BECAUSE OF LOVE

Because Of Love

SiFany- YoonHae         : Because of Love

Author                         : Han Ra Mi

Main Cast                    : Choi Siwon, Hwang Minyoung ( Tiffany ) , Lee Donghae, Im Yoon Ah ( Yoona )

Other Cast                   : Super Generation member

Genre                          : Romance

Rating                          : G

Length                         : twoshoot

Disclaimer                   : saya hanya punya storyline

di post di blogku : StarMuseum~ SM Family

 

Tiffany pov

Cinta seperti apa ini? tidakkah rasa sakit yang diberikan cinta ini tak sebanding dengan  sakit yang sekarang kurasakan?. Bahkan walaupun ini sangat sakit dan begitu menyiksa, aku tetap saja hanya bisa diam tanpa boleh menangis. Bukankah ini tak adil? atau cinta itu memang seperti ini?. Atau justru hidupku yang seperti ini? Terbelenggu dalam sebuah perasaan yang entah tahu dari mana, aku begitu berani menyebutnya sebagai sesuatu yang sakral bernama cinta?.

Memang apa definisi cinta? memang jatuh cinta itu seperti apa? memang jika namja itu yang aku cintai bagaimana tandanya?. Apa aku pernah mendapat pelajaran atau mendengar tentang semua hal yang menjelaskan itu?. Kurasa tidak, lalu kenapa aku berani- beraninya menyebut semua ini sebagai cinta?.

Mungkin karena itulah, karena aku tak tahu apa- apa tentang cinta, dan dengan beraninya bermain- main dengan rasa itu. Maka sekarang aku merasakan karma darinya. Tak ada karma lain dari cinta selain patah hati. Setidaknya sekarang aku tahu satu hal ini tentang cinta.

***

“Ne. Nado jeongmal bogoshippo, oppa.”

“…”

“aishh, jeongmallyo. Kenapa tak percaya? Kau bisa tanyakan pada oennie- oenniku betapa aku gila karena memikirkan oppa setiap hari.”

“…”

“benar- benar tak percaya? baiklah…”

“Oennie. Katakan pada siwon oppa bahwa oennie melihat sendiri aku benar- benar seperti orang gila karena merindukannya.”

dongsaengku mengatakannya sambil menyodorkan ponselnya padaku. Tanpa perasaan bersalah -karena memang dia tak tahu apa- apa, dia terus memaksaku menerima ponselnya. Dia dongsaengku dan dia memang tak tahu apa yang terjadi. Lalu aku harus bagaimana selain menuruti permintaannya.

 

“yebosseo…” salamku pada seseorang diseberang sana. Aku tak mendengar suara balasan darinya. Dia diam saja, aku pun tak bicara apa- apa, Kami sama- sama terdiam.

Don’t say that you’re sorry

Love isn’t over for me yet

If we break up like this

What do I do, what do I do?

 

I just have love alone but I can’t even love

I can’t even say the words that I really want to say

The love that is getting farther away

The words that I can’t keep – they are making me cry

Itulah kalimat- kalimat yang begitu ingin kukatakan padanya saat ini. Tapi siapa aku berani- beraninya ingin mengatakan semua itu. Bahkan kekasih namja itu berada disisiku saat ini.

“Oennie. Kenapa diam saja? apa sinyalnya terganggu? perasaanku tadi baik- baik saja.”

Aku tertawa. Walau tawa yang terpaksa kulakukan, tapi aku mencoba menampilkannya dengan baik. Aku mulai mendengar seseorang itu bergumam.

“minyoungie…”

Deg. jantungku serasa berhenti berdetak Panggilan itu selalu digunakan selama kami masih menjadi sepasang kekasih. Aku tersenyum, entah senyum seperti apa dan karena apa. Yang kutahu sekarang sesuatu yang aneh dalam diriku itu kembali berterbangan.

“Oennie?” Yeoja ini mengembalikanku dari alam harapan gilaku. Sadarlah tiffany-ah, bahkan kekasih namja ini sedang duduk disampingmu. Berani beraninya kau berharap karena sebuah panggilan.

“siwon-ssi…” Aku mencoba mulai bicara dengan benar.

“kau formal sekali, oennie.” yoona berkomentar dengan wajah innocentnya.

“baiklah… siwon oppa. Apa begitu sudah benar?”

“kenapa sama denganku? aku kan yeoja chingunya.”

“wonnie-yaa?”

“minyoungie!” aku tersenyum miris. wonnie-miyoungie, itu sudah lama berakhir tiffany-ah… sadarlah!.

“kenapa jadinya oennie justru punya panggilan yang lebih istimewa dariku? Ah… tapi baiklah, kali ini kita harus berbeda. Oennie bisa menggunakan itu. Nanti aku akan memikirkan panggilan baru untuk siwon oppa.” yoona tampak begitu bangga dan bahagia dengan hubungannya dan namja ini, namja yang kucintai -choi siwon.

“Lanjutkan oennie…” pinta yoona padaku.

“wonnie-yaa… yeoja bernama im yoon ah yang duduk disampingku ini. Dia begitu  mencintaimu. Belakangan ini karena begitu rindu tak bisa bertemu denganmu dia kerap kali tampak seperti penghuni rumah sakit jiwa.”

“Oennie!” protes yoona.

“Mwoya? bukankah kau sendiri yang memintaku mengatakan bahwa kau merindukannya hingga gila? aishh jincha…”

“Tapi tak perlu mengatakan seburuk itu.” yoona kembali protes, lalu dia tertawa. Aku pun tertawa keras. Bukan karena candaanku pada yoona. Tapi aku tengah menertawakan diriku. Bagaimana mungkin aku bisa menyampaikan pada siwon oppa tentang bagaiamana yeoja lain yang begitu mencintainya?. Bahkan saat perasaanku padanya belum berubah sama sekali, dan justru semakin besar. Bukankah hanya yeoja bodoh dan gila yang bersedia melakukannya?.

Aku memberikan ponsel yoona padanya kemudian berlari keluar dari ruang latihan kami. Aku berlari hingga ka atap gedung SM. Airmataku tumpah begitu aku sampai di atas. Aku menangis begitu keras bahkan berteriak sepuasku, untuk melampiaskan rasa sakitku selama memendam rasa ini.

“choi siwon BABO! BABO!”

“TIDAKKAH KAU TAHU AKU MASIH SANGAT MENCINTAIMU?”

“KENAPA MENINGGALKANKU?”

“KENAPA LARI DARIKU?”

“APA AKU PERNAH MENYAKITIMU?”

“KAPAN? DIMANA?”

“choi siwon, AKU MASIH MENCINTAIMU. SANGAT MENCINTAIMU.”

uhukk uhukk uhukk

Aku terbatuk- batuk karena menangis sambil berteriak dengan keras. Aku terbatuk tanpa henti. Tiba- tiba seorang namja datang dan memelukku, orang itu menyodorkan air mineral padaku.

“tiffany-ah, gwenchana?” aku segera meminum air itu. Dadaku terasa amat sakit dan sesak saat ini.

“gwenchana?” Namja itu mengulang pertanyaannya.

Bukannya menjawab pertanyaan namja itu. Aku justru kembali menangis dan terisak. Aku terus saja menangis tanpa perduli apapun. Dadaku terasa sangat sesak saat ini. Aku benar- benar benci ini.

“Tidak bisakah kau melepaskan perasaanmu pada siwon? namja itu telah lama melepasmu, bahkan dia telah berhubungan dengan dongsaengmu. Hubungan kalian telah berakhir, dia telah sepenuhnya melupakanmu. Tidak bersediakah kau mencoba membuka hatimu untuk namja lain? Aku mencintaimu, tiffany-ah…” namja itu berujar sambil menggenggam lembut tanganku. Sekarang terasa gemetar seluruhnya.

“donghae oppa…” lirihku. Dan seketika semua berubah menjadi gelap.

 

Author pov

Donghae baru saja tiba di SM Building. Tak jelas apa tujuannya kemari, lagi pula tak seorangpun member super junior yang menyertainya, karena memang mereka sedang tak ada urusan disini.

“Donghae oppa, sedang apa disini? kenapa hanya seorang diri?” Seorang yeoja menghampiri dan menyapa donghae.

“Yoona… kau mengejutkanku. Apa snsd sedang ada practice hari ini?.” Tanya donghae tanpa menjawab pertanyaan yoona terlebih dahulu.

“Ne.”

“Kalian semua?”

“Ani, seohyun tak berlatih hari ini.”

“Kalau seohyun aku tahu. Lalu kenapa kau disini?.”

“Kenapa oppa bertanya seperti itu? jelas- jelas aku member snsd, tentu aku juga sedang berlatih.”

“Maksudku, kenapa kau disini bukan diruang latihan bersama membermu?”

“Aishh, aku hanya sedang beristirahat sebentar, oppa.”

“Istirahat tapi kau justru mengelilingi gedung. Bukankah itu justru akan membuat kakimu pegal?.”

“Oppa! kenapa kau protes terus?, menyebalkan sekali. Lagi pula kau bisa bersantai- santai main kesini. Kenapa siwon oppa bilang dia sedang sangat sibuk?.”

“Memang dia sibuk. Dia sedang syuting BTS bersama seohyun, bukankah harusnya kau tahu?.”

“Ne, aku tahu. Benar- benar menyebalkan!.”

“Wae? Apanya yang menyebalkan? Kau juga sering syuting iklan sendiri tanpa member yang lain.”

“Bukan itu, oppa.”

“Lalu?”

“Aku juga membintangi iklan itu, bersama kyuhyun oppa, minho, dan sulli. Tapi kenapa justru seohyun yang dipasangkan dengan siwon oppa? Kenapa bukan aku? Padahal mereka berdua tak ada skandal sama sekali.”

“Kenapa kau mengeluh banyak sekali? Bersyukurlah, sampai sekarang hubunganmu dan siwon masih berjalan baik- baik saja.”

“Aishh, aku kan hanya sedikit kesal, oppa.” Yoona mempouts bibirnya karena kesal. Donghae terkekeh lalu mengacak- acak rambut yoona.

“Teruskanlah beristirahat untuk membuat kakimu pegal ini. Oppa mau ke lantai atas dulu, ne.” Pamit donghae sambil menggoda yoona.

“Oppa!” Donghae mengusap kepala yoona lalu beranjak pergi.

 

Donghae Pov

Ting

Pintu lift yang kunaiki terbuka dilantai teratas SM building. Aku berjalan santai menuju tangga yang mengarah ke atap gedung. Tempat- tempat tinggi seperti ini selalu terasa lebih menenangkan untukku. Tadinya ada niatan untukku mampir ke ruang latihan snsd karena aku ingin menemuinya. Tapi kebetulan sekali aku sudah bertemu dengannya dibawah. Dan itu benar- benar membuatku senang. “Im Yoon Ah, saranghae…” Dan tak tahu kenapa setiap aku mengucapkan kalimat itu walau dalam hati, senyumku selalu mengembang.

“choi siwon BABO! BABO!”

Aku kaget saat mendengar teriakan seseorang. Aku berjalan mengelilingi atap gedung mencari dari arah mana suara itu berasal. Tentu aku tahu suara itu milik siapa dan itu salah satu sebabnya aku mencarinya.

“TIDAKKAH KAU TAHU AKU MASIH SANGAT MENCINTAIMU?”

“KENAPA MENINGGALKANKU?”

“KENAPA LARI DARIKU?”

Ternyata suara itu berasal dari sisi yang berlawanan dengan tempatku berdiri tadi. Kami tertutupi oleh bangunan untuk tangga ke dalam gedung. Sungguh teriakan yeoja itu akan menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Malang sekali nasibmu, fany-ah. Tapi kuharap semua akan berjalan baik nantinya untukmu.

“APA AKU PERNAH MENYAKITIMU?”

“KAPAN? DIMANA?”

“choi siwon, AKU MASIH MENCINTAIMU. SANGAT MENCINTAIMU.”

uhukk uhukk uhukk

Aku berlari mendekati tiffany begitu dia terbatuk dengan keras. Tubuh tiffany langsung kurengkuh dan kupeluk dengan lembut, berharap ini dapat membantu membuatnya merasa lebih baik atau setidaknya lebih tenang. Beruntung aku kebetulan membawa air mineral tadi. Segera kuodorkan botol itu padanya.

“tiffany-ah, gwenchana?” Tiffany segera meminum air itu. Dadanya pasti terasa amat sakit dan sesak saat ini. Aku tahu itu.

“gwenchana?” Aku mengulang pertanyaanku, saat tiffany sudah selesai minum dan masih tak memberi reaksi padaku.

Dan bukannya menjawab pertanyaanku. Tiffany justru kembali menangis dan terisak. Tiffany terus saja menangis seolah tak perduli apapun. Apa dia menangis karena siwon?. Dia harus melupakan namja itu. Apapun yang terjadi dan papun alasannya, tiffany harus mampu melepaskan siwon. Karena ini untuknya sendiri, ini demi kebaikan dirinya.

“Tidak bisakah kau melepaskan perasaanmu pada siwon? namja itu telah lama melepasmu, bahkan dia telah berhubungan dengan dongsaengmu. Hubungan kalian telah berakhir, dia telah sepenuhnya melupakanmu. Tidak bersediakah kau mencoba membuka hatimu untuk namja lain? Aku mencintaimu, tiffany-ah…” aku berujar sambil menggenggam lembut tangan tiffany, berharap dia mempercayai ucapanku. Maaf karena aku berbohong, fany-ah. Tapi semua ini juga demi kebaikanmu.

Tubuh tiffany sekarang terasa gemetar seluruhnya. Tangannya yang berada digenggamanku juga terasa semakin dingin. Wajahnya berubah semakin putih karena terlalu pucat.

“donghae oppa…” lirih tiffany.

“Fan-” Belum selesai aku menyebut namanya, tubuh tiffany telah lebih dulu merosot jatuh. Tiffany pingsan.

“Fany-ah. Fany-ah ireona!. Tiffany… Hwang Minyoung!.” Seruku sambil menenpuk- nepuk lembut pipinya berharap dia terbangun atau setidaknya memberikan sedikit reaksi. Tapi tak ada hasil, tubuh tiffany tetap diam.

Aku merogoh sakuku untuk mengambil ponselku disana. Segera kucari nomor salah satu member snsd dan menghubunginya.

“yeoboseyo, hae oppa.”

“Tiffany pingsan di atap gedung.”

“MWO?”

“Segera siapkan mobil di pintu masuk gedung. Aku akan  membawanya kebawah. Palli!”

Sambungan kuputuskan segera. Aku langsung membopong tubuh tiffany dan membawanya setengah berlari menuruni tangga untuk memasuki lantai atas gedung dan menuju lift untuk segera sampai di lantai dasar. Aku bahkan tak tahu siapa yang kuhubungi tadi. Yang jelas salah satu member snsd, karena nama yang kutulis saat mencari kontak itu adalah ‘snsd – ‘. Tapi menurutku itu hyoyeon. Karena abjadnya teratas di snsd.

 

Siwon pov

“Oppa, kenapa begitu terburu- buru? Syutingnya masih belum selesai.” Tanya seohyun padaku. Tentu saja aku buru- buru, barusan donghae hyung mengirimiku pesan dan mengatakan kalau tiffany pingsan.

“Tiffany pingsan.” Jawabku masih sambil mencari kunci mobilku.

“MWO? Lalu sekarang oennie bagaimana?.” Seohyun tampaknya sangat terkejut.

“ Mereka sedang membawanya ke Seoul hospital.” jawabku. Begitu menemukan kunci mobilku, aku segera berlari meninggalakn ruang ganti itu. Namun seohyun menahanku.

“Oennieku pingsan, bagaimana oppa bisa meninggalkanku?. Tunggu sebentar saja!.” Seohyun segera berlari memasuki ruang gantinya. Tak sampai satu menit seohyun keluar sambil membawa tas tangannya dan berusaha menggunakan jaketnya karena udara memang cukup dingin. Aku langsung mengambil tas seohyun agar dia lebih mudah menggunakan jaketnya. Kami setengah berlari untuk sampai di tempat aku memarkirkan mobilku.

“Oppa!” teriak yoona begitu melihatku tiba di rumah sakit. Yoona memelukku, dia sedikit terisak mungkin karena sangat mengkhawatirkan oennienya, mata member snsd yang lainpun tampak masih berkaca- kaca. Walau aku tak melepaskan pelukan yoona, tapi sesungguhnya aku sama sekali tak perduli dengannya saat ini.

“Bagaimana keadaan tiffany, hyung?” Tanyaku pada donghae hyung.

“Molla. Dokter sedang menanganinya saat ini. Kau dududklah dan tenangkan dirimu dulu.”

Tak berapa lama setelah aku duduk dan yoona serta member snsd yang lain mulai tenang, seorang dokter didampingi seorang perawat keluar dari ruang ICU tempat tiffany berada. Aku langsung berdiri dan menghampiri dokter itu. Membuat yoona yang tengah bersandar di pundakku tersentak kaget.

“Bagaimana keadaan tiffany, dok?” tanyaku cepat pada dokter itu.

“Nona hwang masih belum sadar, namun kondisinya telah jauh lebih baik.” Pernyataan dokter tadi membuat kami semua bisa sedikit bernapas lega.

“Oh, ya… siapa disni yang dapat mewakili keluarga nona hwang? Ada hal penting yang perlu saya sampaikan.” Ucap dokter itu kemudian.

“Saya saja, dok.” Jawabku  dan taeyeon serentak. Tampak beberapa member memandang bingung kearahku.

“Dengannya  dan saya saja, dok.” Jawab dongahe hyung menunjukku.

“Ne, oppa saja. Aku masih perlu menenangkan diri kurasa.” Setuju taeyeon. Donghae hyung dan taeyeon menjawab seperti itu pasti agar member snsd yang tak mengerti hubunganku dan tiffany dulu tak terlalu curiga.

“Baiklah, kalau begitu mari keruangan saya.”

 

Yoona pov

“Oppa!” teriakku begitu melihat siwon oppa tiba di rumah sakit. Aku langsung memeluknya erat, aku sedikit terisak. Ini karena aku sangat mengkhawatirkan fany oennie. Walau Siwon oppa tak melepaskan pelukanku, tapi aku merasa dia sama sekali tak perduli denganku saat ini. Namun dengan cepat, kutepis pikiranku jauh- jauh. Jika oppa tak perduli padaku, pasti dia akan langsung melepas pelukanku, bukan?. Mungkin oppa sedikit dingin karena mengkhawatirkan tiffany onnie dan pasti dia sedang sangat lelah. Aku tahu oppa dan tiffany oennie dulu cukup dekat, tampaknya mereka bersahabat baik. Namun setelah siwon oppa dan aku resmi berpacaran, mereka jadi sedikit menjauh. Mungkin karena tak ingin aku salah paham. Padahal tak mungkin aku salah paham jika kekasih dan oennieku bersahabat.

“Bagaimana keadaan tiffany, hyung?” Tanya siwon oppa pada donghae oppa.

“Molla. Dokter sedang menanganinya saat ini. Kau dududklah dan tenangkan dirimu dulu.” Jawab donghae oppa, sambil menatapku juga. Mungkin agar aku ikut duduk dan menenangkan isakan kecilku.

Tak berapa lama setelah aku serta memberku yang lain mulai tenang, seorang dokter didampingi seorang perawat keluar dari ruang ICU tempat tiffany oennie berada. Siwon oppa langsung berdiri dan menghampiri dokter itu. Membuatku yang tengah bersandar di pundaknya tersentak kaget. Spontan aku langsung duduk tegap agar tak sampai terjerembab di kursi, kemudian langsung berdiri disamping siwon oppa.

“Bagaimana keadaan tiffany, dok?” tanya siwon oppa cepat pada dokter itu. Oppa tampak sangat khawatir saat ini, aku tak pernah melihatnya begini sebelumnya.

“Nona hwang masih belum sadar, namun kondisinya telah jauh lebih baik.” Pernyataan dokter tadi membuat kami semua bisa sedikit bernapas lega.

“Oh, ya… siapa disni yang dapat mewakili keluarga nona hwang? Ada hal penting yang perlu saya sampaikan.” Ucap dokter itu kemudian.

“Saya saja, dok.” Jawab taeyeon oennie dan siwon oppa serentak. Aku memandang bingung kearah siwon oppa, bahkan beberapa member yang lain juga.

“Dengannya dan saya saja, dok.” Jawab donghae oppa seraya menunjuk siwon oppa sambil tersenyum.

“Ne, oppa saja. Aku masih perlu menenangkan diri kurasa.” Setuju taeyeon oennie. Entahlah, walau sudah mendengar jawaban donghae oppa dan taeyeon oennie, tapi aku masih merasa aneh dengan siwon oppa.

“Baiklah, kalau begitu mari keruangan saya.” Ucap dokter itu kemudian. Siwon oppa langsung berjalan mengikuti arah dokter itu. Dia sama sekali tak teringat untuk berpamitan padaku. Bahkan donghae oppa saja sempat berpamitan pada kami walau hanya dengan anggukan kepala. Donghae oppa juga sempat tersenyum dan menepuk bahuku walau sambil berjalan. Siwon oppa benar- benar sulit kupahami hari ini.

Continued….

53 thoughts on “BECAUSE OF LOVE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s