=

 

“Hei! Kenapa kalian semua malah melamun?”

Ucapan Victoria barusan mengagetkan semua orang yang kini tengah sibuk dnegan pikiran mereka masing-masing itu. Victoria tersenyum saat melihat semua orang mengalihkan perhatiaan mereka kepada Victoria.

“Permisi”

Suara pelayan yang baru saja datnag mengantarkan pesanan mereka, membuat Siwon menghentikan niatnya untuk mengatakan sesuatu kepada Victoria. Victoria terlihat menyambut dengan hangat kedatangan pelayan tersebut. Membantu pelayan tersebut menghidangkan sajian nikmat yang baru saja mereka pesan untuk mengisi perut mereka yang kosong pagi ini. Melihat itu, membuat Tiffany ikut membantu. Sedangkan Siwon hanya diam memperhatikan gerak-gerik kedua wanita yang tengah sibuk tersebut. Dan Nickhun, masih sama. Masih terus memandangi Tiffany, membuat Siwon ingin mencabut kedua bola mata Nickhun dari tempat yang semestinya tersebut dan menguburnya dalam-dalam karena terus saja melihat Tiffany tanpa berniat mengalihkannya.

‘Tsk! Apa-apaan dia, benar-benar tak tahu malu’ serutu Siwon dalam hati.

“Ayo dimakan! Pasti kalian semua sudah laparkan?” ujar Victoria, yang kali ini membuat Nickhun tersentak dan menatap makanan yang ada dihadapannya.

“Aku malas makan” ucap Siwon cuek.

“Aish! Lagian siapa juga yang menawarimu” ujar Victoria, membuat Siwon mendelik tajam kearahnya. Yang ditatap bukannya takut malah memeletkan lidahnya.

Melihat itu, membuat Tiffany terkikik geli.

“Yak! Kenpa tertawa? Apa ada yang lucu?” tanya Siwon kepada Tiffany.

Tiffany menutup mulutnya secara otomatis. “Ani! Aku tidak tertawa”

“Jelas-jelas tadi kamu tertawa. Kamu fikir aku tidak mendengarnya? Hah?”

“Aku tidak tertawa”

“Aku mendengarmu tertawa tadi”

“A-“

“Sudah-sudah! Kalian ini kenapa jadi bertengkar sih?” tanya Victoria memotong ucapan yang ingin Tiffany keluarkan.

Keduanya mendengus sebal, tanpa menjawab pertanyaan Victoria. Membuat Victoria tersnyum karena keduanya merespon secara bersamaan.

“Kalian pasangan yang lucu”

Mwo?” ucap Siwon dan Tiffany berbarengan. Dan itupun membuat Nickhun menatap tajam kearah Siwon dan Tiffany.

“Lihat! Lihat! Bukankan kalian sangat serasi? Kalian selalu merespon dengan waktu yang bersamaan! Hahahaha” Victoria tertawa senang karena melihat kedua wajah Siwon dan Tiffany memerah. Karena menahan malu, atas kebenaran ucapan Victoria.

“Ya ‘kan oppa?” tanya Victoria sambil menggamit lengan kekar sang suami yang sejak tadi hanya terdiam. Nickhun hanya membalasnya dengan anggukan ringan tanpa senyum sama sekali.

Melihat itu, membuat tangan Tiffany lemas. Sehinggan tanpa sengaja melepas pegangannya dari Sendok dan garpu yang digunakannya untuk menyuapkan makanan kemulutnya.

Babo!” Siwon menyadari Tiffany dengan meletakkan kembali sendok dan garpu tersebut dalam genggaman tangan Tiffany. Membuat Tiffany menoleh menatap Siwon, sedangkan yang ditatap hanya berdehem riangan dan melanjutkan makannya.

“Jadi, benar kalian sepasang kekasih?”

Siwon memutar kedua matanya malas. Terkadang Siwon menyesal mempunyai sepupu yang begitu cerewet seperti Victoria. Bagaimana tidak, semua hal ingin ia tahu.

“Tiffany-ssi, ayo ceritakan bagaiamana caramu merebut Siwon dari Sooyoung”

Ye?” Tiffany, Siwon maupun Nickhun terkejut untuk sekian kalianya dengan ucapan yang dilontarkan dari mulut Victoria.

“Song Qian! Jaga bicaramu itu”

“Yak! Choi Siwon, kenapa kamu menanggilku dengan sebutan itu lagi, hah?”

“Kenapa memangnya? Bukankah itu namamu?” ucap Siwon tajam.

Victoria mendelik kesal. “Oppa..”

Ye?” Nickhun menyahut cepat saat Victoria mulai merajuk karena ulah Siwon.

“Lihatlah! Siwon memanggil nama cina-ku” Nickhun tersenyum kikuk, lalu mengelus lembut lengan Victoria berusaha meredakan kekesalan sang istri.

“Sudahlah! Kamu lanjutkan makannya, jangan bertengkar lagi” ucap Nickhun lembut.

Tanpa mereka sadari, Tiffany kini tengah menggigit kuat bibir ranumnya. Menahan gejolak yang meluap dalam dirinya. Melihat pemandangan yang tersaji dihadapannya.

“Ehhm..” Tiffany  tersentak kaget saat dirasanya sesuatu memaksa masuk kedalam mulutnya. Diliriknya Siwon dengan tatapan yang sadis, saat tahu Siwon lah yang dengan sengaja menyodorkan dengan paksa sepotong daging kedalam mulutnya. Siwon membalas tatapan Tifffany dengan pandangan dingin. Membuat Tiffany mengunyah daging tersebut dengan kesal. Siwon terkikik pelan melihat kekesalan Tiffany karena ulahnya tersebut.

“Wonnie, kenapa kamu tidak menceritakan padaku?”

Siwon mengreyitkan kening. “Menceritakan apa? Tidak ada yang perlu diceritakan!” seru Siwon.

“Tentu saja ada!” ucap Victoria sebal.

Mwo?

“Kamu dan Tiffany. Ayo ceritakan tentang kalian” paksa Victoria. Siwon menatap heran kearah Victoria yang terlihat menggebu-gebu. Ingin tahu hubungan apa yang terjalin antara Siwon dan Tiffany? Memangnya hubungan apa? Pikirnya.

“Tidak ada apa-apa antara aku dan Tiffany” ungkap Siwon malas.

Geotjimal!

Ani” sela Siwon.

“Tiffany-ssi!”

Ne?

Victoria tersenyum manis, membuat Tiffany merasa takut. Takut Victoria meminta penjelasannya kepada Tiffany.

“Apa yang terjadi antara kau dan Siwon? Hmm?” Victoria mengerlingkan matanya, mencoba menggoda Tiffany yang saat itu menunduk bingung harus menjelaskan apa.

Nickhun yang sejak awal terus memperhatikan gerak-gerik Tiffany. Ikut penasaran atas apa jawaban yang akan dilontarkan Tiffany. Jujru saja, melihat kedekatan antara Siwon dan Tiffany membuat Nickhun merasakan rasa cemburu yang mendalam. Selama ini, Tiffany hanya dekat dengannya, hanya ia. Satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya. Tapi sekarang, bahakan Siwon melakukan sesuatu yang tidak pernah Nickhun lakukan kepada Tiffany.

“Song Qian! Sebenarnya Tiffany ini…” belum sempat Siwon mengatakan hal yang ingin dikatakannya. Tangan mungil nan lembut milik Tiffany sudah berhasil menyekap bibir Siwon, yang baru saja akan menjelaskan duduk perkaranya.

“Sebenarnya, aku ini kekasihnya Siwon yang baru! Hhehe,” Siwon membulatkan matanya dengan sempurna mendengarkan penuturan Tiffany. Yang membuatnya sangat terkejut.

‘Babo’

Baik Victroria dan Nickhun sama terkejut dengan Siwon. Namun tak berlangsung lama, karena Victoria langsung bersorak gembira, dan belari untuk memeluk erat tubuh mungil Tiffany. Siwon langsung bernapas lega, tatkala tangan Tiffany yang terlepas dari mulutnya. Sedangkan Nickhun, hanya menatap kosong lantai bawah tanpa berniat ikut bergembira seperti Victoria.

‘Benarkah? Apa Tiffany juga mengkhianatiku?’ tanya Nickhun dalam hati.

Sedangkan Siwon memandang kesal kearah Tiffany yang dengan bodohnya mengatakan hal seperti tadi. Jelas-jelas Siwon akan membongkar semua kebusukan Nickhun sekaligus membantu Tiffany untuk kembali kepada tunangannya. Tapi lihatlah. Dengann mudahnya Tiffany mengatakan Siwon adalah kekasihnya. Siwon terus saja mengumpat dalam hatinya, merutuki kebodohan Tiffany yang telah mengancurkan rencananya.

“Selamat yah, Tiffany-ssi! Aku sangat bahagia mendengarnya,” Victoria melepas pelukannya dan memandang Tiffany dengan mata yang berbinar. “Bukankah itu berarti. Wonnnie sudah memutuskan hubungannya dengan wanita itu?” lanjut Victoria dengan penekanan dikata ‘wanita itu’. Membuat Siwon mencibir, reaksi berlebihan Victoria saat tahu ia dan Sooyoung putus Cinta.

Sejak dulu Victoria sudah sangat tidak menyukai Sooyoung. Entahlah, Siwon tak tahu apa alasannya. Karena setiap ditanya, Victoria selalu menjawab ‘Kamu akan tahu nantinya Siwon-ah’. Sama seperti ia yang membenci Nickhun dan tak pernah menjelaskan alasannya membenci suaminya tersebut.

Siwon menatap Nickhun yang ternyata juga menatapnya dengan tajam. ‘Kenapa dia? Kenapa menatapku seperti ingin memangsaku hidup-hidup? Tsk’.

Keduanya masih memenadang satu sama lain. Memancarkan rasa kebencian yang mendalam dalam benak mereka. Melihat itu, baik Tiffany dan Victoria. Berusaha mencairkan keadaan, bila Victoria menggamit lengat Nickhun. Beda halnya dengan Tiffany yang langsung menginjak sepatu Siwon dengan sekali hentakan. Membuat Siwon meringis kesakitan, menatap kejam kearah Tiffany. Dan tidak mau kalah, Tiffany pun balik menatap Siwon tak kalah kejam. Seolah mengisyaratkan sesuatu seperti. ‘Jangan melihat oppa ku seperti itu. Atau kau ingin mati muda Siwon-ssi?’ membuat Siwon bergidik ngeri.

“Aku sudah menduga kau dan Sooyoung tidak akan bertahan lama” ucap Victoria setelah duduk kembali pada bangkunya semula. Siwon hanya tersenyum kecut menanggapi omongan sepupunya tersebut.

“Sejak kalian kalian jadian?” semua menoleh kearah suara dingin yang banyak terdiam sejak tadi. Membuat senyum seringa Siwon muncul, Victoria hanya menatap wajah suaminya dengan tatapan menerawang. Seperti sedang menerka-nerka arah pembicaraan Nickhun.

Tiffany hanya tertunduk tanpa mau menjawab pertanyaan yang terluncur dari mulut tunangannya. Tunangan? Pantaskah saat ini Tiffany masih menyebut Nickhun sebagai tunangannya?

Tiffany benar-benar merutuki kebodohannya sendiri, karena telah lancang mengakui Siwon sebagai kekasihnya. Tapi bukan tanpa alasan Tiffany berbuat seperti itu. Tiffany sangat sadar atas apa yang dilakukannya beberapa menit yang lalu.

Tiffany. Ia melakukannya karena tak ingin menghancurkan rumah tangga orang. Walau sebenarnya disini justru Tiffany lah yang telah dihancurkan. Tiffany juga tidak ingin menyakiti Victoria yang begitu baik padanya. Hei, Tiffany tahu arti balas budi! Walau tidak melakukan Sesuatu yang istimewa, namun perhatian Victoria terhadapnya tadi pagi. Membuat hati kecil Tiffany terenyuh, mengakui kebaikan  hati wanita yang telah merebut tunangannya. Walau lagi-lagi Tiffany tidak tahu alasan apa yang membuat Nickhun dan Victoria menikah, namun Tiffany sama sekali tak ingin menanyakannya dengan Nickhun. Sungguh! Saat ini Tiffany tak sanggup jika harus berhadapan dengan laki-laki yang telah mengisi hatinya selama hampir 2 tahun mereka bersama.

Hubungan mereka memang tak seromantis pasangan-pasangan lainnya, tapi tidak juga dibilang sering bertengkar. Datar. Hanya itu yang dapat mendeskripsikan hubungannya dengan Nickhun. Bagi Tiffany, memiliki kekasih seperti Nickhun adalah anugerah yang luar biasa yang diterimanya sebagai wanita yang tak sempurna sepertinya. Terlebih saat Nickhun mengutarakan maksudnya untuk bertunangan dengan Tiffany sebelum Nickhun pindah ke Seoul. Tentu saja saat itu Tiffany langsung menyetujuinya, walau harus berdebat dulu dengan sang nenek yang memang sejak awal tak terlalu menyambut hangat hubungannya dengan Nickhun. Alasan sang nenek, hanya karena merasa Nickhun tak cocok dengan Tiffany. Alasan macam apa itu? Pikir Tiffany saat itu.

Tapi kini, sejak awal ia tahu bahwa suami yang dimaksud Victoria tadi pagi adalah Nickhun. Membuatnya sadar, bahwa mungkin memang Nickhun bukan jodohnya. Menyakitkan, itulah yang dirasakan Tiffany saat melihat wajah tegang Nickhun yang mengetahui Tiffany berada dihadapannya. Bagaikan lagit telah berubah menjadi pijakan untuknya, ia merasa dunia begitu tak adil. Bagaimana mungkin seorang Nickhun yang begitu dieluk-elukannya dihadapan semua sahabat dan temannya sebagai sosok yang maha sempurna. Tega mengkhianatinya.

Tiffany memandang kesebelah kanannya, tepatnya kearah Siwon yang masih memandang tajam kepada Nickhun.

Ini lagi! Sebenarnya apa maksud dia? Jelas-jelas sudah tahu Nickhun oppa menikah. Tapi malah berniat menemuiku dengan suami sepupunya sendiri. Babo!’ umpatnya kesal dalam hati. Karena bagaimanapun, Siwon adalah andil terbesar atas semua kekacauan ini. apakah ia tak sadar, bahwa kehadiran Tiffany justru akan membuat Victoria ikut tersakiti. ‘Saudara macam apa dia?’ cibirnya dan lagi-lagi hanya berani dikatakannya dalam lubuk hati yang terdalam.

Terdengar decakan yang keluar dari mulut Siwon, menandakan bahwa mungkin saja sebentar lagi-lagi Siwon kan mengatakan sesuatu yang aneh. Dan Tiffany berharap Siwon tidak melakukan hal bodoh lagi.

“Ada urusan apa kamu menanyakan itu? Hah?” tanya Siwon sengit. Victoria hanya dapat memandang tajam kepada Siwon yang lagi-lagi berlaku tak sopan kepada suaminya. Dan Tiffany hanya mampu menelan ludah dengan susah.

“Aku hanya bertanya! Apa salah?” Nickhun memalingkan wajah menatap datar kearah Siwon yang dibalas tatapan super dingin dari Siwon.

“Tidak! Hanya saja…” Siwon menggantungkan perkataannya, mengedarkan padangannya kewajah cantik Tiffany yang mulai memucat karena takut Siwon berkata yang sebenarnya.

“Hanya saja apa?” sahut Victoria.

“Hanya saja, ini bukan gaya seorang Tn. Nickhun yang terhormat. Biasanya dia tak peduli dengan apa yang sudah bersangkutan dengan sosok Choi Siwon” ujar Siwon penuh penekanan disetiap kalimatnya.

=

.

.

=

 

At Hotel

“Apa maksudmu? Hah?” tanya Tiffany langsung saat keduanya –Siwon Tiffany- baru saja memasuki ruangan yang disebut kamar disebuah hotel mewah bintang lima dikawasan Aomori tersebut.

Siwon berlalu dan menghempaskan tubuhnya diatas kasur empuk. Merilekskan tubuhnya yang terasa begitu lelah utuk melakukan apapun. Tak digubrisnya omelan dan cercaan yang dikeluartkan Tiffany saat itu.

Gagal. Itu yang ada diotaknya. Rencana untuk menghancurkan Nickhun hari gagal total karena ulah bodoh Tiffany yang dengan mudahnya mengatakan bahwa mereka sepasang kekasih, membuat senyum merekah Victoria muncul dengan indahnya. Bagaimana tidak bahagia. Victoria benar-benar menginginkannya untuk putus dari Sooyoung.

Siwon tersentak bangun dari tidurnya, saat tangan mungil Tiffany menarik paksa tubuh Siwon untuk bangkit dari tidurnya. Membuat Siwon mendengus kesal. Melihat wajah Tiffany membuat moodnya semakin buruk saja. “Apa?” tanyanya malas.

“Apa? Kamu masih bisa bertanya apa? Yak! Choi Siwon, tidakkah kamu sadar bagaimana kebodohanmu saat ini? Bagaimana mungkin kamu melakukan ini padaku dan Victoria-ssi?” tanya Tiffany emosi.

“Memangnya apa yang aku lakukan?” tanya Siwon balik dengan menampakkan wajah super polosnya, ynag membuat Tiffany ingin menebas wajah tampan itu.

“Tsk! Kamu benar-benar jahat Siwon-ssi. Tega-teganya kamu melakukan ini! seharusnya kamu memberitahuku dari awal, kalau Nickhun oppa sudah menikah dengan Victoria-ssi.” Teriak Tifany.

“Kenapa kamu malah menyalahkanku? Hah? Bukankah kamu ingin menemui tunanganmu yang bodoh itu? Dan aku sudah mempertemukanmu dengan Nickhun oppa mu itu! Lalu apa yang kuterima? Semua kebodohan dan caci makimu! Tsk, manusia yang tak tahu diri.” Ucap Siwon tak kalah sengit, Siwon benar-benar kesal karena rencananya gagal.

Tadi. Belum sempat Nickhun menjawab pertanyaannya, Tiffany justru menariknya pergi meninggalkan dua orang manusia yang masih terdiam ditempatnya tersebut. Napas keduanya saling memburu, menandakan amarah yang menguasai mereka begitu menyesakkan hingga mereka harus bersusah payah untuk memasukkan oksigen keparu-paru mereka, jika mereka masih ingin melihat indahnya dunia ini.

Siwon tertegun. Untuk beberapa detik ia mematung tanpa mampu melakukan apapun, saat dilihatnya cairan bening yang melesat cepat melalui pipi chubby milik Tiffany. Menghalagni Siwon untuk menatap manik indah yang tertanam dengan sempurna dikedua kelopak milik Tiffany. Karena terhalang gumpalan cairan bening tersebut.

Tiffany menangis. Menangis tanpa suara, membuat suasana diantara keduanya semakin mencekam. Bisa dirasakan oleh Siwon rasa sakit yang menjulur melalui seluruh organ tubuh milik Tiffany. Sehingga membuat tubuh mungilnya tersebut gemetar hebat dihadapan Siwon.

Mian.” Ucapnya tertunduk. Lidah Siwon terasa kelu, tak mampu untuk mengatakan kata yang lebih dari kata ‘maaf’ itu sendiri.

Kini Tiffany mulai terisak pelan. Tak menunggu lama, seperti perkiraan Siwon sebelumnya. Tubuh itu. Tubuh milik Tiffany tidak akan mampu berdiri dengan lama, untuk tetap bertahan pada posisinya saat ini.

Siwon merundukkan tubuhnya, menyamai tubuh lemas Tiffany yang kini sudah terhempas ke lantai dingin kamar hotel yang mereka pesan ini. Direngkuhnya secara perlahan tubuh gemetar tersebut. Siwon meletakkan dagunya diatas kepala Tiffany yang terbenam sempurna didada bidang milik Siwon. Siwon tak melakukan apapun kecuali itu. Kecuali memeluk Tiffany erat, dan menghirup aroma lembut yang keluar dari rambut hitam Tiffany.

Wangi ini. Entah sejak kapan mulai disukai Siwon, aroma tubuh yang keluar dari seluruh bagian-bagian tubuh Tiffany. Mengingatkan Siwon pada malam dimana keduanya saling menyatu tanpa perasaan apapun. Yang jelas, harum tubuh Tiffany menjadi bagian favorit Siwon secara diam-diam untuk menghirupnya secara berlebihan. Karena dengan itu, membuat Siwon merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Tiffany masih menangis dipelukan Siwon tanpa berniat berontak sekalipun. Tiffany merasa nyaman berada dipelukan Siwon, merasa terlindungi dan tak perlu takut atas apapun yang menimpanya. Dan alasan inilah yang membuatnya kuat selama makan bersama Nickhun dan Victoria dimeja yang sama. Karena sejak awal mereka duduk deimeja makan tersebut, entah sudah berapa kali Siwon menguatkan Tiffany dengan terus menggenggam tangan mungil Tiffany yang tersembunyi dibawah meja tersebut.

Ini pukulan terberat yang dirasakannya seumur hidup Tiffany. Pertama kalinya merasa kehilangan. Walupun ia juga sudah tak memiliki kedua orang tua, namun itu tak membuat Tiffany sesakit ini. mungkin karena kedua orangtunya meninggal saat Tiffany masih balita.

Secara perlahan Tiffany melepas pelukan Siwon dengan berat hati. Membuat keduanya saling bertatapan dengan jarak yang sangat dekat, jika saja Tiffany memajukan sedikit kepalanya. Maka tak terelakan ciuman keduanya akan terjadi kembali, setelah kejadian sebelumnya dimalam itu.

Siwon menghapus dengan lembut air mata yang masih mengalir keluar dari mata indah milik Tiffany. Membuatnya bersumpah, tak akan lagi membiarkan air mata itu keluar dengan sia-sia. Tiffany tersenyum lembut menrima perlakuan Siwon, ia begitu lelah sehingga tak mampu untuk berontak saat ini.

“Maaf karena telah melibatkanmu. Tapi sungguh. Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku punya alasan yang kuat kenapa melakukan ini” ucap Siwon lirih masih membelai lembut pipi mulus Tiffany.

“Apa?” tanya Tiffany parau.

Siwon menghela napasnya, baru saja ia ingin mengatakan alasannya kepada Tiffany. Namun suara dering ponsel milik Siwon mengintrupsi gerakan bibirnya.

Dengan sebal, diambilnya ponsel tersebut dari saku celananya. Siwon mengeryitkan kening, karena melihat siapa yang menelponya saat ini. Ditatapnya Tiffany yang sedang memandang penuh tanya kearah Siwon yang masih saja tak mengangkat telpon tersebut.

Siwon mengarahkan jarinya diatas layar touchscreen ponselnya. Dan menggeser symbol hijau dilayar tersebut kearah kiri.

Yobseyo?

=

.

.

=

 

At The Beach

Ini sudah kesekian kalinya wanita cantik tersebut mengela napas kasar dengan terus memandangi pantai luas yang tersaji dengan indah didepan pelupuk matanya. Deruan angin pelan melambaikan helaian-helain rambut halusnya yang panjang. Membuatnya acap kali membenahi rambutnya yang sedikit berantakan karena ulah angin pantai itu.

Dipejamkan matanya, menikmati kesejukan hawa pantai yang menangkan jiwa. Biasanya, cara ini begitu ampuh untuk memperbaiki suasana hatinya yang memburuk. Namun untuk saat ini, entah mengapa semuanya tak berubah. Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini. Kejadian hari ini membuatnya merasakan sesak yang mendalam. Menekan keras saluran pernapasannya.

Serapat apapun ia menutupnya, sekuat apaun kendalinya untuk membuat semuanya berjalan baik dan normal. Pada akhirnya semua yang ia lakukan, meledakkan seluruh amarah yang terpendam selama hampir 10 bulan ini. Ia tahu, tidak seharusnya ia berlaku seperti ini. Namun apa daya, semua sudah terjadi tanpa mampu dikendalikannya.

Dibalikan tubuh rampingnya, tatkala mendengar deheman laki-laki dibelakangnya. “Apa sudah menunggu lama?” ia tersenyum. Laki-laki yang ditunggunya sejak tadi, akhirnya datang menemuinya. Dilangkahkan kakinya menuju pelukan hangat laki-laki tersebut. Menangis didepan dada bidang milik laki-laki tersebut.

Laki-laki tersebut hanya bisa mengehela napas lelahnya. Dalam sehari ini, ia hrus melihat banyak air mata yang keluar dari mata indah wanita-wanita yang dekat dengannya.

“Hentikan tangismu ini! dan ceritakan apa yang terjadi!” perintah laki-laki tersebut.

“Hiks..hiks..Wonnie” Siwon hanya mengangguk, menyuruh wanita itu untuk melanjutkan ceritanya.

FLASHBACK

 

            Brak

            Victoria terlonjak kaget, mendengar suara pintu yang tertutup kencang dari arah kamar utama. Tempat dimana ia dan Nickhun biasa terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Dengan langkah hati-hati  ia menuju kamar tersebut. Ditariknya kembali tangan kanannya yang hendak membuka pintu kamar tesebut. Meyakinkan dirinya, bahawa semua akan bai-baik saja saat ini.

            Cleck

            “O-oppa…” tak ada sahutan dari dalam, sesaat setelah ia melangkah masuk kekamar. Melihat keadaannya yang sudah tak terbentuk. Kamar mewah yang biasanya tertata rapih, kini terlihat bak kandang binatang yang tak terurus. Semua barang-barang yang biasanya tersusun rapih ditempatnya. Kini sudah tergeletak tak berbentuk dilantai kamar tersebut.

            Dilihatnya sesosok laki-laki yang membuatnya khawatir tengah tertunduk disela kedua kakinya yang terlipat dalam pelukan kedua lengannya sendiri. Penampilannya sungguh tak seperti biasanya. Jas yang sudah tersampir tak beraturan diatas bed cover mereka. Dasi yang terpasang tak semestinya. Rambutnya yang terlihat berantakan, seperti baru saja diporak-porandakan oleh pemiliknya sendiri.

“O-“

“Kamu sudah tahu itu Victoria-ssi!”

Bukan. Bukan sekarang, Victoria belum siap jika harus dibuka sekarang. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Victoria memejamkan matanya, menunduk dalam.

“Puaskah? Apa sudah puas dengan permainan yang kamu buat sendiri? Tak cukupkah samapai sini? Apa masih ingin melanjutkannya?”

Diam. Victoria lebih memilih diam. Ia sungguh tak tahu harus melakukan apa. Tak tahu apa yang harus dilakukan untuk meredam kemarahan dan emosi sang suami yang akhirnya meledak. Setelah, mungkin selama 10 bulan ini dipendamnya dalam diamnya Nickhun.

“Aku sangat mencintainya. Dialah alasanku berada di Seoul, meraih mimpiku. Menjadi seseorang yang pantas untuknya. Dan … dan dengan mudahnya, kamu menghancurkan semua mimpi yang sedang kurancang untuk kami berdua”

Air mata mengalir membasahi wajah cantik Victoria. Namun itu tak mengurungkan semua kata-kata yang keluar dari mulut Nickhun.

“Sekarang.. setelah menahan semua rinduku. Aku melihatnya, melihatnya dengan wajah pucatnya, senyum paksanya. Membuatku seperti seorang pecundang tengik dihadapan kalian semua. Apa yang dipikirkannya tentangku? Aku tak tahu. Tapi aku melihatnya Vic! Melihat kekecewaan yang mendalam dimatanya. Melihat semua cinta dan kerinduannya, melebur bersama air mata yang disimpannya selama dimeja makan tadi.”

Terdengar isakan dari bibir Nickhun yang semakin keras. “Mian” ucap Victoria lirih.

“Tsk! Bodoh. Akulah yang bodoh disini. Jelas-jelas wanita yang kucintai ada dihadapanku. Tapi aku justru terdiam, tanpa kata. Membiarkannya, dirangkul oleh laki-laki lain. Laki-laki yang notaben nya orang yang sanagat membenciku. Orang yang berpikir, bhawa akulah yang jahat disini” teriak Nickhun diakhir kalimat. Membuat Victoria memjamkan matanya dengan tangisan yang semakin menjadi.

Nickhun menatap tajam Victoria yang masih menundukan kepalanya. Tubuhnya gemetar, menandakan rasa takut yang menyergapi seluruh lerung hatinya. Nickhun bangkit dan menghampiri Victoria, menangkup wajah Victoria yang sudah basah oleh air matanya sendiri.

“Aku harus menemuinya. Aku sangat mencintainya Victoria. Tolong pahamilah itu! Biarkan aku yang menyelesaikan permainanmu ini! Tunggu disini! Dan kita lihat bagaimana akhirnya” Nickhun melepaskan tangannya dari wajah Tiffany.

Berajalan penuh ambisi keluar kamar, namun terhenti karena gumanan Victoria yang masih terdengar jelas dikuping Siwon.

“Aku tahu tentang semua ini. aku berusaha bertahan walaupun terasa menyakitkan. Tidak bisakan kamu mempertahankannya untukku juga?”

 

FLASH BACK END

=

.

.

=

At The Beach

Siwon memandang lurus pemandangan didepannya. Wajahnya terlihat terpukul atas apa yang baru saja didengarnya. Pengakuan sang sepupu yang membuatnya terpaku ditempat, tanpa berkutik. Semua kata yang didengarnya seperti melumpuhkan semua system kerja tubuhnya.

Siwon mendesah frustasi, tangannya terulur memijit keningnya. Mengurangi rasa pening yang menjalar keseluruh bagian kepalanya. Kejadian beruntun beberapa hari ini membuatnya merasakan pukulan hebat yang menghantamnya kejurang dalam yang menyakitkan.

Terlihat sekali raut wajah menyesal diwajah tampannya. Diusapnya wajah tersebut berulang kali, meraskan frustasi yang teramat. Membuatnya berteriak keras. Sekeras mungkin. Dan terjatuh tersujud merasakan lelah, sesaat setelah mengeluarkan teriakannya yang tertahan sejak satu jam yang lalu.

Ia menjambak rambutnya kesal. Permainan bodoh, umpatnya dalam hati. Bagimana tidak? Seseorang yang dianggapnya penjahat, justru malaikat dalam permainan bodoh yang diciptakan sepupunya sendiri.

Baru saja. Satu jam yang lalu Victoria menceritakan semua fakta yang mengejutkan Siwon untuk kesekian kalinya. Kenyataan bahawa Victoria-lah yang merencanakan perjodohannya dengan Nickhun. Menjebak Nickhun, dalam satu hotel yang sama. Menyiratkan suatu hubungan yang diluar batas dari sepasang insan yang berbeda jenis. Bukankah itu perbuatan terkeji yang sangat menggelikan. Dan bukan hanya itu yang membuat Siwon gila sekarang.

Kenyataan yang lebih pahit dari pada sebelumnya. Kenyataan bahwa alasannya melakukan itu, adalah untuk menjadikan Nickhun pelarian atas rasa sakit yang diterimanya dari Kyuhun. Siwon mendesah pelan. Nama itu lagi, pikirnya. Kenapa harus Cho Kyuhyun lagi? Siwon bersumpah serapah, jika ia bertemu dengan sahabatnya itu. Ia akan menghajar habis-habisan sampai semua rasa marahnya melebur. Tapi yang menjadi pertanyaannya… sanggupkah Siwon melakukannya? Mengingat. Betapa sayangnya ia pada makhluk evil satu itu.

Siwon sadar, sangat sadar pada semua scene-scene yang berputar dimasa lalu. Dimana Sooyoung, akan tersenyum antusias saat Siwon mengatakan Kyuhyun akan datang berkunjung kerumahnya. Mengurungkan niat Sooyoung untuk pulang kerumahnya, dan menunggu Kyuhyun datang. Dengan alasan, berbagai macam. Dan salah satu yang membuat Siwon selalu percaya akan alasan itu adalah. Sooyoung ingin bertanding game dengan Kyuhyun. Membuat Siwon terkikik gemas, dengan keambisius Sooyoung yang ingin megalahkan Kyuhyun.

Belum lagi perilaku Kyuhyun, yang sangat memperhatikan Sooyoung. Saat Sooyoung lupa memakai mentelnya, maka Kyuhyun-lah yang akan dengan senang hati meminjamkan mentel miliknya untuk digunakan Sooyoung. Atau yang paling diingat Siwon. Saat Kyuhyun terpuruk atas perginya Victoria, dengan mudahnya Kyuhyun bangkit saat Sooyoung menemaninya tanpa jeda disamping Kyuhyun.

Siwon merutuki kebodohannya. Bagaimana mungkin  ia tak menyadari semua nteraksi-interaksi kecil yang menyentuh hati itu? Bodoh. Bukankah, itu berarti ia adalah pihak ketiganya. Ia adalah orang  yang menyelusup masuk tanpa izin, lalu mengambil Sooyoung seenaknya dari genggaman Kyuhyun.

Tapi jika dipikirkan lagi. Ini, tidak sepenuhnya salah Siwon. Hei! Bukankah Kyuhyun lebih bodoh? Seharusnya ia memacari Sooyoung bukannya Victoria. Yang jelas-jelas tak dicintainya. Membuat Victoria sakit hati, saat mengetahui Kyuhyun menyimpan koleksi photo-photo Sooyoung yang dipotretnya diam-diam. Dan bodohnya Victoria, bukannya meminta penjelasan, tapi justru membalas perbuatan Kyuhyun dengan perjodohannya dengan Nickhun. Padahal saat itu, Kyuhyun sudah bisa melupakan Sooyoung dan mulai menyayangi Victoria. Jadilah saat itu, Kyuhyun sangat terpukul karena kepergian wanita yang dicintainya untuk kedua kali.

Dan yang membuat Siwon geram adalah, semua tindakan bodoh Victoria. Bagaimana mungkin wanita terhormat sepertinya melakukan hal keji tersebut. Jika Siwon menjadi Nickhun, ia akan menyeret Victoria kedalam bui. Sebagai kasus pencemaran nama baik. Tapi tidak dengan Nickhun, mungkin karena rasa bersalah dan ancaman dari keluarga Song. Membuat Nickhun harus menerima untuk dinikahkan dengan Victoria. Membuatnya harus mengkhianati tunangannya Tiffany Hwang.

“Ahh, Tiffany.. Tiffany..” Siwon berguman tak jelas, meletakkan tubuhnya telentang diatas pasir putih pantai indah ini.

“Apa yang akan dilakukannya?” gumannya lagi.

Siwon tahu, sekarang mungkin Tiffany sedang berasama Nickhun. Membicarakan semua perkara yang membelenggu hubungan mereka berdua. Entah apa reaksi Tiffany, saat tahu kenyataan yang sebenarnya. Apa Tiffany akan kembali pada Nickhun?

“Ahhh..” Siwon terbangun dari tidurnya. Kembali berteriak, karena memikirkan keputusan Tiffany pada hubungannya dengan Nickhun.

Membayangkan Tiffany kembali kepada Nickhun, dan merajut tali kasih yang sempat terputus. Membuat sebagian hati kecilnya tak rela. Entah apa yang dirasakannya, tapi ia berharap Tiffany tidak akan kembali kepada Nickhun.

Walaupun ia tahu semua ini merupakan kesalahan besar sepupunya. Tapi ini juga karena kebodohan Nickhun yang menerima saja dinikahkan dengan Victoria.

Bukankah ini sama saja dengan Nickhun yang ingin menguasai harta Victoria? Siwon berdecak kesal, saat pemikiran buruknya muncul lagi. Entah mengapa, ia tidak bisa benar-benar berbaik hati kepada Nickhun.

Dan satu hal yang pasti, ia lagi-lagi tak rela Tiffany bersama Nickhun. Ia yakin Tiffany bisa mendapatkan laki-laki yang lebih pantas untuknya. Siapapun itu Siwon tidak peduli.dan akan lebih baik, jika laki-laki itu adalah… Siwon sendiri.

=

.

.

=

At Restaurant

Keduanya terdiam. Dan ini sudah hampir 20 menit. Keduanya –Tiffany dan Nickhun- hanya sibuk dengan keasikan mereka sendiri. Jika Tiffany yang hanya memainkan sedotan air minumnya. Berbeda dengan Nickhun yang hanya terdiam tertunduk.

20 menit yang lalu. Nickhun mendatangi hotel tempatnya menginap. Tiffany pikir itu adalah Siwon tapi salah. It’s Nickhun. Membuatnya terkejut tak percaya, dihadapannya saat itu adalah Nickhun, laki-laki ang pernah menyandang status tunangannya.

“Tif-“

“Biar aku saja oppa” Tiffany menyela omongan Nickhun.

Tiffany mengangkat wajahnya mentap Nickhun, Tiffany menghembuskan nafasnya dengan kuat. Seperti sedang membulatkan tekadnya. “Selamat oppa. Selamat atas pernikahannya. Maaf jika terlambat mengatakannya” ucap Tiffany dengan senyum tulus diwajahnya.

“Tiffany…”

“Tidak oppa,” lagi, Tiffany lagi-lagi menyela pembicaraan. Membuat Nickhun mendengus kesal karena Tiffany terus memotong pembicaraannya.

“Oppa tidak perlu menjelaskannya. Aku mempercayaimu. Aku percaya, oppa tidak bermaksud menyakitiku. Ya ‘kan?” Tiffany tersenyum simpul. “Memang semula aku merasa oppa mengkhianatiku. Tapi setelah aku pikir-pikir. Bukankah oppa sangat beruntung?” Nickhun mengeryitkan keningnya.

“Victoria-ssi. Ah tidak! Aku harus memanggilnya eonni. Emm.. Victoria eonni, dia begitu mencintaimu oppa. Aku bisa melihat itu dari matanya. Aku melihat ketulusan dimatanya. Dia begitu mencintaimu oppa.” Tiffany menatap Nickhun dalam saat mengulang kata ‘dia mencintaimu’.

“Tapi aku mencintaimu” ucap Nickhun dingin. Membuat Tiffany senang.

“Terima kasih. Terima kasih karena telah mencintaiku. Tapi oppa… jika saja oppa mengatakannya 1 tahun yang lau. Aku akan bersorak gembira, karena dicintai oleh laki-laki sepertimu. Sekarang… semuanya berbeda. Sekarang bukan lagi 1 tahun yang lalu. Dimana aku yang selalu disisimu. Bukan aku oppa.”

“Apa maksudmu?”

“Kamu tidak mengerti oppa?” tanya Tiffany yang hanya dibalas gelengan ringan dari Nickhun.

“Kamu juga mencintainya oppa” Nickhun terlonjak kaget.

“Apa dasarmu mengatakan itu?”

“Sikap diammu tadi. Itu dasarku,” Tiffany menghela napasnya sesaat. Sebenarnya ini masih sedikit menyesakkan, namunn Tiffany sudah berniat untuk menuntaskan semuanya.

“Jika kamu tidak mencintainya, dan masih mencintaiku. Kamu pasti akan berlari kearahku dan memelukku. Tak peduli siapapun orang yang ada disekitar kita. Jika kamu menginginkannya, kamu pasti akan melakukannya.”

“Oppa..” Tiffany menggenggam erat tangan Nickhun yang tergeletak diatas meja. Mencoba meyakinkan laki-laki tampan tersebut.

“Bukankah dulu, Halmonie selalu memarahimu saat kamu masih nekat menemuiku? Tapi dengan leras kepalanya, oppa masih saja menemuiku. Tidak peduli berapa banyak barang yang dilemparkan kerahmu, oppa akan tetap menemuiku kembali keesokannya. Lalu… apa yang terjadi tadi oppa? Kamu terdiam, duduk manis disamping istrimu. Itu semua kamu lakukan karena tak ingin menyakitinya ‘kan?” Nickhun mempertimbangkan kebenaran ucapan Tiffany yang menurutnya masuk akal tersebut.

“Jangan sampai menyesal untukk kedua kalinya. Bukannnya aku tidak ingin mendengarkan penjelasan oppa. Aku hanya ingin oppa tahu. Masa lalu bukanlah sesuatu yang harus selalu kita sesali. Terkadang, kenangan pahit dimasa lalu, adalah takdir yang membuat kita bahagia dimasa sekarang.” Nickhun tertegun mendengar perkataan Tiffany.

“Mungkin benar!” Nickhun tertawa geli, mengingat semua keboddoohannya yang terulang kembali saat ini.

“Jadi… bagaimana?” tanya Tiffany mengerlingkan matanya. Membuat Nickhun tersenyum malu.

=

.

.

=

At Hotel

“Bahagia sekali wajahnya!” sindir Siwon saat Tiffany memasuki kamar hotel dengan wajah yang berseri.

Tiffany mendengus kesal, melihat Siwon yang duduk manis di sofa kamar tersebut. Melipatkan kedua tangannya didepan dada. Berlagak bak boss, yang sedang mengamati pekerjaan anak buahnya.

“Kenapa memangnya? Kau tak suka?”

“Tsk! Buat apa juga aku tak suka! Itu bukan urusanku” jawab Siwon ketus.

“Kalau begitu jangan bicara seperti tu padaku” teriak Tiffany.

“Kenapa kamu selalu berteriak sih?” Siwon terbangun dari Sofa, dan kembali berteriak kepada Tiffany.

“Kau membuatku kesal!”

“Seharusnya aku yang bicara seperti itu!” ucap Siwon tak kalah sengit dari ucapan Tiffany sebelumnya.

“Memangnya aku berbuat apa? Aku saja baru datang” bela Tiffany.

“Kamu tidak melihat jam? Jam berapa ini, kamu baru pulang, euh?” bentak Siwon.

“Yak! Aku bukan anak kecil yang harus diatur kegiatannya, bodoh”

“Kau yang bodoh”

“Kau”

“Kau!”

Tiffany mengerang kesal, sambil mencak-mencak kesal. Karena Siwon sangat keras kepala. “Sebenanya apa maumu, hah?”

“Mauku? Kita pulang sekarang!”

“Apa?” Tiffany kaget dengan tindakan Siwon yang menginginkan pulang malam ini juga. ‘Kenapa ia selalu bertindak sesuka hati sih?’ pikirTiffany.

Sebenarnya Siwon masih ingin di Aomori. Tapi ia sudah terlanjur kesal, karena Tiffany pulang larut malam. Terlebih ia tahu dengan siapa Tiffany baru saja keluar. Nickhun!. Ahh, menyebut nama itu. Sekali lagi membuat Siwon naik pitam.

Siwon dan Tiffany kini sibuk membenahi koper mereka. Sesekali Tiffany menggerutu kesal, Tiffany belum menyiapkan diri. Dan sekarang dengan mudahnya Siwon bilang 30 menit lagi pesawat akan take-off. ‘Menyebalkan’.

=

.

.

=

Dengan hati-hati Nickhun membuka, pintu rumah mereka. Melihat kesekitar ruangan besar tersebut. Gelap. Seperti tak ada kehidupan didalamnya.

“Victoria? Vic?”

Panggilan Nickhun, sama sekali tak disaut oleh pemilik nama yang baru saja dipanggilnya. Dicarinya kebagian-bagian rumah besar tersebut. Baru saja kaki akan dilangkahkan menaiki tangga, yang akan membawanya menuju kamar utama dirumah ini- kamarnya dan Victoria.

“Oppa…” pangglian lirih itu menghentikan langkahnya.

Ditengoknya kebawah tangga besar tersebut. Dilihatnya wanita yang telah mendampinginya selama 10 bulan ini. sedang meringkuk, seperti anak kucing.

“Vic? Sedang apa kamu?” Victoria keluar dengan langkah pelan, dan Nickhun pun berinisiatif menghampiri wanita yang telah menjadi istrinya itu.

“Oppa pulang? tanya Victoria pelan.

Nickhun tersenyum melihat gurat sedih yang masih terlihat jelas dimuka cantik Victoria.

“Tentu saja aku pulang. Memangnya aku harus kemana?”

“Aku pikir oppa akan-“ Nickhun menarik Victoria kedalam pelukannya, membuat Victoria mengerjap-erjapkan matanya.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu…”

“Apa?”

“Setiap harinya, beribu maaf terucap untukmu. Berapa banyak rasa sakit yang telah kau terima? Hukumlah aku!”

Victoria melepas pelukannya dan menatap Nickhun dengan tatapan tak percaya. Ini pertama kalinya seorang Nickhun Horvejkul, berbicara selembut ini. Lagi-lagi air matanya mengalir. Bukan air mata kesediahan, tapi air mata bahagia.

“Aku akan menghukum oppa!” ucap Victoria mantap.

Nickhun mengangguk dan tersenyum manis. “Tapi setelah oppa menghukum ku” ucap Victoria untuk kedua kalinya. Membuat Nickhun terperangah kaget.

Namun tak lama setelah itu, senyum menyerigai dikeluarkan Nickhun. “Baiklah, ayo kita jalani hukuman kita masing malam ini! Bagaiman menurutmu Ny. Horvejkul?”

=

.

.

=

 

Siwon melirik kesekian kalinya kearah samping kirinya. Tidak ada suara yang keluar dari bibir wanita yang biasanya akan sangat cerewet mengatakan banyak hal yang tak peru. Siwon merasa aneh dengan sikap Tiffany, seperti bukan Tiffany saja, pikirnya.

Siwon menyenggolkan sikunya pada perut samping Tiffany beberapa kali. Berharap mendapat respon balik dari wanita  tersebut. Sedangkan Tiffany, masih diam dan berusaha mengelak keusilan Siwon. Bibirnya mengerucut sempurna, pertanda kekesalannya terhadap Siwon masih belum berkurang sampai saat itu.

“Hei!” Siwon melambaikan tangannya didepan muka Tiffany, saat Tiffany membelakanginya.

“Kau marah?” masih tidak ada jawaban dari Tiffany.

“Tiffany Hwang!” panggil Siwon. Masih sama, Siwon menghela napas. Menyadarkan kepalanya pada bangku belakangnya. Memejamkan mata sesaat.

Tapi itu tak lama. Diamnya Tiffany membuatnya resah, ditatapnya lagi punggung Tiffang yang masih tak berbalik menghadap kearah yang sebenarnya. Lagi-lagi Siwon, menggoda Tiffany. Kali imi telunjuknya yang bergerak, menunjuk-nunjuk perut samping Tiffany. Siwon merasa bosan karena tak mendengar suara ribut Tiffany. Terlebih saat ini Tiffany menyuekinya, dari saat mereka keluar hotel sampai mereka duduk dibangku pesawat sekarang ini.

“Tiffany~” ucapnya lirih.

“Fany-ah” ucapnya lagi. Dan GOTCHA, Tiffany menoleh membuat Siwon tersenyum lebar. Menegakkan tubuhnya yang semula ikut tergulai lemas menyeder bangku dan menghadap Tiffany yang membelakanginya.

“Kau tadi memanggilku apa?” tanya Tiffany lemah. Siwon terkejut melihat perubahan wajah Tiffany yang… pucat.

“Ya~ kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat seperti ini?” tanya Siwon sembari menangkup wajah Tiffany. Dingin. Membuat Siwon semakin mengkhawatirkan Tiffany. Dibelainya dengan lembut wajah Tiffany, menyeka keringat dingin yeng mengucur didahinya. Siwon memeluk Tiffany. Siwon sangat khawatir saat ini.

“Tadi kamu memanggilku apa?” tanya ulang Tiffany dipelukan.

“Apa?” tanya Siwon tak mengerti.

“Tadi! Tadi kau memanggilku apa?”

“Aku? Aku memanggil namamu.”

“Iya aku tahu, ekhm..” Tiffany menjeda ucapannya. Membuat Siwon dengan segera mengambil air mineral untuk diminum Tiffany.

“Gomawo.. kau belum menjawabnya!”

Siwon memandang Tiffany kesal. Ia tak mengerti apa maksud Tiffany, kenapa wanita ini terus saja bertanya.

“Memangnya aku memanggilmu apa?” tanya Siwon dingin.

“Tadi, yang terakhir kamu memanggilku”

“Fany-ah?” Tiffany mengangguk cepat. Lalu memalingkan wajahnya dari Siwon. Tersipu malu. Hanya diam dalam senyumnya.

Melihat itu, membuat Siwon mengeryit heran.

“Ada apa denganmu? Hei! Kau baik-baik saja kan?”

Tiffany mengangguk sekali lagi. Siwon berdecak kesal. Karena sikap Tiffany jadi semakin aneh. Tadi merajuk, sekarang senyam-senyum sendiri.

‘Wanita aneh’

“Siwon-ssi?”

“Hmm?” Siwon menoleh, menatap mata sayu Tiffany yang tengah memandangnya juga.

“Fany-ah. Apa benar baik-baik saja? Mukamu sangat pucat!”

“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing saja. Mungkin karena aku mabuk perjalanan” ucapnya tertahan, seperti ingin mengeluarkan sesuatu.

“Kau kenapa?”

“A-ku.. hoekkkk….” Tiffany menutup mulutnya yang seperti akan mengeluarkan sesuatu.

Siwon mengambil inisiatif untuk mengambilkan kantung khusus yang telah disiapkan untuk para penumpang yang muntah diperjalanan. Lalu memberikannya kepada Tiffany. Tangannya terulur untuk memijat tengkuk Tiffany perlahan, mempermudah Tiffany mengeluarkan muntahannya tersebut. Terkadang juga mengelus pelan bahu belakang Tiffany. Sedangkan tangan sebelahnya yang lain, masih memegang kantung muntahan Tiffany tanpa rasa jijik.

“Hahhhh….”  Tiffany menadahkan kepalanya keatas, ada sedikit kelegaan dari raut wajahnya karena bisa mengeluarkan isi perutnya yang bergejolak dalam perutnya sejak tadi. Siwon menutup rapat kantung muntahan tersebut, dan menaruhya pada tempat yang sudah disediakan. Setelah itu, ditariknya Tiffany kepelukannya. Berharapa itu bisa membuatnya nyaman.

Tiffany hanya pasrah atas tindakan Siwon. Kepalanya pening. Membuatnya tak bisa melakukan apapun, kecuali memejamkan matanya. Siwon masih terus membiarkan Tiffany terlelap dalam pelukannya. Memijit pelan kepala Tiffany, untuk menghilangkan pening yang mungkin saja dirasakan Tiffany. Terkadang pula, dilapnya keringat dingin yang masih keluar membasahi kening indah Tiffany.

Semuanya berjalan secara alami, tanpa adanya paksaan dari masing-masing pihak. Baik Siwon dan Tiffany menikmati kebersamaan mereka yang tak seperti biasanya itu. Membiarkan semuanya berjalan apa adanya, tanpa menuntut banyak hal dari masing-masing individu.

Siwon yang masih dengan setia merangkul Tiffany, membiarkan tubuh lelahnya dijadikan tempat tidur yang menyenyakkan untuk Tiffany. Siwon bahkan merelakan matanya untuk tetap terjaga, takut-takut Tiffany akan terbangun dan membutuhkan bantuannya. Apapun itu. Dan Siwon berharap bisa langsung membantu Tiffany.

=

.

.

=

 

“Mau kemana?”

“Bukan urusanmu! Minggir!”

“Tidak! Sebelum kamu mengatakan kemana tujuanmu!”

Sooyoung mendelik sebal kearah Kyuhyun, karena sejak tadi Kyuhyun mencegatnya pergi.

“Aku ingin menemui Siwon oppa” teriak Sooyoung, membuat rahang Kyuhyun mengeras seketika.

“Minggir!” perintah Sooyoung.

Sooyoung menggeser tubuh Kyuhyun kesamping, membuatnya bisa melangkah melalui Kyuhyun. Namun langsung ditahan lagi oleh Kyuhyun dengan menggunakan tangannya yang mencekram keras tangan Sooyoung. Membuat Sooyoung meringis kesakitan. Bibir Kyuhyun gemetar, menahan rasa sakit yang bertubi-tubi diterimanya.

“Buat apa lagi kamu menemui Siwon Hyeong?” tanya Kyuhun dingin.

“Bukan urusanmu! Lepaskan aku!” bentak Sooyoun melepas paksa pegangan Kyuhyun.

Sooyoung berjalan cepat menghindari Kyuhyun yang bisa saja menahannya kembali. “Aku akan melepasmu jika itu membuatmu bahagia. Pergilah…!”

Sooyoung menoleh, dan memandang Kyuhyun dengan padangan sedih. Entah apa yang dirasakan Kyuhyun maupun Sooyoung saat ini. Namun rasa sakit yang mendominasi itu, membuat mereka hanya saling pandang.

=

.

.

=

 

Tiffany dan Siwon menyeret koper mereka perlahan. Saat ini mereka berada distasiun  kereta. 45 menit yang lalu pesawat mereka lepas landas. Dan sekarang mereka sudah harus melakukan perjalanan kembali. Bedanya kali ini hanya Tiffany yang akan menumpangi kereta tersebut. Sedangkan Siwon hanya mengantar Tiffany.

Baru semalam mereka damai, dalam pelukan satu sama lain. Tapi sudah dirusak oleh pertengkaran kecil sebelum ke stasiun. Siwon menolak mentah-mentah keputusan Tiffany yang ingin kembali ke Busan –kampung halamannya-.

Siwon juga tidak mengerti, kenapa ia melarang Tiffany untuk kembali. Seharusnya ia senang bukan? Tapi justru membuat Siwon mengerutu sepanjang perjalanan menuju stasiun.  Membuat Tiffany gerah, melihat sikap aneh Siwon.

Kalau bukan karena ucapan telak Tiffany. Tidak mungkin Siwon membiarkan Tiffany pergi.

‘Memangnya kau siapa? Melarang pulang kerumaku sendiri, eoh?’

Sial. Umpat Siwon. Kemenangan telak diperoleh Tiffany. Benar. Tentu saja Tiffany benar. Siapa dia sampai berani-beraninya melarang Tiffany pulang dan menjalani hidupnya seperti semula. Tapi, Siwon seperti merasa punya hak atas Tiffany.

Kini mereka duduk termenung berdua. Menantikan kedatangan kereta ekspress yang menuju Busan. “Gomawo” ucap Tiffany lirih.

Siwon menoleh dan mengangguk. “Nado. Terima kasih atas bantuannya.”

Tiffany mendengus, mengingat bagaimana Siwon menjadikannya umpan untuk menjatuhkan Nickhun.

Wae?” tanya Siwon heran.

“Awas saja kalau kau macam-macam pada oppaku!” ancam Tiffany. Membuat Siwon melotot kearahnya.

“Siapa yang kau maksud ‘oppa-ku’, euh?”

“Tentu saja Nickhun oppa. Kau pikir siapa lagi?”

“Tsk! Kamu masih berani memanggilnya ‘oppa-ku’. Tidak sadarkah kamu, status yang disandangnya saat ini?” ucap Siwon sewot.

“Tentu saja aku tahu, bodoh!” Tiffany berdiri sempurna karena kesal mendengar ucapan Siwon yang seperti merendahkannya.

“Kalau tahu, kenapa masih memanggilnya oppa?” kata Siwon membentak Tiffany. Membuat Tiffany terdiam.

“M-me-mangnya kenapa? Nickhun oppa saja tidak keberatan, aku memanggilnya oppa. Kenapa kau yang marah-marah” bela Tiffany tergagap.

“Tsk! Benar-benar! Terserah, pergilah sejauh mungkin. Aku benar-benar pusing menghadapi wanita sepertimu!” Siwon berlalu pergi meninggalkan Tiffany yang memandang takjub pada Siwon.

“Dia benar-benar keterlaluan. Bahkan dia tidak mengucapkan selamat tinggal. Nappeun namja!” Tiffany menghentakan kakinya kesal. Tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipinya.

‘Kau benar-benar jahat Choi Siwon. Bahkan kamu tak mengantarkan kepergian samapai keretanya datang’ isaknya dalam hati.

=

.

.

=

 

Brak

Siwon menutup pintu dengan sangat keras. Amarahnya benar-benar tak bisa dikendalikan. Melihat Tiffany masih saja dengan mudahnya memangil Nickhun dengan embel-embel oppa.

“O-oppa?” Siwon menatap kaget saat melihat Sooyoung yang tengah berdiri didapurnya.

“Oppa sudah pulang? aku sudah menyiapakan makanan untuk kita! Cepet ganti bajunya, kita makan bersama setelah oppa selesai.” Sooyoung tersenyum lembut dan kembali masuk kedapur milik Siwon.

‘Aish! Apa lagi ini?’

Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang tersentuh piring keramik yang mendominasi ruang makan yang mewah tersebut. Tidak ada dari keduanya membuka pembicaraan. Sooyoung merasa canggung, karena Siwon terus saja diam. Terlebih raut wajah Siwon yang tidak bersahabat sama sekali.

“Katakan saja apa kepentinganmu?” tanya Siwon tiba-tiba. Membuat Sooyoung membeku ditempat.

“Aku hanya ingin-” ucap Sooyoung lirih.

“Aku sudah memaafkanmu” balas Siwon cepat. Mendengar itu, membuat mata sooyoung berbinar bahagia. Dihampirinya Siwon, lalu memeluknya dari belakang.

“Gomawo oppa! Aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi”

Siwon yang tediam sejak tadi, melepas perlahan tangan Sooyoung yang mengalungi leher Siwon dari belakang.

Siwon berdiri dan melangkah meninggalkan Sooyoung yang terdiam bingung dengan sikap Siwon. “Pulanglah! Aku memang sudah memafkanmu, tapi bukan berarti aku akan menerimamu kembali dalam hidupku!”

“Oppa?” Sooyoung mula menangis mendengar ungkapan Siwon.

“Bukan aku Sooyoung” Siwon menghadapkan dirinya kepada Sooyoung, menatapnya dalam.

“Sadarlah! Dialah yang benar-benar mencintaimu”

Nugu?

Siwon tersenyum lelah. “Kyuhyun. Cho Kyuhyun! Dialah yang benar-benar mencintaimu. Dialah yang selalu berada disismu. Bukan aku”

“Tapi oppa…”

“Tidak ada tapi-tapi! Sekarang temui dia dan minta maaf padanya, percayalah Sooyoungie! Itu hanya perasaan bersalahmu saja. Kamu juga mencintainya bukan?”

=

.

.

=

 

Ini sudah seminggu berlalu. Tapi Tiffany masih saja termenung dikamarnya. Kedatangannya seminggu yang lalu. Membawa tangis haru dari sang nenek yang merindukannya. Tiffany berulang kali meminta maaf, namun sang nenek mengatakak tak masalah. Karena menurut neneknya, ia pun bersalah karena tak bisa memahami perasaan cucunya tersebut.

Tiffany juga sudah menceritakan semuanya kepada neneknya, minus kejadian malam itu bersama Siwon. Jika Tiffany mengatakannya, matilah ia saat itu juga.

Cleck

Tiffany menoleh kearah pintu yang terbuka. Menandakan seseorang yang memasuki kamarnya. Siapa lagi kalau bukan nenek tercinta. Tiffany tersenyum memandang neneknya yang masih terlihat cantik, walau usianya bahkan sudah memasuki setengah abad.

“Halmonie? Ada apa?”

“Kamu tidak bersiap-siap?”

Tiffany mengerjap bingung, menatap penuh tanya kepada sang nenek. “Teman halmonie akan berkunjung kemari. Dia ingin mengenalkanmu kepada cucu lelakinya” ucapa sang nenek sambil membelai lembut rambut panjang Tiffany.

Tiffany merengut kesal. Sudah berapa kali Tiffany mengatakan ketidaktertarikannya atas perjodohan yang direncanakan neneknya bersama cucu dari temannya dimasa sekolah dulu. Memang ini jaman apa? Lagipula Tiffany masih belum bisa menerima laki-laki lain masuk kekehidupannya. Bukan karena masih mengingat Nickhun. Tapi karena…

Ting Tong Ting Tong

“Sepertinya ada tamu? Halmonie kedepan dulu, takutnya penting!” Tiffany mengangguk, menyetujui ucapan sang nenek. Kembali lagi kerutinitasnya selama seminggu terakhir ini.

Berdiam diri. Membayangkan kejadiaan-kejadian yang baru saja dialaminya akhir-akhir ini. dihembuskan napasnya dengan kasar.

“Miyoung-ah!”

“Ya?” Tiffany menghampiri neneknya yang menyuruhnya keluar dengan mengisyaratkannya dengan lambaian tangan.

Nugu?” bisik Tiffany, karena mendengar suara orang ngobrol diruang tamu.

Neneknya hanya tersenyum melihat kebingungan Tiffany. “Temui saja dulu!”

“Ini dia, Tiffany-nya!” Tiffany menoleh bingung kearah neneknya. Lalu menatap sepasang kakek dan nenek yang tersenyum gembira melihat kedatangan Tiffany.

Annyeonghaseyo” ujarnya ramah.

“Aigooo, cantik sekali! Pantas saja cucuku ingin melamarmu!” ucap sang nenek senang dibalas anggukan oleh laki-laki tua disebelahnya.

Mwo?

“Miyoung…” tegur sang nenek, agar Tiffany bisa lebih sopan lagi. Tiffany membukkan badannya, mengajukkan permohonan maaf atas kelancangannya.

Gwenchana! Wajar jika kamu terkejut. Hahahaha…” tawa nenek tersebut membuat bulu kuduk Tiffany meremang, membuatnya bergidik takut.

“Sudahlah, yeobo! Lihatlah caloncucu menantu kita, terlihat takut akan kehadiran kita.” Ucap kakek tersebut kalem. Membuat Tiffany tersenyum kikuk,.

“Ahh, benarkah? Maafkan halmonie Tiffanuy! Halmonie terlalu senang, samapi-sampai membuatmu takut!”

“Tidak.. tidak.. tidak apa-apa halmonie! Sungguh” ucap Tiffany serius.

“Sudah. Sudah! Tiffany sekarang kamu temui calon suamimu. Dia menunggu dibukit belakang rumah kita” suruh nenek.

Mwo? Calon suami?”

“Iya.. calon suami! Sudah jangan tanya lagi, jika ingin tahu. Segera datangi laki-laki itu”

“Benar yang dikatakan halmoniemu Tiffany! Sudah.. temui cucu kami sekarang. Dia sudah sangat merindukanmu”

Neneknya langsung mendorong Tiffany keluar rumah. Membuat Tiffany terus menggerutu sepanjang perjalanannya. Dilangkahkan kakinya menuju bukit yang dimaksud.

Hening. Kosong.

“Tidak ada siapa-siapa!” gumannya sendiri.

Dilihatnya keseluruh bagian bukit kecil tersebut. Namun nihil. Ia tak menemukan sesosok makhluk yang disebut manusia kecuali dirinya. Tiffany menggidikan bahunya, merasa tak ada siapa-siapa. Tiffany memutuskan kembali kerumah. Namun baru beberapa langkah, Tiffany langsung menghentikan langkahnya. Tetakala mendengar suara yang sangat dirindukannya. Suara yang selalu membuatnya marah dan kesal. Suara yang familiar.

Ditelusuri lagi semua tempat yang ada dibukit tersebut. Tiffany hampir saja menanngis karena tak berhasil menemukannya. Membuatnya berpikir. ‘Halusinasi lagikah kali ini?’

“Kamu mencariku?”

“Choi Siwon?” siwon tersenyum manis, saat melihat keterkejutan dari wajah yang begitu dirindukannya.

=

.

.

=

 

“Mi Suk-ah, apakah ada tanda-tanda yang ditunjukkan Tiffany?”

Hwang Mi Suk yang tak lain adalah nenek Tiffany, menghentikan pembicaraannya. Saat Choi Ah Ra –nenek Siwon- menanyakan hal aneh padanya.

“Maksudnya?”

“Aish! Masa kamu tidak paham maksudku?”

Nenek Tiffany menggeleng tak mengerti. Membuat Choi Ah Ra bersama suaminya mendesah kecewa.

“Yeobo, mungkinkah Tiffany belum menceritakannya kepada Mi Suk?” bisik  Choi Ah Ra.

“Mungkin saja!” balas sang suami ikut berbisik. Membuat nenek Tiffany menggeleng heran atas kelakuan kedua temannya tersebut.

‘Tidak berubah’

“Mi Suk-ah”

“Ya?”

“Apa Tiffany terlihat seperti orang hamil?”

“Apa? Hamil?”

=

.

.

=

 

Derap langkah yang teraturan terdengar begitu indah didengar melalui lorong sepi apartemen tersebut. Sesosok wanita berkacama hitam, terus melangkahkan kakinya melewati beberapa banyak kamar. Namun belum juga menemukan tempat yang ditujunya.

Senyum manis terus mengembang diwajahnya. Membuatnya terlihat cantik, walaupun tertutup oleh kacamata hitam.

890

Wanita itu berhenti, tepat diangka yang menunjukkan tempat yang ingin ditujunya. Dipencetnya bel apartemen secara tidak sabar. Membuat orang didalamnya berteriak kesal, karena ulahnya.

“Siapa sih?”

Annyeong Kyu-ah!”

Kyuhyun, laki-laki yang ditemui wanita tersebut. Terpaku ditempatnya. Tak percaya dengan sosok yang hadir didepannya, benar-benar menumuinya saat ini. wanita tersebut. Choi Sooyoung, tersenyum manis didepannya. Membuka kacamata hitam yang semula menutupi mata indahnya.

“So-soo..”

“Aku kembali, aku sadar hanya kamu yang bisa membuatku bahagia. Maaf kerena telah menyakitimu”

Kyuhyun tersenyum bahagia, lalu menghembuskan napas leganya. Yang terasa sulit satu minggu terakhir ini.

“Tidak ingin memelukku?” tawar Kyuhyun, sambil merentangkan tangannya. Membuka akses untuk Sooyoung bisa memeluknya.

“Dengan senang hati tuan Cho” Sooyoung menghambur kepelukan Kyuhyun yang begitu dirindukannya.

=

.

.

=

“Jadi kamu bilang aku hamil?” tanya Tiffany kaget, saat mendengar cerita Siwon.

Bagaimana tidak kaget? Siwon. Choi Siwon. Laki-laki bodoh dihadapannya tersebut berbicara yang tak masuk akal. Berani-beraninya dia bilang telah menghamili Tiffany, saat tahu bahwa Tiffany adalah cucu dari teman masa sekolahnya neneknya dan kakeknya Siwon.

Bukankah ini terlihat begitu ajaib? Bagaimana bisa, takdir membuat cerita yang aneh sepertii ini. Neneknya Tiffany ternyata merupakan sahabat karib nenek dan kakeknya Siwon semasa SMA. Saat itu Siwon yang merasa frustasi karena terus dihantui bayang-bayang Tiffany yang memenuhi apartemennya. Memutuskan untuk pulang. untuk sekedar merilekskan badannya yang begitu lelah.

Baru saja tiba, Siwon langsung dihujani pertanyaan oleh nenek dan kakeknya. Alasan yang membuatnya tiba-tiba datang ke Aomori saat itu. Namun Siwon tak menggubris pertanyaan-pertanyaan mereka. Direbahkan tubuh kekarnya diatas sofa putih rumahnya tersebut. Namun tak sengaja ia menemukan foto usang diatas meja. Dilihatnya foto tersebut, sesosok gadis kecil yang tersenyum senang. Melihat itu membuat Siwon ikut tersenyum.

‘Senyumnya sama seperti Tiffany’

Dibaliknya foto tersebut, tak selang brapa lama. Matanya terkejut membaca tulisan dibelakang foto tersebut.

Cucuku Hwang Miyoung.
Cantik bukan?
Dia cucu kesayanganku. Senyumnya sama seperti Hwang Tae Pyong. Suamiku.

 

Hwang Mi Suk

 

“Hwang Mi Young? Tiffany… Hwang?” Siwon berdiri otomatis saat diingatnya marga Tiffany. Dan senyum gadis itu yang begitu…

“Halmonie… Harabojie…” teriak Siwon memekan telinga siapapun yang mendengarnya.

“Ada apa Siwon? Kemana berteiak seperti itu?” tanya sang nenek lembut.

“Pertemukan aku dengannya! Aku harus menemuinya sekarang juga!” kakeknya menerima selembar foto yang diberikan Siwon.

“Maksudmu?, wanita yang ada didalm foto ini?”

Siwon mengangguk tegas. “Memangnya kamu mengenalnya?” setelah pertanyaan itu, Siwon menjelaskan semua yang terjadi. Termasuk kejadian malam itu. Dan setelah itu apa yang diterimanya? Pukulan mentah dari nenek dan kakeknya.

Tentu saja mereka memukuli Siwon. Mereka pasti kecewa karena Siwon berani-beraninya melakukan hal ‘itu’ sebelum menikah. Apalagi mereka tahu kalau gadis itu adalah cucu dari sahabat mereka. Setelah menghajar Siwon. Mereka bertiga berunding, membuat Siwon frustasi karena nenek dan kakeknya malah bertengkar, mempermasalahkan… bagaimana cara mereka mengatakan pada nenek Tiffany.

Akhirnya dengan terpaksa, Siwon mengatakan Tiffany sudah hamil. Dan berhasil. Nenek dan kakeknya langsung bergegas meluncur ke Busan. Tempat dimana Tiffany tinggal, berniat untuk bertanggung jawab. Walau lagi-lagi, Siwon harus menerima jeweran manis ditelinganya.

Tiffany mendengus kesal, mengingat kembali cerita Siwon. “Boghoshipo!” bisik Siwon tepat dibelakang kuping Tiffany.

Tiffany hanya membalas dengan senyum simpul. Membuat Suiwon bertanya-tanya. Apa wanita ini tak merindukannya?

Wae?

Ani…”

“Yak! Katakan padaku, ada apa?” desak Siwon. Tapi Tiffany menggeleng.

Melihat itu, dengan cepat Siwon mengelitiki perut Tiffany. Membuat Tiffany menjerit histeris. Diiringi tawa keduanya yang memancarkan kebahagian.

“Baiklah.. baikalah” ucap Tiffany menyerah.

“Apa?” Siwon memeluk kembali Tiffany dari belakang. Menghirup aroma tubuh yang begitu dirindukan Siwon. Ini seperti candu, wangi tubuh Tiffany bisa jadi peyemangatnya juga.

“Aku bahagia, penantianku terbayarkan. Aku menunggumu, dan akhirnya kamu datang. Terima kasih karena telah kembali.”

Siwon ternyum bahagia dibelakang Tiffany. Membuat Tiffany menoleh, tertawa ringan saat Siwon mengerlingkan matanya kepada Tiffany.

Nado…” Tiffany terdiam menantikan Siwon melanjutkan ucapannya.

“Aku bahagia karena bisa melihatmu kembali. Kamu tidak tahu, betapa frustasinya aku karena tak tahu keberadaanmu. Aku begitu takut, kamu menyukai laki-laki lain. Bagaimana nantinya jika aku tidak lagi mencium aroma tubuhmu? Kujamin! Aku akan mati saat itu juga.” Siwon tersenyum saat Tiffany memandang haru kearahnya. Siwon mengecup cepat kening Tiffany.

“Aku merindukanmu!” dikecupnya kedua mata Tiffany yang tertutup.

“Aku membutuhkanmu!” giliran kedua pipi mulus Tiffany yang tersentuh bibir lembut Siwon.

Saranghaeyo!” Tiffany tersenyum geli saat kini hidungnya yang menjadi sasarn kecupan Siwon.

“Aku menginginkanmu!” lama Siwon memandang Tiffany, setelah mengatakan ‘aku menginginkanmu’ dengan lembut Siwon melumat bibir manis Tiffany. Hanya sesaat. Tanpa nafsu, tertingal kasih sayang, cinta dan rindu yang sama besarnya dalam ciuman singkat itu.

Perlahan Siwon mendekatkan indera penciumannya keleher jenjang Tiffany. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Tiffany yang kuat pada bagian itu. Lalu perlahan, mendekat kearah kuping Tiffany.

“Aku…” Tiffany masih memejamkan matanya, menantikan kata-kata manis apa lagi yang akan dikeluarkan Siwon.

“Aku ingin anak darimu Hwang Miyoung!” mata Tiffany membulat sempurna mendengar suara lirih yang baru saja mengatakan kata ‘anak’ ditelinga Tiffany. Terlebih…

“Yak! Choi Siwon… beraninya kau memanggilku Hwang Miyoung!” Tiffany mengejar Siwon yang sudah lari menghindari amukan Tiffany. Yang tak suka jika dipanggil nama aslinya.

Menyenangkan! Itu lah yang dirasakan Siwon, setiap kali melihat amarah dan kekesalan Tiffany kepadanya. Ia tak menyukai saat Tiffany lesu apalagi menangis. Maka dari itu Siwon akan habis-habisan mengejek, mengusili atau bahkan membentak Tiffany.

Itu membuatnya senang, karena Tiffany akan terus meneriakan namanya berualang kali. Bukankah hal yang paling menyenangkan adalah… saat dimana orang yang kamu cintai terus memanggil namamu. Bukan orang lain.

Itulah yang diinginkan Siwon. Tiffany terus memanggil namanya.

=

.

=

 

“Bodohnya aku karena tak pernah menghargai setiap detik kenangan yang terjadi antara kita. Dan aku malah melepasmu begitu saja”

“Tapi itu hanya masa lalu! Saat ini, aku bersumpah akan selalu bahagia dan membahagiakanmu. Tersenyum bersama, tertawa dan bertengkar hanya denganmu. Mulai hari ini, tak akan kubiarkan bibirmu mengucapkan nama selain diriku. Menangis karena orang lain. Aku ingin semua tentang kita. Egoiskah? Sepertinya begitu. Tapi itu karena aku begitu mencintaimu. Kamu  membuatku jatuh cinta, karena aromamu membuatku candu, kekasihku! Tidak, kamu lebih dari kekasih, lebih dari istri. Kamu partnerku, kamu membuatku selalu memacu adrenaline otak dan otot ku dalam sekali hentak”

 

-Choi Siwon-

 

 

59 thoughts on “[Re-Post] FALLING IN LOVE WITH PARTNER

  1. suka karakter mereka dsni yg satu bawel2 manja, yg satu nyebelin tapi manly..so sweet and so cute kalo lagy berantem hehe..
    berhrap dapet sequel dr author

  2. Ceritanya keren~ bener bener kayak judulnya
    Falling In Love with Partner…
    Siwon oppa with Tiffany eonni
    Nickhun oppa with Victoria eonni
    Sooyoung eonni with Kyuhyun oppa
    But the best couple o/ partner Siwon oppa Tiffany eonni😍😍😍😍💑💑💑👫👫👫💏💏💋💋💓💓
    Awalnya kukira Siwon oppa ga bakal peduli sama Fany eonni… but expactation nya salah Siwon oppa malah peduli banget sama Fany eonni setelah “kejadian” itu!
    Akh… suka banget lah ceritanya
    Aku favorite dehh….
    Mau belajar buat fanfiction yang kayak gini👯💁

  3. Oooooh ternyata neneknya tif onni sama kakek nenek siwon oppa temen lama tohhhh,, ihhh siwon oppa jngan marah gtu geh sama tif onni.
    Tpi d endingnya so sweet bnget mreka gk bsa ngelak klau mrek saling suka………

  4. Udah lupa udah prnah baca ff ini atau nggak soalnya kemaren lagi baca ff lain trs udh selesai abis itu liat ff ini jdinya aku baca jiga deh haha ffnya seru sifany awalnya benci akhirnya jadi cinta haha

  5. Thanks to you han udh bikin crt yg keren bgt👍👍
    Pertmuan yg tdk sngaja tp bikin mrk slng mrhan yup mrk SiFany. n mrk ktm lg dlm situasi yg sm2 galau n bwt mrk bsm di mlm yg tdk mrk dg.
    Tnyt pertmun mrk berhub dgn org2 yg akn mrbh hati mrk. siwon yg dikhianati oleh soo n kyu bwt hatiny skit, bgt jg fany yg cr nikon d tsk lain suami spupu siwon. ao takdir permainkn mrk jwbnny Tidak. justru tnp mrk th tskdir ini perstukn mrk. bhkn kakek n nenek mrk shbt karib.
    selain itu skp mrk yg krn terbiasa justru th satu dm lain n bwt cinta dihati mrk tmbuh scr perlhn.
    yup akhirny Siwon bsm Tiffany, Nikhun n Vic, Soo kmbli kpd cinta pertamany.
    Akhir bhgia bwt keduany…

  6. Lihat sifany bertengkar disini ..jd ikut bhagia gwe…
    Terasa banget cinta manis mreka, biarpun dilalui dg kekerasan tp mreka berdua menemukan kebahgiaan…hahahaha….
    Itu sangat uniquee….buahahahaha….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s