[Re-Post] Still Love You

Still Love You

Title : Still Love You

Author : @janisone

Main cast :  Tiffany Hwang – Choi Si won

Lauren Hanna Lunde a.k.a Lauren Hanna Choi

Other cast : Jessica Jung – Lee Dong hae

Daniel Hyunoo Lachapelle a.k.a Daniel Lee

Length : Oneshoot

Genre : Romance, Family

Rating : 15+

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan.Cerita ini murni hasil kerja kerasku.

HAPPY READING!

Perhatian semua orang yang ada dalam ruang meeting itu hanya terpusat pada satu arah.Tentu pada seorang wanita cantik bernama Tiffany Hwang yang tengah melakukan presentasi untuk sebuah kerja sama yang akan mereka lakukan dalam waktu dekat.Bukan hanya cara dia menyampaikan atau pun isi dari presentasi itu saja yang membuat mereka tampak serius dan takjub.Ada semacam kekuatan yang membuat pandangan peserta rapat yang didominasi kaum pria itu hanya terpusat padanya.Tapi jelas, ini bukan kekuatan magic.

“Terima kasih atas waktu yang kalian sediakan.Kita akan lanjutkan pertemuan  ini pada kesempatan berikutnya dengan agenda penandatanganan kontrak.Terima kasih…”Tepuk tangan mengiringi langkah kaki jenjangnya meninggalkan podium.Usai bersalaman dan berpamitan dia segera meninggalkan ruangan tersebut.Ada seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya tengah menunggunya sekarang.

“Presdir Hwang…”

Wanita bermarga Hwang itu menoleh.Kalian menduga dia masih gadis? Salah, dia sudah memiliki seorang putri yang sangat cantik.Tapi sekarang statusnya sebagai single parent.Tak jarang para inverstor atau pun rekan kerjanya memiliki maksud lain selain hanya melakukan kerja sama dengan perusahaannya.

“Ne, sekretaris Han.Jadwalku untuk hari ini sudah selesai, bukan?…”

“Maafkan saya Presdir, Anda masih harus memenuhi undangan makan malam dari Tuan Kimura…”

“Kimura?…”

“Ne, investor dari Jepang yang menginvestasikan 100 juta US dollar untuk proyek ini….”jelas Sekretaris cantik itu.

Tiffany menghela nafas seraya melirik jam.Dengan terpaksa dia akan memenuhi undangan makan malam itu.Bukannya dia tidak memikirkan perasaan putrinya.Namun dia juga tidak boleh kehilangan kesempatan untuk mendapatkan inverstor kaya raya itu.

“Baiklah, tolong siapkan gaun untukku…”

***Sifany***

Seorang anak kecil tampak menunggu resah diruang tamu mewah rumahnya.Dia terus melirik jam dinding, bertanya-tanya kapan orang yang ditunggunya akan pulang.

“Nona kecil, malam sudah larut.Bagaimana kalau kita tidur sekarang…”ajak perempuan paruh baya yang akrab dipanggil Park Ahjumma mendekat.Namun anak itu tak mengindahkannya.Dia tidak akan tidur sebelum orang yang dia tunggu pulang.

Mata anak itu dan Park Ahjumma teralihkan kearah pintu masuk.Anak berusia lima tahun itu langsung berdiri dari duduknya.Menghampiri pria yang sangat rapi dengan setelan hitamnya.

“Kim Ahjussi, Oemma bersamamu?…”tanyanya menghampiri.

Pria berumur 50 tahunan itu memandangi rekan kerjanya, Park Ahjumma.Wanita itu hanya mengangkat bahu.Keduanya adalah pelayan dirumah ini.Keduanya jugalah yang selama ini menjaga nona kecil mereka dan menemaninya ke mana pun.

“Nona Lauren belum tidur? Bukankah ini sudah larut?….” Anak bernama Lauren itu tampak kecewa.Dari pertanyaan yang diajukan dia tahu kalau orang itu sama sekali tidak bersama Oemmanya.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang kelima.Tapi orang yang sangat disayanginya malah tidak punya waktu untuknya.Dia mengerti kalau Oemmanya harus bekerja keras karena orang tuanya sudah bercerai bahkan sebelum dia lahir.Tapi haruskah dia menjadi korban? Oemma yang selalu sibuk dengan pekerjaan dan Appa yang tidak pernah diketahui olehnya seperti apa?

Lauren kembali duduk disofa.Kali ini dengan muka sedih yang ditekuk.Kim Ahjussi mendekati Park Ahjumma yang ada didekat Lauren.

“Kau sudah menemui Nyonya, pelayan Kim?…”

“Hm, Nyonya masih menghadiri undangan makan malam bersama inverstor dari Jepang.Mungkin dia akan terlambat pulang…”Park Ahjumma mendesah.Posisi majikannya sebagai pemimpin perusahaan itu memang menyita banyak waktu hingga tidak bisa bersama dengan putri semata wayangnya yang masih sangat membutuhkan perhatian.

Wanita itu duduk disamping Lauren.Membelai rambut panjangnya dengan lembut.Dia harus melakukan sesuatu agar anak itu mau tidur hingga dia tidak harus begadang seperti ini.

“Bukankah Oemma tidak menyukai anak yang bandel?…”

“Oemma juga tidak suka anak yang tidak mendengarkan perkataan orang tua.Anak yang baik adalah anak yang penurut pada orang tuanya.Lauren tinggal pilih, ingin jadi anak baik dan disayangi banyak orang atau anak nakal yang dibenci…”anak itu mengangkat wajahnya.

“Baiklah, aku akan tidur…”Lauren merentangkan tangannya.Park Ahjumma tertawa, mengerti kalau anak ini ingin digendong.

***Sifany***

Lauren sudah berbaring diranjang berukuran king sizenya.Dari luas kamar, desain interior dan properti-properti mahal yang melengkapi isi kamar ini, bisa dipastikan kalau dia adalah anak orang kaya.Apa yang diinginkannya pasti bisa dia dapatkan.Tapi tidak untuk dua hal.Waktu bersama Oemma dan melihat sang Appa.

Dia sama sekali tidak tahu tentang Appanya.Jangankan untuk bertemu, seperti apa wajahnya saja dia tidak tahu.Dia bukannya tidak berusaha untuk bertanya pada Oemmanya.Tapi saat dia bertanya Oemmanya akan banyak beralasan, seperti sibuk atau pun lelah dan ingin cepat tidur.Bertanya pada dua pelayan setianya? Sama saja karena mereka bekerja untuk Oemmanya.

Malam makin larut, mata kecil nan indah itu perlahan menutup karena didera rasa kantuk  dan akhirnya dia tertidur dengan pulas.

***Sifany***

Siluet tubuh ramping terlihat masuk ke sebuah ruangan yang penerangannya tampak redup.Lampu utama ruangan ini memang sengaja dimatikan agar pemilik kamar bisa tertidur dengan nyenyak.

Wanita itu duduk ditepi ranjang.Membelai rambut dan mencium kening putrinya sekilas.Dia adalah Tiffany Hwang, seorang wanita karir yang sangat sukses dan selalu sibuk dengan jadwal dan aktivitas kantornya.

Tiffany tahu kalau pekerjaannya telah banyak menyita waktunya.Dia sebenarnya juga tidak bahagia dengan kehidupan seperti ini.Kehilangan waktu bersama sang putri sangat menyiksanya.Tapi apa boleh buat, dia juga tidak boleh hanya bersantai sementara Appa-nya menyerahkan perusahaan yang berpusat di Korea ini padanya.Sementara Appa-nya fokus pada perusahaan utama di Amerika.

“Maafkan Oemma sayang, Oemma mencintaimu.Saengil cukkhae…” Tiffany mengecup kening Lauren sekilas.Lalu meletakkan sebuah bingkisan sebagai hadiah disisi kanan Lauren.

“Selamat malam…”

Tiffany menutup pintu kamar Lauren.Dia segera menuju kamarnya untuk beristirahat agar besok bisa kembali segar.

***Sifany***

Lauren membuka matanya bersamaan dengan sinar matahari pagi yang menerpa wajah cantiknya.Dia menggeliat malas dan berbalik ke kanan untuk melanjutkan tidurnya.Namun dia kembali membuka matanya ketika tangannya menyentuh sesuatu.

“Hadiah?…”tanyanya senang.Dia tahu pasti hadiah ini dari siapa.Tanpa menunggu lagi Lauren meraih bingkisan itu dan membukanya.

“Wah, cantik sekali…”serunya senang saat mendapati satu set boneka barbie.Dengan cepat Lauren langsung bangkit dan berlari menuju kamar Oemma tercinta.

Senyum bahagia selalu menghiasi wajah innocentnya saat berlari menuju kamar sang Oemma.Namun senyum bahagia itu hilang ketika dia melihat wanita itu sudah sangat rapi dan cantik dengan pakaian kantornya.

“Oh, Lauren?…”ucap Tiffany yang baru menyadari kehadiran putrinya.Dia mendekati Lauren yang sudah duduk ditepi ranjang miliknya.

“Oemma akan ke kantor?…”tanyanya pelan.Tiffany menatapnya lembut seraya tersenyum.Dia sangat mengerti apa yang dirasakan Lauren saat ini.

“Mianhe, Oemma ada pertemuan dengan beberapa klien penting Oemma…”ucap Tiffany menyesal.

“Dihari libur sekalipun?…”

“Hm, mereka hanya bisa hadir hari ini karena besok mereka juga banyak pekerjaan…” Lauren mengangguk mengerti.Bukankah anak baik dan disayang orang tua adalah anak yang penurut dan tidak banyak menuntut?

Tiffany menggendong Lauren untuk membawanya turun.Anak itu hanya diam dipelukan hangat Oemmanya tanpa banyak bicara karena tidak mau kalau mereka sampai bertengkar.

“Semalam Oemma memberimu hadiah, kau menyukainya?…”Lauren hanya menjawab dengan anggukan kecil.

“Mobilnya sudah siap, Nyonya…”ucap sopir Tiffany memberi tahu.

“Ne, tunggu sebentar…”

Tiffany menatap Lauren yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.Didekapnya Lauren dengan hangat.Memberi kenyamanan meski sesaat.Seketika tangis itu pecah, membuat Tiffany hampir ikut menangis jika dia tidak menahannya.Dia tidak boleh terlihat lemah didepan anaknya sendiri.

“Ini hari ulang tahunku, tidakkah Oemma punya waktu? Sebentar saja Oemma, temani aku walau hanya untuk meniup lilin dan memotong kue…”kalimat itu akhirnya keluar dari mulut mungilnya.Tiffany mengadah menatap langit-langit ruang tengah, menahan agar air matanya tidak tumpah.

Tiffany menarik nafas.Dia memanggil Park Ahjumma dan memberikan Lauren pada wanita itu.

“Oemma harus berangkat.Jangan nakal dan merepotkan para pelayan, aratchi?…”

Tiffany meninggalkan rumah setelah mengecup bibir mungil putrinya singkat.Setelah Tiffany pergi, Lauren terus menangis dan tak mau diam membuat para pelayan  rumahnya kewalahan.

“Pelayan Kim, kau punya cara untuk menghentikan tangisnya?…”tanya Park Ahjumma meminta pendapat.Dia tidak bisa membiarkan gadis kecil itu hanya menangis sepanjang hari.Pelayan Kim tampak berpikir.

“Aku tahu…”ucapnya setelah beberapa saat kemudian.Dia segera mendekat ke sofa, dimana anak itu kini menangis sesenggukan.

“Nona kecil, kita sudah lama tidak bertemu Tuan Daniel.Bagaimana kalau kita ke rumahnya?…”usulan pelayan Kim membuat tangis Lauren berhenti.Anak itu mengangkat wajahnya untuk menatap pelayan itu.Daniel adalah teman dekat Lauren sekaligus kakak baginya.Mereka bisa berteman dengan akrab karena Tiffany dan kedua orang tua Daniel adalah sahabat baik.

“Aku mau bertemu Danny Oppa.Ahjumma aku mau mandi…”ucapnya yang masih sesenggukan.Dua pelayan itu dengan kompak mengangguk mengiyakan.

***Sifany***

Pelayan Kim memencet bel sebuah rumah mewah yang terletak dikawasan Cheongdamdong itu.Tak lama berselang, muncul seorang wanita cantik yang sudah rapi.Mungkin dia juga akan berpergian dihari libur ini.

“Anyeong, Sica Auntie…”Lauren menyapa wanita cantik bernama Jessica itu.

“Lauren? Aigo, ayo masuk….”Jessica mengambil alih Lauren dari gendongan pelayan Kim.

“Ayo Ahjussi, masuklah…”ajak Jessica.

“Aniyo Nyonya Lee, aku akan kembali nanti…”pelayan Kim pamit.Jessica tersenyum dan segera membawa Lauren masuk.

“Oemmamu hari ini ke kantor?…”Lauren menjawab pertanyaan Jessica dengan senyum kecil.

“Danny Oppa sudah bangun?…”

“Eoh, Danny Oppa sedang mandi.Dia baru selesai berolah raga…”

“Kau mau makan sesuatu, sayang?…”Jessica bertanya setelah mendudukkan Lauren di sofa.

“Aniyo Auntie, aku sudah sarapan…”

“Uhm, baiklah, akan Auntie siapkan cokelat panas untukmu…”Jessica meninggalkan ruang keluarga yang langsung terhubung dengan dapur itu.Dari arah lain muncul sosok pria mendekati Lauren.

“Aigo, siapa ini? Rumahku kedatangan peri yang sangat cantik…”

Dong hae, suami Jessica langsung menggendong Lauren.Lauren hanya tersenyum begitu pria itu menggendongnya.Kalau dipikir-pikir sudah berapa kali dia beralih dari satu gendongan ke gendongan lain pagi ini.

“Kau pasti merindukan Ahjussi, hm?…”

“Anni, dia merindukan Danny-ku, benarkan?…”Jessica yang datang dengan segelas cokelat hangatnya langsung ikut bergabung.Dong hae menurunkan Lauren kembali ke sofa agar anak itu bisa meminum minumannya.

“Ya, ya, baiklah.Aku kalah…”ucap Dong hae mengalah.Jessica tertawa pelan melihat tingkah suaminya itu.

“Auntie, ada apa dengan Ahjussi?…”tanya Lauren  melihat Dong hae yang tampak sebal sambil membaca koran.

“Oh? Dia hanya cemburu…”ucap Jessica seraya membersihkan sisa cokelat yang menempel dibibir kecil Lauren dengan tissue.Lauren tertawa tanpa suara mendengarnya.

“Pada Danny Oppa?…”tebak Lauren.Jessica mengangguk pelan.

“Jangan percaya dengan Auntie-mu sayang, Ahjussi tidak cemburu karena Ahjussilah yang paling tampan disini…”bela Dong hae yang sadar kalau dua perempuan itu menertawakannya.Keduanya kembali tersenyum jahil.

“Arrassoyo, Ahjussi…”

***Sifany***

Dong hae dan Jessica sudah pergi menghadiri undangan pesta dari kolega bisnis mereka.Dirumah kini hanya ada Lauren, Daniel dan dua pembantu rumah keluarga Lee.

“Adik Oppa tampak berbeda hari ini, wae?…”tanya Daniel menghampiri Lauren yang hanya duduk diam tanpa bicara.Biasanya anak itu selalu aktif bicara atau bermain bahkan dia tidak akan membiarkan Daniel mengacuhkannya.Dia akan selalu mencari cara agar Daniel selalu memperhatikannya.

Daniel menepuk dahinya.Pantas anak itu hanya mendiaminya.Dia melupakan sesuatu.

“Oh iya, bukankah ini hari ulang tahunmu? Aigo, Oppa lupa…”ucap Daniel menyesal, Lauren masih tak bergeming.

“Baiklah, Oppa mengerti kau marah karena Oppa melupakan hari ulang tahunmu.Kalau begitu sekarang katakan, Lauren mau hadiah apa, Oppa akan memberikannya…”ucap Daniel lagi, anak itu masih diam tanpa reaksi.Daniel pun meraih camera digitalnya.

“Bagaimana kalau kita mengambil selca? Dengan begitu kau akan melihat wajah Oppa yang tampan ini setiap hari…”Daniel mencoba menghibur.

`Cret`

“Aigo, siapa ini, jelek sekali…”canda Daniel melihat wajah Lauren yang cemberut di foto.Anak itu  masih diam.

Daniel menyerah, dia meletak kamera digitalnya lalu memandang wajah kecil itu.Perbedaan usia mereka sekitar 4 tahun, jadi Daniel bisa menjadi teman bicara bagi adik kecilnya ini.

“Oppa…”

“Ne!” Daniel merespon cepat ketika Lauren memanggilnya.

“Oppa mengenal orang bermarga Choi?…”

“Ne?…”tanya Daniel tak mengerti.

“Bukankah aku bermarga Choi? Itu pasti marga Appaku, aku ingin bertemu dengannya Oppa…”ucapnya sedih.

Sebenarnya Tiffany memberi nama Lauren dengan marga keluarganya sendiri, Hwang.Tapi saat grandpa-nya berkunjung ke Korea atau Tiffany mengajaknya berlibur ke LA, grandpa-nya selalu memanggilnya dengan nama Lauren Choi.Ya, walau setelah itu dia akan mendengar Oemma dan grandpa-nya beradu mulut soal marga itu.

Daniel mencoba menenangkan Lauren dengan menggenggam tangannya.

“Mian, Oppa tidak tahu tapi Oppa bisa mencari tahu melalui Appa atau Oemma…”

“Jangan Oppa, Ahjussi dan Sica Auntie tidak boleh tahu kalau aku ingin bertemu Appa.Kalau mereka tahu, Oemma pasti akan tahu…”ucapnya.

Daniel tampak berpikir.Apa yang harus dilakukan untuk membantu Lauren?

“Kau pernah melihat foto Appamu?…”

“Aniyo, Oemma tidak pernah memberikannya padaku.Dia bilang tidak punya…”

“Kau bisa mencari dikamarnya atau ditempat yang mungkin tidak pernah kau sentuh…”

“Dikamarnya tidak ada, aku sudah pernah mencarinya.Ditempat yang tidak pernah ku sentuh?…”

“Seperti loteng atau gudang…”

***Sifany***

Pelayan Kim keluar membawa payung dan membukakan pintu mobil.Keluarlah Tiffany yang masih tetap cantik meski telah lelah seharian bekerja.

“Aish, aneh sekali, kenapa bisa turun hujan…”ucap Tiffany setelah masuk ke rumahnya.Park Ahjumma membantu Tiffany melepas blazer birunya dan mengambil tasnya.

“Lauren sudah tidur?..”

“Ne, Nyonya.Kami sudah memeriksanya dan dia sudah tidur…”

“Baiklah, aku akan mandi…”Tiffany meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.

Sementara ditempat lain, tepatnya disebuah bangunan tua dan berantakan tampak seorang anak kecil sedang mencari sesuatu.Dirumah ini gudang memang letaknya terpisah dari rumah dengan jarak sekitar 40 meter dari kolom renang.Berbekal dengan sebuah senter ditangan, anak itu terus mencari-cari benda yang diinginkannya.

Push

“KYAA!”

Lauren menjerit kaget saat seekor tikus keluar dari laci yang baru dibukanya.Ditambah suara hujan dan petir yang membuatnya cukup ketakutan berada ditempat mengerikan ini sendirian.Ingin dia keluar dari kempat ini dan kembali ke kamarnya.Tapi dia segera menepis keinginannya itu demi bertemu sang Appa.Siapa tahu ditempat ini dia bisa menemukan sesuatu.Dia memutuskan untuk memeriksa gudang terlebih dahulu karena tidak mungkin baginya menuju loteng.

Setelah cukup susah payah mencari, akhirnya Lauren bisa bernapas lega.Ditangannya kini ada sebuah album foto dan kertas kecil yang sepertinya kartu nama seseorang.

Lauren meraih sebuah buku besar dan tua lalu mendudukinya.Dengan cepat dibukanya album foto itu.

“Wah…”

Lauren tampak sangat kagum dengan gambar yang sedang dilihatnya.Difoto tersebut tampak seorang wanita dengan gaun pengantin yang cantik dan seorang pria dengan tuxedo hitam yang rapi.Karena wanita difoto itu sangat mirip dengan Oemmnya, bisa dipastikan kalau pria itu adalah Appanya.

“Wah, ini Appaku? Tampan sekali, seperti Danny Oppa…”ucapnya tersenyum senang.

Lauren terus melihat halaman demi halaman album foto itu.Dia tidak berhenti tersenyum dan menatap kagum kedua orang tuanya.Kalau dilihat dari foto-foto ini mereka tampak sangat serasi.Tapi apa yang membuat mereka memutuskan untuk berpisah?

Lauren menoleh ke arah kaca jendela.Tampak olehnya lampu dikamar Oemmanya sudah menyala.Itu artinya Oemmanya telah pulang dan dia harus segera keluar dari tempat ini sebelum ketahuan.

Lauren mengambil sebuah foto pernikahan dan sebuah kartu nama yang bertuliskan nama Choi Si won.Dengan cepat dia meraih payungnya dan segera keluar dari gudang itu.

JGERR

Lauren menutup matanya saat suara petir kembali terdengar.Dia berlari sekencang-kencangnya agar lebih cepat sampai dirumah.Begitu tiba dipintu belakang, Lauren belum mau masuk.Dia harus memastikan keadaan aman baru memutuskan untuk masuk.

Dengan langkah yang sangat hati-hati, Lauren berjalan menuju kamarnya.Namun karena kamarnya berada dilantai atas, itu menyulitkannya untuk sampai lebih cepat.

“Ehem…”suara deheman seseorang membuat kaki kanan Lauren yang akan melangkah terhenti diudara.Dia tahu pasti siapa orang yang kini ada dibelakangnya.

Lauren berbalik dan tersenyum memperlihatkan wajah innocentnya.Mencoba seperti tidak terjadi apa-apa walau kini wanita dihadapannya sedang menatapnya dengan tajam.

Tiffany memang berada didapur ketika mendengar suara pintu belakang terbuka.Awalnya dia mengira ada pencuri yang masuk ke rumahnya.Saat dia mengamatinya, dia lebih kaget dari pada melihat segerombolan perampok sekalipun.Bagaimana mungkin putri kecilnya keluar malam-malam seperti ini sementara diluar sana hujan turun dengan lebatnya disertai petir dan kilat.

“Hehe, Oemma sudah pulang? Oemma tidak tidur? Inikan sudah larut….”ucapnya tertawa garing.Tiffany makin menatapnya lekat.

“Bukankah pertanyaan kedua seharusnya Oemma yang bertanya?….”ucap Tiffany mendekat.

Lauren menunduk.Meski dia yakin Oemmanya tidak akan memakannya tapi dia tetap takut kalau sampai ketahuan jika tujuannya keluar untuk mencari foto dan kartu nama Appanya.

“Kau dari mana? Dan untuk apa keluar saat hujan lebat seperti ini.Bukannya kau harus tidur?…”

“Aku hanya ingin bermain hujan, Oemma…”ucapnya berbohong.

“Malam-malam seperti ini?…”Tiffany menatap putrinya lekat.Dia tahu pasti kalau anak itu sedang berbohong.

“Ahjumma…”Park Ahjumma datang mendekat.Dan betapa terkejutnya dia saat melihat jejak anak kecil dilantai dan Lauren yang berdiri tertunduk didepan Tiffany.

“Nona kecil? Ada apa denganmu?…”tanya Park Ahjumma khawatir.

“Ambil payung, boot dan coat-nya…”perintah Tiffany.Park Ahjumma melakukannya dengan cepat.Lauren sangat berharap agar wanita itu tidak memeriksa saku coatnya.Dia tidak mau kalau Oemmanya mengetahui ada foto dan kartu mana seseorang didalam sana.

Ahjumma pergi kearah belakang membawa semua atribut yang tadi dikenakan Lauren.Dan sekarang tinggallah Lauran dengan baju dalamnya yang tipis.

Tiffany mengulurkan tangan kanannya, Lauren menatap sang Oemma sebelum menerima uluran tangan hangat itu dengan senyum cerah.

Setibanya dikamar Tiffany, Lauren langsung dipasangkan piyama oleh Tiffany.Malam ini mereka akan tidur bersama dengan piyama yang sama.Usai memasang piyama Lauren, Tiffany langsung rebahan.Keduanya berbaring dengan posisi saling berpelukan.

“Ada sesuatu yang kau tutupi dari Oemma?…”tanya Tiffany menatap manik mata indah milik putrinya.

“Anni…”jawab Lauren singkat.Tiffany menghela nafas lalu memeluk Lauren hangat.Dia bukannya percaya tapi berusaha untuk percaya.Mungkin Lauren belum siap untuk berbicara dan terbuka dengannya.

***Sifany***

Seorang CEO sebuah perusahaan yang tengah berkembang pesat itu tampak sibuk dengan laptop yang ada dihadapannya.Badan tegap, wajah tampan, tajir dan berpendidikan tinggi.Semua itu padanya dan inilah yang membuat banyak wanita tertarik pada namja bernama Choi Si won itu dan berusaha untuk mendapatkan hatinya.Tapi pintu hatinya seolah-olah sudah tertutup rapat karena telah dimiliki seseorang yang kini bahkan dia tidak tahu bagaimana kabarnya.

“Tok Tok…”

Suara ketukan pintu membuat namja itu menoleh.Tak lama tampak olehnya Jong in, asisten pribadinya masuk dan memberi hormat.

“Ada apa?…”tanya namja itu yang sudah kembali pada  komputernya.

“Itu, maaf Presdir, tapi aku juga tidak yakin dengan apa yang dibicarakannya…”ucap Jong in bingung.

“Memangnya ada apa?…”

“Begini, diluar ada seorang anak kecil.Dia bilang dia ingin masuk untuk menemui Appanya…”

“Lalu?…”tanya Si won, masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan asistennya ini.

“Apa Appanya bekerja disini?…”tanya Si won karena asistennya itu hanya menggaruk kepalanya seperti orang bingung.

“Anak itu bilang….anak itu….”

“Jong in! Sejak kapan kau mengecewakanku seperti ini…”kesal Si won.

“Ini karena aku terlalu shock Presdir.Anak itu…anak itu bilang, dia…dia…putrimu…”

Si won mendongak.

“Mwo?”tanya Si won pelan.Anaknya? Kapan dia punya anak?

“Aku akan menyuruhnya masuk…”Jong in langsung keluar tanpa memperdulikan Si won yang memanggilnya.

Si won memijat pelipisnya.Ada apa sebenarnya.Kenapa ada seorang anak kecil yang datang menemuinya dan mengaku sebagai anaknya.Apakah dia menjalin hubungan terlarang dengan seorang wanita? Setahunya tidak, dia tidak akan melakukan perbuatan hina itu.

Si won menoleh ke arah pintu saat mendengar seseorang melangkah masuk ke ruangannya.Matanya memandang lekat gadis kecil yang sedang berjalan mendekatinya.

“Anyeong haseyo, Appa…”

Anak itu membungkuk sopan dan tersenyum manis.Dia mendongak untuk menatap pria yang amat sangat tinggi dihadapannya.Dia tersenyum bahagia, tidak sia-sia dia menunggu waktu seminggu untuk bertemu Appanya karena hari-hari lainnya dia harus kesekolah.Akhirnya dia bisa bertemu dengan Appanya dihari sabtu ini.Sementara namja yang dipandangnya itu hanya terdiam bingung.

“Appa tidak memelukku?…”tanyanya menyadarkan Si won dari lamunannya.

`Memelukmu? Bagaimana mungkin?` batin Si won.

“Siapa namamu?…”pertanyaan itu membuat Lauren menyerngit.

“Appa tidak tahu namaku?…”tanyanya balik.Si won menghela nafas berat.Bagaimana mungkin dia tahu kalau mereka baru bertemu sekarang.

“Baiklah.Perkenalkan, namaku Lauren Hanna Choi.Putri dari Choi Si won Appa dan Tiffany Oemma…”

JGERR!

Si won bagai disambar petir saat anak itu menyebut nama Tiffany.Tubuhnya terasa lemas dan terjatuh di sofa.

“Appa, gwenchana?…”tanya Lauren khawatir.Tubuhnya yang kecil memudahkannya untuk berada tepat dipangkuan Si won.

“Appa, apa yang terjadi?…”tanya Lauren cemas.

Si won hanya diam menatap mata anak itu tanpa berkedip.Ya, mata itu sangat indah dan mengingatkannya pada seseorang.Mata itu sangat mirip dengan mata indah Tiffany.Benarkah ini putrinya? Tapi kenapa Tiffany tidak pernah mengatakan apapun tentang anak mereka sebelum mereka berpisah 5 tahun lalu.

***Sifany***

Si won terus memandang anak kecil yang kini sedang asyik bermain diruangannya.Dia sekarang bisa tenang karena anak itu sudah asyik bermain dengan mainan yang baru dibelikan Jong in.Sejak tadi anak itu terus bertanya dan mengoceh membuat Si won pusing.

`Kenapa Appa tidak pernah pulang?`

`Kenapa Appa dan Oemma berpisah?`

`Kenapa Appa tidak pernah mengunjungiku?`

`Appa tidak merindukanku dan Oemma?`

Itu adalah beberapa pertanyaan yang diajukanya pada Si won.Tapi tentu dia tidak menjawabnya satu pun karena dia masih shock dengan kedatangan anak ini yang secara tiba-tiba.

“Appa, aku lapar…”ucap Lauren setelah puas bermain dengan bonekanya.Si won pun tersentak kaget karena Lauren tiba-tiba sudah ada dihadapannya.

“Baiklah…”ucap Si won meraih IPhonenya untuk delivery order.Tapi Lauren dengan cepat  merebut benda itu dari tangan Si won.

“Kita makan diluar saja Appa, kitakan belum pernah pergi bersama.Kajja…”ajaknya langsung menarik tangan Si won tanpa menunggu persetujuannya  terlebih dahulu.

***Sifany***

Si won dan Lauren tiba disebuah restoran Italy.Restoran ini dipilih sendiri oleh anak itu.Dari selera makannya Si won mungkin sedikit yakin kalau ini adalah putrinya.Tiffany sendiri berdarah Korea-Amerika.Dia tumbuh dan besar di Diamond Bar, California.Jadi dia lebih menyukai makanan barat dari pada makanan Korea.Namun ini saja tidak cukup untuk membuktikan kalau anak ini adalah darah dagingnya.Apakah dia harus bertanya pada Tiffany? Rasanya itu tidak mungkin.Dihari terakhir mereka bertemu 5 tahun lalu, wanita itu sudah melarang Si won untuk menemuinya.Bahkan dilarang menyapanya saat mereka bertemu.

“Appa tidak ikut makan?…”Si won tersadar dari lamunannya.

“Aniyo, kau saja…”

Lauren tersenyum dan kembali melanjutkan makan siangnya.Sejak mereka duduk disini, Si won terus memperhatikan wajah Lauren.Mata indahnya, hidung, pipi berisi, rambut panjang, tubuh tinggi dan otak cerdasnya adalah kombinasi yang sangat sempurna dari Tiffany dan dirinya.Tapi benarkah Lauren putrinya? Argh, Si won makin pusing.

Saat asyik menikmati makanannya mata Lauren menangkap sesosok orang yang tampak sibuk dengan telfonnya diluar restoran.Orang itu terlihat panik dan berteriak-teriak dengan lawan bicaranya ditelfon.Lauren dengan cepat bersembunyi di bawah meja saat orang itu menghadap ke arahnya.Namun dia beruntung karena sepertinya orang itu tidak mengetahui keberadaannya.

“Ada apa?…”tanya Si won.Karena anak itu tak kunjung menjawab Si won pun berbalik.Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati siapa orang yang ada diluar sana.

“Pelayan Kim?….”

Tanpa menunggu lagi Si won langsung keluar dari restoran untuk menemui pria tua itu.Dia tidak boleh menyia-yiakan kesempatan ini.Dia harus bertanya tentang semuanya.Termasuk kebohongan Tiffany tentang Lauren.

“Pelayan Kim…”

Orang yang sibuk dengan handphonenya itu berbalik.Sama seperti Si won tadi, pelayan Kim tampak terkejut melihat Si won seperti melihat makhluk halus.

“Tu..tu…an Choi?…”ucapnya tak percaya.Sudah lama sekali dia tidak melihat namja ini.Ya, tentu sejak lima tahun lalu.

“Hormat saya, Tuan Choi…”Pelayan Kim membungkuk memberi hormat.

“Kenapa kau bisa ada disini.Sepertinya kau sedang mencari sesuatu?…”tanya Si won menatap pelayan Kim.Pria itu tampak ragu untuk bersuara.

“Katakan saja, pelayan Kim…”ucap Si won menatapnya tajam.Pelayan itu tampak ketakutan karena Si won seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.

“Aku, aku mencari Nona kecil kami.Tadi kami sedang ada ditaman bermain.Dia bilang ingin ke toilet tapi kami kehilangan jejaknya…”

“Maksudmu Lauren?…”pertanyaan Si won membuat pria itu kembali memasang wajah terkejutnya.

“Ba…bagaimana Tuan tahu?…”

Si won tertawa singkat.Dia benar-benar tidak percaya ini.Jadi semua ini benar? Jadi selama ini Tiffany membohonginya?!

***Sifany***

“Maafkan saya Tuan.Mohon maafkan saya karena tidak mengatakannya pada Tuan tentang Nona kecil Lauren…”

Pelayan Kim berlutut dihadapan Si won.Dia telah mengatakan semuanya pada Si won karena pria itu terus mendesaknya.

“Jadi saat kami berpisah Tiffany sedang mengandung anak kami?…”tanya Si won lagi.

“Ne, Tuan.Nyonya sebenarnya ingin menyampaikan kabar bahagia itu pada Tuan dihari terakhir kalian bertemu.Tapi Nyonya lebih dulu melihat Tuan dan wanita itu berpelukan diruangan Tuan.Nyonya sangat marah dan menganggap Tuan telah menghianatinya.Karena itu Nyonya melarang kami untuk bicara tentang kehamilannya dan memilih berpisah…”

Si won menghela nafas berat.Kenapa semuanya harus seperti ini.Itu semua hanya kesalahpahaman tapi Tiffany sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya.

Si won memandang Lauren yang sedang tertidur lelap disofa ruang kerjanya.Mereka memang kembali ke sini setelah makan siang tadi.

“Maafkan Appa sayang, maafkan Appa karena sama sekali tidak menyadari keberadaanmu.Appa memang bodoh, lebih bodoh karena memenuhi keinginan Oemmamu untuk meninggalkannya…”Si won menggenggamnya tangan Lauren dengan erat.

“Sudah sore Tuan, kami harus pulang agar Nyonya tidak khawatir…”

“Tidak bisakah aku bersamanya?…”pinta Si won lirih.

“Maafkan kami Tuan.Mungkin Tuan harus menemui Nyonya terlebih dahulu…”

Si won memandangi kepergian Lauren dan pelayan Kim dari ruangannya.Rasanya dia belum mau melepas Lauren karena dia masih merindukan anak itu.Tapi apa boleh buat, dia harus bersabar hingga saat itu tiba.

***Sifany***

Pagi yang cerah.Matahari pagi bersinar dengan terang memasuki celah-celah yang bisa dimasukinya termasuk ventilasi serta jendela kamar Lauren.Anak itu bangun dari tidurnya.Mandi dengan bersih dan berpakain dengan rapi yang dibantu oleh Park Ahjumma tentunya.

Ada alasan kenapa dia sangat bahagia hari ini.Selain karena memang pagi ini langit sangat cerah, dia juga bahagia karena mengingat pertemuannya dengan sang Appa kemarin.Dia senang karena Appanya sangat baik padanya meski awalnya terasa canggung.

“Anak Oemma bahagia sekali hari ini, wae?…”tanya Tiffany melihat Lauren yang terus tersenyum menikmati sarapannya.

“Aku hanya sedang senang saja…”jawab Lauren manis.

“Wae? Karena hadiah dari Danny Oppa?….”tanya Tiffany menggoda.Lauren meletakkan rotinya.

“Danny Oppa mengirimkan hadiah? Dimana Oemma?…”tanyanya senang.

Tiffany mengangguk manis memamerkan eye-smile cantiknya seraya menunjuk ruangan yang bersebelahan dengan ruang keluarga, ruangan tempat bermain Lauren.

Lauren segera berlari menuju tempat yang baru ditunjuk Oemmanya.Tiffany hanya menggeleng dan mengikuti anak itu.

“Wah, banyak sekali…”seru Lauren kegirangan.

“Oemma, Danny Oppa memberiku banyak boneka…”ucap Lauren menunjukkan boneka kecil dikedua tangannya.Tiffany tertawa, bahagia melihat Lauren yang asyik bermain dengan boneka-bonekanya.

“Tapi ada yang aneh dengan kartunya…”ucap Tiffany mengeluarkan selembar kartu dari saku hotpants-nya.

“Selamat ulang tahun adik Oppa yang cantik.Maaf Oppa baru memberimu hadiah sekarang.Oh ya, kau sudah menemukannya?…”

Tiffany membaca kartu itu dan menatap sang putri saat membaca kalimat terakhir.

“Menemukan apa? Kau sedang mencari sesuatu?…”tanya Tiffany.Lauren hanya tersenyum tak jelas.

“Danny Oppa hanya bertanya, apa aku sudah menemukan hadiahnya?…”jawab Lauren menjelaskan.

“Jjinja? Tapi sepertinya bukan itu…”ucap Tiffany tak yakin dengan jawaban Lauren.

“Hanya itu Oemma.Oh iya, aku sepertinya ingin ke kamar mandi, anyeong Oemma, mmuach…”

Lauren mengecup bibir Tiffany singkat lalu berlari meninggalkan Tiffany dan Pelayan Kim yang baru masuk ke ruangan itu.

“Tidakkah akhir-akhir ini sikapnya sangat aneh?….”tanya Tifany pada pelayan Kim.Pria itu hanya membungkuk.

“Mungkin Nona kecil terlalu bahagia menerima hadiah dari Tuan Daniel…”jawab pelayan Kim lalu membungkuk untuk pamit meningalkan Tiffany yang makin tampak bingung.

“Kau juga tampak aneh, pelayan Kim…”ucap Tiffany pelan.

***Sifany***

Si won tampak resah diruang kerjanya.Pikirannya terus tertuju pada Lauren, Lauren dan Lauren.Sejak pertemuan mereka minggu lalu Si won tidak pernah lagi bertemu dengan putrinya.Dia sudah mencoba untuk menghubungi pelayan Kim tapi orang itu sama sekali tidak bisa dihubungi.

Tiba-tiba sebuah nama terlintas dipikiran Si won.Tiffany.Bukankah wanita itu harusnya tahu semua tentang Lauren?

Si won meraih jas dan kunci mobilnya.Dia berniat untuk menemui perempuan itu dan meminta kejelasan atas semua yang terjadi.

***Sifany***

Suasana kantor Tiffany yang awalnya tenang tiba-tiba berubah begitu Si won menginjakkan kakinya di loby.Semua mata menatapnya tak percaya.Apa yang terjadi hingga seorang Choi Si won datang kekantor ini? Apalagi ini adalah kedatangan pertamanya sejak lima tahun lalu.

Meski tatapan dan bisikan para karyawan terlihat dan terdengar jelas olehnya namun Si won sama sekali tidak peduli.Dia terus melangkah, memasuki lift hingga tiba dipintu  ruangan Tiffany.

Si won mendekati sebuah meja dimana sekretaris Tiffany berada.Sama seperti yang lain wanita itu juga terlihat shock melihat keberadaan Si won di kantor ini.

“Tuan Choi?…”ucapnya masih dalam keterkejutannya.

“Tiffany di dalam?…”tanya Si won dingin.Wanita itu hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Tanpa menunggu lagi Si won langsung membuka pintu ruangan itu.Dia tahu kalau sikapnya ini kurang sopan.Tapi dia tidak bisa tenang karena amat merindukan putrinya.

Si won menutup pintu ruangan itu dengan pelan.Matanya menangkap sesosok wanita cantik nan anggun yang asyik mencari sesuatu dilemari tempat dia menyimpan file-file kantornya.Meski sekarang wanita itu dalam posisi membelakanginya tapi Si won tahu pasti kalau wanita itu masih sangat cantik seperti dulu.Apalagi dengan pakaian kantornya yang mewah dan pas ditubuh indahnya.Sungguh Si won sangat merindukannya.

Tiffany bukannya tidak mendengar ada seseorang yang masuk keruangannya.Namun dia terlalu sibuk mencari berkas yang harus dipelajarinya untuk presentasi dengan klien dari Jepang besok.

Wanita itu tersenyum saat dia berhasil menemukan benda yang dicarinya sejak tadi di rak paling bawah.

“Aish, kau membuatku repot.Harusnya kau bicara jika disini…”gerutu Tiffany sebal karena waktunya banyak tersita hanya untuk mencari berkas itu.

Tiffany kembali ke meja kerjanya.Tubuhnya tiba-tiba membeku.Tak mampu bergerak apalagi bicara.Dia amat sangat shock saat melihat siapa orang yang ada dihadapannya sekarang.Choi Si won?

“K…kau?…”tanya Tiffany tak percaya.Berkas yang ada ditangannya seketika jatuh.Choi Si won? Untuk apa pria itu datang kesini.Bukankan dia sudah melarangnya?

Si won menatap wanita dihadapannya sendu.Entahlah, dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.Meski dia marah dan kecewa pada Tiffany karena menyembunyikan keberadaan anaknya tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.Dia sangat merindukan wanita ini.

Selama 5 tahun belakangan dia sudah berusaha untuk melupakannya namun yang terjadi malah sebaliknya.Walau bagaimana pun Tiffany adalah wanita yang pernah dicintainya bahkan sampai detik ini.Dia sama sekali tidak sanggup melakukan permintaan Tiffany ketika mereka berpisah dulu.

`Jangan pernah menemuiku lagi dan anggap kita tidak saling mengenal!`

Ucapan Tiffany 5 tahun lalu kembali berputar dikepala Si won.Dia begitu terluka saat Tiffany mengucapkan kalimat tersebut.

Tiffany berdehem.Mencoba bersikap setenang mungkin seperti biasa.Ini dikantor dan dia harus menjaga sikap didepan semua karyawannya.Anggap pria didepannya sekarang adalah orang  lain bukan orang yang pernah dicintainya dan menikahinya.Atau… haruskah dia mencari alasan untuk menghindar?

“Se…selamat datang Si won-ssi, ka…kau menemuiku untuk urusan pekerjaan bukan? Duduklah, aku…aku akan mengambil minuman untukmu…”

Tiffany berhasil mengucapkan kalimat itu meski terbata.Dia melangkah menuju pintu namun terhenti ketika tangannya diraih oleh namja itu.

“Jangan mencoba menghindariku.Memangnya sejak kapan seorang Nyonya Tiffany yang terhormat mengambil minum untuk tamunya?…”

Si won berkata dengan pelan dan terkesan menahan amarah.Tiffany dengan cepat menangkis tangannya hingga genggaman Si won terlepas.

“Kau dilarang untuk menemuiku apalagi menyentuhku!”ucap Tiffany tegas, Si won menatap mata wanita itu tajam.

“Katakan, apa alasanmu untuk melarangku menemuimu?…”

Pertanyaan Si won membuat Tiffany menelan ludah.Dia tidak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya karena itulah yang selama ini dia sembunyikan.

“Jawab aku Tiffany!”teriak Si won karena wanita itu hanya terdiam seperti orang bisu.Tiffany yang tadinya menunduk, mendongak saat namja itu meninggikan volume suaranya.

“Tentu saja karena kita sudah berpisah, jadi untuk apa bertemu lagi…”ucap Tiffany memalingkan wajahnya.

“Bohong!”

“Aku tidak bohong.Aku tidak mau melihatmu lagi karena kau sudah terlalu menyakitiku…”ucap Tiffany setengah berteriak.

Si won mendekat, memperkecil jarak antara keduanya.

“Aku datang untuk bertanya tentang anakku…”

Tiffany merasa lemas dan mati rasa saat Si won mengatakan `anakku`.Tidak mungkin, Si won tidak mungkin tahu tentang Lauren bukan? Dia sudah membatasi gerak anak itu.Lauren tidak akan keluar dari rumah selain ke sekolah atau ke rumah  sahabatnya, Jessica.

“Anakmu? Jadi kau punya anak? Aku tidak pernah tahu.Siapa Oemmanya?…”

Tiffany yang bertanya dengan nada senang yang dibuat-buat membuat Si won muak.Di raihnya pundak wanita itu dan mencengkramnya kuat.

“Kau pikir aku akan menanamkan benihku pada wanita lain selain dirimu? Huh? Harusnya kau tahu kalau itu tidak mungkin!”

Tiffany tercengang mendengarnya, benarkah Si won yang sebenarnya seperti ini.Tapi apa yang dilihatnya 5 tahun lalu?

“Katakan, siapa anak bernama Lauren yang ada dirumahmu?…”

Nafas Tiffany tercekat.Jadi Si won tahu tentang Lauren? Sejak kapan?

“Mwo? Jadi kau menyuruh orang-orangmu untuk memeriksa keadaan rumahku? Lancang sekali kau Choi Si won.Aish, lepaskan!”Tiffany melepas tangan Si won dari pundaknya.

“Kau tahu betapa sakitnya aku? Aku seperti Appa yang bodoh saat anak itu datang dan memanggilku Appa.Aku tidak tahu namanya bahkan tidak pernah menyadari kehadirannya di dunia ini!”

“Kau memang tidak perlu tahu tentangnya karena dia bukan anakmu!”ucap Tiffany dengan penuh penekanan.Si won tersenyum sinis.

“Jadi menurutmu kau adalah wanita murahan yang memberikan dirimu pada pria mana saja lalu hamil dan melahirkan anaknya, begitu?!”

PLAK!

Si won menggerakkan mulutnya.Rahangnya terasa sangat sakit efek dari tamparan keras Tiffany.

“Kau tidak berhak menghinaku serendah itu Choi Si won!”ucap Tiffany hampir menangis.Hatinya sangat sakit ketika Si won dengan mudahnya mengecapnya sebagai wanita murahan.

“Dan ku peringatkan, jangan pernah menemui putriku karena aku sama sekali tidak sudi!”

“Dari dulu kau selalu seperti ini.Mudah marah, egois, keras kepala dan selalu menganggap dirimu yang paling benar.Kau juga tidak bisa diajak bicara baik-baik.Kita lanjutkan ini dipengadilan.Dan jangan harap kau akan mendapatkan hak asuh Lauren karena telah menyembunyikannya selama ini dariku…”

Si won meninggalkan ruangan itu.Tiffany terduduk lemah disofa.Kalimat terakhir dari Si won benar-benar membuatnya takut tak berdaya.Tidak bisa, dia tidak akan menyerahkan Lauren pada siapapun.Dari dulu Lauren adalah miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya.

***Sifany***

Atmosfir ruang tamu mewah ini tampak sangat berbeda.Ketegangan jelas terlihat dari wajah para pelayan setia Tiffany.Semuanya menunduk merasa bersalah, termasuk Lauren yang ada dirangkulan Park Ahjumma.Tak mampu menatap dua bola mata yang dari tadi memandangi mereka secara bergantian.

“Huft…”

Tiffany membuang nafas untuk melampiaskan kekesalannya.Dia tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya dari pelayan Kim.Lauren menemui Si won seorang diri dan palayan Kim menceritakan semuanya pada pria itu.Jadi ini arti dari sikap aneh anak itu beberapa hari terakhir?

“Aku sangat kecewa.Kalian merusak kepercayaan yang kuberikan selama 5 tahun ini…”

“Maafkan kami Nyonya…”ucap pelayan Kim untuk kesekian kalinya.Tiffany tak mau membahas masalah ini lagi.Dia sudah terlalu kesal untuk membicarakan Choi Si won.

Tiffany beralih menatap Lauren yang terlihat sibuk memainkan jarinya karena takut.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?…”tanya Tiffany menatap lekat Lauren yang duduk jauh disofa yang berseberangan dengannya.

Lauren mengangkat wajahnya untuk menatap sang Oemma.Dia tahu dia salah karena berbohong.Tapi dia melakukannya hanya untuk bertemu Appanya.Apa ia salah? Ya, salah karena tanpa izin sang Oemma.

“Mianhe Oemma.Aku melakukannya karena aku merindukan Appa.Oemma tidak pernah mau bercerita apapun tentang Appa padaku makanya aku memutuskan untuk menemui Appa sendiri…”Lauren kembali menunduk dan kali ini terisak.

“Oemma tidak tahu betapa sedihnya aku saat melihat teman-temanku membicarakan Appa mereka.Aku iri Oemma, aku sering menangis saat mereka mengejekku karena aku tidak punya Appa…”

“Oemma tidak pernah bilang kalau kau tidak punya Appa!”

“Tapi aku tidak pernah tahu seperti apa wajahnya dan…”

“Cukup!”

“Nyonya…”

Pelayan Kim dan Park Ahjumma serempak menenangkan Tiffany.Mereka tidak tega melihat Lauren yang sudah menangis hebat.

“Ahjumma, bawa Lauren ke kamarnya…”perintah Tiffany.Park Ahjumma mengangguk dan menuntun Lauren untuk turun dari sofa.

“Oemma…”panggil Lauren lirih.Dia ingin sekali menangis dipelukan hangat Oemmanya.Dia ingin Oemmanya memeluknya sekarang.

“Masuklah, kau harus tidur karena besok harus sekolah…”

Lauren melangkah lesu menuju kamarnya dilantai dua.Semua pelayan pun pamit memohon diri.

Tiffany menarik nafas panjang.Kenapa semuanya harus menjadi serumit ini.Dia tahu sikapnya yang menyembunyikan keberadaan Lauren lama-kelamaan juga akan diketahui oleh Si won.Tapi tidak seperti ini akhir yang diinginkannya.Dan sayangnya dia gagal meyakinkan Si won kalau Lauren bukan darah daging dari namja itu.Tapi Si won masih belum bertindak.Setidaknya ia masih bisa mencari cara agar Lauren akan tetap bersamanya.

***Sifany***

Tiffany membelai rambut panjang putrinya dengan lembut.Dia minta maaf jika anaknya begitu menginginkan sosok Appa sementara dia begitu egois menyembunyikan identitas Si won.Dia juga minta maaf jika anaknya sering menangis karena diejek oleh teman-temannya karena tidak memiliki Appa.Lagi-lagi karena keegoisannya.

Mata Lauren terbuka saat setetes air hangat jatuh dipipinya.Dia langsung duduk dari posisinya saat mendapati Oemmanya sedang menangis dihadapannya.

“Oemma, waeyo? Oemma menangis?…”tanya Lauren cemas.Tiffany menggeleng dengan air mata yang terus mengalir.

“Oemma, gwenchana?…”tanya Lauren lagi.Tiffany tak menjawab.Dia menarik Lauren ke dalam dekapannya dan menangis hebat dipundak anaknya.

“Maaf, maaf jika Oemma membuatmu begitu sakit dan kesepian.Maafkan Oemma karena kau diejek oleh teman-temanmu.Oemma begitu egois hingga membuatmu menderita seperti ini.Kau pantas membenci Oemma, Oemma pantas kau benci…”

Tiffany terisak.Dia tidak bisa berusaha untuk tetap kuat karena pada kenyataannya dia adalah wanita yang lemah.Image yang selama ini ditampilkannya pada anaknya pun runtuh karena pada dasarnya dia adalah wanita yang sangat lemah dan rapuh.

“Oemma, aku ngantuk…”

Tiffany tersenyum lalu melepas pelukannya.Dia mengangguk mengerti dan segera mengambil posisi disamping Lauren.

“Tidurlah, Oemma akan menemanimu…”

***Sifany***

Tiffany merapikan seragam sekolah Lauren.Dia juga merapikan rambut putri kecilnya yang sedang tersenyum sangat manis.

“Nanti Oemma akan menjemputmu.Ingat, jangan percaya pada siapapun yang ingin membawamu pergi kecuali Oemma atau pelayan Kim…”

Lauren mengangguk paham dengan pesan Oemmanya.Dia sangat senang karena hari ini Oemmanya yang mengatarnya ke sekolah.Bahkan nanti Oemmanya juga akan menjemputnya.Biasanya dia selalu pergi dan pulang bersama Pelayan Kim.

“Oemma tidak ke kantor hari ini?…”

“Anni.Oemma akan ke supermarket dengan Jessica Auntie…”Lauren kembali mengangguk tanda mengerti.

“Sebentar lagi bel, masuklah…”

Tiffany mengecup bibir dan kening Lauren.Lauren balik mengecup bibir Tiffany sebelum berlari masuk ke sekolahnya.

Tiffany tertawa melihat tingkah menggemaskan putrinya itu.Setelah memastikan Lauren masuk, dia segera masuk ke mobilnya menuju salah satu supermarket terbesar di Seoul ini.

Sementara disisi kanan jalan, dua orang pria dengan pakaian serba hitam yang dari tadi mengawasi keduanya pun tersenyum puas melihat kepergian Tiffany.

***Sifany***

Dua orang wanita cantik tampak mendorong troli mereka yang sudah hampir terisi penuh.Namun seolah tak peduli keduanya tetap memasukkan berbagai makanan yang mereka inginkan ke tempat tersebut.

“Jadi Si won Oppa menemuimu?…”tanya Jessica menghentikan langkahnya.

“Hm, dan dia bicara seolah-olah akan merebut Lauren dariku.Ck, dia pikir aku akan membiarkan itu terjadi…”ucap Tiffany sambil meraih kotak susu yang biasa dikonsumsi putrinya.

“Kau yakin akan mampu menahannya?…”tanya Jessica tak percaya.Tiffany menatap sahabatnya itu.

“Kau tidak percaya padaku?…”Jessica tampak menghela nafas.

“Biasanya iya, tapi untuk kali ini tidak.Aku bisa bayangkan bagaimana marahnya Si won Oppa saat mengetahui semua ini.Kau berbohong tentang darah dagingnya…”

“Aku melakukannya karena kesalahannya…”

“Sudah berapa kali Si won Oppa menjelaskannya.Itu hanya salah paham, kau saja yang terlalu cemburu setiap melihatnya dengan wanita lain…”

“Mereka berpelukan didepan mataku, Sica-ya…”bela Tiffany.

“Bisa jadi itu hanya pelukan biasa.Atau wanita itu yang lebih aktif untuk memeluknya.Kau terlalu dini menyimpulkan Si won Oppa berselingkuh dan memutuskan untuk bercerai.Lihat akhirnya, kau membesarkan anakmu sendiri dan anakmu tumbuh tanpa kasih sayang seorang Appa…”

Tiffany terdiam mendengar ucapan Jessica.Diakuinya kalau yang dikatakan sahabatnya itu memang benar.Dia memang terlalu dini mengatakan Si won berselingkuh dan meminta berpisah.Padahal bisa dibilang itu hanya masalah sepele.Tapi semua sudah terjadi untuk apa disesali.Toh, selama ini dia dan Lauren hidup baik-baik saja.Walau hati kecilnya merasa ada yang kurang.

“Kau sudah selesai?…”suara Jessica menyadarkan Tiffany.Dengan cepat wanita itu mengangguk dan mengikuti sahabatnya yang tersenyum sendiri itu menuju kasir.

Usai membayar, keduanya langsung menuju tempat parkir untuk mengambil mobil Tiffany.

“Kau mau ku antar, Sica-ya…”tawar Tiffany.

“Tidak usah, Dong hae Oppa menjemputku…”

“Anyeong…”seorang pria tampan mendekati dua wanita cantik itu.Dengan senyum lebar pria itu langsung membuka tangannya dan memeluk Tiffany dengan erat sampai-sampai Tiffany memukul pundaknya karena kesal.

“Oppa, kau  mau setelah ini Jessica membunuhku?…”tanya Tiffany kesal.Dong hae dan Jessica tertawa mendengarnya.

“Kau marah, Sica-ya?…”tanya Dong hae pada istrinya.

“Tentu saja, kalau kau melakukanya lagi aku minta berpisah darimu…”jawab Jessica pura-pura marah.Sesaat pasangan suami-istri itu tertawa sampai mendapati Tiffany yang sedang menatap mereka penuh amarah.

“Oh, mianhe.Kami hanya sedang memparodikan sebuah adegan…”ucap Jessica menghentikan tawanya.

“Dan dengan mudahnya kalian memparodikan adegan itu didepanku!”kesal Tiffany.Dong hae tersenyum dan merangkul ke dua wanita cantik itu.

“Sudahlah, kita bisa menjadi keluarga yang bahagia…”ucap Dong hae mengerling nakal.Serempak Jessica dan Tiffany memukul lengannya.

“Aku tidak sudi dimadu!”ucap Jessica pergi.

“Aku tidak sudi menjadi yang kedua!”ucap Tiffany masuk ke mobilnya.

Sementara Dong hae hanya tertawa melihat kekesalan dua wanita itu.Dia tampak begitu bahagia membuat dua wanita itu kesal.

“Lee Dong hae!”

Dong hae menghentikan tawanya saat teriakan dolphin milik Jessica menggema ditempat parkir.Dengan cepat Dong hae menuju mobilnya sebelum istrinya itu kembali berteriak untuk minta dibukakan pintu mobil.

***Sifany***

Tiffany bersandar dimobilnya menunggu Lauren keluar dari gerbang sekolah.Dia sudah menunggu sekitar setengah jam namun matanya belum bisa menangkap sosok Lauren diantara anak-anak yang berlalu lalang yang masing-masing sudah dijemput orang tua atau sopir mereka.Tiffany melirik jam tangannya, sepertinya dia harus masuk.

“Tiffany?….”

Tiffany menoleh saat seseorang memanggilnya.Orang itu adalah Guru Tae yeon, guru kelas anaknya.

“Oh, Taeyeon-ah…”sapa Tiffany mendekat.Tae yeon adalah salah satu teman baiknya di Korea selain Jessica tentunya.

“Bagaimana kabarmu?…”tanya Tiffany.

“Baik, seperti yang kau lihat….”jawab Taeyeon.

“Kau tidak bertanya tentang kabarku?…”tanya Tiffany pura-pura cemberut.Taeyeon tersenyum seraya memukul pelan bahu sahabatnya itu.

“Memangnya apa lagi yang kau lakukan selain sibuk dengan pekerjaan.Kau tahu berapa kali Lauren mengadukan tentang hal ini padaku?…”

“Aku melakukan semua ini hanya untuknya, Taeng…”ucap Tiffany menyebutkan nama akrab sahabatnya itu.

“Oh, ya, ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini?….”Tiffany menyerngit mendapat pertanyaan itu.

“Tentu saja menjemput Lauren…”

“Lauren? Bukankah Lauren sudah pulang sejak tadi?…”

“Ne?…”kaget Tiffany.

“Dia dijemput pelayan Kim?…”

“Aniyo, Lauren juga tidak mengenal orang  itu tapi orang itu bilang mereka disuruh oleh Si won Oppa untuk menjemputnya…”

Tiffany tersentak begitu mendengar nama itu.Choi Si won?

“Mwo? Kenapa kau mengizinkannya, Taeng-ah.Kenapa kau membiarkan orang-orang itu membawa putriku…”pekik Tiffany.Taeyeon menggaruk tengkuknya merasa bersalah.

“Mian, kulihat Lauren sangat senang begitu mendengar nama Si won Oppa, ku pikir kalian sudah baikan dan…Fany-ah!”

Taeyeon mengejar Tiffany yang sudah masuk ke mobilnya.

“Fany-ah…”

“Mianhe Taeng-ah, aku harus pergi…”

Tiffany segera menginjak pedal gasnya dan menjauh dari gedung Taman Kanak-kanak elit itu beserta Tae yeon tentunya.

“Huh…semoga semua akan baik-baik saja….”ucap wanita cantik itu sebelum masuk ke mobilnya.

***Sifany***

BRAK!

Tiffany masuk ke ruang kerja Si won dengan paksa dan menghampiri pria itu dimeja kerjanya.Dari raut wajahnya jelas sekali kalau dia sedang  marah dan kesal.

“Tiffany?…”ucap Si won kaget menyadari wanita itu adalah Tiffany.Untuk apa wanita itu datang menemuinya dengan kondisi seperti ini.

“Katakan, dimana putriku?…”

“Apa maksudmu?…”heran Si won.

“Aku tanya dimana Lauren?!”

“Apa maksudmu bertanya tentang Lauren padaku sementara dia tinggal bersamamu…”

“Jangan pura-pura bodoh.Kau menyuruh orang-orangmu untuk menjemputnya di sekolah bukan? Sekarang katakan.Kau menyembunyikannya dimana?!”teriak Tiffany histeris sambil memukul Si won.Si won terpaksa mengunci kedua tangan itu agar dia tidak mendapat pukulan lagi.

“Aku tidak menyuruh siapapun untuk menjemput Lauren.Jika aku mau aku bisa menjemputnya sendiri…”

Mata Tiffany berkaca-kaca.Tubuhnya melemah dan akan jatuh ke lantai jika Si won tidak menyambutnya.Kalau Lauren tidak disini, dimana dia?

“Jebal, Si won-ssi, katakan dimana putriku.Kau tahu aku tidak bisa hidup tanpanya? Aku membesarkannya seorang diri.Jangan membuatku tersiksa seperti ini…”

Tiffany menangis dipelukan Si won.Dia tidak menolak saat namja itu memeluknya dengan hangat.Sekarang otak dan pikirannya sedang kacau jadi dia butuh ketenangan.

“Tenanglah, Lauren akan baik-baik saja…”bisik Si won ditelinga Tiffany.Dia mempererat pelukannya dan wanita itu sama sekali tidak menolaknya.

KRING!!!

Keduanya memandang ke arah telfon yang terdapat di meja kerja Si won.Tiffany yang sadar akan posisinya sekarang pun dengan cepat menjauh dari dada bidang nan hangat itu.

“Yeoboseyo…”

“Tuan Choi Si won? Senang bicara denganmu, hahaha…”

“Siapa kau?…”tanya Si won merasa asing dengan suara orang yang menelfonnya.Terdengar tawa diseberang sana.Tiffany yang sudah mendekat pada Si won pun dapat mendengar tawa itu.Dia teringat putrinya, adakah hubungan orang misterius ini dengan Lauren?

“Kau tidak perlu tahu siapa aku Tuan Choi.Kau hanya perlu menyediakan uang 10 juta won agar anak bernama Lauren Choi ini bisa kembali ke rumahnya…”

Si won mengepalkan tangannya menahan amarah.Jadi sekarang anaknya sedang di sandera?

Tiffany membekap mulutnya.Air matanya lagi-lagi jatuh membayangkan Lauren yang sedang disekap disana.

“Kau bersedia Tuan?…”

“Keparat! Sepuluh kali lipat pun aku tidak peduli! Tapi ingat, kau akan menyesal jika berani menyentuh putriku!”ucap Si won marah.

Tiffany menatap Si won tak percaya.Apakah Si won akan melakukannya? Tapi setidak Tiffany senang karena Si won sangat menyayangi Lauren.

“Penawaran yang bagus.Kami tunggu pukul 21.00 disebuah banguan tua perbatasan Seoul dan Gangnam.Terlambat satu detik transaksi gagal dan kami akan menaikkan harga…”

Tut Tut!

Telfon terputus.Si won meletakkannya dengan kasar.Dia tidak akan meaafkan penculik itu jika sampai terjadi sesuatu pada putrinya.Diliriknya jam tangan, tinggal satu setengah jam lagi.Dengan cepat, Si won menuju mejanya.Mengambil koper yang sepertinya berisi uang.

Si won memasang jasnya dan meraih kunci mobil.Langkahnya terhenti saat sebuah tangan menyentuh tangannya.

“Aku ikut….”ucap Tiffany.

“Tidak bisa, ini berbahaya…”

“Tapi aku Oemmanya, aku berhak tahu seperti apa kondisinya sekarang…”

“Tiffany…”

“Jebal…” Tiffany memohon.Si won akhirnya menyerah saat wanita itu menitikkan air matanya.Keduanya pun keluar dari ruangan itu menuju tempat yang telah ditentukan penculik tadi.

***Sifany***

Mobil Si won masuk ke sebuah kawasan perkampungan yang sangat sepi.Ditempat ini hanya ada beberapa rumah itu pun sepertinya tak perpenghuni karena tidak ada penerangan baik dijalan atau pun dirumah-rumah tersebut.

Tiffany lagi-lagi menangis.Tidak sanggup membayangkan bagaimana kondisi putrinya sekarang.Sekarang sudah malam, sudahkah anaknya makan siang atau makan malam? Mandi dan berganti pakaian?

Si won yang terus menyetir sesekali melihat ke arah Tiffany.Melihatnya yang terus menangis seperti ini membuat Si won tidak tega.Sejenak keinginannya untuk mengambil hak asuh Lauren pun pudar.Dia tidak akan mengambil Lauren karena tahu kondisi Tiffany akan lebih parah dari ini.

Mobil Si won berhenti disebuah bangunan tua yang tampak tak terurus.

“Kau yakin ini tempatnya?…”tanya Tiffany.

“Sepertinya, hanya bangunan ini yang memiliki penerangan.Letaknya juga cukup jauh dari rumah-rumah sebelumnya…”

Si won mengambil kopernya dikursi belakang lalu keluar.Tiffany juga ikut keluar menyusul Si won.

“Kenapa keluar, kau dimobil saja…”suruh Si won.

“Tidak mau, aku mengkhawatirkan putriku…”

“Kau tidak bisa keluar dengan kondisi seperti ini.Kau pucat dan suhu sangat dingin, kau bisa sakit…”

“Aku akan lebih sakit jika terjadi sesuatu pada putriku…”Si won menghela nafas.Dia menyerah.

“Dasar keras kepala…”guman Si won.

Tiffany melangkah dan menggamit lengan kanan Si won.Selain karena dia merasa takut karena tempat ini sangat menyeramkan, dia juga kedinginan karena hanya mengenakan baju tipis.

“Bukankah aku dilarang menyentuhmu?….”tanya Si won, Tiffany memalingkan wajahnya.

“Memang, tapi sekarang aku yang menyentuhmu jadi tidak masalah…”

Si won tertawa singkat sebelum melanjutkan langkah mereka menuju bangunan tua tersebut.

KREKK

Si won membuka pintu tua itu dan timbul decitan yang sangat keras.Aneh sekali, kenapa tidak ada penjaga dan tempat ini terlihat sepi.

“KYAA!”

Tiffany menjerit histeris saat kakinya mengijak seekor tikus.Dengan reflek dia memeluk tubuh Si won dan bersembunyi di dada bidang pria itu.

“Fany-ah…”

“Jebal, jauhkan makhluk itu dariku…”mohon Tiffany sambil  menangis.

Si won tersenyum, dari dulu Tiffany memang membenci hewan itu.Bahkan saking takutnya wanita itu kini memeluknya dengan sangat erat.

“Bukankah kau bisa melakukannya?…”

“Ne?…”tanya Tiffany bingung.

“Tinggal naikkan kaki kirimu ke atas maka tikus itu akan pergi…”Tiffany merutuki dirinya.Kenapa dia bisa sebodoh ini.

Tiffany mengangkat kakinya dan menghela nafas lega saat tikus itu lari terbirit-birit menghindarinya.Tentu saja jika dia tidak ingin mati mengenaskan jika hak sepatu stiletto yang seperti jarum itu menusuk tubuh kecilnya.

“Kau kenapa?…”tanya Tiffany melihat Si won yang terus tersenyum.

“Kau memelukku, kau sudah merasa tenang?…”goda Si won.

Tiffany yang tersadar pun dengan segera melepas pelukannya.Malu, kesal dan marah, itulah yang dirasakannya saat ini.

“Kau masih bisa bercanda seperti ini disaat nyawa putrimu sedang terancam?…”Si won tersenyum senang.Pengakuan itu yang ditunggunya.

“Jadi sekarang kau mengakui kalau dia darah dagingku?…”

Tiffany menutup mulutnya.Kenapa dia bisa kelepasan bicara seperti ini.Aish! Ada apa dengan dirinya?

“Kajja…”

Si won menarik Tiffany untuk masuk.Wanita itu menurut meski dengan wajah kesal.

***Sifany***

Park Ahjumma terus menyuruh Tiffany untuk makan karena sejak semalam dia belum mengisi perutnya dengan apapun.Kondisi Tiffany pun makin lemah.Dia hanya menangis setiap waktu.Penculik itu, dia tidak akan memaafkan penculik itu karena telah mengingkari janji.Mereka bilang jangan terlambat tapi mereka sendiri bahkan tidak datang ke tempat itu.Mengulur-ulur waktu agar mendapatkan uang yang lebih banyak.

Tiffany yang terbaring seketika terduduk dari posisinya ketika melihat Si won masuk ke kamarnya.Dia sangat berharap mendapatkan kabar baik dari namja itu.

“Si won-ssi, kau sudah bicara pada mereka? Huh? Kapan mereka akan menyerahkan Lauren padaku….”

Si won duduk ditepi ranjang Tiffany.Wanita itu memegang tangannya.

“Jebal, aku tidak ingin mendengar kabar buruk darimu.Kau sudah menemui mereka? Atau mereka sudah menghubungimu? Cepat Si won-ssi, jawab aku…”ucap Tiffany dalam tangisnya.

“Tenanglah, Lauren akan baik-baik saja…”ucap Si won tenang.Tiffany melepaskan tangannya.Jadi Si won tidak membawa  kabar baik untuknya.Tiffany terisak, membayangkan bagaimana kondisi anaknya sekarang.

“Tiffany sudah makan?…”

“Belum Tuan…”

“Berikan padaku…”

Park Ahjumma menyerahkan mangkuk berisi bubur itu pada Si won lalu pamit untuk memberikan waktu berdua bagi Tiffany dan Si won.

“Kau harus makan Fany-ah, kalau tidak kau akan sakit…”

Si won mengangkat sendoknya untuk menyuapi Tiffany.Wanita itu memalingkan wajahnya.Bahunya bergetar.Si won tahu kalau wanita itu sedang menangis.

“Kita pasti akan menemukan Lauren.Orang-orangku sudah mulai mencarinya, kita tunggu kabar dari mereka saja.Aku janji akan membawa Lauren kembali untukmu.Tapi sekarang kau harus makan, kau hanya akan memperparah keadaan jika kau sampai sakit…”

“Kau tahu? Tenggorokanku tidak mampu menelan apapun karena terlalu mengkhawatirkannya.Aku tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.Ne, aku tahu aku bukan Oemma yang baik untuknya.Aku sering menghabiskan waktuku untuk bekerja.Aku tidak pernah bercerita apapun tentang Appanya.Aku tidak memberikan ruang baginya untuk bergaul dengan teman-temannya karena takut kau akan mengetahui keberadaannya.Aku tidak mau kau mengambilnya dariku.Kau tahu betapa hancurnya hidupku setalah kau meninggalkanku?…”

Tiffany tertawa miris.

“Bukan kau yang meninggalkanku tapi aku yang memintanya.Aku terlalu sakit saat melihatmu dekat dengan teman-teman wanitamu.Aku membencimu dan tidak akan membiarkan putriku untuk tahu siapa Appanya.Aku tahu aku begitu egois dan menyakiti banyak orang.Tapi aku melakukannya karena tidak ingin kehilangannya.Tapi sekarang…sekelompok orang telah mengambilnya dariku…”

Tiffany menangis hebat.Si won hanya mampu menenangkannya dengan memeluknya tanpa mau menyela ucapannya.Mungkin Tiffany akan merasa lebih baik jika dia sudah mengeluarkan semua isi hatinya.

“Tidurlah, semoga besok kau menjadi lebih baik…”

***Sifany***

Si won keluar dari sebuah apotek setelah membeli obat untuk Tiffany.Saat akan membuka pintu mobil matanya menangkap seorang pria yang tengah menggendong gadis kecil yang sangat dikenalnya menuju sebuah mobil.Tanpa menunggu lagi Si won langsung mengejar orang tersebut untuk menemuinya.

***Sifany***

Tiffany mondar-mandir resah diteras rumahnya.Angin malam yang dingin menusuk tulang sama sekali tidak dia hiraukan.Yang dia inginkan hanyalah kedatangan Si won dan kabar baik tentang putrinya.

Tiffany mengejar mobil yang baru terparkir didepan rumahnya.Lebih tepatnya menghampiri pria berjas rapi yang baru keluar dari lamborgini merah itu.

“Bagaimana, kau bertemu dengan mereka? Atau mereka menghubungimu?…”

Si won memperhatikan Tiffany dengan seksama.Tampilannya kusut dan wajahnya tampak pucat.Anehnya hal itu tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun.

Si won melepas jasnya dan meletakkannya dibahu Tiffany.

“Gaun tidurmu tipis, kau tidak merasa kedinginan?…”

Inilah yang paling dibenci Tiffany.Selalu saja tidak menjawab pertanyaanya.Apa pria itu tidak mengerti seperti apa perasaannya sekarang? Seorang ibu yang kehilangan anaknya.Separuh dari jiwanya!

“Sebaiknya kita masuk, kau bisa tambah sakit jika terus disini…”

Tiffany menangkis kasar  tangan Si won yang baru menggenggam tangannya.

“Tidak bisakah kau menjawab pertanyaanku dulu? Apa sudahnya menjawab iya atau tidak!”

“Tiffany…”

“Kau bilang kau Ayahnya tapi kenapa kau seolah tidak peduli padanya.Bukankah orang-orangmu banyak? Kenapa mencari sekelompok orang yang menculik putrimu saja mereka tidak becus?!”

“Tiffany kau sedang sakit, sebaiknya kau masuk…”

Tiffany kali ini benar-benar marah.Si won menyeretnya bagai pelaku kejahatan.Tidak hanya sampai disitu, Si won juga mendorongnya dengan kasar ke atas ranjang.

“Choi Si won!”

“Berhenti memanggilku seperti itu!”Si won balas berteriak.Dia tampak menarik nafas berkali-kali.Menenangkan dirinya agar tidak terpancing emosi.

“Aku sudah bertemu dengan mereka…”Spontan Tiffany berdiri.Didekatinya Si won yang tengah berdiri menghadap balkon.

“Jjeongmalyo?….”tanya Tiffany.Dia tersenyum diiringi air mata yang membasahi pipi mulusnya.

Tiffany menangis kencang saking bahagianya.Akhirnya dia akan bertemu lagi dengan putrinya yang sudah seminggu ini tak bersamanya.Si won membiarkan Tiffany menangis dalam dekapan hangatnya.Entah kenapa wajahnya tampak menyesal karena telah membuat Tiffany menderita seperti ini.

***Sifany***

Suapan demi suapan masuk ke mulut Tiffany tanpa halangan.Sang pemilik mulut mungil dan bibir tipis itu sama sekali tidak menolak apapun yang dimasukkan Si won ke mulutnya.Wajahnya jauh lebih berseri-seri sehingga memancarkan kecantikannya yang sempurna.

Si won memandangi setiap lekuk wajah Tiffany.Mulai dari kening, mata, hidung, bibir hingga dagu.Sungguh Si won sangat merindukannya.

Tiffany yang merasa diperhatikan pun merasa tak nyaman.

“Waeyo?…”tanya Tiffany memberanikan dirinya menatap wajah Si won yang hanya sekitar 30 cm dari wajahnya.

“Aku merindukanmu…”

DEG

Jantung Tiffany berdegup kencang.Darahnya mengalir sangat cepat dan tubuhnya menegang.Apa yang baru diucapkan pria itu seperti aliran listrik yang menyengat tubuhnya.

“Aku masih memiliki rasa seperti 5 tahun lalu Fany-ah, bahkan sampai aku mati…”

Tiffany diam saja saat Si won mulai meraih tangannya.Sangat hangat.

“Aku minta maaf jika membiarkan kita hidup seperti ini selama 5 tahun terakhir.Kau tahu apa hal yang paling bodoh yang pernahku lakukan seumur hidupku?…”Tiffany hanya diam tanpa mau menjawab meski dengan anggukan atau gelengan.

“Mengabulkan permintaanmu untuk berpisah dariku…”Tiffany tercengang.Benarkah Si won juga berat dengan perpisahan mereka?

“Ya, itu adalah hal paling bodoh yang pernah ku lakukan.Aku membenci diriku sendiri karena mengiyakannya.Itu karena aku terlalu shock dan kesal mendengarmu yang ingin berpisah dariku…”

“Soal pelukan dan wanita itu, itu hanya sebuah kesalahpahaman.Kau tahu bagaimana para wanita sangat menggilaiku?…”

“Cih…”Tiffany mencibir kesal mendengarnya.Si won tersenyum lembut.

“Aku mencintamu Tiffany.Maukah kau kembali bersamaku?….”

Tiffany sontak menatap mata Si won.Melihat kalau namja itu benar-benar serius dan tidak sedang membuat lelucon.Tiffany sebenarnya juga masih mencinta pria ini.Bohong jika jawabannya tidak.Tapi dengan keadaan yang sekarang…

“Mianhe…”Jawaban singkat dari Tiffany membuat Si won tersenyum perih.Hatinya bagai disayat-sayat benda tajam.Sakit dan sangat menyakitkan.

“Aku masih belum bisa untuk bersamamu.Ku harap kau mengerti, mian…”

Si won mencoba mengerti dengan kondisi Tiffany yang sekarang dan tidak banyak menuntut.

“Aku bisa mengerti.Besok kita akan menemui penculik itu dan menjemput Lauren.Tidurlah…”

Si won  merebahkan Tiffany dan menyelimuti tubuh itu agar hangat.Si won baru akan beranjak pergi tapi sesuatu menahan tangannya.

“Kau ikut bersamaku menjemput Lauren, bukan?….”Si won mengangguk.

“Sekarang tidurlah, kalau keadaanmu besok tidak membaik aku tidak akan mengajakmu…”

Tiffany mengangguk semangat dan mulai memejamkan mata indahnya.Si won tersenyum, ingat bagaimana dulu Tiffany sering bermanja-manja dengannya.

***Sifany***

Sudah sejak dua jam lalu Tiffany bersiap.Mulai dari mandi, berpakaian rapi, sarapan, minum obat, semuanya telah ia lakukan sesuai perintah Si won dan para pelayannya.Dan selama itu pula Tiffany menunggu, memarahi dan memaki Si won yang belum juga menampakkan batang hidungnya.Apa yang sebenarnya pria itu lakukan hingga dia juga belum datang.

Tiffany berlari keluar rumah ketika sebuah Ferrari hitam masuk ke halaman rumahnya.Tanpa menunggu sang pemilik mobil keluar atau pelayannya membukakan pintu mobil, Tiffany lansung masuk ke dalam mobil itu.

“Kau bodoh! Nyawa putrimu dalam bahaya kau malah terlambat seperti ini.Kau mau ketika kita sampai disana putriku sudah menjadi mayat?…”Kalimat itu yang pertama di dapat Si won ketika Tiffany masuk ke mobilnya.

“Mianhe, ada beberapa hal yang harus ku selesaikan…”

“Memangnya urusan apa? Wanita? Jadi mereka lebih penting dari pada putrimu sendiri?….”Si won memilih tak menjawabnya.Percuma berdebat dengan wanita itu.Membuang-buang waktu.

Tiba-tiba Si won mendekat kearah Tiffany hingga jarak wajah mereka hanya sekitar 5 cm.

“A-apa yang kau lakukan?…”Tiffany gugup bukan main.Jantungnya berdegup sangat kencang melihat wajah tampan Si won dengan jarak sedekat ini.Si won tersenyum dan meraih dagu lancip itu.

“Menurutmu, apa yang akan ku lakukan.Mencium bibir tipis ini?….”

Tiffany menelan ludahnya kaget.Apa-apaan pria itu?

“Hahaha…”tawa Si won terdengar sangat indah namun menyebalkan bagi Tiffany.Pria itu berniat mengerjainya dan mempermalukannya? Tsk.

Si won segera memasang sealbeat Tiffany.Dari tadi memang ini tujuannya.Tapi melihat wajah Tiffany yang gugup membuatnya memiliki ide untuk mengerjainya.Setelah selesai Si won kembali ke tempat duduknya dan menjalankan mobil.Sementara disebelahnya, Tiffany hanya diam dan mengumpat dalam hati.

***Sifany***

Tiffany makin erat memeluk tubuh Si won dari belakang.Suasana ruangan itu tampak mencekam.Ditambah puluhan orang dengan pakaian serba hitam dan otot besar yang berjajar disepanjang gedung tua yang mereka masuki.

“KYAA!”

Tiffany menjerit histeris ketika seorang pria menggertaknya.Wajahnya yang sangar dan otot besarnya membuat Tiffany ketakutan.Sejenak Tiffany memikirkan Si won.Pria itu tidak jago berkelahi.Bagaimana kalau nanti Si won keluar dari sini dengan babak belur.

“Si won…”panggil Tiffany pelan.

“Kau yakin mereka akan membiarkan kita keluar setelah mereka mendapatkan uangnya? Bagaimana kalau mereka nanti memukulmu.Kau tidak bisa berkelahi…”

“Ck, kau pikir pria macam apa yang tidak bisa berkelahi.Semua pria bisa berkelahi…”

“Aku tetap khawatir, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu…”jelas terlihat kekhawatiran diwajah cantik itu.Si won tersenyum dan merangkul Tiffany agar lebih dekat dengannya.

Si won berjalan dengan koper berisi uang ditangannya.Sementara Tiffany memeluknya dari samping.Sesekali Tiffany melihat kondisi gedung itu.Tampak tua dan tak terurus.Bagaimana nasib putri kecilnya yang selama seminggu ini disekap orang-orang biadab itu.

Tiffany memicingkan matanya ketika melihat seseorang tengah merekam dengan handycam ditangannya.Dilihat dari bentuk tubuhnya sepertinya orang itu wanita.Tapi untuk apa dia merekam? Ingin menguploadnya ke youtube? Bukankah mereka yang bersalah disini?

“Selamat datang Tuan dan Nyonya Choi yang terhormat…”ucap seorang pria yang sepertinya ketua dari kelompok tersebut menyambut kedatangan Si won dan Tiffany dengan senyum liciknya.Dia menawarkan kursi untuk Tiffany.Tiffany mendadak ingin muntah saat pria menyeramkan itu mengedipkan mata menggodanya.

“Mana uangnya…”

“Tunjukkan dulu putriku!”ucap Tiffany cepat.Tawa pria itu membahana memecah kesunyian gedung tua itu.

“Kau tidak sabaran sekali, manis…”

Pria itu menjentikkan jarinya.Seorang pria yang juga dengan pakaian serba hitam muncul dengan seorang anak kecil digendongannya.Itu Lauren.Tifany seketika berdiri dari duduknya.Berniat menghampiri putri kecilnya yang sudah sangat dirindukannya.Tapi dua orang pria menahannya.

“Apa yang kalian lakukan? Minggir!”teriak Tiffany.Bukannya menurut orang-orang itu malah tertawa.

“Kau yang harusnya minggir, manis…”ucap pria itu tersenyum seraya mencolek dagu Tiffany.Reflek Tiffany menamparnya.

“Brengsek! Jaga tangan kotormu itu!”marah Tiffany.Dia tetap bersikeras menerobos dua pria berbadan besar itu.Tentu saja dia kalah.Mereka mendorong Tiffany hingga Tiffany terjerembab ke lantai.

Bugh!

Satu pukulan mendarat di wajah pria itu.Dari Si won.

“Jangan pernah kau menyentuhnya apalagi menyakitinya…”

“Ck, berani sekali dia.Serang…”

Sekelompok orang itu mulai menyiapkan gerakan kuda-kuda untuk menyerang Si won.Tak lama mereka sudah mengerumuni Si won.Awalnya Si won dapat mengelak namun mereka terlalu banyak sementara Si won hanya seorang diri.Tentu dia kalah telak.

Tiffany yang melihat adegan  menyeramkan itu hanya mampu berteriak hingga suaranya parau.Dia tidak bisa melihat seperti apa Si won sekarang karena kelompok itu menyerbu Si won dan mengerumuninya.

“Hentikan! Ku mohon hentikan…”

Tiffany menangis lemah dan berlutut.Dia tampak sangat lelah karena terus berteriak dan memohon.

Orang-orang itu meninggalkan Si won yang terkapar tak berdaya.Tak banyak darah dari wajahnya, hanya bagian hidung dan bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah.Tapi tubuhnya pasti sakit dan remuk dihujani pukulan demi pukulan yang begitu kuat.

“Bodoh! Bodoh! Bodoh!”

Tiffany memukul dada Si won dengan tenaganya yang masih tersisa.Melimpahkan kekesalannya pada namja itu.

“Katanya kau pria dan jago berkelahi.Tapi apa ini, kau bahkan kalah dengan sangat tidak terhormat.Kau bodoh Si won, bodoh…”

Pukulan dan tangis Tiffany melemah karena dia benar-benar sudah tidak kuat.Apa kesalahannya hingga harus mengalami peristiwa menyakitkan seperti ini.

“Appa…”

Lauren yang mengampiri Si won membuat tangis Tiffany makin pilu.Dipeluknya putri tercintanya itu untuk menenangkannya.

“Appa, Lauren  rindu Appa.Oemma suruh Appa bangun, Lauren ingin main dengan Appa…”Lauren mulai menangis membuat Tiffany merasa tak tega.Dia kembali menatap Si won.

“Si won, jebal.Bangunlah…”

Tiffany meletakkan kepala Si won dipangkuannya.Dia menepuk pelan pipi Si won untuk membangunkannya.Air matanya pun tak hentinya mengalir dan jatuh di wajah tampan itu.

“Si won, ku mohon bangunlah.Lauren sudah disini.Kau ingin bertemu dengannya bukan? Buka matamu Si won, kau tidak boleh meninggalkan kami lagi…”

Tiffany terus menangis seraya memeluk tubuh lemah Si won.

“Ku mohon bangunlah.Aku mencintaimu Si won.Aku ingin membesarkan Lauren bersamamu.Tapi bangunlah Si won, ku mohon.Aku sudah tidak kuat meminta lagi…”

“CUT!”

Tangis Tiffany terhenti ketika mendengar teriakan seseorang.Tiffany menoleh ke belakang.Tampak olehnya wanita yang sibuk merekam tadi.Dan betapa terkejutnya Tiffany ketika wanita itu membuka topengnya.Apalagi ketika Si won tiba-tiba bangun dan Lauren yang tersenyum.

***Sifany***

            “Kami mengerti kalau kau marah.Kami minta maaf….”ucap Dong hae yang duduk disebelah Jessica.Dihadapan mereka duduk Tiffany dengan gaya angkuh, wajah arrogant dan sifat keras kepalanya.

“Kami melakukan hal bodoh ini untuk kebaikan kalian juga.Sudah cukup kau hidup dengan penuh penyesalan dan sudah saatnya Lauren hidup dengan orang tua yang lengkap…”

Tiffany mendengus sebal.Apa maksud sahabatnya itu jika dia hidup dengan penuh penyesalan?

“Tapi tidak dengan cara gila seperti ini.Kalian tahu aku hampir mati memikirkan Lauren yang diculik?…”

Tiffany tetap tidak menerima segala pembelaan yang diberikan.Menurutnya ini sudah sangat keterlaluan bahkan kriminal.Bisa-bisanya orang-orang terdekatnyalah otak dari penculikan yang ternyata rekayasa ini.Siang malam dia menangisi keadaan Lauren sementara putrinya itu malah nyaman-nyaman saja dirumah Jessica dan Dong hae.

“Kalau tidak dengan cara ini kau tidak akan melunak.Kau baru mengakui perasaanmu saat Si won Oppa sekarat.Coba kalau waktu itu dia benar-benar mati.Kau akan menyesal Tiffany.Kau juga merasa akan mati jika Lauren tidak bersamamu.Harusnya kau tahu bagaimana perasaan Si won Oppa saat kau berbohong tentang darah dagingnya…”

Tiffany mulai kesal ketika Jessica menceramahinya.

“Aku melakukannya dengan alasan yang kuat…”

“Alasan yang kau perkuat sendiri…”ucap Jessica.Dua sahabat itu saling memberikan pandangan kesal masing-masing.

“Sudahlah Oppa, untuk apa kita mendapatkan maaf darinya.Itu sama sekali tidak penting…”ucap Jessica.Tiffany memandangnya sebal.

Daniel yang dari tadi juga berada diruangan itu mendekat ke tempat Tiffany.Dia tahu dia terlibat karena tidak memberitahukan Auntie-nya itu atas rencana penculikan yang sudah disusun oleh orang tuanya.

“Mianhe Auntie, aku tahu aku salah.Aku bersedia mendapatkan hukuman…”

“Benarkah?…”tanya Tiffany tersenyum seraya melirik Dong hae dan Jessica.

“Bagus, ternyata orang tuamu mengajarkan bagaimana kau harus bertanggung jawab atas kesalahan yang kau lakukan…”Semuanya terdiam.Menunggu apa hukuman yang diputuskan Tiffany untuk Daniel.

“Baiklah, kau Auntie hukum untuk tidak bertemu Lauren sampai batas waktu yang ku tentukan…”

“Tiffany…”sergah Jessica tak terima.

“Oemma…”Tiffany menatap Lauren, mengisyaratkan agar putrinya itu tetap diam.

***Sifany***

Jessica dan Dong hae keluar dari ruangan itu  diikuti Daniel.Lauren sebenarnya ingin menyusul tapi Daniel mengisyaratkannya untuk tetap tinggal.

Lauren berjalan mendekati Tiffany.Dia duduk dipangkuan wanita itu dan memeluknya dengan erat.

“Mianhe Oemma.Aku tidak berniat  ingin membohongi atau mengerjai Oemma.Aku hanya ingin Oemma bersama Appa lagi…”

“Berhentilah memberikan alasan jika kau memang bersalah…”ucap Tiffany lembut.

Lauren diam namun tetap dalam dekapan hangat itu.Tiffany mengelus rambut panjang putrinya dan tersenyum lembut.

***Sifany***

Sebulan setelah insiden penculikan rekayasa itu Si won tidak pernah lagi bertemu dengan Tiffany.Wanita itu tidak mau menerima telfon darinya apalagi melihatnya.Saat Si won berkunjung untuk menemui Lauren pun Tiffany lebih memilih tidur dengan kamar terkunci.

Hari ini Si won berencana akan menyelesaikan masalah ini agar tidak berlanjut.Dia tidak bisa membiarkan mereka terus seperti ini tanpa kejelasan.

Tiffany keluar dari gedung kantornya.Dia berdiri dipintu utama menunggu mobil yang sedang diambil sopir kantornya ditempat parkir.

“Gumawoyo, Ahjussi…”ucap Tiffany membungkuk hormat seraya memberikan beberapa lembar uang won sebagai uang tip.

“Tidak perlu Nyonya, ini sudah tugasku….”ucap pria tua itu sopan.

“Aniyo Ahjussi, aku tidak akan pergi jika kau tidak menerimanya…”Pria itu tersenyum lembut.Setelah menerimanya dia pun pamit memohon diri.

Karena malam sudah larut Tiffany memutuskan untuk pulang karena Lauren pasti sudah menunggunya.Namun saat dia akan masuk ke mobil tiba-tiba sebuah tangan menahannya.

“Si won?…”ucap Tiffany kaget.Dengan cepat dia kembali masuk tapi Si won lagi-lagi menahannya.

“Si won!”

“Aku ingin bicara….”

“Aku tidak bisa!”

“Tiffany dengarkan aku!”

“Aku bilang aku tidak bisa!”

“Tiffany!”

“Si won!”

“Berhenti memaksaku.Aku tidak mau melihatmu lagi.Kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Kau berkomplot dengan Dong hae dan Jessica untuk  penculikan Lauren!”

“Tiffany…”

“Kau selalu ada disisiku saat Lauren diculik.Kau bersikap seolah-olah penyelamat hidupku.Kau pura-pura khawatir padahal kau tahu kalau dia baik-baik sajakan? Kau otak dari semua ini Si won.Kau melakukannya agar aku merasa berterima kasih dan mau menerimamu kembali.Kau licik Si won, kau…”makian Tiffany berakhir.Dia hanya terdiam kaku saat bibir hangat Si won menyentuh bibirnya.Untuk beberapa saat Tiffany terdiam.Otaknya mencoba mencerna dengan baik apa yang sedang dilakukan namja itu padanya.

Tiffany mendorong tubuh Si won saat otaknya sudah kembali berfungsi.Tidak, ini salah.Dia tidak boleh terlena dengan perlakuan namja itu.

Si won menatap Tiffany sendu.Dipegangnya wajah Tiffany dengan kedua tangannya.

“Bisakah bibir ini diam.Aku hanya perlu bicara dan kau mendengarkanku…”ucap Si won lirih membuat Tiffany tak tega.Sepertinya namja itu benar-benar serius dengan apa yang akan dikatakannya.

“Aku tahu aku salah karena mengikuti permainan Dong hae dan Jessica.Aku baru tahu kalau penculikan itu mereka yang melakukannya saat membeli obatmu di apotek.Aku tentu tidak setuju dengan rencana ini karena aku yakin kalau reaksimu akan seperti ini.Membenci dan menjauhiku.Tiffany…”

Tiffany menatap mata Si won.

“Aku tidak bisa hidup seperti ini lagi.Kau menjauhiku sementara aku selalu berusaha untuk mendapatkanmu kembali.Aku ingin kita bersama lagi.Aku mencintaimu dan perasaan ini tidak akan pernah berubah sampai kapanpun…”

“Kita menikah lagi, kau mau?….”Tiffany hanya terdiam.

“Aku berjanji akan menjaga dan mencintaimu juga anak kita, Lauren…”

“Tiffany jawab aku…”Tiffany masih saja bungkam.Si won memijat pelipisnya.Antara kecewa,  kesal, geram dan marah bercampur jadi satu.

“Baiklah, sepertinya kau akan lebih baik tanpa ada aku disisimu.Seperti permintaanmu 5 tahun lalu.Aku tidak akan menemuimu lagi….” Kata-kata itu bagai petir bagi Tiffany.Tidak, jangan sampai dia membuat kesalahan yang sama untuk ke sekian kalinya.

“Aku mau….” Langkah berat Si won yang akan pergi terhenti ketika mendengar 2 kata dari Tiffany.Seperti ada sebuah harapan baru dia kembali ke hadapan wanita itu.

“Aku mau kau tidak menemuiku lagi hanya sampai disini.Mulai saat ini dan seterusnya, teruslah disisiku…”

Si won hanya menunjukkan wajah bodohnya saat mendengar apa yang diucapkan wanita itu.Dipegangnya  pundak Tiffany.

“Benarkah apa yang ku dengar? Kau tidak sedang membohongiku bukan?…”

“Memangnya aku sepertimu…”

Si won tersenyum mendengar cibiran itu.Dalam sekali gerakan ditariknya Tiffany ke dalam pelukan hangatnya.

“Gumawo Fany-ah, gumawo…”

Si won tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.Sementara Tiffany hanya tersenyum dipelukan hangat Si won.Setelah cukup lama dalam posisi seperti itu mereka melepas pelukan masing-masing.Tak ada kata yang terucap.Hanya saling pandang dan saling melempar senyum.

“Kau tahu? Aku baru saja mempermalukan diriku sendiri.Meruntuhkan harga diriku yang ku junjung tinggi selama ini untuk mengatakan kalimat barusan…”

“Terkadang seseorang memang harus melupakan harga dirinya jika menyangkut soal cinta…”ucap Si won mengacak rambut Tiffany pelan.Tiffany mendecak sebal namun kemudian tersenyum.

Tiba-tiba Tiffany berjinjit.Meski dia sudah menggunakan high heels tetap saja pria itu lebih tinggi darinya.

“Seperti ini…”ucap Tiffany tiba-tiba mengecup bibir Si won kilat.Si won terperangah.Sama sekali tidak menyangka kalau Tiffany akan bersikap seperti ini.

“YA! Sejak kapan kau menjadi nakal seperti ini?…”

“Kau tidak suka?…”tanya Tiffany mengedipkan sebelah matanya manja.Si won tertawa.Jjinja! Wanita ini benar-benar berniat ingin menggodanya.Dia bisa saja menerkam wanita itu disini jika dia tidak bisa menahan diri.

“Kau tidak suka? Ya sudah…”ucap Tiffany berlalu.Si won yang ditinggal pun segera menyusulnya untuk mensejajarkan langkah mereka.

“Kau mau pulang?…”

“Hm, Lauren pasti sudah menungguku…”

“Kalau begitu ku antar…”

“Tidak perlu…”

“Tidak usah menolak…”

“Aku bisa sendiri…”

“Jangan sungkan…”Tiffany berhenti dan menatap pria itu.

“Aku bilang tidak perlu ya tidak perlu!”kesal Tiffany.Dia kembali melanjutkan langkahnya tapi dia tidak melihat ada sebongkah baru besar dihadapannya.

“KYAA!”

BUK

Si won menutup mulutnya menahan tawa.Melihat Tiffany yang sibuk memaki siapa yang meletakkan batu sialan itu jalan.

“Choi Si won!”

***Sifany***

Si won melangkah pelan menuju mobilnya yang terparkir cukup jauh dari gedung perkantoran Tiffany.Digendongannya ada Tiffany yang tampak memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya didada bidang namja itu.Ya, Si won memutuskan untuk menggendong Tiffany karena high heels Tiffany patah oleh insiden tadi.

“Si won, sebaiknya aku turun saja, aku tidak enak jika ada yang melihat kita…”

“Memangnya kenapa, kau mantan dan calon istriku…”

“Si won…”

“Mulai sekarang kau tidak boleh memanggilku dengan nama lagi.Panggil aku Oppa atau yeobo, itu lebih baik.Kau juga tidak boleh melihat laki-laki lain selain aku.Kau juga harus selalu memberitahuku kemana, dengan siapa dan untuk apa jika kau ingin pergi…”

“Ck, belum menikah saja kau sudah mengatur hidupku.Aku tidak mau…”

“Lalu, kau mau hidup seperti biasa? Menerima setiap ajakan makan malam klien priamu?…”

“Kami makan malam untuk membicarakan pekerjaan…”

“Itu hanya modus.Aku juga tahu setelah makan malam berakhir mereka mengajakmu menikah….”

“Jadi kau membuntutiku?….”

“Masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan dari pada sekedar membuntutimu…”

“Kencan dengan klien wanitamu?….”tebak Tiffany.

“Itu bukan kencan, hanya urusan pekerjaan…”

“Malam-malam dan di kamar hotel?…”

“Kami memang bertemu di hotel tapi tidak dikamar hotel…”ucap Si won.Dia menghentikan langkahnya dan menatap wajah Tiffany.

“Tunggu, kau juga membuntutiku?…”

“Ck, yang benar saja.Aku pasti sudah gila jika melakukannya…”ucap Tiffany sinis dan disambut senyum Si won.

“Lalu?…”tanya Si won kembali melanjutkan perjalanan mereka.

“Aku mendengarnya dari orang-orang kantorku yang membicarakanmu…”

“Berarti kau dengan sengaja menguping apapun pembicaraan orang-orang yang menyangkut mantan suamimu ini…”

Tifffany memutar bola matanya.Dia lelah.Dan untuk pertama kalinya dia mengalah dalam berdebat.

“Terserah….”

“Berarti benar…”

“Si won cukup!”

Si won kembali berhenti ketika Tiffany meneriakinya.Ditatapnya mata indah itu tajam.

“Hehehe, mianhe…Oppa…”

Tiffany tersenyum memperlihatkan wajah innocentnya.Si won pun tak bisa apa-apa ketika Tiffany sudah mulai menunjukkan eye-smilenya yang memikat.Si won melanjutkan perjalanan mereka.Tiffany pun mengeratkan pegangannya dan bersandar didada bidang itu dengan mata terpejam.

***Sifany***

1 year later, New York

Tiffany dan Si won menyusuri jalanan malam kota New York yang tampak ramai dimalam hari.Diantara mereka ada Lauren yang dari tadi terus menggandeng tangan kedua orang tuanya.Sesekali mereka tertawa melihat apa yang terjadi disekitar mereka atau ulah si kecil Lauren.Mereka tampak seperti keluarga kecil yang amat bahagia.Ini adalah liburan mereka sekaligus second honeymoon Tiffany dan Si won yang tertunda karena pekerjaan dan kesibukan masing-masing.

“Jadi Oemma menghabiskan masa kecil disini?…”tanya Lauren sambil menikmati lollipop yang baru dibelikan Si won.

“Hm, tumbuh di Negara yang bebas tidaklah baik.Orang-orang hidup dangan egoisnya tanpa peduli dengan orang lain dan tata krama…” Tiffany mendelik mendengarnya.

“Kau  menyindirku, Oppa?….”tanya Tiffany.Si won hanya tersenyum dan menatap sekelilingnya.Mengingat bagaimana dulu dia bertemu Tiffany ditempat ini.

Waktu itu Si won sedang berjalan-jalan seorang diri untuk merefresh otaknya.Dia baru saja menyelesaikan studi S3-nya.Jadi sebelum kembali ke Korea dia memutuskan untuk menghabiskan waktunya di jalanan kota New York.

Si won menoleh ke belakang ketika menyadari seorang gadis tengah mengikutinya.Namun saat dia berbalik gadis itu malah berbalik dan pura-pura melihat-lihat baju yang sedang di pajang pemilik toko.

Karena penasaran apa tujuan gadis itu.Si won memilih diam dan ikut melihat-lihat kue yang ada di toko didepannya.Tepat disebelah toko pakaian tempat gadis itu berada.Si won tersenyum, dari sudut matanya dia bisa melihat kalau gadis itu mendekat.Awalnya Si won merasa kalau gadis itu menyukainya.Ya, dia tahu kalau dia tampan dan kaya.Jadi wanita mana yang tidak menyukainya.

“Excuse me, Sir…”Si won menoleh dan menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.

“Uhm,…are you Korean?…”tanya gadis itu.

“Yes, I am…”jawab Si won pasti.

“Jjinjayo? Ah, syukurlah…”Si won menyengit.Jadi gadis Amerika ini bisa bahasa Korea.

“Ada apa?….”tanya Si won mengingatkan gadis itu tentang tujuannya.

“Oh, begini.Aku ingin minta bantuanmu….”

“Bantuan?…”

“Ne.Bagaimana kalau kita cari tempat duduk…”Gadis itu langsung menarik tangan Si won ke sebuah café tanpa menunggu persetujuannya terlebih dahulu.

“Kau kuliah disini?….”

“Ne, aku di Harvard….”

“Aku di Standford.Aku baru menyelesaikan S2-ku…”

Si won mengangguk seraya memperhatikan gadis itu yang masih tampak sangat muda.Jadi gadis ini punya otak yang lumayan juga.

“Aku ingin minta bantuanmu.Kapan kau akan kembali ke Korea?….”tanya gadis itu.

“Belum tahu.Aku baru menyelesaikan S3-ku jadi aku masih butuh refreshing…”

“Oh Jjinja? Kau sudah menyelesaikan S3-mu? Diumur yang segini?…”tanyanya tak percaya.Si won tersenyum.Jadi sejak tadi gadis itu meremehkan kemampuan otaknya?

“Kau mau kembali ke Korea bersamaku? Aku tidak tahu apapun tentang Korea selain kimchi dan Namsan Tower…” Si won menyengit.Kenapa gadis itu minta bantuannya.Memangnya dia guide tour?

“Kenapa harus denganku.Ku lihat kau bisa bahasa Korea dengan baik…”

“Itu karena Appaku melarang para pelayan dirumahku menggunakan bahasa Inggris agar aku terbiasa dengan bahasa Korea…”

“Para pelayan? Itu artinya kau punya banyak pengawal.Kenapa tidak minta bantuan mereka saja….”

“Dan orang-orang akan melihatku dengan aneh karena ditemani puluhan orang-orang itu? NO! Sudah cukup aku tersiksa diikuti orang-orang kurang kerjaan itu disini…”Si won mengangguk.Mengerti keadaan gadis ini.

“Begitu ya, tapi maaf, aku belum berencana untuk  kembali ke Korea…”

“Wae?…”tanya gadis itu tak terima.

“Aku sudah bilang aku lelah dengan kehidupan kampusku jadi aku ingin menghabiskan waktu ku disini…”

“Agasshi…”

Si won dan gadis itu menoleh ketika seseorang memanggil.Dan tak lama kemudian puluhan orang-orang sudah mengerumuni meja mereka.

“Aish! Bisakah kalian membiarkanku bernafas sebentar saja…”marah gadis itu.Orang-orang itu hanya menunduk takut.

Gadis itu melirik kearah Si won dan meletakkan selembar kertas diatas meja.

“Besokku tunggu kau di airport.Kau harus datang…”ucap gadis itu sebelum pergi dengan orang-orangnya.

“Hei, tunggu.Siapa namamu?…”tanya Si won.Gadis itu menoleh.

“Untuk apa kau tahu.Aku Ke Korea karena dipaksa Appaku yang sekarang tinggal di Seoul, bukan mencari kekasih.Dan satu lagi, untuk namja aku punya selera yang sangat tinggi…

Si won tertawa singkat dibuatnya.Apa yang gadis itu bicarakan?

Tiffany menoleh ketika mendengar Si won tertawa.

“Apa yang kau tertawakan, Oppa?…”

“Anni, aku hanya ingat bagaimana dulu pertemuan pertama kita.Ku akui kalau seleramu sangat tinggi…”Tiffany memalingkan wajahnya kesal.

“Tidak perlu diingat.Gara-gara kau mengantarku sampai ke rumah Appa malah menganggap kau calon menantunya.Dan hidupku menjadi begitu sulit setelah menikah denganmu…”

“Kau yang mempersulit dirimu sendiri karena memilih berpisah dari pria tampan ini Mrs.Choi…”ucap Si won.Tiffany hanya diam.Untuk apa dia membantah jika itu benar.Toh, sekarang dia sangat bahagia karena ada Lauren dan Si won bersamanya.

“Appa…”

“Ne, sayang.Ada apa?…”

“Sebentar lagikan ulang tahunku.Uhm…aku ingin hadiah…”

“Hadiah? Katakan saja, Appa akan memberikannya…”

“Bukankah Oemma dan Appa  selalu sibuk dengan pekerjaan.Aku akan kesepian di rumah nantinya….”Si won dan Tiffany saling pandang.Belum mengerti dengan maksudnya.

“Aku ingin punya adik namja…”

“MWO?!”Tiffany amat shock.Apa yang baru dikatakan anak itu?

“YA! Siapa yang mengajarimu meminta hal konyol seperti ini.Huh? Dong hae Ajusshi dan Jessica Auntie?…”

Lauren mengangguk pelan.Tiffany mengepalkan tangannya geram.Andai kata dua orang itu ada dihadapannya akan dia pastikan dua orang itu akan menerima akibatnya.

“Bagaimana Appa, Appa mau?…”

“Tentu…”

“Tidak!”jawab Tiffany cepat.

“Aku tidak pernah berniat untuk menambah anak, arasso?…”bisik Tiffany, Si won menghela nafas dan kembali menatap putri kecilnya.

“Mianhe sayang, sepertinya tidak bisa….”

“Kenapa tidak bisa Appa, kenapa adiknya tidak mau tinggal bersama kita.Aku janji akan jadi noona yang baik untuknya…”Si won tersenyum mendengar ucapan polosnya.Dia mengelus lembut rambut panjang Lauren.

“Seperti yang tadi Lauren bilang.Oemma dan Appa sangat sibuk.Lauren juga harus sekolah bukan? Adiknya akan kesepian dirumah, tidak ada yang menemaninya…”Lauren menunduk sedih.

“Lauren tidak perlu khawatir.Oemma dan Appa akan selalu ada untuk Lauren, tenang saja…”Lauren tersenyum senang.

“Apa aku boleh minta hadiah lain?…”tanya Lauren lagi.

“Asal tidak sekonyol tadi…”ucap Tiffany cepat.

“Katakan saja, apapun akan Appa berikan…”

“Aku ingin ciuman dari Oemma dan Appa….”ucap Lauren menunjuk kedua sisi pipinya.Si won dan Tiffany saling pandang dan tersenyum.

“Tentu…”jawab keduanya.

Tiffany dan Si won menunduk untuk mengecup pipi chubby Lauren.Begitu keduanya sudah mendekat secara tiba-tiba Lauren memundurkan langkahnya dan…

Cup!

Tiffany dan Si won berciuman.Tiffany yang sadar dengan apa yang terjadi dengan cepat menjauh dari Si won.

“YA! Lauren Choi! Apa yang kau lakukan? Kau masih terlalu kecil untuk melihat adegan orang dewasa.YA!”

Tiffany berteriak mengejar Lauren yang sudah melarikan diri diantara keramaian jalanan.Sementara Si won hanya tersenyum bahagia melihat dua perempuan dalam kehidupannya itu saling berkejar-kejaran dan tertawa bersama.Dia sangat bersyukur karena semuanya sudah kembali seperti yang seharusnya.Kebahagiaannya, Tiffany dan Lauren.

END

Gimana readers? Ada yang suka? Ingat, semua yang ada disini hanya fiksi jadi jangan terlalu dianggap serius yah#kecualikecantikandanketampananparacastnya.kekeke

Jangan lupa comment, kritik N saran kalian untuk kebaikanku dimasa mendatang#kokkayaknulismakalah

Thanks for reading…Anyeong

73 thoughts on “[Re-Post] Still Love You

  1. hahahahaha
    Aq sbnrnx suka yonwon tp sifany trnyta jg gag kalah keren. . Hahahah
    Ngakak aq apalagi pas penculikan bo’ongan. Hahahaha
    Good daniel,great lauren

  2. Hahaha… Lucu bgt, qw ketawa pas tif eonni ma won oppa mau cium laure, eh terxta lauren malah mundur dan jadinya appa n eommax jadi ciuman…
    Happy ending qw suka bgt…:D

  3. Padahal udah hampir nangis waktu baca kesedihan Tiffany unnie karna anaknya diculik. Eh.. Tiba-tiba tertawa sendiri ternyata boongan -_- Daebak!! Hwaitting^^

  4. Suka bangettttt ^^ ,sifany memang cucooo :*😀 aishhh haesica koplak amat😀 bercandanya keterlaluan bgt ! ,tp berkat mereka sifany jd balikan lagi kannn🙂🙂

  5. Ceritanya bagus….seru banget…waah haesica jahil nya kocak deh bikin tiffany darting terus nih…akhir nya siwon brsatu jga dgn tiffany…aduuh lauren suka bikin mommy nya setres mulu deh

  6. Itu dedek lauren iseng bgt sih .. Hahaha
    Seneng deh baca sifany Ɣªⁿǵ happy familly kya gini ,, ksih sequel dong author .

  7. Kirain benaran lauren diculik,ternyata hanya sandiwara saja,.aiggo……lauren minta adik dihari ulang tahunnya,tapi fany tidak ingin nambah anak lagi,kasian lauren jadi kesepian donk,jadi anak tunggal,tapi tidak apa2,lauren lebih banyak mendapatkan kasih sayang dari sifany.
    Daebak thor ffnya.tetap semangat ya thor.

  8. Lauren yg pndai. ank sekcl itu udh berpkrn dws n berjuang utk mncr sndr appny n tnp ksulitn lngsung bc ktm.
    walau awlny bnci ktm siwon tp krn lauren n rasa cinya dlm hati mrk. sifany ptskn utk kmbli brsm siwon n mulsi hdp sbg klrg yg utuh n bhgia

  9. Anyeonggg….ijin baca yaa…

    Wahh, ceritanya baguss…
    Konyol bnget sicahae..mw bantu temannya jah hrus dg penculikan ank temennya..tp bagus deh akhirnya sifany bersatu kembali dg keluarganyaa…hihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s