THE JOURNEY OF RELATIONSHIP

The Journey Of Relationship (parkkuma.wordpress.com)

 

Title: The Journey Of Relationship

 

Author: Neo Xenon

 

Main Cast: Choi Siwon, Tiffany Hwang

 

Other Cast: You can find in this story

 

Length: Oneshot

 

Rating: PG-15

 

Genre: Romance, Sad, Life

 

Disclaimer: The cast are belong to themselves, parents, management and God. I just borrow the name for my story. This story is mine and original by me, so don’t be a plagiator! Sorry if you got the typo. Keep RCL. Inspired by Rossa-Hati Yang Terpilih and my imagination.

Credit gambar : Eurawr | graphicsfamily.wordpress.com

 

********

 

 

Busan terasa berbeda hari ini, sejak sore tanah tentram itu terus saja terbasahi oleh tangisan awan yang tak kunjung berhenti. Sedikit genangan terbentuk di beberapa titik, menciptakan atmosfir tersendiri bagi orang-orang yang berada di kota tersebut. Di salah satu bagian jalan, terlihat sebuah kotak telepon dengan seseorang yang sibuk dengan gagang telepon di dalamnya, bisa dilihat jika orang tersebut beberapa kali menghembuskan nafasnya perlahan. Choi Siwon, nama itu tercetak rapi di name tag besar berwarna dasar hitam yang mengantung indah di tuxedo namja itu. Tangan kirinya dengan cekatan mengambil sebuah benda berbentuk lingkaran berbahan logam dari kantung tuxedo nya itu dan langsung memasukkan nya ke dalam mesin telepon tersebut.

Sementara di tempat lain di jantung kota Seoul, terlihat beberapa deret peralatan make up berbagai merek terkenal. MAC sampai Maybelinne tersedia memenuhi meja rias berbalut cahaya lampu terang yang terlihat indah di mata itu. Terdengar suara deringan dari sebuah benda berbentuk persegi berwarna silver di atas meja, sebuah tangan halus dan lembut pun dengan cekatan mengambil benda persegi yang sering disebut ponsel itu dan menekan sebuah tombol berwarna hijau di benda tersebut. Simpul senyum terbentuk di bibir tipis nan mungil pemilik tangan itu.

“Saengil Chukkae, Miyoungie.” Sebuah suara namja langsung terdengar jelas memasuki indra pendengaran seorang Tiffany Hwang, sosok tersebut. Tiffany memindahkan ponselnya ke tangan kirinya dan kembali tersenyum.

“Gomawo untuk ucapan serta kado nya. Aku tak menyangka kalau Oppa akan memberikan nya untukku. Koleksi Yves Saint Laurent ku semakin menumpuk saja.”

Terdengar suara tawa dari ujung sana, Siwon hanya bisa tertawa renyah mendengar penuturan kekasihnya tersebut. Namja itu kembali memasukkan beberapa koin lagi hingga terdengar bunyi berisik dari gesekan antara benda logam tersebut dan mesin telepon. Tiffany mengerutkan kening nya bingung dan menjauhkan ponsel nya dari telinga. Yeoja itu hanya tersenyum hambar melihat nomor yang tertera di layar persegi ponselnya tersebut.

“Aku sengaja meninggalkan ponselku di rumah.” Jawab Siwon seakan-akan tau apa yang tengah dipikirkan Tiffany saat ini. Yeoja itu mengangguk dan tersenyum samar. Tiffany berjalan kecil menuju sebuah sofa di pojok ruangan tersebut dengan ponsel yang masih terhubung di tangan nya, mengambil sebuah kotak besar berlapis kertas kado bermotif jamur di atas sofa berkain katun tersebut. Sebuah tas mewah terlihat menarik perhatian dari dalam kotak yang terlihat tak kalah mewah dari tas yang berada di dalam nya.

“Aku mengerti, Oppa. Aku justru bersyukur karena Oppa masih sempat menghubungiku dan mengucapkan selamat ulang tahun. Dan tak lupa pula memberikan kado tentunya.” Balas Tiffany sembari mengambil tas mewah itu. Siwon hanya bisa menghela nafasnya, sedikit dilonggarkan tuxedo yang menempel ketat di tubuhnya. Malam hari itu menjadi sebuah saksi bisu antara kedua insan yang terpaut tempat dan juga keadaan itu, merekam kisah sedih sekaligus bahagia yang terekspersikan samar diantara keduanya.

“Bagaimana dengan keadaan Jun Hong? Apakah sudah ada perkembangan dari jagoan kecil kita itu?” tanya Siwon lagi. Namja itu kini mulai melihat arloji Swatch  yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya sembari memperhatikan keadaaan di sekitar tempat nya berdiri sekarang. Rasa was-was langsung saja menyelimuti seluruh sisi hati namja berpostur tinggi proposional tersebut.

“Dia baik-baik saja, Oppa. Dia bahkan sudah bisa memanggilku Eomma.” Balas Tiffany. Tanpa diketahui siapapun, yeoja itu mulai menghapus air mata yang mengalir perlahan dari kedua sudut matanya. Ada suatu hal yang membuatnya benar-benar merasakan sakit di hati.

Siwon tersenyum mendengarnya, membicarakan tentang Jun Hong, anak nya dengan Tiffany selalu saja membuat namja itu merasa bahagia. Bagaikan ada sebuah letupan perasaan yang menimbulkan sensasi menenangkan di dalam dada hingga membuatnya sedikit melupakan ratusan bahkan ribuan beban yang menghimpit di dalam kepala nya.

“Aku akan berusaha bicara pada Abeoji dan Eommonim tentang hubungan kita. Kau hanya perlu menunggu sebentar lagi, Miyoung.” Siwon mengeratkan pegangan nya pada gagang telepon yang kini terasa licin di tangan. Tiffany mengangguk kecil di seberang sana, masih dengan air mata yang mengalir di pipi.

Sebuah tangan terulur menekan sebuah tombol pemberhenti di mesin telepon tersebut. Siwon melihat kearah pemilik tangan itu dan mengepalkan salah satu tangan nya dengan erat. Sosok itu hanya bisa menunduk penuh hormat pada Siwon.

“Choi Doryeonim menyuruh saya untuk mencari anda dan sekaligus untuk membawa anda kembali ke pesta.” Jawab sosok tersebut setenang mungkin. Siwon mendecakkan lidahnya sebal dan menatap sosok tersebut dengan posisi bertopang tangan.

“Haruskah kau menjadi penganggu untuk yang kesekian kalinya, Jong In-ah? Aku baru saja menghubungi kekasihku setelah seminggu lebih aku tak bisa melakukan nya dan sekarang dengan wajah seperti itu, kau menyuruhku untuk kembali ke pesta bodoh tersebut? Kadang aku menyesal ketika mengingat aku bisa menganggapmu seperti dongsaengku sendiri.”

Jong In hanya menundukkan kepalanya semakin dalam, namja itu berbalik badan dan membuka pintu kotak telepon itu lalu berjalan keluar untuk memberikan Siwon ruang untuk keluar. Dengan tangan masih terkepal kuat, Siwon keluar dari fasilitas umum tersebut. Sebuah pukulan pun mendarat tepat mengenai pipi seorang Kim Jong In.

“Keparat!” hanya kata itu yang keluar dari bibir Siwon sebelum masuk ke dalam Rolce Royce yang sudah terparkir menunggunya. Jong In membersihkan darah yang mengalir dari sudut bibir nya yang sobek akibat pukulan dari Siwon tadi.

“Mianhae Hyung.”

 

********

 

Tiffany menatap ponselnya nanar dan meletakkan benda tersebut kembali keatas meja. Kini, air mata itu tak hanya mengalir perlahan dari kedua matanya tapi sudah mampu menghapus seluruh jejak make up nya yang sempat dipoleskan oleh beberapa staf untuknya. Suara deritan pintu membuat Tiffany tersadar dan langsung menghapus kasar air matanya.

“Kau tak perlu malu, Eonnie.” Suara lembut seorang yeoja langsung menghantam telinga Tiffany dengan pasti. Sosok itu tersenyum dan mengulurkan beberapa helai tisu kearah yeoja itu. Tiffany tersenyum dan mengambil lembaran tisu yang terulur untuknya.

“Gomawo, Yoong.” Balas Tiffany sembari menghapus air matanya. Sosok yeoja berpakaian serba hitam khas broadcast itu langsung saja mengambil sebuah walkie talkie yang tergantung di pinggang nya dan berbicara dengan seseorang.

“Aku sudah menghubungi Jinri untuk segera datang dan membenarkan riasan Eonnie. Sebentar lagi ia sampai.” Tiffany langsung saja memeluk yeoja dihadapannya dengan erat. Yeoja dengan nama Im Yoon Ah itu membalas pelukan tersebut dengan erat pula.

“Mianhae jika aku selalu menyusahkanmu, Yoong-ah. Jeongmal Mianhaeyo.” Isak Tiffany. Yeoja itu kembali menangis untuk yang kesekian kalinya di hari itu. Yoona tidak menjawab dan memilih untuk semakin mengeratkan pelukan nya, berharap bisa mengambil seluruh kesedihan yang kini membebani hati seorang Tiffany Hwang.

 

************

 

Suasana elegan bisa dikatakan menjadi pilihan tema untuk pesta di hari itu. Beberapa orang berpakaian formal terlihat memenuhi seluruh sudut ruangan bergaya khas Victorian tersebut. Diantara mereka ada yang saling bercengkerama atau sekedar diam sembari meminum segelas Champagne seperti yang Siwon lakukan saat ini. Namja itu sudah menghabiskan sekitar 5 gelas Champagne meski baru beberapa menit berada di dalam pesta tersebut. Ada sekitar 7 yeoja yang menghampirinya beberapa waktu yang lalu, tapi namja itu hanya bergeming sembari memberikan senyuman kecil sebagai pertanda bahwa ia malas meladeni yeoja-yeoja itu.

“Kau baru  beberapa menit berada di pesta ini. Tapi, kau justru sudah menghabiskan 5 gelas Champagne sendiri. Kau berniat ingin mabuk, huh?” Suara seorang yeoja langsung menarik perhatian Siwon hingga membuat namja itu membalikkan badan nya kearah yeoja itu.

“Sooyeon? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Siwon bingung. Yeoja itu mengeleng malas dan menepuk dahinya pelan.

“Sudah kukatakan padamu berulang-ulang, Choi Siwon. Panggil aku Jessica!” Siwon terkikik geli lalu menghabiskan Champagne nya sedangkan Jessica hanya bisa mengerucutkan bibir nya kesal.

“Bukankah kau seharusnya menghabiskan waktumu di Ok’s Bakery di jam seperti sekarang ini? Tapi, Kenapa kau justru tersasar sampai sini?” tanya Siwon lagi. Jessica meminum Champagne nya hingga habis lalu menaruh gelas kosong di tangan nya ke sebuah meja yang berada di dekatnya.

“Beberapa pengawal Appa berhasil menemukanku dan menyeretku untuk pergi ke pesta sialan ini. Padahal, aku baru saja akan mencoba resep Tiramisu baru bersama Taecyeon. Kau sendiri?”

“Hampir mirip. Hanya saja aku baru menelpon kekasihku dan ternyata Jong In berhasil menemukanku.”

Jessica melihat sebentar kearah seorang namja muda yang berada tak jauh dari tempatnya dan Siwon berdiri. Terlihatlah sosok Jong In yang sedang mengamati beberapa hal di sekitar ruangan tersebut. Yeoja itu hanya bisa tersenyum geli.

“Pantas saja bibir nya sobek. Kau pasti memukulnya lagi.” Jawab Jessica sembari menatap kearah Jong In sekali lagi.

“Anak itu seringkali memuakanku. Jadi, jangan salahkan aku kalau aku tak pernah puas memukulnya.” Balas Siwon.

Jessica mengangguk mengerti, kini tangan nya mengapai tangan besar Siwon dan membawa namja itu keluar dari pesta tersebut. Kedua pasang sahabat lama itu pun berjalan pelan menuju taman yang berada tak jauh dari gedung tempat penyelenggaraan pesta tersebut. Jessica mengeluarkan smartphone nya dan mulai mengutak-utik benda elektronik di genggaman nya itu.

“Kenapa kau membawaku ke taman? Dan apa yang kau lakukan dengan smartphonemu itu?”

Jessica tidak menjawab dan menyuruh Siwon untuk diam. Namja itu hanya menurut sambil sesekali mencuri-curi pandang kearah smartphone di tangan Jessica. Mata namja itu terbuka dengan lebar nya saat indra penglihatan nya dengan jelas melihat sosok yang ia kenal di layar benda berbentuk persegi tersebut.

“Kau mengenalnya, Oppa? Ah! Ternyata bukan hanya aku dan Taecyeon yang menyukai acara ini.”

Siwon tak merespon ucapan histeria Jessica dan lebih memilih untuk menajamkan penglihatan nya kearah smartphone di tangan yeoja itu. Tidak! Namja itu sama sekali tidak salah melihat saat ini, di layar tersebut terlihatlah sosok Tiffany yang terlihat menawan dengan sebuah gaun putih berhiaskan sedikit batu-batu mulia di beberapa sudut gaun nya. Yeoja itu dengan anggun membawakan acara musik orkestra yang disiarkan secara live tersebut.

“Boleh kukatakan satu hal padamu, Jess?”

 

**************

 

Tiffany meneguk sebotol air mineral yang baru saja di dapatkan nya dari staf, kini ia beristirahat sebentar karena pagelaran musik sedang menampilkan aksinya sehingga ia bisa beristirahat dengan tenang meski dengan waktu yang singkat. Tangan yeoja itu terulur mengambil sehelai handuk berwarna biru dan mengusap keringat nya yang mulai keluar.

“Penampilanmu sempurna, Eonnie! Aku yakin kita bisa menembus rating tertinggi untuk yang  kedelapan kali berturut-turut.” Jawab Yoona yang sekarang sudah berada tepat disamping Tiffany. Yeoja itu menunjukkan dua jempolnya dan tersenyum senang, Tiffany ikut tersenyum melihat Yoona yang terlihat senang seperti sekarang.

“Kau kadang terlalu berlebihan, Yoong. Aku justru merasa kalau penampilanku tadi masih kurang.” Balas Tiffany merendah. Yeoja itu kembali meneguk air mineral nya hingga habis tak bersisa dan membuang botol plastik tersebut pada tempat yang sudah disediakan.

“Tapi, Eonnie. Kau benar-benar terlihat luar biasa tadi. Jangan terlalu sering merendahkan diri seperti itu, Aku yakin Eonnie bisa menjadi National MC seperti Yoo Jae Suk!”

Tiffany hanya menghela nafasnya pelan mendengar penuturan Yoona, karena bagaimana pun juga seseorang seperti nya takkan bisa menghentikkan semangat seorang yang penuh dengan optimis seperti Yoona.

“Terserah kau saja, Yoong. Aku kembali dulu ya, sutradara sudah memberikan kode padaku untuk segera kembali ke panggung.” Jawab Tiffany sembari bangun dari posisi duduk nya dan berjalan menjauh. Yoona sempat membisikan kata semangat yang dibalas Tiffany dengan eye smile cantiknya.

 

************

 

Mulut Jessica terbuka dengan lebar nya, yeoja itu sudah tak peduli lagi dengan smartphone nya yang sedang menampilkan live streaming acara favoritnya. Yeoja itu masih tidak bisa percaya dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Siwon beberapa menit yang lalu dan sekarang yeoja itu meminta kejelasan akan pengakuan yang dilakukan oleh namja itu tadi.

“Pabo Namja! Kenapa kau tak memberitahuku sejak awal!” teriak Jessica keras sambil mendorong kepala Siwon dengan kesal.

“Aku takut kau tak mendengarkan ku da-“

“Bagaimana mungkin kau mempunyai pikiran seperti itu, Choi Siwon? Aku ini sahabatmu sejak pertama kali kita memulai masa SMA kita dan kau masih mampu mempunyai pikiran semacam itu tentangku? Pabo! Pabo! Pabo!”

Jessica tak berhenti memukul kepala Siwon sampai akhirnya getaran ponselnya membuat yeoja itu berhenti sejenak dan menjawab panggilan tersebut. Namun, Siwon merasa curiga saat dilihatnya Jessica yang membisu seketika. Yeoja itu mematikan ponselnya dan menaruhnya kembali ke dalam tempatnya.

“Ada 2 berita buruk. Kau mau aku mengatakan yang pertama atau kedua terlebih dahulu?” tanya Jessica lemah. Siwon merasakan perasaan nya berubah menjadi tidak enak saat melihat wajah sahabatnya sekarang.

“Yang pertama dahulu.” Balas Siwon.

“Berita buruk yang pertama, Aku mendapatkan kabar dari Jin Young Ahjussi, pengawal kepercayaanku bahwa beberapa orang bodyguard Appa kembali datang dan menghancurkan Ok’s Bakery. Mereka juga melukai Taecyeon hingga ia harus diberi jahitan di beberapa bagian kepala dan lengan nya. Lalu, Kabar buruk yang kedua….. kita akan dijodohkan.”

Bagai ada sebuah tsunami yang menghantam keras kepala nya. Siwon mengeleng dengan pasti dan menguncangkan tubuh Jessica, memastikan bahwa yeoja itu sedang mencoba untuk memberikan lelucon padanya. Namun, Jessica justru bergeming dan terlihat frustasi. Siwon kembali mengelengkan kepalanya dan berlari sekuat tenaga menuju tempat parkir. Namja itu langsung melesat cepat menuju Rolce Royce miliknya dan masuk ke dalam mobil tersebut. Jong In yang sudah berada di dalam hanya bisa menampilkan senyum nya samar.

“Persetan dengan lalu lintas. Antarkan aku ke rumah sekarang!”

Jong In mengangguk lalu menyalakan mesin mobil. Sementara mobil pabrikan Inggris itu melaju dengan kecepatan di luar batas kewajaran, Siwon hanya bisa memendam amarah nya sembari melihat kearah jendela yang kini sibuk menampilkan keindahan malam kota Busan yang terasa memuakkan untuk namja itu sekarang. Hanya butuh waktu satu jam untuk sampai di Seoul, mengingat Jong In mengendarai mobil tersebut tanpa aturan dan serampangan hingga membuat beberapa keributan di jalan. Kini, mobil mewah yang tak lagi terlihat mewah itu memasuki pelataran sebuah mansion besar bergaya Renaisannce milik keluarga Choi. Siwon segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam. Seluruh pelayan dan bodyguard membungkuk penuh hormat saat namja itu melintas, Namun Siwon tak peduli dan mempercepat langkahnya.

“Langkah yang pintar dengan meninggalkan ponsel mu di rumah, anak muda.” Jawab seorang namja tua setelah terlebih dahulu meminum teh hijau dari gelas yang berada di genggaman nya. Siwon berhenti tepat dihadapan namja tua yang ia panggil sebagai Abeoji itu. Kepalan tangan nya masih terlihat erat tanpa sekalipun berniat untuk mengendurkan nya.

“Berhenti mengatur hidupku! Tak cukupkah Abeoji melihat Seunghyun Hyung dan Sooyoung yang menderita akibat ulah Abeoji? Aku juga ingin hidup sebagai mana mestinya!”

“Hidup sebagai mana mestinya? Sejak kapan kau berubah menjadi naif seperti ini, Choi Siwon? Seleramu jatuh ke level yang paling dasar dengan menjalin hubungan bersama yeoja murahan bernama Tiffany Hwang itu.” Jawab Tuan Choi lalu kembali meminum teh hijau nya. Setelahnya tangan tua itu dengan cekatan menyalakan sebatang cerutu dan dihisapnya dengan kuat benda penuh nikotin tersebut. Siwon menatap tak percaya kearah namja tua dihadapan nya.

“Jangan pernah mengatakan hal seperti itu! Tiffany adalah yeoja baik-baik dan selamanya akan selalu seperti itu!”

“Kau pikir sebuah sampah akan terlihat sama seperti sebongkah emas jika kita mengubahnya, begitu? Dari segi manapun yeoja bodoh itu tetaplah berada di kasta terbawah. Kau tak mungkin mengubah seseorang yang berada di derajat paling rendah menjadi seseorang yang memiliki gelar terhormat.” Jawab Tuan Choi. Hembusan nafas penuh nikotin dari bibir keriput nya menampar hebat wajah Siwon hingga membuat namja itu terbatuk-batuk.

“Seharusnya aku sudah menyuruh Jiyong dan Yongbae untuk membunuh yeoja itu sejak dulu. Aku benar-benar menyesal telah menunda-nunda nya.” Sambung Tuan Choi. Siwon terbelakak tak percaya. Bahkan Abeoji nya sudah berpikir untuk menugaskan kedua bodyguard terbaik itu untuk membunuh Tiffany?

“Kau bahkan lebih dari iblis, Abeoji!” sahut Siwon keras dan berlari menuju kamarnya di lantai atas. Tuan Choi terlihat tak peduli dan berjalan keluar menuju halaman. Namja tua tersebut melihat sekilas kearah Jong In yang hanya bisa menunduk lalu melihat Rolce Royce nya yang sudah rusak di beberapa bagian dengan cat yang sudah mengelupas parah.

Tuan Choi  mengambil sesuatu dari kantung piyama sutra nya dan mengarahkan benda tersebut kearah Jong In. Duar! Suara tembakan terdengar jelas menggema memenuhi malam kota Seoul yang semakin larut dan dingin. Jong In terjatuh dengan lengan kanan penuh darah, namja itu beberapa kali meringis kesakitan sembari memegang lengan kanan nya yang baru saja tertembak.

“Masih beruntung malaikat pencabut nyawa belum sudi menghampirimu, lalu mencabut nyawamu yang tak berharga itu. Aku tau jika anak bodoh itu yang menyuruhmu. Tapi, aku paling tidak suka jika ada yang memperlakukan mobil favoritku seenaknya.” Jawab Tuan Choi lalu masuk ke dalam mansion nya kembali, meninggalkan Jong In yang sudah diangkat oleh beberapa orang untuk disembuhkan lukanya.

 

**************

 

Tiffany terbangun dari tidurnya setelah mendengar tangisan dari si kecil, Jun Hong. Yeoja itu bangkit dari tempat tidur nya yang nyaman dan berjalan pelan menuju box bayi yang tak berada jauh dari tempat yeoja itu beristirahat. Tiffany mengendong bayi nya itu dengan penuh sayang sembari mengusap kepala anak nya itu perlahan. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 07.00 KST dan yeoja itu harus segera bersiap-siap untuk melakukan pemotertan beberapa jam lagi.

Dengan langkah enggan Tiffany berjalan menuju kamar mandi setelah tak lupa menaruh kembali Jun Hong di box nya. Namun, yeoja itu belum sempat melakukan aktifitas nya karena terdengar suara bel berdering nyaring. Yeoja itu mengerutkan kening nya dengan bingung. Siapa yang bertandang ke apartemen nya di jam sepagi ini?

“Selamat pagi, Nona Hwang.” Sapa seorang namja tua dengan sebuah tongkat di tangan nya. Tiffany terdiam cukup lama melihat sosok yang berada dihadapan nya sekarang. Namja tua itu hanya bisa menampilkan senyum nya samar, begitupula dengan 2 orang disamping namja tua itu.

“Selamat pagi. Mianhae, tapi saya sama sekali tidak mengenal anda sekalian.” Balas Tiffany sedikit takut. Namja tua yang ternyata adalah Tuan Choi itu hanya mengeleng pelan.

“Bisakah kau menyuruhku untuk masuk. Biar aku jelaskan di dalam.” Tiffany memandang sebentar kearah tiga orang namja dihadapan nya dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Ketiga orang itupun masuk ke dalam. Dua orang disamping Tuan Choi mempersilahkan tuan nya itu untuk duduk sementara mereka berdiri disamping sofa.

“Bisa anda jelaskan identitas anda dan tujuan anda untuk datang kesini.” Tanya Tiffany to the point.

Tuan Choi tertawa kecil dan menyuruh kedua orang bodyguard nya, Jiyong dan Yongbae untuk keluar. Setelah kedua orang tersebut keluar hanya tersisa Tiffany dengan Tuan Choi yang saling memandang dengan arti tatapan masing-masing di dalam ruangan tersebut.

“Sepertinya kau tidak terlalu menyukai bisnis sehingga tidak tau siapa diriku. Baiklah, biar aku perkenalkan diriku terlebih dahulu. Aku adalah Choi Kiho, pemilik Choikang Corporation sekaligus ayah dari kekasihmu, Choi Siwon.”

Tiffany membeku di tempat nya, dia merasa tak percaya bahwa pagi ini akan mendapatkan kejutan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tapi, walaupun yeoja itu tak begitu mengenal sosok di depan nya sekarang, yang pasti ia tau kalau Tuan Choi bukanlah seseorang yang dapat dikatakan biasa saja, bisa dilihat dari penampilan nya yang perlente.

“Sepertinya kalian sudah cukup lama menjalin hubungan. Sungguh hebat bisa merahasiakan nya selama ini dariku.” Jawab Tuan Choi sembari berdiri dari duduknya.

Sosok tua tersebut berjalan dengan angkuh menuju televisi besar milik Tiffany yang berada di ruang keluarga. Tangan keriput nya mengambil salah satu pigura foto yang sedari tadi menarik perhatian nya. Dilihatnya dengan seksama sosok Siwon, anak nya dengan Tiffany yang saling berangkulan mesra dengan berlatarkan suasana London yang membius perasaan. Sosok itu lalu menaruh kembali benda tersebut ke tempat nya.

“Kau tak terlalu buruk untuk ukuran seorang yeoja kelas bawah. Tapi, kau sama sekali tidak membuatku tertarik, Nona Hwang.”

Tiffany hanya diam, entah kata apa yang bisa digunakan untuk menggambarkan perasaan nya saat ini. Kecewa, sedih, atau tak terima?

“Ah, ini sudah terlalu lama. Aku pamit dulu, Mianhae jika membuatmu terluka. Tapi, aku hanya mengatakan sebuah fakta.”

Tuan Choi pun keluar dari apartemen Tiffany dengan keangkuhan yang masih terasa jelas. Tiffany menutup pintu apartemen nya lalu menguncinya dengan rapat.

“Gomawo atas sanjungan nya, Tuan Choi.”

 

*************

 

Semangkuk besar Bibimbap tak membuat Siwon berselera sama sekali. Namja itu masih pada pendirian nya untuk tetap diam seperti kemarin malam. Nyonya Choi melihat anak nya itu dengan tatapan sedih dan menghela nafas kecewa.

“Tak ada salahnya untuk menyuap satu sendok saja, Wonnie.”

Siwon melihat kearah ibunya itu lalu kembali membuang muka nya kearah lain. Nyonya Choi sudah mulai putus asa melihat sikap anak nya yang seperti itu. Beberapa kepingan memori pahit di masa lalu seperti menyergap kembali otak nya melihat keadaan Siwon seperti sekarang.

“Eommonim mengerti perasaanmu, Wonnie. Tapi-“

“Mengerti? Darimana Eommonim bisa mengatakan hal seperti itu? Lalu bagaimana dengan Seunghyun Hyung dan Sooyoung? Pantaskah Eommonim berkata seperti itu setelah apa yang terjadi selama ini?” Nyonya Choi terdiam seketika. Ingatan nya tentang kedua anaknya yang lain itu semakin membebani pikiran nya yang sudah terlalu kalut.

“Dengan membiarkan Abeoji membunuh Bom Noona dan membuat Seunghyun Hyung depresi berkepanjangan lalu membiarkan pula Abeoji mencelakakan Changmin dan membuat Sooyoung memutuskan untuk bunuh diri dengan menabrakan dirinya ke kereta. Apakah itu yang Eommonim maksud dengan mengerti perasaanku? Bagaimana sebuah hipotesa bodoh seperti itu bisa diutarakan oleh orang sepertimu, Eommonim?” sambung Siwon. Namja itu melangkah menjauh dari meja makan, meninggalkan Nyonya Choi yang hanya bisa mengusap seluruh wajahnya dengan frustasi.

Siwon berjalan pelan menuju garasi untuk mengambil Ferrari California miliknya dan membawa mobil itu melaju pergi. Namja itu merasa lelah untuk terus berdebat dengan banyak orang disekitarnya. Dalam terik matahari yang mulai sepenggalan naik, namja itu menambah kecepatan mobil nya menjauh pergi.

 

****************

 

Sudah sejam sejak kepergian Tuan Choi dari kediaman nya, yeoja cantik itu masih bergeming pada tempat nya. Masih jelas ucapan sosok tua itu mengenai status nya sebagai yeoja kalangan bawah. Tiffany memandang tak percaya kearah pigura foto milik nya yang sempat dilihat oleh Tuan Choi. Mata bulan sabit nya terfokus pada sosok namja yang selama ini berhasil meluluh lantahkan perasaan nya, Siwon. Pada titik terendah kepercayaan nya akan banyak hal yang tidak ia mengerti di dunia ini, yeoja itu merasakan sakit yang teramat sangat. Bagaimana mungkin ia sebodoh itu?

“Kenapa kau terus memandang pigura foto itu?” Tiffany tersentak saat indra pendengaran nya menangkap sebuah suara yang sudah tak asing lagi untuknya. Siwon berjalan pelan menuju yeoja itu dan merengkuh tubuh mungil tersebut ke dalam dekapan nya. Tiffany tidak tau harus berbuat apa, yeoja itu merasakan perasaan nya terombang-ambing pada sebuah situasi yang tak pernah ia kehendaki.

“I miss you, Mushroom. Mianhae, tak selalu bisa menghubungimu.” Jawab Siwon. Namja itu mencium harum tubuh Tiffany dengan gelora yang membara, membenarkan sedikit anak rambut yeoja itu yang agak berantakan.

Tiffany tidak tau bagaimana cara untuk mengatakan perasaan nya saat ini pada namja yang dicintainya itu. Semuak-muak nya yeoja itu dengan sosok seorang Choi Kiho yang dengan mudah merendahkan nya, ia tak pernah bisa memungkiri bahwa Siwon adalah segalanya meskipun namja itu adalah anak kandung dari namja tua tersebut.

“Aku tau kau kecewa padaku. Kau bisa memukul ku sepuas yang kau mau, Miyoung.”  Tiffany tidak melakukan nya, yeoja itu hanya semakin mengeratkan pelukan nya dan meremas kasar kaus milik Siwon. Air mata mulai kembali turun dari kedua mata indah nya. Siwon tetap pada posisinya tanpa berpikir untuk melakukan hal yang lebih pada kekasih tercinta nya itu.

“Jangan pernah meninggalkan ku, Oppa. Jebal.”

“Uljima, Miyoung. Kau hanya perlu percaya bahwa aku akan selalu ada untukmu.”

 

*****

 

Prang! Suara vas yang menghantam keras tembok besar bercat putih itu menimbulkan suasana berisik yang menganggu siang yang cukup tenang di kediaman Choi tersebut. Sepasang manik mata sendu milik Nyonya Choi menyalak marah pada sosok suaminya yang sibuk melihat yeoja tua itu dengan pandangan heran.

“Dimana kau menaruh akan sehatmu, Sohee! Bisa-bisa nya kau berusaha melukaiku dengan vas bunga mu itu!” teriak Tuan Choi tak terima. Nyonya Choi kembali meraih vas bunga nya yang lain dan melemparkan benda berbahan keramik tersebut tepat kearah Tuan Choi. Namja tua itu memegang pelipis nya yang mengeluarkan darah karena terkena hantaman benda tersebut.

“Kau bertanya dimana akal sehatku? Sekarang ku kembalikan pertanyaan nya padamu, dimana kau menaruh akal sehat mu selama ini, huh! Aku benar-benar menyesal tidak pernah berpikir untuk menghentikkan mu dulu. Kau akan menyakiti Siwon setelah menghancurkan Seunghyun dan Sooyoung, begitu? Kau buang kemana otakmu, Choi Kiho!” balas Nyonya Choi masih dengan beringas nya melempar vas-vas koleksinya. Tuan Choi beberapa kali menepis lemparan yang diarahkan padanya meskipun beberapa diantara nya mengenai dan melukai tubuhnya.

“Tidakkah kau mengingat bagaimana menderita nya Seunghyun saat ia tau bahwa kau yang meracuni kekasihnya hingga tewas? Atau bagaimana perasaan sakit yang Sooyoung rasakan saat kau mengatakan padanya bahwa kau yang membunuh seluruh keluarga Shim dan membuang mayat-mayat mereka begitu saja ke tengah hutan? Tidakkah kau ingat itu semua!”

Tuan Choi menyeka darah-darah yang mengalir dari tubuhnya dan menatap istrinya itu dengan datar. “Kau tak tau apa-apa.”

“Terserah!” Nyonya Choi pun melemparkan vas terakhir yang berada di tangan nya dan berlalu pergi. Tuan Choi hanya bisa menatap kepergian istrinya itu dengan perasaan bersalah.

 

*****

 

Harum roti dan kue yang nikmat begitu membuat seorang Choi Siwon lupa diri. Entah sudah berapa banyak Croissant dan Apple Pie yang ia makan. Namun, yang pasti saat ini namja itu benar-benar kelaparan karena belum memakan apapun sejak pagi.

“Sepertinya kau lapar sekali.” Siwon mendongkakan kepala nya dan menatap kearah sosok di depannya. Namja itu hanya bisa tersenyum melihat Jessica yang berada dihadapan nya sekarang.

“Bagaimana dengan keadaan Taecyeon?” tanya Siwon lalu menyuap sepotong Apple Pie nya. Kini, namja itu berada di sebuah toko roti yang tak berada jauh dari tempat pemotertan Tiffany. Lalu, secara tak sengaja ia dapat bertemu dengan sahabatnya, Jessica.

“Minjun Oppa serta Junho Oppa melarang ku untuk menjenguk nya. Sejak kejadian malam itu mereka tak lagi memperbolehkan ku untuk berkunjung ke Ok’s Bakery.” Balas Jessica sedih. Siwon menghentikkan acara makan nya dan menatap yeoja itu dengan iba.

“Mianhae, ini semua salahku.”

“Yang seharusnya mengatakan itu semua adalah Appa ku. Dia yang bersalah sepenuhnya, bukan kau Siwon.”

Siwon tak tau harus berkata apa lagi. Namja itu merasa sangat tak berdaya melihat wajah Jessica yang sudah penuh dengan kesedihan, tak ada lagi gurat-gurat keceriaan yang biasa ia lihat di wajah yeoja itu. Semua nya sudah hilang.

“Cuaca hari ini sangat indah.” jawab Jessica lemah.

“Jess, jangan seperti ini.” Balas Siwon. Namja itu benar-benar tak sanggup lagi melihat Jessica yang sudah seperti kehilangan semangat hidup. Jessica hanya bisa terisak di tempat nya, tak peduli dengan pandangan orang-orang yang mulai menatap kearahnya.

“Lalu aku harus apa? Aku juga ingin bahagia, Choi Siwon!” teriak Jessica sembari memukul meja dihadapan nya. Air mata itu tak lagi bisa dibendung oleh seorang Jessica Jung. Siwon mengambil sapu tangan nya dan memberikan nya pada yeoja tersebut. Namun, dengan kasar Jessica menghempaskan tangan besar milik Siwon.

“Aku akan bicara pada Appa untuk membatalkan perjodohan kita. Aku tak peduli lagi tua bangka itu akan menghajarku atau apa. Aku duluan, Won.”

Jessica pun mengambil tas nya, lalu dengan cepat pergi keluar dari toko roti tersebut sebelum Siwon mampu menghentikkan nya. Tiffany yang telah selesai pemotretan hanya bisa menatap bingung saat melihat Jessica yang keluar dari toko roti dengan muka sembab. Yeoja itu lebih bingung lagi saat melihat Siwon yang terlihat sedikit frustasi.

“Oppa, kau mengenal yeoja tadi?”

“Ceritanya panjang, Miyoungie.”

 

*****

 

Siwon hanya diam tanpa mengatakan apa-apa. Namja itu menyetir mobil nya dalam kebisuaan yang memberikan suasana dingin dan canggung di mobil tersebut, mungkin seperti itulah penggambaran Tiffany sekarang. Yeoja itu sudah mendengar yang sebenarnya dan ia pun tak tau harus berkata apa. Ternyata semua nya lebih rumit daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Mobil terus melaju cepat membelah jalanan kota Seoul yang cukup lenggang di hari itu. Tak lama mobil tersebut telah sampai di depan sebuah gedung apartemen tua yang cukup besar.

“Kau percaya padaku?” tanya Siwon tiba-tiba. Tiffany menoleh kearah kekasihnya tersebut dengan pandangan bingung. Siwon menghela nafasnya pelan dan menggengam tangan yeoja itu dengan lembut.

“Kumohon percayalah padaku. Semua mimpi buruk ini akan segera berakhir. Jadi, kumohon percayalah padaku dan bersabarlah.” Sambung Siwon. Tiffany lebih memilih untuk diam dan memperhatikan wajah Siwon yang menunjukkan sebuah kesungguhan. Yeoja itupun akhirnya mengangguk setelah lama terdiam.

“Aku akan berusaha.”

 

*****

 

5 bulan kemudian……

 

Suasana gereja itu tampak meriah dengan hiasan-hiasan indah berwarna dominan putih. Siwon tampak membenarkan jas nya yang sedikit kusut. Namja itu masih berada di ruang tunggu pengantin padahal upacara pemberkatan akan dimulai beberapa menit lagi. Suara deritan pintu berhasil mengalihkan perhatiaan namja itu, dilihatnya seorang namja tua dengan setelan jas berwarna abu-abu memasuki ruangan itu dengan tongkatnya.

“Tinggal beberapa menit lagi. Tapi, kau justru masih berada disini. Kau mau membuat Abeoji malu?” Suara Tuan Choi menggelegar memasuki telinga Siwon. Namja tampan itu tersenyum lalu membenarkan kembali jas nya.

“Mianhae atas segalanya.” Sambung Tuan Choi. Siwon berhenti membenarkan jas nya dan menoleh kearah sosok tua tersebut.

“Abeoji berhentilah, semua nya sudah terjadi dan tak ada yang perlu disesali.” Balas Siwon. Tuan Choi hanya bisa menghela nafas nya. Setelah sekian lama akhirnya ia tau bahwa semua yang ia lakukan hanya akan menyakiti perasaan banyak orang.

“Baiklah, Abeoji mengerti. Sekarang keluarlah.” Tuan Choi pun menepuk pelan pundak Siwon lalu keluar dari ruangan tersebut meninggalkan namja itu sendiri.

“Gomawo, Abeoji.”

Siwon pun keluar dari ruangan tersebut lalu berjalan menuju altar dengan pasti. Beberapa orang mengarahkan pandangan nya pada namja itu membuat Siwon sedikit gugup. Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit namja itu saat matanya menangkap sosok seorang yeoja dengan gaun putih indah berjalan pelan menuju altar. Tak lama sosok tersebut telah sampai di depan altar, Siwon menerima tangan yeoja itu dari sang pengawal lalu membantu sosok calon istrinya itu untuk naik ke altar. Janji suci pernikahan pun mulai dipanjatkan.

“Choi Siwon, bersediakah kau menerima Tiffany Hwang sebagai istrimu dalam keadaan suka maupun duka, sakit ataupun sehat sampai maut memisahkan?”

“Ne, aku bersedia.”

“Tiffany Hwang, bersediakah kau menerima Choi Siwon sebagai suamimu dalam keadaan suka maupun duka, sakit ataupun sehat sampai maut memisahkan?”

“Ne, aku bersedia.”

Tepuk tangan pun semakin memeriahkan suasana bahagia di hari itu. Siwon membuka penutup wajah  dan melihat wajah cantik Tiffany dengan sebuah senyum bahagia di bibir nya. Tepuk tangan diiringi beberapa siulan mengantarkan kedua insan itu untuk saling mentautkan bibir mereka dengan mesra. Semenit kemudian tautan itu terlepas, Siwon menatap kearah para undangan, terlihat Jessica yang sedang melambaikan tangan nya didampingi oleh Taecyeon. Adapula Yoona yang tak berhenti bertepuk tangan senang dengan Jong In, kekasih barunya yang hanya tersenyum sembari memberikan dua jempolnya pada namja itu. And last but not least, Tuan dan Nyonya Choi yang saling tersenyum menatapnya dengan Jun Hong yang tertawa manis di pangkuan mereka.

 

 

Flashback On

 

 

Sudah berminggu-minggu sejak pembicaraan nya dengan Tiffany di mobil, Siwon berusaha menguatkan hatinya. Kini, ia akan berbicara dengan Abeoji nya meski hubungan keduanya belum kunjung membaik sejak insiden pesta tersebut. Namja itu melangkahkan kakinya menuruni tangga. Namun, kedua alisnya bertaut dengan sempurna saat dilihatnya sosok yang ia hormati sekaligus ia benci itu sudah rapi dengan 2 buah karangan bunga di genggaman sosok tua tersebut. Tuan Choi yang menyadari kehadiran anaknya tersebut langsung memberikan isyarat agar Siwon segera menghampirinya. Siwon menurut dan mempercepat langkah nya menuju sosok Abeoji nya tersebut. Kedua nya pun berjalan beriringan menuju garasi. Siwon semakin bingung saat melihat sosok Tuan Choi yang mengeluarkan sebuah kunci mobil dari kantung jaket nya lalu memasuki mobil Chevrolet Camaro dihadapan nya, tak dilihatnya pun kedua sosok bodyguard kesayangan Abeoji nya itu, Jiyong dan Yongbae.

“Kenapa kau diam saja? Cepat naik!” suruh Tuan Choi. Siwon yang masih bingung segera saja masuk ke dalam mobil. Tuan Choi menyalakan mesin mobil dan melajukan benda tersebut dengan kecepatan sedang.

Selama perjalanan tak ada satupun pembicaraan yang terjadi diantara ayah dan anak tersebut. Tuan Choi fokus pada kemudi mobil nya sedangkan Siwon hanya bisa terbingung-bingung dengan sikap namja tua itu. Saat perjalanan sudah memakan waktu 30 menit, Siwon merasa tak asing dengan jalan yang sedang dilalui oleh dirinya, namja itu merasa mengingat sesuatu.

“Kita sudah sampai.” Suara Tuan Choi langsung membuyarkan lamunan Siwon. Keduanya pun turun dari mobil dan memasuki pemakaman tersebut. Siwon menelan ludahnya dengan susah payah. Kenapa Abeoji nya membawa nya ke pemakaman?

Siwon sekali lagi terdiam saat melihat 2 makam yang terlihat terurus dihadapan nya. Dilihatnya Tuan Choi yang sudah menaruh salah satu karangan bunga krisan di tangan nya keatas sebuah makam dari kedua makam yang bertuliskan Choi Seunghyun di nisan tersebut. Tangan tua milik Tuan Choi terulur memberikan satu karangan bunga krisan terakhir kearah Siwon. Namja itu menerima bunga tersebut dan menaruh karangan bunga itu tepat di depan sebuah makam bertuliskan nama Choi Sooyoung di nisan nya.

“Sudah lama aku tak mengunjungi mereka berdua. Tak terasa mereka sudah meninggalkan kita terlalu lama.” Siwon melihat kearah Tuan Choi yang mulai meneteskan air matanya. Siwon masih berusaha untuk percaya bahwa saat ini ia sedang tak terbuai dalam mimpi, mengingat sosok Abeoji nya itu adalah orang yang teramat dingin dan angkuh yang pernah ia kenal selama ini.

“Kenapa aku baru menyadarinya saat semua sudah tak bisa diperbaiki lagi?” Suara Tuan Choi lagi-lagi menginterupsi keadaan di tempat itu. Siwon hanya terdiam sembari melihat kearah makam kedua saudara nya tersebut. Tuan Choi menghela nafasnya pelan.

“Bahkan aku tak mendengarkan penjelasan mereka dan lebih menuruti ego ku sendiri. Pada akhirnya mereka-“ Tuan Choi tak sanggup lagi melanjutkan kata-kata nya, namja tua itu mulai memukuli dada nya yang terasa nyeri. Siwon mengigit bibir merah nya kasar, tanpa sadar  tangan nya sudah mencengkram keras ujung kaus nya.

“Kau pernah mengatakan kalau aku adalah seorang yang naif. Lalu, kau apa, Abeoji? Kau munafik! Setelah sekian lama, kau baru mengatakan hal itu! Setelah sekian lama, Abeoji!” teriak Siwon. Tuan Choi tak membalas dan hanya bisa diam di tempatnya.

Keduanya pun kembali terdiam dan larut dalam kesedihannya masing-masing. Siwon masih berusaha untuk tidak memukul Abeoji nya saat ini mengingat itu tidaklah pantas untuk dilakukan. Tapi, mengingat segala hal yang telah Abeoji nya itu perbuat membuat Siwon merasa sakit bukan main. Tuan Choi hanya menangis tanpa suara di tempatnya dengan segenap penyesalan yang sudah menghantui hatinya. Petir mulai bersambaran diikuti dengan tangisan langit yang memilukan. Kedua sosok namja itu masih belum bergeming dari tempat nya walaupun butiran jarum hujan sudah membasahi seluruh tubuh dan pakaian mereka hingga basah.

“Abeoji takkan menghalangimu lagi. Sekarang semua nya terserah padamu. Abeoji juga sudah membatalkan rencana perjodohan mu dengan putri Tuan Jung itu beberapa hari yang lalu, Sekarang Berbahagialah.” Jawab Tuan Choi. Siwon terperanjat mendengar perkataan Abeoji nya tersebut. Tuan Choi pun memberikan sebuah senyuman kepada anaknya itu lalu menepuk pundak nya pelan. Siwon masih terkejut dengan ucapan Abeoji nya beberapa saat yang lalu.

Tuan Choi mengambil kunci mobil di kantung jaket nya lalu melemparkan benda tersebut kearah Siwon. Dengan langkah pelan sosok tua itu pergi meninggalkan area pemakaman. Siwon memandang sebentar kearah kunci mobil itu lalu tersenyum penuh arti. Namja itu langsung berlari menuju Chevrolet Camaro yang terparkir di halaman pemakaman dan membawa mobil itu dengan kecepatan penuh. Namun, deringan ponsel yang berada di dashboard mobil membuat namja itu harus memberhentikkan mobil nya dan menjawab panggilan tersebut.

“Yeoboseoyo?”

“Ya! Choi Siwon, Aku berhasil!” Siwon menjauhkan ponsel nya dari telinga saat suara lumba-lumba milik Jessica terdengar. Namja itu sedikit mengecilkan volume suara ponsel nya nya agar tak terjadi sesuatu yang membahayakan bagi telinga nya saat ini.

“Apa nya yang berhasil, Jung Sooyeon?” goda Siwon. Terdengar dengusan kesal dari seberang, Siwon terkekeh pelan mendengarnya.

“Kau ini! Baiklah karena hari ini aku sedang bahagia jadi aku akan mengampuni mu. Kau tau, Won. Perjodohan kita dibatalkan! Aku bisa kembali menjalin hubungan ku dengan Taecyeon!” balas Jessica bersemangat.

“Aku sudah tau. Justru kau yang saat ini menghalangiku. Dasar Lumba-lumba tukang tidur!” Bip! Siwon pun segera mematikan ponsel nya dan kembali menjalankan mobilnya menuju apartemen Tiffany. Namja itu membawa mobilnya dengan kesetanan hingga nyaris menabrak beberapa pejalan kaki yang sedang menyebrang. Pikiran Siwon hanya tertuju pada satu sosok, Tiffany!

Suara ketukan pintu membuat Tiffany menghentikan aktifitas memasak nya untuk sementara. Yeoja itu sedikit menggerutu kesal karena suara ketukan pintu yang semakin keras sementara ia sudah berteriak untuk menunggu sebentar. Saat pintu dibuka terpampanglah Siwon yang basah kuyup dengan sebuah senyuman manis yang tergantung indah di bibir namja itu. Tiffany tidak bisa berkata apa-apa saat Siwon berhasil memeluk tubuh mungil nya dengan erat dan mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir tipisnya.

“Ucapkan selamat datang untuk kehidupan bahagia kita, Miyoungie. Kau akan resmi menjadi nyonya Choi sebentar lagi..”

 

 

Flashback Off

 

Senyuman tak pernah terlepas dari bibir kedua insan yang baru saja dipersatukan oleh Tuhan itu. Siwon menggengam erat tangan Tiffany begitupula sebaliknya. Kini, kedua nya berada di halaman gereja karena Tiffany akan melemparkan karangan bunga untuk para tamu yang datang. Terlihat Jessica dan Yoona yang sangat bernafsu (?) untuk mendapatkan bunga bersama dengan tamu wanita yang lain yang tak kalah menggebu-gebu(?). Tiffany hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan lalu bersiap-siap melemparkan karangan bunga.

“Siap! 1, 2, 3!” Tiffany pun melemparkan karangan bunga di tangan nya dan……

“Ya!” teriak para yeoja saat melihat karangan bunga tersebut melayang dan terjatuh tepat di tangan Taecyeon dan Jong In yang kebetulan tak berada jauh dari para kerumunan yeoja haus bunga (?). Kedua namja itu hanya bisa terbengong-bengong melihat karangan bunga yang berada di tangan  mereka berdua sedangkan Jessica mengepalkan tangan nya senang dan Yoona yang terlihat malu-malu.

“Kami belum mau menikah! Titik!” seru Taecyeon dan Jong In bersamaan. Jessica yang mendengarnya langsung saja memberikan death glare maut nya, berbeda dengan Yoona yang sudah bersiap akan memukul dengan tas selempang Gucci miliknya.

“Sebaiknya kalian segera lari.” Usul Siwon sembari melirik Jessica dan Yoona yang sudah bersiap-siap untuk menyerang. Dan benar saja, kedua namja itu langsung berlari tunggang langgang, berusaha menghindar dari amukan menyeramkan kekasih mereka masing-masing.

Siwon, Tiffany dan para tamu lainnya langsung tertawa saat melihat aksi kejar-kejaran ala Bollywood tersebut. Namun, tawa Siwon dan Tiffany langsung terhenti saat terlihat Tuan dan Nyonya Choi yang menghampiri mereka.

“Kami berdua sudah mendiskusikan ini cukup lama. Jadi, bisakah kalian memberikan kami cucu lagi? Ayolah, Jun Hong juga butuh adik, iya bukan Jun Hong-ah?” tanya Tuan Choi sembari melihat kearah Jun Hong yang tersenyum senang, Nyonya Choi pun ikut mengangguk setuju. Tiffany menelan ludahnya dan melihat kearah Siwon yang sudah memasang tatapan aneh kearahnya. Yeoja itu mundur sedikit demi sedikit dengan takut.

“Ayolah Miyoungie, satu lagi boleh kan?”

“Oppa!!!”

 

-End-

 

Akhirnya selesai juga. Maaf ya cerita nya agak gimana gitu, hehehe. Tapi, author udah berusaha semaksimal mungkin untuk buat FF ini. Maaf ya kalau ada typo atau kurang sreg sama ceritanya. Tapi, tetep ditunggu RCL nya. Makasih #bow 90 derajat.

 

43 thoughts on “THE JOURNEY OF RELATIONSHIP

  1. ceritanya cute..cute..cute..
    awalnya sempet heran, ngasih tas branded kok nelfon di telfon umum? ternyata..
    makasih udah writing n posting ff yang keren author n mi2n-nim.. >bow<

  2. Ff yg bagus…
    Aq smpe nangis bca.y…
    Ayah.y siwon jhat bgt sihh smpe hrus kaka sma adik.y siwon jd korban..
    Bru sadar stelah ibu.y siwon marah2 smpe lempar vas segala…

  3. Ooowwww
    aku mank lgg suka banget ma sifany
    gara2 yoong ga jd kakak iparku,heuheu
    cerita’a bgs
    akhir’a happy ending
    ( thor jgn protes ya klo aku comment’a ky gni coz aku bingung mu comment apa)
    gomawo

  4. Appany siwon jahat banget,kakak adik sampai dikorbankan dan juga siwon.namun siwon tetap mempertahankan cintanya pada fany dan juga anaknya jun hong.tapi akhirnya siwon appa menyadari kesalahannya,dan merestui hubungan sifany.yeah……akhirnya happy ending juga.
    Daebak thor……keep writing thor.hwaiting thor.
    Sifany 4ever♥♥♥♥♥

  5. keren banget, aku kira bakal jadi sad ending, tapi ya syukur akhirnya jadi happy ending
    suka sama alur ceritanya, bagus banget pokoknya

  6. Melas bgt hdp siwon, yg pny ayah sprt itu. ayh yg tdk mberi kbhgiaan utk ankny tp justru mberi ksengsaraan. tp akhirny krn ucpn ibu siwon mnydrkn ayh siwon utk tdk memksakn khendk pd ankny.
    akhirny sifany mndpt restu n menikh, bhkn minta cucu lg
    sygny g dijlsin bgmn hub sifany..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s