My Bad Daughter

Title : My Bad Daughter

Author : @janisone

Main Cast : Tiffany Hwang – Choi Si won

Lauren Hanna Lunde a.k.a  Lauren Hanna Choi

Support Cast : Kim Taeyeon – Lee Dong hae – Daniel Hyunoo Lachapelle a.k.a Daniel Choi – Im Yoona – Park Jung soo/Lee teuk

Length : Oneshoot

Rating : General

Genre : Family

Disclaimer : Semua cast milik Allah dan SM Entertaiment.Cerita ini murni milikku.

            Anyeong readers, ini sequel untuk ff arrogant girl, semoga kalian suka dan jangan lupa commentnya…

Happy Reading!

Seorang wanita cantik berusia sekitar 31 tahun tampak menangis didepan pintu keberangkatan bandara International Incheon.Setiap pasang mata yang melihat adegan itu hanya geleng-geleng kepala.Mengerti kalau wanita tersebut sedih karena akan berpisah dengan putra yang ada dalam dekapannya.

            “Oemma, aku sudah besar.Tidak perlu mengkhawatirkanku…”

            “Danny-ah…”Tiffany terus menangis memanggil nama putranya.Seakan-akan tidak rela melepas  kepergian sang anak untuk belajar keluar negeri.

“Fany-ah, kami harus berangkat…”Mr. Hwang menarik cucunya dari dekapan Tiffany.Dengan terpaksa Tiffany melepas putranya dan beralih memeluk sang suami yang juga sedang menggendong putri mereka yang baru berusia 4 setengah tahun, Lauren Hana Choi.

Tiffany masih menangis.Tak rela sang Appa membawa putranya yang baru menginjak usia 12 tahun tersebut.Mr. Hwang memutuskan untuk mengajak Daniel bersamanya agar dia tidak kesepian.Alasan lain adalah agar cucunya tersebut mendapat pendidikan yang lebih baik di Amerika.

“Oemma, jaga dirimu.Jangan mengkhawatirkanku karena aku sudah bisa menjaga diri…”ucap Daniel tenang.Anak gagah nan tampan itu pun beralih menatap adik kecil yang masih setia digendongan Appanya.

“Saeng, jangan nakal ya? Terutama pada Oemma.Jadilah anak yang baik…”Anak itu mengangguk tersenyum sebelum membungkukkan sedikit badannya untuk mencium sang kakak yang akan pergi.

“Appa, Halmoni, Haraboji, aku berangkat…”pamit Daniel.

Mr. Hwang menggandeng Daniel pergi.Anak itu melambaikan tangannya dan tersenyum untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar meninggalkan Korea.

Satu menit berlalu.Choi Ahjussi dan Choi Ahjumma memutuskan untuk pulang.Sementara Si won masih betah berdiri ditempatnya karena tangis Tiffany makin kencang saja.Tak peduli pada keramaian yang ada dibandara.

“Gwenchana, Mi young-ah, dia akan baik-baik saja….”ucap Si won menenangkan.Lauren yang masih digendongan Si won menatap Tiffany sebal.

“Ck, cengeng sekali…”cibir Lauren melipat kedua tangannya didada.Tiffany yang mendengar  ucapan anak itu segera menghentikan tangisnya.

“YA! Apa maksudmu?!”Tanya Tiffany tak suka.Lauren hanya mencibir, keduanya saling memberi tatapan mematikan membuat Si won menghela nafas.Lelah.Bagaimana tidak, kedua perempuan ini memang selalu tidak akur karena terus bersaing untuk mendapatkan perhatiannya.

”YA! Choi Hana, noe…”

“Appa…”belum sempat Tiffany melanjutkan kata-katanya, Lauren sudah merajuk dan memeluk leher Si won dengan erat.

“Appa, Oemma memanggilku dengan nama itu.Hanya Appa dan Danny Oppa yang boleh memanggilku dengan nama itu…”ucapnya manja dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat.Tiffany rasanya ingin meledak dan mencekik anak itu.Sementara Si won hanya tersenyum seraya mengusap punggung putrinya dengan sayang.

“Lauren, Oemma sedang sedih.Jadi jangan membuat Oemma marah, aratchi?…”

“Tapi Appa harus katakan pada Oemma kalau dia tidak boleh memanggilku dengan nama itu…”ucap Lauren memanyunkan bibirnya, membuatnya terlihat cute.Setiap orang yang melihatnya pasti ingin mencubitnya pipi chubbynya karena gemas.Tapi tidak bagi Tiffany.Dia sangat benci sekaligus kesal jika anak itu bersikap manja dan sok imut di depan suaminya.

“Mi young-ah…”

“Lupakan!”potong Tiffany.Dia merapikan letak syal dilehernya, memakai kaca mata hitamnya agar tak terlihat matanya yang sembab dan segera pergi.Tidak mau mendengar apapun dari Si won karena Si won hanya akan membela bocah kecil itu.

“Tuh kan, Oemma marah…”

“Mianhe, Appa…”Lauren menundukkan kepalanya.Si won memberikan senyum manisnya dan segera menyusul Tiffany yang mungkin sudah masuk ke mobil mereka.

***Sifany***

Di pesawat, Daniel terus tersenyum memandangi photo wanita cantik pada layar IPhone miliknya.Namun dia segera menyimpan gadget itu saat seorang pramugari menegurnya ramah karena pesawat akan segera take off.

“Haraboji…”Mr. Hwang menoleh pada cucu tampannya.

“Ne?….”

“Apa Oemma akan baik-baik saja?…”tanyanya membuat Mr. Hwang tertawa.

“Tentu, dia harus membiasakannya sejak sekarang…”jawab Mr. Hwang.Daniel mengangguk.Dia bersandar disandaran kursi  seraya melihat keluar jendela.Berharap kalau Oemmanya tidak mengkhawatirkannya agar dia juga merasa tenang selama di Amerika.

“Aku akan baik-baik saja, Oemma…”

***Sifany***

“Tidur yang nyenyak, sayang…”Si won mengecup kening putrinya dan menyelimuti tubuh mungil itu agar hangat.Lauren memejamkan matanya, siap untuk berpetualang ke alam mimpi.

Si won menutup pintu kamar Lauren.Dia langsung menuju sofa karena menemukan Tiffany yang sedang gelisah sambil memegang ponsel kesayangannya.Pria itu tersenyum, mengerti dengan kegelisahan tersebut.

“Wae, kekasihmu belum juga menelfon?…”tanya Si won duduk disamping Tiffany.Wanita itu menoleh dengan ekspresi sedih.

“Eoh, dia belum menelfonku?…”jawabnya sedih seraya menyandarkan kepalanya dibahu Si won.

“Appa sudah menelfonku, mereka sudah sampai dan baik-baik saja…”

“Ne?….”kaget Tiffany.

“Kenapa Oppa tidak bilang padaku?….”protesnya kecewa.

“Lalu Danny?…”tanyanya lagi.

“Dia tertidur, mungkin kelelahan…”Tiffany menggembungkan pipinya kecewa.Mungkin dia harus bersabar untuk besok.Padahal baru pukul 4 dini hari tadi anaknya berangkat rasanya sudah seperti satu tahun saja.      

“Sudah malam Nyonya Choi, kau tidak ingin tidur?…”Si won memeluk pinggang ramping wanita itu dengan senyum manisnya.Tiffany ikut tersenyum dan mengangguk manis.

“Appa…”

Tiffany menggigit bibir bawahnya kesal.Lagi-lagi bocah itu merusak suasana.Tanpa komando, Lauren berlari dan bahkan sudah berada tepat digendongan Si won.

“Ada apa, sayang.Bukankah kau harus tidur?….”tanya Si won sembari membelai rambut panjang Lauren.

“Aku tidak bisa tidur.Appa, aku takut….”

“Aish! Kau pasti bohongkan!”tuduh Tiffany yang kesal mendengar alasan itu setiap malam.Lauren mencibir dan kembali menatap Appanya dengan tatapan sedih dan takut.

“Aniyo Appa, aku benar-benar takut tidur sendirian.Aku boleh tidur dengan Appa?…”

“Tentu….”

“Tidak!”jawab Tiffany tak setuju.

“Waeyo?…”Tanya Lauren sebal, tak terima dengan penolakan Tiffany.

“Kau sudah besar, tidak perlu ditemani lagi…”

“Oemma lebih besar dariku…”

“Tapi aku ini istrinya!”

“Aku anaknya!”balas Lauren tetap ngotot, keduanya kembali saling memberi tatapan membunuh.

“Gwenchana  Mi young-ah, mungkin dia memang tidak ingin tidur sendiri…”

“Oppa!” Tiffany tak bisa terima.Semenjak bocah itu lahir, dia memang sudah merebut perhatian Si won sepenuhnya.Membuat Tiffany benar-benar muak dan kesal karena merasa tersingkirkan.

“Ya sudah, kalian cari kamar lain saja…”putus Tiffany.Dia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kasar.Lauren tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat wanita cantik itu marah.

“Bukankah Oppamu bilang jangan membuat Oemma marah?…”Lauren terdiam.Kalau Si won sudah menasehatinya, dia akan menunduk dan memberikan ekpresi penuh penyesalan disana.Ya, jurus andalan agar sang Appa tidak memarahinya.

***Sifany***

           Selesai memandikan Lauren, Tiffany segera melangkah ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Pagi ini mereka hanya akan sarapan dengan roti.Ia sedang dilanda sindrom malas memasak karena kecewa sang putra tercinta belum juga memberi kabar sejak tiga hari yang lalu.

“Pagi, yeobo…”sapa Si won duduk dikursi meja makan.Namja itu terlihat sangat tampan dan gagah dengan kemeja putih, dasi sapphire blue dan jas hitamnya.Tiffany hanya menjawab dengan eye-smile cantiknya yang membuat Si won ikut tersenyum.

“Ini, Oppa…” Tiffany memberikan sepotong roti yang sudah diolesinya dengan selai.

“Gumawo…”Si won menerimanya dan memandangi mata indah itu.Pandangan Si won teralihkan saat Lauren masuk ke ruang makan.Ia tersenyum melihat putrinya yang kesulitan untuk duduk diatas kursi.Dia harus memanjat terlebih dulu baru bisa duduk dengan nyaman.

“Oemma, untukku…”pinta Lauren mengulurkan sebelah tangannya pada Tiffany.Tiffany segera menyerahkan roti yang baru diolesinya dengan selai dan Lauren menerimanya dengan senang hati.

“Makan dengan tenang, aratchi?…”ucap Tiffany, Lauren mengangguk mengerti dan mulai menikmati rotinya.

Si won tersenyum.Terkadang dia bingung dengan dua perempuan yang ada dalam kehidupannya ini.Terkadang keduanya sangat manis namun terkadang sangat menakutkan seperti musuh yang saling menghunus pedang.

“Sepertinya aku harus berangkat…”ucap Si won bangkit.Tiffany berdiri dari duduknya untuk merapikan dasi dan jas Si won.

“Tampannya…”ucap Tiffany memandang Si won kagum.Si won membalas senyum itu dan mengecup kening Tiffany singkat.

“Appa, aku juga mau…”pinta Lauren manja.Si won tertawa dan segera mencium putri kecilnya.

***Sifany***

“Hati-hati,  Oppa…”Tiffany melambaikan tangannya.Si won membalas dan segera melaju dengan mobil sport Italian Lamborghini Murcielago warna merah itu.

Setelah kepergian Si won  kekantornya, Tiffany langsung sibuk bekerja.Mulai dari mencuci piring, mengepel lantai dan sebagainya.Bekerja seperti babu seperti ini bukanlah tipenya.Dari kecil dia hidup dengan pelayanan penuh, jadi sama sekali tidak pernah melakukan pekerjaan rumah.Namun sekarang dia sudah menikah dan punya dua anak.Untuk sang suami tercinta dia rela melakukan apa saja walaupun mengorbankan tangan halusnya terkena sisa makanan dan detergen.

Diawal pernikahan mereka, Si won sempat ingin mencari pembantu untuk mengurus rumah.Dia tahu pasti kalau istrinya itu tidak akan sanggup melakukan pekerjaan rumah.Saat tingal dirumahnya dulu pun Tiffany sangat jarang beres-beres rumah.Tapi Tiffany dengan keras menolak.Dia tidak rela Si won mengenakan baju yang dicuci wanita lain dan memakan masakan wanita lain selain dirinya.Apalagi kalau sampai Si won melirik pembantu mereka.ANDWAE!

“Hah….”Tiffany menghela nafas dan berbaring disofa ruang tengah.

“Choi Si won, kau benar-benar membuat hidupku buruk…”Tiffany tersenyum, senyum bahagia karena dia tidak keberatan jika jerih payahnya mengurus rumah untuk menyenangkan sang suami.Apalagi setelah Si won melamarnya dihari kejutan ulang tahunnya itu, Si won berubah menjadi pria yang sangat baik.Berbeda dengan kesan pertama mereka bertemu.

Tiffany memperhatikan kuku dan kulit tangannya.Masih halus, sama sekali tidak kasar karena dia rutin melakukan perawatan.

“Sepertinya aku harus ke salon…”gumannya.

“Untuk apa?…”suara Lauren cukup membuat Tiffany kaget.Tentu saja karena bocah itu datang dengan tiba-tiba.

“Untuk refreshing baby, Oemma harus mencuci rambut, meni-pedi dan massage.Ah, pasti menyenangkan…”ungkap Tifany gembira.

“Bukankah kemarin Oemma baru melakukannya.Bisanya hanya membuang uang…”Tiffany melirik anaknya sebal.

“Oemma, temani aku berenang…”pinta Lauren.

“Bukankah disamping ada kolom renang?…”tanya Tiffany malas sambil melihat-lihat majalah fashion yang baru diambilnya.

“Oemma akan membiarkanku berenang sendiri? Bagaimana kalau aku tenggelam…”

“Kau tidak akan tenggelam karena kau bisa berenang.Kau juga bisa mengunakan pelampung…”balas Tiffany tetap fokus pada majalahnya.Sementara Lauren makin cemberut, kenapa dia punya Oemma yang menyebalkan seperti ini.

“Kalau Danny Oppa disini dia pasti mau menemaniku berenang…”ucap Lauren mengingat kakaknya.Tiffany yang mendengar nama Daniel disebut dengan cepat memeriksa IPhonenya.

“Bahkan dia tidak mengirim pesan…”keluh Tiffany sedih.Tiba-tiba Lauren mendapat ide bagus.Appanya!

“Aku telfon Appa saja…”ucapnya berlari ke arah telfon.Tapi Tiffany dengan cepat mencegahnya sebelum Lauren menyentuh gagang telfon.

“Suamiku sangat sibuk honey, jadi kau tidak boleh mengganggunya.Kajja, Oemma temani…”ajaknya manis.Lauren mencibir, pura-pura kesal lalu turun dari pangkuan Tiffany.

“Kajja…”ajak Lauren melangkah lebih dulu.Dia tersenyum penuh arti, alasan Appa yang digunakannya sangat tepat.Dengan begitu Oemmanya akan mau mengikuti semua keinginannya.

***Sifany***

Tiffany tiba di kolom renang..Kolom ini memang kecil karena dibuat khusus untuk anak-anak dan tempatnya pun berada di dalam rumah dengan jendela kaca besar yang bisa di buka dari sisi mana saja.

Tiffany tampak bingung.Sepi.Kemana anaknya? TENGGELAM? OH NO! Tiffany berlari mendekat ke tepi kolom renang.

           “Lauren! Lauren-ah! Choi Ha na! Lauren Choi! Kau dimana?…”Tiffany mulai panik.Matanya sama sekali tidak bisa menangkap dimana sosok mungil itu berada.

“Jangan tenggelam sayang, Oemma mohon.Oemma akan lebih dulu mati jika mendapatimu sudah tidak bernapas.Lauren-ah…”panggil Tiffany panik.

“Oemma….”Tiffany menoleh saat suara kecil itu memanggilnya.

“Kau? YA!  Kenapa bisa disini?…”tanya Tiffany kesal.Kesal karena dia sudah panik setengah mati ternyata anak itu baik-baik saja.

“Aku mengambil pelampung, bukankah Oemma yang menyuruhnya…”anak itu berkata dengan angkuh dan segera masuk ke kolam renang.Lengkap dengan baju renang dan pelampungnya.

“Aish, kalau seperti ini lebih baik kau tenggelam saja…”ucap Tiffany kesal.Tentu dia tidak serius dengan ucapannya.

***Sifany***

Satu jam berenang cukup membuat Lauren merasa lapar.Dia keluar dari kolom renang mendekati Tiffany yang asyik dengan kutek pinknya.

“Oemma…”panggilnya.Tiffany meraih handuk untuk mengeringkan tubuh Lauren yang basah.Setelah kering, dia mendudukkan Lauren dipangkuannya dan mendekapnya hangat.Lauren pun sangat nyaman dalam posisi seperti ini.

“Oemma…”panggilnya lagi.

“Hm….”

“Lapar…”ucapnya dengan ekpresi memelas.Seolah-olah ingin mengatakan kalau dia benar-benar lapar.Tiffany pun luluh dengan tatapan memohon milik Lauren.

“Baiklah, putriku yang menyebalkan ini mau apa?…”

 “Aku ingin spageti, sushi dan sashimi…”pintanya.

“Aish, kenapa banyak sekali…”protes Tiffany, namun dia tak berkomentar lagi saat anak itu menunjukkan ekspresi memelasnya.

“Baiklah-baiklah, Oemma buatkan…”Tiffany berdiri dan membawa putri yang ada digendonganya masuk.  

“Kita makan diluar saja, Oette?…”usul Lauren manis.Tiffany menghela nafas, lalu mengangguk setuju.Ya, lebih baik menurutinya dari pada melihatnya menangis dan mengadu pada Si won.Lagi pula ini hanya soal makanan.

***Sifany***

Anak berusia 4 tahun itu berlari masuk ke dalam sebuah restoran.Tiffany tak bisa mencegahnya karena masih harus mengurus mobilnya.Belum sempat dia melepas seatbelt anak itu sudah keluar duluan.

Begitu masuk ke dalam restoran, Tiffany merasa ada yang aneh.Restoran ini sangat ramai tapi sangat sunyi tanpa ada suara.Tunggu, Tiffany menoleh ke mana arah pandangan semua orang.Dia tersentak kaget begitu melihat putrinya terduduk dilantai dengan piring pecah dan makanan yang berserakan disekelilingnya.

“Lauren!”panggil Tiffany khawatir.Dia mendekat dan merapikan baju Lauren yang sedikit kotor karena tertumpah makanan.

“Tuh kan, coba lihat ini.Makanya jangan lari-lari seperti tadi.Kau terluka? Ada yang sakit?…”tanya Tiffany bertubi-tubi.Sangat terlihat kecemasan diwajah cantiknya.Lauren menggeleng membuat Tiffany merasa lega.

Seorang pria bertubuh tambun yang merupakan manager restoran mendatangi tempat kejadian.Dia terlihat sangat marah melihat kekacauan ini.

“Aish! Jadi ini anakmu Nyonya? Aigo, harusnya kau lebih menjaganya, lihat ini? Semua piring-piringnya pecah dan makanannya tumpah!”marahnya.

“Mianheyo Ahjussi, aku akan lebih memperhatikannya…”ucap Tiffany sembari membungkuk minta maaf.

Seorang Tiffany membungkuk dan minta maaf? Sesungguhnya ini tidak  akan pernah terjadi.Namun demi nama baik sang suami dia rela melakukan apapun karena dia tidak mau orang diluar sana berpendapat kalau istri dari CEO Choi Si won adalah wanita yang tidak sopan atau angkuh.Nama baik dan karir suaminya bisa saja tercoreng karenanya.

“Ada apa ini?…”Suara seseorang terdengar dari pintu masuk.Sang manager terlihat terkejut dengan kedatangan pria itu disaat ada masalah seperti ini.

“Maafkan kami, Tuan…”

Tiffany menoleh saat sang manager tersebut mengucapkan kata maaf.Wanita itu juga terkejut begitu menyadari siapa namja dengan setelan hitam rapi itu.

“Dong hae Oppa?…”ucap Tiffany tak percaya.Pria itu tersenyum dan segera menyuruh pegawainya membersihkan piring-piring dan makanan yang berserakan dilantai.

“Mianhe Fany-ah, pegawaiku kurang sopan karena telah membentakmu…”Dong hae membungkuk membuat Tiffany sedikit tak nyaman.

“Pegawaimu?…”tanya Tiffany disambut anggukan dari Dong hae.Tiffany ikut mengangguk, mengerti kalau restoran ini milik pria tampan itu.

“Gwenchana Oppa, memang aku yang salah…”ucap Tifany tersenyum.

“Ini putrimu?…”tanya Dong hae memandang gadis imut didepannya.

“Ne.Ayo Lauren, perkenalkan dirimu…”perintah Tiffany.Lauren menatap Dong hae dengan pandangan tak suka.

“Anyeong haseyo.Aku Lauren Choi, putri Choi Si won Appa…”Dong hae tertawa melihat cara anak itu memperkenalkan dirinya.

Agar tak terlalu lama berdiri, Dong hae mengajak keduanya untuk duduk.Dong hae mengajak keduanya duduk dimeja didekat taman agar pemandangan lebih indah dan mereka bisa menghirup udara bebas.

“Kau ingin makan apa, Lauren-ah?…”tanya Dong hae ramah.Lauren mencibir mendengar Dong hae memanggilnya seperti mereka sudah akrab dan saling mengenal.

“Aku mau spageti, sushi dan sashimi…”jawabnya angkuh.Dong hae tertawa, mengingat sikap Tiffany dulu juga seperti ini padanya.Ya, walau selalu diacuhkan tetap saja dia tidak bisa berpaling dari gadis itu hingga sekian lama.Tapi sekarang sepertinya dia harus melakukannya.

             “Wah, ternyata kau makannya banyak, ya…”tawa Dong hae memanggil pelayannya.

Tiffany tersenyum dan memeletkan lidahnya pada Lauren yang terlihat tak suka dengan ucapan Dong hae barusan.

`Awas saja, akanku adukan pada Appa`ucap Lauren dalam hati.

“Kalau kau, Fany-ah?…”

“Oh, aku Vanilla Latte saja, Oppa…”Dong hae mengangguk.Dia menginstruksikan pegawainya untuk menyediakan pesanan bagi tamu spesialnya.

“Karena ini pertemuan pertama kita jadi semuanya gratis…”

“Jjinjayo? Kyaa, gumawo Oppa…”ucap Tiffany girang.Sementara Lauren menatap Oemmanya sebal.Menurutnya sikap itu tak pantas karena mereka bukanlah orang yang harus bahagia karena menerima makanan gratis.

***Sifany***

Semua makanan telah terhidang dimeja.Lauren mulai memakan makanannya dengan setengah hati.Dia tidak bisa menikmati makanannya karena dua orang didepannya selalu saja mengobrol tanpa memperdulikannya.Tiffany pun mengabaikannya yang beberapa kali memanggil.

Lauren melirik ke arah Dong hae.Dia meletakkan sumpitnya dengan kasar karena tak suka dengan cara Dong hae menatap Oemmanya.

“Ahjussi…”panggil Lauren.

“Ne?…”Dong hae menoleh.

“Jangan menatap Oemmaku seperti itu…”ucap Lauren kesal.

“Ne?..”tanya Dong hae bingung, namun kemudian tersenyum malu.

“Mianheyo, Lauren-ah…”ucap Dong hae merasa bersalah.Dia merutuki dirinya sendiri yang tak bisa menjaga perasaannya.Bahkan anak kecil saja tahu kalau dia masih menyukai Tiffany.

“Ya! Apa yang kau lakukan?…”tanya Tiffany setengah berbisik.Dia benar-benar tidak enak hati pada Dong hae atas ucapan Lauren  barusan.

“Meski aku sering bertengkar dengan Oemma karena berebut perhatian Appa, tapi aku tetap tidak rela Ahjussi menatap Oemmaku seperti itu, hanya Appaku yang berhak…”katanya lagi membuat Tiffany makin tak enak.

“Mianheyo Oppa, dia sedikit tidak sopan…”ucap Tiffany berusaha tersenyum.

“Gwenchana, dia berhak marah karena memang aku yang salah…”balas Dong hae.Tiffany mengangkat sebelah alisnya, apa maksudnya dia yang salah.

“Lauren-ah, Kajja, kita pulang…”ajak Tiffany pura-pura manis.Lauren turun dari kursinya dengan angkuh.

            “Kajja, makanannya tidak enak…”ucapnya langsung melongos pergi.

Tiffany memejamkan matanya menahan marah.Apa yang harus dilakukannya pada anak itu.Rasanya dia tidak sanggup untuk menatap Dong hae lagi.

“Mianhe Oppa, atas ucapannya barusan…”ucap Tiffany membungkuk.Dong hae hanya tersenyum dan mempersilahkan Tiffany pergi.

“Kau harus melupakannya, Lee Dong hae…”ucap Dong hae pada dirinya sendiri.

***Sifany***

           Ruang keluarga yang mewah itu terlihat sepi meski berpenghuni.Dua perempuan yang duduk berseberangan itu terlihat saling marah dalam diam.Tiffany berbaring disofa sambil melihat-lihat majalah fashion.Dia membuka halaman demi halaman dengan kasar.Lauren juga melakukan hal yang sama disofa yang berhadapan dengan Tiffany.Sesekali keduanya saling tatap lalu membuang muka dengan kesal.

“Kenapa kau melakukannya?…”tanya Tiffany dingin.

“Memangnya aku melakukan apa?…”balas Lauren santai.

Tiffany duduk dari posisinya.Meletakkan majalah yang dari tadi ditangannya diatas meja yang memisahkan jarak keduanya.Lalu melipat kedua tangannya didada untuk menatap putrinya.Lauren ikut melakukan hal yang sama dengan Tiffany membuatnya makin naik darah.

“Aish! Kenapa aku bisa melahirkan anak seperti ini!”guman Tiffany kesal.

“Aku akan adukan pada Appa…”ucap Lauren dengan nada mengancam.

“Memangnya apa yang akan kau katakan pada suamiku, huh?…”tantang Tiffany.

“Oemma selingkuh…”

“M-Mwo?” Tiffany menutup mulutnya tak percaya.Tentu saja dia kaget, dari mana anak berusaia 4 setengah tahun mendapat kata-kata seperti itu.

”Ya! Kau dapat dari mana kata-kata seperti itu, huh? Apa kau menonton drama? Sudah Oemma bilangkan, jangan menonton drama…”

“Bagaimana aku tidak menontonnya? Oemma selalu egois menonton acara yang Oemma suka…”jawabnya santai dengan alasan yang sangat tepat.

“Aish! Jjinja.Anak ini benar-benar membuatku gila!”erang Tiffany frustasi.Keduanya menoleh ke arah pintu masuk saat mendengar suara mobil Siwon.

“YA! Duduk disitu atau Oemma akan menghukummu karena kejadian direstoran tadi…”ancam Tiffany.Lauren yang sudah bersiap berlari menghampiri Appanya pun terpaksa duduk kembali dan menatap Tiffany yang mulai melangkah ke arah pintu dengan sebal.

“Selamat datang, Oppa…”sambut Tiffany memeluk Si won dan Si won membalasnya hangat.

“Gumawo, yeobo.Dimana Lauren?…”Si won bertanya karena tak mendapati Lauren ikut menyambutnya seperti biasa.Tiffany pura-pura cemberut dan melepas pelukannya.

“Wae, cemburu?…”goda Si won.

“Ne!”jawab Tiffany pasti.Si won tersenyum dan merangkul Tiffany untuk membawanya masuk.

“Appa pulang…”teriak Si won dengan senyum cerah.Dia menurunkan senyumnya ketika melihat anaknya cemberut sambil bertopang dagu dimeja dengan kedua tangannya.

“Waeyo?…”tanya Si won pada Tiffany.

“Tentu saja dia cemburu karena Appanya bersamaku…”jawab Tiffany dengan nada menertawakan Lauren.

Si won hanya mengeleng, dia melatakkan tas kerjanya untuk menggendong putri kecil yang masih setia memasang wajah cemberutnya tersebut.

“Waeyo, kau bertengkar dengan Oemma?….”tanya Si won lembut.

“Oemma marah karena aku melarang Ahjussi itu menatapnya…”Si won menyerngit, tak mengerti dengan maksudnya.Dia melirik ke arah Tiffany yang sudah sibuk dengan majalahnya.

“Ahjussi?…”tanya Si won kembali menatap Lauren.

“Eoh, Ahjussi itu sepertinya menyukai Oemma…”bisik Lauren.

“Dan Appa tahu, mereka asyik mengobrol tanpa memperdulikanku.Oemma bahkan mengacuhkanku…”adunya dengan ekspresi sedih.

“Jjinjayo, Mi young-ah?…”tanya Si won seraya melirik istrinya.

“Hm…”jawab Tiffany seadanya.

“Nugu?…”

“Dong hae Oppa, Sunbaeku waktu SMA dulu…”jawab Tiffany, Si won tersenyum lalu menatap putri cantiknya.

“Ahjussi itu hanya teman Oemma sayang…”

“Tapi…”

“Sudah ya, Appa lelah.Appa ke kamar dulu…”Si won mengusap kepala Lauren lalu menurunkannya.Lauren yang kecewa hanya bisa melihat punggung Appanya yang melangkah menuju kamar.

Tiffany tersenyum senang.Dia berjongkok untuk mensejajar wajahnya dengan putri kecilnya.

“Waeyo?…”tanya Lauren tak suka dipandang seperti itu.Sangat terlihat itu senyum yang menghinanya.

“Kasihan anak Oemma.Appa mengacuhkanmu, Ck…ck…”

“Oemma!”

CUP!

Tiffany mengecup bibir Lauren singkat dan segera berlari kekamar.

“Anyeong…”Tiffany melambaikan tangan sebelum menutup pintu kamarnya dan Si won.Lauren melipat kedua tangannya kesal.

“Besok Appa hanya akan melihatku, Oemma sayang…”ucap Lauren tersenyum misterius.Dia berlari masuk ke kamarnya yang berada disebelah kamar orang tuanya.

***Sifany***

“Oemma!”Pagi-pagi sekali Lauren sudah berteriak dengan keras.Tiffany yang sedang menyiapkan sarapan didapur menggerutu kesal mendengar teriakan bocah itu.

“Oemma!”

“Asih! Jjinja! Kenapa harus berteriak sih…”kesal Tiffany.

“Memang siapa yang mengajarinya berteriak…”ucap Si won lembut yang tiba-tiba sudah memeluknya dari belakang.

Tiffany menggembungkan pipinya kesal.Untuk beberapa saat Tiffany terdiam, sepertinya dia menyadari sesuatu.Bukankah tadi Si won sedang nge-Gym?

“YA!”teriakan melengking Tiffany bahkan mengalahkan Lauren.Dengan cepat dia melepaskan tangan Si won dan menjauh.

“Oppa! Kau berkeringat?! Aish…”

Tiffany mencium lengan bajunya yang sedikit basah oleh keringat Si won dengan jijik.Sementara Si won hanya tertawa puas dan meninggalkan dapur menuju kamar.

“Oemma!”

“Aish! Aku bisa gila!”teriak Tiffany frustasi.

Tiffany meninggalkan dapur dan masuk ke kamar putrinya.Begitu pintu terbuka, dia terlihat sangat shock.Bagaimana tidak, kamar itu sangat berantakan seperti kapal pecah dengan baju yang bertebaran dimana-mana.

“YA! Apa yang kau lakukan?!”marah Tiffany mengampiri Lauren dipintu lemari.

“Oemma, dimana baju yang kita beli dengan Danny Oppa sebelum dia ke Amerika.Oemma menyimpannya dimana?…”tanyanya masih mengacak-acak isi lemari membuat Tiffany makin geram.

“YA! Lauren Choi! Berhentilah.Kau tahu kalau Oemma tidak terlalu suka dengan pekerjaan rumah.Setidaknya jangan menyusahkanku!”marah Tiffany.Lauren tak memperdulikannya malah terus mengeluarkan seluruh isi lemarinya.

“Ya! Lauren Choi, kau mendengarkanku?!”

“Anggap saja ini balas budi, bukankah Halmoni dan Harabojiku sudah merawat Oemma dengan baik…”

“MWO ?!”pekik Tiffany tak percaya.

“YA! Aku bekerja untuk suamiku, bukan untukmu, arra?…”

“Ah, ini dia..”ucap Lauren senang setelah mendapatkan baju yang dia inginkan.

“Oemma boleh pergi, aku sudah mendapatkannya.Satu lagi, bukankah Oemma membenciku karena aku lebih cantik dari Oemma? Jadi jangan terlalu sering marah-marah karena Oemma akan cepat tua…”ujarnya santai dan langsung menuju kamar mandi.

Tiffany hanya  terdiam.Benar-benar tak percaya ini.Bocah itu menasehatinya? Tiffany mengepalkan tangannya menahan amarah.Kenapa anak itu harus lahir dan membuatnya seperti babu dirumahnya sendiri?

***Sifany***

Usai membersihkan kamar yang super berantakan, Tiffany kembali sibuk merias putri kecilnya.Lauren duduk di ranjang dengan manis.Tiffany dengan tenang menyisir rambut anaknya yang panjang dan lurus.Meski menyebalkan tapi rasa sayangnya pada putri kecilnya itu tak pernah berkurang.Begitulah cinta Oemma pada anaknya.

Setelah dirasa selesai, Lauren segera berdiri agar Tiffany bisa merapikan baju berwarna merah muda itu.

“Ah, yeoppota…”puji Tiffany kagum dengan eye-smile cantiknya.Lauren ikut tersenyum memperhatikan dirinya yang sudah dirias oleh Tiffany.

“Tentu saja, akukan anak Appa…”ucapnya bangga.

“Ya! Kau bisa secantik ini karena Oemmamu sangat cantik…”

“Anni, aku cantik karena Appaku tampan…”

“Itu tidak mungkin, ini semua karena Oemma…”

“Appa!”

“Oemma!”

“Anni, Appa!”Beginilah keduanya, jika sudah menyangkut Si won pasti akan beradu mulut.

“Mi young-ah…”keduanya berhenti saat Si won memanggil.

“Ne, Oppa.Jjangkamman…”teriak Tiffany dari kamar.

“Kajja, Oemma gendong…”ajak Tiffany dengan eye-smile andalannya.Benar saja, Lauren tak menolak seakan-akan tersihir oleh eye-smile indah itu.

Tiffany keluar dari kamar dengan Lauren yang ada digendongannya.Dia mendekat ke tempat Si won yang sudah siap berangkat.

“Anak Appa sudah siap? Aigo, cantiknya…”Si won mengambil alih Lauren dari gendongan Tiffany.

“Gumawo, Appa…”ucap Lauren senang.

“Baiklah.Kajja, kita berangkat sekarang…”ajak Si won.Tiffany yang merasa ada yang aneh dengan cepat menarik tangan Si won untuk mencegahnya pergi.

“Kalian akan kemana, Oppa?…”tanya Tiffany tak mengerti.

“Lauren akan ikut aku ke kantor hari ini.Setelah itu kami akan jalan-jalan…”

“Ne?…”teriak Tiffany.

“Kenapa Oppa tidak mengajakku?…”protes Tiffany tak terima.

“Bukannya kau tidak mau pergi? Lauren bilang kau lebih memilih ke salon dengan Tae yeon hari ini…”terang Si won.Tiffany menghembus nafas kesal karena bocah itu sedang tersenyum mengejeknya.Ya, ketika Tiffany sedang menyiapkan sarapan Lauren menemui Si won untuk melancarkan idenya ini.

`Jadi ini ulahmu Lauren Choi?! Kau benar-benar menyebalkan!`teriak Tiffany dalam hati.

Tiffany terduduk kesal disofa.Dia tidak menyangka kalau anak itu akan mengerjainya pagi ini.

 “Kau tidak mengantar kami ke depan, yeobo?…”Si won melirik istrinya.

“Shirro!”jawab Tiffany jutek.Si won tersenyum menahan tawa, sangat mengerti bagaimana kesalnya Tiffany sekarang.

“Ya sudah.Kajja, Appa…”ajak Lauren tanpa memperdulikan perasaan Oemmanya.Tiffany hanya bisa memandangi kedua punggung orang yang sudah berjalan meninggalkannya itu dengan kesal.

“Aish! Jadi dia memintaku mendandaninya untuk pergi dengan Si won Oppa?!”

***Sifany***

Hari berganti hari, minggu berganti minggu bahkan bulan sudah berganti bulan.Sudah 6 bulan sejak kepergian Daniel ke Amerika.Selama itu pula Tiffany merasa rindu akan putra kesayangannya.Apalagi Si won sama sekali tidak mau membantu.Bahkan memberikan nomer telfon rumah Appanya pun Si won tidak memberikannya dengan alasan, kalau dia memberikan nomer itu pada Tiffany bisa dipastikan Tiffany akan menelfon nomer itu setiap saat.

 “Gamsahamnida…”Tiffany membungkuk sekilas lalu beranjak meninggalkan tempat yang dikunjunginya sejak 3 jam yang lalu.Dia memang menghabiskan waktunya disalon ini untuk menghilangkan stress.Bagaimana dia tidak stress kalau hari ini lagi-lagi Si won pergi dengan selingkuhan kecilnya.

Tiffany masuk ke mobilnya.Menginjak pedal gas untuk menuju rumah seseorang yang akan mendengarkan semua keluh kesahnya.

***Sifany***

“Taeng-ah!”teriak Tiffany begitu membuka pintu rumah Tae yeon.Dia bisa masuk seenaknya karena sudah hapal kunci kombinasi rumah itu.Tentu saja dia mendapatkan sederet angka itu dengan susah payah.Mana ada orang yang mau memberi kode angka rahasia untuk masuk ke rumahnya dengan leluasa.

Tiffany memang tak mendapatkannya dari Tae yeon melainkan dari Lee teuk.Pria mana yang akan tahan jika Tiffany sudah menunjukkan eye-smile andalannya.Jangankan Lee teuk, Ayah dan Ayah mertua Tae yeon saja akan ikut terhipnotis.Hanya Si won yang terkadang bisa diajak untuk kompromi jika permintaan Tiffany sudah terlalu kelewatan.

Tae yeon yang sedang sibuk didapur hanya menggeleng pelan mendengar teriakan yang berpotensi memecahkan setiap kaca dirumahnya itu.

 “Tae yeonie…”panggil Tiffany lagi.Kali ini tidak berteriak namun dengan nada hampir menangis.Seperti seorang anak yang mengadu pada Oemmanya.

“Wae, Lauren lagi?…”tanya Tae yeon yang sudah hapal dengan kebiasaan Tiffany.Wanita itu mengangguk dengan ekspresi cemberut.

“Aish! Jjinja! Masa iya Si won Oppa membiarkanku mendengar cerita yang sama setiap harinya!”kesal Tae yeon berkacak pinggang.Bagaimana tidak? Tiffany selalu datang padanya untuk menceritakan betapa bencinya dia pada anak bernama Lauren itu.

“Jadi kau tidak mau mendengar ceritaku lagi? Lalu aku harus bercerita pada siapa?…”tanya Tiffany seakan-akan hidupnya benar-benar menyedihkan.Tae yeon tak menjawab karena sibuk dengan adonan kuenya.

“Memang apa yang dilakukannya hari ini?…”tanya Tae yeon.

“Hari ini dia jalan-jalan lagi dengan Si won Oppa…”

“Lalu?…”

“Si won Oppa tidak mengajakku karena anak itu bilang aku lebih memilih ke salon dari pada ikut mereka….”Tae yeon memperhatikan penampilan Tiffany.

“Sepertinya kau baru dari salon…”

“Lalu, menurutmu aku harus diam dirumah dan memikirkan bagaimana bahagianya mereka sekarang?…”ucap Tiffany kesal.Tae yeon kembali menghela nafas.

“Lalu bagaimana perasaanmu sekarang?…”

“Kau masih bertanya? Tentu saja sangat ingin mencekik bocah itu…”ucap Tiffany dengan mimik wajah yang sangat serius.Tangannya juga terangkat seakan ikut mengekspresikan kalau dia sedang mencekik seseorang.

“Lalu apa yang akan kau lakukan jika Choi Ahjussi dan Choi Ahjumma dulu melakukan hal itu padamu?…”Tiffany terdiam, apa maksudnya?

“Apa maksudmu, Taeng-ah?…”tanya Tiffany tak mengerti.

“Kau tidak sadar? Lauren sekarang adalah kau yang dulu…”

“Mwo?…”tanya Tiffany tak percaya.

“Jjinjayo?…”tanyanya berusaha untuk mengingat seperti apa ia waktu sebesar Lauren dulu.Namun tetap saja dia tidak bisa mengingat apapun.Walau Lauren sekarang adalah dia yang dulu tetap saja itu tak akan mengurangi rasa bencinya terhadap anak itu jika berhubungan dengan Si won.

“Sudahlah Fany-ah, Si won Oppa pergi bersama putrinya, bukan wanita lain…”

“Ini semua karena Stella Onnie…”kata Tiffany kesal.

“YA! Kenapa menyalahkan orang lain jika kau dan Si won Oppa yang memproduksinya…”celetuk Tae yeon.

“Tapi aku benci dia…”rengek Tiffany seperti anak kecil.

“Itu karma untukmu.Siapa suruh kau mengacuhkan Si won Oppa karena Danny…”

“Siapa bilang aku mengacuhkan Si won Oppa.Danny tidak sepertinya, buktinya anak menyebalkan itu bisa lahir…”ucap Tiffany membela diri.Tae yeon tak menjawab karena memilih sibuk memanggang kuenya.

***Sifany***

Sementara Tiffany sibuk bercerita pada Tae yeon, Lauren tampak asyik menghabiskan waktu sore ditemani sang Appa tercinta.Si won pun sama, dia hanya tersenyum memperhatikan putrinya yang tengah mengunyah snack-nya.Rambut panjangnya yang ditiup angin sore membuatnya tampak makin lucu dan menggemaskan.

“Appa…”

“Ne…”Si won membersihkan remahan snack kentang yang tersisa dipinggir bibir Lauren.

“Kenapa Appa menyukai Oemma?….”pertanyaan itu membuat Si won tersenyum.

“Kenapa? Entahlah, yang jelas Appa sangat mencintainya dan membutuhkannya.Kau tahu, disaat Appa lelah, hanya dengan melihatnya dan eye-smile cantiknya, rasa lelah Appa akan hilang dalam sekejap…”ucap Si won seraya tersenyum membayangkan eye-smile indah Tiffany.Lauren  mengerucutkan bibirnya.Si won yang menyadari itu tersenyum simpul.

“Waeyo?…”

“Aku tidak punya eye-smile sebagus Oemma…”ucapnya sedih.Si won tertawa dan merapikan rambut Lauren yang diterbangkan angin.

“Kenapa Oemma dulu tidak mau melahirkanku?…”

“Siapa bilang tidak mau? Oemma bahkan sangat gembira saat mengetahui dia mengandung anak yeoja.Oemma bukannya tidak mau, Oemma hanya takut putrinya akan jauh lebih cantik darinya dan akan membuat Appa melupakannya karenamu…”

“Jjinja? Sepertinya aku berhasil…”ucap Lauren senang dan disambut tawa Si won.

“Apa saat Oemma tinggal dirumah Appa dulu, Oemma berubah?…”Lauren kembali bertanya.Walau dia sudah mendengar semua cerita tentang Oemmanya melalui Taeyeon tetap saja dia masih penasaran.

“Perubahannya hanya 1 berbanding sekian juta…”

“Aish, lalu bagaimana Oemma merawat tubuh dan kecantikannya saat tidak punya uang, Oemmakan sangat heboh jika dalam tiga hari dia tidak ke salon?…”

“Halmoni dan Haraboji tidak akan membiarkan majikan mereka begitu saja.Mereka menguras tabungan agar sang majikan tetap memiliki barang-barang bermerek dan rutin ke salon…”

“Oemma menerimanya?…”

“Halmoni dan Haraboji tidak bilang kalau itu uang mereka.Tapi uang Hwang Haraboji yang dititipkan pada mereka untuk Oemma…”

“Halmoni dan Haraboji sangat baik, aku harus berterima kasih karena mereka Oemmaku tetap cantik…”Si won tersenyum bahagia mendengarnya.

“Oemma tidak sekolah?…”

“Oemma hanya mengikuti semester awal perkuliahannya.Dia ingin fokus mengurus keluarga dan rumah.Dia juga ingin melihat anaknya tumbuh dari hari ke hari.Kau tahukan kalau Oemma sangat menyayangimu?…”

“Ne, Oemma sangat menyayangiku.Oemma membenciku jika Appa lebih memilihku dari pada Oemma…”Keduanya kembali tertawa.

“Lalu, apa Oemma dulu juga bisa memasak dengan enak seperti sekarang? Bukankah kata Tae yeon Oemma, dulu Oemma tidak pernah beres-beres rumah?…”

“Oemma belajar memasak setelah menikah.Dia belajar dari Halmoni dan Tae yeon Oemma.Diawal pernikahan memang sangat merepotkan.Saat dia ingin memasak Appa harus membereskan dapur karena dia menghancurkannya.Saat mengepel lantai pun Appa harus ikut karena kalau tidak Oemma akan membuat rumah banjir…”

“Aish, benar-benar menyebalkan…”ucap Lauren tersenyum membayangkan bagaimana menderitanya sang Oemma dulu harus mengerjakan pekerjaan rumah.

“Walaupun menyebalkan dia adalah Oemmaku yang terbaik.Appa, kajja kita pulang.Kita harus sampai dirumah sebelum Oemma…”ajaknya membuat Si won menyerngit tak megerti.

“Oemma pasti sedang dirumah Tae yeon Oemma.Aku harus mandi agar Oemma tak tahu kalau hari ini aku makan snack…”ucapnya membuat Si won tersenyum seraya mengangguk setuju.Ya, jika Tiffany tahu kalau putrinya memakan makanan ringan dia pasti akan sangat marah.

“Baiklah Nona manis, sekarang kita pulang…”Si won menurunkan Lauren dari bangku.Keduanya berjalan riang di kawasan Myeongdong sambil berpegangan  tangan.

“Kau senang?…”tanya Si won melirik putrinya.

“Ne, tapi sedikit membosankan  tanpa Oemma yang bawel…”ucapnya disambut tawa Si won.

Lauren menghentikan langkahnya ditempat pedagang kaki lima dipinggir jalan.Matanya menangkap sebuah jepit rambut dengan motif pita berwarna pink.Warna kesukaan Oemmanya.

“Appa, bagaimana kalau kita beli yang ini untuk Oemma…”usulnya.Si won meraih benda tersebut dan tersenyum.

“Baiklah.Ahjussi, kami ambil yang ini…”

***Sifany***

“Fany Oemma…”

Tiffany menoleh kearah Ji yeon yang memanggilnya.Anak Tae yeon memanggil Tiffany dengan sebutan Oemma begitu pula dengan anak-anak Tiffany pada Tae yeon.

“Ji yeon-ah? Aigo, anakku makin cantik saja…”ucap Tiffany membuka tangannya.Ji yeon pun memeluk wanita cantik itu sekilas.

“Ada telfon dari Danny Oppa…”Tiffany terdiam memandangi IPhone yang disodorkan Ji yeon.

“Danny?…”tanya Tiffany tak percaya.Ji yeon mengangguk.

“Daniel Choi maksudmu?….”tanyanya lagi.

“Jjinjayo?…”tanya Tiffany senang dan langsung merebut benda itu dari tangan Ji yeon.

“Danny-ah? Benar ini Danny putra tampanku? My little Prince?…”tanya Tiffany dengan mata berbinar-binar.

“Ne, Oemma…”jawab suara diseberang sana.

“Kyaa, aku mendengar suaranya…”teriak Tiffany senang.Tae yeon dan Ji yeon hanya menggeleng pelan.

“YA! Kenapa baru menelfon Oemma? Dan apa-apaan ini? Kau malah menelfon calon istrimu dari pada Oemmamu sendiri?…”

Tiffany pura-pura marah.Danny dan Ji yeon sama-sama menyerngitkan dahi mereka bingung mendengar kata `calon istri` yang baru diucapkan Tiffany.Mereka memang belum tahu apa-apa tentang perjodohan karena Tae yeon dan Tiffany sepakat untuk merahasiakannya.Tiffany sepertinya sadar kalau dia salah bicara, buktinya kini Tae yeon menatapnya garang.Sementara dia hanya bisa cengengesan dan segera pergi kearah balkon untuk menghindari tatapan menakutkan itu.

“Ji yeon-ah, sebaiknya kau ke kamar sekarang.Kau tahukan Oemmamu yang satu itu baru berhenti setelah baterai ponselmu habis…”

Ji yeon menuruti kata-kata Oemmanya meski sebenarnya ingin menanyakan maksud dari ucapan Tiffany tadi.

“Apa maksud Oemma? Ji yeon hanya adikku, sama halnya seperti Lauren…”terang Danny.Lagi pula dia masih SMP belum memikirkan hal-hal yang seperti itu.

“Hm…Ne…”jawab Tiffany ragu.

`Kau akan menyesal setelah melihatnya tumbuh dewasa`batin Tiffany.

“Bagaimana kau disana sayang? Sekolahmu menyenangkan? Haraboji tidak sering-sering meninggalkanmu bukan?….”

“Aku baik-baik saja Oemma, SMP ku juga menyenangkan.Tidak, Haraboji dan orang-orangnya selalu di rumah jika aku di rumah…”

“Syukurlah…”ucap Tiffany lega.

“Oemma bagaimana, tidak bertengkar dengan Lauren-kan?…”

“Lauren? Aniyo, kami sangat baik selama kau pergi…”bohong Tiffany.

“Aku senang mendengarnya.Sudah ya, Oemma.Aku harus istirahat…”

“Wae, kita bahkan baru mengobrol…”

“Disana malam Tiffany, biarkan dia istirahat…”teriak Tae yeon yang sedang memasukkan kue yang sudah matang ke dalam toples.Dia bisa mendengar percakapan itu karena jarak dapur dan balkon tidak jauh.Tiffany pun dengan sangat berat hati mengakhiri sambungan telfon itu.

“Ya, sudah.Berjanjilah untuk sering-sering menelfon Oemma, aratchi?…”

“Ne, anyeong Oemma.Saranghaeyo…”

“Nado saranghaeyo…”

Tut Tut!

Sambungan pun terputus.

“Ini…”

“Mwoya?…”tanya Tiffany menerima toples yang diberikan Tae yeon.Seakan-akan mengerti Tiffany dengan cepat menyambar toples itu dari tangan Tae yeon.

“Gumawo Taeng-ah.Mmuach…”

Tiffany mencium pipi Tae yeon kilat dan langsung berlari keluar sebelum sahabatnya itu meneriakinya.

“Aish! Dasar aneh!”Guman Tae yeon tersenyum.

***Sifany***

Tiffany asyik membaca malajah diatas ranjang.Dia tidak bicara sedikit pun dengan Si won hari ini karena masih kesal dengan kepergian Lauren dan Si won tadi siang.Bahkan Si won tak pernah menelfonnya untuk sekedar bertanya kabar yang membuatnya bosan karena sendirian.

Mata Tiffany teralihkan saat mendengar langkah seseorang akan masuk ke kamarnya.Dia tersenyum karena menurutnya Si won akan masuk dan mungkin akan minta maaf atas perbuatannya yang mengacuhkan dirinya hari ini.Namun kenyataan tidak sesuai dengan yang diharapkan.Wanita itu mendengus sebal saat melihat yang masuk ke kamar adalah Lauren bukan suaminya.

“Cih, pasti mau memamerkan baju baru yang dibelikan suamiku…”guman Tiffany.Dia terlihat kesal sendiri saat anak itu mulai naik ke atas ranjang.

“Oemma, aku pakai baju baru…”ucap Lauren senang.Tiffany hanya mengangguk tanpa menoleh.Lihat, Si won membelikan anak itu baju sementara dia tidak.

“Aku juga punya gaun baru…”Lauren mengeluarkan gaun indah yang tadi dibelinya.

“Oemma, lihatlah, cantik bukan? Ini Appa yang memilihnya…”Tiffany menoleh sekilas.

“Ne, sangat indah…”ucapnya tak ikhlas.Dia tak mengerti kenapa harus bersikap seperti ini terhadap anaknya sendiri.Tapi sikap  Lauren yang selalu pamer dan manja dengan Si won  membuatnya gerah karena merasa dinomor duakan.

“Kami juga membelikan sesuatu untuk Oemma…”Tiffany dengan cepat menoleh dan tersenyum.

 “Jjinja?…”tanya Tiffany senang.Lauren mengangguk dan menyerahkan sebuah benda yang tadi dia simpan disaku celananya.

Tiffany mengerjapkan matanya menerima benda tersebut.Tak percaya kalau dia hanya akan mendapatkan benda seperti ini.

“Ige mwoya?…”tanya Tiffany dengan nada tak suka.

“Itu jepit rambut, Oemma…”terang Lauren.Tiffany menghembus nafas kesal dan membuang benda tersebut sembarangan.Disaat yang bersamaan Si won masuk ke kamar dan melihat jepit rambut itu tergeletak dilantai.

“Appa, Oemma membuangnya…”adu Lauren memanyunkan bibirnya tanda ia kecewa.Si won melirik Tiffany, wanita itu membalasnya dengan tatapan kesal.

“Waeyo, Lauren sendiri yang memilihkannya untukmu.Kau harus menghargainya, Mi young-ah…”

“Menghargainya? Oppa, kalian pasti membeli itu dipinggir jalan bukan? Harganya juga pasti lebih murah dari permen…”

Si won memilih tak membahas masalah ini.Dia mengambil jepit rambut itu dan meletakkannya dimeja rias Tiffany.

“Kenapa masih disini?…”tanya Tiffany pada Lauren yang masih duduk diantaranya dan Si won.

“Aku tidur disini…”jawab Lauren santai.

“YA! Bisakah kau untuk tidak menjadi pengganggu.Ini bukan tempatmu!”

“Tapi aku ingin tidur disini.Appa saja tidak keberatan, iyakan Appa?…”

Si won mengangguk dan tersenyum kearah Tiffany.Tiffany mencibir dan melempar majalahnya sembarangan.

“Appa!”Lauren menjerit kesakitan karena majalah tersebut menghantam wajah super imutnya.

“Tidak usah dipikirkan, Oemma hanya sedang kesal karena hari ini kita tidak mengajaknya…”ucap Si won tersenyum.Mencoba menggoda Tiffany yang sudah berbaring memunggungi keduanya.

***Sifany***

Si won terlihat sibuk diruang kerjanya.Meski ini hari libur dia juga tetap memeriksa beberapa dokumen penting perusahaannya­-perusahaan Tiffany lebih tepatnya.Ya, sejak pernikahan mereka, Si won memang mengambil alih perusahaan itu atas permintaan Appa Tiffany.

Si won menoleh menuju dinding kaca yang bisa membuatnya menatap halaman samping secara langsung.Dia tersenyum melihat Lauren yang asyik bermain ditaman belakang rumah mereka.

“Kyaa!” Teriakan seseorang mengejutkan Si won.Karena tahu teriakan ini milik siapa, Si won dengan cepat keluar dari ruangannya untuk menghampiri Tiffany diteras belakang rumah mereka yang mewah.

Si won juga tahu apa yang membuat Tiffany marah karena istrinya itu sedang memegang mantel yang digunakan Lauren kemarin didepan mesin cuci.

“Kau membelikannya snack, Oppa?…”tanya Tiffany begitu Si won mendekat.

“Mianhe, tapi dia sangat ingin makanya aku tidak tega.Lagi pula hanya sesekali, Mi Young-ah…”

“Justru karena itu Oppa, tubuhnya tidak terbiasa memakan makanan seperti ini.Bagaimana kalau dia sampai sakit?…”

“Ne, aku yang salah.Mianhe…”Si won merangkul Tiffany dan mengusap pundaknya pelan.

“Huh, selalu saja menggunakan uangku untuk membeli benda tidak penting seperti ini…”guman Tiffany pelan.Namun dengan jarak sedekat ini tentu Si won dapat mendengarnya.Tiffany sepertinya sadar kalau kalimat yang dikatakannya itu adalah kata-kata yang tak pantas untuk diucapkan.

Tiffany menelan ludah.Dengan gugup dia mengangkat wajahnya untuk menatap Si won dengan takut.Takut kalau Si won marah dan tersinggung.Ya, semua orang tahu kalau semua harta ini adalah miliknya tapi apa harus dia mengungkitnya?

“Oppa…”panggil Tiffany pelan, ada nada penyesalan disana.Namja itu hanya tersenyum lembut.

“Oppa, Mianheyo, aku mengucapkannya tanpa sadar.Ku mohon Oppa, maafkan aku…”Tiffany mendekat untuk menatap suaminya.

“Oppa…”

Si won mengangkat sebelah tangannya untuk menghapus air mata yang sudah tumpah dipipi cantik istrinya.Pandangan matanya yang teduh membuat Tiffany yakin kalau Si won sama sekali tidak marah atau pun tersinggung.

“Gwenchana Miyoung-ah, gwenchana…”

“Kau boleh memarahi atau pun memukulku Oppa.Tapi aku mohon, maafkan aku…”ucap Tiffany lagi yang hanya disambut dengan senyum oleh Si won.

“Aku bodoh jika memukul istri secantik ini.Sudahlah, aku harus memeriksa beberapa dokuman lagi.Jika kau sudah selesai panggil aku, aku akan membantu menjemur pakaian…”

Si won menepuk pelan pipi Tiffany sebelum kembali ke ruang kerjanya.Sementara Tiffany hanya terdiam, menyesali kebodohannya karena mengucapkan kata-kata itu.

***Sifany***

Setelah membantu Tiffany menjemur pakaian, Si won duduk dibangku taman belakang rumah mereka seraya memperhatikan Lauren yang asyik bermain.Sungguh sebuah kebahagiaan yang tak terhingga baginya memiliki keluarga yang sangat dicintainya.

Si won menoleh saat mendengar suara langkah seseorang mendekatinya.Dia segera menggeser duduknya untuk memberi tempat pada Tiffany.

“Duduklah…”

Si won menepuk bangku disebelahnya.Tiffany meletakkan coffee yang dibawanya diatas meja sebelum ikut duduk disamping suaminya.

Angin sepoi-sepoi menerbangkan beberapa helai rambut panjang Tiffany yang hanya terdiam sejak tadi.Si won sibuk memperhatikan anugerah Tuhan yang tak terhingga itu dengan senyum bahagia.

“Oppa…”panggil Tiffany tanpa melihat sosok Si won yang ada disampingnya.

“Hm?….”

“Mianhe…”ucapnya beralih menatap Si won.Suaminya itu hanya tertawa melihat sikap tak biasa istrinya ini.

“Hei, bukankah aku sudah memaafkanmu.Jangan dibahas lagi, yeobo.Lagi pula yang kau katakan itukan ada benarnya…”

“Oppa…”sela Tiffany cepat.

“Ne, baiklah aku juga tidak akan membahasnya.Aigo, pasti ini rasanya enak sekali….”ucap Si won menikmati secangkir coffeenya.Tiffany tersenyum dan memeluk Si won.

“Mi young-ah…”panggil Si won lembut.

“Ne, Oppa…”jawab Tiffany manis.

“Bagaimana menurutmu, Danny sudah besar, Lauren juga, kurasa…kita bisa memiliki satu malaikat kecil lagi…”

Untuk beberapa saat Tiffany hanya terdiam.Mencerna dengan baik maksud dari suaminya tersebut.

“MWO?!”pekik Tiffany berlebihan.

“Shirro! Pokoknya tidak!”putus Tiffany kesal.

`Dasar namja, sebenarnya apa yang mereka pikirkan.Memangnya mengandung dan melahirkan itu mudah.Susah payah aku menjaga tubuhku agar bagus seperti ini.Apalagi kalau sudah besar anaknya menyebalkan seperti Lauren.Kalau sekarang saja aku di nomor duakan, bagaimana nanti?!`

Si won tersenyum melihat istrinya yang cemberut disampingnya.

“Aku bercanda Mi young-ah, aku lebih suka kau yang seperti ini.Karena aneh seorang Choi Mi young menekuk kepalanya seraya minta maaf berkali-kali atas kesalahannya…”ucap Si won merangkul istrinya sayang.Tiffany tersenyum dan memukul perut six-pax Si won manja.

“Oemma, itu kekerasan dalam rumah tangga…”Tiffany mendengus saat suara kecil itu merusak momentnya bersama suami tercinta.

“Ini bukan kekerasan sayang, hanya suatu bentuk pelampiasan kekesalan saja…”ucap Si won mendudukkan Lauren dipangkuannya.

“Tapi tetap saja Oemma tidak boleh melakukannya.Apa Oemma tidak berterima kasih karena memiliki suami yang mau membantu menyelesaikan pekerjaan rumah…”

“Yang tidak boleh itu kau terlalu cerewet Nona Choi.Kajja, Oemma antar ke kamar.Kau harus tidur siang…”Tiffany mengendong Lauren masuk.Si won hanya tersenyum mengikuti keduanya dari belakang.

***Sifany***

 “Lauren masih tidur?…”tanya Si won yang baru selesai mandi.Dia duduk disisi ranjang disamping Tiffany yang sedang memperhatikan malaikat kecil mereka yang terlelap dalam mimpi indahnya.

“Ne…”

“Dia pasti kelelahan…”ucap Si won.Tiffany menyelimuti tubuh mungil putrinya yang terlelap.Seulas senyum terukir diwajah cantiknya.Bahagia melihat sang anak tumbuh dengan baik.

“Bukankah seperti ini lebih baik?…”

“Ne, tapi sangat menyebalkan saat dia bertingkah manja didepan suamiku…”jawab Tiffany memperbaik letak poni anaknya.Mencium keningnya sekilas lalu beranjak keluar di ikuti Si won.

“Kau mau Coffee, Oppa?…”

“Boleh…”

Tiffany melangkah menuju dapur menyiapkan kopi untuk Si won.Setelah siap dia juga membawa setoples kue yang kemarin diberikan Tae yeon padanya.

“Kue ini dari Tae yeon?…”tanya Si won mencicipinya.

“Ne, kenapa Oppa bisa tahu?…”

“Saat kau disana kemarin Lee teuk hyung menelfon ke rumah.Dan Tae yeon bilang ada anak kecil yang sedang mengadu padanya…”Tiffany mengerucutkan bibirnya.

“Memangnya aku harus kemana lagi.Putraku dibawa orang, suamiku juga…”ungkap Tiffany sedih.Dia bersandar dibahu kiri Si won dan Si won merangkulnya hangat.

“Oppa…”

“Hm?…”

“Bagaimana kalau kita ke Amerika?…”

“Untuk apa?….”

 “Tentu saja mengunjungi Danny.Apa Oppa tidak merindukannya?….”

“Mana mungkin aku tidak rindu.Dia disana untuk belajar Mi young-ah, jadi kita jangan mengganggunya…”

Tiffany melipat tangannya kesal.Tak suka saat Si won tidak memenuhi keinginannya.Bahkan jurus eye-smile andalannya tidak mempan meluluhkan hati Si won.

“Aku tidak hanya ingin melihat Danny…”ucapnya cemberut.Si won menoleh ke arahnya.

“Lalu?…”tanya Si won.Dia makin tak mengerti saat wanita itu hanya tersenyum malu.

 “Aku ingin mendengar Oppa memanggilku, Fany-ah…”ucap Tiffany tersenyum dengan eye-smilenya.Si won tersenyum menahan tawa.

“Wae?…”Tiffany agak kesal, tahu kalau Si won menertawakannya.

“Anni…”jawab Si won meraih majalah bisnis yang tergeletak diatas meja.

“Oh ya, siapa itu Lee Dong hae?…”Tiffany menatap Si won dengan kening berkerut.Kenapa menanyakan Dong hae Oppa? pikirnya.

“Bukankah dia temanku?…”

“Ya, teman yang pernah menyukaimu….”

“Mwo? Siapa yang bilang? Lauren? Aish, anak itu pasti sudah mengatakan hal yang bukan-bukan…”

“Anni, Lee teuk hyung yang mengatakannya…”

“Lee teuk Oppa?…”

Si won mengangguk.Tiffany terdiam.Kenapa suaminya menanyakan Dong hae.Apa dia cemburu karena Dong hae adalah pria yang pernah menyukainya?

“Ne, dia pria yang pernah menyukaiku.Dan Oppa tahu, dia adalah namja tertampan di sekolahku dulu.Dia juga sering memberiku cokelat juga bunga….”

Si won terlihat tak suka melihat Tiffany begitu antusias menceritakan Dong hae.

“Dia juga namja yang perhatian.Semua yeoja disekolahku menyukainya, dia…”

“YA!”Tiffany terdiam saat teriakan Si won menggema.

“Benarkah itu?…”tanya Si won pelan.Tiffany terdiam lalu menggeleng pelan.

“Anni, aku bohong…”jawab Tiffany.Dia tertawa puas melihat ekspresi kesal Si won.

“Meskipun semua orang berkata dia adalah namja paling tampan tapi yang paling tampan adalah napyeon ku ini…”ucap Tiffany memeluk Si won hangat.Si won tersenyum dan membalas pelukan tersebut.

***Sifany***

Tiffany dan Lauren asyik menghabiskan waktu luang mereka dengan bermain di Lotte world.Keduanya terlihat bahagia dan menikmati setiap wahana permainan yang mereka coba.Jika dilihat dari sini, keduanya tampak sangat akrab.Tidak terlihat kalau keduanya saling benci jika dihadapan Si won.

Setelah puas bermain, Tiffany mengajak Lauren untuk mencari makan.Keduanya berjalan dengan bergandengan dan sesekali bersenandung lagu anak-anak.

“Oemma, itu seperti Tae yeon Oemma dan Ji yeon Onnie?…”ucap Lauren menghentikan langkah Tiffany.

“Dimana?…”tanya Tiffany mengikuti arah yang ditunjuk putrinya.Benar saja, Tae yeon terlihat sedang memilih baju disebuah butik bersama putrinya.

“My Taenggo?…”panggil Tiffany seraya berlari kecil ke  tempat Tae yeon.

“Oh, kalian di sini?…”tanya Tae yeon kaget sekaligus senang.

“Ne, kalian juga?…”

 “Aku sedang memilih baju untuk Ji yeon.Kau, tidak sedang mengajari Lauren sifat borosmu itukan?….”tanya Tae yeon curiga.

“Tadinya iya, tapi aku malah asyik bermain bersamanya.Kajja, kita cari makanan…”ajak Tiffany.

Tiffany dan Tae yeon duduk disebuah café sambil makan dan mengobrol.Sementara Lauren  kembali bermain ditemani  Ji yeon.Jarak café dan wahana bermain anak itu memang tidak terlalu jauh jadi mereka masih bisa mengawasi anak-anak mereka.

“Ku dengar, Dong hae Oppa kembali ke Seoul…”Tae yoen membuka percakapan.

“Hm, minggu lalu aku bertemu dengannya…”

“Jjinjayo?…”kaget Tae yeon.Tiffany memandangnya aneh karena menurutnya Tae yeon terlalu berlebihan.

“Waeyo?…”tanya Tiffany.

“Aku hanya takut dia akan menjadi masalah bagi rumah tangga kalian…”ucap Tae yeon.Tiffany sempat terdiam, namun kemudian tersenyum lembut.

“Itu hanya masa lalu, Taeng-ah…”

“Tapi dia menyukaimu…”

“Itu dulu, sekarang dia sudah menikah, aku juga…”

“Ne, tapi mereka berpisah…”

Tiffany terdiam memikirkan perkataan Tae yeon.Dong hae bercerai? Dia tahu bagaimana Dong hae sangat menyukainya dulu.Tapi dia tahu Dong hae bukan tipe orang yang akan mengganggu apalagi merusak rumah tanggga orang.Ya, walau dia tidak mengenal Dong hae dengan baik tapi setidaknya dia tahu seperti apa sosok yang dari dulu menyukainya itu.

“Omo, siapa itu yang bersama Lauren….”Tiffany menoleh begitu mendengar ucapan Tae yeon.Matanya membulat kaget saat melihat seorang bocah tengah menggenggam tangan putrinya dan mengecup pipinya.

“YA!”Tiffany berteriak kencang.Dia segera meninggalkan café itu diikuti Tae yeon.

Tiffany dengan cepat menarik Lauren ke arahnya dan menatap anak laki-laki dihadapannya.

“Siapa namamu?…”tanya Tiffany, tampak tidak menyukai anak itu.

“I `am Kevin, Auntie…”

“Tch, tidak usah sok Inggris.Aku bahkan lebih mengenal Amerika daripada dirimu…”kesal Tiffany.

“Kevin, berapa umurmu?…”tanya Tiffany lagi.Tae yeon dan Ji yeon memilih untuk menyaksikannya saja tanpa mau ikut bicara.

“7 tahun, Auntie…”

“7 tahun? Diusia segini kau sudah berani mencium anak perempuanku? Huh?…”Tiffany terlihat sangat marah.

“Jadi Lauren anak Auntie.Pastas dia cantik karena Auntie sangat cantik…”Tiffany tertawa singkat.Apa-apaan itu?

“Mworagu?…”Tiffany memekik.

“Ya, pelankan suaramu…”peringat Tae yeon saat beberapa pengunjung mall memperhatikan mereka.

“Wae, aku harus memperingatkannya.Masih 7 tahun sudah berani mencium anak perempuan orang.Siapa yang mengajarkanmu untuk bersikap seperti ini, huh?…”

“Kevin, apa yang kau lakukan disini?…”Semuanya sontak menoleh.Anak bernama Kevin itu tersenyum, Lauren dan Ji yeon hanya terdiam karena merasa tak kenal sementara Tiffany dan Tae yeon saling pandang.

“Stella Onnie?…”

***Sifany***

“Jangan bergerak sayang, nanti rusak…”ujar Tiffany yang sedang mengecat kuku kaki Lauren.Lauren menurut dan duduk santai layaknya ratu yang sedang dilayani dayang-dayangnya.

“Oemma, Stella Auntie mengajakku untuk main kerumahnya…”

“Oemma tahu…”ucap Tiffany sambil terus mengoles kutek itu pada kuku putrinya.

“Jadi aku boleh berkunjung?….”tanya Lauren senang.Setelah pertemuan tak terduga di mall beberapa hari yang lalu, Stella dan anaknya sempat berkunjung ke rumah Tiffany.Lauren dan Kevin sangat cepat akrab.

“Oemma…”

“Tidak jika tidak bersama Oemma.Ya, dia itu tumbuh di Amerika.Jadi budayanya akan berbeda denganmu, dan itu sedikit tidak baik…”

“Tapi….”

“Dipertemuan pertama kalian dia sudah berani menciummu.Saat dia berkunjung ke rumah kita dia bahkan mengatakan ingin menikah denganmu.Apa-apan itu, dia pikir dia siapa.Mencium dan ingin menikahi putriku seenaknya…”Lauren hanya mendengus mendengar Tiffany mengoceh.

“Tapi Kevin Oppa sepertinya sangat baik…”

“Eoh, sangat baik karena dia sudah terbang jauh ke Amerika….”Stella dan anaknya memang hanya beberapa hari di Korea karena ada acara penting di keluarganya.

“Tapi Kevin Oppa sudah bilang kalau dia akan kembali tahun depan dan akan bermain bersamaku lagi…”

Ting ning

Bunyi bel itu membuat percakapan mereka terhenti.

“Sebentar, Oemma akan membuka pintu…”Tiffany meletakkan kutek berwarna pink itu ke atas meja.Sementara Tiffany pergi, Lauren hanya cemberut dan memilih memperhatikan deretan botol-botol kecil itu.

“Apa iya Oemma memakai semuanya?…”tanya Lauren pada dirinya sendiri.Dia mendongak saat Tiffany kembali dengan sesuatu ditangannya.

“Apa itu, Oemma?…”

“Undangan…”jawab Tiffany singkat.

“Dari?…”

“Dong hae Ahjussi…”jawab Tiffany tersenyum dengan eye-smilenya.Dia sengaja berbuat demikian karena tahu  kalau Lauren tak menyukai Dong hae.

“Undangan apa?…”tanya Lauren ingin tahu.Tiffany tak menjawabnya karena memilih berkonsentrasi mengoles kutek itu agar tidak berantakan.

“Oemma…”panggil Lauren menatap Tiffany curiga.

“Wae, kau mengira ini undangan makan malam? Huft…” Tiffany meniup kutek yang baru menempel dijari telunjuk putrinya.Lauren makin menatapnya tajam.

“Awas saja kalau Oemma sampai selingkuh dengan Ahjussi itu…”perkataan itu membuat Tiffany terkejut namun sedetik kemudian tertawa.

“Kalau iya, bagaimana?…”tanya Tiffany mengedipkan sebelah matanya.

“Oemma!”teriak Lauren tak suka dengan sikap Oemmanya.

“Jangan bergerak nanti rusak…”marah Tiffany.Lauren menurut meski dengan hati yang mendongkol.

***Sifany***

 “Nanti jangan nakal dan merepotkan Tae yeon Oemma dan Ji yeon Onnie, aratchi?…”pesan Tiffany setelah menurunkan Lauren dari mobil.

“Memangnya Oemma akan kemana?….”Anak itu mendongak untuk menatap wanita cantik yang tengah menggandeng tangannya.

“Ke suatu tempat…”jawab Tiffany seraya menekan bel rumah Tae yeon.Setelah itu Tiffany membuka pintu lalu membawa Lauren masuk.

“Aigo, yeoppota…”seru Tae yeon meraih tangan  Lauren.

“Aku titip sebentar, Taeng-ah…”

“Hm, memangnya acara apa?…”

“Pembukaan cabang rerstoran barunya di Gangnam….”

“Oh, hati-hatilah.Sebaiknya kau ajak Si won Oppa.Walau bagaimana pun Dong hae adalah namja yang pernah menyukaimu.Aku tidak ingin terjadi sebuah kesalah pahaman atau apapun diantara kalian…”ucap Tae yeon.Tiffany mengangguk mengerti dan segera melaju dengan mobil pinknya.

***Sifany***

“Oh, Nyonya Choi, selamat datang…”sapa seorang receptionist cantik saat Tiffany tiba dipintu masuk kantor suaminya.Tiffany mendekat ke tempat  receptionist yang sedang bertugas itu.

“Selamat datang, Nyonya Choi…”sapa receptionist itu lagi.

“Apa Si won Oppa sedang sibuk?….”

“Aniyo Nyonya.Tapi tadi ada seorang tamu wanita yang mencarinya…”jawabnya.Tiffany menyerngit.

“Wanita?…”tanyanya pelan.Siapa, bukankah Stella sudah kembali ke Amerika?

“Ne, sepertinya mereka teman lama.Saya akan panggilkan sekretaris Han untuk mengantar Nyonya…”tambah  wanita dengan name tag Seo Joo hyun itu.

 “Tidak usah, aku sendiri saja…”ucap Tiffany meninggalkan receptionist itu.

Dalam perjalanan menuju ruangan Si won, Tiffany terus bertanya-tanya.Siapa tamu wanita yang mencari suaminya.

Begitu tiba dipintu ruangan Si won, Tiffany mengangkat sebelah tangannya untuk meraih gagang pintu.Tangannya tertahan diudara saat matanya menangkap dua orang yang tengah berpelukan didalam sana.Tiffany memastikan siapa namja tersebut.Tiffany membekap mulutnya dengan kedua tangannya.Matanya seketika memanas.Bening-bening kristal mengalir begitu saja saat mengetahui namja itu adalah suaminya.

Tiffany tak mampu melihat pemandangan yang menyesakkan dada itu terlalu lama.Dia berlari menuju lift.Hatinya sakit, sangat sakit melihat adegan itu dengan mata kepalanya sendiri.Tiffany menangis tanpa suara.Begitu pintu lift terbuka dia langsung berlari keluar gedung tanpa memperdulikan reseptionist tadi yang terus menganggilnya.

“Aneh sekali, kenapa Nyonya Choi pergi?…”tanyanya pada dirinya sendiri.Namun dia segera kembali ke tempat kerjanya karena tak mau ikut campur.

***Sifany***

Si won POV

Pekerjaan kantor memang cukup menyita waktuku beberapa hari terakhir ini.Tapi aku tidak boleh merasa keberatan karena ini adalah pekerjaanku.Aku menghentikan pekerjaanku saat seseorang mengetuk pintu.Aku menoleh saat pintu terbuka.Aku tersenyum, tak percaya melihat siapa yeoja yang tengah berjalan masuk ke ruanganku sekarang.

“Yoona?…”tanyaku tak percaya.

“Si won Oppa…”panggilnya langsung memelukku.Aku tertawa dan membalas pelukannya.Terakhir kami bertemu adalah saat aku lulus dari sekolah dasar, karena begitu tamat dari  SD aku langsung pindah ke Amerika atas saran dari Appa Tiffany.Aigo, saat itu dia masih kelas dua SD.

“Wah, kau makin tampan saja, Oppa…”ucapnya melepas pelukan kami dan duduk disofa, aku mengikutinya.

“Kau juga makin cantik, siapa namja beruntung itu…”tanyaku menggodanya.Dia terlihat menghela nafas berat.Apa terjadi sesuatu pada rumah tangganya?

“Dia tidak beruntung Oppa, buktinya kami berpisah…”ucapnya sedih.Aku merasa bersalah karena telah menanyakannya.

“Jjeongmalyo? Mianhe, Yoona-ya….”

“Gwenchanayo, Oppa…”ucapnya kembali ceria.Aigo, gadis ini benar-benar punya kepribadian ganda.Sedetik yang lalu dia sedih tapi sedetik kemudian sudah tertawa lepas tanpa beban.

“Kau sudah lama kembali ke Korea, Oppa?…”tanyanya.

“Hm, setelah sekolahku selesai aku langsung kembali.Kau, kenapa kembali ke Seoul, bukannya Jeju sangat menyenangkan…”Beberapa waktu lalu aku sempat mendengar dari teman-temanku yang lain kalau dia pindah ke  pulau Jeju saat dia ditahun pertama SMA-nya.

“Kurasa tidak selamanya menyenangkan….”ucapnya pelan.

“Aku ke Seoul karena Dong hae Oppa yang memintanya…”Tunggu, dia bilang apa? Dong hae?

“Lee Dong hae maksudmu?…”tanyaku.

“Ne, kau mengenal mantan suamiku Oppa?…”

“Aniya, tapi aku pernah dengar dari Tiffany dan Lee teuk hyung…”Yoona tampak menyerngit.

“Tiffany? Hwang  Mi young maksudmu?…”

“Ne, kau mengenal istriku?…”

“Mwo? Jadi Tiffany istrimu? Kenapa semuanya seperti kebetulan…”katanya tertawa.

“Aku dan Tiffany bersahabat saat SMP dan kelas 1 SMA sebelum aku pindah ke jeju.Ne, kau pasti tahu kalau Dong hae Oppa sangat menyukai Tiffany, bukan?…”aku terdiam, ternyata benar yang dikatakan Lee teuk hyung.

“Kenapa kalian berpisah?…”aku bertanya.Mungkin terlalu lancang menanyakan permasalahan rumah tangga mereka tapi tak apalah, aku juga ingin tahu.

“Kami menikah karena perjodohan.Mungkin dia tidak terlalu menyukaiku…”ucapnya mencoba tersenyum.Aku tahu kau ingin menangis, Yoona-ya.

“Menurutmu dia masih memikirkan Tiffany?…”tanyaku lagi.

“Aku berpikir iya, tapi dia selalu menyangkalnya.Aku ke Seoul atas perintah Dong hae Oppa.Katanya dia mau memulainya dari awal lagi…”

“Rujuk?…”

“Hm.Walau dia tidak mencintaiku tapi dia membutuhkanku, bukan?…”tanyanya tersenyum.Dasar Yoona, disaat seperti ini masih saja bisa bercanda.

***Sifany***

Author POV

“Gumawo Tae yeon-ah, Lauren pasti merepotkanmu…”

“Aniyo Oppa, kami senang Lauren disini, jadinya lebih ramai…”

“Kami pulang, hyung…”pamit Si won pada Lee teuk.Yang punya rumah tersenyum dan melambaikan tangan mereka pada mobil Si won yang sudah menjauh.

Setibanya dirumah Si won dan Lauren segera berganti pakaian dikamar masing-masing.Tak lama kemudian keduanya pun keluar.

“Oemma dikamarmu?…”tanya Si won pada Lauren karena dia merasa ada yang aneh, Tiffany tak ada dikamarnya, menyambut mereka pun tidak.

“Anni…”

“Apa dia terlalu asyik didapur…”guman Si won.

“Oemma, tidak ada…”ucap Sulli menghentikan langkah Si won menuju dapur.

“Tidak ada?…”

“Oemma pergi, makanya dia menitipkanku dirumah Tae yeon Oemma…”jelas Lauren.Si won terdiam, bertanya-tanya kemana Tiffany pergi.Dia bisa dirumah Lee teuk tadi karena dia menjemput beberapa berkas kantor yang ada dirumah Lee teuk.Karena kebetulan ada Lauren dia langsung membawanya pulang.Dia pun makin heran karena Tae yeon tak mengatakan apapun tentang kemana Tiffany pergi.

***Sifany***

Seorang wanita cantik tampak melangkah menuju pintu keluar sebuah gedung.Langkahnya terlihat lemah dan tak bersemangat.Entahlah, pemandangan yang dilihatnya tadi pagi benar-benar membuatnya otaknya tak bisa memikirkan hal lain.Berbagai pertanyaan muncul dikepalanya.Mulai dari siapa wanita itu, apa hubungannya dengan suaminya sampai kenapa Si won juga terlihat senang.Mungkinkah Si won menghianatinya? Atau bahkan sudah tak mencintainya lagi? Lalu apa arti dari sikap Si won selama ini yang selalu baik padanya.

“Fany-ah…”Langkah kaki jenjang Tiffany terhenti saat seseorang memanggil namanya.

“Dong hae Oppa?….”ucapnya.

“Ne, kau sudah mau pulang?….”Tiffany hanya menjawab dengan senyum kecil.

“Si won pasti mengkhawatirkanmu karena belum pulang selarut ini…”ucap Dong hae merasa bersalah.Tiffany hanya tersenyum getir.Mungkinkah? Bisa saja kalau sekarang suaminya itu masih bersama wanita tadi.

“Kalau begitu kau ku antar pulang…”

“Tidak perlu Oppa, aku bawa mobil sendiri…”tolak Tiffany.

“Aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri Fany-ah, ini sudah larut, berbahaya.Kajja…”

Dong hae membuka pintu mobilnya untuk Tiffany.Tiffany menurut karena sebenarnya dia juga takut untuk pulang sendiri.

***Sofany***

Dalam perjalan suasana terasa canggung.Dong hae berkonsentrasi penuh pada jalan sementara Tiffany hanya terdiam.Bersandar dikursi mobil dengan pandangan mengarah keluar.

“Kau sedang ada masalah?…”tanya Dong hae.Walau tidak terlalu dekat tapi dia mengenal Tiffany sudah lama, tentu terasa ada yang janggal jika wanita yang biasanya ceria ini menjadi murung.

“Aniyo Oppa, aku hanya sedang lelah saja…”jawab Tiffany memamerkan eye-smilenya.Dong hae tersenyum, dia tahu kalau wanita ini tak akan menceritakan apapun padanya.

“Baiklah jika kau tidak mau cerita…”kata Dong hae.

“Oppa, ku dengar dari Tae yeon, kau dan istrimu….berpisah…”ucap Tiffany hati-hati, takut namja ini akan marah atau tersinggung.

“Ne…”Dong hae tersenyum.

“Wae?…”tanya Tiffany.Wanita itu memicingkan matanya untuk menatap Dong hae curiga.

“Kau mengahianatinya? Atau kau membuat suatu kesalahan yang membuatnya marah?…”tanya Tiffany.Dong hae tertawa.

“Ne, aku banyak membuat kesalahan dan membuatnya terluka…”ucap Dong hae.Ya, dia yang selalu mengingat Tiffany membuat istrinya amat sakit karena merasa diabaikan.

“Jjinja?…”

“Hm, aku sudah minta maaf padanya.Awalnya aku tidak menyukainya karena dia hadir secara tiba-tiba dalam kehidupanku.Tapi akhir-akhir ini tanpa melihat senyumnya, entah kenapa aku jadi merindukannya…”

“Aish, dasar namja…”gerutu Tiffany sebal, Dong hae hanya terkekeh.

“Lalu, apa dia memaafkanmu?….”

“Dia gadis yang baik.Kami sudah sepakat untuk memulai semuanya dari awal.Aku merasa aku harus menebus semua kesalahanku dan mencoba hidup hanya untuk membahagiakannya….”

“Woah, tak ku sangka kau namja yang seperti ini, Oppa…”ucap Tiffany kagum.Dong hae tersenyum dan meliriknya sekilas.

            `Aku harus melakukannya agar aku juga bisa melupakanmu` batin Dong hae.

***Sifany***

Si won melirik jam dinding dikamar putrinya.Jam 10 malam, itu tandanya malam makin larut.Namun Si won tetap menunggu karena Tiffany belum pulang.

“Sudah larut, kemana dia?….”tanya Si won gelisah.Ada perasan cemas dalam hatinya.Tentu saja cemas karena takut Tiffany sampai kenapa-napa diluar sana.

“Appa menunggu Oemma?….”tanya Lauren yang belum bisa memejamkan matanya.Si won tersenyum dan memperbaiki letak selimut putrinya meski letaknya sudah bagus sedari tadi.

“Oh, Ne…”

“Tidurlah, ini sudah malam…”suruh Si won lembut.Lauren mengangguk meski sebenarnya juga ingin menunggu Oemmanya pulang.

Si won keluar dari kamar itu setelah memastikan Lauren terlelap.Dia segera melihat keluar jendela saat mendengar suara mobil.Si won memicingkan matanya saat meihat sosok pria yang mengantar Tiffany.Mungkinkah pria itu Dong hae?

Tiffany membuka pintu dan memakai sandal rumah.Dia tersentak kaget saat mendapati sosok Si won sedang memandangnya dengan tatapan menakutkan.Tiffany tahu Si won marah padanya karena pulang selarut ini dan tanpa kabar.Apalagi dia diantar oleh Dong hae.Tapi Tiffany tak memperdulikannya.Menurutnya dialah yang paling berhak marah sekarang.

Tiffany melangkah meninggalkan Si won menuju kamar, namun langkahnya terhenti saat Si won meraih tangannya.Tiffany melihat tangan Si won.Air matanya tumpah begitu saja tanpa bisa dia kendalikan mengingat Si won menggunakan tangan itu untuk memeluk yeoja lain.

“Kau dari mana?…”tanya Si won dingin.Tiffany tersenyum kecut mengingat mereka juga pernah mengalami hal seperti ini saat dia tinggal dirumah Si won dulu.

Tiffany menepis tangannya kasar hingga genggaman kuat Si won terlepas.Tiffany hanya tersenyum kecut tanpa berniat untuk menjawab membuat Si won makin emosi.Tapi dia masih berusaha untuk tetap tenang.

“Aku bertanya, Nyonya Choi…”

“Aku pergi…”jawab Tiffany singkat.

“Pergi dengan namja yang bukan suamimu lalu pulang selarut ini!”Tiffany menatap Si won yang meneriakinya.Tak pernah sekalipun Si won berkata dengan nada seperti ini sebelumnya selama pernikahan mereka.Tiffany kembali tersenyum kecut.

“Itu bukan urusanmu, Oppa…”ucap Tiffany dingin.

“Tentu itu urusanku! Aku suamimu! Apa maksudmu pergi dengan namja lain dan pulang selarut ini? Membiarkan suami dan anakmu menunggu dengan cemas?”

Si won sebenarnya tidak terlalu keberatan Dong hae mengantar Tiffany pulang karena khawatir membiarkannya pulang sendiri.Yang membuatnya kecewa karena Tiffany tak memberi kabar apapun dan bahkan bersikap dingin padanya.

“Aku tak pernah memintamu menungguku, Oppa!”balas Tiffany berteriak.Dia menghapus air matanya dengan kasar.

“Apa aku salah pergi menghadiri undangan orang lain? Aku juga butuh  kesempatan untuk bertemu dengan teman lamaku.Aku bosan jika hanya di rumah, hanya sibuk mengurusmu, rumahmu dan putrimu yang menyebalkan itu sementara aku tidak tahu apa yang kau lakukan diluar sana!”

Tiffany sebenarnya sangat menyesal mengucapkan kata-kata itu.Dia berpikir kalau dia sangat bodoh karena telah mengucapkannya.Namun rasa marah dan kecewanya pada Si won membuatnya tak mampu mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan.

”Tiffany!”

Hardik Si won.Air mata Tiffany lagi-lagi tumpah.Sangat sakit ketika Si won menyebut nama itu disaat-saat seperti ini.

“Ku harap kau sadar kalau ini bukan di Amerika, Oppa…”ucap Tiffany sinis diiringi air mata yang berderai.Dia segera masuk ke kamar dan menutup pintu dengan kasar.

Si won mengacak rambutnya frustasi.Antara marah dan kecewa atas ucapan Tiffany barusan.

`Memangnya apa yangku lakukan diluar sana?` batin Si won.

“Hiks…Hiks…”

Si won mengangkat kepalanya saat mendengar tangis itu.Tidak mungkin Tiffany karena tangis Tiffany tidak seperti ini.

“Lauren?…”

Si won segera bangkit dari sofa untuk menggendong putrinya yang tengah menangis hebat didepan pintu kamar.

“Lauren-ah, kenapa menangis sayang? Bukankah anak Appa harus tidur?…”

Si won mengusap pelan punggung putrinya agar lebih tenang.Si won memarahi dirinya sendiri karena membiarkan anaknya melihat pertengkarannya dengan Tiffany.

“Oemma….hiks…Oemma…membenciku…”tangisnya dipundak Si won.Si won tersenyum lembut.

“Aniyo sayang, Oemma sangat menyayangimu, kau tahu itukan?…”

“Aniyo, tadi Oemma bilang aku menyebalkan…”tangisnya makin kencang saja membuat Si won makin tak tega.Namun dia tetap berusaha menenangkan Lauren agar tak menangis lagi.

“Appa…”Si won menatap putrinya yang tengah sesenggukan itu.

“Aku tidak pernah membenci Oemma.Walau aku sering bertengkar dengannya tapi aku tidak pernah membenci Oemma.Aku menyayangi Oemma seperti aku menyayangi Appa dan Danny Oppa…”Si won tersenyum mendengar penjelasannya.

“Ne, Appa tahu.Ah, putri Appa sangat pintar.Sekarang waktunya untuk tidur  anak manis …”Si won membawanya ke kamar dan merebahkan Lauren diranjangnya.Dia mengusap kepala anaknya lembut agar tertidur dengan lelap.

***Sifany***

Lauren duduk dikursi meja makan sambil terus memperhatikan gerak-gerik Oemmanya yang sibuk menyiapkan sarapan.Tiffany sebenarnya merasa ada yang janggal dengan sikap putrinya.Biasanya anak itu akan mengoceh dengan berisik untuk mengomentarinya yang akan memicu pertengkaran mulut antara mereka.Tapi kali ini tidak, dia hanya diam dan duduk dengan manis.

Tiffany menoleh kebelakang untuk melihat putrinya.Matanya membulat kaget saat melihat putrinya sudah berdiri dibelakangnya dan memandanginya dengan mata yang berkaca-kaca.

“Lauren-ah? Waeyo?…”tanya Tiffany khawatir.Dia segera melepas celemeknya dan mendekat ke tempat putrinya tersebut untuk mensejajarkan wajah mereka.

“Ada apa sayang, Huh?..”tanya Tiffany lembut seraya menatap mata indah yang penuh dengan air mata yang sepertinya sebentar lagi akan tumpah.

Lauren tak menjawab, dia memeluk leher Tiffany dengan erat dan menangis kencang disana.Sementara Tiffany hanya mengusap kepala Lauren dengan penuh kasih.

“Aku sayang Oemma…”ucap Lauren dalam tangisnya.Tiffany tersenyum haru.

“Aku sayang Oemma…”ucapnya lagi.

Tiffany melepas pelukannya dan menghapus bulir-bulir bening yang sejak tadi mengalir dengan derasnya.

“Aigo, ini masih pagi sayang.Masa anak Oemma sudah menangis…”Tiffany menggendong Lauren dan mendudukannya kembali ke atas kursi.

“Oemma akan menyiapkan sarapan dulu…”ucap Tiffany setelah mencium putrinya.Dia sengaja menghindar karena Si won baru saja keluar dari kamar mereka.

***Sifany***

Mereka duduk untuk sarapan bersama.Dari ketiganya tidak ada satupun yang menikmati sarapan pagi itu.Semuanya merasa canggung setelah kejadian semalam.Terlebih lagi Lauren, dia hanya makan sedikit karena sibuk memperhatikan dua orang yang didepannya yang dari tadi sama sekali tak saling pandang apalagi bicara.

“Lauren, Appa ke kantor dulu…”pamit Si won mencium  kening putrinya.

Si won melihat ke arah Tiffany, Tifffany yang sepertinya dari tadi juga menatap Si won dengan cepat mengalihkan pandangannya untuk menghindari kontak mata diantara mereka.

“Aku pergi…”pamit Si won pada Tiffany.Tiffany hanya memberikan anggukan kecil tanpa melihat ke arah Si won.

***Sifany***

“Presiden…”Si won menoleh saat seorang receptionist memanggilnya.

“Ne, Nona Seo, ada apa?….”

“Aniyo, aku hanya ingin bertanya.Apakah kemarin Presiden bertemu dengan Nyonya Choi?

“Istriku?….”

“Ne…”jawabnya tersenyum.

“Aniyo, memangnya ada apa?…”tanya Si won.

“Aku juga tidak mengerti.Nyonya Choi datang untuk menemui Presiden, tapi tak lama kemudian dia pergi.Aku tidak terlalu yakin tapi sepertinya Nyonya Choi menangis…”

“Jjinja? Kapan?…”

“Saat Presiden kedatangan tamu wanita itu…”

Si won menghembus nafas lega.Jadi ini alasan kenapa Tiffany marah padanya dengan mengatakan apa yang dilakukanya diluar sana? Tiffany melihat adegan pelukannya bersama Yoona.

Si won merogoh sakunya untuk menelfon Tae yeon.Setelah mendengar kemana Tiffany pergi kemarin dan alasannya datang kekantor, Si won dengan cepat menelfon seseorang.

“Yeoboseyo, Oppa…”

“Yoona-ya, bisakah kau membantuku?…”

“Memangnya ada apa, Oppa…”

“Tolong kau jelaskan semuanya pada Tiffany…”

Maksudnya?…”tanya Yoona tak mengerti.

“Tiffany melihat adegan pelukan rindumu.Makanya dia marah padaku…”Yoona tertawa keras.

“Ne, arasso, aku akan ke rumah kalian nanti…”

“Gumawo, Yoona-ya…”ucap Si won.Dia tersenyum mengingat seperti apa marahnya Tiffany semalam.

“Aigo, kecemburuan seorang yeoja sangat menakutkan…”guman Si won tersenyum.Dia segera melangkah ke ruangannya untuk mulai bekerja.

***Sifany***

Lauren dengan serius membantu Tiffany membuat cake didapur.Keduanya bekerja dengan serius meski terkadang Tiffany juga usil mengolesi wajah putrinya dengan tepung.

“Oemma tidak menelfon Danny Oppa?…”

“Mungkin Oppamu sedang sibuk.Kita tunggu sampai Danny Oppa saja yang menelfon…”

Lauren mengangguk mengerti seraya memperhatikan Oemmanya yang sedang memasukkan cake ke dalam oven.

`Ting ning`

“Oemma, ada tamu…”Tiffany melepas celemeknya dan berjalan ke arah pintu diikuti Lauren.

Tiffany melihat tamunya dari layar intercom.Dia melonjak senang saat menyadari siapa wanita cantik itu.

“Yoona-ya!”teriak Tiffany begitu Yoona masuk.Yoona tersenyum dan segera berlari kepelukan sahabat yang sudah lama tak dijumpainya itu.

“Bogoshippo…”ucap Yoona.

“Nado, Yoong.Bagaimana kabarmu?…”

“Tidak buruk…”jawabnya singkat.Tiffany segera menarik Yoona dan menyuruhnya duduk disofa.

“Anggap saja seperti rumah sendiri, Yoong…”ucap Tiffany berjalan ke dapur untuk menyiapkan minuman.

Yoona tersenyum memandangi setiap sudut ruang tamu yang berhadapan dengan kolam renang itu.

“Wah, rumahmu sangat nyaman, Fany-ah…”ucap Yoona kagum.

“Itu karena kau datang disaat yang tepat.Coba kalau saat putriku mengacaukannya.Aku yakin kau akan langsung pulang…”balas Tiffany dari dapur.

Yoona tersenyum, pandangannya teralihkan pada anak kecil yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

“Ini putrimu, Fany-ah?…”tanya Yoona seraya mendekat.

“Ne…”jawab Tiffany menghidangkan segelas jus untuk Yoona.

“Aigo, cantiknya…”

“Anyeong haseyo Ahjumma, aku Lauren…”ucap Lauren membungkuk sopan disambut senyum manis Yoona.

“Anyoeng haseyo, Aigo kau menggemaskan sekali…”ucap Yoona mencubit pipi Lauren gemas.Lauren tersenyum, sama sekali tak keberatan dicubit oleh wanita cantik itu.

“Kajja…”

Yoona meraih tangan kecil Lauren dan mendudukkannya disofa sebelum akhirnya dia juga duduk disebelah anak itu.

“Ku dengar putramu sekolah di Amerika…”

“Oh, Appaku yang egois itu menculiknya dariku…”ucap Tiffany cemberut disambut tawa Yoona.

“Aish! Bagaimana kau begitu cantik setelah melahirkan dua anak…”ucap Yoona membuat Tiffany tertawa.

“Kau, bagaimana?…”

“Aku tidak punya anak…”

”Wae, kau sudah menikah, bukan?…”

“Hm, kami menikah karena perjodohan.Dia tahu aku mencintainya tapi aku tahu dia tidak mencintaiku.Jadi bisa dipastikan tidak pernah terjadi apapun diantara kami.Menikah dan tinggal serumah hanya sebagai simbol agar orang tua kami tidak khawatir.Tapi pada akhirnya kami berpisah juga…”terang Yoona menceritakan kisahnya.Tiffany merasa tak enak karena sudah menanyakannya.

“Apa yang membawamu kesini? Tidak munginkan hanya karena merindukanku?…”Yoona tertawa.Tiffany memang pandai untuk mengubah suasana menjadi lebih baik.

“Tentu saja aku merindukanmu.Kau dan Tae yeon Onnie tega sekali tidak pernah mengunjungiku…”Yoona mengerucutkan bibirnya kesal.Lauren  ikut cemberut karena ada yang lebih imut darinya saat menirukan ekpresi itu.

“Salah kau sendiri, pergi tanpa meninggalkan jejak.Mana mungkin aku dan Tae yeon mengetuk pintu semua rumah yang ada di Jeju dan bertanya, permisi, apa ini rumah Im Yoona?…”Yoona tertawa dibuatnya.

“Alasan lain karena Si won Oppa yang memintaku datang…”Tiffany menyerngitkan dahinya.

“Kau masih ingat tidak, saat SMP aku sering menceritakan seorang Oppa yang sangat baik padaku saat aku SD…”tanya Yoona.

“Ne, kau sering menceritakannya sampai-sampai aku dan Tae yeon bosan…”

“Kau juga ingatkan, aku sangat sedih karena setelah lulus SD dia pindah ke Amerika?…”Tiffany terdiam seakan-akan paham maksud sahabatnya itu.

“Jadi Oppa yang kau ceritakan itu, Si won Oppa?…”

“Ne!”jawab Yoona cepat.

“Dan kau tahu kami sudah tidak bertemu berapa lama? Kau bisa bayangkan bukan bagaimana pelukan rinduku padanya…”Tiffany lagi-lagi terdiam.Mencerna ucapan Yoona barusan.

“Maksudnya, kau ingin bilang kalau wanita yang berpelukan dengan Si won Oppa kemarin itu, kau?…”tanya Tiffany, Yoona mengangguk.Tiffany merasa lega kalau ternyata wanita itu bukan wanita yang akan merebut Si won darinya.Namun dia juga merasa malu karena sudah menuduh Si won yang bukan-bukan.

“Mianhe, gara-gara  aku kalian bertengkar…”ucap Yoona merasa bersalah.

“Gwenchana Yoona-ya.Aku yang salah paham.Coba aku tahu wanita itu kau, mungkin aku bisa mengerti…”Yoona tersenyum lega.Akhirnya salah paham ini berakhir.Walau bagaimana pun dia tetap tidak mau orang lain bertengkar karenanya.

“Lalu alasan lain?…”

“Aku menyusul mantan suamiku.Dong hae Oppa ingin minta maaf dan memulai semuanya dari awal…”

“Dong hae Oppa? Jadi suamimu Dong hae Oppa?…”tanya Tiffany senang.

“Dong hae Ahjussi?…”pikir Lauren yang dari tadi menyimak pembicaraan keduanya.

“Hm, namja yang dulu sangat mencintaimu, mungkin sekarang juga…”

“Ya! Itu masa lalu Yoong.Kau tahukan aku tidak pernah menyukainya…”

“Arrayo.Sepertinya aku harus pulang…”Yoona meraih tasnya.Tiffany dan Sulli mengantarnya sampai ke depan pintu.

“Hati-hatilah, jangan lupa untuk berkunjung lagi…”Tiffany melambaikan tangannya pada mobil Yoona yang sudah menjauh dari rumahnya.

“Apa Dong hae Ahjussi dan Yoona Ahjumma bercerai karena Dong hae Ahjussi selingkuh dengan Oemma?…”tanya Lauren menatap Oemmanya curiga.Tiffany menatap anaknya.

“YA! Jaga ucapanmu anak nakal…”ucap Tiffany mencubit hidung Lauren gemas.

Lauren mencibir dan membuang mukanya sebal.Tiba-tiba Lauren mengendus-enduskan hidungnya untuk mencium aroma aneh yang tercium oleh hidung kecilnya.

“Oemma, sepertinya ada bau aneh…”Tiffany ikut menajamkan penciumannya.Tak lama, keduanya tersadar dan saling pandang.

“Cake-nya!”teriak keduanya langsung berlari ke dapur.Tiffany dengan sigap mengenakan sarung tangan dan mengeluarkan strawabery cake itu dari oven.

“Ah, Oetteokke?…”pekik Tiffany bingung.

“Strawbery cakenya jadi chocolate cake…”ucap Lauren.Keduanya saling pandang dan tertawa melihat kue yang gosong itu.

***Sifany***

Lauren tampak asyik memakan cake kedua mereka yang matang dengan sempurna.Dia makan sambil menggambar  ditemani Tiffany yang sedang menonton TV.

“Appa…”

Tiffany menoleh saat Lauren  memanggil Appanya.Dia berdiri dari duduknya dengan kaku.Jujur, dia sangat merasa bersalah karena telah berkata yang bukan-bukan pada Si won kemarin malam.

“Appa sedikit terlambat…”kata Lauren yang sudah hapal dengan  jadwal pulang Si won.

“Hm, Appa cukup banyak pekerjaan hari ini.Lauren sedang menggambar?…”

“Ne…”

“Ya sudah, teruskan menggambarnya…”

Si won menurunkan Lauren dari gendongannya dan mendudukkannya kembali disofa.Dia memandang Tiffany namun wanita itu dengan cepat mengalihkan pandangannya.Tiffany kembali mengangkat wajahnya untuk memandangi punggung Si won yang sudah masuk ke kamar.

“Ah, Oetteokke? Si won Oppa pasti sangat marah padaku?….”ucap Tiffany.

“Waeyo Oemma?…”

“Ne? Aniyo, Oemma akan ke kamar.…”

Tiffany melangkah menuju kamar.Dia menarik nafas pelan sebelum memutuskan untuk membuka pintu itu.

Pintu terbuka dengan pelan.Tiffany masuk, tampak olehnya Si won sedang melepas dasinya.Dengan gugup, Tiffany mendekat ke tempat dimana suaminya berada.Karena posisi Si won yang membelakanginya, Tiffany tidak bisa melihat kalau suaminya itu kini sedang tersenyum menahan tawanya.

“Oppa…”panggil Tiffany pelan.Si won memilih diam dan tak menjawabnya.

“Oppa…”

Tiffany menarik kecil lengan kemeja biru muda yang sedang dikenakan Si won.Si won segera merubah raut wajahnya menjadi serius sebelum berbalik menghadap Tiffany.

“Wae?…”tanya Si won dingin.Tiffany tampak takut.Karena tak kunjung ada jawaban Si won berbalik untuk pergi.Namun sebelum dia pergi Tiffany dengan cepat memeluknya dari belakang.

“Oppa, Mianheyo.Aku menuduhmu yang bukan-bukan dan berkata kasar padamu.Mianhe Oppa, aku akui aku salah, mianhe…”ucap Tiffany hampir menangis.Dengan cepat Si won berbalik memegang kedua bahu Tiffany.Sekuat apapun dia bertahan dia tidak akan sanggup jika sudah mendengar suara Tiffany yang bergetar karena menangis.

“Tidak perlu membuang air matamu seperti ini, Nyonya Choi….”Si won mengapus air mata itu dengan tangannya.Lalu mendekap tubuh itu hangat.Tiffany pun menangis kencang disana.

“Mianhe, Oppa, mianhe…”tangis Tiffany.

“Gwenchana, aku sudah memaafkanmu, Fany-ah…”

Tiffany seketika menghentikan tangisnya.Dia melepas pelukan Si won saat mendengar Si won memanggilnya dengan nama yang dia inginkan.

“Oppa, kau memanggilku dengan nama itu?…”tanya Tiffany tak percaya tapi jelas terlihat kalau dia bahagia.

“Tentu, bukankah istriku bernama Tiffany?…”

“Tapi ini bukan di Amerika, Oppa…”

“Aku tidak peduli ini di Amerika atau tidak…”jawab Si won mantap.Tiffany tersenyum bahagia dan kembali menghambur memeluk Si won.Dia menangis saking bahagianya kala Si won memanggilnya dengan nama tersebut.

“Mianhe Oppa, aku sempat berpikir kalau kau selingkuh…”ucap Tiffany merasa bersalah.

“Sebenarnya aku juga ingin, tapi aku tahu kalau bidadari yang ada dirumahku tidak akan sanggup jika kehilanganku…”canda Si won.Tiffany mendecak kesal dan memukul dada Si won.

“Kaulah yang tidak akan sanggup kehilanganku Tuan Choi, kalau aku melarikan diri aku ingin lihat sampai dimana kau bisa bertahan…”ucapnya membuat Si won tersenyum mengiyakan.

“Ck, sombong sekali…”Tiffany tersentak kaget ketika melihat putrinya sudah duduk bersila diatas ranjang mereka.

“Ya! Sejak kapan kau di situ?…”kesal Tiffany.Sangat jengkel karena bocah itu selalu merusak moment-momentnya bersama Si won.

“Tentu saja sejak tadi, memangnya sejak kemarin…”balas Lauren sinis.Tiffany mendengus kesal.Padahal baru tadi pagi anak itu mengatakan kalau dia menyayangi Oemmanya.

“Fany-ah, sepertinya aku ingin Coffee…”Tiffany tahu kalau itu hanya alasan Si won agar dia dan anak itu tak melanjutkan adu mulut antara mereka.Tapi Tiffany tetap menurut karena tak mau lagi bertengkar dengan Si won.

Tiffany keluar dari kamar.Si won berbalik untuk memandangi putrinya yang masih duduk dengan manis itu.

“Oo, Sepertinya aku membuat kesalahan…”ucapnya tanpa beban.Si won langsung menggelitiki Lauren hingga dia meronta-ronta dan berteriak minta tolong.

“Ampun Appa, ampun…”ucap Lauren yang masih digelitiki Si won.

“Tidak sebelum gadis kecil ini berjanji kalau dia tidak akan mengganggu Oemmanya lagi…”

“Ne Appa, aku janji…”ucap Lauren.Dia segera duduk untuk mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.

“Aku tidak akan mengganggu Oemma jika dia tidak menggangguku dan Appa…”ucap Lauren mencium Appanya sekilas, lalu berlari keluar kamar.Si won hanya tertawa dan menggeleng pelan melihat tingkah anak itu.

***Sifany***

Si won masuk ke dapur dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek selutut.Berpakain santai seperti ini menampakkan otot-ototnya.Tiffany yang melihatnya pun tak bisa mengalihkan pandangannya dari sosok tersebut.

“Jangan memandangku `seperti itu` Nyonya Choi…”ucap Si won mengambil gelas coffee yang disodorkan Tiffany.

“Siapa yang memandangimu `seperti itu` Tuan Choi…”Tiffany mengelak.Si won mengikuti Tiffany untuk duduk disofa.

“Oppa…”

“Hm….”Si won menoleh dan memandangi Tiffany yang sedang tersenyum.

“Oppa bisa mengambil cuti untuk dua minggu? Kita ke Amerika, melihat Danny…”katanya dengan semangat.Sebelum menjawab, Si won terlebih dahulu menyesap kopinya lalu meletakkannya kembali dimeja.

“Tidak bisa Fany-ah, banyak yang harus ku kerjakan untuk proyek baru kita…”ucap Si won menyesal.Tiffany mengerucutkan bibirnya kesal.Kenapa setiap dia yang minta pasti banyak alasan.Meski tidak tepat disebut sebagai alasan tapi tetap saja Tiffany menganggapnya sebagai alasan.

“Oppa pilih kasih…”ucapnya, Si won menyerngit bingung.

“Dulu, saat Lauren minta Oppa untuk cuti, Oppa bahkan langsung mengiyakannya…”

“Tapi itu hanya untuk dua hari dan Lauren juga hanya minta ke pulau Jeju…”tambah Si won.Tiffany diam, tak tahu harus bagaimana lagi membujuk Si won.Padahal dia sudah sangat rindu pada putranya.

Si won tersenyum, tahu bagaiman perasaan Tiffany sekarang.Dia merangkul bahu Tiffany dan tersenyum lembut.

“Kajja…”ajak Si won.

“Ke Amerika?…”tanya Tiffany senang dengan senyum yang mengembang.Si won berdiri dari duduknya dan menggendong Tiffany ala bride style.

“Ke kamar Nyonya Choi…”jawab Si won.Tiffany mendengus sebal namun sedetik kemudian tersenyum setuju.

***Sifany***

Lauren menatap pemandangan luar dari dinding kaca rumahnya.Pemandangannya menjadi tak jelas karena kaca besar itu berembun karena sekarang memang sedang turun hujan.Gadis mungil nan cantik itu menoleh saat mendengar suara pintu terbuka.

“Oemma rapi sekali…”guman Lauren melihat Tiffany yang keluar dari kamar.Tiffany mendekat ke tempat dimana putrinya duduk.

“Oh, ada fashion Show, Oemma mau pergi.Kau ikut?….”

“Tapi diluarkan hujan…”

”Fashion shownya di indoor sayang, bukan outdoor.Kau ikut?…”tanyanya lagi.

“Tentu, Appa akan memarahi Oemma jika meninggalkanku sendirian di rumah…”ucapnya angkuh.Tiffany mendengus kesal.

“Kajja Oemma…”ajaknya melangkah meninggalkan Tiffany.Tiffany mengikutinya dengan setengah hati.

***Sifany***

Begitu tiba di Lotte mall tempat Seoul fashion week kali ini diadakan Tiffany langsung membawa Lauren masuk.Lauren menurut saja meski kesal Oemmanya menariknya kesana-kemari.

“Taenggo….”teriak Tiffany memanggil Tae yeon yang sedang menunggunya dipintu masuk.Ya, keduanya memang sudah  berjanji untuk pergi bersama.

“Ji yeon tidak ikut?….”tanya Tiffany setelah mendekat.

“Aniyo, dia agak demam…”

“Jjinja?…”

“Hm, tapi tidak terlalu serius.Kajja, kita masuk…”Tae yeon dan Tiffany menggandeng tangan Lauren untuk membawanya masuk.

Ruangan yang dipakai untuk fashion show kali ini cukup besar.Jadi banyak penggemar fashion yang hadir maupun media massa yang siap meliput berita.Tiffany dan Tae yeon pun tampak sangat asyik menyaksikan para model dengan pakaian yang mereka peragakan diatas catwalk.

Berbeda dengan Lauren yang ada disamping Tiffany.Dia merasa sangat bosan.Menurutnya tidak ada yang menarik dari acara ini.

“Hanya melihat orang berjalan saja, membosankan…”gerutunya kesal.

Karena bosan Lauren keluar dari ruangan tersebut tanpa sepengetahuan Tiffany maupun Tae yeon.

***Sifany***

Si won meletakkan cangkir teh yang baru diteguknya.Ditatapnya pria yang mengajaknya bertemu disini beberapa menit yang lalu.

“Aku ingin minta maaf…”orang tersebut membuka suara.

“Aku minta maaf karena mengantar Tiffany malam itu.Kau tidak perlu khawatir Si won-ssi, aku mengantarnya karena cemas membiarkannya pulang sendiri…”tambahnya lagi.Si won mengangguk mengerti.

“Apa Tiffany mengatakan sesuatu padamu?…”tanya Si won, Dong hae tertawa singkat.

“Kau tahukan siapa Tiffany, dia tidak mudah terbuka dan menceritakan masalahnya pada orang lain…”Si won mengangguk setuju, hanya Tae yeon tempat istrinya berkeluh kesah.

“Sekali lagi aku minta maaf jika kedatangan Tiffany ke acaraku membuatmu marah…”

“Gwenchana, itu bukanlah masalah.Aku hanya kecewa karena dia tidak memberi kabar…”ucap Si won.

“Oh, aku hampir lupa.Tolong sampaikan maafku pada Tiffany.Yoona juga minta maaf karena dia tidak sempat pamit pada kalian…”

“Pamit? Kalian mau kemana?…”

“Satu jam lagi kami akan berangkat ke Jeju…”

“Jjinja? Kenapa harus buru-buru.Bagaimana kalau kalian makan malam dulu di tempat kami.Kau juga harus mencicipi masakan Tiffany, Dong hae-ssi…”

“Mungkin lain kali saja Si won-ssi.Kami harus siap-siap…”kata Dong hae.

“Baiklah, tolong jaga Yoona…”

Si won dan Dong hae berjabat tangan dan berpelukan singkat.Tak lama Dong hae pun meninggalkan tempat itu disusul oleh Si won.

***Sifany***

Lauren berjalan riang dideretan toko yang menjual berbagai macam boneka.Tak jarang dia menyentuh benda mati nan lucu itu untuk sekedar bersalaman atau pun memperkenalkan dirinya.Seperti boneka beruang yang kini ada dihadapannya yang berukuran tiga kali lipat dari tubuhnya.

“Anyeong haseyo beruang tampan.Aku Lauren Hanna Choi  putri Choi Si won Appa dan Tiffany Oemma…”ucapnya manis pada beruang itu.Seseorang yang berada tak jauh darinya dapat menangkap ucapannya barusan.

“Lauren?…”panggil orang itu kaget.Anak tersebut menoleh dan tersenyum senang.

“Appa…”Lauren langsung berlari ke tempat Appanya.

“Appa disini?..”

“Ne, apa baru bertemu dengan teman Appa di café, tidak jauh dari sini.Kalau kau? Kenapa jalan sendiri sayang? Kalau terjadi sesuatu bagaimana? Lalu dimana Oemma?…”

Lauren menunjuk sebuah pintu yang tak jauh dari tempat mereka sekarang.Si won mengangguk mengerti saat melihat pamphlet tentang acara fashion show tersebut.

“Oemma tidak akan pulang sebelum acara kesukaannya usai.Bagaimana kalau Lauren pulang dengan Appa?…”

Lauren mengangguk namun sebelum pulang dia meminta Appanya membelikan boneka beruang besar tersebut.Si won memenuhi keinginan putrinya dan segera meninggalkan tempat itu.

***Sifany***

Fashoin show telah usai.Tiffany keluar dari ruangan menyesakkan itu.Tae yeon tidak bersamanya lagi karena sudah pulang dipertengahan acara karena khawatir dengan kondisi Ji yeon.

“Tae yeon-ah, bagaiman Ji yeon?…”tanya Tiffany saat teleponnya tersambung dengan Tae yeon.

“Sudah baikan.Mianhe aku tidak bisa pulang bersamamu…”

“Gwenchana, yang penting Ji yeon baik-baik saja.Ya, sudah, aku juga mau pulang, anyeong…”

Tiffany menutup telfonnyaDia melangkah dengan anggun untuk segera pulang kerumah.Namun belum jauh melangkah Tiffany terdiam, sepertinya ada yang kurang.

“Aneh, seperti ada yang kurang…”ucap Tiffany.Dia memeriksa semua isi tasnya.

“Tidak ada yang hilang…YA!”Tiffany berteriak saat sadar dengan kecerobohannya.Lututnya serasa lemas dan hampir tak bisa bernafas.

“Lauren…”ucapnya lirih.Secepat kilat, Tiffany kembali ke tempat dimana fashion show tadi di gelar.Hasilnya nihil karena sudah tidak ada siapa-siapa lagi disana.

“Oetheokke? Aku bisa dibunuh Si won Oppa jika tahu putrinya hilang!”Tiffany sangat panik dan ketakutan.Tidak berani membayangkan bagaimana marahnya Si won saat mendengar putrinya hilang.

“Ahjussi…”karena putus asa mencari sendiri, Tiffany memutuskan untuk bertanya pada orang yang lewat.

“Kau melihat putriku? Dia berumur 4 tahun.Tubuhnya kecil, sedikit lebih tinggi dari anak seusianya, rambut hitam, kulit putih, tadi dia mengenakan sweater biru dengan syal berwarna pink dan sangat manis.Kau melihatnya?….”tanya Tiffany hampir menangis, sangat berharap kalau pria itu akan membantunya.

“Aniyo Nyonya, aku tidak melihat putrimu….”

“Ahjumma…”

Tiffany terus bertanya pada setiap orang yang ditemuinya.Namun dia selalu mendapat jawaban yang tidak diinginkannya.

***Sifany***

Tiffany berlari memasuki rumahnya dengan nafas yang memburu.Matanya juga berkaca-kaca tanda ia sangat khawatir.

“Oppa…”panggil Tiffany dengan suara yang bergetar.

Si won yang khawatir dengan cepat menghampiri Tiffany yang hanya berdiri didepan pintu.

“Oppa.Maafkan aku, aku mohon maafkan aku….”Tiffany menangis histeris membuat Si won tak mengerti.

“Bukankah kau sudah minta maaf.Kenapa minta maaf lagi?…”heran Si won.

“Bukan itu Oppa, bukan….”ucap Tiffany masih dalam tangisnya.

“Oppa, aku minta maaf untuk…”

Tiffany tak melanjutkan ucapannya.Mulutnya menganga, matanya membulat sempurnya yang menandakan kalau dia tengah dilanda keterkejutan yang amat luar biasa.Bagaimana mungkin orang yang sedang dicarinya tengah berjalan dengan susah payah dengan  sesuatu yang dibawanya.

“Appa, Teddy Oppa berat…”ucap Lauren yang belum sadar akan kedatangan Tiffany.

“YA! Kenapa kau bisa disini?…”Tanya Tiffany setelah mendekat ke tempat Lauren.

“Aku pulang dengan Appa, habis Oemma mengacuhkanku…”

“Apa maksudmu aku mengacuhkanmu?! Kau yang pergi tanpa sepengetahuanku!”bentak Tifany tak terima dengan tuduhan putrinya.Si won yang tak mau terjadi pertengkaran diantara keduanya langsung mendekat.

“Tadi aku menemukan Lauren berjalan sendirian di mall, jadi aku membawanya pulang…”jelas Si won.

“Jadi kau enak-enakan disini sementara aku berteriak seperti orang gila karena mencarimu!”teriak Tiffany marah, sangat marah.Dia saja hampir mati karena takut kalau sampai anaknya itu kenapa-kenapa.

“Fany-ah…”

“Kau juga, Oppa.Kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau membawanya pulang?!”

“Oemma-kan tidak peduli apapun kalau sudah nonton fashion show…”

“Aish! Diam! Aku benci semua orang bermarga Choi…”teriak Tiffany frustasi.Dia masuk kekamar dan menutup pintu dengan keras.

Si won hanya menghela nafas.Memang salahnya tidak memberi tahu Tiffany kalau dia membawa Lauren pulang.Jadi wajar Tiffany marah.

“Memangnya sekarang Oemma memakai marga apa? Marga Lee dari Lee Dong hae Ahjussi…”cibir Lauren.

“Ssst!”Si won meletakkan telunjuk dibibirnya, mengisyaratkan putrinya untuk diam.Kalau Tiffany sampai mendengarnya, bisa dipastikan akan terjadi adu mulut untuk babak kedua diantara mereka.

***Sifany***

Tiffany asyik bermain dengan boneka beruang putihnya.Kalau anak itu punya dia juga punya.Senyum dan tawanya saat bermain hilang seketika saat Si won masuk ke kamar mereka setelah  menidurkan Lauren.

“Waeyo? Selingkuhan kecilmu tidak mau tidur denganmu malam ini?…”tanya Tiffany sinis.Si won tersenyum.

“Ne, dia mengizinkanku bersamamu malam ini…”jawab Si won menanggapi candaan Tiffany.

“Ck, keluarlah Tuan Choi karena malam ini aku memilih tidur dengan napyeonku yang lain…”ucap Tiffany tersenyum memeluk boneka beruangnya dengan erat.

 “Sejak kapan pesonaku dikalahkan oleh orang lain? Apalagi benda tak bernyawa ini…”

Si won mengambil boneka itu dari Tiffany dan meletakkannya disudut ruangan.Tak peduli dengan teriakan Tiffany yang terus menyuruhnya untuk mengembalikan benda tersebut.

 Si won berbaring diranjang.Dia menghela nafas.Dari tadi Tiffany tak mau bicara dengannya.Bahkan sekarang Tiffany memunggunginya.

 “Tidak baik memunggungi suamimu seperti ini, Fany-ah…”ucap Si won.Tiffany tak peduli, dia malah menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya.Si won mendekat dan menyingkap selimut yang menutupi wajah Tiffany.

“Aish! Oppa! Tidak tahukah kau kalau aku sedang marah! Setidaknya jangan menggangguku sekarang!”kesal Tiffany pada Si won yang masih sempat untuk mengganggunya.Sementara namja itu hanya tersenyum manis memamerkan lesung pipinya.

“Aku tidak mau besok menemukan istriku mati lemas karena selimut tebal ini…”ucap Si won tersenyum.Tiffany mendengus kesal dan kembali menutup tubuhnya namun hanya sebatas leher.

“Mianhe, aku yang salah karena lupa menghubungimu.Mimpi indah, Fany-ah…”ucap Si won mengecup puncak kepala Tiffany sekilas.Tiffany tersenyum singkat dan mulai menutup matanya untuk tidur.

***Sifany***

“Pagi, Nona Choi…”Si won menyapa putrinya setelah meletakkan tas kerjanya dikursi meja makan.

“Belum sarapan?…”tanya Si won, Lauren mengangguk lemas.

“Tidak ada sarapan…”ucapnya sedih.

“Oemma tidak menyiapkannya?…”Lauren mengangguk lagi.Si won menghela nafas, tak menyangka kalau marah istrinya akan berlanjut.

“Lalu dimana Oemma sekarang?…”Lauren menunjuk dengan dagunya.

“Mengecat kukunya dibalkon…”

Si won melipat lengan kemejanya.Dia mulai mengambil beberapa bahan makanan dari kulkas dan siap untuk bekerja.Lauren yang tak mengerti langsung berdiri diatas kursi agar lebih leluasa untuk melihat apa yang dilakukan Appanya.

“Apa yang Appa lakukan?….”tanya Lauren bingung.

“Menyiapkan sarapan…”

”Ne? Appa bisa masak?…”tanya Lauren tak percaya.

“Tentu saja! Bukankah Appa ini Appa paling hebat!”Si won menepuk dadanya menunjukkan pada putrinya kalau dia adalah Appa paling hebat di muka bumi ini.

“Wah, Appa hebat…”Lauren bertepuk tangan dengan girang.Dia duduk diatas meja makan untuk menyaksikan gerakan cepat Appanya dalam memotong sayuran.Tak butuh waktu lama, semangkuk sup rumput laut telah terhidang dan siap untuk disantap.

“Wah, Appa hebat…”sorak Lauren senang, Si won tertawa bangga dengan pujian sang putri.

“Appa sering melakukannya?…”

“Hm, terutama saat Oemma sedang marah seperti ini…”bisik Si won tersenyum.

“Appa juga mengerjakan pekerjaan rumah?…”

“Kadang-kadang.Buka mulutmu, aa…”Si won menyuapi Lauren.

“Berarti aku harus segera berbaikan dengan Oemma…”ucap Lauren tak terlalu jelas karena mulutnya penuh makanan.

“Wae?…”

“Karena aku tidak mau Appa mengerjakan pekerjaan rumah…”Si won tertawa dan mengusap kelapa putrinya pelan.Hidupnya sangat bahagia karena memiliki istri dan putra-putri yang amat dicintainya.

“Tapi Appa sangat berharap kalau itu bukan alasan satu-satunya untukmu berbaikan dengan Oemma…”

***Sifany***

Tiffany melangkah ke arah pintu saat pintu bel rumahnya berbunyi.Setelah pintu terbuka Tiffany menatap seseorang yang tengah berdiri didepan pintu rumahnya.

“Benar ini rumah keluarga Choi?…”tanya pria itu.

“Ne…”

“Kalau begitu Anda Nyonya Choi?…”tanya pria itu lagi dan hanya disambut anggukan dari Tiffany.

“Wah, Anda cantik sekali Nyonya.Ini, ada bingkisan untuk Nyonya…”pria yang ternyata berprofesi sebagai kurir itu menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang yang dari tadi dipegangnya pada Tiffany.

“Tanda tangan disini, Nyonya…”Tiffany melakukan sesuai perintah pria itu.

“Gamsahamnida Nyonya, kalau begitu saya permisi…”

“Jjangkamannyo…”Tiffany menahan kurir tersebut.

“Ne?…”

“Bingkisan ini dari siapa?…”tanya Tiffany karena dikotak tersebut tidak ada nama pengirimnya.

“Dari Tuan Choi sendiri…”jawab kurir tersebut seraya membungkuk untuk pamit.

Tiffany yang mendengarnya pun tersenyum senang dan segera masuk untuk membukanya.

Tiffany duduk diranjangnya untuk membuka kotak tersebut.Seulas senyum tergambar diwajah cantiknya.Dikotak tersebut tertulis sebuah merek perhiasan Tiffany & Co.Astaga, kenapa suaminya harus menggunakan jasa kurir untuk mengantar benda semahal ini.

“Cantiknya…”seru Tiffany menyentuh kalung yang kini telah terpasang dileher jenjangnya.

`Drrtt Drrtt Drttt`

Tiffany dengan cepat mengangkat telfonnya yang bergetar.

“Kau menyukainya, Nyonya Choi?….”tanya seseorang diseberang sana.

“Hm, gumawo…”ucap Tiffany terharu.Si won tertawa.

“Setahuku wanita diseberang sana tidak akan mudah tersentuh jika hanya diberi benda semacam ini…”

“Ne, tapi ini  suamiku yang memberikannya.Tentu saja aku sangat senang…”Si won tersenyum.

“Jadi sekarang tidak marah lagi?….”Tiffany tersenyum lembut memperlihatkan eye-smile cantiknya pada cermin.

“Jadi ini semacam sogokan?…”

“Aniyo, hanya semacam bujukan…”jawab Si won disambut tawa keduanya.

“Ku lihat ada dua set, apa yang satunya untuk selingkuhan kecilmu, Oppa?…”

“Hm, aku harus memberi masing-masing satu agar kalian tidak saling cakar…”Tiffany tersenyum.

“Aku akan tetap mencakarnya jika dia terus merebut perhatianmu dariku…”ucap Tiffany meski ia sadar betul kalau semarah apapun dia tidak akan menggunakan kekerasan.

“Oh ya, kemarin aku bertemu Dong hae…”

“Ne? Dong hae Oppa?….”ulang Tiffany.

“Untuk apa?….”tanyanya lagi.

“Hanya urusan namja…”Tiffany mengerucutkan bibirnya kesal karena Si won tak mau bicara.

“Dong hae dan Yoona minta maaf karena mereka tidak sempat pamit padamu…”

“Pamit? Untuk apa, tunggu, apa mereka sudah rujuk dan kembali tinggal di Jeju?….”

“Hm, benar…”

“Wae, kenapa harus di Jeju? Kenapa tidak tinggal di Seoul saja…”protes Tiffany.

“Itu pilihan mereka, Fany-ah.Kenapa, kau keberatan karena tidak akan melihat Dong hae lagi…”

“Oppa!”Si won tertawa dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya.Teriakan itu hampir saja membuat gendang telinganya pecah.

“Ya sudah Fany-ah, kami ada meeting sebentar lagi…”

“Jjinjayo? Baiklah, semoga meetingnya lancar.…”ucap Tiffany menutup telfonnya.Dia menghela nafas panjang.Kecewa karena tidak bisa bertemu Yoona dan Dong hae saat mereka akan meninggalkan Seoul.

“Apa Yoona sudah bertemu Tae yeon?…”tanyanya pada dirinya sendiri.

***Sifany***

Tiffany keluar dari kamarnya menuju ruang tengah.Tampak olehnya Lauren  sedang duduk diatas sandaran sofa sambil menonton acara kartun pororo kesukaannya.

“Oh, Oemma membawa sesuatu?…”tanya Lauren melihat kotak kecil yang ada ditangan Tiffany.Tiffany segera duduk disofa sambil mengeluarkan isi kotak kecil itu lalu mengenakannya dileher Lauren.

“Wah, cantik sekali…”ucap Lauren senang.

“Gumawo Oemma.Oemma juga punya?…”tanya Lauren yang baru melihat kalung serupa dengannya tapi tentu berbeda karena ada bandul kecil berbentuk hati pada kalung itu.

“Tentu, mana mungkin suamiku hanya membelikannya untukmu…”Lauren mencibir sebal.

Kring…Kring…

“Yeoboseyo?….”Lauren mengangkat telfon rumah yang berbunyi.

“Anyeong sayang, ini Tae yeon Oemma.Apa Oemmamu di situ?…”

“Ne.Oemma, Tae yeon Oemma…”ucap Lauren menyodorkan telfon itu pada Tiffany.

“Kau merindukanku, Taeng-ah?…”tanya Tiffany senang.

“Enak saja…”balas Tae yeon tertawa.

“Ada apa?….”

“Kemarin Yoona kerumahku.Aku sangat kaget karena ternyata suaminya Dong hae…”

“Oh, ne.Aku juga sempat kaget…”

“Katanya dia juga ke rumahmu untuk menyelesaikan sebuah kesalahpahaman.Kenapa kau tidak cerita padaku kalau terjadi sesuatu antara kau dan Si won Oppa?…”tanya Tae yeon.Biasanya Tiffany akan selalu menceritakan masalah apapun padanya.

“Mianhe, aku hanya tidak mau terlalu merepotkanmu dengan urusanku…”

“Ck, kalau merasa merepotkanku kenapa tidak dari dulu kau seperti ini…”ucap Tae yeon sebal seraya memperbaiki posisi duduknya disofa.

Tiffany tersenyum, tahu kalau sahabatnya itu tak serius dengan ucapannya.

“Tapi semuanya sudah baik-baik saja, bukan?…”

“Ne.Eum, Taeng-ah, ada yang inginku tanyakan padamu…”

“Apa?…”Tiffany menggigit bibir bawahnya.

“Apakah seorang suami akan tersinggung jika istrinya mengungkit masalah keuangan? Mm…maksudku jika yang perempuan lebih kaya dari yang laki-laki…”Tae yeon tak menjawab.Dia sibuk berpikir apa maksud dari pertanyaan itu.Tidak mungkinkan kalau Tiffany hanya sekedar bertanya.Apa mungkin…

“Jangan bilang kau melakukan itu pada Si won Oppa?…”tanya Tae yeon curiga.Tiffany hanya cengengesan dan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

“Hehe, aku mengucapkannya tanpa sadar Taeng-ah…”

“MWO?!”pekik Tae yeon tak percaya.

“YA! Apa sebenarnya yang ada di otakmu Fany! Kau tidak sadar kalau Si won Oppa-lah yang mengembalikan semuanya.Kau…”

Tiffany menutup telfonnya cepat sebelum Tae yeon melanjutkan kata-katanya.Dia lebih memilih menutup telfon itu dari pada harus mendengar ceramah Tae yeon yang hanya akan memarahinya.Ya, walau dia tahu dia salah tapi dia juga tidak mau disalahkan karena sudah minta maaf.

“Kenapa Oemma menutup telfonnya?….”

“Oh, Tae yeon Oemma sudah menutupnya duluan…”bohongnya.

“Jjinja?…”tanya Lauren sangsi, tak percaya karena tadi Oemmanya terlihat sangat buru-buru menutup telfon itu.

“Aish! Kenapa kau selalu ingin tahu…”gerutu Tiffany mengambil tabung kuteknya dan mulai mengecat kuku indahnya.Lauren yang kesal pun meninggalkan ruangan itu dan dengan sengaja sedikit menyenggol tangan Tiffany yang sedang mengoles cairan pink itu dikuku kakinya.

“YA!”kesal Tiffany, namun anak itu tetap melangkah pergi tanpa memperdulikannya.

***Sifany***

Lauren naik ke atas sofa seraya menggerutu kesal.Dia sibuk memperhatikan wanita cantik yang tidak lain adalah Oemmanya sendiri yang asyik dengan kutek pinknya tanpa memperdulikannya yang sudah sejak setengah jam yang lalu duduk disini.Saat dia ingin ditemani bermain pun Oemmanya lebih memilih asyik dengan dirinya sendiri tanpa memperdulikannya.Tiffany sebenarnya tahu apa yang ada dipikiran anaknya itu.Namun dia memilih tetap seperti ini karena masih kesal dengan ulah anaknya kemarin.

“Oemma kerterlaluan…”ucap Lauren dengan nada kesal.Tiffany menatapnya sekilas lalu kembali kepada kutek pinknya.

“Wah, cantiknya…”komentar Tiffany melihat kuku-kuku indahnya dan tentu lagi-lagi mengabaikan Lauren.

“Oemma keterlaluan membiarkan Appa menyiapkan sarapan!”teriaknya marah.

“Bukannya kau lapar.Sudah bagus suamiku membuatkannya…”ucap Tiffany cuek.Lauren makin jengkel.

“Kau perempuan Lauren, duduk yang sopan…”perintah Tiffany, Lauren menurut dengan wajah cemberut.

“Aku akan adukan pada Halmoni dan Haraboji…”ancamnya.Tiffany tertawa puas.

“Adukan saja, katakan apapun yang kau mau.Tapi asal kau tahu  honey, mereka tidak akan keberatan atas apapun yang kulakukan pada Appamu itu…”

Tiffany tersenyum penuh kemenangan.Mulut Lauren komat-kamit untuk memaki Oemmanya.

Lama keduanya terdiam.Tifany masih asyik dengan kuteknya.Lauren duduk bersandar disofa sambil terus melihat setiap gerak-gerik Oemmanya yang asyik dengan aktivitasnya.Tak bisa dia pungkiri kalau wanita yang menjadi Oemmanya itu sangatlah cantik.Dia juga sangat beruntung karena terlahir dari rahim wanita itu.Walau keduanya sering bertengkar tapi itu bukanlah sifat asli keduanya.

“Oh…”

Tiffany terkejut saat Lauren tiba-tiba memeluknya.Tiffany tersenyum, diletakkan botol kecil yang sejak tadi ditanganya untuk berdiri.

Tiffany mengitari halaman samping rumah mereka yang luas untuk menikmati sinar matahari sore yang hampir menghilang.Lauren pun masih nyaman digendongan hangat tersebut.

“Oemma…”

“Hm…”

“Saranghaeyo…”ucapnya lembut.Tifany tersenyum dan membelai rambut panjang putrinya.

“Nado Lauren-ah.Oemma juga sangat-sangat mencintaimu…”

Lauren mencium Oemmnya dan kembali memeluknya dengan erat.Tiffany tersenyum bahagia seraya bersenandung kecil untuk putri kecilnya.

“Oemma…”

“Hm…”

“Mianheyo…”ucapnya tulus.

“Maaf hanya untuk orang yang tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, Lauren…”

“Aku tidak akan mengulanginya Oemma, sungguh.Oemma juga boleh memanggilku dengan nama Ha na…”Tiffany menatapnya.

“Jjinja? Wae?…”

“Karena aku sayang Oemma…”

“Jadi selama ini tidak sayang Oemma?…”

“Tidak jika bersama Appa…”

“Aish!”Tiffany mencubit hidung putrinya gemas disambut tawa keduanya.

“Ayo kita berjanji…”ajak Lauren memberikan jari kelingkingnya.

“Untuk?…”

“Untuk tidak bertengkar lagi walaupun untuk merebut perhatian Appa…”Tiffany tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya pada jari mungil itu.

“Yaksok!”ucap keduanya bersamaan.Lauren kembali memeluk leher Tiffany erat.

“Aku senang sekali….”ucapnya, Tiffany tersenyum seraya mengusap pundak putrinya sayang.

“Wae?…”

“Karena Oemma akan mengalah untuk Appa demi aku…”

“YA!”

END

Gimana readers? Mian kalau masih ada typo dan kurang puas.Jangan lupa RCL-nya ya.Thanks for reading, Anyeong…

 

91 thoughts on “My Bad Daughter

  1. Omma fany manja ya…
    Klw genre nya gni,cocok bgt buat hri ibu
    Jdi ingat mama sdri…maklum perantauan

    ◦нê◦нë◦нê◦нë◦нê◦°◦ :p

  2. eomma fany juga manja sih!!
    Anaknya juga kebangetan!!

    Kkkk~~~ Jadi ngebayangin punya keluarga kayak gitu🙂🙂

    apa lagi yang pas Ha-Na bilang kalo mommy nya itu selingkuh jadi ngebayangin geli sendiri

    haha bagus banget thor!! (y)

    Keep Write (y)

  3. Itu anak ama ema sma2 ga mau ngalah
    padahal mah sama2 cantik kok…
    tp klo baca ff sifany yg marriage life ky’a fany’a ga mau bgt punya anak,susah bgt tk d bujuk punya anak…

  4. Wooaaahhh aku paling suka ff yang kayak gini.
    Panjang banget, feel nya ngena banget di hati membuat perasaanku campur aduk.
    Tadi sempat nangis terus ngakak, ada jengkelnya juga.
    Hebattt! Komplit banget😀

  5. Good..!! Jujur,ff diblog ini keren2, jadii makin suka+semangat baca,🙂
    .feelnya dapet thor,suasana kekeluargaannya yg dominan tp kurang seru karna selingan konflik/masalahnya masih dikit,kurang gregett gitu:D, ditunggu ff yg lainnya yah thor,!
    .ohya,ini sequel’kah?

  6. Setelah ngubek ngubek blog ini eh ketemu ff ini 😅 fany eonni cemburu ama anak sendiri 😂 keluarga macem itu keknya rame 😁 keren deh pokoknya 😙 terus berkarya bikin ff SIFANY!!! 👊💪👏

  7. kangen banget sama ff ini. jadinya baca lagi deh hehe gemes banget liat keluarga ini yaampuuuun. ibu sama anak aja cemburu2an wkwk

  8. Aiggo……lauren benar2 evil dehh.lucu banget deh fany dan lauren saling rebutan minta perhatiannya siwon,dan fannya juga cemburu ama anaknaya sendiri,ada2 aja fanynya.hehehe..
    yg sabar ya siwon,hehehe……
    Hehehe……ternyata hanya salah pahaman aja, kirain benar siwon selingkuh hehehe…….
    Chukae atas rujuknya donghae dan yoona.
    Benar2 keluarga yg bahagia dan harmonis,ya walaupun ada pertengkaran kecil.pingin deh kyk keluarga seperti sifany.hehehe……..Amin.
    Thanks ya thor dibuatkan ff family ini.jjang thor.
    Keep writing thor.hwaiting.
    Sifany 4ever.

  9. Q sk married life SiFany krn mrk sll tunjukkan cinta n kasih syg mrk. terlbh utk ank2 mrk. lucu ap yg dialami fany n lauren mrk berebut perhatian siwon. msk ibu cemburu am putriny tp emg dsr sievil lauren jg g mw klh bhkn klo g bertengkar shri rasany krg. bhkn taeyeon yg udh th mrk cm tertwa.
    tp itu semua justru bntuk ksh syg mrk, yup pun mrk sll bertengkr tp mrk slg cinta n itulh ungkpn ksh syg mrk.

  10. Yaahhh!!! Knpa sudah ending sichh thorr…
    Gwe sangat menikmati cerita ini…
    Biarpun omma n anak sering adu mulut..tp mereke ttp saling menyayangu satu sama lainn…
    Senakal atau bandelnya anak..kasih sayang ibu takkan pernah berkurang…..
    Beruntung sklo wonie memiliki 2 wanita yg cantik” ….
    Ahhh….rasanya pingin dilanjutkan jah cerita ini…
    Lanjut dungg..kangen lauren n fanyah lagi cakar”an….hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s