You are Mine

You're Mine

Title : You are Mine

Author : @janisone

Main cast : Choi Si won – Tiffany Hwang

Support Cast : Im Yoona –  Lee Dong Hae – Jessica Jung

Genre : Married Life

Lenght : Oneshoot

Rating : 16

                        Disclaimer : Semua cast milik Allah dan SM Entertaiment.Cerita ini murni milikku.

Happy reading!

“Aku pulang…”

Pria tampan berusia 28 tahun itu memasuki bangunan megah yang dulu turut menghiasi masa kecilnya.Rumah yang kini hanya ditempati orang tuanya dengan beberapa pelayan itu tampak masih sama walau sudah beberapa tahun terlewati.

Seorang wanita paruh baya dengan seragamnya menyambut kedatangan pria berlesung pipi itu.

“Selamat datang, Tuan muda…”sambutnya ramah seraya membungkuk sopan sebagai tanda hormat.Layaknya sikap yang patut ia lakukan pada majikannya.

“Ahjumma, sudah berapa kali ku katakan.Panggil aku seperti Oemma dan yang lain memanggilku.Bukankah aku sudah menganggapmu seperti Oemmaku sendiri…”

Wanita paruh baya itu tersenyum lembut.Dia sudah sering mendengar itu.Majikan mudanya itu selalu menyuruhnya untuk bersikap biasa saja.Tapi dia selalu tidak mendengarkannya karena merasa tidak pantas.Dia hanya seorang pelayan yang mencari makan dengan mengurus rumah megah ini dan majikannya yang sudah dewasa itu sejak ia masih bayi.

“Ahjumma…”

“Ne, Si won-ah.Masuklah…”Ahjumma itu tersenyum dan mengantarkan Si won sampai ke meja makan.Dimana disana sudah duduk dua wanita yang sangat dicintainya.

“Aku datang Oemma, Halmoni…”salam Si won sopan.Dua wanita itu tersenyum.Mempersilahkan pewaris tunggal dari perusahaan Hyundai Group itu duduk untuk bersantap siang bersama.

***Sifany***

Makan siang kali ini terlihat berbeda bagi Si won.Tidak biasanya dua wanita itu hanya diam.Bahkan ketika Oemmanya menelfon tadi dia sudah bisa menebak apa yang akan mereka bahas.

Calon istri.Topik ini adalah topik yang selalu dibahas Oemma dan Halmoninya.Setiap mereka memintanya untuk datang mereka selalu menceritakan profil seorang wanita yang telah mereka pilih.Tapi sejauh ini Si won selalu menolak apa yang ditawarkan padanya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan para wanita itu.Semuanya cantik, pintar dan berasal dari keluarga yang terhormat.Hanya saja dia merasa belum ada yang cocok untuknya.

“Jadi, kalian menyerah?….”tanya Si won menggoda.Dua wanita anggun itu menggeleng kompak.Membuat Si won mengangkat sebelah alisnya.

“Kami masih punya satu lagi.Dan kami yakin, kau tidak akan menolaknya…”ucap Halmoni Si won yakin.Si won meletakkan sendoknya untuk menatap keduanya.

“Benarkah?…”respon Si won.Sebenarnya dia bukannya tertarik.Lebih kepada menghargai keduanya.Walau bagaimana pun dua orang yang kini dihadapannya adalah orang yang paling berjasa dalam hidupnya.

“Ne, kakekmu sendiri yang memilihnya…”

Si won tersenyum mendapat jawaban dari Oemmanya.Tidak biasanya kakeknya ikut campur dalam urusan pribadinya.

“Dia anak dari rekan bisnis keluarga kita.Kakekmu mengenalnya dengan baik, kami juga sudah bertemu beberapa kali dengannya.Dia gadis yang cantik, baik, pintar, sopan, menghormati orang tua dan dari garis keturunan yang terhormat…”

Si won hanya mengangguk menanggapi pujian sang Oemma yang menurutnya agak berlebihan itu.

“Kau tahu, mata kakekmu tidak akan salah dalam menilai wanita.Kami sudah tahu seperti apa kepribadiannya, garis keturunannya dan setiap inci tentang tubuhnya.Dia memiliki kecerdasan yang tinggi, hati yang baik juga lembut dan tidak memiliki riwayat penyakit yang serius.Dia satu-satunya gadis yang cocok mendampingimu serta melahirkan keturunan keluarga Choi.Sempurna!”

Si won lagi-lagi hanya bisa tersenyum melihat neneknya yang begitu bersemangat.

“Tapi sepertinya aku belum berencana untuk menikah….”

“Mworagu?!”pekik keduanya tak terima.

“Pokoknya tidak bisa.Tidak ada penolakan bagi gadis sepertinya.Astaga Si won-ah, mendengar profilnya saja para pria diluar sana akan langsung menerimanya tanpa harus berpikir ulang…”gemas Oemma Si won.

“Kami yang perempuan saja jatuh cinta padanya, apalagi pria sepertimu…”tambah Halmoni.

“Begitukah? Siapa namanya?…”Si won kembali menanggapi sebelum keduanya makin emosi.

“Tiffany…”

Si won mengangkat kepalanya yang baru saja menunduk karena berkonsentrasi dengan makanannya.Gadis itu bernama Tiffany.Tidakkah itu nama asing di Korea ini? Saat dia kulaih di Amerika dulu saja, dua orang ini hampir tiap hari menelfonnya agar tidak mendekati gadis asing.Bahkan jika gadis Amerika itu mendekat jangan sekali-kali memberi mereka jalan.Jika mereka mendekat satu langkah maka menjauhlah seribu langkah.

“Tiffany?…”ulangnya.

“Ne, dia lahir di Amerika dengan nama Stephany Hwang.Nama Koreanya Hwang Mi Young, tapi dia biasa dipanggil dengan nama Tiffany…”terang Oemma Si won lagi.

“Bukankah kalian tidak menyukai gadis asing?…”tanya Si won lagi.Dua wanita itu saling pandang dan tersenyum.

“Dia berbeda…”

Si won tersenyum mengingat obrolan yang terjadi antara dirinya, Oemma serta Halmoninya 3 bulan lalu.Diakuinya kalau Tiffany berbeda.Meski dia lahir di Amerika tetap saja dia memiliki darah Korea sebab Oemmanya orang Korea.Selain itu yang membuatnya berbeda adalah mampu membuat seorang Choi Si won tunduk dan bertekuk lutut padanya.Hal yang selama  ini tidak bisa dilakukan oleh siapapun.

Si won mengetuk-ngetuk jarinya dikemudi mobil.Sesekali dia mendongak.Berharap lampu merah itu akan segera berganti hijau.Tiga hari ini dia berada di pulau Jeju untuk mengurus beberapa pekerjaannya.Dan itu artinya 3 hari ini dia tidak bertemu dengan sang istri tercinta yang sudah mendampinginya selama dua bulan terakhir.Siapa lagi jika bukan Tiffany.

Pria tampan itu tersenyum lega.Dengan cepat dia menginjak pedal gas menuju sebuah tempat dijantung kota Seoul.

***Sifany***

Meski ruangan yang dipakai untuk sebuah pesta resepsi pernikahan itu sangat ramai oleh tamu undangan tapi, itu bukanlah hal yang menyulitkan Si won untuk menemukan yang ia cari.Seperti sudah terprogram diotaknya, matanya langsung menangkap sosok wanita dengan balutan mini dress hitam yang tampak melekat sempurna ditubuh indahnya.

Si won tersenyum kecut saat menyadari kalau wanita itu tidak sendiri.Mungkin akan baik-baik saja jika wanita itu tengah bersama teman-temannya atau siapapun asal tidak pria itu.Pria yang merupakan mantan kekasih Tiffany.

Si won rasanya ingin meledak saat pria itu membisikkan sesuatu ketelinga Tiffany.Dan parahnya lagi wanita itu malah tertawa seyara memukul pelan dada sang namja.Si won tersenyum sinis.Bagus, wanita ini benar-benar membuatnya gila.

“Sepertinya aku harus pergi sekarang…”ucap pria itu saat menyadari kehadiran Si won tepat dibelakang Tiffany.

“Waeyo Oppa, temani aku saja.Oppa tahu, aku tidak mengenal siapapun disini…”pinta Tiffany.Memang benar dia tidak mengenal siapapun disini selain Dong hae, pria yang bersamanya itu.Tiffany memenuhi undangan ini hanya untuk menggantikan Si won.Awalnya dia juga ingin datang bersama sahabatnya tapi didetik terakhir orang itu malah ada urusan mendadak.Untung saja dia bertemu Dong hae, kalau tidak dia bisa mati bosan ditempat seramai ini.

“Mianhe Fany-ah, tapi aku benar-benar harus pergi.Jaga dirimu…”Tiffany hanya diam saat Dong hae tersenyum dan menepuk pundaknya pelan.Pria itu pergi meninggalkannya tanpa menoleh lagi.

“Jadi lebih baik ditemani mantan kekasih dari pada suami sendiri?….”Tiffany dengan cepat berbalik.Senyuman manis terukir diwajah cantiknya.Bahagia melihat pria itu ada disini.

“Si won Oppa…”Tiffany mendekat untuk memeluk suaminya.Si won tersenyum saat wanita itu membenamkan kepalanya pada dada bidangnya.

“Bogoshippo…”ucap Tiffany pelan.Mengeratkan pelukannya yang dibalas dengan hangat oleh Si won.

“Kita pulang, sudah cukup waktumu untuk bersama mantan kekasih…”

***Sifany***

Tiffany keluar dari kamar mandi setelah mengganti gaun pestanya dengan gaun tidur.Dia baru saja akan naik ke ranjang ketika mendengar suara pintu terbuka.Si won masuk ke kamar dengan semangkuk air hangat dan handuk kecil ditangannya.Tiffany menyerngit, apa suaminya demam  dan butuh dikompres?

“Kau demam, Oppa?…”tanya Tiffany mendekat.Bukannya menjawab Si won malah langsung menarik tangan Tiffany dan mendudukkannya diranjang.

“Buka gaun tidurmu…”

“Ne?…”kaget Tiffany.Tak mau menunggu lama Si won langsung menarik tali gaun tidur Tiffany.Membuka bagian atas gaun itu hingga terlihat bahu Tiffany yang mulus.

Tiffany diam saja saat Si won mulai memasukkan handuk kecil itu ke dalam air.Setelah memerasnya, Si won langsung membersihkan bagian bahu dan telapak tangan Tiffany.Dia melakukannya dengan lembut dan hati-hati.Seolah-olah ingin membersihkan bagian itu dari kotoran atau apapun yang tidak dia suka.

“Yang mana lagi?…”

“Ne?…”tanya Tiffany yang memang masih belum mengerti tentang apa sebenarnya yang dilakukan suaminya itu.

“Bagian mana lagi yang disentuh namja itu.Kau tahu aku sangat benci jika apa yang sudah menjadi milikku disentuh orang lain?….”ucap Si won sedikit marah.Tiffany tersenyum.Astaga, kapan suaminya ini akan berubah.Sifat cemburunya memang sangat kekanak-kanakan.

“Apa suamimu baru membuat sebuah lelucon lalu kau tersenyum?…”Tiffany dengan cepat merubah raut wajahnya.Takut pria ini benar-benar marah nantinya.

Si won kembali merendam handuk itu lalu memerasnya.Kali ini dia membersihkan bagian wajah Tiffany.Terutama bagian pipi dan telinga.Dia mengingat dengan jelas bahwa pria itu sempat membisikkan sesuatu ke telinga Tiffany.Wanitanya ini.

“Aku tidak suka wangi parfum namja itu menempel ditubuhmu…”ucap Si won lagi.Tiffany hanya tersenyum singkat.

Si won menghentikan aktivitasnya untuk menatap wajah cantik istrinya.Lebih tepatnya bibir tipis nan menggoda dengan olesan lipglos pink yang membuatnya tampak berkilauan itu.

“Apa saat menjadi kekasih Dong hae dulu, dia pernah menciummu?…”

“Kenapa bertanya tentang itu.Siapapun pasti bisa menebak apa yang dilakukan pasangan kekasih.Apalagi kalau mereka sama-sama sudah dewasa…”

“Jadi pernah?…”tanya Si won memastikan.

“Anni…”Si won menyerngit.

“Walau itu terjadi pada pasangan kekasih lain tapi itu tidak terjadi pada kami.Dong hae Oppa sangat menghormati wanita dan selalu bersikap agar wanita itu tetap nyaman saat bersamanya…”

“Oh, jadi istri Choi Si won begitu mengenal seperti apa sosok seorang Lee Dong hae?…”Tiffany menghela nafas dan menatap suaminya.

“Oppa, bisakah kita lanjutkan ini kapan-kapan? Aku lelah…”Si won menghela nafas dan kembali merapikan letak gaun tidur Tiffany seperti semula.

“Tidurlah…”Si won mengecup puncak kepala Tiffany.Setelah itu dia bangkit untuk membawa handuk beserta mangkuknya keluar.

Tiffany berbaring diranjang saat pintu tertutup.Tiga bulan mengenal Si won sangat cukup baginya untuk mengenal seperti  apa sosok pria itu.Si won adalah pria yang sangat sempurna.Dia memiliki semuanya, wajah tampan, tubuh atletis, otak cerdas, tajir dan karir yang cemerlang.

Sebagai seorang suami, Si won adalah sosok suami yang sangat baik, perhatian dan bertanggung jawab.Siapapun pasti bahagia diperlakukan seperti itu begitu pula dengan dirinya.Walau sifat cemburunya sangat berlebihan tapi Tiffany menyukainya.Setidaknya, pria itu sangat mencintainya, bukan?

***Sifany***

Si won meletakkan cangkir coffee yang baru ia teguk.Matanya beralih pada wanita cantik yang sibuk dengan tugas paginya.Menyiapkan sarapan.Si won tersenyum memperhatikan Tiffany yang sangat fokus pada aktivitasnya.

Tiffany Hwang.Si won tidak mengerti apa yang dimiliki wanita itu hingga mampu membuat seorang Choi Si won yang awalnya dingin dan cuek itu bertekuk lutut.Si won yang dulunya tidak peduli dengan orang lain mendadak sangat perhatian pada Tiffany.Si won yang dulunya tipe workaholic, dimana perusahaan dan pekerjaan adalah segala-galanya, yang lebih suka menghabiskan waktunya dikantor dan didepan komputer.Tapi setelah bertemu dengan Tiffany semuanya berubah.Dia akan dengan senang hati meninggalkan pekerjaannya jika Tiffany yang minta.

Ya, Si won sangat salut padanya.Wanita pertama yang membuatnya takluk dan seperti orang gila.Si won sangat bersyukur pada Tuhan atas apa yang sudah dia miliki sekarang terutama Tiffany.Dia juga sangat berterima kasih pada keluarga besarnya yang sudah mempertemukannya dengan Tiffany.Awalnya Si won memang sempat menolak perjodohan itu.Tapi untung saja dia menerima undangan makan malam dari keluarga Tiffany.Dan saat itulah Si won jatuh cinta pada pandangan pertama.Si won seperti terkena sihir saat Tiffany menunjukkan eye-smilenya yang memikat.

Si won tersenyum simpul saat mengingat hal itu.Untung saja Tiffany juga mencintainya.Kalau tidak dia bisa gila.

Suara mangkuk yang beradu dengan kaca pelapis meja makan membuat Si won tersadar dari lamunannya.Semua makanan sudah tertata dimeja makan dan siap disantap.

“Makanlah, Oppa…”Tiffany mempersilahkan.

“Hm, gumawo…”Si won mengambil sendok untuk mencoba supnya.Rasanya? Tidak perlu ditanya.Kemampuan dapurnya sudah sangat mumpuni.Si won dengar dari Oemma dan Halmoninya, Tiffany memang selalu menyiapkan keperluannya sendiri dari dulu.Itulah kenapa dia sangat terampil dalam mengurus pekerjaan rumah.

“Hm?…”Tiffany menyerngit saat Si won berusaha untuk menyuapinya.Dia tersenyum lalu mendorong tangan Si won pelan.

“Aku sudah besar Oppa, jangan memperlakukanku seperti anak kecil.Biar aku saja yang menyuapi Oppa.Aaa…”Tiffany membuka mulutnya seraya tangannya sudah siap dengan sendok berisi nasi.

“Jadi aku yang anak kecil disini?…”tanya Si won sebelum akhirnya membuka mulutnya dan membiarkan Tiffany menyuapinya sampai selesai.

***Sifany***

Tiffany mengantar Si won yang akan berangkat ke kantor sampai diteras rumah.Sebelum masuk ke mobil, seperti biasa Tiffany akan merapikan dasi dan jas suaminya terlebih dahulu.Dan jika mereka dalam posisi sedekat ini, Tiffany akan merasa sangat gugup.Apalagi sekarang Si won memeluk pinggangnya dan tak mau berhenti tersenyum memandangi wajahnya.

“Kau tahu kenapa matahari bersinar sangat cerah pagi ini?…”Si won memulai gombalannya.

“Karena menurut prakiraan cuaca hari ini tidak ada badai atau hujan…”jawab Tiffany sekenanya.Si won terkekeh geli.Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Tiffany hingga hidung mereka bersentuhan.

“Anni.Itu karena istriku sangat cantik mengalahkan dewi…”

`Blush`

Ucapan Si won  berhasil membuat pipi Tiffany bersemu merah.Meski kalimat itu terdengar biasa-biasa saja tapi mendengarnya langsung dari Si won entah kenapa membuatnya begitu senang dan malu.

“Kau jadi ke butik hari ini?…”

“Ne, aku sudah lama tidak kesana.Aku juga ingin bertemu Jessica…”

“Kita berangkat bersama saja.Aku akan mengantarmu…”Tiffany menggeleng pelan lalu menyerahkan tas kerja milik Si won yang dari tadi ia pegang.

Si won membuka pintu mobilnya.Namun belum sempat ia masuk Si won kembali ke tempat Tiffany.

“Oh, kenapa masih disini?….”heran Tiffany karena Si won masih berdiri dihadapannya.

Si won tersenyum.Ditariknya wanita itu kedalam dekapannya.

“Tidakkah menurutmu aku melupakan sesuatu?…”tanya Si won, Tiffany menyerngit.

“Kau pikir aku akan pergi begitu saja.Hari ini kau bangun tanpa membangunkanku dan aku kehilangan morning kissku.Sekarang, aku menagihnya…”Tiffany tersenyum.Dia berjinjit untuk menjangkau Si won yang lebih tinggi darinya.

Cup

Bibir lembut Tiffany menyentuh pipi Si won.Sangat singkat hingga Si won hampir tidak merasakannya.

“Hanya itu?…”tanya Si won.Sedikit tidak terima pastinya.Tiffany tersenyum dan segera menggandeng lengan Si won untuk mengantarnya ke mobil.

“Hati-hatilah saat menyetir, Oppa…”ucap Tiffany setelah Si won masuk ke mobilnya.

“Waeyo?…”tanya Tiffany saat melihat Si won memperhatikannya dengan wajah berkerut.

“Sepertinya ada sesuatu diwajahmu…”

“Ne? Oedi?…”tanya Tiffany meraba sekitar pipi dan matanya.

“Bukan disitu, kemarilah…”

Tiffany menunduk.Mendekatkan wajahnya ke jendela mobil Si won yang terbuka.

“Disini…”Si won meraih dagu Tiffany.Menariknya sedikit hingga bibirnya menyentuh bibir tipis Tiffany.

Cup!

Si won yang awalnya hanya ingin mengecup pun tiba-tiba berubah.Dia ingin merasakan bibir manis itu lebih lama dan dalam.

“Akh…”Si won melepas ciumannya saat Tiffany mencubit kecil lengannya.Wajahnya terlihat kecewa karena ia belum selesai dengan apa yang tengah ia lakukan.

“Jangan terlalu rakus, Tuan Choi…”ucap Tiffany menggoda.Pria itu hanya berdecak seraya tersenyum.

“Itu transfer energy…”

“Memangnya aku seorang vampire…”

“Aku serius, Nyonya Choi…”ucap Si won menatap mata indah itu.

“Arra…”Tiffany kembali mencondongkan tubuhnya.

“Berapa banyak lagi yang harusku transfer…”tanyanya manis.Si won mengetuk dagunya seraya berpikir.Belum sempat ia menjawab Tiffany memberinya ciuman kilat dan segera menjauh.

“Hati-hatilah menyetir, Oppa…”Wanita itu melambaikan tangannya.Si won tersenyum dan mulai memasang seatbeltnya.

“Ingat, jangan bertemu pria manapun, termasuk Lee Dong hae…”

“Uhm? apa aku harus mengusirnya jika dia yang datang padaku?…”Tiffany tersenyum saat pria itu menatapnya tajam.

“Kau hampir terlambat, Oppa….”Tiffany mengingatkan.Si won melirik jamnya.Memang benar, sekarang hampir jam 8.

“Baiklah, aku pergi.Berhati-hatilah dan kalau ada apa-apa segera hubungi aku bla…bla…bla…”Tiffany menghela nafas.Kapan pria itu akan berangkat.

***Sifany***

Tiffany masuk ke sebuah butik yang menjual berbagai pakaian mewah dan mahal.Banyak sekali pakaian terpajang bersama dengan patung manekin diberbagai tempat.Tepat sebelum hari pernikahannya dia juga menjadi bagian dari butik ini sebab butik ini sendiri dia dirikan bersama sahabatnya,  Yoona dan Jessica.

“YA! Kenapa kalian meletakkan gaun itu disana! Kalian tahu itu rancangan terbaru untuk musim semi nanti? Aish, letakkan dietalase depan!”

Tiffany tersenyum melihat wanita cantik blasteran Korea-Amerika itu sibuk memarahi pegawainya.Dia dulu pindah ke Korea saat dia berumur 11 tahun karena orang tuanya memutuskan untuk pindah dan menggembangkan perusahaan mereka yang sudah sukses di Amerika ke negeri ginseng ini.Di Negara asing dengan bahasa yang berbeda tentu menyulitkan Tiffany untuk memiliki teman baru.Untunglah saat itu dia bertemu dengan Jessica yang juga pindahan dari California.Dengan bahasa inggris yang sama mereka bisa berkomunikasi dengan baik dan berteman akrab sampai sekarang.

“Apa aku mengganggu?…”wanita tadi menoleh.Wajah jutek yang tadi memarahi pegawainya pun berubah menjadi senyum bahagia saat melihat siapa orang yang menyapanya.

“Stephany!”

Jessica memeluk sahabatnya itu dan dibalas dengan hangat oleh Tiffany.Dua minggu merupakan waktu yang lama bagi keduanya untuk tidak bertemu.Karena mereka sama-sama telah menikah dan Jessica memiliki pekerjaan yang sangat menyita waktunya jadi mereka memang jarang sekali punya waktu untuk bersama.

***Sifany***

“Mau minum apa, Tiff?…” Jessica membuka kulkasnya.Mencoba melihat apa saja yang ada didalam sana.

“Apa saja, asal kau tidak menaruh racun didalamnya…”canda Tiffany disambut tawa Jessica.Tak lama Jessica datang dengan dua kaleng minuman isotonik ditangannya.

“Si won Oppa akan membunuhku jika itu terjadi.Kurasa dia terlalu over protective padamu.Kau tidak boleh berkerja, hanya mengurus rumah dan dirinya.Kau juga tidak boleh keluar jika tidak bersamanya sampai-sampai aku sulit bertemu denganmu.Dan keberuntunganku untuk melihatmu tanpanya hari ini…”

“Aniyo, Si won Oppa tidak seperti itu.Hanya saja terkadang sedikit menyebalkan…” Tiffany tersenyum mengingat bagaimana sifat Si won.

Ya, Si won orangnya juga sangat possesif.Dia tidak akan membiarkan pria manapun dekat, bicara, memuji kecantikannya apalagi jika sampai menyentuhnya.Dulu pernah Si won dan Tiffany datang ke sebuah pesta undangan partner bisnis Si won.Si won langsung membatalkan kerja sama mereka karena pria tersebut memuji kecantikan Tiffany dan bahkan sampai cipika-cipiki layaknya teman dekat.Tiffany sebenarnya sedikit terganggu dengan sikap suaminya itu, tapi bukankah itu tanda sayang yang berlebih?

Jessica meneguk minumannya seraya tersenyum.

“Masalah aku tidak bekerja, kau tahu sendirikan itu keputusanku.Aku mau
fokus mengurus rumah agar aku lebih mengenalnya…”Jessica mengangguk pasti.

“Jadi, sekarang kau benar-benar mencintainya?…”Tiffany terdiam saat pertanyaan itu diajukan Jessica.

“Ehm…sepertinya iya…”jawab Tiffany malu.Jessica tersenyum, ikut bahagia pastinya.

“Bagaimana kabar Dong hae Oppa sekarang?…”

“Dia baik, kami sempat bertemu saat pesta beberapa waktu lalu…”

“Jjinja? Woah, aku penasaran seperti apa reaksi suamimu…”Tiffany tersenyum saat mengingatnya.

“Yang jelas Si won Oppa membersihkan tubuhku dengan air hangat…”Jessica tertawa dibuatnya.

“Mian aku tidak bisa menemanimu karena mendadak orang tuaku berkunjung…”Sesal Jessica.Ya, dialah orang yang membatalkan janji didetik-detik terakhir itu.

“Gwenchana, tidak perlu dipikirkan.Oh ya, apa Yoona belum kembali dari Paris?…”Tiffany bertanya.Sahabatnya itu beberapa hari yang lalu berangkat ke Paris untuk menghadiri undangan fashion show.

“Eventnya selesai kemarin, mungkin dia akan tiba besok.Kau sibuk?…”Tiffany menggeleng.Dia sudah mendapat ijin dari Si won untuk keluar hari ini meski dengan segala cara.Jadi dia tidak akan melewatkannya.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu…”

“Aku ada waktu sampai siang.Kajja, kita sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama…”Tiffany mengangguk setuju.Keduanya pun bangkit dan menyambar tas masing-masing.

“Aku juga ingin ditemani kesuatu tempat….”Jessica menyerngit.

“Kemana?….”

“Rumah sakit….”

***Sifany***

Si won mendapatkan pemandangan yang berbeda dari biasanya.Beberapa menit yang lalu Oemmanya menelfon.Memintanya datang untuk membicarakan sesuatu yang penting.Tapi sudah lima menit berlalu.Dua perempuan itu hanya menatapnya dengan pandangan tak suka.Seolah-olah dia sudah berbuat sebuah kesalahan besar.

“Dia pasti tidak melakukan tugasnya dengan baik…”cibir sang nenek.Si won tersenyum melihat pertama kalinya sang nenek bersikap seperti ini.

“Aku memang tidak pernah lembur selama pernikahanku.Jika ada pekerjaan yang belum selesai aku akan membawanya pulang dan mengerjakannya dirumah karena aku tidak bisa meninggalkan Tiffany sendiri….”

“Lihatlah, dia bahkan membawa pekerjaan kerumah….”kini giliran Oemma Si won yang berkomentar sinis.Lagi-lagi Si won hanya tersenyum.Ada apa dengan dua orang ini?

“Ada apa sebenarnya, Oemma, Halmoni…”tanya Si won menatap keduanya.Apa mereka cemburu karena Si won jarang berkunjung  selama pernikahannya?

“Kau tahu sudah berapa usia pernikahanmu dan Tiffany?…”

“Dua bulan 7 hari…”jawab Si won dengan pertanyaan sang Oemma.Ya, satu bulan mereka saling mengenal sebelum memutuskan untuk menikah.Lagi pula, dia tidak akan lupa hari dimana dia mengucapkan janji suci itu dihadapan Tuhan.

“Apakah Tiffany sudah menunjukkan tanda-tanda?…”

“Mwo?..”

“Seperti mual atau mengidam?….”

“Ne? Hahaha…”Si won tak kuasa menahan tawanya.Astaga, jadi ini alasan mereka memanggilnya?

“Kau pikir ini lucu, ini serius…”Si won akhirnya berhenti untuk tertawa setelah sang nenek menegurnya.

“Sepertinya Tiffany baik-baik saja, dia tidak mengalami hal yang Oemma dan Halmoni sebutkan…”

“Mwo?..”tanya keduanya kompak.

“Kesalahan pasti terjadi padamu.Tidak mungkin Tiffany karena kami sudah mengeceknya sebelum pernikahan kalian…”

“Halmoni, kau meragukanku? Kenapa menuduh cucumu sendiri.Lagi pula pernikahan kami masih baru, mungkin memang belum saatnya…”

“Kami tidak bisa menunggu lagi.Pokoknya jika sampai bulan depan Tiffany belum menunjukkan gejala apapun, kau harus periksa ke dokter…”

Si won hanya menggeleng.Lihatlah, keluarganya begitu menyayangi Tiffany hingga semua yang salah pasti dilimpahkan padanya.Si won berani bertaruh, jika dia dan Tiffany bertengkar tidak akan ada seorang pun yang akan berada dipihaknya.

***Sifany***

Tiffany membuka amplop cokelat yang tadi siang ia terima dari dokter.Untuk kesekian kalinya ia tersenyum.Amat bahagia saat mengetahui ada janin yang tengah berkembang dalam rahimnya.

Tiffany melirik ruang kerja Si won.Pintu itu masih tertutup rapat.Mungkin Si won masih sibuk.Tiffany memang belum menceritakan perihal kehamilannya ini karena mereka masih belum sempat bicara banyak selain hanya sapaan hangat seperti biasa.

Drrtt Drrtt Drrtt

Tiffany meraih ponselnya yang bergetar.Dengan cepat diangkatnya telfon itu saat menyadari siapa yang menelfon.

“Ne, Oppa…”jawabnya lembut.

“Kenapa masih belum tidur, menungguku?…”

Tiffany tersenyum seraya melihat TV layar datar yang menemaninya diruang keluarga.

“Aniyo, siapa bilang.Aku hanya tidak bisa tidur saja…”

“Tidak bisa tidur jika tidak bersandar di dada bidang nan hangat suamimu ini?…”Senyum manis kembali terukir diwajah cantiknya.Sedikit banyak ucapan Si won ada benarnya.

“Kemarilah…”

“Ne?…”

“Perlu ku ulangi, Nyonya Choi?…”

***Sifany***

Suara decitan pintu yang terbuka mengalihkan perhatian Si won dari komputernya.Tampak olehnya sosok Tiffany muncul dan masuk.

“Kemarilah…”

Tiffany duduk dipangkuan Si won.Tangan kanan pria itu masih setia memegang mouse sementara tangan kirinya memeluk perut Tiffany.Tiffany melirik tangan Si won yang berada diperutnya.Senyumnya kembali mengembang.

Si won yang masih sibuk dengan komputernya menoleh ketika Tiffany bersandar didadanya dengan mata terpejam.

“Kau ingin kita tidur sekarang? Aku bisa memeriksa ini kapan-kapan….”

“Aniyo, Oppa…”Tiffany mendongak untuk menatap wajah Si won.Dia ingin mengatakan tentang kehamilannya tapi entah kenapa dia merasa sangat malu.

“Oppa…Eum…sebenarnya…ada yang ingin aku katakan…padamu…”

Tiffany yang berbicara dengan muka memerah karena malu itu membuat Si won tersenyum.Wajah itu tampak sangat manis dan lucu baginya.

“Apa?….”tanya Si won antusias.

“Eum….”

Tiffany menggaruk tengkuknya.Dia benar-benar tidak punya keberanian untuk mengatakannya.Padahal inikan berita bahagia.

“Na….”

“Hm?….”Si won masih menunggu.

“Naega….”

“Ah, oettokke….”

Si won tertawa ketika Tiffany memeluknya.Menyembunyikan wajahnya yang memerah didada Si won.

“Astaga, Tiffany.Apa sebenarnya yang ingin kau katakan.Kau ingin aku mengambil cuti untuk liburan?…”Tiffany menggeleng.

“Lalu?…..”

Tiffany masih diam.Setelah menarik nafas dan mengumpulkan keberaniannya, dia mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ditelinga Si won.Seketika Si won terdiam.Meski raganya tidak bereaksi apa-apa tapi hatinya terasa ingin meledak saking bahagianya.Bagaimana tidak, dia akan segera menjadi seorang Ayah dari buah cintanya dan Tiffany.

“Jjeongmal?….”Si won menatap mata indah dihadapannya.Anggukan dan eye-smile itu seolah memberinya jawaban pasti.Jelas terlihat dari wajah Si won betapa bahagianya ia sekarang.

“Aku sudah memeriksanya ke dokter…”

“Mwo? Kenapa tidak minta aku untuk menemanimu.Aish, kau membuatku seperti Appa yang buruk…”Si won mengelus perut rata Tiffany.

“Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu, Oppa.Lagi pula, aku tadi ditemani oleh Jessica…”

“Mana mungkin hal seperti ini bisa disebut mengganggu.Kau tahu, tadi Oemma dan Halmoni memanggilku.Mereka marah karena mereka mengira aku tidak melakukan tugasku sebagai suami dengan baik.Kau mau mendengar ancaman mereka, jika sampai bulan depan kau tidak menunjukkan gejala apa-apa, aku disuruh untuk memeriksakan kesehatanku.Tidakkah mereka keterlaluan?….”Si won tertawa sendiri mengingat obrolannya bersama Oemma dan Halmoninya tadi siang.

Si won menggenggam tangan Tiffany.Ditatapnya mata cokelat itu lembut.Dia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata betapa bersyukurnya dia memiliki Tiffany.

“Kau tahu satu kata yang ku ucapkan setiap detiknya?…”Tiffany hanya diam.

“Gumawoyo…”ucap Si won tulus.Tiffany tersenyum.Dipeluknya Si won dengan mata yang berkaca-kaca.Bukan hanya Si won yang perlu berterima kasih.Lebih dari apapun Tiffany-lah yang harusnya berterima kasih karena memiliki seseorang seperti Si won disisinya.

***Sifany***

Tak butuh waktu lama.Hanya sebuah pesan singkat yang dikirim Si won, di rumah orang tuanya telah diadakan sebuah pesta dadakan.Semua keluarga berkumpul walau yang berasal dari luar kota sekalipun.Kakek Si won saja yang saat mendengar kabar itu sedang berada di Pulau Jeju langsung terbang ke Seoul.Dia mengumpulkan seluruh keluarga besarnya dan disinilah semuanya.Mereka hadir untuk mengucapkan selamat pada Si won dan Tiffany.

Si won mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.Mencari sosok wanita cantik berambut blonde yang sejak terlepas dari rangkulannya beberapa detik yang lalu raib entah kemana.

“Pasti mencari Fany Onnie…”Si won berbalik ke belakang.Dia tersenyum ketika melihat gadis dengan balutan blazer cream itu ada dihadapannya.

“Aigo, aku merindukan rusa cantik ini…”Si won memeluk gadis itu.Sang gadis yang tak lain adalah Yoona, adik sepupunya sekaligus sahabat baik Tiffany itu mendorongnya dengan pelan dan pura-pura angkuh.

“Kau yakin merindukanku, Oppa? Berhenti membual jika setiap waktu kau memuja Fany Onnie…”

Yoona duduk di sofa, Si won ikut duduk disebelahnya seraya memberikan segelas minuman.

“Oppa, kau kejam…”ucap Yoona usai meneguk jusnya.

“Waeyo, semua orang datang memberiku selamat, kau malah mengatai kakak sepupumu sendiri.Ya, adik macam apa kau ini…”

Si won menyentil kening lebar Yoona.Gadis itu meringis pelan seraya mengelus kening mulusnya yang tak bersalah.

“Kau tahu Oppa, selama Fany Onnie menikah dia jarang datang kebutik karena kau melarangnya bekerja.Aku dan Sica Onnie cukup repot mengurus butik dan pelanggan berdua.Apalagi sekarang Fany Onnie hamil, Halmoni pasti melarangnya untuk mengangkat gelas sekalipun….”

Si won tersenyum.Alasan itu murni karena tidak sanggup mengurus butik atau cemburu.

“Oh ya? Aku juga tidak akan mengizinkannya.Kalau perlu untuk berjalan pun aku akan menggendongnya…”

“Aish! Dasar budak cinta…”

Si won terkekeh dan mengacak rambut Yoona pelan.Tentu saja sang korban protes tanda tak suka.

“Apa sudah ada pria gila diluar sana yang menyukai gadis sepertimu?…”

“Mwo? Pria gila? Ya, Choi Si won.Pria yang menyukaiku adalah pria baik-baik, bukan gila, arasso?….”ucap Yoona kesal.Kekesalannya makin bertambah karena pria itu hanya sibuk menertawakannya.

“Coba saja Fany Onnie menikah dengan Dong hae Oppa, kau pasti sudah berada dirumah sakit jiwa, Si won…”Mendengar nama Dong hae disebut membuat tawa Si won terhenti.

“Yoona-ya….”

“Hm?….”Yoona menyerngit heran ketika melihat raut wajah Si won yang berubah serius.Apa dia baru mengucapkan kalimat atau kata yang salah? Seingatnya tidak.

“Bagaimana Tiffany bisa menjadi kekasih Dong hae dan berapa lama hubungan mereka…”Yoona mengalihkan pandangannya pada Iphone ditangannya.

“Untuk apa Oppa tahu…”jawab Yoona cuek.Si won hampir saja mencekik gadis itu saking kesalnya.Jawaban macam apa itu.

“Yoong…”

“Yoongie-ah…”Ucapan Si won terpotong saat tiba-tiba suara Tiffany terdengar.Yoona yang sibuk dengan Iphonenya pun meletakkan benda itu dan meninggalkannya berserta Si won.

“Yoona-ya, aku merindukanmu…”

“Nado.Onnie tahu, begitu penerbanganku selesai, aku langsung ke sini saat mendengar dari Oemma kalau Onnie ada disini.Aish, gara-gara seorang pria kita jadi jarang bertemu seperti ini.Andai dulu Onnie menikah dengan Dong hae Oppa, Aww….”

Yoona menjerit saat seseorang mendorong kepalanya dari belakang.Siapa lagi pelakunya kalau bukan Si won.

“Onnie, lihatlah, ini kekerasan dalam keluarga….”adu Yoona asal.Si won memeletkan lidahnya mengejek Yoona.

“Kekanak-kanakan!”

“Biar saja…”ucap Si won tak peduli.Dia mendekati Tiffany dan merangkul pinggang wanita itu dengan sayang.

“Kau lelah, yeobo.Bagaimana kalau kau istirahat sekarang, aku akan menemanimu…”

“Aku tidak kelelahan Oppa, aku baik-baik saja…”terang Tiffany.Tangannya terangkat untuk merapikan kerah baju dan rambut Si won.

“Tapi kau tetap harus menjaga kondisimu, jangan terlalu memaksa.Jika tidak kuat bilang saja, hm?…”

Tiffany mengangguk. Keduanya saling pandang dan melempar senyum.Senyum manis disertai pandangan yang memancarkan cinta itu membuat seseorang yang berada diantara keduanya merasa tersingkirkan.

“Cukup! Jangan berlovey dovey dihadapanku!”sungut Yoona kesal.Si won hanya mendecak kesal dengan ulah pengganggu itu.

“Dasar bocah.Sudah sana, habiskan semua makanan disini.Kau sangat suka makan, bukan?….”

“Tidak mau.Memangnya aku kesini untuk makan.Aku pinjam Fany Onnie….”Yoona menarik tangan Tiffany hingga terlepas dari Si won.Tiffany hanya menunjukkan eye-smilenya sebelum mengikuti kemana Yoona membawanya pergi.

“Ya! Hati-hati menyentuhnya!”teriak Siwon.Semua orang yang mendengar itu pun tertawa.

“Aigo, dia benar-benar menyayangi Tiffany dengan baik…”ucap Oemma Si won senang.

“Tentu saja.Jika tidak aku akan menguburnya hidup-hidup…”balas kakek Si won disambut tawa yang lain.Tentu dia akan marah karena dialah yang mencarikan Tiffany untuk Si won.

“Gomawoyo, aku sangat berterima kasih karena Si won dan kalian menjaganya dengan baik…”ungkap Appa Tiffany.

“Tidak perlu berterima kasih, Tuan Hwang.Kita keluarga jadi sudah seharusnya seperti ini…”balas Appa Si won.

“Ne, tidak perlu mengucapkan terima kasih pada kami.Cukup berterima kasih pada Tuhan karena sudah menjadikan kita sebuah keluarga.Mari, diminum…”Nenek Si won memberikan istruksi.Yang lain mengangguk setuju dan mengangkat gelas masing-masing.

***Sifany***

Sejak tadi Tiffany terus berganti posisi.Dia terlihat resah dan tidak nyaman.Diliriknya Si won yang tertidur pulas disampingnya.Sebenarnya dia tidak mau mengganggu tidur suaminya itu tapi mau bagaimana lagi.

“Oppa…”panggilnya.

“Hm…”jawab Si won dengan mata terpejam.

“Lapar…”

Si won seketika membuka matanya saat Tiffany meminta.Tidak biasanya Tiffany bersikap seperti ini.Si won sepertinya mengerti, Tiffany mengidam.

“Kau lapar? Baiklah, kau mau makan apa? Biarku siapkan….”ucap Si won sigap.

“Aku mau kue beras…”

“Ne?….”kaget Si won, dia melirik jam dinding.

“Tidak bisakah diganti? Ini sudah malam Fany-ah, tidak mungkin ada yang berjualan lagi…”ucap Si won melihat jam yang menunjukkan pukul 1 dini hari.

“Aku hanya ingin kue beras Oppa, bukan yang lain…”rengek Tiffany seperti anak kecil.Si won pun mengiyakannya mengingat ini adalah keinginan bayinya yang ada dikandungan Tiffany.

Si won bangkit dan memakai mantelnya.Tiffany ikut bangkit dan meraih mantel miliknya.

“Kenapa kau juga memakai mantel? Kau mau ikut? Aniyo, andwae, andwae!”ucap Si won pasti.

“Tapi aku ingin ikut, Oppa…”

“Diluar sangat dingin Fany-ah, kau bisa kena flu…”

“Bayi kita juga ingin ikut, Oppa…”

Si won menyerah.Dia tidak bisa membantah lagi jika Tiffany sudah membawa nama bayinya.

***Sifany***

Si won dan Tiffany sudah dua jam mengitari jalanan disekitar Myeongdong ini.Tapi tidak ada satu pun toko atau stand pedagang kaki lima yang menjual kue beras karena sudah habis mengingat sekarang sudah jam 3 pagi.Si won yang kesal karena tidak ada yang menjual kue beras pun makin kesal karena Tiffany sama sekali tidak mau istirahat dimobil.Terus saja mengikutinya.

“Bagaimana kalau kita cari besok saja…”tanya Si won, tidak ada jawaban.

“Fany-ah…”Si won menoleh.Tidak ada Tiffany disampingnya.Kemana wanita itu?

“Aish, selalu saja membuatku khawatir…”Si won kembali berbalik.Dia mengunjungi setiap warung dan toko untuk mencari istrinya tersebut.

“Gumawo, Ahjumma…”

Langkah Si won terhenti saat mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya.Si won menghampiri sebuah stand pedagang kaki lima yang diyakininya ada Tiffany didalam.

“Oh, Oppa.Aku mendapatkannya…”

Tiffany mengangkat piring kecil yang berisi kue beras itu.Si won menghela nafas.Lega mendapati Tiffany baik-baik saja.

***Sifany***

“Apa rasanya enak?…”tanya Si won melihat Tiffany yang makan dengan lahap.Wanita itu mengangguk tersenyum karena mulutnya penuh dengan makanan.

“Makanlah dengan tenang…”kata Si won memberikan segelas air putih pada Tiffany.Si won  melihat arlojinya.Sudah hampir pukul setengah empat.

“Kau sudah selesai?…”tanya Si won saat Tiffany tidak menyentuh piringnya lagi padahal isinya masih cukup banyak.

“Aku sudah tidak mau lagi…”jawab Tiffany menatap sekeliling.Matanya melihat toko yang menjual Ice cream.

“Oppa, ayo kita beli Ice cream…”ajak Tiffany.Si won melotot sempurna.

“Mwo? Ice cream? Andwae, tidak baik makan Ice cream dengan suhu dingin menusuk tulang seperti ini…”tolak Si won mentah-mentah.Tiffany mendekat dan merajuk dengan puppy-eyesnya.Berharap dengan cara ini Si won akan luluh dan memenuhi keinginannya.Berhasil.Si won membelikannya satu cup ice cream strawbery meski dengan perasaan yang mendongkol.

“Awas saja kalau kau sampai sakit gara-gara ini.Aku tidak akan mau menuruti semua keinginan anehmu lagi, arrasso?…”

Tiffany mengangguk dengan mulut yang penuh Ice cream.Si won mengacak rambut Tiffany dan tersenyum.

“Anak Appa cepatlah lahir.Appa sudah tidak tahan lagi dengan sikap Oemmamu yang seperti ini…”ucap Si won mengelus perut Tiffany yang masih rata.Wanita itu hanya tersenyum seraya menikmati ice creamnya.

***Sifany***

Si won memperbaiki letak mantelnya dipundak Tiffany.Dipandanginya wajah cantik yang sedang memeluknya dengan erat.Wanita itu tampak nyaman dan hangat dengan posisi kepalanya yang ada didada bidang Si won.Si won menyibak poni Tiffany yang menutupi sebagian mata indahnya.

“Sudah pukul 4, Fany-ah.Kita pulang sekarang?…”tanya Si won memandangi taman yang sepi, tentu saja karena tidak ada pengunjung dijam seperti ini.

“Sebentar lagi, Oppa…”pinta Tiffany dengan mata terpejam.Belum mau kehilangan kehangatan yang membuat tubuhnya hangat disuhu sedingin ini.

Si won tersenyum, memper-erat pelukannya untuk memberi kehangatan lebih pada Tiffany.

“Kau bahagia menikah denganku?…”

“Menurut Oppa?….”Tiffany balik bertanya, tetap dengan matanya yang terpejam.

“Entahlah, kau belum pernah mengatakan Saranghaeyo padaku…”

“Benarkah?…”Tiffany tersenyum, begitu pula Si won.

“Sampai saat ini aku bahagia dan tidak menyesali keputusanku untuk menikah denganmu.Kau pria baik Oppa, siapapun wanita yang hidup bersamamu pasti sangat beruntung…”

“Oppa, kau mencintaiku?…”Si won tertawa mendengar pertanyaan itu.

“Bahkan sangat…”ucap Si won pasti.

“Jangan pernah meninggalkanku, Oppa…”ucap Tiffany memper-erat pelukannya.Si won mengelus pipi mulus Tiffany dengan lembut.

“Tidak akan Fany-ah, aku akan selalu bersamamu.Menjagamu dan bayi kita…”janji Si won.

Beberapa menit berlalu.Setelah memastikan kalau Tiffany tertidur.Si won segera menggendongnya ala bride style.Wanita itu tampak sangat cantik dengan wajah polosnya yang tertidur pulas didada Si won.

***Sifany***

Cahaya matahari pagi memaksa masuk melalui jendela kamar Tiffany dan Si won.Tiffany yang merasa tidurnya terganggu pun membuka mata indahnya.Dia bangun dan menggeliat.Tubuhnya terasa pegal karena selama tidur ia terus memeluk Si won.Tiffany terdiam, mereka sudah dirumah?

Tiffany menoleh ke kanan.Dia menunduk untuk melihat wajah Si won yang tertidur pulas lebih dekat.Tiffany menyunggingkan senyum manisnya, melihat betapa tampannya wajah Si won dari dekat.

“Aku tahu kalau aku sangat tampan…”Tiffany yang terkejut dengan reflek memukul dada Si won.Sangat malu karena ketahuan menatap namja itu dari dekat.

“Kau tertangkap basah sedang menatapku, Nyonya Choi…”goda Si won.Tiffany yang tak mau berlama-lama disini pun bangkit untuk keluar karena namja itu masih saja menertawakannya.

“Aish, memangnya dia pikir itu lucu…”kesal Tiffany menutup pintu kamar.

Tiffany mendengar seperti ada orang dirumahnya.Siapa? Bukankah dia hanya tinggal berdua dengan Si won?

Tiffany melangkah menuju ruang tamu.Tampak olehnya seorang wanita sedang mengepel lantai.Apa yang wanita itu lakukan dengan rumahnya?

“Oh, Nyonya Choi, Anda sudah bangun? Selamat pagi, Nyonya…”wanita itu membungkuk kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sementara Tiffany hanya mampu melihatnya dengan pandangan penuh tanya.Apa yang dilakukan wanita itu dirumahnya.Tiffany yang ingin mengajukan berbagai pertanyaan yang ada dikepalanya tertunda saat mendengar suara dari dapur.Dengan cepat dia menuju dapur seraya memperbaiki letak ikatan tali gaun tidurnya.

Tiffany makin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.Tadi dia melihat orang asing mengepel lantai rumahnya dan sekarang ada satu orang asing lagi yang sedang asyik di dapurnya.Tiffany mendekat ke jendela karena melihat sesosok bayangan lewat.Mulutnya menganga tak percaya, ada dua orang asing lagi, yang satu menjemur pakaian dan yang satunya menyiram tanaman.

Tiffany kembali ke kamarnya dengan terburu-buru.Dia harus mengatakan semua ini pada Si won.

“Oppa, Oppa. Palli, irona. Oppa…”Tiffany mengguncang tubuh Si won agar bangun.Si won yang mendengar Tiffany begitu panik pun dengan cepat duduk dari posisinya.

“Wae? Kau kenapa? Ada yang sakit? Terjadi sesuatu pada bayi kita?…”tanya Si won bertubi-tubi.

“Aniyo, Oppa.Itu…ada orang asing dirumah kita…”

“Mwo? Nugu?…”tanya Si won khawatir, tak mau siapa pun menyakiti istri dan calon bayinya.

“Mollayo, Oppa.Mereka mengepel lantai, memakai dapurku, menjemur pakaian dan menyiram tanaman…”terangnya dengan sedih.Si won menghela nafas lega.Dia pikir ada maling atau semacamnya.

“Mereka bukan orang asing, Fany-ah.Mereka orang-orang yang akan menggantikanmu mengurus rumah…”

“Mwo? Waeyo?…”tanya Tiffany kaget.Benar-benar tidak mengerti dengan maksudnya.

“Kau harus ingat apa kata dokter, kau tidak boleh kelelahan, Fany-ah.Dokter bilang kau harus banyak beristirahat…”Si won menjelaskan.

“Kenapa Oppa tidak memberi tahuku sebelumnya?…”Tiffany melirik Si won kesal.

“Mianhe…”ucap Si won.Sebenarnya dia juga tidak berniat ingin memberi tahu karena tahu kalau Tiffany tidak akan setuju.

“Pokoknya aku tidak mau, Oppa.Aku bisa mengurus rumah ini sendiri…”

“Kau harus ingat kalau kau kini sedang mengandung, Fany-ah…”

“Lalu? Pekerjaan rumah tidak akan menyulitkanku, Oppa…”Tiffany tetap dengan pendapatnya.

“Kau harus ingat kalau dirahimmu ada mahkluk hidup, Tiffany…”

“Aku hanya melakukan pekerjaan rumah Oppa, bukan kuli bangunan…”Si won mencoba bersabar.Kenapa wanita ini banyak bicara pagi ini.Apa wanita hamil juga sangat cerewet.

“Tapi tetap saja, kau harus banyak istirahat.Lagi pula Halmoni yang mengutus mereka untuk bekerja disini…”

“Baik, terserah Oppa saja…”putus Tiffany.Dia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan keras.Si won yang melihat kemarahan Tiffany pun tidak berbuat apa-apa selain tersenyum.

***Sifany***

Si won terlihat buru-buru memasangkan kemejanya.Dia ada meeting dengan kliennya 15 menit lagi sementara dia masih belum siap.

“Fany-ah, ambilkan dasiku…”pinta Si won yang sedang mengancingkan kemejanya.Tak ada jawaban.Dia menoleh dan tampak wanita cantik itu sedang asyik mengecat kuku indahnya.Tiffany bukannya tidak mendengar tapi sengaja untuk tidak mendengar.

Si won meraih salah satu dasi dari deretan dasi yang sudah disusun dengan rapi oleh Tiffany lalu mendekat pada wanita itu.

“Fany-ah, pakaikan dasiku, aku hampir terlambat…”

“Shireo…”ucap Tiffany tanpa menoleh ke arah Si won sedikit pun.

“Bukankah ada pelayan-pelayanmu yang cantik-cantik itu? Suruh mereka saja…”suruhnya sinis.Si won tersenyum, jadi Tiffany masih marah dan sekarang bersikap cemburu seperti ini.

“Benarkah? Dilayani 4 wanita sekaligus, sepertinya menarik…”Si won menggoda, Tiffany mencibir kesal dan tak peduli.

“Mungkin nanti sepulang kerja mereka juga yang akan membukakan kemejaku…”

Tiffany menghentikan aktivitas mengecat kukunya.Andwae! Itu sama sekali tidak boleh terjadi.

***Sifany***

Si won terus tersenyum memandangi wajah cemberut yang kini sedang memasang dasinya.Meski wajah cantik itu sedang cemberut tetap saja terlihat cantik dan cute.

“Masih marah, hm?…”tanya Si won menggoda.

“Menurut Oppa?…”tanya Tiffany sembari merapikan dasi dan jas Si won.Pria itu hanya tersenyum.Ya, dia tahu Tiffany masih kesal dengan adanya beberapa pelayan dirumah mereka.

“Oppa tahu apa arti dari semua ini? Secara tidak langsung Oppa mengatakan kalau Oppa tidak mau memakai pakaian yang ku cuci lagi begitu juga memakan masakanku…”

Si won tertawa puas, bagaimana mungkin Tiffany bisa memiliki pendapat seperti ini.

Si won menarik Tiffany dalam pelukannya dan mendekap tubuh itu dengan hangat.

“Aku melakukannya untukmu, Fany-ah.Kau tahu aku sangat mencintaimu.Aku akan merasa sangat berdosa jika terjadi sesuatu yang buruk padamu juga bayi kita…”ucap Si won lembut.Tiffany tersenyum dan membalas pelukan itu.Dia sangat bahagia memiliki suami seperti Si won.Sangat baik, pengertian dan mau melakukan apapun untuknya.

***Sifany***

“Ah, segarnya…”

Tiffany keluar dari kamar mandi dan duduk didepan meja riasnya.Tubuhnya terasa sangat segar setelah mengguyurnya dengan air hangat.

Tiffany memandang wajahnya di cermin.Masih seperti biasanya.Tidak ada yang berubah darinya.Semoga saat hamil tua nanti dia juga tetap seperti ini.Tidak mengalami kenaikan berat badan yang akan membuat tubuhnya melar kemana-mana.

Tok Tok Tok

“Permisi, Nyonya…”seorang pelayan masuk ke kamar dengan segelas minuman herbal diatas nampan yang dibawanya.

Minuman herbal itu adalah minuman yang wajib diminum  Tiffany setiap pagi untuk kesehatannya juga kesehatan bayi yang ada dikandungannya.Sebenarnya Tiffany tidak suka dengan rasa minuman itu.Terbayangkan bagaimana rasanya minuman herbal yang diracik dengan cara tradisional.Dizaman modern seperti ini alangkah lebih baik meminum minuman instant yang banyak dijual di supermarket.Tapi Si won akan sangat cerewet jika dia tidak menghabiskan minuman yang diberikan orang tuanya itu.

“Gumawo, Ji eun-ah…”ucap Tiffany setelah meneguk habis minumannya.

“Ne, Nyonya…”pelayan itu membungkuk untuk pamit.

“Jjangkamannyo…”cegah Tiffany menghentikan langkah wanita muda itu.

“Kau mau kemana?…”

“Aku masih harus beres-beres, Nyonya.Lantai belum dipel dan pakaian belum dicuci.Yang lain mendapat tugas dari Tuan Choi untuk membeli kebutuhan dapur dan kebutuhan Nyonya ke supermarket…”

“Jjinja?…”tanya Tiffany senang.Pelayan itu tampak bingung dengan ekpresi yang ditunjukkan Tiffany.

“Aku harus segera ganti baju.Sudah lama sekali aku tidak melakukannya…”ucap Tiffany langsung membuka lemari dan mencari baju yang cocok untuk dipakainya pagi ini.

“Kajja…”ajak Tiffany menarik tangan pelayan itu keluar.

***Sifany***

Pelayan bernama Ji eun itu terus berusaha untuk menghentikan apa yang sedang dilakukan majikan wanitanya.Seolah tidak peduli Tiffany terus asyik dengan sapu pel yang sudah dua minggu ini tak disentuhnya karena larangan dari Si won.

“Ah, sudah selasai, rasanya menyenangkan sekali…”ucap Tiffany melangkah ke mesin cuci dan mulai memasukkan bajunya dan baju Si won beserta detergen.

“Nyonya, aku mohon hentikan ini…”Ji eun terus memohon pada Tiffany yang kini sedang  menjemur pakaian.

“Nyonya, kami bekerja untukmu, jadi Anda tidak perlu mengerjakannya lagi…”

“Memangnya kenapa? Aku sering melakukannya sebelum kalian datang ke sini…”

“Nyonya, kalau Tuan Choi tahu kami akan dipecat…”

“Jjinja?…”tanya Tiffany senang.

“Kalau begitu Si won Oppa tidak boleh tahu, bukan? Jadi tolong rahasiakan ini dari Si won Oppa…”

“Mwo?…”kaget Ji eun.

“Aniyo Nyonya, aku tidak bisa melakukannya…”Tiffany mendengus kesal.Kenapa wanita muda itu sulit sekali untuk diajak bekerja sama.

“Ya, sudah.Katakan saja, tapi jangan salahkan aku jika Si won Oppa memecatmu…”ancam Tiffany.

Ji eun tampak mendesah, tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk majikan wanitanya itu agar menghentikan pekerjaan tersebut.Tiffany kembali menjemur kemeja Si won yang tersisa sambil tersenyum.Dia yakin wanita itu akan tutup mulut.

***Sifany***

Seminggu berlalu.Tiffany masih melakukan pekerjaan rumah secara sembunyi-sembunyi.Tentu karena dia tidak mau ketahuan oleh Si won.Si won sebenarnya agak curiga dengan sikap Tiffany akhir-akhir ini.Setiap pagi Tiffany akan bangun lebih pagi tanpa membangunkannya.Seperti pagi ini, Si won terbangun dari tidurnya tanpa Tiffany disisinya.Si won melirik jam.Jam 05.15, ini bahkan masih sangat pagi bagi Tiffany untuk bangun.

Si won keluar dari kamar untuk mencari Tiffany.Setibanya diluar tampak wanita yang dicarinya  itu sedang bicara dengan salah satu pelayan rumahnya.

“Tolong simpan ember dan sapu pelnya Ji eun-ah, aku sudah selesai…”ucapnya menyerahkan dua benda itu.

“Anda harus istirahat, Nyonya…”Ji eun mengingatkan.

“Ne, aku tahu.Tapi aku harus menyiapkan sarapan untuk Si won Oppa.Annyeong…”

Tiffany melangkah meninggalkan Ji eun.Ji eun hanya menghela nafas.Saat berbalik untuk mengantar sapu dan ember Ji eun tersentak kaget karena melihat Si won berdiri dibelakangnya.

“Tu..tuan Choi…”ucapnya kaget.Lalu membungkuk 90 derajat memberi hormat.

“Sudah berapa lama…”tanya Si won menatap pelayan itu dingin.

“Ne?…”

“Sudah berapa lama Tiffany melakukannya…”

“Maafkan kami Tuan.Kami bukannya tidak mencegahnya tapi Nyonya…”

“Aku tanya sudah berapa lama?!”

“Se..seminggu Tuan…”pelayan itu sangat ketakutan saat Si won membentaknya.

“Seminggu?!”ulang Si won berteriak.Dia  terlihat marah dan segera melangkah ke dapur untuk menemui Tiffany.

“Ada apa, Ji eun-ah?…”tanya Tiffany saat mendengar seseorang berdiri dibelakangnya.Karena tidak ada jawaban Tiffany menoleh dan betapa terkejutnya dia saat melihat Si won tengah menatapnya  dengan marah.

“Oppa…”

“Oppa, kau sudah bangun? Cepat sekali…”Tiffany tertawa garing.Mencoba untuk menghilangkan rasa takutnya.Diletakkannya pisau dapur itu dan mendekat ke arah Si won.Pria itu masih menatapnya tajam.

“Apa yang sedang kau lakukan disini?…”tanya Si won dingin.Tiffany hanya terdiam dan menggigit bibir bawahnya.

“Aku, aku tadi ingin minum, Oppa.Para pelayan sepertinya sibuk jadi aku membantu mereka untuk menyiapkan serapan…”jawab Tiffany tanpa menatap Si won.Sungguh, dia sangat takut melihat Si won yang seperti ini.

“Kau yakin tidak sedang berbohong, Tiffany Choi?…”

Tiffany menelan ludah.Seperti apa pun dia menyembunyikan pasti akan ketahuan juga.Tapi kenapa harus secepat ini?

“Mianhe…”ucap Tiffany pelan.Terdengar Si won menghela nafas.

“Aku baru tahu kalau kau ternyata keras kepala…”

“Oppa…”panggil Tiffany lirih.Tidak mau mendengar Si won menilainya seperti itu.Dipeluknya Si won erat dan menangis untuk minta maaf.

“Oppa, aku minta maaf karena tidak mendengarkan ucapanmu.Aku hanya ingin menyiapkan makanan untukmu, Oppa. Aku juga ingin membereskan rumah untuk menyenangkanmu seperti biasanya…”Tiffany menangis.

Si won menghela nafas.Dia tahu niat Tiffany baik tapi tidakkah wanita ini tahu kalau niatnya jauh lebih baik.

“Sudahlah, jangan menangis lagi…”Si won mengusap kepala Tiffany untuk menenangkannya.

“Aku tahu niatmu baik.Tapi kau harus tahu kalau niatku juga baik.Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk denganmu juga bayi kita.Aku melarangmu mengepel lantai karena takut kau akan terpeleset nantinya, begitu juga dengan pekerjaan dapur…”

Tiffany mengangguk mengerti dan memeluk Si won dengan erat.Dia minta maaf dan berjanji tidak akan membuat namja ini kecewa lagi.Si won sudah sangat baik padanya sementara dia selalu saja membuat suaminya itu marah atau kecewa seperti ini.

***Sifany***

Gadis cantik berambut sebahu itu masuk kesebuah café dengan wajah kesalnya.Seseorang telah memaksanya untuk datang kesini dijam-jam sibuk seperti ini.

“Disini, Yoong…”

Yoona yang mendengar panggilan itu makin kesal.Dengan cepat dia menuju meja yang mana disana sudah duduk seorang Choi Si won.

“Kenapa wajahmu seperti itu, jelek sekali…”ejek Si won, Yoona makin mendengus sebal.

“Ada apa mengajakku bertemu?…”tanya Yoona to the point.

“Pesan minuman dulu…”Seorang pelayan mendekati meja Yoona dan Si won.Usai mencatat pesanan pelayan itu pun pergi.

“Kau tidak suka bertemu kakak sepupu-mu yang tampan ini?….”

“Bukannya begitu, tadi butik sedang ramai dan Sica Onnie belum datang.Dua pegaiwai pun hari ini tidak ada, karena yang satu izin dan yang satunya terlambat.Jadinya aku harus menyuruh mereka pergi, bukan? Bagaimana kalau besok-besok mereka tidak datang lagi lalu butiknya bangkrut…”

“Butik kalian tidak akan bangkrut dengan alasan macam itu, Yoona-ya…”Yoona segera meminum lattenya yang baru disajikan pelayan.

“Untuk apa mengajakku kesini?…”tanya Yoona lagi.Si won yang baru menyesap coffenya tersenyum.

“Aku ingin bertanya padamu…”

“Tentang?….”

“Lee Dong hae…”Gadis itu menyerngit.

`Kenapa tiba-tiba bertanya tentang Dong hae Oppa? `pikirnya.

“Ceritakan padaku bagaimana Tiffany bisa menjadi kekasih Dong hae dan berapa lama hubungan mereka…”

“Untuk apa Oppa bertanya tentang jawaban yang sudah Oppa ketahui…”

Si won terdiam.Ya, dia memang sudah tahu tentang dua hal itu dari Tiffany.Hanya saja dia ingin mendengar dari Yoona.Bukannya dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Tiffany.Hanya saja dia ingin tahu sebesar apa rasa Dong hae untuk Tiffany.

Seperti yang dijelaskan Tiffany, semua berawal pada hari dimana Tiffany dan Yoona pulang dari kampus bersama.Setibanya dilapangan basket, tiba-tiba seluruh mahasiswa mengerumuni keduanya.Dan muncullah Dong hae dengan mawar merah ditangannya.

Waktu itu sebenarnya Tiffany tidak mengenal siapa Dong hae.Dia hanya tahu Dong hae adalah seorang playboy kampus yang selalu gonta-ganti pacar.Dan Tiffany yang merupakan gadis tercantik dikampus itu-bersama Yoona tentunya adalah sasaran Dong hae berikutnya.

Awalnya Tiffany ingin menolak, tapi Dong hae memohon agar Tiffany menerimanya.Bukan apa-apa, seorang Lee Dong hae, penakluk para wanita itu akan kehilangan kepopuleran dan cap playboynya jika Tiffany menolak.Dan Tiffany yang baik hati pun menerimanya meski sepakat itu hanya pura-pura.Tapi yang membuat Si won tidak mengerti kenapa hubungan itu bisa berjalan selama 3 tahun.

“Harusnya kau merasa bersalah, Oppa.Kau merebut Tiffany dari kekasihnya….”

“Kenapa harus aku yang merasa bersalah.Aku mencintai Tiffany begitu pula dirinya….”ucap Si won menjelaskan.Tidak terima jika dia disebut sebagai perebut kekasih orang.Toh, Tiffany dan Dong hae juga pura-pura berkencan.

“Apa yang mereka lakukan selama 3 tahun itu…”

“Tidak ada yang berarti…”

“Maksudmu?…”

“Walau mereka berkencan tapi mereka tidak pernah pergi berdua, selalu ada aku atau Sica Onnie yang menemani.Fany Onnie sangat susah untuk didekati.Oppa tahu bagaimana cara Dong hae Oppa untuk bisa pulang bersama Fany Onnie?…”Si won menggeleng.

“Bekerja sama dengan sopir Fany Onnie…”

“Tiffany menerima ajakannya?….”

“Tentu, semua orang tahu kalau mereka adalah pasangan kekasih jadi apa salahnya jika mereka pulang bersama…”Si won mengangguk saja.

“Bukan hanya Dong hae Oppa yang kecewa mereka putus, tapi Oemma Dong hae Oppa juga…”

“Tiffany mengenal Oemma Dong hae?…”respon Si won cepat.Bagaimana mungkin hubungan pura-pura itu sampai harus mengenal orang tua segala.

“Ne.Fany Onnie, Sica Onnie dan aku bertemu dengannya secara tidak sengaja di salah satu pusat perbelanjaan.Saat itu Dong hae Oppa juga ada disana.Kami juga sempat kerumahnya dua kali.Dan dia sangat berharap kalau Fany Onnie menjadi menantunya…”

“Sayang sekali…”Si won tersenyum penuh kemenangan.

“Apa alasan mereka untuk berpisah…”Yoona bertopang dagu seraya menerawang.

“Sebenarnya tidak bisa dibilang putus karena mereka juga tidak pernah menjalin hubungan.Selama 3 tahun itu mereka hanya berhubungan sebagai sahabat dan kakak-adik, jadi Oppa tidak perlu khawatir…”

“Kapan mereka putus?…”

“Saat Tiffany Onnie dijodohkan denganmu…”

“Ne?….”

“Hm, Dong hae Oppa tahu kalau Fany Onnie menyukai Oppa, dia juga tahu kalau dia tidak bisa berhubungan dengan Fany Onnie selain sebagai sahabat jadi, dia melepasnya…”

“Begitukah, cukup menarik….”Si won kembali menyesap coffenya.

“Sepertinya aku harus pulang.Kembalilah ke butik…”

“Mwo?..”tanya Yoona tak terima.

“Oppa, kau pergi begitu saja setelah aku memberikanmu informasi penting itu?…”

“Kau tidak menceritakannya hanya menambahkannya saja…”

“Tapi tetap saja, aku kehilangan banyak pembeli selama menemanimu disini…”ucap Yoona dengan wajah cemberutnya.Si won yang tidak tahan pun segera mengangguk.

“Baiklah, baiklah.Tas chanel keluaran terbaru dan limited edition untukmu…”ucap Si won.Yoona yang mendengar itu tampak berbinar-binar.

“Kau tahu barang-barang seperti itu, Oppa?…”

“Tentu saja karena aku juga membelinya untuk Tiffany…”Yoona bangkit dari duduknya.Menyusul Si won yang sudah berjalan lebih dulu.

“Oppa, kau tahu Dulce & Gabbana mengeluarkan produk terbaru mereka minggu depan, Gucci juga baru…”

“Ya, ya, ya, dan semuanya untukmu…”potong Si won sebelum gadis itu meminta lebih banyak.

“Jjinjayo? Kyaa, gumawo Oppa, kau yang terbaik…”ucap Yoona kegirangan.

***Sifany***

Tit tit

Si won memarkirkan Audi miliknya digarasi rumah.Tak lama setelah itu ia keluar dan  segera masuk.

“Selamat datang, Tuan…”

“Dimana Tiffany?…”tanya Si won memberikan tas kantornya pada pelayan wanita itu.

“Nyonya dikamarnya, beliau baru selesai mandi…:

Si won segera melangkah menuju kamar mereka dilantai dua.Dia tersenyum sambil sesekali melirik kotak putih ditangannya.Berharap Tiffany akan menyukai hadiahnya.

Ceklek

Tiffany yang duduk diranjang mendongak ketika suara pintu terbuka.Senyumnya merekah indah ketika pria berperawakan tinggi itu masuk menghampirinya.

“Kau sudah pulang, Oppa?….”Si won hanya tersenyum seraya mengecup bibir dengan lipstick merah menyala itu.

“Kau sudah makan?….”

“Ini sudah sore Oppa, tentu aku sudah makan…”Si won tertawa pelan saat menyadarinya.

“Oh ya, aku punya sesuatu untukmu…”Tiffany menerima kotak dengan warna putih berhiaskan pita pink itu.

“Bolehku buka sekarang?…”

“Tentu…”

Tiffany tersenyum dan mulai membukanya.Tampak olehnya sebuah kalung berlian yang sangat cantik.Tiffany akui, sebenarnya Si won tidak perlu melakukan ini.Semua yang dimilikinya saat ini sudah lebih dari cukup.Terlebih cinta dari pria itu.

Si won memakaikan kalung itu dileher Tiffany.Begitu selesai dipeluknya leher wanita itu sambil memperhatikan diri mereka dalam cermin rias Tiffany.

“Secantik apapun kalung itu tentu istriku jauh lebih cantik…”Tiffany tersenyum.Matanya menatap mata Si won dalam.

“Gumawoyo, Oppa…”ucapnya tulus.Si won tersenyum dan mendekatkan mulutnya pada telinga kiri Tiffany.

“Tapi ini tidak gratis…”bisiknya lalu menggigit daun telinga itu dengan bibirnya.Tiffany menyerngit namun tak lama kemudian tersenyum.

“Suamiku perhitungan sekali…”cibirnya pelan.

“Biar saja…”

Tok Tok Tok

“Ne…”sahut Si won melihat kearah pintu yang tertutup.

“Maaf Tuan, didepan ada tamu untuk Nyonya….”Si won dan Tiffany saling pandang.

“Nugu?…”tanya Si won lagi.

“Tuan Lee Dong hae…”

“Dong hae Oppa?….”ulang Tiffany senang.Tanpa menunggu lagi dia langsung melangkah keluar.Meninggalkan Si won yang hanya melongo seperti orang bodoh.Apa yang wanita itu lakukan? Mengacuhkannya begitu saja saat mendengar nama Dong hae?

***Sifany***

Bola mata Si won tak hentinya bergerak.Melirik Tiffany dan Dong hae yang sedang mengobrol bergantian.Sejujurnya, dia tidak suka pria itu masuk ke rumahnya tapi dia juga tidak mungkin mengusir Dong hae, bukan? Lagi pula sepertinya ini akan menjadi kunjungan pertama dan terakhir karena dari percakapan yang tertangkap oleh telinganya, pria itu akan keluar negeri untuk beberapa tahun ke depan.

“Kenapa lama sekali, Oppa…”Si won melirik sang istri yang ada disebelahnya.

“Aku harus fokus dengan pekerjaanku disana, Fany-ah…”

Tiffany tampak menghela nafas kecewa.Tidak sadar kalau hal itu membuat darah Si won mendidih karenanya.

“Aku datang untuk pamit dan mengantarkan tonik ini.Oemma mendengar berita kehamilanmu.Dia sangat senang dan memintaku memberikannya padamu….”

“Jjinja? Aigo, aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya.Sampaikan terima kasihku pada Oemma-mu, Oppa…”ucap Tiffany meletakkan bingkisan yang baru diterimanya itu diatas meja.

“Oppa, kau tidak ingin mengatakan sesuatu?….”Si won yang melipat tangannya itu pun berdehem.

“Semoga perjalananmu menyenangkan…”ucap Si won datar.Dong hae tersenyum kecil.Sadar betul kalau Si won tidak ikhlas mengatakannya.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi…”

“Cepat sekali, makan malam disini saja, Oppa.Pelayan akan menyiapkan makanan spesial untukmu….”Si won menganga tak percaya dengan ajakan Tiffany pada Dong hae.Dia tidak akan ikut makan malam jika harus semeja dengan mantan kekasih istrinya.

“Aku tidak ingin mengganggu kalian, lagi pula aku masih ada urusan….”

Tiffany dan Si won mengantar Dong hae sampai keluar.

“Aku pergi.Si won-ssi, tolong jaga Tiffany dengan baik…”

`Tanpa kau suruh pun aku juga akan melakukannya`batin Si won kesal.Lagi pula siapa pria itu, berani menyuruh-nyuruhnya.

“Hm…”jawab Si won sekenanya dan terkesan tidak sopan.Tiffany yang menyadari itu hanya tersenyum kecil dalam rangkulan Si won.

“Oppa, jaga dirimu.Jangan lupa hubungi kami jika kau butuh bantuan….”

Dong hae mengangguk tersenyum sebelum akhirnya masuk ke mobilnya dan meninggalkan kediaman Si won dan Tiffany.

“Hah, semoga Dong hae Oppa baik-baik saja….”Si won melirik istrinya itu.

“Kau mengkhawatirkannya? Kenapa tidak ikut saja…”ucap Si won sedikit sewot.Tiffany hanya berdecak singkat dan tersenyum.

“Jjinja? Berarti aku harus segera bersiap…”Tiffany berucap seraya masuk kerumah.Si won yang melihatnya hanya tersenyum.Aish, wanita itu benar-benar membuatnya gila.

***Sifany***

Si won merapikan rambut Tiffany yang tertidur diatas dada bidangnya.Senyumnya terukir.Bersyukur untuk kesekian kalinya pada Tuhan atas semua yang ia miliki.Terutama Tiffany.

“Oppa…”

“Hm, kau belum tidur…”Tiffany membuka matanya.Menatap wajah Si won yang hanya berada beberapa centi dari wajahnya.

“Bagaimana aku bisa tidur jika Oppa selalu menggangguku…”Si won menarik selimutnya agar Tiffany makin merasa hangat dan nyaman.

“Oppa…”

“Hm….”

“Kalau dipikir-pikir, sepertinya aku menyesal menikah denganmu….”Si won terkekeh pelan seraya tangannya mengusap kepala Tiffany dengan sayang.

“Oh ya?….”

“Eoh, aku khawatir jika nanti bayiku akan kehilangan waktu bersamaku karenamu…”

“Memang harus begitu.Kau milikku Tiffany.Hanya milikku…”Tiffany membuka matanya yang sedari tadi terpejam.

“Oppa…”Tiffany merajuk.Dia berpindah dari atas tubuh Si won dan kembali ke ranjang.

Si won tertawa.Dia mendekat dan memeluk wanita yang tengah memunggunginya itu.

“Baiklah, walau bagaimana pun dia buah cinta kita.Aku akan berbagi apa yang paling aku syukuri didunia ini.Yaitu dirimu, hanya untuknya…”

Tiffany tersenyum lembut dan menggenggam tangan Si won yang melingkar diperutnya.Keduanya mulai memejamkan mata untuk beristirahat.Melewati moment indah ini untuk berganti pada hari esok yang lebih indah lagi.

END

Aigo, jujur aku bingung banget harus gimana endingnya, jadilah kayak gini.Semoga tidak mengecewakan dan mian kalau masih ada typo.Jangan lupa RCL-nya, Ok? Annyeong…

112 thoughts on “You are Mine

  1. aigo…..siwon manis banget sih….dulunya workaholic, eh pas udah nikah ma tiffany jadi berubah betah dirumah….
    lucu deh ngeliat siwon yg ngebersi’in tubuh tiffany dari bekas sentuhan donghae…

  2. Aiggo…..siwon over protective banget,dan juga cemburunya ckckck……
    Good job thor,very nice fanfic and family romance.
    Jjang thor.keep writing thor.next thor.
    Sifany 4ever

  3. Astaga
    Bikin baper aja nh couple
    Brharap ini bakal jd kenyataan huaaaww.. indah’a haha
    Sweet tenan yoo
    Good.. very very very good
    Fantastic

  4. Q jg pgn dpt suami n klrg sprti fany. mrk brtm krn perjdohn n tnp disangka mrk slg jth cinta. sking cintany siwon protektif bgt am fany bhkn utk bkerja saja dilarang aplg fany tengah hamil.
    lht sifany sprt itu ikt sng harmonis, n skg cintA….
    q sk married life sifany

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s